Sebuah ledakan yang maha dahsyat tercipta di jagat raya (Big Bang).
Ledakan tersebut menciptakan jutaan bahkan milyaran cahaya cahaya yang lebih kecil dan menyebar ke segala dimensi, memenuhi setiap ruang yang ada, yang nantinya akan membentuk milyaran galaksi baru.
Dari galaksi galaksi baru tersebut akhirnya menciptakan milyaran kehidupan di seluruh Semesta.
Ledakan maha dahsyat tersebut ternyata bukan hanya sebuah momentum biasa, tak sesederhana hanya sebuah ledakan yang membentuk milyaran galaksi baru dan calon kehidupan, tapi dalam ledakan itu juga di barengi dengan ledakan penyebaran kekuatan ke seluruh alam semesta.
**
Di sebuah desa kecil tinggallah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki laki berusia sekitar tujuh tahun.
Keluarga itu bermarga Yuang dan dikepalai oleh kepala keluarga bernama Yuang Hauti.
Sedangkan istrinya bernama Xia Peiyu, dan anak lelakinya bernama Yuang Fengying.
Meski sederhana mereka sangat bahagia bisa hidup di desa kecil tersebut, mereka sebenarnya bukan penduduk asli wilayah itu. Mereka adalah pendatang di desa itu.
Desa tersebut bernama desa Bunga Abadi di pimpin oleh seorang kepala desa yang menguasai elemen tanah, dengan tingkat kultivasi di ranah menengah.
Untuk tingkatan kultivasi di dunia itu sendiri terdiri dari delapan tingkatan. masing masing tingkatan terbagi dalam sembilan level.
Tingkat kultivasi adalah tingkat Dasar, Menengah, AwalTinggi ini di sebut kultivasi Pratama, lalu tingkat selanjutnya adalah Madya yaitu tingkat Bumi Dasar, Bumi Jiwa dan Bumi Sejati. habis itu ada tingkatan yang disebut tingkat tinggi yaitu Raja Bumi dan Kuasa Sejati. Itulah delapan tingkatan kultivasi yang ada di wilayah tersebut.
Setiap tingkatan kultivasi itu terdiri dari sembilan level, misalnya Dasar level satu atau dasar satu, dasar level dua atau dasar dua..dan seterusnya.
Kepala desa yang bernama Fo Tong tersebut kultivasinya berada di ranah Menengah lima, dan itu yang terhebat di desa Bunga Abadi tersebut.
"Ayah apakah aku boleh melihat dan mengikuti perayaan Pemilihan Putra Naga?." tanya Yuang Fengying kecil sambil menatap ayahnya, lalu menatap sang ibu karena ayahnya hanya terdiam saja.
Perayaan Pemilihan Putra Naga adalah sebuah perayaan yang dilakukan dua tahun sekali.
Sebenarnya kegiatan tersebut bukan benar benar perayaan atau sebuah pesta, tapi sebuah ajang kegiatan pemilihan putra putri daerah yang terkuat.
Putra putri terkuat itu nantinya akan di ikut sertakan untuk mengikuti turnamen di tingkat lebih lanjut.
Desa Bunga Abadi berada di bawah kekuasaan wilayah Distrik Sebelas, sebuah distrik yang setingkat dengan kecamatan, distrik tersebut ada di bawah kekuasaan kabupaten Bukit Bunga sedangkan Bukit Bunga berada di wilayah provinsi Lembah Naga di bawah kekuatan Istana Bintang.
Yuang Hauti hanya menghela nafasnya, menatap sang anak serta istrinya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Masih terbayang jelas pada acara serupa dua tahun yang lalu, dimana setiap orang yang memiliki anak usia 5 hingga 15 tahun di periksa oleh para tetua desa serta tetua perwakilan dari perguruan, dan saat mereka meriksa Yuang Fengying tatapan menghina langsung tertuju kepada keluarga mereka.
