NovelToon NovelToon

Uniregular Sport School 1

PROLOG

Dari awal aku selalu mempunyai pertanyaan yang terus terulang tanpa tahu jawabannya, padahal aku meyakini kalau setiap pertanyaan itu harus memiliki jawaban yang pasti.

Pertanyaan itu seperti:

Siapa orang tuaku?

Antara bakat dan kemampuan, mana yang lebih penting?

Apakah orang pintar akan selalu menang? Bagaimana dengan orang bodoh, apakah dia akan terus mengalami kekalahan?

Dari mana emosi seseorang bisa muncul?

Ngomong-ngomong soal pertanyaan terakhir, rasanya aku sedikit mengerti kenapa emosi seseorang bisa selalu berubah kapan saja.

Aku pernah mempelajarinya, kalau tidak salah sebutannya adalah Mood Swing. Itu adalah perubahan suasana hati yang tampak pada diri seseorang. Salah satu penyebabnya adalah ketidakseimbangan kimia pada otak yang berhubungan dengan suasana hati dan perubahan hormon yang dihasilkan tubuh.

Cukup sampai disana, jawabannya masih tidak sesuai dengan keinginanku.

Namun sangat disayangkan, jika aku terus memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu maka sensasi sakit menusuk di kepalaku akan langsung terasa. Itu menyakitkan dan rasanya memang sakit, jadi aku tidak boleh terus memikirkannya.

Terkadang menyiksa diri sendiri itu bukanlah hal yang baik, walaupun terkadang itu bisa juga jadi hal yang baik. Semuanya kembali lagi pada situasi seperti apa yang akan dihadapi.

Bagaimanapun juga, aku harus mendapatkan jawaban atas ke-empat pertanyaan yang terus terulang dalam pikiranku itu.

Aku tidak ingin berpikir lebih jauh tapi aku penasaran, hanya itu saja. Kurasa hidupku akan sia-sia jika aku mati tanpa mendapatkan jawabannya.

Jika ditanya mana yang menarik perhatianku atas ke-empat pertanyaan itu, tentu saja aku sangat tertarik dengan pertanyaan terakhir. Alasannya sederhana.

Emosi dan perasaan?

Aku tidak memilikinya sejak kecil, bahkan aku tidak pernah peduli dengan orang lain dan lebih peduli dengan diriku sendiri. Asalkan diriku baik-baik saja, maka aku sudah tidak peduli.

Kemana perginya emosi dan perasaan ku?

Kau tahu kasih sayang? Ya, hal seperti itu tidak pernah kudapatkan karena aku tidak mengetahui siapa orang tuaku sendiri. Walaupun dulu aku pernah peduli dan terus mencari tahu tentang mereka, sekarang aku hanya memperdulikan diriku sendiri.

Karena kurangnya kasih sayang, itu perlahan membuat emosiku semakin berkurang, lalu disusul dengan menghilangnya banyak perasaan dalam diriku.

Aku kosong dan hampa, paling tidak itulah yang kupikirkan tentang diriku. Menyedihkan bukan? Bahkan parahnya lagi aku lupa dengan masa laluku sendiri dan sekarang aku hidup bersama dengan seorang lelaki baik hati yang kupanggil sebagai ayah.

Beliau memang baik hati, tapi sayangnya cuma itu. Ya, cuma itu. Beliau tidak mau menceritakan tentang masa lalu ku dan terlihat seperti berusaha menutup-nutupi nya. Dan sekarang, beliau malah menyuruhku untuk bersekolah di Uniregular Sport School dan lulus disana. Tapi walaupun begitu, aku tetap menyayanginya karena dialah orang satu-satunya yang peduli terhadapku.

Aku juga sudah mendengar penjelasan lengkap tentang sekolah itu darinya dan kupikir sekolahnya cukup menarik.

Uniregular Sport School adalah sekolah khusus olahraga yang sangat diimpikan oleh para remaja yang ingin menjadi atlet. Dari yang diberitahu ayahku, banyak siswa yang lulus dari sekolah ini telah menjuarai berbagai pertandingan nasional maupun internasional.

