NovelToon NovelToon

Makam Keramat

Makam Kyai wali ali wafa

Senja telah tiba, malam pun semakin larut.

Di sudut jalan di pinggiran kota Surabaya yang berbatasan dengan kota Sidoarjo, pak Yasin sedang duduk bersama teman - temannya sambil menikmati mansion oplosan bir bintang.

Sementara istri pak Yasin, ibu Farida, selesai melaksanakan solat Tahajjud, sedang melantunkan Dzikir Munajat, setelah itu melantunkan sholawat Fatih, kemudian berdoa untuk anak - anaknya juga suaminya.

Di desa Agung yang terletak di kecamatan Waru sidoarjo, Damar Ahmad tinggal bersama ayah ibu juga keluarga besarnya.

Walau hidup sederhana bahkan kadang sering kekurangan... Farida ibunya Damar tetap sabar tabah dan istiqomah dalam beribadah.

Lain dengan yasin bapaknya, tidak pernah ibadah bahkan sering mabuk dan sering berkata kasar.

*****

"Yasin, ini bagian mu," kata Seno temannya membagikan uang hasil menjual motor curian.

"Baiklah, aku pulang dulu," sahut Yasin kemudian menghidupkan mesin motornya.

*****

Tok tok tok..!

"Sebentar," sahut ibu Farida kemudian membukakan pintu rumah,

"Darimana mas, kok pulang hampir subuh.

Mabuk lagi..! Hampir tiap malam selalu pulang mabuk!"

"Jangan banyak bicara, temani aku tidur," ucap pak Yasin.

"Iya iya. Lelaki mau menangnya sendiri. Tambah tua gak tambah baik, malah gak karuan karuan,"gumam ibu Farida.

"Ini uang untuk bayar ujian Damar," ujar pak Yasin meletakkan uang di meja kamar kemudian merebahkan badannya.

******

Adzan subuh berkumandang, dan sinar matahari perlahan - lahan menerangi bumi.

"Damar... Ayo bangun nak! Sudah jam enam pagi. Mandi ganti baju sarapan lalu berangkat sekolah.

Nanti kamu bayar ujiannya ya"

"Iya Buk," jawab Damar yang masih ngantuk.

***

Pagi itu Damar mengayuh sepeda angin menuju sekolah SMA yang agak jauh.

Jam satu siang sepulang sekolah, Shinta berdiri di depan samping sekolah sambil memainkan Hp iPhone keluaran terbaru sambil menunggu Damar.

"Damar..!" panggil Shinta.

"Hai Shinta, ada apa?" tanya Damar yang mengetahui kalau Shinta sejak kelas dua menyenanginya, namun Damar berpikir dua kali sebab Shinta adalah anak seorang pengusaha kaya raya. Sedangkan Damar merasa anaknya pembantu serabutan, sedangkan bapaknya tidak jelas apa pekerjaannya.

"Ini aku belikan Hp untuk mu, biar aku bisa menghubungi mu kapan saja," ujar Shinta kemudian menyodorkan Hp baru.

"Terimakasih Shinta atas kebaikan mu, tetapi aku tidak bisa menerima pemberian ini," jawab Damar.

"Damar... Di sekolah ini kamu adalah siswa yang tidak punya Hp. Aku memberimu hp agar kamu bisa dengan mudah berhubungan dengan teman dan dengan mudah mengakses informasi," kata Shinta,

"Kedua aku benar - benar mencintai mu dan sayang banget sama kamu."

"Shinta... ? Mengapa kamu mencintai ku?

Bukankah banyak cowok yang lebih tampan dan kaya di sekolah ini. Sedangkan aku biasa biasa saja, dan dari keluarga yang tidak mampu," ujar Damar.

"Damar... Aku tidak tau mengapa aku mencintai mu. Yang aku tau dan aku rasakan, sejak kelas dua, jika aku melihat mu hati ku terasa sangat senang. Jika aku bersama mu, aku bahagia," kata Shinta,

"Aku tau kamu sebenarnya juga mencintai ku, tetapi kamu menghindar karena aku anak orang kaya dan kamu anak orang miskin.

Ketahuilah Damar... Yang kaya itu orang tua ku, bukan aku."

Mendengar penuturan Shinta... Damar hanya diam sambil tersenyum, lalu berkata,

"Sebenarnya iya, aku mencintai mu sejak kelas dua, tetapi aku sadar diri.

Karena kamu terlalu cantik dan terlalu kaya.

Hemmm, kamu gak pulang, itu sopir mu sudah menunggu mu sejak tadi."

"Jawab dulu, kamu mau gak berpacaran sama aku?" kata Shinta.

