NovelToon NovelToon

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Bab 1

"Jangan pergi! Tolong jangan tinggalkan aku, please jangan tinggalkan aku, Leana!" teriak Leonel dengan mata yang terpejam.

Tangannya terlihat terulur seakan mencari wanita yang begitu dia cintai, wajahnya terlihat begitu gelisah, badannya bahkan terlihat basah dengan keringat.

"Leana! Aku bilang jangan pergi! Jangan bawa dia juga, aku tidak mau ditinggal sendirian. Jangan tinggalkan aku," ucap Leonel dengan suara yang mulai serak.

Air matanya bahkan terlihat berurai membasahi pipinya, tubuhnya mulai bergetar hebat. Leonel merasakan kepedihan hati yang luar biasa, dia terlihat begitu kesakitan.

Seorang pria bertubuh tinggi tegap yang berdiri tepat di samping Leonel terlihat begitu khawatir, dia langsung membungkuk dan berusaha untuk membangunkan Leonel.

"Tuan! Bangun, Tuan!" seru Lucky sang asisten kepercayaan Leonel.

Leonel tidak kunjung bangun dari mimpi buruknya, dia masih saja terlihat menangis seraya memanggil nama almarhumah istrinya.

Lucky terlihat merasa kasihan terhadap sang atasan, karena atasannya itu selalu saja seperti itu setiap dia tidur. Kembali dia berusaha untuk membangunkan Leonel, sayangnya pria itu terlihat begitu sulit untuk terbangun dari mimpi buruknya.

Satu bulan yang lalu istri dari Leonel meninggal dunia, Leana meninggal setelah mendapatkan beberapa luka tusukan pada perutnya.

Kehilangan Leana saja sudah membuat Leonel sangat bersedih, hatinya terluka dan separuh jiwanya seakan pergi bersama jasad Leana yang terkubur dengan tanah.

Apalagi setelah dia tahu bahwa Leana sedang mengandung, dunia Leonel seakan runtuh. Tubuhnya lemas, hatinya remuk. Hidupnya seakan tiada berarti lagi, jiwanya seakan mati.

"Tuan! Bangunlah, minumlah dulu!" seru Lucky seraya menepuk-nepuk lengan Leonel.

Mendapatkan tepukan yang lumayan kencang dari Lucky, Leonel terlihat menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dia semakin gelisah, tidak lama kemudian Leonel nampak berteriak dengan begitu kencang.

"Leana!" teriak Leonel dengan mata yang sudah terbuka dengan lebar.

Lucky terlihat iba saat menatap tuannya, sayangnya dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa mengikuti setiap ke mana pun Leonel pergi.

Hal itu dia lakukan karena takut jika Leonel akan nekat bunuh diri jika tidak ada yang menemani, terlalu banyak melamun sendirian juga tidak baik, menurut Lucky.

"Sadar, Tuan. Bangunlah, nyonya sudah tidak ada." Lucky langsung menundukkan kepalanya setelah mengatakan hal itu, karena dia takut jika Leonel akan marah terhadap dirinya.

"Argh!" teriaknya.

Leonel terlihat bangun dari tidurnya, lalu dia menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur.

Dia raup wajahnya dengan kasar, lalu dia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Semenjak kepergian istrinya, Leonel belum bisa tidur dengan lelap.

Setiap malam dia akan mengalami mimpi buruk, mimpi yang selalu sama. Mimpi yang selalu membuat dirinya merasa bersalah dalam setiap harinya.

Satu bulan yang lalu.

"Oh ya ampun, aku hamil!" pekik Leana ketika melihat tespek dengan dua garis biru di tangannya.

Leana yang merasa begitu bahagia langsung keluar dari dalam kamar mandi, lalu dia mengganti pakaiannya dan bersiap untuk pergi ke kantor suaminya.

Dia ingin memberikan kejutan termanis kepada suaminya tersebut, karena setelah 2 tahun menikah akhirnya dia bisa hamil dan Leana berpikir jika Leonel pasti akan sangat bahagia dengan kabar yang dia sampaikan.

"Pasti dia akan sangat suka dengan kabar yang aku sampaikan," ucap Leana seraya mengusap perutnya yang masih rata. Tidak lupa dia memasukkan tespek bergaris dua itu ke dalam tasnya.