Ini adalah kesempatan terakhir, aku akan bersekolah di Uniregular Sport School untuk mendapatkan semua jawabannya sesuai perkataan ayahku. Lalu disinilah aku harus menguji seberapa kuat diriku dibandingkan siswa lainnya, tapi bagiku lebih sulit untuk menahan diri daripada mengeluarkan seluruh Kekuatan.

Ayahku juga berpesan padaku kalau bakat dikembangkan maka hasilnya akan menjadi baik. Beliau juga mengatakan kalau kemampuan itu ada bukan untuk dipamerkan tapi lebih baik digunakan disaat yang tepat. Jadi beliau menyuruhku untuk selalu menahan diri dan hanya akan serius saat mempunyai saingan ataupun orang yang kemampuannya setara.

Jika mereka bisa membuatku serius dan mengeluarkan seluruh kemampuanku, itu sangat bagus untuk dinantikan.

Chapter 1: Kesan Pertama

Ada pertanyaan tambahan walaupun aku tidak terlalu mementingkannya.

Apakah aku benar-benar manusia?

Terdengar konyol, tapi itulah kenyataannya. Aku selalu ditanya seperti itu oleh seseorang sebelum aku bersekolah menengah ke atas.

Jawabannya? Tentu saja aku tidak tahu.

Aku bisa saja bertanya balik kepada mereka.

Seperti apa seseorang yang disebut manusia itu?

Jika terus dipikirkan maka semuanya akan menjadi hal yang terus terulang sama seperti pertanyaan sebelumnya. Oleh karena itu aku tidak akan menanyakan hal seperti itu pada mereka, aku hanya perlu diam dan menjawabnya dengan Entahlah jika perlu.

"Bangunlah! Satomi Adney!"

Seseorang memanggil dan menyuruhku untuk bangun, aku membuka mata perlahan dan mendapati kalau dia adalah seorang lelaki bertinggi badan 185 cm dengan wajah yang menyeramkan. Aku sangat yakin kalau tidak segera bangun, maka hukuman yang berat menanti ku.

Walaupun agak berat, aku dengan terpaksa segera menggerakkan dan membangunkan tubuhku dari kasur. Salah satu kakiku menapak pada lantai kamar, lalu disusul oleh kakiku yang satunya.

Dia sangat berbeda dari ayahku dan tentu saja dia berbeda, bodoh sekali diriku ini. Mungkin karena aku masih belum terbiasa terpisah dengan ayahku, sekarang aku malah membayangkan dirinya.

Walaupun aku mengetahui kalau ini adalah sekolah asrama yang dibatasi, tapi tetap saja aku berharap kalau ayahku akan datang mengunjungi ku nantinya. Aku juga berharap agar bisa melihatnya lagi nanti.

"Waktumu 10 menit, segera bersiap-siap dan pergi!"

Pria ini menyuruhku dengan tegas.

Aku mendapatkan kembali kesadaranku dan berusaha untuk fokus menghadapi apa yang sedang kuhadapi sekarang, yaitu sekolah ini.

"Siap laksanakan!"

Aku lalu menjawab lantang dengan postur tubuh tegap walaupun agak goyah.

"Bagus!"

Selesai mengatakan itu, dia pergi keluar kamar.

Sekarang aku harus mandi lalu bersiap pergi ke sekolah. Aku hanya mandi selama kurang dari 5 menit, lalu aku membuka lemari dan berpakaian seragam olahraga.

Hanya ada tiga seragam di sekolah ini, pertama seragam olahraga wajib, kedua seragam khusus beladiri, dan ketiga seragam klub.

Saat ini aku mempunyai seragam olahraga wajib dan seragam beladiri, itu dikarenakan aku belum memilih klub apa yang harus diikuti.

Selesai bersiap-siap, aku tidak sarapan dan langsung pergi ke sekolah karena makanan disediakan oleh pihak sekolah.

Sesampainya di sekolah aku langsung memasuki kelas. Aku sendiri berada di kelas 1-E, ini adalah kelas dengan kemampuan terendah berdasarkan hasil tes ujian masuk sebelumnya.

Di sekolah ini terdapat 5 kelas setiap angkatannya yaitu kelas A sampai E. Sepertinya jumlah siswanya itu sendiri adalah 31 siswa.