"Baiklah kalau kamu memaksa, aku mau."

"Kalau begitu kamu terima Hp ini, aku pulang dulu ya... Nanti kalau HP nya sudah nyala, kamu WA aku. Di dalam tas itu ada kartu nama ku."

"Baiklah Shinta, aku balik dulu ya," ucap Damar kemudian mengayuh sepeda bututnya.

Ketika mengayuh sepeda... Tiba - tiba terdengar teriakan suara "Damar..!"

"Hai Aldi," teriak Damar kemudian menghentikan sepedanya.

"Sini dulu, minum bentar. Ini tadi teman - teman beli vodca sama Bir."

"Baiklah tetapi dikit saja ya, aku lagi gak enak badan," kata Damar.

"Tumben premannya SMA pancasila gak enak badan," sahut Aldi teman kelasnya,

"Apa tadi habis ngobrol sama Shinta langsung gak enak badan, hahahaha!"

"Ah kamu itu bisa aja."

"Shinta itu cantik loh Mar, dia jadi rebutan cowok SMA Pancasila, tetapi yang aku heran... Justru Shinta ngejar - ngejar kamu, hahahaha..! Tetapi gobloknya kamu yang gak mau," Sahut Deni.

"Menurutku... Shinta itu bener - bener mencintai mu Mar," tipal Topa,

"Coba kamu pikir, Shinta itu tahu kamu jarang bicara, suka tawuran, suka mabuk, dan jarang punya uang, tetapi dia masih saja setia mengejar mu hingga sekarang."

"Jangan banyak omong kalian, ayo buruan di putar gelasnya," sahut Damar yang berisik dengerin omongan teman temannya,

"Mulai sekarang... Shinta jadi pacar ku!"

"Hemmmmm, begitu ya" sahut teman - temennya bersamaan.

Tak lama kemudian, Damar pamit duluan, karena hari mulai senja.

Adan Asar terdengar menggema. Ketika melewati perbatasan desa Agung dengan desa Sani, Damar melihat makam yang sering di lewatinya memancarkan cahaya yang sangat terang. Karena penasaran, Damar menghentikan sepedanya lalu berkata lirih, "Sudah sejak kecil aku lewat makam kyai Ali wafa ini, baru kali ini aku melihat kejadian aneh. Tiba - tiba ada cahaya memancar dari dalam makam..? Ah sudahlah, aku pulang saja, kepala ku agak pusing habis minum vodca."

*****

"Assalamualaikum," salam Damar, di depan pintu.

"Waalaikumsalam," sahut Lesti adik perempuan nya.

"Ibu mana Dik."

"Ibu nyuci baju di rumah bu Lusi."

"Oh ya udah, masak apa ibu?"

"Masak sayur sop ikan tahu tempe sama kerupuk.

Kenapa..? Gak doyan..!"

"Gak papa, males aja," sahut Damar kemudian masuk kamar.

"Tinggal makan saja cerewet, kayak Bapak," gumam Lesti yang masih sekolah SMP.

*****

Adan magrib berkumandang.

"Damar... Ayo bangun, solat magrib..!

Kamu sudah besar, yang rajin solat. Jangan kayak bapakmu."

"Iya buk," sahut Damar sambil tidur kembali.

"Kamu habis mabuk ya, kok ibu bau Alkohol?"

"Iya tadi pulang sekolah minum dikit."

"Kamu itu sudah besar Nak, mau lulus sekolah. Jangan suka mabuk, gak baik untuk kesehatan. Yang rajin solat, yang rajin ngaji.

Mau jadi apa kamu besok kalau begini terus..? Keluarga kita ini sangat miskin di desa ini. Bagaimana pandangan masyarakat melihat kamu suka mabuk, bapak mu juga suka mabuk. Apa gak jadi perbincangan di masyarakat..?"

"Iya buk," sahut Damar kemudian bergegas mandi, lalu menunaikan sholat magrib.

Sehabis solat magrib, sambil makan malam Lesti berkata,

"Tumben Kak solat magrib?"

"Lesti..! Gak baik ngomong gitu sama kakak mu," sahut ibu Farida,

"Alhamdulillah kakak mu mau solat walau jarang - jarang. Siapa tau besok - besok kakak mu rajin solat dan menjadi orang soleh,

"Damar... Ayo makan yang kenyang, ini tadi ibu di kasih bu Lusi kare ayam satu plastik besar."

"Iya buk," sahut Damar yang jarang bicara,

"Lesti... Makan yang kenyang, jangan ngomong aja kamu."

"Oh iya Kak, tadi dapat salam dari mbak Fitri anaknya pak Aripin kontraktor.

Kayak nya mbak Fitri suka deh sama kakak."