Karena Yuang Fengying ternyata anak yang cacat karena tak memiliki unsur elemen apapun di tubuh nya. biasanya di alam ini semua orang memiliki unsur elemen bahkan ada yang memiliki unsur elemen lebih dari satu.
Unsur unsur tersebut adalah Air, Api, Tanah serta Udara itu di sebut unsur utama, selain itu ada unsur Kayu, Petir serta Logam. Sementara ini itulah semua unsur yang biasa dimiliki orang orang di sana, meski mungkin masih ada banyak unsur lain di luar itu.
Di dalam tubuh Yuang Fengying tak terdeteksi adanya bibit bibit kekuatan, sehingga banyak penguji yang menyatakan bahwa tubuh anak tersebut cacat, alias dianggap tak bisa berkultivasi.
Selama ini setiap anak yang di periksa setidaknya memiliki percikan unsur dari empat elemen atau four basic element of the world seperti air, api, tanah dan udara, namun tidak dengan Yuang Fengying. di tubuh Yuang Fengying tak ditemukan setitik pun kekuatan elemen itu, sehingga seluruh orang menyatakan jika Yuang Fengying anak cacat dan mulai menghina, menganggap remeh keluarga itu.
"Maaf Nak, kita sebaiknya tak menghadiri acara tersebut..," kata Yuang Hauti setelah terdiam cukup lama.
Xia Peiyu hanya menatap sedih anaknya yang terlihat muram mendengar jawaban sang Ayah.
"Kita bisa pergi ke hutan, berburu ayam hutan mungkin?, atau kita bisa menangkap ikan di sungai?." hibur Yuang Hauti akhirnya.
"Benar anakku," sahut Xia Peiyu, ibu dari Yuang Fengying menimpali perkataan suaminya.
"Tapi aku ingin melihat para Jagoan ayah, dan aku ingin seperti mereka." Yuang Fengying masih tetap bersikeras ingin mendatangi acara tersebut.
Yuang Hauti serta Xia Peiyu hanya bisa menghela nafasnya, anaknya memang memiliki watak keras hati, apa yang diinginkan selalu minta di turuti dan dia akan berusaha mewujudkan nya.
______________
Selamat membaca, ini adalah cerita yang ke berapa yang ku buat, semoga bisa menjadi pilihan bacaan dan bisa menghibur kita semuanya...jangan lupa dukungannya agar author semangat membuat karya receh ini.. terimakasih
Sebuah tanah lapang yang sangat luas di desa Bunga Abadi hari itu tampak terlihat penuh oleh lautan manusia.
Melihat semua yang hadir, tampak nya kebanyakan dari mereka akan mengikuti dan berpartisipasi dalam acara perayaan pemilihan Putra Naga tingkat daerah tersebut.
Banyak dari mereka yang membawa anak anaknya, beserta segala perlengkapan perang untuk mengikuti ujian dalam perayaan pemilihan Putra Naga daerah itu, perlengkapan tersebut antara lain senjata, baju Zirah atau armor, serta alat alat pendukung lainnya seperti tameng, penutup kepala dan lain lain.
Dari ratusan keluarga di desa Bunga Abadi tampak juga beberapa keluarga terpandang yang juga mengirimkan anggota keluarga nya, baik dari keluarga inti maupun keluarga cabang, seperti keluarga Lu, Keluarga Han, keluarga An serta keluarga Yu.
Keempat keluarga itulah yang selama ini menjadi penguasa di desa Bunga Abadi, selain tentu saja keluarga kepala desa Fo Tong.
Keluarga Lu adalah salah satu keluarga yang terpandang di desa tersebut, selain kaya raya mereka juga salah satu keluarga yang memiliki banyak seniman bela diri.
Keluarga ini di pimpin oleh kepala keluarga bernama Lu Lan, salah satu seniman bela diri dengan kekuatan elemen api, dan berada di ranah menengah tiga.
Sedangkan keluarga Han dipimpin oleh kepala keluarga bernama Han Shen, seorang seniman bela diri ber-elemen Air, kultivasinya berada di ranah menengah empat.
