NovelToon NovelToon

Pejantan Yang Tergadaikan

bab 1

Suara petir menyambar dan ledakan guntur di atas langit begitu terdengar dahsyat. Suasana nampak begitu mencekam di luar ruangan. sapuan angin mulai menggerakkan pepohonan di sekitar, bangunan Mansion megah juga mewah.

Sekali lagi petir menyambar dan diikuti ledakan guntur terdengar memekikkan telinga siapa saja yang mendengar.

Bertepatan suara tamparan kuat terdengar di dalam Mansion mewah itu.

"PLAK" suara tamparan kuat yang dilakukan oleh, seorang pria berusia setengah abad kepada, sosok pria yang kini berlutut di hadapannya.

"Bugh" suara tendangan kembali terdengar, bersamaan terlihat kilatan dari langit dan diiringi petir menyambar.

"Jangan menyentuhku, sialan!" Pria berwajah tegas itu memekik tegas kepada, pria yang kini terperanjat di atas keramik mewah.

Pria muda dengan wajah tampan dan penampilan sederhana itu, merangkak kembali kepada, pria berusia 50 tahun itu. Yang merupakan ayah sang kekasih.

Pria dengan tampilan acak-acakan itu, kini sudah bersujud di depan kaki pria yang memiliki tatapan tajam. ia memohon agar merestui hubungan percintaannya bersama sang kekasih.

"Tuan, a-aku mohon. Berikan restu hubungan kami. Aku berjanji, akan membahagiakan putri anda dan selalu mencintainya." Pria itu mengungkapkan niatnya dengan wajah sungguh-sungguh dan tatapannya terdapat keseriusan.

"Tuan, aku mohon. Biarkan aku menikahi putri anda," pinta pria sederhana sambil bersujud, dengan posisi wajah begitu dekat dengan kedua telapak kaki pria arogan.

"Cih! Menyingkirkan lah' pecundang, sialan!" hardik pria yang sepenuhnya rambut berkilau itu sudah berubah putih.

Pria yang merupakan tuan muda terpandang di negara besar itu kembali, menendang sang pria dengan begitu kuat.

Membuat sang pria muda terdorong jauh dan terbatuk-batuk yang mengeluarkan cairan merah segar.

Pria berwajah menyedihkan itu masih terbatuk dan tatapan sendunya di arahkan kepada — pasangan wanitanya.

"Aku begitu mencintai putri anda tuan. Aku juga berjanji akan selalu menjaganya dan membahagiakannya. Biarkan kami bersama." Pria itu terus memohon dengan sangat, agar hubungan percintaan dengan pasangan wanitanya bisa mendapatkan restu.

"Cih! Kami tidak akan pernah sudi memiliki menantu buruk, sepertimu." Sosok wanita yang berusia sekitar 40 tahunan keatas, menyela keadaan dengan perkataan — menghina.

"Aku juga sangat mencintai Hans, mom, dad. Aku tidak bisa hidup tanpa dia, hanya dia pria yang sekarang aku, inginkan." Pasangan wanita mengungkapkan perasaannya dengan raut wajah basah dan kedua kelopak mata almond nya yang tampak, sembab.

"Apa kamu pikir kami akan terlena, dengan kisah romantis kalian? Dan akhirnya kami merestui hubungan buruk, ini?" Sahut wanita anggun yang tampak duduk di sofa dengan posisi begitu elegannya.

Tatapan menjijikkan ia berikan kepada pasangan pria tampan, kekasih putrinya itu dan mengeluarkan decihan kasar ke arah samping.

"Cih! Sungguh pria begitu menjijikkan dan buruk. Aku lebih memilih memelihara seekor predator buas daripada membiarkan dia berada di lingkungan mewahku ini." Wanita itu kembali melontarkan hinaan yang membuat orang-orang hanya bisa menelan saliva mereka.

"Mommy!" Pasangan wanita mengeluarkan suara bentakan dan tatapan protes akan ucapan, sarkas sang mommy.

"Hans, memang tidak memiliki apa yang kita punya, tapi dia memiliki cinta yang sangat besar kepadaku, mom. Begitu juga dengan ku yang begitu sangat, mencintainya." Dengan nada getir, pasangan wanita menjelaskan kepada kedua orang tuanya.

"Omong kosong!" Pekik pria berkuasa di depan sana dengan tatapan penuh intimidasi.

"Ini benar, tuan. Kami begitu saling mencintai. Maka izinkan aku menikahi putri, anda," pria menyedihkan, sekali lagi memohon dengan kedua telapak tangan menempel dan meletakkan di depan wajahnya.

