NovelToon NovelToon

KETULUSAN CINTA SEORANG POLISI (VERSI BARU)

Bab 1 "Pengenalan Tokoh"

*

*

*

Queensya Kayandra Darwis, wanita cantik yang saat ini berusia 25 tahun adalah seorang anak sulung dari pengusaha konglomerat bernama Darwis dan Vivian.

Queen mempunyai adik bernama Putri yang saat ini berusia 20 tahun. Sejak kecil Putri selalu di manja dan diutamakan karena Putri mempunyai penyakit gagal ginjal.

Sementara itu, Queen tidak pernah diperhatikan bahkan Queen selalu mendapat perlakuan diskriminatif dari kedua orangtuanya karena bagi mereka, Queen adalah satu-satunya penerus kerajaan bisnis keluarga.

Queen selalu mendapatkan perlakuan tegas dari kedua orangtuanya, bahkan sejak kecil Queen hanya bisa sekolah lewat jalur home schooling karena kedua orangtuanya tidak mau Queen mempunyai banyak teman karena bagi mereka Queen tidak perlu mempunyai teman yang nantinya justru akan memanfaatkan Queen.

Berbeda dengan Putri, Putri begitu sangat dimanja apa pun yang Putri inginkan, kedua orangtuanya selalu saja menurutinya bahkan Putri sekolah di sekolah formal seperti anak-anak pada umumnya dan dibebaskan.

Flash back on...

"Queen, Daddy ingin kamu kuliah di Itali dan ambil jurusan bisnis karena kamu adalah satu-satunya penerus kerajaan bisnis keluarga ini. Putri tidak mungkin bisa memegang perusahaan, kondisinya tidak memungkinkan," seru Daddy Darwis.

Queen yang saat ini sedang belajar tidak menjawab ucapan Daddynya itu, karena buat apa menjawab kalau ujung-ujungnya kehidupan Queen dikendalikan oleh kedua orangtuanya.

"Daddy sudah mengurus semuanya, dan besok lusa kamu sudah mulai berangkat."

"Kamu yang rajin ya sekolahnya, karena hanya kamu yang bisa melanjutkan perjuangan dan kerja keras Daddymu," seru Mommy Vivian dengan mengusap kepala Queen.

"Kamu harus bisa ngertiin kondisi Daddy, Daddy akan tua dan kamu nantinya yang akan memikul beban di pundak kamu, dan kamu juga harus selalu menyayangi dan menjaga adikmu Putri," sambung Daddy Darwis.

"Ya sudah, kamu belajar lagi ya, Mommy dan Daddy mau ke rumah sakit dulu mau antar Putri cuci darah."

Kedua orangtua Queen pun pergi meninggalkan Queen, Queen yang saat ini sedang belajar tanpa terasa bukunya basah oleh airmata yang terus saja menetes dari mata cantiknya itu.

"Kenapa harus aku terus yang mengerti kalian, sedangkan kalian tidak pernah mengerti akan perasaanku. Perhatian kalian hanya untuk Putri, sedangkan aku tidak pernah kalian perhatikan, bahkan selama ini kalian tidak pernah menanyakan bagaimana kabarku, apa aku sudah makan apa belum, kalian hanya fokus sama Putri, padahal aku pun sama ingin diperhatikan juga," batin Queen.

Queen mencorat-coret buku tulisnya, sungguh Queen merasa sangat sakit hati. Queen dari dulu bercita-cita ingin menjadi dokter karena sejak kecil Queen sering diajak Nenek Arini berkunjung ke rumah sakit milik Kakeknya.

Tapi sekarang, sepertinya impian Queen harus terkubur dalam-dalam karena orangtuanya menginginkan Queen kuliah jurusan bisnis.

"Aaaarrrrggghhhh......"

Queen berteriak dan melempar semua alat tulisnya itu.

"Aku lelah seperti ini terus, aku capek, kenapa tidak ada satu orang pun yang mengerti apa kemauanku!" teriak Queen dengan deraian airmata.