Keluarga An merupakan keluarga terhormat yang kebanyakan ber-elemen tanah, namun uniknya keluarga ini memiliki anggota yang berbeda beda elemen, tak hanya satu unsur elemen saja meski hingga saat ini tak ada anggota keluarga yang memiliki unsur elemen lebih dari satu.
Keluarga Yu berdiam di sisi selatan desa yang wilayah nya terletak di daerah pegunungan dan perbukitan, mereka adalah murni penguasa elemen angin, di pimpin oleh kepala keluarga bernama Yu Ming dengan tingkat kultivasi menengah lima akhir.
Selain mereka tentu saja ada kekuatan dari perguruan Alam Suci dan perguruan Tameng Jiwa, yang nantinya akan menampung putra putri daerah sebelum menyalurkan ke perguruan dengan tingkatan yang lebih tinggi.
Perguruan Alam Suci kali ini diwakili oleh tetua utama serta tiga tetua inti, tetua utama Alam Suci bernama Lin Cen, dia datang bersama tiga tetua inti kepercayaan nya.
Sedangkan perguruan Tameng Jiwa hanya mengirim tiga tetua inti tanpa tetua utama karena masih dalam latihan tertutup ber-kultivasi.
**
Ratusan anak anak mulai dari usia 5 tahun hingga 13 tahun sudah nampak berbaris rapi di tengah tanah lapang desa tersebut.
Mereka tengah bersiap mengikuti seleksi tahap pertama pemilihan Putra Naga daerah.
Seleksi tersebut ada tiga tahapan pengujian, yaitu pengujian kepemilikan unsur elemen, pengujian kekuatan fisik dan pengujian kekuatan Jiwa.
Para penguji yang terdiri dari para tetua dua perguruan itu sudah siap di tempat yang di sediakan, tempat tersebut adalah sebuah altar kuno, sebuah warisan kuno yang di miliki desa Bunga Abadi dan di jaga serta di lestarikan selama ratusan tahun.
"Lu Wen..."
Terdengar panggilan dari seorang tetua kepada salah satu peserta, rupanya peserta ini adalah anggota dari keluarga Lu.
Seorang anak berusia 10 tahun melangkah maju naik dan mendekat ke arah altar kuno dengan sedikit sombong.
Lu Wen adalah anak dari kepala keluarga Lu Lan, jelas merupakan keluarga inti makanya dia jadi tuan muda pertama, hal ini membuat dirinya merasa unggulan dan merasa lebih dari yang lain, sehingga memandang rendah yang lainnya dan menjadi sangat arogan.
"Konsentrasi lah, lalu tempelkan tanganmu di batu yang ada di depanmu." kata salah satu tetua yang menjadi penguji di tempat itu, sambil menunjuk sebuah batu bulat seperti telur besar.
Lu Wen terdiam sejenak, menarik nafasnya berkonsentrasi mengedarkan kekuatan elemen yang dimiliki nya lalu menempelkan tangannya ke permukaan batu yang bulat lonjong mirip telur tersebut.
BYAAAAARR....
Batu kristal yang menyerupai telur raksasa itu langsung menyala dengan aura sedikit merah, menandakan anak tersebut memiliki bakat dengan kandungan elemen api.
Semua orang bertepuk tangan, terutama dari keluarga Lu atas keberhasilan Lu Wen.
Berikut nya adalah seorang anak dengan tubuh tegap dan kokoh, meski masih berusia di bawah 13 tahun tapi anak ini sudah memiliki otot otot yang terbentuk dengan sempurna.
Ketika anak tersebut meletakkan tangan nya di atas batu kristal mirip telur, batu tersebut tak menunjukkan reaksi apapun.
Kembali anak itu menggeser tangannya berharap ada elemen yang bisa terbaca batu itu, namun kembali batu itu tak menampakkan reaksi sama sekali.