"Hemmmm,

Bilangin, mau gak jadi pacar kedua," ujar Damar bercanda sambil makan.

"Husss..!!!

Gak boleh ngomong gitu," sahut ibu Farida,

"Jangan pacaran dulu, sekolah yang pinter, setelah lulus baru kerja, setelah boleh menikah."

"Buk... Belikan Hp ya..?

Teman - teman ku semua pada punya hp, hanya aku saja yang gak punya," kata Lesti memelas,

"Biar belajar nya enak kalau browsing! Hubungan juga Enak.

"Iya Lesti, ibu kumpulin uang dulu ya Nak, sabar."

"Iya Buk."

"Lesti, di kamar ada Hp iPhone baru, juga ada kartu baru," sahut Damar,

"Kamu ambil itu untuk kamu."

"Beneran kakak punya HP baru..?" gumam Lesti gak percaya.

"Dasar cerewet kayak ibu..!

Kamu ambil sekarang di meja kamar ku."

"Baiklah, awas kalau bohong," ujar Lesti bergegas masuk kamar Damar.

"Darimana kamu dapat Hp baru Damar..?" tanya ibu Farida.

"Tadi kasih hadiah temen Buk, lagian aku gak butuh hp."

"Ya sudah kalau begitu, pesan ibu... Jangan mencuri..! Walau kita hidup miskin, jangan sampai kita mencuri."

"Iya Buk," sahut Damar.

"Kak..! Bneran hp ini untuk Lesti..?

Ini iPhone Kak, mahal banget."

"Iya cerewet, untuk kamu."

"Makasih ya Kak... Sayang dulu kalau begitu.

Ini pertama kali Kakak kasih aku barang bagus. Entar kalau sudah kerja, aku akan beri Kakak hadiah yang bagus juga."

"Iya sudah sana pergi, hidupkan HP nya sama Ida sepupu mu sana."

"Iya, makasih Kak...!"

"Bapak mana Buk, kok gak kelihatan dari siang?"

"Bapak mu katanya ikut kerja temannya di proyek. Mungkin sabtu katanya pulang."

"Buk, ibu tau gak sejarah makam kyai Ali Wafa yang ada di desa Sani perbatasan desa," tanya Damar.

"Kamu merokok terus," gumam ibu Farida, "Darimana kamu dapat uang untuk beli rokok..!"

"Tadi di kasih rokok teman. Ibu ini selalu mengatur hidup Damar. Kan damar sudah besar Buk. Sudah umur 17 hampir 18 tahun. Mau lulus sekolah."

"Seorang ibu itu ya begitulah, selalu ingin anak nya menjadi yang terbaik. Walau kamu besok sudah beristri... Ibu akan tetap menasehati mu."

"Buk, jawab dulu pertanyaan ku tadi."

"Kyai Ali Wafa itu... Menurut guru ngajinya ibu, adalah seorang waliyullah yang syiar agama di wilayah kabupaten Sidoarjo dan Surabaya.

Beliau di kenal seorang wali yang sabar, dan memiliki Keramat yang luar biasa.

Makanya, makamnya banyak di datangi orang untuk minta berkah. Menurut guru ngajinya ibu dulu... Beliau mbah wali Ali wafa berasal dari Baghdad timur tengah. Beliau meninggal di perjalanan. Ketika berada di desa Sani, kyai Ali Wafa sakit dan di rawat oleh warga setempat. Tak selang lama beliau wafat. Karena beliau seorang kyai... Maka di makamkan di tanah orang yang merawatnya.

Makanya makamnya di pinggir jalan dan seorang diri."

*Bersambung*

Bermain di makam wali

"Lalu... Itu ada beberapa makam yang tak jauh dari makam kyai Ali Wafa, itu makam siapa Buk?"

"Menurut orang desa Sani, itu makam keluarga yang punya tanah.

Ada apa..? Tumben kamu tanya hal aneh. Tanya tentang makam kyai Ali Wafa. Gak seperti biasanya jarang bicara."

"Gak apa - apa, tanya aja, karena tadi sepulang sekolah Damar melihat ada cahaya yang menyeruak keluar dari dalam makam kyai Ali Wafa. Makanya Damar tanya tentang makam kyai Ali sama ibu."

"Saran ibu, coba saja kamu besok malam jumat ziarah ke makam kyai Ali Wafa. Barangkali kamu mendapatkan berkah dari mbah wali."

"Baiklah buk, tetapi Damar gak tau cara ziarah ke makam, dan Damar hanya bisa ngaji qur'an tetapi tidak lancar juga tidak fasih. Kan Damar belajar ngaji hanya waktu kecil di mushollah sama kyai Hadi."