Ia juga masih berlutut, seakan pria itu tidak memiliki harga diri atau ia rela menjatuhkan harga dirinya demi pasangan wanitanya.

sang wanita hanya bisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca dengan iringan gelengan kepala lirih.

"Aku tidak apa-apa, aku rela melakukannya demi dirimu dan cinta kita," sahut pria yang dipanggil Hans itu.

Wajah pria setengah baya itu begitu mencekam dan begitu mengerikan, melihat putrinya begitu membela, pria yang bersujud di bawahnya.

tuan besar itu pun, memerintahkan putrinya untuk masuk ke dalam kamarnya dengan paksa.

tentu saja, pasangan wanita menolak, meninggalkan sang kekasih seorang diri berjuang untuk mendapatkan pengakuan atas hubungan percintaan mereka.

"Rosella!" Pekik sang wanita sombong yang berwajah geram.

"Aku tidak akan meninggalkan Hans bersama, kalian," protes Rosella berani.

"Masuk ke kamarmu. Jangan pernah, harap kami akan merestui hubungan menjijikkan kalian. Daddy dan mommy, sudah menerima lamaran tuan muda Carlos. Pria kaya itu lebih pantas bersanding denganmu daripada, pria menjijikkan ini." Perkataan hinaan itu hanya berlalu di kedua cuping telinga Hans.

Ia sudah terbiasa mendengar kata hinaan juga perlakuan kasar dari keluarga kekasihnya ini. Hans hanya butuh berjuang untuk meyakinkan keluarga besar sang kekasih untuk bisa mendapatkan restu.

Hans Ariston, sosok pria yang terlahir dari keluarga sederhana juga serba kekurangan. Kedua orang tuanya hanya memiliki pekerjaan sebagai petani ladang sayuran biasa.

Hans Ariston memberanikan diri untuk mengubah kehidupannya di kota besar dengan hanya mengandalkan tekad kuat dan mimpi-mimpinya menjadi sukses.

Hans bekerja sebagai cleaning servis di salah satu hotel mewah yang merupakan milik, sang kekasih.

Malamnya, Hans akan bekerja sebagai pelayan restoran mewah hingga tengah malam.

Hans terus bekerja keras dengan attitude begitu baik di kalangan karyawan hotel. Hans juga sosok pria pekerja keras dan memiliki mimpi menjadi seorang pria terpandang dan berpengaruh di dunia.

Tekad dan kerja keras Hans, berhasil membuat nona muda tempatnya bekerja siang hari, terpesona dan merasa tertarik.

Hingga seiring berjalannya waktu, keduanya menjadi pasangan kekasih tanpa sepengetahuan siapapun.

Mereka sering melakukan pertemuan secara sembunyi-sembunyi dari keluarga sang kekasih.

Rosella Meta Abraham, sosok wanita berusia 25 tahun yang begitu mencintai, kekasihnya yang sederhana.

Rosella sendiri, terlahir dari kalangan atas juga terpandang, wanita itu sudah menduduki jabatan pemimpin di salah satu hotel mewah dan terkenal.

Meskipun memiliki segalanya, Rosella hanya mencintai, Hans, kekasihnya.

Wanita cantik itu bahkan menolak banyak lamaran dari pria terpandang, hanya karena cinta begitu besar ia miliki untuk, Hans Ariston.

"Bugh, bugh, bugh," pukulan juga tendangan di perut, berhasil membuat tubuh Hans tumbang.

Tuan Meta Abraham begitu geram melihat wajah menjijikkan Hans dan pria gagah itu tidak tahan untuk melayangkan sebuah pukulan di wajah dan perut, Hans.

"Jangan pernah bermimpi bisa menjadi, menantu di keluarga kami. Binatang peliharaan kami lebih berharga daripada dirimu."

"Daddy!" Seru Rosella.

"Diam, plak!" Nyonya Sarah menampar wajah putrinya kuat.

"Sayang!" Seru Hans lirih dan berusaha bangkit dan membantu kekasihnya.

"Kurang ajar! Rasakan ini." Tuan Abraham semakin geram saat, Hans masih berjuang untuk mendekati putrinya itu.

"Daddy! Aku mohon jangan menyakitinya," pinta Rosella sambil menangis sesegukan.

Sedangkan Hans kini mendapatkan pukulan bahkan pijakan kaki kuat mendarat di atas perut bidangnya.

"Rocky!" Teriakan masih terdengar menggema di ruangan mewah.

"ROCKY!" Sekali lagi teriakkan dari pria berwajah suram.

Tatapan nyalangnya masih tertuju kepada tubuh yang terkapar di atas lantai. Setelah puas menghajar kekasih putrinya, tuan Meta memerintahkan anak buahnya untuk melemparkan, Hans keluar dari kediamannya.

