NovelToon NovelToon

YOU ARE MINE MIS STELLA.

Menyudahi segalanya!

Malam yang semakin terasa mencekam dikala langit tengah menangis meluruhkan salju putih yang sudah menimbun seluruh permukaaan tanah yang ada di sebuah pemukiman kumu padat penduduk.

Rumah-rumah berbahan kayu tegak dengan tarian angin membuat deritan di setiap persendiannya.

Hanya ada lentera-lentera yang menerangi sekitar tempat ini itupun tampak sudah sayu-sayu ingin segera terpejam.

Namun. Cuaca badai seperti ini tak bisa menyembunyikan sesosok wanita yang tengah menerobos tumpukan salju putih itu. Ia berjalan mengeratkan Mantel di tubuhnya seraya melihat kenan-kiri. Syukurlah memang tak ada orang.

Kakinya yang dilapisi sepatu Musim dingin segera mendekat ke arah salah satu Rumah yang tampak di jaga oleh anjing jenis Siberian Husky yang segera menggonggong karna kedatangannya.

"Kau lapar? Wings." pertanyaan yang terdengar datar keluar dari bibirnya. Ia merogoh saku Mantel yang ia pakai mengeluarkan Sosis bakar yang tampaknya sisa dari mulutnya.

Dengan tepat ia melempar Sosis itu ke dekat Anjing yang ia panggil Wings. Karna suara gonggongan hewan ini membuat pintu Rumah itu terbuka.

Sesosok wanita paruh baya yang tampak masih begitu segar dengan tatapan menajam ke arah dirinya.

"Dari mana?"

Tak ada jawaban. Ia lebih memilih naik ke atas tangga rumah seraya melepas sepatunya yang sudah penuh dengan salju. Saat Topi Mantel itu dibuka, barulah paras yang begitu khas itu terlihat.

Sosok wanita muda dengan rambut pendek sebahu diberkati kecantikan yang turun dari sosok wanita di belakangnya.

"Dari mana?"

"Tidak ada."

Jawaban singkat itu seperti biasa keluar membuat wanita paruh baya itu benar-benar emosi dengan tatapan mata berair menduga dari mana putri satu-satunya ini.

"SUDAH KU BILANG BERHENTI MELAKUKANNYA. STELLA!!"

Bentakannya membuat Wings yang tadi memakan sosis diatas tangga Rumah segera terdiam. Deru angin terasa lebih kasar menggulung salju yang bertebaran.

Tak ada respon yang begitu cepat dari sosok gadis pucat Stella yang ia bentak ini. Mata almond tajam itu hanya diam terpaku melihat Gaun malam wanita di hadapannya.

"Kau juga?" tanyanya dengan sudut bibir bak busur panah itu terangkat sinis. Mata kedua ya sama-sama berair tapi ada sesuatu yang membuat air mata itu enggan jatuh.

"Kenapa? Kenapa kau lagi-lagi melakukannya?"

"Tanyakan itu pada dirimu juga. CLARIE!"

Plaaakk..

Tamparan segera mendarat ke pipi mulus sebening salju itu. Bahkan, waktu seakan berhenti untuk melihat perdebatan Ibu dan anak ini.

Mata Nyonya Clarie mengigil menatap pipi Stella yang sudah merah dengan bekas jemari lentiknya tertera jelas di sana. Ia mundur dengan cairan bening itu jatuh begitu saja.

"K..kau.."

"Ada apa denganku? Hm." gumam Stella meraba pipinya yang terasa sangat panas dan nyeri. Ia berjalan mendekat ke arah Nyonya Clarie yang diam melihat manik beku putrinya.

"S..Stella."

"Kita sama." gumam Stella melebarkan senyuman. Riasan tebalnya terlihat menambah kesan dewasa dari usianya yang begitu muda. Ini sangat mengerikan.

"M...Maaf."

"Kita sama. Kau juga baru dari sana-kan?" bisik Stella mengangkat tangannya untuk mengusap surai panjang kecoklatan milik Nyonya Clarie.

Sungguh miris melihat keadaan gadis muda ini. Ia yang bernama Stella Amoana itu sudah terjebak dalam dunia malam yang di bawa Ibunya. Dia adalah sosok wanita yang dipaksa dewasa sebelum umurnya begitu matang.