"Makanya kalau di suruh ibu ngaji itu nurut. Kamu itu laki - laki, harus bisa ngaji walau itu hanya surat yasin. Kerjaan mu itu hanya main tidur saja. Kelak kamu itu jadi suami jadi seorang bapak. Kamu harus bisa mendidik istri dan anak - anak mu. Jangan kayak bapak mu..!"

"Iya, iya," kata Damar.

"Assalamualaikum..!"

"Waalaikumsalam," jawab ibu Farida,

Kamu Sul, itu Damar lagi makan di depan tv. tunggu sebentar.

Damar, di cari Samsul."

"iya," jawab Damar kemudian berdiri lalu berjalan menuju depan.

"Udah makannya," tanya Samsul.

"Udah dari tadi. Mau kemana..?"

"Biasa ngopi di Rungkut."

"Aku gak punya uang," kata Damar.

"Aku ada uang, cukuplah kalau buat beli vodca sama rokok.

Ok, ok," sahut Samsul.

*Buk, Damar main dulu ya."

"Iya, ingat pesan ibu, jangan mabuk dan jangan mencuri."

"Iya, paling juga minum dikit."

******

Motor pun melaju perlahan - lahan, Hingga akhirnya Damar dan Samsul berhenti di sebuah warung pinggir jalan.

Begitu turun dari motor... Banyak teman - teman Damar sudah di lokasi.

"Hemmm, acara apaan sih kok pada ngumpul disini," tanya Damar kepada teman - temannya.

"Biasa nongkrong aja."

Malam terus merambat, pekat pun hadir dengan gemerlap cahaya bintang yang bertaburan di langit gelap.

Setelah bersenang - senang sambil menikmati beberapa vodca, Damar pun pamit untuk pulang.

*****

"Masih jam 10 malam, Damar, kita cari makan dulu ya, dan teh hangat."

"Baiklah, kita makan nasi rawon saja di depan terminal Bungur Asih.

"Baiklah, "ujar Samsul kemudian melajukan motornya agak kencang.

Setelah makan, dan hendak naik motor, Samsul berkata:l,

"Damar... Bukankah itu bapak mu yang duduk dengan seorang perempuan..?"

Setelah melihat dengan seksama, Damar berkata lirih,

"Iya itu bapak ku. Dia sedang mabuk bersama teman - temannya.

Ah, biarin saja, emang dari dulu aku sudah tau kalau bapak ku mempunyai banyak teman bromocora. Ayo kita pulang.. !"

"Baiklah," ujar Samsul kemudian melajukan motornya pelan - pelan.

Begitu masuk desa Sani dan melewati makam kyai Ali Wafa... Damar berkata,

"Sul, kita berhenti sebentar ya..?"

"Emang mau apa..!!!"

"Aku ingin lihat lihat makam, mumpung ramai banyak orang ngaji.

Penasaran aku sama makam kyai Ali wafa ini."

"Tumben - tumbennya kamu masuk makam wali, hahaha. Emang berani..?"

"Beranilah, mumpung agak mabuk," sahut Damar.

"Kamu itu malam ini agak aneh Mar, habis mabuk ziarah ke makam wali. Gak seperti biasanya," gumam Samsul sahabat Damar sejak SD kemudian memarkir motor metik milik ayah nya.

Tanpa uluksalam, Damar dan Samsul duduk di pinggir pendopo.

"Sono buruan ziarah nya, aku tunggu disini," ujar Samsul sambil merebahkan tubuhnya.

"Sebentar, rokok'an dulu. Itu ada warung kopi, apa kamu mau minum kopi atau teh?"

"Gak ah, kamu saja kalau mau," ini uangnya, ujar Samsul sambil tidur - tiduran.

"Baiklah, aku tak beli teh hangat saja, kamu tunggu sebentar.

*****

Sambil membawa segelas teh hangat, Damar kembali ke pendopo,

" Sul, sul..! Hemmm tidur ternyata."

"Assalamualaikum," sapa dua orang yang mengenakan sarung dan berkopyah dengan baju takwa putih.

"Waalaikumsalam," jawab Damar kemudian berjabat tangan.

"Mas dari mana..?"

"Dari desa sebelah Pak, Desa Agung. Bapak darimana," tanya Damar balik.

"Dari kecamatan Sepanjang mas. Kenalkan, saya pak Sulaiman. Siapa nama mas ini..?"

"Saya Damar pak, yang tidur ini teman saya Samsul namanya."

"Apa mas Damar sering ziarah ke sini..?"

"Kalau lewat hampir tiap hari pak, kalau masuk area makam baru kali ini.