Di sisa tenaga yang dimilikinya, pria itu mencoba menarik tubuhnya yang terkapar di atas lantai untuk kembali memohon.

"Tuan, saya sangat berharap dan memohon untuk merestui hubungan kami." Hans memohon dengan wajah penuh luka dan suara yang tercekat sakit.

"Saya akan melakukan apapun, agar anda bisa merestui hubungan kami," lanjut Hans yang kini kembali menyentuh kedua telapak kaki tuan besar itu.

Demi cintanya yang begitu besar dan tulus kepada, putri semata wayang tuan Meta Abraham, Hans rela merendahkan dirinya. Ia juga rela melakukan apapun, agar bisa hidup bersama sang kekasih.

"Menyingkirlah sialan!" Pekik tuan Meta. Pria setengah abad itu kembali menendang wajah tampan, Hans.

"Daddy!" Pekik Rosella. Wanita itu berusaha melepaskan diri dari penjagaan kedua bodyguard sang daddy.

"Diam!" Sentak nyonya Sarah Abraham. Nyonya besar kedua keluarga konglomerat Abraham.

"Lihatlah, dia begitu hina dan rendah bersujud di kaki dengan wajah menjijikkan karena cinta. Dasar idiot." Wanita berpenampilan elegan juga berkelas itu mengeluarkan makiannya.

"Apa kamu pikir kami akan menerimanya sebagai, menantu? Cih, itu tidak mungkin. Manusia rendahan sepertinya seharusnya dilemparkan ke tempat buruk." Wanita itu kembali melontarkan pendapatnya yang semakin sarkas.

"Daddy, aku mohon berhentilah memukulnya. Aku tidak akan meninggalkan dia. Aku bersumpah akan melenyapkan diriku sendiri kalau terjadi hal buruk kepadanya," mohon Rosella dan di akhiri ungkap ancaman.

Nyonya Sarah menoleh segera ke arah Rosella dan menatap tajam putri sambungnya itu.

"Aku tidak akan memaafkan, daddy!" Teriak Rosella.

"Daddy! Berhenti memukulnya!" Teriaknya lagi.

Ia begitu terluka saat menyaksikan kekasihnya di pukul bagaikan tidak memiliki perasaan.

"Hans!" Panggilnya kepada sang kekasih yang hanya terdiam saat mendapatkan pukulan.

Hans memalingkan wajahnya ke arah sang kekasih dan menatap wanita yang sangat ia cintai dengan tatapan nanar penuh perasaan terluka.

Begitu juga dengan Rosella yang tidak hentinya meneteskan air matanya dan terus mencoba melepaskan diri dari sergapan bodyguard sang daddy.

"Kembalilah!" Pinta Rosella tanpa suara.

Hans menggeleng samar yang membuat Rosella semakin terluka. Melihat pria kesayangannya di siksa di hadapannya oleh orang suruhan sang daddy.

"Please!" Mohon Rosella.

Dengan tatapan menahan rasa sakitnya, Hans kembali mengeleng dengan tatapan lemah.

Rosella menangis histeris dan sekali hentakan kuat, ia bisa melepaskan diri dari cengkraman kuat tangan besar bodyguard itu.

"Hey! Tanggap dia dan bawa ke gudang!" Pekik nyonya Sarah dengan nada membentak.

Rosella mencoba untuk melindungi kekasihnya yang sudah mulai lemah tak berdaya itu, namun kedua bodyguard sang daddy mencegahnya.

"Lepaskan!" Teriak Rosella memberontak.

Kedua bodyguard tidak mengindahkan teriakkan sang nona muda, mereka dengan paksa menyeret tubuh ramping sang nona muda menuju gudang kosong.

"Lepaskan aku, sialan!" Teriak Rosella kembali.

Wanita itu kembali berusaha menolak untuk di bawa ke arah gudang, tidak mungkin ia meninggal kekasihnya di sana yang masih mendapatkan hantaman.

"Akh!" Teriak kedua bodyguard itu, saat Rosella menggigit telinga salah satu pria kekar itu dan satunya ia menendangkan kakinya ke arah area terlarang sang bodyguard.

Rosella segera berlari untuk melindungi kekasihnya, nyonya Cinthya yang melihat Rosella berusaha mendekati, Hans. Bermaksud ingin menghentikan anak sambungnya itu, tapi … Rosella mendorong tubuh rampingnya kuat ke samping. Membuat nyonya arogan itu terjatuh di atas sofa mewah.

"Dasar anak murahan!" Maki nyonya Sarah berapi-api.

Rosella sendiri segera melindungi sang kekasih dengan memposisikan dirinya di atas tubuh Hans.

"Daddy, hentikan!" Teriak Rosella dan mendapatkan sebuah injakan kaki dari sang daddy.

