NovelToon NovelToon

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

Episode 1

kringggggg..

kringggggg....

kringggggg.....

Terdengar alarm berbunyi di kamar Dinda, namun ia masih tertidur dengan sangat pulas karena ia memang sudah terbiasa bangun siang.

Dinda.

Dinda adalah seorang mahasiswi yang berusia 20 th. Ia cantik, seksi, baik, manja, gaul, namun sayang ia sedikit malas dan berbuat seenaknya. Ia putri dari pasangan Pak Irsyad dan Ibu Yuli, kedua orang tuanya adalah pengusaha sukses, dan kedua orang tuanya pun sangat menyayanginya, apapun yang ia mau selalu dituruti, bahkan bukan hanya kedua orang tuanya, namun Arya pun sangat menyayangi dan memanjakannya.

Arya

Arya adalah Kaka Dinda yang sekarang sedang menjalankan bisnisnya di Korea, Ia baik, penyayang, dewasa, tampan dan ia masih lajang.

Di kampus Dinda cukup populer, dengan parasnya yang cantik dan tubuhnya yg seksi, Ia mampu membuat para pria tergila-gila kepadanya, namun sayang kemampuan berpikirnya dibawah rata-rata, mungkin ia seperti itu karena ia cenderung malas dan berbuat semaunya, atau mungkin ia seperti itu karena orang tuanya adalah pendonor dana terbesar di kampusnya.

30 menit berlalu,,,,,

kringggggg.....

kringggggg.....

kringggggg.....

Lagi-lagi alarm berbunyi.

"Eueeemmmmmm berisik amat.! Jam berapa sih sekarang.?" Ucap Dinda dengan suara serak khas orang baru bangun tidur sambil mengambil jam di meja disamping tempat tidur nya, perlahan ia pun berusaha membukakan matanya yg masih sangat ngantuk itu, seketika ia pun langsung melotot.

"Ya ampun, udah siang banget.! Gimana nih.? Aduh gimana nih.? Mana tugas dari pak Edi belum dikerjain lagi, mati gw.!" Ucap Dinda tergesa-gesa dan panik, sambil buru-buru melangkah menuju kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai mandi dan siap-siap ia pun langsung buru-buru turun kebawah menghampiri ibu Yuli mamahnya, dengan penampilan yang sangat berantakan, rambutnya acak-acakan karena belum disisir, wajahnya pun terlihat sangat pucat karena belum makeup.

"Mamah.! Kok mamah enggak bangunin Dinda sih.? Dinda telat kekampus nih." Ucap Dinda kesal.

"Dindaaa, Dinda, mamah tuh udah bangunin kamu dari pagi sayang, kamu nya aja yg enggak denger." Jawab ibu Yuli sambil tersenyum karena lucu melihat tingkah laku anaknya seperti itu.

"Ya udah yah mah, Dinda berangkat dulu.! Udah siang banget nih.!" Ucap Dinda sambil melangkah dengan terburu-buru menuju mobilnya.

"Sayang.! Kamu gak sarapan.?" Triak ibu Yuli.

"Enggak mah, entar Dinda sarapan di kampus.!" Teriak Dinda sambil terus melangkah menuju mobilnya, dan langsung buru-buru masuk kedalam mobil tersebut. Di dalam mobil tersebut sudah ada pak Toni supir pribadinya yang siap mengantarkannya ke kampus, ia tidak pernah membawa mobil sendiri karena pak Irsyad ayahnya tidak pernah mengizinkannya.

"Pak Toni, ngebut yah.? Udah siang banget nih.!" Perintah Dinda sopan, sambil menyisir rambut dan memakai perawatan kecantikannya, karena seperti yang kita tau tadi ia tidak sempat make up dan ini sudah kebiasaannya sehari-hari makeup didalam mobil, karena hampir setiap hari ia kesiangan.

"Baik non.!" Ucap Pak Toni sopan.

*********

1 jam berlalu,,,,,

Dinda pun akhirnya sampai di kampus, setelah sampai di kampus, ia pun langsung buru-buru lari menghampiri Ria dan Tika sahabat terdekatnya.

