Alarm di kamar Amora sudah berbunyi dengan sangat nyaring namun tetap tak dapat membangunkannya. Ia masih terpejam di alam mimpinya.
Pintu kamarnya dibuka oleh seseorang dan betapa terkejutnya ia melihat remaja itu masih tertidur padahal alarmnya sudah berbunyi dari tadi.
"Ya ampun neng Amora! Bangun, Neng!"
"Hem. Lima menit lagi." ceracaunya tanpa membuka mata.
"Coba liat jam berapa ini, Neng!" dengan terpaksa, Amora membuka matanya dan melihat ke arah jam dindingnya.
"Ya ampun, bibi kenapa gak bangunin Amora?" Dengan panik, ia segera berdiri mengumpulkan nyawanya yang masih setengah sadar untuk segera ke kamar mandi.
"Dari tadi juga udah bibi bangunin tapi neng Amora gak bangun-bangun." Amora panik karena melihat jarum jam yang akan menunjukkan pukul 7 tepat.
Bi Siti hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan majikannya yang ceroboh itu. Ia kemudian kembali ke dapur untuk menyiapkan bekal karena yakin kalau Amora pasti tidak akan sempat untuk sarapan.
Amora yang sudah selesai mandi segera memakai seragamnya dan hanya mengikat rambutnya. Sudah tidak ada waktu lagi baginya.
Setelah semua persiapan selesai, Amora segera berlari menuruni anak tangga.
"Bi, Amora pergi dulu yah."
"Sarapan dulu, Neng."
"Enggak, Bi. Amora udah telat."
Seperti yang sudah bi Siti duga bahwa Amora akan melewatkan sarapannya.
"Tunggu, Neng. Ini bawa bekalnya buat sarapan di sekolah." ujar bi Siti sambil memasukkannya ke dalam tas Amora.
"Makasih bi Siti. Amora pergi dulu yah."
"Hati-hati, Neng." Amora bergegas keluar gerbang dan mencari angkutan umum.
Amora hanya tinggal bersama dengan bi Siti, sedangkan kedua orang tuanya bekerja di luar kota. Bekerja keras untuk membahagiakan anak semata wayangnya, yaitu Amora.
*
Disisi lain, Bara yang bangun kesiangan tengah dimarahi Mamahnya karena kebiasaannya yang begadang main game hingga kesiangan.
"Iya iya Mamah sayang, nanti Bara janji gak akan maen game lagi deh."
"Halah bohong." ujar Mamah Bara sambil menjewer kupingnya geram.
"A.. ampun, Mah. Sakit," ringis Bara.
"Janji gak akan main game lagi?"
"I.. iya janji Mah." ucap Bara.
"Udah sana, kamu udah telat juga."
"Ya udah kalau gitu Bara berangkat dulu ya, Mah." sambil mencium tangannya.
"Tapi Bara janjinya hari ini aja yah."
"Maksudnya?" tanya Mamah Bara bingung.
"Kalau besok, Bara gak janji gak maen game." cengenges Bara langsung kabur saat Mamahnya hendak memukulnya.
"Astaga punya anak satu, ngeselinnya minta ampun deh." geram Mamah Bara melihat kelakuan anak semata wayangnya itu langsung kabur dengan motor gede nya.
Di tengah jalan, Bara yang membawa motor gedenya itu masih tersenyum membayangkan ekspresi Mamahnya yang melihat kejahilannya. Enak banget rasanya menjahili Mamahnya sendiri.
Tak berapa lama, Bara melihat cewek yang memakai seragam sekolahnya sedang berdiri di pinggir jalan.
"Amora?" gumamnya. Iapun memberhentikan motornya tepat di hadapan Amora.
*
Amora terkejut ketika seseorang memberhentikan motornya tepat di hadapannya.
"Kak Bara?" ucap Amora ketika melihatnya melepaskan helm.
"Ayo naik, ini udah telat." ajak Bara.
"I.. iya." ucap Amora gugup dan kemudian naik ke atas jok belakang motornya. Ia merasa sedang duduk di atas pagar saking tingginya ia berada.
"Pegangan ya, kita akan ngebut." ucapnya.
"I.. iya, Kak." ucap Amora masih terasa gugup sambil mengenakan helm yang diberikan Bara.