Hans yang tersadar segera membalikkan badannya dan bergantian melindungi wanitanya.

"Apa yang kau lakukan, sayang," bisik Hans dengan derai air mata juga wajah yang dipenuhi cairan merah.

"Aku tidak bisa melihatmu di perlakukan seperti ini," sahut Rosella yang mengerutkan wajahnya.

"Aku tidak apa-apa, demi bisa menyakinkan kepada mereka kalau aku begitu mencintaimu," lanjut Hans.

"Tidak! Pergilah, mereka tidak akan melihatmu," pinta Rosella sambil memeluk tubuh sang kekasih.

Tuan Meta memerintahkan anak buahnya untuk berhenti menyerang Hans. Bagaimanapun ia takut putri semata wayangnya terluka.

"Rocky!" Teriak tuan besar Abraham itu.

"Bawa nona muda kembali ke kamarnya!" Titahnya saat bawahan setianya berada di dekatnya.

Nyonya Sarah hanya menampilkan wajah jengah juga muak, i kini hanya diam berdiri dengan bersedekap kedua tangannya dengan sombong.

"Tidak! Aku tidak akan pernah meninggalkannya dad, tidak akan pernah!" Bentak Rosella saat di tarik paksa menuju kamarnya.

"Bawa dia!" Perintah tuan Meta dengan raut wajah menyeramkan ke arah Hans.

Rosella pun dengan sekali pukulan di tengkuknya, berhasil membuat wanita itu tidak sadarkan diri seketika.

"Sayang!" Pekik Hans yang mencoba bangun dari posisi tiarap itu.

Namun dengan kejamnya, tuan Meta menginjakkan salah satu kakinya di atas punggung lebarnya.

"Berhentilah, memanggil putriku dengan sebutan menjijikan itu. Anakku begitu bernilai tinggi dan tidak pantas didapatkan pria miskin sepertimu." Tuan Meta berkata penuh cemoohan danhinaan berulang kali kepada Hans.

Pria yang tidak berdaya itu hanya bisa menahan segala rasa sakitnya dan menatap dalam sang kekasih.

"Aku hanya mencintainya, apa itu salah?" Tanya Hans dengan lirih. Pria itu berulang kali terbatuk-batuk dan mengeluarkan cairan merah segar.

"Salah! Kalau itu kau!" Jawab tuan Meta sarkas.

"Apa karena aku tidak memiliki apa-apa?"

"Yah! Karena kau hanya dari kalangan pecundang. Yang akan menjadi benalu dalam kehidupan putriku," ucap tuan Meta dengan raut wajah datar.

Hans masih terbatuk-batuk dan mencoba untuk mengubah posisinya, saat kaki tuan Meta menjauh dari punggungnya.

"Aku akan berusaha untuk memposisikan diriku kelak dengan kalian," jawab Hans yakin.

Pria itu sangat yakin mampu membuat dirinya sukses dan menyamai kedudukan keluarga kekasihnya.

"Cih!" Tuan Meta berdecak sinis dan meludah ke arah Hans.

"Jangan pernah bermimpi akan menyamai kedudukan kami. Kau tidak akan mungkin melakukan hal itu," Seloroh tuan Meta dan tertawa penuh puas.

"Kita lihat saja. Aku pasti akan membuat anda kembali bersujud di kakiku suatu hari nanti." Hans berhasil bangkit dan membalas tatapan pria arogan di depannya dan berani menantangnya.

Tuan Meta terdengar tertawa lepas dan terbahak-bahak hingga kedua matanya berair. Nyonya Sarah terlihat sibuk memperbaiki riasannya dan berdecak menunjuk ke arah Hans.

"Aku bersumpah, akan membuat kalian menyesal suatu hari nanti," kembali Hans melontarkan tantangan dan sumpahnya.

Bertepatan petir menyambar dan suara guntur bergemuruh mengerikan.

Tuan Meta dan istrinya terdiam untuk sesaat, mereka begitu terkejut dengan suruan alam diatas langit gelap itu.

Hans Ariston sendiri kini menatap kedua orang tua kekasihnya dengan begitu tajam dan penuh dendam.

"Saat itu tiba, kalian akan hancur!" Lanjut Hans yang membuat wajah tuan Meta semakin mencekam.

"Diamlah, bedebah!" Hardik tuan Meta.

"Pergi dari sini!" Usirnya sambil menendang kembali tubuh lemah — Hans.

Dengan tatapan penuh dendam, Hans memutar tubuhnya ke arah pintu utama Mansion megah itu. Ia berjalan penuh perasaan hancur dan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Kedua telapak tangannya saling mengenggam kuat. Ada perasaan sakit hati atas perkataan hina kedua orang tua kekasihnya itu.