"Aduhhhh selamat-selamat, akhirnya gw enggak telat." Ucap Dinda dengan suara ngos-ngosan, karena ia lari dari parkiran mobil menuju dalam kampus.

"Eehhhh Din, loh kenapa.? Sampai ngos-ngosan gitu.?" Tanya Ria penasaran sambil tersenyum.

"Tau kaya habis dikejar-kejar anjing aja loh.?" Sambung Tika sambil tersenyum menggodanya.

Mendengar pertanyaan dari teman-temannya, Dinda pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.

"Gilaaa, tadi tuh gw bangun kesiangan.! Mana tugas dari Pak Edi belum gw kerjain lagi, aduuuuh pusing banget nih gw.!" Ucap Dinda panik.

Mendengar jawaban dari Dinda, Tika dan Ria hanya tertawa, mereka tertawa karena mereka berdua sangat tahu kalau Dinda itu memang langganan telat.

"Kok kalian malah ketawa sih.? Iiiiihhh ngeselin banget sih kalian.!" Ucap Dinda kesel

"Dindaaa, kenapa loh sepanik ini.? Loh kan udah biasa telat, iya kan.?" Ucap Ria sambil tersenyum.

"Tau nih Dinda, kayak baru kali ini aja loh telat, lagian loh telat juga enggak bakalan dihukum lah.! Secara mereka semua kan juga tau siapa bokap loh di kampus ini.! Udah jelas mereka takut lah, iya enggak.?" Ucap Tika yang juga tersenyum. Ia berbicara seperti itu, karena ia pun sangat tau apa kedudukan ayah Dinda di kampusnya.

Disaat mereka sedang asyik ngobrol, tiba-tiba Dinda melihat Adit yg sedang asyik bermain basket dengan teman-temannya.

Adit

Adit adalah senior Dinda di kampus, Dinda sudah lama mencintainya, akan Tetapi Adit tidak mengetahui nya.

Adit adalah mahasiswa yang tampan, gaul, pemain basket, pergaulan bebas dan banyak perempuan yg mengejar-ngejar nya, namun sayang Adit terkenal playboy, dan suka mempermainkan perempuan.

"Gilaaaaa, ganteng bangeeeeet.? Gw sih mau jadi pacarnya." Kata Dinda sambil terbengong dan terpesona melihat ketampanan Adit.

"Siapa Din.?" Tanya Ria penasaran.

"Siapa lagi kalau bukan Adit, lihat aja tuh.! Dinda ngelihat Adit sampai melongo gitu." Sambung tika sambil tersenyum melihat Dinda yang masih terus terbengong.

"Tapi memang ganteng sihhhh, iya kan Din.?" Sambung Ria, ia pun ikut terbengong melihat pesona Adit, Ia sependapat dengan Dinda kalau Adit itu memang ganteng.

Disaat mereka sedang asyik membicarakan Adit, tak sengaja bola yang sedang dimainkannya terlempar tepat di hadapan Dinda.

Melihat bolanya terlempar, dengan segera Adit pun langsung melangkah untuk mengambil bola tersebut.

"Din, lihat tuh.! Adit mau kesini Din." Kata Ria heboh.

"Iya bener Adit kesini tuh.!" Sambung Tika yang juga heboh melihat Adit melangkah menghampirinya.

Mendengar ucapan teman-temannya, Dinda hanya terdiam, kemudian ia pun mengambil bola yang ada didepan matanya sambil terus terbengong karena melihat Adit yg semakin mendekat ke arahnya.

"Hai, maaf gw mau ambil bolanya." Kata Adit yang sekarang sudah sampai tepat dihadapan Dinda, ia dan Dinda memang belum kenal, ia hanya tau nama satu sama lain.

Mendengar kata-kata Adit, Dinda tidak menjawabnya, ia masih terus terbengong sambil tersenyum menatap wajah tampan Adit.

"Ini seriuuus.? Adit sekarang ada didepan gw dan lagi ngomong sama gw.?" Kata Dinda dalam hati tak percaya dengan apa yang sedang terjadi, orang yang selama ini ia kagumi berada tepat dihadapannya dan sedang berbicara dengannya.

"Halloooo.? Maaf, gw mau ambil bolanya.?" Kata Adit lagi dengan suara yg lebih kencang, ia kembali meminta bola yg sedang dipegang oleh Dinda.