Pemandangan ini menggambarkan anak tersebut hanya bercangkang keras alias berotot kasar, tapi tak ada unsur elemen apapun dan ini termasuk kurang berbakat. Jika dilatih paling paling hanya akan menjadi pendekar rendahan.
"Gagal...!."
Teriak tetua yang bertugas di sana, membuat sang bocah menunjuk kan wajah jelek nya karena frustasi.
Berturut-turut para calon Putra Naga daerah mengikuti seleksi secara bergiliran setelah namanya di panggil para Penguji.
Dari ratusan anak kini sudah tersaring menjadi sekitar tiga ratusan anak, kebanyakan mereka berasal dari keluarga penguasa, baik dari keluarga inti maupun keluarga cabang dan hanya sedikit yang dari keluarga biasa.
"Yuang Fengying....!."
Sebuah teriakan akhirnya terdengar oleh keluarga Yuang Hauti, membuat suami istri serta sang anak menjadi gugup sesaat.
"Ayah, aku di panggil," kata Yuang Fengying seakan tak percaya namanya di panggil diantara ratusan anak yang ada disana.
Yuang Hauti mengangguk, menatap anaknya yang kini wajahnya terlihat pias, "Majulah Nak, cobalah ujian ini, namun jika gagal kamu jangan sedih." kata sang ayah dengan wajah sendu menenangkan anaknya.
Yuang Fengying menatap kedua orangtuanya, keduanya terlihat sedih, entah bagaimana tiba-tiba sebuah cahaya di jiwa nya seperti meletup meski hanya setitik, membuat semangat bocah tersebut terlecut.
Rasa ingin membuat kedua orang tua nya bangga atas prestasi nya begitu membuncah.
"Akan aku coba Ayah, Ibu." kata Yuang Fengying dengan mantap.
Yuang Fengying adalah anak yang berbakti, meski masih 7 tahun tapi pemikiran anak ini melampaui usianya. Dia akan sangat senang ketika kedua orang tua nya bangga atas prestasi nya.
Yuang Fengying maju ke tengah altar yang ada di tempat tersebut. Para tetua dan kepala keluarga kaya yang ada di tempat terhormat menatap dengan acuh tak acuh, mereka bersikap seperti itu karena memandang rendah, atau bahkan beberapa tetua yang tahu tentang keluarga Yuang sudah tahu jika anak itu pasti gagal.
"Kamu Fengying?." seru tetua Penguji yang menjaga altar tersebut.
"Benar Tetua." Jawab Yuang Fengying dengan berani.
Sang Tetua tersenyum masam, "Kamu sudah pernah gagal dua tahun yang lalu, apa kamu ingat itu Nak?."
Yuang Fengying mengangguk, "saya ingat Tetua."
"Jika kali ini kamu gagal lagi, maka kamu memang tak jodoh menjadi kultivator seniman bela diri, karena kesempatan ujian calon putra Naga hanya dua kali saja, apa kamu paham..?."
"Saya paham Tetua, jika kali ini saya gagal maka saya akan jadi petani atau pemburu saja," jawab Yuang Fengying dengan mengumpulkan segenap keberanian nya.
Dia menjawab seperti apa yang di ajarkan ayahnya, sebelum mengikuti ujian pemilihan calon putra Naga daerah.
_____________
Jangan lupa like, komen dan dukungan nya.
BYAAAAARR...PEEETT....
BYAAAAARR....PEEETTT...
Batu kristal yang menyerupai telur raksasa itu terlihat berkedip kedip, hidup..lalu menyala... kemudian mati, hidup lagi...terang lalu mati lagi.
Batu kristal itu menyala kemudian mati dengan cahaya yang berubah ubah, terkadang merah, terkadang biru.
Kadang kehitaman, bahkan terkadang seperti berkabut atau kadang seperti perak dan emas.
Para tetua dan tokoh keluarga terkejut dengan tampilan tersebut, selama ratusan tahun hal ini tak pernah terjadi, semua tak bisa menafsirkan ada apa dengan penampakan ini.