Berawal dari Nyonya Clarie yang dijajakan oleh suaminya sendiri hingga Stella ikut terkena imbasnya. Ia juga kehilangan Mahkota berharga yang membuat dirinya ditinggalkan oleh kekasih yang sangat ia cintai.

"Berhenti mengurusiku. Urus dirimu sendiri."

"S..Stella..."

"Kalau aku tak melakukannya. Apa dia akan puas?" desis Stella lalu melepas Mantel yang ada di tubuhnya.

Terlihatlah pakaian ketat yang membungkus tubuh seksinya dengan bagian dada rendah seperti Lingerie.

Hati Nyonya Clorie langsung berdenyut melihat bekas cekikan di leher jenjang Stella. Ia sangat menyesal tak bisa menjaga putrinya dengan baik.

Kala Stella ingin memasuki Rumah. Tiba-tiba saja ada tubuh seseorang yang menahan pintu agar tetap terbuka kecil.

"Kau sudah pulang?"

"Rowan!"

Nyonya Clorie segera menarik Stella kebelakang tubuhnya. Ia menatap tajam pria dengan kumis tebal dan rambut gondorong yang terlihat menyeringai.

"Aku sudah bilang. Bukan? Aku yang akan mencari uang!! Kenapa kau masih saja memperalat STELLA???"

"Kau ini sangat menyusahkan." desis Tuan Rowan tak suka dengan sikap membantah Nyonya Clorie yang jauh jika di bandingkan dengannya.

Ntah kenapa wanita secantik dia bisa terjerat dengan bajingan seperti Rowan yang hanya ingin memperkaya diri.

"Pelankan suaramu. Ini sudah larut."

"Larut? Kau sudah berjanji untuk tak mengusiknya. Tapi, apa yang sekarang kau lakukan padanya. Ha???"

Tuan Rowan langsung menarik rambut Nyonya Clorie masuk ke dalam rumah. Suara pertengkaran itu kembali terdengar bahkan, cuci-maki yang terdengar di dalam sana membuat Stella memejamkan matanya dengan kedua tangan terkepal.

"Kau hanya bisa berjudi dan menghabiskan uang!!! Kenapa kau tak mati saja. Ha???"

"Heeey!!! Ingat siapa kau sekarang? Kau menjadi bintang di setiap tempat itu karnaku!!!"

"Brengseeek!!!"

Stella segera memakai kembali sepatunya lalu memasang Mantel yang tadi ia lepas. Sekuat tenaga ia menerjang badai salju ini seraya mengusap air mata yang terus keluar di pelupuk netranya.

Suasana seperti inilah yang membuatnya enggan untuk pulang. Tetapi, ia sangat berharap semuanya berubah.

"Kenapa kalian tak mati saja. Ha?" gumam Stella pergi melewati Rumah-Rumah orang yang ada di dekat jalan yang bersalju. Tempat mereka memang ada di pinggiran kota karna hanya disini biaya penghidupan yang murah.

Suara perdebatan Nyonya Clorie dan Tuan Rowan tadi sampai terdengar kesemua penjuru. Orang-orang yang mendengarnya sudah tak asing lagi sampai keluar melihat Stella yang hanya diam.

"Cih. Kemana lagi kau akan mencari Korban?"

"Kenapa kau tak membawa ibumu pergi dari sini? Hanya bisa merusak kehidupan orang lain."

Maki mereka pada Stella yang hanya mengepalkan tangannya. Ia tetap berjalan lurus kedepan ke arah Hutan yang menenggelamkannya dalam suasana beku ini.

Ia sangat berharap jika ia mati secepatnya tetapi, kenapa Tuhan terlalu ingin melihatnya menderita?

"K..kenapa.. Kenapa???" teriak Stella lari masuk kedalam Hutan. Salju yang menumpuk semakin sulit ia terjang karna kekuatan tubuhnya sudah tak lagi bisa melawan desakan angin.

"Kenapaaa?? Kenapa kau tak membiarkan aku bebaaas??? Aku tak ingin di sanaa!!!" teriak Stella sejadi-jadinya sampai kakinya tak lagi bisa di gerakan dan jatuh ke dalam tumpukan salju ini.

"K..kenapa? K..kau tak adil."