Motor pun melaju dengan sangat kencang membuat Amora tersentak dan refleks memeluk Bara. Motor melaju memecah jalanan kota. Pohon-pohon dipinggir jalan seolah hanya bayangan karena kecepatan motor tersebut.
Amora yang ketakutan, membenamkan wajahnya dibalik punggung Bara. Bara yang menyadarinya langsung memelankan laju motor membuat Amora melepas pelukannya.
"Ini gila." batin Amora. "Kak Bara gila banget kalau bawa motor." Bara hanya tersenyum menanggapinya karena kebiasaan jahilnya itu kadang tak tau tempat.
Tak berapa lama mereka sampai di belakang gedung sekolahnya.
"Kok kita ke belakang sekolah, Kak?"
"Emang lo mau kita ketahuan telat?"
"Enggak juga sih," gumam Amora.
"Ayo ikut." ajak Bara sambil menarik tangan Amora. Amora terkejut karena tiba-tiba tangannya ditarik oleh kakak kelasnya itu. Hal yang belum pernah ia lakukan sama sekali.
Bara yang sudah sampai di depan gerbang, mulai memanjat gerbang tersebut dengan mudahnya. Amora hanya memandang Bara yang sudah ada di atas gerbang dengan bingung.
"Astaga, gue lupa nih anak baik-baik." gumam Bara.
"Kamu bisa naik?" tanya Bara dan dibalas gelengan oleh Amora.
"Ya udah pegang tangan gue." tawarnya sambil menjulurkan tangannya ke bawah.
Amora melihat kiri kanan untuk memastikan. Setelah dirasa aman, ia langsung memegang tangan Bara dan langsung ditarik olehnya. Tangan Amora yang satunya bertumpu pada gerbang dengan kakinya yang dibantu memanjat oleh Bara.
Setelah sampai di atas, Bara langsung turun terlebih dahulu dan merentangkan kedua tangannya.
"Turun aja gak papa, biar gue yang tangkap," setelah hati Amora sudah siap, ia mulai mengambil ancang-ancang untuk melompat.
Amora mulai melompat dan Bara bersiap menangkapnya. Namun pijakan Bara yang tak seimbang membuat keduanya jatuh dengan posisi Bara yang di bawah Amora.
Amora yang menyadari itu langsung berdiri dan membantu Bara.
"Ya ampun maaf, Kak. Amora gak sengaja." panik Amora karena melihat sudut bibir Bara yang lecet. Mungkin itu karena insiden barusan.
"Siapa disana!" ujar penjaga yang mendengar suara di belakang gerbang. Bara refleks menarik tangan Amora untuk bersembunyi di balik tembok.
Amora langsung membelalakkan matanya menyadari kakak kelasnya itu memeluk dirinya erat. Ia belum pernah sedekat itu dengan laki-laki.
Amora merasakan aroma maskulin dari Bara yang menggetarkan hatinya. Jarak wajahnya yang dekat membuatnya menyadari betapa tampannya lelaki yang ada di hadapannya itu.
Kulit putih bersih dengan tubuh tegap dan tinggi itu masih mengungkungnya, membuat jantung Amora makin tak karuan.
Setelah dirasa aman karena tak ada suara penjaga lagi, Bara langsung menatap wanita yang ada di dekapannya. Ia melihat ekspresi paniknya yang sangat lucu. Ingin sekali rasanya dia menjahilinya.
"Kak," tatap Amora memberikan kode untuk melepas pelukannya. Bara yang tersadar segera melepaskannya.
"Kenapa gue meluk dia ya?" batin Bara.
"Kak Bara?" tanya Amora memelas.
"Kenapa? Ada yang luka?" tanya Bara. Amora menggeleng.
"Rok Amora robek. Sepertinya waktu mau turun, tersangkut." tutur Amora sambil menundukkan wajahnya malu.
Ia bingung bagaimana dia mau sekolah dengan kondisi seperti itu? Bara yang mendengarnya langsung membuka jaket dan melingkarkan nya di pinggang Amora.
"Gimana? Udah gak masalah lagi kan?" tanya Bara dan dibalas anggukan.
"Astaga kenapa cewek ini bisa seimut itu?" batin Bara melihat wajah Amora yang terlihat imut dan manis di matanya.
"Makasih ya Kak." ucap Amora tulus dengan senyum manisnya.
"Astaga kalau kayak gini gue bisa jatuh cinta sama ini anak." batin Bara sambil mengangguk menjawab ucapan Amora.