Queen yang mendapat pendidikan lewat jalur home schooling, tumbuh menjadi gadis yang introver, pendiam, dingin, dan juga jutek karena orangtuanya tidak pernah mengizinkan Queen untuk keluar dan bersosialisasi dengan dunia luar.

***

Sore pun tiba....

Seperti biasa, Queen akan berdiam diri di halaman belakang dan duduk di atas ayunan.

"Hallo cantik!" sapa Alfa.

Queen hanya menyunggingkan senyumannya sedikit membuat Alfa tampak mengerutkan keningnya.

"Kamu kenapa, kok kelihatan sedih?" tanya Alfa.

"Aku akan melanjutkan kuliah ke Itali, Al."

"Apa? Kok bisa?" tanya Alfa kaget.

"Bisalah, apa yang gak bisa buat Daddy dan Mommy."

"Terus, bagaimana dengan hubungan kita?" tanya Alfa.

"Kalau kamu masih mau menungguku, aku akan senang tapi kalau kamu tidak sanggup menunggu, aku juga tidak apa-apa," sahut Queen dingin.

Alfa menggenggam tangan Queen, lalu menciumnya.

"Aku akan setia menunggumu Queen."

"Tapi aku akan lama, kuliah di sana."

"Tidak apa-apa, aku akan tetap menunggumu karena di hatiku hanya ada kamu."

Queen akhirnya bisa tersenyum walaupun dengan senyum yang dipaksakan. Alfa adalah kekasih Queen, mereka berpacaran sudah hampir 2 tahun.

Alfa adalah tetangga baru Queen dan rumah mereka berhadap-hadapan, dia jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Queen sedang duduk sendirian di teras rumahnya.

Sejak saat itu, Alfa sering memperhatikan Queen dan tidak lama dari itu, dia memberanikan diri untuk menembak Queen walaupun pada saat itu mereka sama sekali belum kenal, tapi anehnya Queen langsung menerima Alfa.

Semenjak mengenal Alfa, semangat hidup Queen yang mulai tidak ada, kembali bangkit karena Alfa selalu memberikannya semangat dan perhatian yang selama ini dia rindukan.

"Terima kasih kalau kamu mau menungguku."

Hubungan Queen dan adik serta kedua orangtuanya memang kurang harmonis, Queen sangat membenci mereka karena mereka tidak pernah memikirkan perasaannya, bahkan mentalnya dihajar habis-habisan demi ambisi orangtua yang egois.

Orangtuanya tidak pernah mau memikirkan apa yang Queen inginkan, berbeda dengan Putri yang mereka sangat manja. Bahkan dari kecil, Queen sudah sering mengalah apalagi Putri selalu saja ingin sesuatu yang Queen punya.

Bersyukur, Queen mempunyai kekasih yang selalu ada untuknya bahkan Alfa sangat perhatian dan sayang kepadanya.

"Mumpung Om dan tante pergi, bagaimana kalau kita jalan-jalan!" ajak Alfa.

"Aku mau," sahut Queen antusias.

Alfa pun mengajak Queen jalan-jalan mengelilingi taman menggunakan motornya, Queen tampak sangat bahagia pasalnya Queen bisa jalan-jalan keluar apabila Alfa yang mengajaknya, itu pun harus menunggu kedua orangtuanya pergi.

"Kita duduk dulu di situ, ya?"

Alfha menghentikan motornya dan duduk di sebuah kursi taman.

"Apa kamu mau es krim?"

Queen lagi-lagi menganggukkan kepalanya antusias, Alfa mengusap kepala Queen dan segera berlari untuk membeli es krim, Queen tersenyum melihat kelakuan Alfa.

Tidak lama kemudian, Alfa pun datang dan membawa 2 es krim untuknya dan Queen. Queen terlihat sangat bahagia, Alfa sebenarnya merasa kasihan kepada Queen karena Queen selalu dikekang oleh ke dua orangtuanya.