Gumam Stella memasrahkan tubuhnya masuk diantara tumpukan dingin membeku ini. Ia berharap, jika ia akan mati karna kedinginan dan ia tak akan bertemu dengan siapapun lagi.

Setelah beberapa lama . saat kesadarannya mulai di ambang-ambang, tiba-tiba saja ada yang menarik kakinya keluar dari tumpukan salju ke arah bawah Pohon yang cukup rindang.

Stella berharap jika ini adalah malaikat maut yang ingin mencabut nyawanya.

"B..bunuh aku.."

......

Vote and Like Sayang..

Kembali ke sana?

Langit diatas sana sudah beralih cukup cerah dengan cahaya yang terselip kecil terhalang awan gelap yang menutupi permukaanya.

Salju masih tetap turun walau tak sederas semalam dan semua aktifitas di Pemukiman kembali berjalan.

Para pemasok Es tengah membersihkan jalan yang di penuhi salju dengan Anjing-anjing yang berlarian membantu Tuannya.

Suara kesibukan para pekerja ini begitu ramai sampai terdengar di penjuru wilayah tempat ini. Termasuk pepohonan lebat hutan yang tampak sepi dan berangin.

"Ehmm."

Suara geraman keluar dari sela bibir pucat seorang wanita yang di sandarkan tepat di Pohon rindang di belakangnya.

Mata itu bergerak perlahan membuka biru laut yang segera menyipit melihat tempat di sekelilingnya.

"I..ini.."

Spontan ia segera sadar kala rasa dingin ini terasa begitu menusuk. Tak ada siapapun disini tapi ada sebuah Mantel hitam tebal berbulu halus yang tengah melapisi Mantel miliknya.

"Aku.. Aku disini semalaman? Shitt." umpatnya segera ingin bangkit tetapi sedetik kemudian ia merasakan keram di seluruh tubuhnya.

"Sss siaal. Kenapa aku masih hidup? Seharusnya aku sudah mati dari semalam."

Stella terus mengumpat berdiam sejenak untuk merilekskan tubuhnya. Seraya menunggu, ia memperhatikan tempat di sekeliling ia duduk.

Pohon ini terlihat lebat dan tebal. Akar yang ia duduki juga tak terkena salju seakan ada yang sengaja mempersiapkan tempat ini agar ia tak mati kedinginan. Tapi, siapa? Tak ada orang lain disini.

Pikir Stella benar-benar pusing. Ia merapikan surai pendek sebahunya seraya mengusap wajahnya yang dingin.

Namun. Spontan Stella melebarkan netra almond nya kala melihat tangannya juga sudah dilapisi sarung tangan ganda.

"A..Apa-apa'n ini?" gumamnya tak mengerti. Tiba-tiba buku kuduknya merinding merasa semua ini tak masuk akal.

"Dilihat dari Mantelnya ini bukan Mantel sembarangan, ini sangat mahal. Lalu, siapa orang kaya yang memberiku ini? Apa.. Apa dia .."

Stella meraba dadanya. Pakaiannya masih lengkap dan are pribadinya tak merasakan apapun.

"Syukurlah. Dia tak melakukan apapun padaku."

"Stellaa!!!"

Suara wanita dari arah luar Hutan sana membuat ia segera bangkit. Dari aungan halus itu ia bisa menduga jika Nyonya Clorie kembali mencarinya.

"Stellaa!! Kau dimana??"

"Kenapa dia mencariku?!" gumam Stella dengan raut wajah tak suka.

Ia berusaha berdiri dari duduknya seraya merapikan pakaiannya. Tak berselang lama ia berdiri, Nyonya Clorie sudah melihat ia dari arah jalan masuk Hutan.

"Stella!!!"

"Hm."

Stella hanya bergumam acuh. Ia berjalan mendekat dengan mata menatap datar Nyonya Clorie yang terlihat sangat cemas dan begitu khawatir.

"Kenapa kau pergi? Semalam itu Badainya sangat kencang."

"Kau ingin aku bertahan dengan pertengkaran kalian?" desis Stella menepis tangan Nyonya Clorie yang ingin memeggang bahunya.

Melihat itu Nyonya Clorie terdiam tetapi ia masih memperhatikan Stella yang tampak tak kurang satu-pun.

"Bagaimana luka di lehermu?"

"Kenapa kau sok perduli padaku. Ha??" bentak Stella menjauh. Ia menghindari kontak mata dengan Nyonya Clorie yang tak memperdulikan hal ini.