Mendengar ucapan Adit, seketika Dinda pun langsung terbangun dari bengongnya.

"Eeeehhh i, i, iya, kenapa.? M, m, mau ambil bola yah..? Y, y, ya udah nih.!" Kata Dinda gugup sambil buru-buru memberikan bola tersebut kepadanya.

Melihat tingkah laku Dinda seperti itu, Adit pun tersenyum.

"Kamu lucu deh, kalau lagi gugup." Kata Adit sambil terus tersenyum, kemudian melangkah pergi meninggalkannya.

########

Jangan lupa like, coment, vote dan rate yah.?

karena satu like dari kalian, sudah cukup membuat saya semangat untuk berkarya🙏

Mampir ke Novel baru ku juga yah, Guys!

Episode 2

Mendengar ucapan Adit, perasaan Dinda melayang layang saking senangnya, terasa mimpi baginya, wajahnya pun tersenyum bahagia, namun karena ia melihat Adit yang sudah melangkah pergi meninggalkan dirinya, ia pun perlahan berbalik melangkah menuju teman-temannya yg masih berdiri dibelakangnya, namun sayang baru saja ia berbalik dan belum sempat melangkah, saking senangnya tak terasa ia menabrak seorang pria yg tidak ia kenal.

Erik Pratama

Erik Pratama adalah dosen baru Dinda dikampus, usianya 30 th, ia tampan, badan tinggi, cool, dan ia masih lajang, namun ia terkenal sangat galak, dingin, tegas dan disiplin.

PRAAAAKKK.!!!!!!

Semua buku-buku yang sedang dipegang oleh Erik terjatuh berserakan dilantai.

Melihat buku-bukunya terjatuh, dengan segera Erik pun mengambil buku-buku tersebut dan Dinda pun mencoba untuk membantunya.

"Ya ampuuun.! Maaf banget yah.?" Kata Dinda merasa bersalah.

Melihat Dinda meminta maaf kepadanya, alih-alih memaafkan, Erik justru mengucapkan kata-kata yang membuatnya kesal.

"Kalau jalan tuh pake mata.!" Kata Erik ketus dan dingin sambil melangkah pergi meninggalkannya.

Mendengar kata-kata Erik, Dinda hanya terbengong sambil tersenyum kesal.

"Ini serius.? Dia ngomong kayak gitu ke gw.?" Kata Dinda kaget dan tak percaya ada orang yang berani mengatakan hal seperti itu kepadanya, karena selama ini ia selalu disegani oleh teman-teman kuliahnya, kemudian ia pun langsung melangkah menghampirinya.

"Heh.! Maksud loh apa hah.?"

Teriak Dinda marah dan tak terima, sambil terus melangkah menghampirinya.

"Gw tanya, maksud loh apa.? Tadi kan gw udah minta maaf sama loh baik-baik, loh enggak terima.? Loh belum tau siapa gw, hah.?" Kata Dinda yang sekarang sudah berada tepat dihadapannya.

Mendengar kata-kata Dinda, Erik hanya terdiam dengan raut wajah dingin, tanpa menjawab sepatah kata pun.

"Kenapa loh diem.?" Kata Dinda kesal, sambil menatap sinis wajah Erik.

"Eehhh sebentar, sebentar.! Gw belum pernah lihat loh.? Ooooooh loh anak baru disini.? pantes aja loh enggak tau siapa g,,,,,," Belum sempat Dinda menyelesaikan ucapannya, namun sudah terpotong.

"Saya enggak perduli kamu siapa, dan saya juga enggak mau tau kamu itu siapa." Jawab Erik tegas, dengan suara pelan tapi menyakitkan, kemudian ia pun kembali melangkah pergi menuju ruangannya.

"Gila, gila, gila.! Berani banget dia berkata seperti itu ke gw, awas aja loh.!" Kata Dinda dengan suara tinggi karena ia benar-benar sangat kesal kepada Erik pria yang tidak ia kenal itu.

Melihat Dinda marah-marah seperti itu, Tika dan Ria pun langsung melangkah untuk menghampirinya.

"Din, loh kenapa.? Terus dia siapa.?" Tanya Ria penasaran.