"Waah batu ajaib mulai rusak." kata Han Sen, kepala keluarga Han.
"Benar, mungkin demikian," sahut An Long kepala keluarga An.
Kegaduhan langsung terjadi, selama ini batu ajaib selalu mendeteksi dengan benar semua calon Putra Naga, Benda tersebut akan menampakkan sinar nya sesuai elemen dari peserta ujian.
Batu akan bersinar jika sang peserta memang memiliki aura elemen tertentu, dan tak akan bereaksi apapun jika memang peserta tak memiliki unsur bakat elemen apapun.
"Gagaaal...!!." teriak sang tetua pengawas ujian, dia menafsirkan penampakan yang berubah ubah tersebut di akibat kan oleh kerusakan batu ajaib alat uji.
Yuang Fengying langsung lemas badannya, kegagalan kali ini berarti memupus semua harapan menjadi seorang kultivator praktisi seni beladiri.
Kegagalan ini berarti memupus keinginan nya menjadi seorang penegak keadilan, penegak kebenaran dan pemberantas kejahatan seperti yang di cita citakan nya selama ini.
"Turuuun...!."
"Turuuunnn...!."
Semua orang sudah berteriak teriak memaksa Yuang Fengying untuk turun dari altar penguji, bahkan beberapa orang mulai melempar kan barang barang untuk memaksa nya turun.
"Tunggu...!."
Sebuah teriakan terdengar memecah keributan, sekelebat bayangan melesat kearah altar penguji, orang tersebut ternyata Yuang Hauti yang meloncat ke altar.
"Mohon para tetua bijaksana, anak saya berhasil menyalakan batu ajaib, meski dengan cahaya yang aneh dan berbeda dengan yang lain."
"Itu berarti anak saya berhasil, mohon diberi kebijakan agar anak saya berkesempatan masuk babak berikutnya, karena bagaimana pun batu penguji sudah memberikan reaksi."
"Ya benar juga." kata orang orang yang ada di sana.
Batu ajaib memang memberikan reaksi.
"Tapi batu tersebut tak menunjukkan elemen unsur tertentu dengan jelas." sahut yang lain.
"Tapi bagaimana pun batu itu bereaksi, jika tak menunjukkan reaksi..itu baru bisa di nyatakan gagal."
Bantahan bantahan terjadi di sana, dan jika di rasa memang benar apa kata orang orang tersebut, meski tak menampakkan hasil yang jelas, tapi alat uji itu sudah menunjukkan sebuah reaksi tak hanya diam tanpa reaksi.
Para tetua penguji sesaat berkumpul dan berunding.
"Biarkan saja anak itu masuk babak selanjutnya, toh nanti akan gugur juga jika memang tak memiliki kemampuan apapun," kata salah satu tetua yang bernama Mu Zan, salah seorang tetua dari perguruan Tameng Jiwa.
"Ya saya juga berfikir demikian." sahut tetua yang lainnya.
Setelah melewati bebagai polemik akhirnya Yuang Fengying dinyatakan berhasil dan masuk ke babak selanjutnya dalam pengujian calon putra Naga daerah.
Yuang Hauti tampak tersenyum senang melihat anaknya bisa lolos dan maju ke babak selanjutnya, meski itupun tak menjamin sang anak menjadi anak berbakat, hanya Xia Peiyu sang ibu yang menatap anaknya dengan tatapan tertentu penuh dengan misteri.
**
Hampir sekitar tiga ratus empat puluh orang anak di nyatakan lolos ke babak kedua ini.
Mereka kini sudah berpindah ke lokasi pengujian yang lain.
Jika di pengujian awal anak anak itu hanya di deteksi unsur elemen yang dimiliki, maka ujian kedua ini sangat lah berbeda.