Kelas A adalah kelas unggulan dan sering menjadi kebanggaan sekolah karena selalu memenangkan kejuaraan atletik tingkat nasional maupun internasional. Berbanding terbalik dengan kelas E, ini adalah kelas yang menampung siswa dengan kemampuan pas-pasan atau bisa dibilang naik sedikit tingkatan dari siswa biasa.

"Wah, lihat! Bukankah dia sangat cantik?"

"Kau benar! Dia seperti model dengan kecantikannya yang seperti itu!"

Baru melangkahkan kaki memasuki kelas, aku langsung mendapati keadaan kelas yang tidak biasa. Banyak anak laki-laki yang kagum dan terpesona dengan kecantikan gadis berambut pirang yang duduk di bangku depan.

Semua bangku belakang telah diisi oleh laki-laki mengerikan, jadi terpaksa aku harus duduk di bangku depan sama seperti saat tes dulu.

"Hei, siapa namamu?"

"Apa ada sesuatu yang kau sukai?"

"Ayo kita berteman baik!"

Banyak siswa di kelas yang mengerumuni gadis itu dan kurasa dia sedang dalam kesulitan menghadapi mereka semua. Tidak hanya para laki-laki, para perempuan juga tidak ingin kalah untuk berbicara dengannya.

Orang yang berwajah cantik serta memiliki penampilan yang bagus memang selalu menarik perhatian, itu karena dia memiliki satu daya tarik yang bisa mentolerir semua kesalahan yang diperbuatnya.

Semua berbanding terbalik dengan orang yang tidak memiliki daya tarik satupun, dia akan terus dianggap bersalah walaupun tidak memiliki kesalahan.

Begitulah kehidupan yang tidak adil ini akan terus berlangsung.

"Namaku Lina Lyubochka, aku menyukai tentang pelajaran atletik, salam kenal semuanya!"

Jadi namanya adalah Lina Lyubochka, dia dengan mudahnya populer di hari pertama bersekolah. Dia menyukai pelajaran atletik dan karena itulah dia masuk ke sekolah khusus atletik. Alasan yang bagus, Yuboh.

"Wah, apa kau berasal dari luar negeri? Namamu terdengar asing."

"Kau pasti sangat atletik!"

"Hehe, tidak juga. Tapi terima kasih, kuharap kita bisa berteman baik!"

"Tentu, kita pasti bisa berteman baik!"

Ternyata mengamati dan sedikit memperhatikan sekitar cukup bagus untuk dilakukan, walaupun aku tidak peduli dengan kejadian apa saja yang akan terjadi.

Beberapa menit kemudian, seorang guru laki-laki berambut hitam dan bertubuh tinggi kurus datang memasuki kelas, jika dilihat mungkin tingginya diatas 190 cm. Beliau langsung duduk di kursi guru, membuat banyak siswa panik lalu berhamburan untuk duduk di bangku mereka masing-masing.

"Ya, harap tenang! Aku akan memperkenalkan diriku, namaku adalah Smith Afton, panggil saja pak Smith. Aku akan menjadi wali kelas kalian selama satu tahun penuh, mohon kerjasamanya!"

"Baik, Pak Smith!"

Hanya sedikit siswa yang membuka mulutnya ketika Pak Smith selesai berbicara, mungkin mereka takut dengan tatapan intimidasi yang dikeluarkan olehnya. Tubuhnya lumayan berotot dan tinggi badannya yang seperti atlet lalu tatapannya juga seperti elang yang siap berburu mangsa. Tentu saja itu menakutkan.

"Sebelum aku menjelaskan tentang ujian, ada baiknya kalian saling memperkenalkan diri terlebih dahulu. Dimulai dari kau, perkenalkan dirimu!"

Pak Smith menunjuk jari tangannya ke arahku, itu berarti beliau menyuruhku untuk memperkenalkan diri.

Sebenarnya teman sekelas ku ini sedang bingung dan bertanya-tanya tentang ujian apa yang akan dijalani di hari pertama, tapi karena pak Smith terlalu menakutkan jadinya tidak ada satupun dari mereka yang berani bertanya.

Semua tatapan teman sekelas mengarah padaku. Seperti biasa dan tanpa emosi apapun, tidak perlu berdiri lalu aku langsung mengenalkan diriku.