Setelah mematut dirinya di depan cermin, akhirnya Leana pergi ke kantor Leonel. Sepanjang perjalanan menuju kantor, senyum di bibir Leana tidak pernah luntur.

"Linda, mana suamiku?" tanya Leana pada sekretaris suaminya.

Linda yang sedang duduk seraya mengerjakan tugasnya terlihat menghentikan aktivitasnya, kemudian dia bangun dan membungkuk hormat kepada istri dari atasannya itu.

"Eh? Selamat pagi, Nyonya. Tuan sedang meeting penting, anda bisa menunggu tuan di dalam ruangan tuan saja," ucap Linda ramah.

Untuk sesaat Leana terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Linda, padahal dia sudah tidak sabar ingin memberitahukan hal tersebut kepada suaminya.

Namun, benar juga apa yang dikatakan oleh sekretaris dari suaminya tersebut. Sebaiknya dia menunggu suaminya di ruangannya saja, karena jika dia masuk ke dalam ruang meeting, sudah pasti dia akan mengganggu kegiatan dari suaminya itu.

"Oh, oke. Aku tunggu di dalam ruangannya saja," ucap Leana dengan senyum ramahnya.

Setelah mengatakan hal itu, Leana nampak masuk ke dalam ruangan suaminya. Dia tersenyum saat melihat foto pernikahan mereka yang dipajang di atas meja kerja suaminya.

"Aku mencintai kamu, Leonel." Leana mengusap foto pernikahan mereka.

Cukup lama Leana duduk di atas sofa untuk menunggui suaminya, hingga dia mendengar derap langkah yang semakin mendekat ke arah ruangan dari suaminya tersebut.

"Itu pasti suamiku," ucap Leana dengan binar bahagia di wajahnya.

Leana terlihat mengambil tepek bergaris dua itu dari dalam tasnya, lalu dengan cepat dia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu ruangan suaminya.

Baru saja dia ingin membuka pintu tersebut, tapi ternyata pintu itu sudah dibuka terlebih dahulu dari luar.

Mata Leana langsung membulat dengan sempurna, karena ternyata yang datang bukanlah Leonel, tapi Lyra. Mantan kekasih dari Leonel.

Leonel dan juga Lyra berpacaran semenjak mereka menimba ilmu di bangku SMA, bagi Leonel Lyra adalah cinta pertamanya.

Lyra adalah wanita pertama yang mampu menggetarkan hatinya, Lyra adalah wanita yang mampu membuat dirinya bahagia setelah dia kehilangan kedua orang tuanya.

Setelah mereka lulus kuliah, Lyra berpamitan untuk menimba ilmu ke luar negeri. Karena dia ingin mewujudkan cita-citanya sebagai seorang pebisnis yang hebat.

Leonel tidak mengizinkan, karena dia tidak mau berjauhan dari kekasih hatinya itu. Sayangnya Lyra tetap bersikukuh untuk pergi, dia berkata mimpinya lebih berharga dari apa pun.

Leonel berkata jika Lyra berani pergi meninggalkan dirinya, maka itu artinya hubungan mereka telah berakhir.

Sayangnya Lyra tidak menuruti apa yang dikatakan oleh Leonel, dia lebih memilih pergi dan hal itu membuat Leonel patah hati dan kecewa.

"Jangan salahkan aku jika aku tidak akan pernah menunggu kamu, Lyra. Kamu pasti akan menyesal karena telah meninggalkan aku," ucap Leonel kala itu.

Setelah kepergian Lyra Lionel langsung memperistri Leana, wanita sederhana yang merupakan anak dari asisten rumah tangganya.

Hal itu sengaja Leonel lakukan karena menurut Leonel, Leana adalah wanita yang pantas untuk dia jadikan istri. Walaupun dia hanya anak dari asisten rumah tangganya.

Tentunya ada alasan lain, selain karena kebaikan dari Leana, Leonel menikahi Leana karena Lyra sangat membenci Leana.

Setiap kali Lyra datang ke kediaman Leonel, Lyra selalu saja cemburu ketika berpapasan dengan Leana.

Bagi Lyra, Leana seperti wanita yang mencintai Leonel dalam diam. Maka dari itu dia selalu merasa kesal ketika mereka sedang berduaan tiba-tiba ada Leana yang datang, walaupun dia datang hanya untuk mengantarkan minuman dan juga camilan untuk mereka berdua.