"Tau, orang gila kali.! Gw itu kesel banget sama dia tau enggak.? Coba loh bayangin.! Gw itu udah minta maaf baik-baik sama dia, eeehhh dia malah marah-marah sama gw, kan ngeselin.?" Kata Dinda penuh emosi.

"Ya udah lah Din, yang sabar aja.! Jangan marah-marah terus.!" Kata Tika sambil mengusap-usap pundak Dinda, ia mencoba untuk menenangkannya.

"Iya bener tuh kata Tika, loh jangan marah marah terus.! Mending sekarang kita masuk, keburu pak Edi datang lagi." Sambung Ria sambil melangkah menuju ruang kelasnya.

"Ooooooh iya gw lupa.! Tadi sih gw buka grup WhatsApp, katanya pak Edi udah enggak jadi dosen di kampus kita lagi." Kata Tika serius, Ia lupa tidak memberi tau Dinda dan Ria tentang kabar tersebut

"Wahhhh yang bener..? Bagus dong kalau gitu, berkurang deh dosen galak di kampus kita.? Eeeemmm ini sih kabar baguuus." Kata Dinda sambil tersenyum senang, karena stelah hampir gila berdebat dengan Erik, akhirnya ia mendapatkan kabar bagus yaitu kabar pak Edi yang sudah tidak menjadi dosennya lagi, karena menurutnya pak Edi adalah dosen yg galak.

"Tapi gw denger-denger sih ada dosen baru yang gantiin pak Edi, katanya sih dia masih muda, dan kalau enggak salah, sekarang deh dosen baru itu mulai mengajar." Kata Tika mencoba memberi tahu kepada Dinda dan Ria kalau sekarang ini ada dosen baru di kampusnya.

"Eeeemmmmmm yang beneeer.? Kira-kira ganteng enggak yah itu dosen baru.?" Kata Ria sambil tersenyum karena senang akan ada dosen baru.

"Aaaaaahhhhhh kebiasaan deh loh.! Udah punya cowok juga, masih aja genit." Jawab Dinda bercanda sambil melangkah menuju ruang kelasnya, hingga akhirnya mereka bertiga pun sampai di dalam ruang kelas tersebut, di dalam ruangan tesebut terdengar sangat berisik dan gaduh, namun seketika ruangan yang berisik dan gaduh itu pun berubah menjadi tenang, setelah melihat Erik dosen barunya masuk kedalam kelas.

Melihat Erik masuk kedalam kelas, semua mata tertuju kepadanya, terutama buat para kaum hawa, mereka semua terpesona dan mengagumi ketampanannya,

"Waaahhh ganteng bangeeet.?" Kata Salah satu mahasiswi yang melihatnya.

"Iya bener.! Ganteng bangeeet, ini serius.? Dia dosen baru di kampus kita.?" Sambung salah satu mahasiswi lagi sambil terbengong dan terus menatap ketampanan Erik.

"Kalau dosennya seganteng ini.! Kayaknya gw tambah semangat nih kuliah,,,,,,,,," Seketika ucapan mahasiswi tersebut terpotong, karena tanpa basa-basi Erik langsung mengenalkan dirinya kepada mereka semua.

"Selamat pagi semuanya.? Saya adalah dosen baru kalian, nama saya ERIK PRATAMA, saya disini untuk menggantikan pak Edi dosen lama kalian.!" Kata Erik tegas dan dingin.

"Oke langsung saja, tolong kumpulkan tugas kalian yang dari pak Edi.!" Kata Erik lagi.

Melihat siapa sosok dosen barunya, seketika Dinda pun terdiam.

"Apa.? J, j, jadi laki-laki yang tadi gw tabrak, dosen baru di kampus ini.?" Kata Dinda gugup dan kaget dengan raut wajah ketakutan, karena dengan beraninya tadi ia sudah marah-marah dan tidak sopan kepadanya, begitupun dengan Ria dan Tika, sektika mereka pun langsung terdiam.

"Din, itu bukannya orang yg tadi loh tabrak.?" Bisik Tika tak percaya.

"Iya Tik, aduhhhh gimana nih.? Gw takuuuttt.?" Kata Dinda semakin ketakutan.