Hans hanya bisa terus berusaha untuk bisa menyamai derajat yang dimiliki oleh kekasihnya itu. Agar bisa membuat pasangan suami-istri sombong itu bersujud di kakinya.

bab 2

"Tidak seharusnya, kau mendatangi mereka." Perkataan teguran terdengar di salah satu pintu apartemen sederhana yang terletak di pinggiran kota, Paris.

Terlihat pria dengan rambut panjangnya, sedang mengobati sahabatnya yang terluka parah.

Sosok laki-laki tangguh sedang terbaring di sofa dengan wajah berlumuran darah akibat luka di seluruh wajah rupawan itu.

Pria tampan dengan punggung kekar, begitu terlihat kesakitan setiap sebuah kapas dengan cairan obat menyentuh luka sobekan di wajah.

Belum lagi di beberapa bagian tubuhnya terdapat begitu banyak luka memar juga luka robekan.

Pria gondrong hanya meringis sedih melihat kondisi menyakitkan sang sahabat.

"Aku sudah memberikanmu, peringatan untuk tidak terlalu berharap kepada, nona muda." Pria gondrong kembali berbicara, mimik wajah begitu kesal sambil terus mengobati luka sahabatnya.

"Aku hanya ingin menyakinkan mereka, kalau, aku begitu mencintai wanitaku," sahut Hans sambil menahan rasa sakit.

"Dengan memberikan nyawamu? Apa kau sudah kehilangan akal? Atau kau kehilangan otakmu untuk berpikir, wahai pria bodoh," timpal pria gondrong dengan bersungut-sungut kesal. Ia juga mengumpat kawan baiknya itu dengan ekspresi kesal.

Hans hanya memejamkan kedua matanya untuk mengabaikan ocehan sahabatnya itu. Ia kini memijit pelipisnya yang terasa begitu nyeri.

Ingatannya kini terfokus kepada raut wajah sedih kekasihnya, bagaimanapun, ia tidak akan bisa melihat kesedihan di wajahnya wanita yang begitu sangat ia cintai itu.

Hans berjanji akan membuktikan kalau dirinya bisa menjadi sukses dan menjadi pria layak untuk sang kekasih.

"Aku begitu mencintainya. kenapa mereka begitu kejam, ingin memisahkan kami," ucap Hans lirih. Tatapannya kini tertuju langit-langit ruangan kecil di apartemen sederhana miliknya.

"Aku sudah tahu," sela pria gondrong sambil menekan kuat kapas yang ada di tangan ke luka Hans.

Hans hanya bisa terpekik sakit dan ngilu, ia hanya melirik sahabatnya itu sinis.

"Itu sebabnya, kau membuatku repot dengan luka-luka seperti ini lagi. harus berapa banyak lagi, luka yang akan kau dapat dari mereka?" Cerca pria berwajah garang itu.

"Bukankah, seminggu yang lalu, kau juga mendapatkan, luka pukulan dari pria tua itu?" Sungut pria gondrong dengan wajah semakin kesal.

Hans hanya bisa terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, kenyataannya, baru seminggu yang lalu ia mendapatkan peringatan dari orang suruhan daddy dari wanitanya.

Membuat tubuh Hans remuk dan harus menjalani perawatan serius di beberapa tulangnya yang cedera.

Sekarang ia kembali mendapatkan luka. Sekarang yang lebih parah. Namun, Hans masih ingat berjuang untuk mempertahankan hubungan percintaannya dengan sang kekasih.

"Apa aku salah, memperjuangkannya?" Tanya Hans lirih.

Pria gondrong hanya bisa diam dengan bibir mencebik kesal, ia tidak habis pikir dengan jalan otak dan akal sehat sahabatnya ini.

"Robben. katakan, apa aku salah!" Sentak Hans.

Pria gondrong bernama Robben terkejut, tidak sengaja ia menekan kembali luka di wajah Hans.

"Bedebah!" Pekik Hans.

Robben hanya bisa tersenyum sinis, ia pun semakin menekan kuat kapas luka yang ada di tangannya dan menekankan kepada luka Hans.

"Rasakan saja, itu akan menyadarkan otak pendekmu," Robben mencibir sinis.

"Apa aku salah?"

"Tidak! Kau tidak salah, hanya nasibmu saja yang kurang mendukung," jawab Robben.

Hans kembali terdiam dan berpikir. Sedangkan Robben menuju dapur untuk mengganti air di wadah untuk kembali mengompres luka di punggung, Hans.

"Aku ingin kaya." Hans bergumam lirih.

Robben yang sudah berjalan ke arahnya, terlihat mengernyit heran dan ia meletakkan wadah air hangat juga minuman kaleng.