"Nona Lyra! Kamu mau apa?" tanya Leana yang melihat kemarahan di mata Lyra.

Setelah sekian lama tidak bertemu dengan Lyra, kini Leana kembali bertemu dengan mantan kekasih dari suaminya tersebut.

Dia benar-benar merasa takut, karena Leana bisa melihat kebencian yang begitu mendalam dari sorot mata Lyra.

"Dasar wanita sialan, wanita brengsek! Berani sekali kamu merebut pria-ku!" sentak Lyra.

Leana terlihat menggelengkan kepalanya dengan kuat, saat Lyra menuduh dirinya yang sudah merebut Leonel dari wanita tersebut.

"Ti--tidak, Nona. Aku tidak merebut suamiku, eh? Maksudku dia yang mengajakku untuk menikah, aku--"

Mendengar kata suami dari bibir Leana, api kemarahan di dalam hati Lyra semakin membara. Dia terlihat melangkahkan kakinya, Leana dengan cepat memundurkan langkahnya.

"Diam kamu brengsek! Kamu pasti sudah berbuat licik, makanya Leonel mau menikahi anak pembantu seperti kamu!" sentak Lyra.

"Aku, aku--"

Leana seakan hendak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, karena memang dia tidak pernah meminta untuk dinikahi oleh Leonel.

Namun, Leonel yang meminta dirinya untuk menikah dengan pria itu. Walaupun pada kenyataannya semenjak kecil Leana begitu mencintai Leonel.

Akan tetapi, itu tidak berarti dirinya mau memaksa majikannya untuk menikahi dirinya. Karena dia sangat tahu diri, dia sadar di mana kastanya berada.

"Tidak usah banyak bicara, anak pembantu. Sekarang rasakanlah apa yang akan aku lakukan terhadap kamu," ucap Lyra dengan seringai licik di bibirnya.

Setelah mengatakan hal itu, Lyra terlihat mengambil gunting dari dalam tas yang dia pakai. Kemudian dia mendekati Leana seraya tersenyum dengan tatapan mata penuh dengan kebencian.

"Rasakan pembalasan dariku, wanita licik!" teriak Lyra

Bab 2

Tidak usah banyak bicara, anak pembantu. Sekarang rasakanlah apa yang akan aku lakukan terhadap kamu," ucap Lyra dengan seringai licik di bibirnya.

Setelah mengatakan hal itu, Lyra terlihat mengambil gunting dari dalam tas yang dia pakai. Kemudian dia mendekati Leana seraya tersenyum dengan tatapan mata penuh dengan kebencian.

"Rasakan pembalasan dariku, wanita licik!" teriak Lyra.

Lyra terlihat berkali-kali menusuk perut Leana dengan penuh kebencian, Leana langsung jatuh tersungkur ke atas lantai.

Leonel yang baru saja selesai meeting begitu kaget melihat kejadian tersebut, apalagi ketika melihat Leana yang kesakitan dengan darah yang mengalir dari perutnya, sungguh hatinya terasa sakit melihat akan hal itu.

Dia menolehkan wajahnya ke arah Lyra, gunting yang dipakai untuk menusuk perut Leana masih Lyra pegang dengan tangan kanannya.

Plak!

Plak!

Dua tamparan keras mendarat di kedua pipi Lyra, pipi mantan kekasih dari Leonel itu terlihat memerah bekas tangan besar Leonel.

"Dasar wanita brengsek! Setelah kamu pergi meninggalkan aku untuk kesenangan kamu, sekarang kamu datang untuk merusak kebahagiaan aku, Lyra!" teriak Leonel.

Lyra terlihat begitu kaget saat Leonel memarahi dirinya, dulu Leonel selalu bersikap lembut terhadap dirinya.

Bahkan, Leonel seperti kucing yang begitu manis yang selalu menurut dan tidak pernah membantah apa pun yang dia katakan.

Kini, Lyra benar-benar merasa takut saat melihat kemarahan yang luar biasa dari sorot mata mantan kekasihnya tersebut. Lelaki yang sampai saat ini masih dia cintai dan dia puja.