"Kau putriku. Tentu aku perduli."

"Urus dirimu sendiri!! Kau tak lelah di dalam Neraka itu terus?" tanya Stella menghardik Nyonya Clorie yang membuat ia muak selalu bertahan disana.

"Ayo. Pulang!"

"Kau pergi sendiri." ketus Stella memilih untuk pergi ke arah lain. Nyonya Clorie segera menarik lengannya kasar kembali berjalan keluar Hutan.

"Lepaaass!!"

"Hari ini kau sekolah. Kau akan lulus di semester ini. Ayo Pulang!!"

Mendengar itu Stella segera menyentak lengannya kasar bahkan kali ini Nyonya Clorie sampai terhuyung ke belakang.

Tatapan matanya menajam bahkan begitu penuh dengan kebencian. Ia sudah muak kembali ke sana karna hanya akan dijadikan objek fantasi gila dan lelucon teman-temannya.

"Kau..kau ingin membawaku kesana?"

"S..Stella dengarkan aku."

"Kau itu seorang penghangat. Berapa bayaranmu jika ku bawa malam ini? Apa kau tak akan makan jika tak menjual diri? KAU INGIN AKU MENDENGAR ITU LAGI. HA??" Bentak Stella dengan mata mengigil dan merah.

Nyonya Stella hanya bisa diam tapi ia sangat berharap Stella mau melanjutkan sekolahnya dan tak akan menjadi seperti dirinya lagi.

"N..Nak. Aku.."

"Bahkan kau juga sangat terkenal." desis Stella membuat hati Nyonya Clorie semakin berdenyut. Ini semua salahnya, jika hari itu ia bisa menghentikan Rowan menjual Stella maka wanita ini tak akan kehilangan masa mudanya.

Melihat air mata Mommynya kembali jatuh. Stella langsung membuang pandangan. Hatinya juga sakit, bahkan sangat sakit melihat ini terus menerus.

"Apa yang kau harapkan dariku?" tanya Stella dengan suara parau terdengar acuh tapi itu khasnya.

"Aku bisa jadi apa? Kau tak perlu berharap banyak dariku." imbuh Stella melewati Nyonya Clorie yang segera mencengkal lengannya.

Langkah Stella terhenti dengan bibir bergetar. Ia tak tahu kenapa ia tak pernah bisa membenci wanita ini.

"Kau malu?"

Satu pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Yah, aku sangat malu memiliki seorang Ibu yang menjadi kupu-kupu di tengah malam. Tetapi, apa aku tidak?

"S..Stella! K..kau.."

"Obati luka di lenganmu. Atau Tamu spesialmu tak akan membayar mahal." ketus Stella melangkah pergi membuat Nyonya Clorie melihat lengannya.

Seketika ia tersenyum nanar melihat luka memar akibat pukulan Tuan Rowan semalam masih membekas di tubuhnya.

Setitik rasa senang muncul. Walau terkesan tak sopan, tapi Stella masih memikirkannya.

"Stellaa!!"

Nyonya Clorie mengejar Stella yang tak begitu jauh dari sini. Dalam beberapa langkah saja ia bisa menyamai langkah sang putri.

Mereka tak menyadari jika ada sosok yang sedari tadi memperhatikan dari balik pohon yang tadi Stella duduki.

Tatapan yang terlihat prihatin tapi netra keabuan itu tak bisa menyembunyikan perasaan yang tengah menggebu di dadanya.

"Kita akan bertemu lagi." desisnya dengan taring yang keluar membuat ia segera pergi. Sialnya ia masih sulit untuk mengendalikan diri untuk tak berbuat yang macam-macam.

Sementara di depan sana. Stella merasa sangat aneh kembali melihat kebelakang. Ia merasakan jika ada yang mengawasinya dan begitu juga Nyonya Clorie yang diam.

"Ada apa?"

"Tidak ada." gumam Stella meraba bulu Mantel yang ada di lehernya. Aura ini seperti ada di dekatnya dan begitu Familiar.

Melihat keanehan raut wajah Stella. Nyonya Clorie segera menarik lengannya untuk segera cepat karna akan ada banyak orang yang melihat mereka nanti.

"Kau..."