Kalau bapak Sulaiman apa sering ziarah kesini..?"

"Alhamdulillah, setiap hari rabu saya istiqomah disini. Alhamdulillah sudah lebih dari 3 tahun insyallah."

"3 tahun pak..!!!!" seru Damar terkejut.

"Iya mas."

"Selama 3 tahun, apa yang bapak peroleh di makam ini..?"

"Banyak sekali mas Damar, berkat barokahnya mbah Wali Ali Wafa, hidup saya jadi tentram, sejahtera dan bahagia sekeluarga. Ada saja rezekinya. Dan selalu bertambah ilmu pengetahuan agamanya."

"Oohhh begitu ya pak, baru tau saya, kalau ziarah makam wali itu banyak hasilnya," sahut Damar.

"Mas Damar, saya pamit mau ke mushollah tak solat dulu ya."

"Baiklah pak Sulaiman, terimakasih telah berkenan menyapa saya."

"Sama- sama mas Damar, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," sahut Damar.

Setelah pak Sulaiman pergi, tiba - tiba Damar melihat pemuda gondrong berpakaian lusuh baju sobek - sobek duduk agak jauh dari tempat Damar duduk.

"Hemmm pemuda gila itu bicara apa sih, dari tadi ngomong sendiri, Gak jelas.

Besok pasang nomer togel saja nitip sama Samsul. 87 Orang gila. Siapa tau barokah nya mbah Wali Ali Wafa dapat nomer togel, bisa untuk beli Hp nya Tiyo adikku yang masih SD. Kasihan Tio, teman - temannya pada mainan Hp, hanya Tio saja yang gak punya."

Tiba - tiba pemuda gila itu berdiri lalu mendekati Damar. Setelah berdiri di depan Damar, pemuda gila itu berkata,

"Heeee..! Minta rokok nya..!"

"Ini," kata Damar Sambil menyodorkan rokok surya 12.

Setelah mengambil sebatang rokok surya, pemuda itu duduk di samping Damar lalu berkata,

"Merokok kalau gak ada kopinya itu kurang Afdhol, kurang baik..!"

"Gak ada kopi," sahut Damar agak galak.

"Yaah belilah dua gelas. Kamu segelas aku segelas."

"Gak punya uang, kalau mau ini teh milikku," jawab Damar.

"Kamu pelit amat, bukankah di saku mu ada uang 17 ribu..!

Beli sana, dan bawah kemari..!"

Mendengar ucapan pemuda gila, Damar mengernyitkan dahinya dan berkata dalam hati,

"Kok dia tau kalau kembalian teh di saku ku 17 ribu..?"

"Darimana kamu kok tau kalau aku punya uang 17 ribu," tanya damar

"Jangan banyak bicara, beli saja kopi dua cangkir," jawab pemuda gila,

"Aku tau apa saja yang tersembunyi di alam jagad ini. Tidak seperti mu, Goblok!"

Damar yang di kenal teman - temannya pemberani dan keras kepala, ingin rasanya memukul pemuda gila yang mengatakan dirinya goblok,

"Hemmmm, repot kalau ketemu orang gila seperti ini. Di lawan juga gila, gak di tonjok ini tambah ngelantur."

"Sudah jangan emosi, buruan beli kopi. Emang kalau habis minum vodka, bawaannya pingin mukul orang saja," kata pemuda Gila santai.

Sambil berjalan, Damar menggumam,

"Dia kok tau ya, kalau aku habis minum vodca. Dia juga tau kalau aku emosi mau nonjok dia."

*****

"Ini kopinya," ucap Damar sambil meletakkan cangkir di atas keramik putih.

"Laaah ini baru namanya surga, urip songo. Ada kopi ada rokoknya," kata pemuda gila,

"Siapa nama mu..?"

"Damar Ahmad. Kamu siapa namanya?"

"Panggil saja aku Pintu Langit," jawab pemuda gila sambil mengangkat cangkir.

"Hemmm, di tanya bener - bener jawab nya pintu langit."

"Yaah itu nama ku," sahut pemuda gila.

"Antik sekali namanya, pintu langit hehehehe."

"Daripada nama mu Damar Ahmad, tetapi gak cocok sama kelakuan mu.

Damar itu lampu, Ahmad itu keselamatan

Jadi, artinya cahaya keselamatan. Tetapi kelakuan mu suka berkelahi, suka mabuk, suka judi togel dan suka perempuan, suka mencuri buah di pohon milik tetangga.

Padahal kamu masih sangat muda."

Mendengar kata - kata Pintu Langit, Damar terdiam dan membenarkan ucapannya,

"Hemmm sok tau lu..!"