"Ini sih gawaaat..." Sambung Ria panik.

Mendengar muridnya berbisik-bisik, Erik pun langsung melempar buku ke arah diamana suara itu berasal.

PRAAAAKKK.!!! Buku itu terjatuh tepat didepan Dinda, Tika dan Ria.

Melihat Erik melempar buku tepat dihadapannya, seketika Dinda, Ria dan Tika pun terdiam karena kaget.

"Kalian sudah kumpulkan tugas kalian belum.? Cepat kumpulkan.!" Perintah Erik dengan suara tinggi karena marah, karena ia paling tidak suka jika ada murid-murid nya yg tidak fokus dijam mata kuliahnya.

"I, i, iya pak.!" Jawab Ria dan Tika secara bersamaan gugup dan ketakutan.

Namun diantara mereka bertiga, Erik terdiam melihat Dinda, ia baru menyadari ternyata yang berisik di jam mata kuliahnya adalah perempuan sombong yang tadi marah-marah kepada dirinya, kemudian setelah itu ia pun langsung menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam, sehingga Dinda pun langsung tertunduk dan tidak berani menatapnya sama sekali karena saking takutnya.

Melihat Dinda tertunduk ketakutan seperti itu, Erik pun tersenyum dingin.

"Heh kamu.! Mana tugas kamu.? Cepat kumpulkan.!" Perintah Erik dengan suara tinggi.

"M, m, maaf pak.! T, t, tapi tugasnya belum saya kerjakan." Jawab Dinda gugup.

"Sekarang kamu maju.!" Perintah Erik tegas dengan raut wajah dingin.

"B, b, baik pak.!" Jawab Dinda lagi-lagi gugup, sambil melangkah maju menuju Erik.

"Sekarang kamu berdiri disini, sampai jam mata kuliah saya selesai.!" Perintah Erik lagi dengan raut wajah yang sangat marah.

Mendengar perintah dari Erik, Dinda tidak menjawabnya sepatah kata pun, ia hanya bisa menurutinya meskipun sesungguhnya sekarang ini ia sangat kesal karena ia merasa dipermalukan oleh Erik didepan teman-temannya, bagiamana tidak, seorang Dinda yg biasanya disegani dan dihormati oleh banyak orang sekarang harus mendapat hukuman yang sangat memalukan seperti ini.

"Awas aja loe Pak Erik, gw akan bales semuanya.! Gw laporin ke papah biar loe dipecat sekalian.!" Kata Dinda dalam hati kesal, karena mendapat hukuman dari Erik Dosen barunya itu.

########

Maaf yah untuk semuanya.!

Kalau sebutan untuk Erik ada yang masih pak Erik dan ada juga yang cuma Erik, dan maaf juga kalau ada typo, juga banyak pengulangan kata 🙏🙏🙏 Soalnya sekarang ini masih proses edit.! Karena jujur saja, dulu waktu pertama author nulis novel ini, author benar-benar belum tau cara nulis novel itu kayak gimana dan author juga enggak pernah baca novel, jadinya kayak gini amburadul.

Sekali lagi maaf, jangan dihujat.! 🙏

Episode 3

2 jam berlalu,,,,,,

Jam mata kuliah Erik pun selesai, terlihat Erik yang melangkah pergi meninggalkan Ruang kelas tersebut.

Melihat Erik Dosen barunya pergi meninggalkan Ruangannya, Dinda pun langsung melangkah menghampiri Ria dan Tika yang masih duduk di bangkunya sambil terus cemberut.

"Hahhahahhahaha loh kenapa Din.? Itu muka lecek amat.?" Kata Ria sambil tertawa meledeknya, ia pura-pura tidak tau dengan apa yg membuatnya kesal dan cemberut seperti itu.

"Menurut loh.? Gila yah itu dosen.! Udah jelek, galak lagi.! Kesel banget gw sama itu dosen." Jawab Dinda kesal.

"Ya udah lah Din, kan yg terpenting pak Edi udah enggak ngajar kita lagi, dan kata loh kan ini kabar baik, ya kaaan..?" Jawab Tika sambil tersenyum, ia pun ikut meledeknya.