"Kau akan terlambat ke sekolah." jawab Nyonya Clorie membuat Stella diam. Apa ia harus ke sana? Itu salah satu tempat yang sangat mengerikan bagi wanita sepertinya?

Mereka mengabaikan para pekerja Es yang tengah memperhatikan keduanya berjalan. Jelas jika Stella tahu jika arti tatapan nakal para pria ini sangat mengancam untuknya.

"Jangan melihatnya."

"Kau sudah terbiasa." ketus Stella memilih mendahului Nyonya Clorie yang menghela nafas dalam.

Ia tahu Stella sangat muak dengan kondisi seperti ini tapi ia tak bisa berbuat banyak.

....

Vote and Like Sayang..

Sangat menyedihkan!

Satu Mobil tengah melaju ke arah Kota Brohana yang termasuk salah satu Kota yang maju di Dunia. Kehidupan disini benar-benar glamor dan penuh dengan kemegahan.

Namun. Dibalik bangunan-bangunan kaca yang berdiri kokoh mendaki langit, ada keringat dan tangisan para masyarakat menengah yang tak mampu hidup di perkotaan hingga memutuskan untuk pergi ke pinggiran.

Wilayah yang terbuang dan tak pernah di akui sebagai bagian dari Kota Brohana. Walau-pun berasal dari daerah pinggiran. Bukan berarti Stella akan membuat dirinya seperti gelandangan.

Tuntutan hidup membuatnya bersikap seperti pengemis orang kaya.

"Nona! sudah lama tak melihat anda." sapa Supir Taksi yang tengah melirik ke arah spion. Pria paruh baya ini yang selalu ditumpangi Stella untuk ke Kota.

Tapi. Beberapa minggu ini Stella sudah tak tampak dan sekarang muncul dengan wajah semakin cantik mempesona dan tubuh yang begitu menggiurkan.

Apalagi seragam sekolah Stetan Island/SI begitu Style dengan Almamater merah menutupi seragam putih yang ia pakai. Rok kotak-kotak halus itu menutupi sampai ke pertengahan paha dan kaos kaki hitam panjang tertarik ke betis jenjangnya. Ia lebih menonjolkan aura mahal dengan kulit putih sebening salju tempat ia tinggal.

Karna tak mendapat jawaban dari Stella. Pria itu akhirnya memilih diam. Sudah tak heran jika wanita ini akan menunjukan reaksi yang jutek dan dingin.

"Kau terlewat."

"A.. Maaf." sesalnya kala suara datar Stella mengingatkannya karna sudah melewati Gerbang megah sekolah.

Akhirnya ia kembali memutar kemudi mendekat kembali ke arah Beton tinggi yang bergerbang cukup membuat wajah mendongak.

"Nona! Maaf, saya tadi melamun."

"Kembali di jam biasa." ucap Stella keluar dari pintu Mobil menyandang Tas warna hitam miliknya. Ia hanya melenggang tak melanjutkan kata apapun membuat Supir Taksi itu menggeleng saja. Bayaran akan tiba ketika sudah mengantarnya pulang nanti.

Kala sudah sampai di dekat gerbang. Stella kembali berhadapan dengan dua penjaga yang saling tatap karna kedatangannya.

"Aku pikir kau tak akan masuk lagi?"

"Jangan terlalu kasar pada wanita cantik." tukas pria cukup muda di samping rekannya yang cengengesan mengejek Stella.

Ia tak langsung membuka Gerbang karna ingin menggoda Bunga indah di pagi hari ini.

"Hey! kau semakin cantik saja."

"Buka gerbangnya!" Stella masih bersabar dengan mata sudah menajam. Manik biru laut ini sangat bisa membuat mereka cukup menelan ludah.

"Jangan galak begitu. Aku sangat takut."

"Cih. Peluk dulu kami!"

Mereka benar-benar menguji kesabaran Stella yang hanya setipis tisu. Dengan kasar Stella mendorong Gerbang ini dengan sendirinya masuk mengabaikan dua manusia di belakangnya.

"Heey!!!"

"Wanita malaaam!!"

Stella memejamkan matanya dengan mulut terkatup rapat. Ia berusaha agar tak terpancing karna ia memang agak terlambat untuk datang ke kelas hari ini.