***
Bel jam istirahat berbunyi. Semua murid berhamburan menuju kantin.
"Ra, tadi itu beneran kak Bara?" tanya Fani teman sebangku Amora. Amora hanya mengangguk dan mengeluarkan bekal yang dibawakan bibinya tadi pagi.
"Wah gila sih kak Bara bisa seganteng itu. Cocok banget sama kamu, Ra" ucap Fani kagum dengan kejadian tadi pagi saat Amora diantar Bara ke dalam kelasnya.
Semua siswa tak menyangka dengan kejadian itu dan membuat heboh seisi kelas. Pun dengan siswa yang memendam rasa terhadap Amora sangat terkejut melihat kejadian itu.
"Cocok darimana, Fan? Amora sama kak Bara itu bagai bumi dan langit tau." ucapnya sambil mengunyah bekal makannya.
Amora langsung mengingat kejadian waktu MOPD. Awal ia melihat Bara yang dikerubuni anak-anak cewek untuk meminta tanda tangannya sebagai tugas yang harus dilakukan anak baru pada kegiatan itu.
Amora yang terpesona dengan kharisma Bara saat itu hanya berangan-angan saja karena tingkat level yang sangat jauh dengan Bara. Hal itu yang membuatnya minder.
Namun setelah kejadian tadi pagi, ia jadi ingin sekali bertemu lagi dengannya, walau hanya sebentar saja.
"Ra, kamu tuh cantik, kenapa harus minder?" ucap Fani.
"Malah cewek-cewek yang minder sama kamu." tutur Fani serius.
Amora yang hanya diikat rambutnya saja kharismanya terlihat mempesona di mata Fani dan anak-anak lain. Namun Amora tidak merasa seperti itu. Itulah yang membuatnya minder.
*
Bara sedang berkumpul dengan teman-temannya di kantin.
"Si Bara gila sih kalau udah maen game ranked. Asli deh. Musuh pada kocar kacir." ujar Yuda membanggakan temannya itu.
"Ya baguslah daripada elo, cuma beban doang," ujar Bondan sambil tertawa.
"Halah elo juga nyampah mulu. Sekalinya gak dijagain langsung mati deh," balas Yuda tak mau kalah.
"Udah-udah sesama player noob diem aja jangan saling mengejek." jawab Bara yang dibalas amukan oleh keduanya.
"Kalian ngomongin apa sih? Gak paham deh." ucap Deri.
"Makanya jangan baca buku mulu. Baca yang lain juga." balas Yuda dengan kerlingan nakal.
"Lah yang mesti dibaca kan buku. Emang apa lagi?" tanya Deri tak terima.
"Elo kalau ngajarin yang gak bener jangan sama si Deri, dia itu lemot." ujar Bondan diselingi tawa.
Deri hanya geleng-geleng kepala sama teman-teman barbarnya. Entah kenapa juga dia jadi akrab sama mereka.
"Kak Bara." Semua yang sedang tertawa termasuk Bara langsung melihat ke arah suara tersebut.
"Wah, mau ada drama lagi nih kayaknya," senggol Bondan pada Bara.
"Ada apa yah?" tanya Bara pada siswi di depannya.
"Em.. a.. aku mau bilang kalau aku su... suka sama kak Bara." tuturnya gugup sambil memberikan buket bunga yang sangat cantik kepada Bara.
"Aduh, Dek. Kamu orang yang ke 100 kali yang nyatain cinta sama orang ini." sahut Yuda.
"Ssut diem." ucap Bara memberi isyarat.
"Gini ya, Dek. Kak Bara gak suka sama adek." ucap Bara pelan.
"Kak Bara gak suka sama Ayu?" tanya siswi yang bernama Ayu itu sambil berlinang air mata.
"Bukan gitu." Bara bingung harus menjawab apa untuk menolaknya. Tapi ia tak mau sampai menyakiti hatinya.
"Sini deh. Ayu lihat di sekeliling. Siapa tahu ternyata salah satu dari mereka adalah belahan hati Ayu. Terus kalau orang itu ngeliat Ayu malah nembak kakak, Ayu bisa ngebayangin gak gimana sakitnya orang yang menyayangi Ayu itu?" ucap Bara panjang lebar.