Queen tidak pernah dibiarkan ke luar rumah dan berteman seperti anak-anak pada umumnya.

Alfa kembali mengusap kepala Queen. "Makan yang banyak es krimnya, kalau kamu mau lagi bilang saja, nanti aku belikan lagi."

"Oke."

Alfa terus saja memperhatikan wajah cantik Queen, walaupun Queen terlihat tersenyum tapi Alfa tahu kalau di dalam hatinya menyimpan luka yang menganga dan itu butuh waktu untuk bisa menyembuhkannya.

"Aku janji, akan membuatmu bahagia Queen," batin Alfa.

1 jam pun berlalu...

"Al, kita pulang sebentar lagi Daddy dan Mommy pulang, aku gak mau dapat hukuman karena sudah ketahuan keluar rumah," seru Queen.

"Ya sudah, kita pulang."

Akhirnya Alfa pun mengantarkan Queen pulang, satu lagi yang selalu membuat hati Alfa hancur, setiap Queen melakukan kesalahan, Daddynya selalu memukuli Queen dan itu membuat Alfa bertekad akan bekerja keras supaya bisa menikahi Queen dan membawa Queen pergi dari rumah itu.

*

*

*

Halo guys, kembali lagi dengan karya terbaru kali ini Author akan mengadakan event gift lagi edisi 1-31 Januari 2023. Ayo kumpulkan poin sebanyak-banyaknya karena ada pulsa untuk kalian yang memberikan gift terbanyak.

Juara 1 : 100k

Juara 2 : 75k

Juara 3 : 50k

Juara 4-10 : Masing-masing akan mendapatkan pulsa 10k.

Yuk guys, ramaikan lagi🥰🥰

Bab 2 "Pilih Kasih"

Malam pun tiba...

Seperti biasa, setiap makan Mommynya akan menyuapi Putri sedangkan Putri sembari mengotak-ngatik ponselnya sembari senyum-senyum sendiri.

"Kamu kenapa sayang, kok senyum-senyum sendiri?" tanya Mommy Vivian.

"Ini Mom, teman-teman Putri mengirim pesan mereka lucu sekali," sahut Putri.

"Apa kamu senang sekolah sayang? Apa ada yang jahatin kamu?" tanya Daddy Darwis.

"Senang sekali Dad, mereka baik-baik kok bahkan mereka sangat menyayangi Putri saat tahu Putri punya penyakit," sahut Putri antusias.

Queen yang mendengar celotehan adik dan kedua orangtuanya merasa sangat marah, dari kecil sampai besar Queen tidak pernah disuapi oleh Mommynya karena Mommy dan Daddynya sibuk bekerja bahkan Queen sama sekali tidak mempunyai teman karena di ponselnya hanya ada nama Mommy, Daddy, dan Alfa.

Queen menghentikan makannya dan memutuskan untuk pergi ke kamarnya, dia sudah tidak tahan melihat sikap kedua orangtuanya yang begitu pilih kasih.

"Queen, nasinya masih banyak!" seru Mommy Vivian.

Queen tidak mendengarkan seruan Mommynya, akibat dari sikap yang diberikan kedua orangtuanya, Queen menjadi anak yang jarang bicara dan susah tersenyum.

"Anak itu selalu saja seperti itu, kalau diajak bicara selalu tidak pernah menyahut tidak seperti Putri yang terlihat sangat ceria," seru Daddy Darwis.

"Begitulah anak sulungmu Dad, sifatnya tidak seceria Putri," sahut Mommy Vivian.

Kedua orangtuanya tidak sadar, Queen bersikap seperti itu karena akibat perlakuan mereka yang terlalu pilih kasih.

Putri tidak pernah memperdulikan Queen, bahkan Putri dengan sengaja selalu memanas-manasi Queen dan itu membuat Putri merasa sangat bahagia apalagi kedua orangtuanya sangat memanjakannya.

Berbeda dengan Queen, saat ini Queen mengacak-ngacak tempat tidurnya, bantal dan guling dia lempar ke sembarang arah melampiaskan semua kemarahan dan kekesalannya.