Disepanjang perjalanan menuju Bangunan yang megah ini. Beberapa Siswa yang menatap Stella tampak terkejut dan berbisik. Mereka tak menyangka jika Stella akan datang lagi setelah Kekasihnya dulu mengumumkan keburukan tentangnya.

"Dia masih kesini?"

"Memang mental baja."

Desas-desus semuanya memenuhi telinga Stella yang hanya acuh menaiki beberapa tangga sebelum masuk kedalam Gedung bertingkat ini.

Suasana ramai di atas lantai pertama seketika hening kala pintu Terbuka memperlihatkan Stella yang berjalan santai ke area tangga menuju Kelasnya.

"I..itu Stella?"

"Wanita malam itu?"

Lagi dan lagi. Rasanya ia ingin segera merobek mulut-mulut tak berguna itu membuat kepalanya terasa mau pecah.

"Stellaaaa!!!"

Mereka menyoraki Stella dengan lemparan sepatu dan sampah melayang ke arahnya. Bahkan, ada botol minuman yang masih berisi dilayangkan ke kepalanya sampai mengenai kening Stella yang berhenti di pertengahan tangga.

"Dasaaar!!!"

"Kau mau merebut kekasih siapa lagi. Ha???"

Caci mereka pada Stella yang meraba dahinya seketika darah itu melekat di jemarinya dengan sampah-sampah mengelilingi tempat ia berdiri.

"Kau masih punya nyali ke sini?"

"Jelas kau bukan orang berada. Bisa-bisanya masuk ke Sekolah kita. Pasti sudah melakukan sesuatu."

Stella memejamkan matanya dengan kedua tangan terkepal. Ia segera berbalik menatap tajam mereka semua terutama seorang pria berkacamata yang langsung bersembunyi di balik wanita berpita di belakangnya.

"Apa yang kau takutkan padanya?"

"D..dia kesini." bisik pria berkacamata itu pada teman wanitanya yang terlihat sangat judes diantara yang lain.

Stella berjalan turun mengambil botol yang tadi di lempar ke kepalanya. Tatapan netra biru laut itu menyelidik terhenti pada wanita itu.

"Punyamu?"

"Iya. Kau marah?" tantang wanita itu membuat Stella bergerak mendekat. Ia meremas kuat botol ini sampai berdiri tepat berhadapan dengan sosok yang telah menantangnya.

Melihat kecantikan Stella dari dekat saja membuat mereka iri dan terpesona. Tetapi, karna persepsi yang mengatakan Stella ini adalah seorang penghangat, akhirnya citranya hilang seketika.

"Kau tak pantas disini. Semuanya tak menerimamu, Benar bukan???"

"Yaaaahh!!!" jawab mereka semua bersorak membuat wanita itu semakin membusungkan dada penuh kemenangan.

Namun. Sedetik kemudian mereka terbelalak kala Stella menghantamkan Botol di tangannya ke pelipis wanita di depannya membuat mereka syok hebat.

Wanita berpita itu jatuh ke lantai dingin ini dengan kepala berdarah bahkan lebih banyak dari yang ada di kening mulus milik Stella.

"K..kau..."

"Sakit?" tanya Stella tersenyum culas. Ia melempar pandangan menusuknya pada semua orang disini yang segera berlarian pergi dari tempat itu.

Pria berkacamata yang tadi tengah bersembunyi menatap takut Stella yang memandangnya penuh dengan kemarahan.

"E..Eno.." lirih temannya.

"Aku..aku akan melapor!" ucapnya segera pergi berlari ke arah ruangan Guru. Wanita yang tadi Stella pukul juga sudah terbirit pergi dan pastinya akan menjadi masalah besar baginya.

Seketika helaan nafas Stella muncul. lagi dan lagi hidupnya akan tetap dihantui keburukan yang nyata.

"Cih. Aku sudah bilang aku tak ingin kesini." gumam Stella mengumpat mengusap luka di dahinya. Ia memilih duduk di kursi dekat dinding kaca tebal ini seraya merapikan Seragamnya.

Namun. Saat ia ingin memperbaiki ikatan tali sepatu. Tiba-tiba saja ponselnya berdering.

Stella terdiam sejenak melihat nama Nyonya Clorie yang tertera disana. Setelah cukup tenang, akhirnya Stella mengangkatnya.

"Apa?"

"Kau baik- baik saja-kan? apa mereka mengusikmu lagi?"