Para peserta yang bisa lolos di arena uji kedua ini kebanyakan berasal dari keluarga terpandang, mereka adalah keluarga Lu, keluarga Han, keluarga An, keluarga Yu serta keluarga kepala desa yaitu keluarga Fu.
"Ikut aku.." tetua Lin Cen dari perguruan Alam Suci terlihat memimpin jalan para peserta ujian. mereka nampak memasuki hutan kecil yang ada di sebelah altar penguji di samping tanah lapang.
Di hutan tersebut terdapat sebuah gua dan mereka bergerak menuju kesana.
Begitu tetua tersebut sampai di mulut gua, tetua yang lain bergabung mendekat.
Mereka lalu mengeluarkan sebuah keping, yang merupakan token untuk membuka portal yang ada di mulut gua tersebut.
Begitu semua token di satukan terlihat sebuah sinar keluar dari dalam mulut gua, menandakan portal dimensi sudah terbuka.
Ini bukan portal pemindah, hanya sebuah portal yang akan mengarahkan para peserta ujian menuju ke tempat tersembunyi lain di balik gunung tersebut.
Begitu portal terbuka di atas lapangan tercipta sebuah layar yang sangat besar, dimana semua orang bisa melihat seluruh kegiatan anak anak dalam mengikuti ujian.
"Berbaris yang rapi, jangan saling berdesakan." bentak salah satu tetua, begitu portal benar benar sudah siap untuk di lewati.
**
Semua anak yang lolos seleksi tahap pertama akhir nya sudah masuk ke pintu portal dengan di pimpin para tetua.
Penampakan kali ini langsung berubah, mereka seakan berada di sebuah ngarai yang sangat luas dengan langit biru tanpa awan sedikit pun.
Disana tak tampak adanya matahari namun alamnya terlihat sangat terang.
Sayup sayup terdengar jeritan dan raungan binatang binatang buas, makin lama raungan tersebut makin terdengar menakutkan, bahkan para penonton yang melihat dari layar yang ada di lapangan juga ikut bergetar hatinya.
Jika pada babak pertama ujian putra Naga menguji kekuatan unsur elemen seseorang, maka kali ini ujian tersebut menguji kekuatan jiwa, kekuatan tekad dari anak anak itu.
"GROAAAAARR...!."
Seekor binatang Iblis terlihat nampak menghampiri seorang anak, binatang itu langsung mengeluarkan raungan begitu berada di depan sang anak, binatang yang tinggi nya hampir sepuluh meter itu terlihat begitu mengerikan, apalagi saat mengeluarkan raungan nya.
Binatang setengah singa setengah banteng dengan banyak sisik sisik hitam di sekujur kakinya membuat sang anak langsung ketakutan dan pucat pasi.
Aura dan raungan binatang itu langsung menekan dan mengaburkan aura elemen sang anak, membuat badan sang anak gemetaran lalu perlahan tubuh nya menghilang dari tempat tersebut karena dikirim keluar dari area pengujian babak ke dua.
Ujian kekuatan Jiwa dan Tekad selalu berbeda tiap tiap anaknya, jika sang anak masih bertahan dengan ujian kekuatan raungan maka binatang tersebut seperti hendak menerkam, memangsa sang anak.
Di salah satu sudut, terlihat beberapa anak tengah berlari lari dari makhluk makhluk binatang iblis tersebut.
Lu Wen terlihat memimpin anggota nya yang kebanyakan terdiri dari keluarga Lu menghindar dari ujian binatang binatang iblis, begitu juga dengan peserta yang lain.
Han Liong nampak mencoba melindungi para pengikut nya dari keluarga Han dengan gelombang air, menepis semua ancaman binatang iblis.
Sementara Annchi gadis berusia 8 tahun yang memimpin anggota keluarga An juga terlihat memblokir ancaman ancaman binatang iblis dengan cara yang mengesankan, begitu juga dengan Fu Haifang dari keluarga Fu serta Yu Nan dari keluarga Yu.
______________
Jangan lupa like jempolnya dan dukungan nya... terima kasih.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!