"Hehehehe," Pintu Langit tertawa terpingkal - pingkal mendengar kalimat yang keluar dari mulut Damar,

"Ya sudah, aku mau pergi dulu. Terimakasih atas rokok dan kopinya.

Oh iya... Minggu depan keluarga mu akan mendapatkan musibah, jadi kamu harus menyayangi adik - adik mu, dan kamu harus patuh kepada ibu mu.

Assalamualaikum...!"

"Waalaikumsalam," jawab Damar sambil tersenyum,

"Hemmm, dasar orang gila. Tetapi beberapa omongan nya benar. Apa hanya kebetulan ya..? Aku di bilangin suka main perempuan, pacar saja tidak punya. Jadian pacaran sama slShinta baru saja tadi siang."

"Sul sul, ayo bangun..! Sudah jam 12 malam, ayo pulang."

"Iya..."

Tak lama kemudian Damar dan Samsul melajukan motornya

*Bersambung

Obrolan menjelang subuh

Sesampai di teras rumah sederhana, Damar melihat Lesti adiknya yang belum tidur lagi main Hp baru di ruang tamu.

"Lesti... Lesti," panggil Damar pelan.

"Heee, kak Damar, bentar," kata Lesti kemudian membuka kan pintu.

"Kamu besok kan sekolah, kok gak tidur malah main HP," kata Damar,

"Kan besok masih ada waktu. Ayo tidur!"

"Iya Kak," jawab Lesti kemudian bergegas masuk kamar.

*****

Di dalam kamar yang pengap Damar menyalahkan kipas angin kecil yang ada di atas meja kemudian membaringkan badannya.

Satu jam telah berlalu namun Damar tidak bisa memejamkan matanya. Damar teringat kisah pengalaman pertama kali main di makam wali dan bertemu orang gila bernama Pintu Langit.

Tak terasa sudah jam 03 dini hari. Damar mendengar suara gemericik air wudhu.

Tak selang lama Damar keluar dari kamar kemudian melihat ibunya solat di ruang solat di dapur.

Damar yang duduk di kursi dapur pun mendengar suara ibunya melantunkan dzikir munajat hingga melantunkan sholawat Fatih. Setelah itu, ibu nya bertawasul untuk suami dan anak - anaknya.

******

Selesai solat ibu Farida terkejut melihat Damar anaknya yang lagi duduk di kursi dapur,

"Loh..! Mas Damar kok gak tidur, kan nanti pagi sekolah."

"Gak bisa tidur buk. Buk... Apa ada yang bisa di makan saat ini..?"

"Ibu masakin indomie ya? Sama ibu bikinin kopi. Habis ini kamu solat subuh."

"Iya buk."

Sambil melihat ibunya masak indomie, Damar berkata,

"Buk.... Sejak SMP Damar lihat ibu sering solat malam dan selalu berdzikir.

Sedangkan bapak jarang sekali aku lihat solat malam. Solat 5 waktu saja jarang banget.

Kok beda ya bapak sama ibu..?

Ibu pekerja keras dan rajin ibadah, sedangkan bapak jarang banget solat dan pemalas jarang kerja."

"Yaah begitulah Damar orang rumah tangga. Harus saling menutupi kekurangan masing - masing. Harus saling menguatkan.

Setiap pasangan hidup itu selalu ada kelebihan dan kekurangannya. Tidak ada manusia yang sempurna.

Jika bapakmu jarang banget solat, ibulah yang menutupi kekurangan bapak mu. Siapa tau dengan doa ibu, bapak mu besok - besok menjadi orang soleh.

Jika ibu cerewet bapak mu pendiam. Walau bagaimana pun, bapakmu itu orang yang bertanggung jawab kepada anak - anaknya.

Kamu tumben banyak omongannya, gak kayak biasanya...?

Ini indomie nya ini kopinya."

"Makasih Buk," jawab Damar kemudian menikmati Indomie pelan - pelan,

"Yaah Damar kalau pingin ngomong ya ngomong lah Buk, kalau gak penting - penting banget buat apa kita ngomong. Gak guna.

Oh iya, dulu waktu Ibu pacaran sama Bapak, apa Bapak rajin solat..?"

"Iya, dulu Bapak mu waktu masih muda rajin solat, tetapi sholatnya hanya di depan Ibu saja. Setelah menikah, Ibu baru sadar ternyata Bapak mu rajin solat dulu, hanya ingin mendapatkan cinta Ibu."

"Hahahaha..!" Damar tertawa terpingkal - pingkal,

"Dan akhirnya iIbukjatuh cinta juga sama Buaya."

"Hemmmm," sahut ibu Farida.