"Aku benci kalian semua," gumam Queen dengan deraian airmatanya.

Mental Queen mulai terkikis oleh perlakuan kedua orangtuanya, Queen hanya bisa tertawa kalau saat bersama Alfa. Alfa sangat berharga untuk Queen, mungkin kalau Queen tidak kenal dengan Alfa, Queen sudah lama bunuh diri akibat rasa stres yang dia rasakan.

Bagaimana Queen tidak stres, dari kecil sampai sekarang kedua orangtuanya tidak pernah mengizinkan Queen keluar rumah. Orangtuanya selalu menyuruh Queen untuk belajar, belajar, dan belajar.

Hanya Alfa yang suka membawa Queen ke luar rumah, itu pun di saat kedua orangtua Queen ke rumah sakit untuk cuci darah Putri karena kalau minta izin untuk bawa Queen main, orangtua Queen mana mungkin mengizinkannya.

Pintu kamar Queen terbuka dan Queen dengan cepat menghapus airmatanya. Dilihatnya Putri masuk ke dalam kamar Queen dan duduk di samping Queen.

"Kak, sebentar lagi Kakak akan melanjutkan kuliah ke Itali, bisakah Kakak memberikan Kak Alfa kepadaku?" seru Putri dengan santainya.

Queen menatap Putri dengan tatapan tajam tapi Putri sama sekali tidak memperdulikannya, karena kalau Queen sampai ngapa-ngapain dia, dia bisa ngadu kepada Mommy dan Daddynya.

"Kakak itu pergi bukan sebulan dua bulan, jadi lebih baik Kakak berikan Kak Alfa untukku karena Kak Alfa pasti akan kesepian saat Kak Queen pergi."

"Kamu selalu mendapatkan apa yang kamu mau, tidak bisakah kamu jangan pernah mengganggu milikku," geram Queen.

"Aku sudah lama menyukai Kak Alfa, dan aku juga tidak rela kalau Kak Alfa pacaran dengan Kakak."

Jantung Queen terasa sangat sesak, hatinya begitu sakit mendengar ucapan adiknya itu.

"Tidak bisakah kamu mencari laki-laki lain? Kamu sudah tahu kalau Alfa itu pacarku, tapi kenapa kamu masih menyukainya? Di mana hati nuranimu, Putri!" bentak Queen.

"Jangan bentak-bentak aku seperti itu, kalau Mommy dan Daddy tahu, Kakak bisa dimarahi sama mereka," sahut Putri santai.

Queen mengepalkan kedua tangannya, sungguh Queen merasa sangat marah kepada Putri.

"Keluar kamu dari kamarku!"

"Kakak lihat saja, aku akan merebut Kak Alfa dari Kakak."

Queen mendorong tubuh Putri sampai Putri keluar dari kamarnya.

"Jangan pernah kamu masuk lagi ke kamarku!

Bruggg...

Queen membanting pintu kamarnya sampai-sampai Putri terlonjak kaget.

"Awas kamu Kak, pokoknya aku akan mendapatkan Kak Alfa. Aku akan meminta bantuan kepada Daddy dan juga Mommy, biar Kak Alfa mau menerimaku menjadi kekasihnya," gumam Putri.

Queen mengamuk, dia melempar gelas ke arah cermin sehingga cerminnya hancur.

"Kalian memang jahat, aku benci sama kalian semua!" teriak Queen.

***

Sementara itu di kediaman Alfa...

"Alfa, sini sebentar sayang," seru Mama Vina.

"Ada apa, Ma? Kok, wajah kalian tampak murung?" tanya Alfa.

"Al, perusahaan Papa sebentar lagi gulung tikar, salah satu karyawan Papa ada yang berkhianat sama Papa," seru Papa Tanu.

"Apa? Kok bisa, Pa?"