"Benarkah ada yang menyayangi Ayu?" tanya Ayu yang kini bisa menghentikan linangan air matanya berganti jadi rasa penasaran. Bara mengangguk.
"Setiap orang sudah memiliki belahan jiwanya masing-masing. Hanya saja kapan dan dimananya yang kita gak tau. Kalau Ayu percaya, tunggulah belahan jiwa Ayu. Dan untuk sekarang, Ayu fokus belajar, oke?" nasehat Bara langsung membuat Ayu tersadar.
"Jadi Ayu punya belahan jiwa? Tapi Ayu harus nunggu belahan jiwa Ayu itu?" tanya Ayu dengan nada polosnya dan dibalas anggukan Bara. Entah mengapa hati Ayu saat itu malah senang.
"Kalau gitu Ayu mau fokus belajar aja sambil nunggu belahan jiwa Ayu itu. Semoga aja Ayu cepet ketemunya sama orangnya." jawab Ayu sambil tersenyum sumringah membayangkan akan terjadinya pertemuan dirinya dengan belahan jiwanya itu.
"Nah gitu dong. Give me hi five!" Dan langsung dibalas oleh Ayu.
"Makasih banyak ya kak. Berkat kakak aku jadi lebih semangat lagi. Oia ini bunganya buat kak Bara aja sebagai ucapan terimakasih Ayu sama kakak."
Setelah Bara menerima buket bunga itu, Ayu langsung balik badan menuju kelasnya dengan wajah sumringah. Berbeda sekali dengan orang-orang yang patah hati pada umumnya karena ditolak cintanya.
"Gue bangga punya temen kayak lo, Bar. Salut gue." ujar Deri sambil memberikan tepuk tangan.
"Iya nih beda banget sama yang di sebelah gue, hobinya nyakitin cewek mulu," sindir Bondan pada Yuda.
"Diem lo." jawab Yuda jengah.
"Lagian si Bara malah ditolak cewek cantik kayak gitu. Padahal buat gue aja."
"Ogah deh gue pasrahin itu cewek sama elo. Si raja bokep," ujar Bara dibarengi gelak tawa Bondan dan Deri.
"Bener bnget tuh," tutur Bondan.
"Ah kayak yang enggak aja lo pada." jawab Yuda tak terima.
Sementara orang-orang yang menonton kejadian itu langsung bergerombol untuk membicarakannya. Mereka terkagum dengan sosok Bara yang sangat baik dalam menolak wanita yang menembaknya. Benar-benar lelaki idaman.
"Ada yang mau bunga?" tanya Bara pada teman-temannya.
"Idih sekarang lo nembak gue?" tanya Yuda menirukan ekspresi cewek angkuh yang siap menolak ajakan lelaki tampan.
"Najis gue liat ekspresi lo." ucap Bara dengan ekspresi yang dilebih-lebihkan juga.
"Gak ada cowok yang suka bunga, Bar." tutur Deri.
"Ya siapa tau kalian mau nembak atau pedekate sama cewek, gue modalin ini bunga." tutur Bara.
"Sorry gue gak tertarik," jawab Bondan.
"Gue juga," tutur Deri sambil mengangkat tangannya seolah Bara tengah menodongkan pistol bukan bunga padanya.
"Kalian bener-bener harus gue kasih pelajaran kayaknya," ucap Yuda. Bara, Bondan dan Deri menatapnya bingung.
"Maksud lo?" tanya Bara.
"Elo, Bar. Ganteng-ganteng tapi gak punya gebetan sama sekali. Gak guna banget punyak muka cakep tapi gak dipake." tutur Yuda
"Dipake buat apaan?" Deri yang malah kebingungan.
"Jadi cowok playboy maksud lo?" jawab Bara tau apa yang ada dipikiran Yuda.
"Nah, that's right!" ucap Yuda antusias melihat lawan bicaranya sefrekuensi.
"Ogah gue, gak minat." jawab Bara.
"Maklum Bar. Si Yuda ini gak dikasih muka cakep sama Tuhan. Soalnya kalau kayak gitu bisa bahaya buat para cewek. Betul gak?" tutur Bondan. Bara mengangkat satu alisnya dan mengangguk pertanda setuju dengan pernyataan Bondan.
Yuda geleng-geleng kepalanya melihat ketiga temannya yang sangat suci itu. Diam-diam dia merencanakan sesuatu agar teman-temannya itu tau bagaimana caranya menikmati hidup. Dan tentu saja definisi menikmati hidup versi dirinya.