"Ini sih kabar buruk, malah buruk banget.! Dari pada itu dosen, masih mending pak Edi lah.! Gilaaa, kaki gw sampai pegel banget nih.!" Jawab Dinda semakin kesal, sambil mengusap-usap kakinya karena pegel.

"Hahahaha kasihan banget sih teman gw ini, Tapi emang bener sih itu dosen galak banget sumpah deh.! Parah banget itu dosen.! Tapi ganteeeengggg,,, Iiiiiihhhhh jadi gemes deh gw." Jawab Tika sambil tersenyum membayangkan Dosen ganteng yaitu Erik.

"Tapi emang bener sih itu dosen ganteng banget.! Udah ganteng, maco, badan tinggi, cool dan yang terpentiiiing, masih sendiri lagi." Sambung Ria sambil tersenyum, ia pun ikut-ikutan memuji-muji ketampanan Erik Dosen barunya itu.

"Iya bener kata loh.! Udah Ganteng, Galak, Dingin, Kejam, Jahat lagi.! Ia kan.?" Kata Dinda tidak terima mendengar teman-temannya yang lagi-lagi memuji-muji ketampanan Erik Dosen galak yang sudah mempermalukan dirinya didepan mereka semua.

"Eeeeehhh.! Kok loh jadi sewot sih Din.?

Cieeeeee yang masih kesel karena dihukuuum." Jawab Tika sambil tersenyum dan terus meledeknya.

"Ahhhhh udah lah.! Males gw ngomong sama kalian.! Puji-puji aja terus itu Dosen, sebenernya temen loh dia atau gw sih.?" Kata Dinda sewot karena kesel mendengar Tika yang lagi-lagi meledeknya.

"Iya deh iyaaa, ya udah mending kita kekantin aja yuk.!" Sambung Ria sambil tersenyum, ia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

"Aduhhhh gimana yaaah.? Kayaknya gw enggak bisa ikut deh.! Kaki gw pegel banget nih.?" Kata Dinda sambil terus mengusap-usap kakinya, Ia menolak ajakan dari teman-temannya, karena memang kakinya bener-bener pegel dan sakit, dan bukan hanya itu saja, ia tidak mau kekantin karena ia tidak mau bertemu dengan teman-temannya yang lain, ia sangat malu karena ini adalah kali pertama ia mendapat hukuman.

"Ohhh ya udah kalau gitu, kita kekantin dulu yah.?" Kata Ria dan Tika secara bersamaan sambil melangkah keluar menuju kantin dan meninggalkan Dinda di dalam ruangan hanya sendiri.

"Aduhhhh pegel banget sih.! Awas aja tuh dosen kalau ketemu.! Emang dia siapa coba.? Berani banget ngelakuin ini ke gw." Kata Dinda dengan suara tinggi sambil meringis kesakitan dan terus mengusap-usap kakinya, sepertinya Ia tidak sadar kalau ternyata Erik Dosen barunya itu sedang memperhatikannya dan mendengar semua ucapannya, karena ternyata Erik kembali lagi ke ruang kelas tersebut untuk mengambil salah satu bukunya yg ketinggalan, namun disaat ia sedang mendengarkan ocehan Dinda, tiba-tiba ponselnya berdering, sehingga Dinda pun akhirnya mendengar suara tersebut dan langsung menatap kearahnya.

"P, p, pak Erik.?" Kata Dinda dalam hati gugup dan kaget.

"Aduhhhh gimana nih.? Kok pak Erik bisa masuk kesini lagi sih.?" Kata Dinda lagi dalam hati panik dan ketakutan.

"Jangan-jangan, itu dosen denger lagi kata-kata gw tadi.? Mati gw.! Bisa-bisa gw kena hukum lagi nih kalau kayak gini." Kata Dinda dalam hati, sambil terus menatap kearah Erik Dosen barunya itu.

Melihat Dinda menatapnya seperti itu, Erik pun ikut menatapnya, akan tetapi ia menatapnya dengan tatapan dingin, sehingga Dinda pun kesal.

"Ngeselin banget sih itu Dosen.!" Kata Dinda dalam hati sambil menatap sinis kearahnya.

Melihat Dinda kesal seperti itu, Erik hanya terdiam, kemudian ia pun langsung mengambil ponselnya dan mengangkat ponsel tersebut.