"Aku ingin menyaingi mereka," ungkap Hans lirih.

Pria gondrong yang baru saja duduk di sampingnya dan menyesap minuman galeng, seketika tersendat hingga membuatnya terbatuk-batuk.

"What?! Ucapnya kaget dengan ekspresi tidak percaya.

"Aku ingin menjadi orang kaya, menyaingi mereka," jelas Hans sekali lagi.

Robben kembali terkejut dengan mulut menganga dan mata berkedip-kedip mengesalkan.

"Oh Tuhan, sepertinya otak dan akalmu semakin sedikit," seloroh Robben.

"Aku serius, bedebah," erang Hans sambil menendangkan kakinya kepada sang sahabat.

"Aku pun serius, saat mengatakan kau kekurangan akal pikiran," sela Robben. Mimik wajah pria itu juga semakin sinis.

Sambil menahan rasa sakit, Hans memikirkan cara cepat untuk bisa menjadi seorang yang berpengaruh. Agar dirinya tidak diremehkan lagi.

"Pekerjaan apa, yang bisa menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat?" Tanya Hans serius.

Robben kembali tercengang dengan mulut menganga. Sunyi, tiba-tiba ruangan itu terdengar sunyi. Hanya ada suara binatang menjijikkan yang terdengar.

"Entah!" Sahut Robben dengan ekspresi wajah shock.

"Apakah aku harus menjadi, petarung?" Tanya Hans kembali.

"Kau bisa bertarung?" Tanya Robben kembali.

"Tidak," jawab Hans cepat.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan di ring taruhan? Menjadi boneka tarung? Atau menjadi bahan lelucon," timpal Robben sinis.

"Aku harus apa? Aku menantang mereka." Hans kembali berucap dengan nada frustasi.

"Tinggal Rosella. Maka hidupmu akan damai dan tenang," sahut Robben.

Hans pun melemparkan tatapan tajam kepada sahabatnya itu. Ia tidak akan terima saran dari sahabatnya.

"Itu tidak akan pernah aku lakukan," ujar Hans yakin.

"Maka, berdiri lah' di hadapannya dan berikan nyawamu kepada tuan Abraham. Maka hidupmu akan tenang dan damai," celetuk Robben.

"Brengsek!" Maki Hans sambil menahan rasa sakit. Saat dirinya meneriaki sang sahabat.

"Bukankah, kau yang mengatakan, akan mati demi wanitaku?" Sela Robben. Wajah pria itu terlihat mengolok-olok temannya.

Hans terdiam dan mencoba mencari cara agar bisa menjadi pria terkaya dalam waktu singkat. Benar yang dikatakan sahabatnya, dirinya kekurangan otak sekarang ini.

"Hanya manusia-manusia nekat yang akan menjadi kaya dengan cepat," Seloroh Robben.

Hans memandangi sahabatnya dengan intens dan penasaran. Ia juga menunggu sahabatnya itu mengatakan pekerjaan apa itu.

"Diantaranya, menjadi mata-mata mafia, pembunuh bayaran, kurir obat terlarang, menjadi pelacur dan yang terakhir …." Robben menjeda ucapannya sejenak, saat telepon genggam miliknya berdering. Sebuah pesan teks masuk di aplikasi hijau.

"Perampok? Beberapa komplotan perampok, berhasil melarikan uang dan barang berharga seorang pengusaha sukses." Robben membaca pesan masuk di ponselnya dengan suara keras.

Berhasil membuat Hans tersenyum penuh rencana. Ia pun akan bertekad untuk menjadi orang terkaya, dengan mengambil sebuah jalan pintas, yaitu menjadi seorang perampok.

Robben meletakkan kembali ponselnya dan ingin melanjutkan saran yang diminta oleh sahabatnya itu. Namun Robben tercengang, saat melihat Hans sudah tertidur.

"Brengsek!" Maki Robben.

Pria itu membersihkan meja yang dipenuhi obat-obatan khusus luka dan membawanya ke dalam dapur. Setelah itu ia pun meninggalkan apartemen sahabatnya.

……..

Sedangkan Hans membuka kembali matanya, pria itu hanya berpura-pura tertidur agar sahabat segera meninggalkan, apartemennya.

Hans segera bangkit dan berjalan susah payah ke dalam kamarnya. Ia membuka nakes yang berada di sudut kamar berukuran kecil itu, lalu mengambil sebuah notebook.

Hans memasuki sebuah aplikasi pencarian, ia mengetik nama-nama orang terkaya di kotanya. Setelah mendapatkan hasil, Hans kembali membuka nakes dan mengambil sebuah catatan kecil.