"Hmm.. ya, namaku adalah Satomi Adney, panggil saja Satomi! Sekian."

"Tunggu Satomi, jangan bercanda! Apakah terlalu sulit bagimu untuk memperkenalkan diri?!"

Tentu saja beliau marah karena perkenalanku yang terlalu singkat. Bahkan aura menakutkannya terasa sangat jelas memenuhi seisi kelas dan itu membuat mereka ketakutan, kecuali diriku sendiri.

"Hmm.. maaf, aku tidak memiliki kelebihan apapun, lagipula tidak ada yang peduli jika aku menyebutkan hal merepotkan seperti hobi dan cita-cita. Bukankah kebanyakan dari mereka hanya akan mengingat bagian pentingnya saja? Seperti nama."

Dengan sedikit bualan, aku menjawab pertanyaannya.

"Menarik sekali Satomi, aku kagum dengan kata-katamu. Baiklah, jika ada satu orang lagi yang memperkenalkan diri sama seperti Satomi, aku akan langsung menyuruhnya keluar. Paham?! Perkenalkan diri kalian dengan benar!"

"Ya! Kami mengerti!"

Semua siswa kecuali aku sontak menjawab dengan tegas ketika Pak Smith mengancam mereka.

Tidak ada yang salah dengan perkenalanku, hanya saja apa yang kulakukan dan kukatakan membuat beliau tak berkutik hingga berujung pada pelampiasan ke siswa lain.

"Selanjutnya kau!"

Pak Smith kembali menunjuk jari tangannya pada seorang laki-laki di sampingku. Tanpa membutuhkan waktu yang lama dia langsung berdiri dan memperkenalkan dirinya. Ternyata dia juga tidak takut dengan pak Smith sama seperti diriku, menarik sekali.

"Yo! Halo semuanya, kalian bisa memanggilku Danna! Aku sangat suka berlari dan cita-cita ku adalah menjadi apapun yang terpenting bisa menghasilkan uang, hahaha!"

Lelaki disampingku bernama Danna, dia terlihat seperti penghibur kelas dengan perkataannya yang seperti itu, bahkan dia masih bisa tertawa sendiri disaat siswa lain sedang ketakutan.

"Ya, setidaknya lebih baik dari Satomi. Selanjutnya!"

Mungkin karena perkenalannya lebih baik dariku, beliau tidak marah dan menyuruh untuk melanjutkannya. Kali ini pak Smith tidak menunjuk jari tangannya karena mereka sudah mengetahui jalan dan gilirannya untuk melakukan perkenalan.

Selanjutnya adalah seorang gadis populer yang seisi kelas sudah mengetahui namanya.

"Izinkan aku memperkenalkan diri, namaku Lina Lyubochka dan panggil saja aku Lina. Hobi ku adalah mempelajari semua hal tentang atletik sedangkan kekuranganku yang paling menonjol adalah aku tidak terlalu menyukai pelajaran matematika. Untuk cita-cita aku ingin menjadi seorang guru olahraga saja, sekian terima kasih!"

"Tepuk tangan semuanya! Perkenalan seperti inilah yang harusnya dapat diterima. Kerja bagus, Lina!"

Pak Smith menjadi bersemangat ketika ada seseorang yang memperkenalkan dirinya sesuai dengan keinginannya. Beliau juga menyuruh semua siswa yang ada di kelas untuk bertepuk tangan.

Demi menghindari pak Smith dalam suasana hati yang buruk, hampir semua siswa bertepuk tangan hingga terdengar bunyi tepukan tangan yang cukup keras.

Apa aku juga melakukannya? Tentu tidak.

Mungkin aku harus memujinya. Yuboh, kau melakukan sesuatu yang baik. Kau membuat suasana kelas membaik karena suara tepuk tangan tadi. Gumam ku.

"Cukup, selanjutnya!"

Untungnya pak Smith tidak mendengarkan apa yang kugumamkan dan Sesi perkenalan terus berjalan.

Aku sudah tidak peduli dengan perkenalan mereka, yang terpenting aku sudah melakukannya lalu memutuskan untuk menyandarkan kepalaku di meja.

