"Hayati..! "teriak seorang wanita paruh baya dari balik dinding kayu rumahnya.
Hayati yang saat itu tengah menjemur pakaian seketika menjawab. "Iya ,mak.." jawab Hayati .
Lalu ia masuk kedalam dan menemui sang ibu yang sedang memasak nasi goreng di dapur.
" Ada apa,mak ..?" tanya Hayati.
"Sini ,cepat makan ini emak udah beres masak nasi goreng kesukaanmu."
"iya mak," jawab Hayati.
Tanpa lama -lama Hayati langsung memakan nasi goreng buatan sang ibu.Yah,walaupun wanita paruh baya itu bukanlah ibu kandung Hayati,tapi Hayati sangat menyayanginya, terlebih wanita paruh baya itu sangat peduli terhadap Hayati .Semenjak sang ayah meninggal dunia ,saat Hayati berusia 5 tahun,sang ibu tiri lah yang merawatnya hingga saat ini ia beranjak remaja.
Fatimah sang ibu tiri tidak pernah sedikitpun mengeluh ,ia mencurahkan seluruh kasih sayangnya untuk Hayati.
" Mak....,aku berangkat sekolah dulu ya ," ucap Hayati sambil menggendong tas lusuhnya.
"iya...hati hati ." ucap sang ibu.
Seperti biasa Hayati berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki,jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh sehingga Hayati selalu mengambil jalan pintas,yaitu menyusuri pematang sawah.
Dengan cepat Hayati melangkahkan kakinya menuju ke sekolah,di perjalanan ia bertemu dengan teman temannya.
" Hayati kamu cantik sekali pagi ini !"
kata Nani teman Hayati yang paling klop dengannya,yah Hayati memang memiliki tubuh yang tinggi dan kulit yang bersih,untuk gadis kelas 6 sekolah dasar ia memang paling tinggi diantara teman temannya.
"ih, kamu mah bisa aja" jawab Hayati.
"hihi..." Nani cekikikan sambil terus menggoda Hayati.
Lonceng di sekolah dasar negeri itu berbunyi,menandakan pelajaran telah usai .
Diperjalanan pulang Hayati bertemu dengan seorang pemuda.
"Hai....! sapa pria itu.
Hayati hanya tersenyum sambil menunduk,sambil terus berjalan .
"Hayati, itukan si Bambang ,anaknya tuan tanah di kampung sebelah ?" ucap Nani sambil menepuk pundak Hayati.
"Aku tidak tahu Nani, kamu kenal pemuda itu?" tanya Hayati.
"Ya iyalah aku tahu,dia kan pemuda paling ganteng di kampung sebelah,ayahnya seorang tuan tanah,ibunya punya toko emas di kota." jelas Nani dengan semangat.
" Aku belum pernah melihat dia sebelumnya."ucap Hayati sambil membetulkan tali sepatunya yang lepas.
"Ya,iyalah...dia kan baru pulang dari Jakarta,selama ini dia tinggal di kota bersama tantenya."kata Nani.
"Oh,begitu.Pantesan aku baru melihatnya."ungkap Hayati sambil sedikit memonyongkan bibirnya yang mungil.
" Sepertinya dia menyukaimu,Hayati .Coba lihat dia terus saja memandang mu."
"Hus..apa sih,Leha.Kamu jangan ngomong kaya gitu ah,kita ini baru kelas 6 SD." ucap Hayati serius.
Sesampainya di rumah Hayati langsung menuju dapur mencari Fatimah sang ibu tiri berhati malaikat.
"Mak.Hayati pulang ! "
"Emak di belakang ,sedang mencari kayu bakar."ucap emak Fatimah.
Hayati pun bergegas mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian sehari -hari. Hayati hanya memiliki beberapa potong pakaian itupun sudah lusuh, tetapi Hayati tidak pernah mengeluh,ia sadar bahwa kehidupannya saat ini adalah takdir yang harus ia syukuri. Semenjak sang ayah meninggal ,untuk mencukupi kebutuhan sehari -hari ,sang ibu bekerja di sawah dan ladang milik tetangga.
Sore itu,saat emak Fatimah sedang duduk di bangku depan rumahnya,seorang pemuda mendekatinya.
"selamat sore ,mak !"ucap pemuda itu.
"selamat sore ! " jawab emak Fatimah sambil memandang pemuda itu dari atas sampai bawah.
Pemuda berusia 28 tahun dengan kulit putih bersih, berpakaian bagus dan rapi.Dia adalah Bambang.
bersambung...
"Permisi bu." sapa Bambang pada Fatimah ,ibu tiri dari Hayati.
" Iya,ada apa yah?"tanya Fatimah .sambil melangkah mendekati pemuda itu.
" Hayati nya ada bu?" tanya pemuda itu lagi.
"Ada, memang nya ada perlu apa sama Hayati?"tanya Fatimah serius.
" Kenalkan bu,saya Bambang putera pak Ahmad dari kampung sebelah." ungkap Bambang dengan penuh sopan santun .