"Dia membocorkan semua data perusahaan Papa kepada perusahaan lain karena dia mendapat bayaran besar dari perusahaan itu, jadi Papa minta maaf, sepertinya Papa tidak bisa mengabulkan permintaan kamu untuk melanjutkan kuliah ke Itali," sahut Papa Tanu.

Mendengar Queen ingin melanjutkan kuliah ke Itali, membuat Alfa pun ingin kuliah ke sana sekalian bisa jagain Queen tapi kalau begini urusannya, sepertinya Alfa harus mengubur cita-citanya dan harus rela berpisah dengan Queen dalam waktu yang lumayan lama.

"Tidak apa-apa Pa, Alfa bisa kuliah di sini saja sambil kerja."

"Tidak Al, tugas kamu hanya belajar jadi urusan pekerjaan biar Papa yang urusin. Papa berencana mau bicara kepada Pak Darwis, mudah-mudahan saja beliau mau membantu kita," seru Papa Tanu.

Berbeda dengan Alfa dan Queen yang saat ini sedang merasakan sedih, Putri memasuki kamar Mommy dan Daddynya.

"Mom, Dad, apa Putri boleh masuk."

"Boleh dong sayang, sini," sahut Mommy Vivian.

Putri naik ke atas tempat tidur kedua orangtuanya dan duduk di tengah-tengah.

"Mom, Dad, Putri ingin bicara sesuatu kepada kalian berdua."

"Kamu mau bicara apa, sayang?" tanya Daddy Darwis dengan mengusap kepala Putri.

"Dad, Putri ingin Kak Alfa jadi pacar Putri."

Daddy Darwis dan Mommy Vivian saling pandang satu sama lain, mereka tahu kalau selama ini Alfa itu dekat dengan Queen.

"Tapi, bukanya Alfa itu pacarnya Kak Queen, sayang?" seru Mommy Vivian.

"Iya, tapi kan Kak Queen mau kuliah ke luar negeri dan pastinya mereka akan putus, jadi Putri ingin Mommy sama Daddy bicara sama Kak Alfa untuk menjadi pacarnya Putri," rengek Putri.

Sebenarnya Mommy Vivian selama ini merasa tidak tega melihat anak sulungnya itu selalu mengalah untuk Putri, tapi mau bagaimana lagi suaminya sangat keras kepada Queen karena Daddy Darwis ingin Queen menjadi orang hebat seperti dirinya.

"Kok, kalian malah diam sih?"

"Iya sayang, nanti Daddy bicara kepada Alfa."

"Terima kasih, Daddy."

Putri langsung memeluk Daddynya itu, dia begitu bahagia tapi karena sejak kecil kedua orangtuanya selalu memanjakan Putri membuat Putri tumbuh menjadi anak yang manja dan egois.

Bab 3 "Kesakitan Queen"

Tidak terasa semalaman Queen tidur di atas lantai, mata Queen tampak sembab karena semalaman dia menangis.

Perlahan Queen bangun dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Setelah selesai mandi dan ganti baju, Queen pun memutuskan untuk menuruni anak tangga, perutnya terasa sangat lapar. Baru saja beberapa langkah, Queen mendengar pembicaraan kedua orangtuanya bersama Papa Tanu yang merupakan orangtua Alfa.

"Pak Darwis, maafkan saya pagi-pagi sudah bertamu," seru Papa Tanu.

"Tidak apa-apa Pak Tanu, pasti Pak Tanu ada keperluan yang sangat penting sampai-sampai Pak Tanu menemui saya sepagi ini," sahut Daddy Darwis.

Akhirnya Papa Tanu pun menceritakan masalah yang sedang menimpa perusahaannya.

"Astaga, kok bisa sampai seperti itu?"

"Entahlah, jadi maksud kedatangan saya ke sini ingin meminta bantuan kepada Pak Darwis untuk membantu perusahaan saya. Saya sangat berharap Pak Darwis bisa membantu saya karena hanya Pak Darwis satu-satunya orang yang saat ini bisa membantu saya," seru Papa Tanu.