Begitulah perkenalan yang panjang dan memakan waktu terus berlangsung, hingga akhirnya semua siswa di kelas sudah memperkenalkan diri mereka.

Jika dipikir-pikir, aku hanya mengetahui dia orang nama teman sekelas ku. Cukup menyedihkan walaupun sebenarnya aku tidak peduli.

"Kerja bagus, kalian semua! Satomi, jangan tidur saat aku akan menjelaskan!"

"Maaf!"

Pak Smith menegurku karena melihat kepalaku yang bersandar di meja lalu tanpa pikir panjang aku langsung meminta maaf, walaupun aku tidak menyesal sama sekali.

"Ya, sekarang aku akan menjelaskan ujian untuk hari pertama kalian. Tolong dengarkan baik-baik! Jadi hari ini kalian hanya akan mencari pasangan bebas dari segi sesama jenis maupun lawan jenis, tapi kalian tidak boleh berpasangan dengan orang yang berbeda kelas. Kalian bisa mendaftarkan diri ke kantor guru ketika sudah mendapatkannya. Untuk waktunya hanya sampai pukul tiga sore, lebih dari itu kalian akan mendapatkan hukuman. Mengerti?"

"Siap, mengerti!"

Guru yang memiliki aura menakutkan memang berbeda, pak Smith dengan mudah membuat seisi kelas mendengarkan dan mengikuti perkataannya. Walaupun kebanyakan dari mereka terlihat bingung, mereka tetap memaksakan diri untuk memahaminya.

"Jika tidak ada pertanyaan, sekian untuk hari ini. Tidak ada pelajaran untuk hari pertama, kalian bebas berkeliaran di sekolah ini tapi jangan ada yang kembali ke asrama sebelum pukul tiga sore!"

"Siap!"

Selesai berpamitan singkat, pak Smith langsung keluar kelas sambil membawa aura menakutkannya, bahkan beberapa siswa masih tidak berani berbicara ketika dia sudah berada di luar kelas.

"Hei, hei. Apa kalian mengerti tentang ujiannya?"

"Kurasa kita hanya perlu berpasangan."

"Memang, tapi bukankah salah seorang menginginkan berpasangan dengan Lina?"

Dirasa pak Smith sudah diluar jangkauan mereka, akhirnya para siswa berani membuka mulutnya dan suara kebisingan mulai terdengar.

Sesuai dengan perkiraan ku, para siswa laki-laki di kelas ingin berpasangan dengan Lina.

"Ini agak sulit, jika kau memiliki kelebihan maka kau akan dengan mudah berpasangan dengan orang yang kau inginkan, tapi itu berbeda ketika kau menjadi orang bodoh seperti dia."

"Kalau tidak salah, namanya Satomi bukan? Dia bahkan berani banyak bicara dengan seorang guru yang menakutkan, aku jadi tidak mengerti kenapa orang sepertinya bisa masuk ke sekolah ini."

"Kau benar, dia sangat aneh dan aku tidak ingin berpasangan dengannya."

Meskipun banyak siswa yang terkejut dengan ujian di hari pertama, mereka tetap bisa menutupinya dengan baik. Bahkan beberapa dari mereka membicarakan tentang aku yang melakukan kesalahan hingga membuat pak Smith kesal.

Sepertinya mencari pasangan akan menjadi hal yang merepotkan karena reputasi ku sedikit menurun karena hal konyol.

Perasaanku saat ini?

Tentu saja tetap datar dan tanpa emosi apapun, ditambah lagi aku tidak peduli dengan mereka. Aku yakin kalau aku akan baik-baik saja walaupun tanpa memiliki pasangan.

Kesan pertamaku tentang sekolah ini?

Merepotkan.

Chapter 2: Pertemuan Tak Terduga

Mencari pasangan, sebenarnya ini mudah dilakukan karena siswa di kelas berjumlah 31 orang. Seharusnya hanya satu siswa yang tidak akan mendapatkan pasangan, karena itulah para siswa harus segera memilih dan mendaftarkan pasangan mereka dengan cepat.

Aku melihat jam dinding di kelas dan mengetahui kalau sekarang adalah pukul 9 kurang 10 menit. Masih ada waktu sekitar 6 jam 10 menit lagi sebelum terlambat mendaftar.