"Ia ada apa Om.? Oooh iya ok, ok, selesai dari kampus Erik langsung on the way ke Rumah om." Kata Erik kepada seseorang yg sedang menelepon nya itu, sambil buru-buru mengambil bukunya yang ketinggalan, kemudian dengan segera ia pun langsung melangkah keluar meninggalkan ruang kelas Dinda.

Erik seperti itu kepada Dinda, karena seperti yang kita tau, ia memang terkenal dingin, cuek dan galak, namun disamping sikapnya yg seperti itu, ia adalah dosen muda yang sangat tampan dan karismatik, sehingga banyak para perempuan yang mengejar-gejar dan ingin menjadi kekasihnya.

DI RUMAH PAK IRSYAD

Waktu menunjukkan pukul 07:00 Malam.

Terlihat pak Irsyad dan ibu Yuli yang sedang duduk santai diruang keluarga, akan tetapi tidak terlihat adanya Dinda diantara mereka, sejak pulang dari kuliah ia langsung masuk kedalam kamar, sepertinya ia masih sangat kesal dengan hukuman yang diberikan Erik kepadanya.

"Mah, Dinda kemana.? Emang dia keluar.? Kok dari tadi papa enggak lihat.?" Tanya pak irsyad penasaran sambil menatap kekanan dan kekiri seisi ruangan untuk mencari Dinda, karena biasanya Dinda selalu menunggunya pulang kerja di Ruang keluarga.

"Ada kok pah.! Dari pulang kuliah dia langsung masuk ke kamar, katanya sih lagi kesel dia." Jawab ibu Yuli serius sambil membaca koran.

"Oh iya mah.! Papah lupa enggak kasih tau mamah.! Erik sekarang lagi di jalan, mau kesini dia mah, dan dia mau tinggal disini untuk sementara waktu." Kata pak irsyad serius, ia lupa memberi tau Kepada ibu Yuli, kalau Erik anak dari pak Edi akan tinggal di rumahnya untuk sementara waktu.

"Eriiik.? Erik anak pak Edi pah.? Pak Edi dosen dikampus Dinda.?" Kata ibu Yuli dengan suara sedikit tinggi karena kaget.

"Iya mah, akhir-akhir ini pak Edi sering sakit-sakitan, sekarang pak Edi udah enggak bisa ngajar lagi, dan Erik lah yang akan menggantikan pak Edi untuk mengajar." Kata pak irsyad mencoba menjelaskan kepada ibu Yuli yang sejelas-jelasnya.

Pak Edi adalah teman akrab Pak Irsyad, mereka berteman sejak kecil dan dulu rumah mereka berdekatan, namun karena masalah kerjaan Pak Irsyad terpaksa harus pindah rumah, dan Erik pun adalah teman Arya Kakak Dinda dari sejak kecil sampai sekarang, Namun Dinda tidak tau tentang itu karena dulu ia belum lahir, begitupun dengan Erik, ia hanya tau Arya punya adik, akan tetapi ia tidak tau kalau adik Arya adalah Dinda perempuan sombong yang marah-marah kepadanya, karena ia dan Dinda memang belum pernah bertemu sebelumnya.

"Ooohhh gitu pah.? Kasihan yah pak Edi.? Emang dia sakit ap,,,,,,,," Belum sempat ibu Yuli menyelesaikan ucapannya, namun sudah terpotong, karena ia mendengar suara bel berbunyi, kemudian ia dan pak Irsyad pun langsung beranjak untuk membukakan pintu masuk rumahnya.

"Eeeeehhhh nak Erik, kamu udah sampai.? Ayo silahkan masuk.!" Kata ibu Yuli sambil tersenyum dengan sangat ramah, kemudian ia pun melangkah masuk menuju ruang keluarga dan diikuti oleh pak Irsyad dan Erik dari belakang.

"Silahkan duduk, silahkan duduk.!" Kata pak irsyad sambil tersenyum.

Mendengar Kata-kata dari Pak Irsyad, Erik pun langsung duduk, begitupun juga dengan Pak Irsyad dan juga Ibu Yuli, kemudian setelah itu mereka pun langsung ngobrol dengan sangat asyik, banyak dan lama.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!