Daddy Darwis tampak terdiam, hingga akhirnya Daddy Darwis pun teringat akan pembicaraannya dengan Putri tadi malam.

"Saya bisa membantu perusahaan anda, itu adalah hal yang gampang bagi saya tapi tentu saja ada syaratnya," seru Daddy Darwis.

"Apa syaratnya, Pak?"

"Saya akan membantu perusahaan anda, dan anda bisa lihat kalau besok perusahaan anda akan kembali seperti semula asalkan putra anda Alfa bersedia menjadi pacar anak bungsu saya Putri."

Papa Tanu tampak terkejut karena yang dia tahu, kalau Alfa itu dekat dengan Queen putri sulungnya Daddy Darwis. Begitu pun dengan Queen yang dari tadi mendengarkan pembicaraan mereka, tangan dan kakinya begitu lemas dan gemetaran bahkan airmatanya sudah menetes dengan sendirinya.

"Kalau soal Alfa itu urusan gampang Pak Darwis, nanti saya bicarakan semuanya dengan Alfa."

"Baiklah."

"Kalau begitu, saya permisi dulu terima kasih Pak atas bantuannya."

Papa Tanu dan Daddy Darwis pun akhirnya berjabat tangan dan Papa Tanu memutuskan untuk pulang.

"Dad, apa tidak apa-apa? Bagaimana dengan Queen?" seru Mommy Vivian.

"Queen kan, besok akan berangkat ke Italia jadi baguslah kalau Queen dan Alfa putus biar Queen bisa belajar dengan fokus," sahut Daddy Darwis.

Mommy Vivian dan Daddy Darwis pun membalikan tubuhnya dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Queen sudah berdiri di tangga dengan deraian airmatanya.

"Queen."

Queen tidak memperdulikan kedua orangtuanya lagi, dia pun langsung berlari naik ke atas dan masuk kembali ke dalam kamarnya.

Queen menenggelamkan wajahnya di atas bantal, dia menangis tersedu-sedu.

"Kenapa Mommy sama Daddy selalu saja menuruti semua keinginan Putri? kenapa mereka tidak pernah memperdulikan perasaanku, sebenarnya aku ini anak mereka atau bukan sih?" gumam Queen.

Queen memukul-mukul bantal dan melemparnya ke sembarang arah.

"Aku benci kalian semua!" teriak Queen.

Papa Tanu pun masuk ke dalam rumahnya dan langsung disambut oleh anak dan istrinya.

"Bagaimana Pa? apa yang sudah dikatakan Om Darwis? Om Darwis mau kan, membantu kita?" tanya Alfa cemas.

"Darwis mau membantu kita, tapi dengan satu syarat."

"Apa syaratnya, Pa?"

"Kamu harus mau jadi pacarnya Putri."

"Apa? Papa jangan bercanda, Papa kan tahu kalau Alfa itu pacaran sama Queen," seru Alfa kaget.

"Iya, tapi mau bagaimana lagi, itu syarat dari Darwis, kalau kamu harus menjadi pacarnya Putri. Kalau Papa gak masalah kamu mau pacaran sama Queen atau pun Putri, toh mereka sama-sama anaknya Darwis."

"Tidak Pa, Alfa tidak mau. Alfa hanya mencintai Queen."

"Alfa, tolonglah untuk kali ini kamu nurut sama Papa. Memangnya kamu mau hidup di jalanan? Kamu juga kan tahu, sekarang itu sangat sulit untuk mencari pekerjaan, kalau Papa tidak meminta bantuan kepada Darwis, bagaimana dengan biaya kuliah kamu nanti? Papa tahu, bagaimana perasaan kamu tapi Papa mohon untuk kali ini, kamu ngertiin kondisi kita."

Alfa terlihat sangat marah, dia pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya.

"Kasihan Alfa, Pa, kalau begini," seru Mama Vina.