Bahkan untuk sekarang aku tidak tahu harus berbuat apa karena keadaan kelas yang sepi, aku hanya duduk terdiam di bangku depan sambil memikirkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi dari ujian pasangan ini.

Banyak para siswa yang berkeliaran untuk mengenal lingkungan sekolah lebih jauh, jika dilihat-lihat, hanya ada sekitar 4 orang termasuk aku di kelas ini.

Ini membosankan dan terlalu merepotkan, aku sempat terpikir untuk berpasangan dengan orang yang bisa diandalkan agar aku bisa bersantai dan membiarkannya untuk mengerjakan sesuatu sendiri.

Semua sudah jelas. Ketika mendengar kata pasangan, maka itu berarti ada sesuatu yang akan dilakukan secara berpasangan. Baik itu dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

"Lina akan berpasangan denganku, kau cari saja yang lain!"

"Hah. Apa kau bilang?!"

"Aku menjadi orang pertama yang dijawab olehnya saat aku bertanya, jadi dia tertarik denganku bukan?"

Baru beberapa saat menikmati ketenangan, dua orang yang sama-sama memiliki tubuh yang besar ini datang memasuki kelas dan saling beradu mulut untuk memperebutkan Lina.

Kurasa ini wajar terjadi, kurang lebih sama seperti perkelahian dalam memperebutkan seorang pacar idamannya. Mereka berdua membuat seisi kelas yang tadinya sepi menjadi keramaian orang.

Tidak hanya dari kelas E, banyak siswa dari kelas lain yang juga penasaran dengan keributan yang terjadi.

"Kau mau berkelahi?!"

"Boleh saja, aku akan meladenimu sialan!"

"Kau yang sialan!"

Suara mereka berdua terdengar dengan sangat keras, tentu saja itu semakin mengundang banyak siswa untuk menonton keributan yang telah mereka buat.

Cukup, aku tidak ingin terlibat dan menjadi saksi atas kejadian ini. Kurasa lebih baik jika aku ikut berkeliaran dan berjalan-jalan untuk mengenal lingkungan sekolah ini.

Aku bangkit dari kursi ku lalu berjalan melewati kerumunan orang-orang yang menyaksikan perkelahian. Mereka bahkan tidak melerai keduanya dan terus menyaksikan dengan berbagai macam ekspresi, mungkin mereka takut atau semacamnya.

Yang paling kuat pasti akan mendapatkannya, hanya itu satu-satunya cara.

Berjalan santai menikmati ketenangan adalah salah satu caraku untuk menghabiskan waktu. Entah sudah berapa lama aku berjalan, tanpa terasa lingkungan sekolah sudah terlihat asing.

Mungkin aku tersesat, tapi aku tidak peduli karena aku masih bisa bertanya kepada seseorang yang menjadi warga sekolah di sekitar sini, baik itu kakak kelas maupun guru itu sendiri.

Aku jadi penasaran seberapa luas sekolah ini, termasuk ukuran pastinya. Kupikir aku akan menemui ujung sekolah yang dihalangi oleh tembok dan para siswa nakal akan membolos keluar melewati tembok itu. Tapi ternyata aku salah, sekolah ini lebih luas dari perkiraan ku.

"BRUK!"

Tanpa diduga seseorang menabrak ku saat sedang berjalan santai, tentu saja ini diluar dugaan. Aku ingin terkejut tapi kurasa perasaan itu tidak akan bisa keluar.

Perlahan aku membalikkan badan dan melihat seorang gadis berambut perak yang sepertinya terus berjalan dengan rasa panik hingga tanpa sadar menabrak diriku.

"Kau tidak apa-apa?"

"Anu, maafkan aku! Aku tidak sengaja! Eh tunggu, apa kau Satomi?"

Sesaat setelah meminta maaf, gadis ini bertanya padaku dengan ekspresi kebingungan.

Padahal aku ingin segera meninggalkannya, tapi dia mengenalku dan mungkin saja gadis ini adalah teman sekelas ku. Tidak ada kemungkinan lain selain itu, karena aku tidak pernah memperkenalkan diriku pada orang lain kecuali teman sekelas ku sendiri.

"Darimana kau tahu namaku?"