Lebih tepatnya lelaki yang selalu dia manfaatkan, Lyra begitu mencintai harta Leonel yang tidak akan habis walaupun dia shopping setiap hari pun.

"Dengarkan aku dulu, Sayang. Aku pergi untuk--"

Leonel seakan tidak ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Lyra, dia langsung mendorong tubuh Lyra dengan kencang dan segera menghampiri istrinya yang terlihat semakin melemah.

"Leana, Sayang. Bangun, Sayang!" Leonel berteriak seraya membopong tubuh istrinya yang terkulai dengan lemas.

Leonel sempat menolehkan wajahnya ke arah asisten pribadinya, Lucky. Kemudian dia berteriak dengan begitu kencang.

"Berikan pelajaran yang setimpal kepada wanita busuk itu!" teriak Leonel dengan penuh kebencian.

Setelah mengatakan hal itu, Leonel berlari dengan begitu kencang untuk membawa istrinya ke Rumah Sakit. Dia sungguh berharap jika istrinya akan terselamatkan.

Saat tiba di lobi perusahaan, dia langsung masuk ke dalam mobilnya lalu dia memerintahkan sang sopir untuk segera melajukan mobilnya dengan cepat menuju Rumah Sakit.

"Sadarlah, Sayang. Tetaplah sadar, sebentar lagi kita akan sampai di Rumah Sakit. Jangan tinggalkan aku," ucap Leonel seraya mengecupi kening istrinya yang kini berada di atas pangkuannya.

Kondisinya terlihat lemah sekali, wajahnya terlihat pucat. Matanya terlihat terpejam, bahkan deru napasnya mulai terengah-engah.

"A--aku, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kamu, Sayang," ucap Leana dengan terbata.

Leonel terlihat menggelengkan kepalanya, istrinya kini kondisinya semakin lemah. Dia tidak mau terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, lebih baik istrinya itu terdiam tapi tetap sadar.

Tidak usah banyak bicara terlebih dahulu, pikirnya. Cukup diam di dalam pelukannya. Namun, matanya tetap menatap dirinya.

"Jangan banyak bicara, kamu harus istirahat. Tapi tetaplah sadar, jangan tidur. Aku akan tetap menjagamu, aku akan segera membawamu ke Rumah Sakit. Kamu pasti akan sembuh," pinta Leonel.

Leana tersenyum, kemudian dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi suaminya. Lalu, dia terlihat menunjukkan tespek yang bergaris dua tersebut di depan wajah Leonel.

Leonel nampak terkejut ketika melihat tespek yang berada di genggaman tangan Leana yang kini sudah berlumur darah, dia tidak tahu apa artinya karena hanya ada darah yang mewarnai tespek tersebut.

"Apa ini, Sayang? Kenapa kamu memberikan benda kecil ini?" tanya Leonel karena memang tespek tersebut tidak terlihat apa pun, hanya terlihat warna merah yang menodai tespek tersebut.

"Ke--kemari--lah, Sa--yang. Mendekatlah," ucapnya dengan lemah.

Leonel menurut, dia menundukkan wajahnya. Lalu, dia terlihat mendekatkan telinganya pada bibir istrinya.

Leana tersenyum, lalu dia mengelus puncak kepala suaminya dengan tangan yang sudah gemetaran. Tubuhnya semakin melemah.

"A--ku hamil, aku hamil anak kamu, Sayang." Leana tersenyum dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.

Mendengar kabar yang diceritakan oleh istrinya, Leonel tidak merasa bahagia. Justru Leonel merasa sedih, dia menjadi bertanya-tanya di dalam hatinya. Apakah Leona dan juga calon buah hatinya akan selamat?

Namun, walaupun seperti itu dia tetap mengharapkan keajaiban dari Tuhan. Dia tetap meminta kepada Tuhan semoga Leana diberikan kesembuhan.

Dia juga meminta kesempatan kedua kepada Tuhan, agar dia diberi kesempatan untuk memperbaiki kehidupan rumah tangganya dengan Leana.

Awalnya Leonel hanya ingin membalas dendam kepada Lyra dengan menikahi Leana, tapi setelah melihat ketulusan dari Leana, Leonel akhirnya jatuh cinta kepada wanita tersebut.

Leana adalah seorang wanita yang begitu lembut, penuh cinta dan selalu perhatian juga pengertian kepada Leonel.