"Jadi... Menurut Damar, Ibu gak boleh menyalahkan Bapak, karena Bapak adalah suami pilihan Ibu sendiri, walau Ibu di tipu dengan lagak dan gayanya yang sok alim dulu.

Sekarang ibu sadarkan, kalau Bapak itu ahli dalam penyamaran hahahaha!"

"Bagaimana pun Bapak mu adalah suami Ibu sekarang. Mau diapain lagi wong sudah terlanjur punya tiga anak, tetapi walau bagaimana pun Ibu tetap setia dan mencintai Bapak mu. Walau kadang Ibu sangat membenci kelakuannya."

"Hemmmm, romantis banget dengar nya," Sahut Damar kemudian menyeruput kopi.

"Sebenarnya bapak mu itu pintar ngaji Al qur'an juga bisa baca kitab kuning. Karena waktu kecil Bapak mu juga pernah tinggal di pondok pesantren. Hanya saja... Sejak menikah dengan Ibu dan mempunyai anak, Bapak mu sibuk kerja, dan melupakan sholatnya.

Lama - lama bergaul dengan bromocora hingga sering mabuk.

Gara - gara ekonomi, menafkahi istri dan membiayai sekolah anak - anaknya, kadang Bapak mu salah jalan.

Sebagai seorang istri, ibu hanya biasa berdoa, agar Bapak mu menjadi orang yang baik kembali. Kadang Ibu juga malu ketika mendengar berita gosip tentang bapak mu."

"Adzan subuh Buk, Damar mau solat subuh dulu, biar pernah solat subuh."

"Iya Mas," sahut ibu Farida yang terpaku melihat Damar beranjak solat,

"Tumben Damar anakku mau solat subuh, baru kali ini aku melihatnya. Aneh perasaan ini..?"

******

*SMA Pancasila.

Jam pulang sekolah Shinta dan Damar berjalan beriringan menuju pintu keluar.

"Damar... Mana HP mu? Aku tunggu kok kamu gak WA?"

"HP nya di pakai oleh Lesti adikku, karena dia membutuhkan HP untuk browsing pelajaran sekolah."

"Hemmm, makanya kamu gak WA semalam," sahut Shinta,

"Ya sudah nanti aku beliin lagi."

'Mengapa kamu tidak marah?" tanya Damar.

"Marah gak ada gunanya, buat apa. Kalau emang itu rejekinya adik mu, mau apa lagi," jawab Shinta.

"Gitu ya..? Sabar amat dirimu," sahut Damar.

"Kamu tumben jalan kaki, gak bawah sepeda angin?"

"Tadi bareng sama Samsul naik motor, dia masih ada jam pelajaran, jadi aku harus nunggu mungkin setengah jam lah."

"Kalau begitu aku antar kamu pulang, nanti biar aku WA Samsul, biar gak cari kamu."

"Emang kamu punya no wa nya Samsul..?"

"Habis ini minta no nya sama teman sekelasnya," jawab Shinta kemudian menuju mobil yang sudah menunggu nya.

"Pak, ke MCDY dulu ya..!"

"Iya Non," jawab sopir kemudian melajukan mobilnya.

"Enak juga punya pacar sabar baik hati dan kaya raya," gumam Damar lirih sambil tersenyum.

"Kalau enak ngapain gak dari dulu sejak kelas 2," sahut Shinta.

Setelah menikmati makan siang di MCDY mobil pun meluncur ke rumah Damar di desa Agung.

***

Siang itu mobil kijang inova parkir di halaman rumah Pakde nya Damar.

"Ayo Shinta, rumah ku di belakang, ini rumahnya Pakdeh ku, Kakak nya Bapak," kata Damar.

"Baiklah," ujar Shinta mengikuti Damar dari belakang.

XAssalamualaikum," ucap Damar.

"Salam..." sahut Tiyo adik Damar yang bungsu.

"Ayo masuk Shinta, rumahnya bagus ya, kayak istana negara, hehehehe.

Ibu mana Tiyo..?"

"Ibu lagi solat, baru datang Dari kerja."

Shinta duduk di ruang tamu sambil melihat lihat keadaan rumah Damar.

"Eh, ada tamu," ujar ibuFarida.

"Selamat siang Buk," sapa Shinta kemudian salim.

"Sebentar Ibu bikinin minum dulu."

"Gak usah Buk, gak usah repot - repot," sahut Shinta.

"Bikinin teh Vuk, sama kopi saja," sahut Damar,

"Tiyo... Ini ada ayam goreng Mcdy dari Kak Shinta.

"Iya Kak, terimakasih," kata Tio kemudian bergegas ke dapur.

*****

Adzan Asar terdengar sayup - sayup menggema dari masjid.