"Huh, kau bahkan tidak mengingat teman sekelas mu sendiri!"

Ternyata memang benar.

"Bukan tidak mengingat, aku hanya tidak peduli."

"Kau memang orang aneh!"

"Memangnya kenapa? Aku tidak peduli. Kalau tidak ada urusan lagi, aku akan pergi!"

Kurasa dia hanya ingin berbasa-basi denganku untuk menghilangkan rasa paniknya itu, jadi aku langsung kembali berjalan santai meninggalkannya.

"Tunggu!"

Seseorang menarik tangan kananku, tentu saja dia adalah orang yang sama.

"Ada apa?"

"Anu, sebenarnya aku sedang diuntit oleh teman sekelas ku sendiri. Tolong aku Satomi, tetaplah bersamaku hingga mereka pergi!"

Aku mengerti ada yang salah dengan pertemuan tak terduga ini. Kurasa dia sedang ketakutan karena diikuti dan dipaksa oleh teman sekelas untuk jadi pasangannya, lalu tanpa sadar dia tersesat karena terus menghindarinya. Dan secara kebetulan aku juga berada di tempat yang sama dengannya, ini hanya perkiraan ku untuk sementara.

"Aku tidak keberatan, tapi kenapa harus aku? Jika kau meminta kakak kelas yang dapat diandalkan untuk melindungi mu, maka semuanya akan jauh lebih mudah."

"Tidak, hanya saja. Meminta tolong kepada teman sekelas lebih baik daripada orang lain."

"Begitu ya?"

"Ya, kumohon tolong aku. Satomi!"

Gadis ini menundukkan kepalanya dengan tulus pertanda dia benar-benar membutuhkan pertolongan.

Bagaimana cara untuk merubah perasaanku?

Aku tetap saja tidak peduli walaupun sudah melihat ketulusannya itu, baru kali ini dalam hidupku ada seseorang yang menundukkan kepala padaku dengan tulus.

Aku memang aneh dan aku menyadarinya. Apalagi teman sekelas ku dulu ada yang kesal hingga bertanya padaku.

Apakah kau benar-benar manusia?

Kurasa mereka bertanya seperti itu karena ketidakpedulian ku terhadap orang lain, singkatnya mereka menganggapku adalah orang yang egois dan hanya mementingkan diriku sendiri.

"Begini saja, bagaimana kalau kita membicarakannya di tempat lain? Kakiku terasa cukup lelah jika terus berdiri."

"Jadi maksudmu aku harus menceritakan kejadiannya lebih dulu?"

"Baguslah kau cepat mengerti, kalau begitu ayo kita bersantai di taman itu!"

"Aku mengerti."

Bukan tanpa alasan aku mengajaknya untuk berpindah tempat, itu karena sang penguntit akan dengan mudah mendengarkan pembicaraan kami di sela-sela bangunan. Berbeda dengan taman, tempat itu sangat beresiko bagi seorang penguntit kelas bawah.

Jarak antara aku dan gadis ini menuju taman hanya sekitar 50 meter, jadi hanya perlu beberapa menit untuk sampai disana.

Sesampainya disana, mataku langsung terpaku dengan keindahan taman ini. Hamparan bunga yang indah dan pepohonan hijau mengisi seisi taman, melihatnya saja sudah membuat diriku merasa sangat tenang.

"Aku jadi ingin berbaring, bukankah ini sangat indah?"

"Ya, tolong jangan lupakan janjimu untuk menolongku!"

"Aku mau saja mendengarkan masalahmu, tapi aku belum tentu bisa menolong. Lagipula aku belum berjanji apapun padamu."

Tanpa pikir panjang aku langsung berbaring di rerumputan yang hijau ini, rasanya sangat lembut dan seperti berada di lapangan golf. Lalu kemudian gadis ini ikut berada di sebelahku, dia hanya duduk sambil menatap wajahku.

"Curang sekali, apa kau marah karena aku sudah menabrakmu?"

"Sudah kubilang aku tidak peduli, rambut perak. Dari awal aku hanya ingin bersantai."

"Kenapa kau memanggilku rambut perak?! Apa kau juga tidak mengingat nama ku?"