Stella tak langsung menjawab. Ia menatap serakan sampah yang ada di tangga sana dengan nanar dan bagian pipinya yang lecet. Ini lebih dari penyiksaan bukan?

"Stella! Apa kau baik- baik saja? Kau tak di ganggu lagi-kan?"

"Tidak."

Jawab Stella singkat. Ia meremas pinggiran roknya menahan semuanya disini. Walau ia bersikap dingin tapi ia tak ingin wanita ini memikul bebannya.

"Syukurlah. Aku sudah bilang bukan? ini sudah lama. Mereka akan melupakanya."

"Dengan hampir membunuhku." gumam Stella tapi tak begitu jelas terdengar.

"Kau bilang apa? Kau bicara sesuatu?"

"Tidak." Jawab Stella menjepit ponselnya di bahu lalu ia kembali mengikat tali sepatunya. Ia mendengar ada suara riuh dari arah tangga turun dari ruang kepala sekolah menuju lantai yang ia duduki sekarang.

"Stella!! Itu suara apa? Kau sedang ada acara?"

Bukan. Itu adalah segerombolan iblis yang ingin memenggal kepalaku.

Begitulah seharusnya jawaban dari Stella yang tak mau membuat kerumitan lagi. Ia lebih baik diam menjalani ini sampai dimana ia tahan.

"Stella!"

"Aku akan masuk kelas." jawab Stella segera mematikan ponsel. Ia kembali berdiri melihat segerombolan Siswa-siswi yang tadi lari segera turun dengan sosok pria paruh baya dengan kepala botak berkumis tipis itu menatap Stella dengan kemurkaan.

"Itu dia, Sir! dia melukai temanku."

"Anak ini lagi." umpat Pria paruh baya itu mendekati Stella yang hanya diam setia dengan wajah datarnya.

Tak ada rasa takut sedikitpun menghadapi orang-orang sebanyak ini tetapi, ia hanya sedikit cemas jika sampai Nyonya Clorie tahu kondisinya disini.

"Kau tak Jera juga datang kesini. Ha???"

"Dia.. Dia membuat pengaruh buruk di sekolah kita. Sir!" kompor yang lain mengadu-domba Stella dengan Kepala Sekolah Wenet yang memang tak suka dengan Stella si pembuat masalah.

Suasana disini semakin ricuh. Bahkan, mereka berani kembali melempari Stella yang meremas kuat tali Tasnya hanya diam tak mungkin ia memancing amarah pria ini lagi.

"Keluarkan saja dia. Siiir!"

"Keluarkaaaan!!"

Sorak mereka sampai mengambil sampah yang ada di Tong pembuangan dan di lempari ke arah Stella yang berusaha tak membalasnya.

Wenet diam melihat murid-muridnya bersemangat melempari Stella yang tak menunduk walau tubuhnya sudah penuh jipratan mayones dan air yang berbau busuk.

Mata Stella tetap membatu membuat Wenet merasa ini terlalu berlebihan. Ia mulai mengambil tindakan sebelum hal ini di lihat oleh Guru lain.

"Sudaah!! Sudaaaah!"

"Siir! Dia layak untuk ini." ketus wanita yang tadi Stella pukuli. Wenet tak bisa membiarkan hal ini terjadi karna akan merusak pamor sekolah mereka.

"Kembali ke kelaaas!!! Kembali ke kelaaas masing-masing!!!"

"Huuuuuu!!!"

Mereka menyoraki Wenet seraya mundur kembali pergi ke kelas masing-masing. Bahkan, ada yang kembali turun mengejek Stella lalu pergi kembali lagi ke atas.

Wenet hanya bisa mengusap tengkuknya melihat lantai ini sudah berantakan penuh dengan sampah. Apalagi keadaan Stella membuatnya sedikit merasa bersalah.

"Emm.. b..bersihkan tubuhmu. Lalu jumpai aku di ruangan." ucap Wenet lalu melangkah pergi.

Ia sesekali melihat Stella yang hanya diam dengan mata berair yang sedari tadi ia tahan agar tak turun membasahi pipinya.

Tatapan nanar itu melihat sampah-sampah di sekitar tempat ia berdiri dan seketika ia tersenyum nanar. Ini sangat menyedihkan bukan?

.......

Vote and Like Sayang..

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!