"Damar... Ayo solat Dulu, ajak temannya solat sekalian."

"Iya Buk, Shinta... Ayo solat dulu," ajak Damar.

"Hemmm, baiklah," angguk Shinta yang tidak percaya kalau Damar mengajaknya solat asar.

Selama mengenal Damar, Shinta tidak pernah melihat Damar solat. Malah sebaliknya, Shinta sering melihat Damar mabuk bersama teman - temannya juga sering nongkrong di pinggir jalan.

*****

Selesai solat Asar, Shinta duduk di kursi dapur sambil menikmati makan masakan ibu Farida.

"Nak Shinta, makan apa adanya ya? Maklum, Damar dari keluarga yang tidak mampu."

"Iya Buk, ini sudah Alhamdulillah," jawab Shinta.

"Habis ini shinta pulang ya, biar gak cemas ibu nya di rumah."

"Shinta tadi sudah pamit Buk, kata Shinta.

'Baiklah, silahkan makan sama Damar, ibu mau kerja dulu.

Damar, ajak temannya makan ya."

"Iya Buk.

Shinta, ayo makan, sambel terong, ikan Asin tahu tempe."

"Iya Damar," jawab Shinta yang asing dengan menu di atas meja.

*****

"Assalamualaikum..."

"Waalaikumsalam," jawab Damar,

"Eh kamu Sul, ayo masuk. Kita makan bersama di dapur."

"Baiklah," kata Samsul kemudian menuju dapur,

"Loh..! Kamu Shinta..! Sejak kapan?"

"Dari tadi, sepulang sekolah."

"Betah amat disini, jangan - jangan kalian sudah jadian ya?"

"Jangan banyak omong, buruan makan," sahut Damar.

"Hemmm, baiklah," ujar Samsul kemudian duduk.

Sambil makan Damar berkata,

"Sul apa kamu ada saldo buat pasang togel..?"

"Gak punya."

"Shinta, aku pinjam uang 100rb, kamu transfer ke rek BCA milik Samsul," ujar Damar santai sambil makan.

"Gak usah pinjam, aku kasih," jawab Shinta,

"Kamu kirim no rekening nya. Transfer pakai MBanking saja."

"Sul Kamu pasang no 87 100rb ya," kata Damar.

"Iya Habis ini," jawab Samsul,

"Banyak amat pasangnya."

"Udah jangan cerewet, pasang saja," sahut Damar.

*****

"Damar, aku pulang dulu ya, sudah sore," kata Shinta.

"Baiklah, aku antar sampai ke depan."

*****

Di dalam mobil Shinta berkata dalam hati,

"Ternyata benar kata teman ku, Damar anak dari keluarga miskin. Dapurnya saja masih ber bilik bambu. Hanya ruang tamu dan ruang tengah yang berdinding tembok.

Baru kali ini aku menyaksikan sendiri.

Ibu nya sepertinya orang taat beribadah. Baru dekat sama Damar... Aku bisa mengerti sifat Damar walau tidak sepenuhnya.

Damar memang benar - benar nakal, dia suka mabuk, suka main togel. Tetapi... Dia orang pendiam.

Seandainya kelak menjadi suami ku..? Apa aku sangguo bertahan di sisinya kalau sifatnya tidak berubah..?

Tetapi... Aku juga tidak tau, mengapa aku sangat sayang dan sangat mencintai Damar.

Aku ini cantik, punya segalanya. Banyak cowok yang ganteng dari keluarga terhormat kaya raya yang senang kepada ku. Tetapi mengapa hati ini selalu teringat Damar..?

Mengapa aku bisa senang dan bahagia ketika bersama Damar.

Aneh diri ku ini, ada apa dengan diriku. Apa perlu nanti malam pergi ke psikiater..?

Yang aneh Dari Damar, dengan enteng Hp yang aku kasih, di berikan adiknya.

Tetadi dia pinjam uang untuk pasang togel.

Tidak masalah Hp atau uangnya, masalah sifatnya.

Ah biarlah semua berjalan apa adanya

*****

Adzan magrib berkumandang. Samsul dan Damar masih asik nongkrong di warkop ujung desa milik Pak Tarjo.

"Damar, nomer togel mu keluar," kata Samsul senang,

"Kita dapat hadiah uang 7 juta. Ini saldo ku masuk uang 7 juta."

"Yaah sudah, untuk kamu satu juta ya," kata Damar,

"Aku mau beli HP untuk Tio dan mau beli motor bekas untuk sekolah."

"Ok, makasih bro," sahut Samsul,

"Kita ambil sekarang uangnya dan langsung beli hp saja ke konter."

"Baiklah, mumpung sore."

*Bersambung.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!