Ia mencatat nama-nama yang akan menjadi target, tindakan beraninya itu. Ia juga mencari tahu segala keamanan juga keadaan rumah mewah yang terpampang di layar notebook-nya.

bab 3

"Kau yakin ingin menemuinya?" Robben bertanya kepada Hans dengan tatapan jengah. Pria berambut panjang itu berulang kali untuk melarang Hans menemui kekasihnya.

Pria itu hanya mengkhawatirkan keadaan sahabatnya, ia terlalu takut Hans kembali mendapatkan perilaku Senna dari orang tua kekasih pria itu.

Hans yang sedang menatap dirinya di cermin hanya terdiam, pria itu sudah sangat merindukan — Rosella, kekasihnya.

Sudah satu Minggu Hans tidak bertemu pujaannya itu, selama itu juga ia hanya diam di apartemen untuk memulihkan kondisi juga kesehatannya.

Robben juga senantiasa menemani sahabatnya itu, merawatnya dengan baik. Bagaimanapun, mereka adalah pria dari daerah terpencil yang sama-sama berjuang nasib di kota besar.

"Aku hanya khawatir denganmu, mereka pasti tidak akan membiarkanmu berada di sana," lanjut Robben. Pria bertubuh tinggi itu terus membujuk sahabatnya.

"Aku hanya ingin melihatnya," sahut Hans. Ia keluar dari kamarnya dan bersiap untuk meninggalkan apartemen.

Robben mengikuti di belakangnya dan berusaha untuk membujuk Hans agar tidak ke sana.

"Hans!" Tegur Robben sambil menahan lengan Hans.

"Jangan khawatir, aku hanya melihatmu dari jauh," ujar Hans. Melepaskan tangan Robben lantas melanjutkan langkahnya keluar dari apartemen.

"Hans, Hans!" Robben berteriak sambil mengikuti Hans.

Hans sendiri sudah kehilangan pekerjaannya di hotel milik sang kekasih juga di restoran. Itu semua atas campur tangan kedua orang tua — Rosella yang menginginkan Hans hidup menderita.

Namun Hans tidak peduli, ia hanya memikirkan kekasihnya saja yang sudah sepekan tidak ia temui. Perasaan rindu yang terlalu berat, membuat Hans prustasi.

Pria itu akan membuktikan, kalau dirinya begitu sangat mencintai Rosella, ia bahkan rela menjadi budak suruhan orang tua kekasihnya.

……

Keduanya kini sudah berada di depan bangunan tinggi. Bangunan yang memiliki puluhan tinggat dan ratusan kamar. Bangunan hotel terbesar di kota itu.

Bangunan hotel yang merupakan milik sang kekasih. Di sanalah, mereka saling mulai perasaan cinta hingga mereka menjadi sepasang kekasih.

Hubungan yang harus di rahasiakan dari semua orang, apalagi kedua orang tua sang kekasih. Namun kesialan menerpa hubungan mereka, saat tuan Meta mengetahui kisah percintaan keduanya yang membuat pria kejam itu murka.

Bagaimanapun seorang penguasa hanya menginginkan seorang menantu sukses dan kaya.

Bukan seorang menantu dari kalangan pecundang, yang hanya menjadi benalu kepada nama baik keluarganya.

"Hans!" Seru Robben, ketika Hans ingin melangkah masuk kedalam lobby hotel.

"Tenanglah, aku hanya ingin memeriksa sesuatu," sela Hans dan menurutkan kembali tangan Robben.

"Tapi …." Belum selesai ucapan pria berambut panjang itu, Hans sudah mendekat ke arah pintu lobby.

…..

Sedangkan Hans kini melangkah menuju lobby dengan wajah tenang dan langkah pasti. Ia berpikir tidak ada yang tahu tentang hubungannya dengan sang nona muda pemilik — hotel ini.

Saat ingin melangkah masuk ke dalam lobby, tiba-tiba pintu kaca otomatis itu berbunyi. Seakan alarm bahaya terjadi.

Hans menjadi kebingungan dan ia mencoba untuk tetap melangkah, namun, tiba-tiba sebuah pukulan mengenai punggung kekarnya.

Semua karyawan yang berada di lobby pada jam pagi itu, berkumpul dan menatap ke arah Hans.

"Hey, lepaskan aku!" Hans mencoba untuk memberontak, saat beberapa penjaga mencegahnya.

"Anda dilarang keras untuk masuk," ujar salah satu penjaga keamanan hotel mewah itu.

Mereka terus berusaha menarik Hans keluar, tapi pria itu bersikeras untuk masuk kedalam.

"Lepaskan, aku hanya ingin menemui rekan di dalam," pungkas Hans berbohong. Padahal dirinya ingin menemui — Rosella di ruangannya yang terletak paling atas.