Hal itu bisa membuat Leonel dengan cepat jatuh cinta kepada wanita itu, bahkan Leonel pernah berniat di dalam hatinya jika dia tidak akan pernah menyentuh Leana.

Namun, ternyata dia tidak bisa menepati janjinya. Rasa cinta yang sudah tumbuh di dalam hatinya, dengan sendirinya menggerakkan tubuhnya untuk menggauli istrinya.

Bahkan, Leonel selalu meminta haknya sebagai seorang suami ketika di mana pun mereka berada.

Leana tidak pernah menolak keinginan apa pun yang diminta oleh suaminya, semua yang diminta oleh Leonel pasti akan dia kabulkan dengan cepat.

Sekalipun itu adalah keinginan yang tersulit Leana akan berusaha untuk membahagiakan suaminya, karena bagi Leana, Leonel adalah cinta sejatinya.

Kini, wanita yang belum lama dia cintai itu terlihat melemah kondisinya. Bahkan, matanya sudah terlihat terpejam.

"Jangan tinggalkan aku, Leana, Sayang. Tolong jangan pernah pergi meninggalkan aku," ucap Leonel seraya mengusap perut istrinya yang terlihat bersimbah darah.

Leonel mengatakan hal tersebut dengan penuh kesedihan di wajahnya, sungguh dia tidak menyangka jika Lyra akan melakukan hal ini terhadap Leana.

Sungguh Leonel tidak menyangka jika wanita yang dulu pernah menjadi kekasihnya itu, wanita yang dulu berjanji akan setia sampai mati berada di sampingnya itu, malah datang kembali untuk menghancurkan rumah tangganya dengan sang istri.

"Hem," jawab Leana dengan kondisi yang semakin melemah .

Tidak lama kemudian mobil yang Leonel tumpangi sudah sampai di Rumah Sakit, dengan terburu-buru dia turun dari mobilnya dan segera membopong tubuh istrinya ke dalam ruang IGD.

Leana langsung mendapatkan pertolongan, dengan cekatan dokter dan juga suster yang ada di sana terlihat memeriksakan kondisi dari Leana.

"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Leonel.

Melihat tubuh istrinya yang berlumuran dengan darah, membuat Leonel benar-benar merasa berserah karena tidak bisa menjaga istrinya dan juga calon buah hatinya.

"Kondisi istri anda kritis, untuk janin yang berada di dalam rahim istri anda-- maaf. Kami tidak bisa menyelamatkannya," jelas Dokter.

Leonel menahan sesak di dalam dadanya, air matanya terlihat luruh begitu saja. Hatinya benar-benar sakit mendengar ucapan dari dokter.

Dari awal memang dia sudah bisa menebak jika janin yang berada di dalam rahim istrinya pasti tidak akan selamat, dia tahu perut istrinya itu sudah tertusuk gunting.

"Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya," pinta Leonel seraya terisak.

Setidaknya jika calon buah hati mereka sudah tiada, Istrinya masih bisa diselamatkan, pikir Leonel. Dia tidak mau kehilangan wanita sebaik Leana.

"Pasti, pasti kami akan melakukan hal yang terbaik untuk istri anda," jawab Dokter.

Setelah berbicara dengan dokter, Leana terlihat dibawa ke dalam ruang operasi. Karena memang istrinya itu membutuhkan penanganan dengan secepatnya.

Hampir 4 jam Leonel menunggu istrinya di depan ruang operasi, tidak lama kemudian pinta ruang operasi nampak terbuka. Dokter nampak keluar dengan wajah kusutnya.

"Maaf, Tuan Leonel. Nyawa istri anda tidak bisa diselamatkan,'' ucap Dokter.

Bab 3

Arrgh!" teriak Leonel ketika mengingat kejadian buruk yang menimpa istrinya.

Dia tidak menyangka jika dirinya akan kehilangan istri dan juga calon buah hati mereka, padahal dia sudah berjanji akan memperbaiki hubungannya dengan sang istri.

Dia sudah berjanji akan mencintai Leana seumur hidupnya, tidak akan ada Lyra dan wanita mana pun yang menghiasi hari-harinya.

Cukup Leana saja wanita baik hati, lembut dan selalu penuh cinta dalam setiap kali memperlakukan dirinya.