Gadis ini mendadak marah, padahal sebelumnya dia hanya merasa takut dan panik.

"Bisa dibilang seperti itu, kau bisa cari seseorang yang jauh dapat diandalkan daripada diriku. Hanya itu saran yang bisa kuberikan."

"Jangan mengalihkan topik, Satomi! Aku juga memiliki alasan tersendiri atas tindakan keras kepala ku ini."

"Begitu ya?"

"Harlow Elaina, itu namaku. Panggil saja Elaina, biarkan aku menceritakan kejadiannya padamu!"

Jadi namanya adalah Harlow Elaina, seorang gadis yang menjadi teman sekelas ku untuk beberapa tahun kedepan. Dia lumayan tinggi dan memiliki daya tarik yang tidak kalah dari Lina, kurasa wajar saja jika dia juga menjadi incaran para lelaki di kelas.

"Kalau begitu Elaina. Salam kenal, aku Satomi!"

"Ya, bisa aku ceritakan sekarang?"

"Tentu."

Elaina bercerita panjang lebar tentang kejadian yang menimpanya pagi tadi setelah pak Smith keluar kelas. Dari tindakan paksa yang dilakukan oleh mereka hingga mengancam Elaina dengan hal yang ditakutinya.

Beberapa teman sekelas Elaina adalah teman SMP yang satu angkatan dengannya, jadi mereka dapat mengetahui apa yang Elaina takuti. Dia sangat takut dengan hewan berkaki banyak apalagi dengan laba-laba sekecil apapun ukurannya.

"Seperti itulah Satomi, aku sangat takut sekarang!"

"Apa kau tahu jumlah pastinya?"

"Satu orang, laki-laki."

"Dan dia menguntit mu diam-diam?"

"Mungkin saja. Aku juga tidak tahu, tolong!"

Dengan nada bicara yang semakin mengecil, Elaina terus meminta tolong padaku. Kurasa suaranya telah habis karena ketakutannya lalu memaksakan diri untuk bercerita padaku.

"Begini Elaina, aku hanya orang yang lemah dan aneh. Bukankah kau sudah tahu ketika melihat caraku memperkenalkan diri?"

"Kalau itu, anu. Ya, Aku merasa kau orang yang tepat."

"Apanya yang tepat?"

"Eh?! Lupakan saja!"

Gadis ini, dia mencurigakan dan sedikit merepotkan. Dari awal aku merasakan ada yang aneh ketika pertemuan ini terjadi, rasanya terlalu sulit untuk dikatakan kebetulan karena aku berjalan santai mengikuti rute yang terpikir dalam otakku sendiri.

Aku dapat merasakan beberapa hal darinya, seperti perasaan takut, perasaan panik, dan juga perasaan tulusnya yang ingin meminta tolong. Ini membuatku bingung.

"Elaina, sepertinya kau akan menghadapi masalahmu sekarang. Lihat belakangmu!"

Aku menyadari kalau ada seseorang yang mendekat ke arah kami dan aku pun memperingatkan Elaina. Lalu dia berbalik dan setelahnya, wajah ketakutannya kembali muncul.

"Satomi, bagaimana ini?!"

Ternyata memang benar kalau dia adalah teman sekelas kami, mungkin juga satu SMP dengan Elaina.

"Maaf Elaina, aku tidak bisa membantu apapun. Hadapi dia sesukamu, kau bisa bersembunyi atau lari darinya walaupun kurasa percuma saja, kalian akan tetap bertemu di dalam kelas."

Aku langsung bangkit dari rumput taman yang telah membuatku merasa tenang, meninggalkan Elaina seorang diri yang sedang dalam keadaan terpuruk. Tujuanku sekarang adalah kembali ke kelas karena aku sudah merasa puas dengan ketenangan yang kudapatkan.

Elaina akan menghadapi seseorang yang ditakutinya, kuharap dia tidak merasa putus asa.

Kenapa aku tidak menolongnya walaupun aku bisa?

Dari dulu aku selalu merasa kerepotan dan tidak ingin berhubungan dengan seorang gadis lebih jauh. Itu karena dari semua gadis yang pernah kutemui, aku sama sekali tidak bisa menebak tindakan dan emosi mereka yang selalu berubah-ubah.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!