"Papa tahu, tapi mau bagaimana lagi, itu satu-satunya syarat dari Darwis. Lagipula Queen akan pergi kuliah ke Itali, jadi Papa yakin lambat lain, Alfa akan bisa menyukai Putri," sahut Papa Tanu.

Alfa dengan cepat menghubungi Queen, tapi Queen tidak mau mengangkatnya. Queen benar-benar sakit hati akan perlakuan tidak adil kedua orangtuanya. Walaupun Putri butuh perhatian lebih karena penyakit yang dideritanya, tapi Queen juga butuh perhatian dan ingin diperlakukan yang sama seperti Putri.

Queen mematikan ponselnya, dia sedang tidak mau bicara dengan siapa pun. Lalu Queen pun mengambil koper miliknya dan mulai memasukan semua barang-barangnya.

Queen memilih memanggil ART untuk mengambilkan sarapan karena Queen benar-benar tidak mau bertemu dengan kedua orangtuanya.

Dari pagi sampai malam, Queen tidak keluar dari kamarnya membuat Mommy Vivian merasa khawatir dan memutuskan untuk menemui putri sulungnya itu.

Tok..tok..tok..

"Queen, apa Mommy boleh masuk!" teriak Mommy Vivian.

Saat ini Queen sedang duduk di kursi yang berada di balkon kamarnya, dia mendengar teriakan Mommynya tapi Queen tidak memperdulikannya.

Merasa tidak ada jawaban sama sekali, Mommy Vivian pun memutuskan untuk masuk ke kamar Queen dan kebetulan pintu kamar Queen tidak dikunci.

Mommy Vivian melihat Queen sedang duduk termenung sembari menatap jauh ke depan sana.

"Sayang, ngapain kamu duduk di sini? angin malam tidak bagus untuk kesehatan," seru Mommy Vivian dengan mengusap kepala Queen.

Queen sama sekali tidak memperdulikan Mommynya, hingga Mommy Vivian pun duduk di samping Queen.

"Sayang, maafkan Mommy dan Daddy karena kami harus memaksamu untuk melanjutkan kuliah diluar negeri. Mommy tahu kalau kamu tidak mau, tapi Mommy tidak bisa berbuat apa-apa, keputusan Daddymu itu bersifat mutlak dan kamu tahu itu."

Lagi-lagi Queen tidak memperdulikan ucapan Mommynya, membuat Mommy Vivian hanya bisa menghembuskan napasnya kasar.

"Sayang, kamu marah ya, sama Mommy?"

Queen tetap di posisinya dan sama sekali tidak menoleh ke arah Mommynya membuat Mommy Vivian merasa sangat marah. Mommy Vivian membalikan tubuh Queen supaya Queen bisa menoleh ke arahnya.

"Kenapa kamu tidak sopan sekali, Queen? dari tadi Mommy bicara sama kamu, tapi kamu mengabaikan Mommy. Perasaan Mommy dan Daddy tidak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap tidak sopan seperti ini," kesal Mommy Vivian.

"Sejak kapan kalian mengajari Queen? dari kecil sampai sekarang kalian tidak pernah memperhatikan Queen, hanya Putri yang kalian perhatikan jadi, jangan pernah mengajarkan Queen untuk bersikap sopan karena kalian memang tidak pernah mengajarkannya," sentak Queen.

Mommy Vivian hendak menampar Queen, tapi tangannya tertahan di udara.

"Kenapa diam? ayo tampar Queen, kalian dari dulu memang tidak pernah menganggap Queen anak kalian, Queen serasa anak tiri. Sekarang kalian ingin menyingkirkan Queen ke Italia karena kalian ingin menjodohkan Putri dengan Alfa kan? Semua milik Queen pasti akan diambil oleh Putri, bahkan kalian tidak memberi kesempatan Queen untuk bahagia."

Queen pun masuk ke dalam kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

Mommy Vivian pun merasa kesal, lalu Mommy Vivian pun memutuskan untuk keluar dari kamar Queen. Airmata Queen kembali menetes, sungguh hati Queen sangat sakit.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!