Cukup Leana saja yang memenuhi ruang hatinya, tidak ada wanita lain yang boleh masuk dan tinggal dengan nyaman di dalam hatinya.

Sayangnya, semua keinginannya telah sirna. Karena Leana sudah pergi untuk selamanya, calon buah hati mereka pun sudah tiada.

Wajah Leonel nampak frustasi, Lucky yang melihat akan hal itu langsung menghampiri Leonel dan memberikan segelas air putih kepada atasannya tersebut.

"Minumlah, Tuan. Tenangkan diri anda terlebih dahulu," ucap Lucky.

Leonel terlihat menghela napas panjang, kemudian mengeluarkannya dengan perlahan. Dia melakukannya secara berulang-ulang, hal itu dia lakukan agar dirinya bisa merasa lebih tenang.

Kehilangan Leana benar-benar membuat jiwanya sangat sakit, otaknya yang biasanya terasa sangat pandai dalam berpikir kini nampak sulit sekali untuk mencerna.

"Hem, terima kasih." Leonel terlihat menerima segelas air putih yang disodorkan oleh Lucky

Dengan cepat pria berusia dua puluh tujuh tahun itu menenggak segelas air putih yang diberikan oleh Lucky sampai tandas, setelah itu dia memberikan gelas yang sudah kosong kepada Lucky.

Leonel merasa beruntung Karena kini masih ada Lucky yang selalu setia menemaninya, asisten pribadinya yang sangat peduli terhadap dirinya.

Lucky terlihat menatap jam yang melingkar di tangan kirinya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

Leonel yang kelelahan setelah bekerja malah tertidur di atas sofa ruang kerjanya, awalnya Lucky ingin membangunkannya.

Namun, ketika melihat sang atasan tertidur dengan sangat pulas dia hanya berani untuk menemani atasannya tersebut.

"Tuan, sebaiknya anda segera pulang karena hari sudah malam," saran Lucky.

Leonel yang mendengar pernyataan dari lucky terlihat melirik jam digital yang berada di atas nakas, dia terlihat menghela napas berat kemudian dia kembali berkata.

"Ya, aku memang sebaiknya pulang dan beristirahat di rumah. Kamu juga segeralah pulang, beristirahatlah. Karena besok pagi kita akan pergi keluar kota untuk perjalanan bisnis," ucap Leonel.

Perjalanan ke luar kota tentunya akan menguras tenaga dan juga pikiran, mereka harus segera pulang dan mengistirahatkan tubuh mereka.

"Iya, Tuan," jawab Lucky.

Setelah mengatakan hal itu, baik Leonel atau pun Lucky terlihat keluar dari ruangan kerja tersebut. Tentunya mereka memilih untuk pulang ke kediaman masing-masing.

Saat dipertengahan jalan, Leonel merasa sangat haus dan juga lapar. Namun, dia merasa malas untuk memakan nasi.

Padahal sebelum pulang dia sudah meminum air putih, tapi tenggorokannya kembali terasa kering. Akhirnya Leonel nampak menepikan mobilnya tepat di depan sebuah Mart.

"Sebaiknya aku membeli beberapa minuman dan juga suplemen, roti juga sepertinya enak. Susu juga sepertinya bagus," ucap Leonel lirih.

Leonel nampak masuk ke dalam Mart dan membeli semua yang dia inginkan, setelah membayar semua belanjaannya, Leonel nampak keluar dari dalam Mart.

Namun, langkahnya langsung terhenti ketika dia melihat seorang wanita muda berseragam putih abu sedang tertawa seraya menggerakkan tangannya.

gadis itu terlihat begitu asik dengan apa yang dia lakukan, sesekali dia terlihat menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri seperti sedang memindai situasi.

Gadis itu terlihat begitu aneh, pikir Leonel. Gadis itu benar-benar terlihat mencurigakan, apalagi dengan tingkahnya yang tidak biasa.

Leonel sempat mengernyitkan dahinya, karena dia merasa aneh dengan sikap dari gadis berseragam putih abu itu.

Ini sudah malam, pikirnya. Kenapa bisa-bisanya anak sekolahan masih saja berkeliaran di jalanan?

Namun, tidak lama kemudian Leonel nampak membulatkan matanya dengan sempurna ketika menyadari apa yang sedang gadis itu lakukan.