***
Amora dan Fani masih memakan bekalnya di dalam kelas. Tiba-tiba banyak anak kelas yang berhamburan masuk dengan sangat heboh.
"Itu kenapa sih, Fan?" tanya Amora penasaran.
"Entahlah." jawab Fani mengangkat kedua bahunya sambil melanjutkan makannya.
Fani melihat ke arah depan dan langsung penasaran juga. Akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Guys, ada apaan sih rame banget?" tanya Fani dengan suara cukup keras agar teman-temannya yang ada di depan bisa mendengarnya.
Amora hanya diam mencoba tak tertarik dengan hal-hal yang seperti itu. Ia tetap melanjutkan makannya yang hampir selesai.
"Tadi di kantin, kak Bara ditembak sama cewek loh! Aku denger sih katanya adik kelas." ucap salah satu dari mereka antusias. Amora yang mendengar hal itu langsung terdiam, seolah waktu berhenti saat itu juga.
"Seriusan?" tanya Fani meyakinkan.
"Iya serius. Orang tadi banyak kok yang ngeliatnya. Ceweknya juga lumayan cantik lagi. Kayaknya sih anak kelas 10. Tapi gak tau deh kelas 10 berapa." jelasnya.
Fani melirik ke arah Amora yang terdiam.
"Tapi masih cantikan Amora kemana-mana lah." ucap Fani meyakinkan Amora yang hanya terdiam saat itu.
"Itu mah udah jelas kali." jawab salah satu anak kelas yang dibarengi anggukan yang lain.
Namun sayangnya, orang yang mereka bicarakan itu sudah berada dalam lamunannya. Amora tidak memperhatikan percakapan teman-temannya lagi setelah pernyataan bahwa Bara ditembak oleh seorang siswi cantik. Ia sibuk dengan lamunannya.
Bel masuk pun berbunyi dengan sangat nyaring sehingga membangunkan Amora yang terlalu dalam dengan lamunannya.
"Mikirin apa sih, Ra?" tanya Fani melihat teman sebangkunya itu.
"Eng.. enggak." jawab Amora gugup karena baru sadar dirinya jadi pusat perhatian.
"Pasti lagi mikirin kak Bara yah?" goda Fani.
"Enggak. Siapa juga yang mikirin kak Bara. Dia kan bukan siapa-siapa Amora." jawab Amora bohong. Karena dari tadi yang ada dalam lamunannya adalah Bara.
Fani hanya geleng-geleng kepala melihat kawannya itu. Amora itu cantik. Bahkan bisa dibilang sangat cantik, dengan kulit putih mulus, hidung yang tidak pesek dan tidak terlalu mancung, bahkan bisa dibilang imut.
Hanya saja Fani pikir Amora itu kurang percaya diri saja bahwa dirinya bisa dikatakan sempurna. Namun Fani bersyukur karena Amora dengan kecantikannya itu tidak terbesit sifat sombong yang biasa cewek cantik sandang.
Bahkan ada yang merasa sedikit cantik saja bisa sombong melebihi yang semestinya. Namun Amora tidak seperti itu. Karena hal itulah yang membuat Fani mengaguminya.
"Woy! Guru-guru katanya pada rapat sampe jam 2." ujar seseorang yang tergesa masuk ke dalam kelas dengan nafas yang masih terengah.
Seluruh siswa yang mendengarnya seketika langsung bersorak riang. Ada yang sampai naik ke atas meja, memukul meja, bahkan sampai berpelukan. Sebuah selebrasi yang sangat tidak diindahkan, namun dirindukan para murid.
Entah kenapa Amora malah tidak bersemangat, berbanding terbalik dengan teman-temannya.
"Kayak orang yang lagi patah hati aja kamu, Ra." ujar Fani menggodanya.
"Gak tau. Amora ngantuk." ujar Amora langsung menelungkupkan kepalanya diantara kedua tangannya di atas meja. Fani yang melihat itu hanya menggeleng kepalanya.
"Kenapa Amora jadi gini ya? Kok hati Amora sedih denger kak Bara ditembak sama cewek lain?" tanya Amora di hatinya. Iapun mencoba memejamkan matanya seolah bisa menepis wajah Bara yang ada di pikirannya.