"Maaf, anda tetap tidak bisa masuk," ujar sang penjaga. Kedua penjaga itu lantas mendorong tubuh Hans, keluar dari pintu loh.

"Hey …."

"Hans!" Tegur Robben. Ia menahan kedua pundak sahabatnya yang ingin melawan.

"Lepaskan aku, Robben!" Pinta Hans dengan wajah kacau.

"Tidak sobat, lebih baik kita meninggalkan tempat ini." Robben berbisik di telinga Hans.

"Aku ingin menemuinya, aku begitu merindukannya, Robben," sentak Hans. Pria itu berusaha untuk bisa masuk ke dalam hotel tersebut dan menemui kekasih.

"Hans, sadarlah!" Bentak Robben. Pria berwajah tampan itu begitu jengah melihat kelakuan naif sahabatnya.

"Lihat! Kau menjadi bahan tontonan," ujar Robben dengan bisikan.

Hans berhenti memberontak, benar saja. Kini dirinya menjadi bahan tontonan orang-orang yang ada di lobby.

Namun Hans sepertinya menolak untuk peduli, pria itu dengan satu hentakan saja, berhasil melepaskan kuncian Robben di tubuhnya.

"Hans!" Pekik Robben.

Hans kini kembali ke depan pintu lobby dan melawan para penjaga, Hans juga sudah berhasil melewati pintu lobby dan mulai berlari untuk menuju lift khusus milik kekasihnya.

Pria itu menekan dengan tergesa-gesa tombol lift mewah itu. Hans menunggu pintu lift terbuka sambil menatap ke belakang. Dimana beberapa penjaga keamanan berusaha mendekatinya.

"Cepatlah!" Gumam Hans.

"Hans kau sudah gila!" Hardik Robben yang berhasil menyusul sahabatnya itu.

Hans terdiam, pria itu tetap menekan-nekan tombol lift, berharap lift segera terbuka. Ia mengabaikan sahabatnya Robben.

Suara lift berbunyi, menandakan pintu di hadapannya akan terbuka. Hans begitu sabarnya ingin memasuki lift tersebut.

Sedangkan Robben masih berusaha untuk membujuk pria itu untuk, kembali dan meninggal bangunan mewah bertingkat itu.

"Hans, ayo kita kembali!" Robben mengajak Hans.

"Tidak!" Hans menolak dengan wajah panik.

Para penjaga sudah sangat dekat dengan keduanya, membuat Hans dan Robben panik.

"Ayo Hans, kita harus meninggalkan tempat ini. Apa kamu mau kita mati di sini!" Hardik Robben.

"Tidak, tidak, aku harus menemui Rosella." Hans kembali berteriak di depan wajah Robben.

"Cepatlah, terbuka sialan!" Hans memukuli pintu lift tersebut dan memakinya.

"Hans jangan bodoh!" Bentak Robben, ia tidak habis pikir dengan pikiran Hans saat ini.

"Ayo kita segera pergi, sebelum mereka menangkap kita." Robben menarik tangan Hans dan menariknya paksa.

Hans menyentakkan tangan Robben dan mendorong sahabatnya itu ke arah para penjaga. Membuat Robben terjatuh dan menimpa para penjaga keamanan.

"Hans!" Teriak Robben.

Pria itu bermaksud ingin bangkit, namun salah satu penjaga keamanan hotel itu, menahan pergelangan tangannya dan mengunci tubuhnya agar tidak bergerak.

"Tangkap dia!" Perintah salah satu dari kelima penjaga.

Hans kembali berdiri gelisah di depan lift dan ketika para penjaga sudah menahan kedua pundaknya dengan posisi punggung membungkuk.

"Lepaskan!" Hans masih berusaha memberontak.

"Bawa dia, pria ini harus diberikan pelajaran!" Perintah pimpinan penjaga.

Hans pun dibawa paksa dengan keadaan sudah berantakan. Pria itu begitu tampak kacau. Orang-orang yang melihatnya pun hanya bisa menilai Hans dengan pandangan sinis.

Baru saja Hans melangkah, tiba-tiba pintu lift terbuka. Sekilas,. Hans menoleh ke belakang.

Mata pria menyedihkan kan itu, tiba-tiba berbinar bahagia. Raut wajah kacaunya kini berubah menjadi senyum rupawan.

Hans melihat sosok wanita yang ia rindukan keluar dari lift dengan wajah datar dan penampilan anggun.

Hans tersenyum bahagia, melihat wajah wanita yang sangat ia rindukan itu.

"Sayang!" Hans berteriak nyaring. Membuat orang-orang yang ada di sana menjadi bingung dengan reaksi Hans.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!