"Apa yang sedang kamu lakukan, hah?" tanya Leonel dengan sangat marah ketika dia melihat gadis berseragam putih abu itu ternyata sedang mencorat-coret bodi mobilnya dengan pilok.

Baju gadis itu bahkan sudah tidak terlihat putih lagi, sepertinya dia baru saja melakukan pesta kelulusan sekolah, pikir Leonel.

Gadis itu terlihat begitu kaget, dia menghentikan tawanya lalu membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Leonel dengan takut.

Gadis itu terlihat memilin ujung baju yang dia pakai, dia terlihat sangat bingung harus menjelaskan seperti apa.

"Tolong jelaskan apa yang sedang kamu lakukan?" pinta Leonel kembali.

Gadis itu terlihat memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menatap Leonel dengan rasa takut.

"Eh? maaf Pak. Jangan marah ya, aku hanya sedang uji nyali." Gadis berseragam putih abu itu langsung berlari setelah aksinya ketahuan.

Tidak jauh dari sana dia terlihat menaiki motor sport dengan beberapa temannya yang terlihat sedang menunggu dirinya, Leonel terlihat menendang kosong dengan kesal ke udara.

Jika saja di sana ada samsak, sudah pasti dia akan menunjukkan tangannya pada samsak tersebut sebagai bentuk pelampiasannya.

"Hastaga!" keluh Leonel seraya menghela napas berat.

Dia merasa hari ini benar-benar sangat melelahkan, jika saja tenaganya tidak terkuras, sudah dapat dipastikan dia akan mengejar gadis kecil itu.

Mobil mewahnya kini terlihat kacau dengan coretan pilok berwarna pink, sungguh menggelikan, pikirnya.

Tidakkah gadis itu berpikir dengan apa yang sudah dia lakukan? Tidakkah gadis itu berpikir jika dia sudah merugikan orang lain?

Leonel terlihat terus saja menggerutu karena dia begitu merasa kesal atas apa yang sudah dilakukan gadis kecil itu, baru kali ini ada yang berani terhadap dirinya.

"Sialan! Sudah merusak mobilku dengan benda aneh itu, lalu dia memanggilku dengan sebutan Pak. Hastaga! Apa aku terlihat sangat tua?" tanya Leonel seraya menatap wajahnya pada pantulan kaca spion.

Kembali Leonel terlihat menghela napas berat saat melihat wajahnya yang kini sudah ditumbuhi bulu-bulu halus, kumisnya sudah terlihat tumbuh.

Jenggotnya sudah mulai tumbuh dan terlihat panjang, bahkan jambangnya pun sudah mulai memenuhi sisi wajahnya.

Selama satu bulan ini dia tidak pernah merawat diri, pantas saja dia dibilang bapak-bapak, pikir Leonel.

"Ck! Sepertinya aku harus pulang dan mencukur jenggotku, tapi--"

Leonel terlihat menghela napas berat, karena ternyata rambutnya juga sudah mulai gondrong. Dia benar-benar tidak ingat untuk merawat dirinya.

Tanpa dia sadari ternyata rambutnya sudah sepundak, dia terlalu larut dalam kesedihannya. Hal itu membuat dirinya lupa untuk mengurus tubuhnya sendiri.

"Lebih baik aku ke salon saja," ucap Leonel.

Rasanya dia tidak mungkin untuk pulang ke rumah, karena dia tidak bisa mencukur rambutnya sendiri.

Leonel dengan cepat masuk ke dalam mobilnya, lalu dia segera melajukan mobilnya menuju salon langganannya dengan perasaan kesal ketika melihat kaca mobilnya hampir seluruh bagian terkena coretan pilok.

Saat perjalanan menuju ke salon, dia terlihat menelpon Lucky, asisten pribadinya. Karena dia ingin meminta Lucky untuk membawa mobil mewah miliknya ke bengkel.

"Dasar gadis kecil, awas saja kalau nanti bertemu kembali. Aku akan membalasmu, wajah kamu sudah aku save di dalam memoryku," ucap Leonel seraya tersenyum sinis.

Baru kali ini dia bertemu dengan seorang gadis kecil yang berani menantang dirinya, bahkan dengan beraninya gadis itu langsung berani meninggalkan dirinya tanpa bertanggung jawab.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!