"Sorry guys, ganggu hari bahagianya. Amoranya ada gak?" ucap seorang siswa laki-laki menghentikan selebrasi anak kelas.
"Oh ada kak. Itu di belakang." tunjuk salah satu siswi kelas.
"Thank you manis." ucap laki-laki itu membuat seisi kelas hening seketika karena kedatangannya.
"Halo cantik." sapa laki-laki itu setelah berdiri tepat di hadapan Amora. Fani langsung menyenggol pundak Amora. Iapun bangkit dan terkejut melihat ada seorang laki-laki berdiri tepat di hadapannya.
"Ada apa ya, Kak?" tanya Amora bingung.
"Nama kakak, kak Ari. Ikut kakak bentar, yuk," ajak laki-laki yang bernama Ari tersebut.
"Kemana?" tanya Amora yang tangannya langsung ditarik tanpa aba-aba oleh Ari. Fani yang terkejut juga bingung harus berbuat apa untuk menolong Amora. Pasalnya tampang Ari terlihat amburadul khas anak nakal dengan pakaian yang semrawut sekedarnya tanpa ada kerapihan sedikitpun.
Anak kelaspun tak ada yang berani mendekati bahkan menolongnya. Karena mereka sangat hapal bagaimana watak kakak kelas yang satu itu.
"Semoga si Amora baik-baik aja." ucap salah satu siswi yang ada di kelas dan dibalas anggukan oleh yang lainnya.
Amora yang tangannya ditarik tidak bisa melakukan apa-apa selain mengikutinya di belakang. Banyak pasang mata yang menyaksikan itu, termasuk anak 12. Sampai akhirnya Amora dibawa ke suatu tempat di sudut belakang sekolah.
Tangan Amora langsung dilepaskan oleh Ari.
"Kak Ari mau apa bawa Amora kesini?" tanya Amora sedikit takut.
"Ada yang mau kak Ari omongin sama kamu." jawab Ari sambil memastikan keadaan sekitar.
"Gini, kamu mau gak masuk ke Genk kakak? Kita lagi kekurangan cewek cantik soalnya." jawab Ari dengan kerlingan nakal menatap wajah Amora.
"Genk? Eng.. enggak kak. Amora gak mau." jawab Amora geleng kepala.
"Kalau gitu Amora balik ke kelas yah."
"Et, tunggu dulu." tahan Ari sambil mencekal kedua tangan Amora.
"Kalau kamu ikut gabung, imbalannya kamu bakalan aman dan dilindungi sama Genk kita. Kakak jamin. Gimana?"
Amora tetap menggeleng. Ari yang mulai kehabisan akal langsung mempunyai ide lain. Ia mulai mendekatkan wajahnya sambil mempererat kungkungan tangannya.
"Kakak jangan deket deket." ujar Amora mencoba membalikkan pandangannya ke samping menghindari Ari.
"Gimana kalau kita jadian?" tanya Ari dengan nada sensual tepat di telinga Amora. Amora malah merinding sekaligus ketakutan.
"Amora harus cepat-cepat pergi dari sini." batinnya.
"Maaf, Kak. Amora gak tertarik." ucap Amora sambil mencoba melepas kungkungan tangan Ari yang kuat. Namun hasilnya nihil. Ari yang mengetahui lawan bicaranya hendak lari darinya tersenyum dengan sinis.
"Baru kali ini gue ditolak sama cewek." gumamnya memperlihatkan seringai aslinya. Dia memandangi wajah Amora dan hendak menciumnya, namun Amora langsung memalingkan wajahnya.
"Gak usah jadi cewek munafik. Cewek cantik kayak elo rata-rata udah gak virgin." bisiknya di telinga Amora. Seketika wajah Amora langsung memerah tanda marah.
"Jangan sembarangan ngomong kamu! Amora masih perawan!" bentak Amora tak terima. Ia memberanikan diri meskipun tak ayal dirinya sebenarnya sangat ketakutan.
"Wohow! Gue suka cewek yang menantang kayak gini." ucap Ari dengan seringai nakalnya.
Dan saat itu juga Ari langsung menerkam Amora. Ia mencekal kedua tangannya sembari mencoba mencium paksa Amora.
Amora memberontak sekuat tenaga.
"Kak Ari lepas!" teriak Amora hampir menangis.
"Tolong lepasin." ujar Amora menyayat hati dengan lelehan air mata.
***
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!