" Oh, ini puteranya pak Ahmad , dulu emak ingat masih kecil,sekarang sudah besar begini ,tampan pula."sahut Fatimah dengan ramah.
"Iya bu ,Alhamdulillah." ucap Bambang dengan bangga,lalu mencium punggung tangan Fatimah.
"Panggil saja emak,jangan panggil ibu nak Bambang,malu emak kan orang tidak punya." ucap Fatimah kepada Bambang dengan sedikit tertawa.
"Iya,mak.Terima kasih."jawab bambang dengan bahagia.
"Sebentar ,emak panggil Hayati dulu ."ucap Fatimah sambil berjalan kedalam rumah.
"iya ,mak terimakasih."
Tak berapa lama,Hayati muncul dengan menggunakan rok panjang dengan atasan lengan panjang berwarna merah muda.Menambah kecantikan gadis belia itu.Membuat mata Bambang tidak berhenti menatapnya.
"Hayati !" ucap bambang sambil menatap gadis itu .
"Iya ,ada apa yah" jawab Hayati.
" Saya Bambang,kamu pasti sudah tau siapa saya."ucap Bambang.
Hayati hanya diam saja dan mendengarkan ucapan Bambang dengan tertunduk.
"Hayati,kenapa kamu tidak bicara?"tanya bambang dengan lembut.
"Maaf ,saya tidak paham maksud kedatangan abang kesini apa yah?" tanya Hayati sambil terus menunduk,tak berani menatap mata Bambang.
"Hayati, abang Bambang suka sama Hayati,abang jatuh hati padamu,saat pertama kali melihatmu ." ungkap Bambang dengan penuh keyakinan.
Hayati terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Bambang,lalu ia melihat ke arah Bambang dan berkata :" Maaf bang, Hayati masih kecil,belum ngerti yang gitu -gitu, umur Hayati baru 13 tahun."
" Dengar Hayati,saya tau betul soal itu,dan saya benar-benar jatuh hati kepadamu,saya akan menunggumu sampai kamu dewasa,sampai kamu sudah siap." ucap Bambang penuh keyakinan akan mendapatkan gadis pujaannya itu.
"Tapi saya belum memikirkan hal-hal semacam itu,saya ingin fokus belajar,supaya kelak menjadi orang sukses dan bisa membahagiakan emak saya." ucap Hayati sedikit bergetar suaranya,tak dapat di pungkiri ,Hayati juga menyukai ketampanan Bambang,gadis mana yang bisa menolak pesona Bambang sahputra ,pemuda dari keluarga berada dan berpendidikan tinggi,sopan santun serta rupawan.
" Iya ,Hayati saya tau.Saya hanya ingin kau jadi milikku suatu saat nanti,saya akan menunggumu sampai saat itu tiba.Sementara ini saya akan kembali ke Jakarta.Ku harap kau mau menungguku Hayati." pinta Bambang dengan penuh harap.
Hayati kaget dengan apa yang baru saja ia dengar,ia pun tertunduk malu dan tak tau harus berkata apa.
"Hayati,besok saya akan kembali ke Jakarta.Saya harap kamu mau menunggu saya kembali,saya akan membiayai seluruh sekolahmu.Mau kah kau berjanji padaku,Hayati ?" ucap Bambang memohon.
Tak kunjung ada jawaban dari Hayati, Bambang pun beranjak dari duduknya.
"Baiklah ,saya permisi pulang Hayati,jaga dirimu baik-baik ya, besok pagi saya berangkat ke kota."
sambil tersenyum Bambang mohon pamit kepada Hayati dan Fatimah yang saat itu kebetulan keluar dari dalam rumah .
" iya bang."ucap Hayati singkat.
" Hati - hati nak Bambang " ucap Fatimah kepada Bambang yang sedang mencium tangannya.
"Terima kasih mak."saya titip Hayati mak." pinta Bambang kepada Fatimah sambil berlalu meninggalkan Fatimah dan Hayati yang masih bengong.Tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut pemuda tampan itu.
"Hayati, sepertinya nak Bambang menyukaimu."ucap Fatimah.
Hayati hanya diam saja ,perasaannya masih bimbang antara senang atau sedih.
"emak,Hayati kan masih kecil, udah ah jangan ngomongin dia terus ,Hayati mau kedalam dulu ." ucap Hayati sambil melangkah kedalam kamarnya.
Di dalam kamar Hayati masih kepikiran tentang ucapan Bambang tadi.
"Apa iya abang Bambang mau menunggu saya dewasa."
ucap Hayati dalam hati ,sambil tersenyum.
Sementara di kediaman keluarga Pak Ahmad, bapa dari Bambang sahputra,semua orang sudah berkumpul untuk makan bersama. Ini kali pertama mereka makan bersama di rumah setelah bertahun - tahun Bambang tinggal di kota,karena Bambang jarang pulang ke kampung di karenakan pekerjaannya di kota yang tidak bisa di tinggal lama.Sedangkan keluarganya selalu datang ke kota untuk menemuinya.
"Bang, ayo cepat kita makan bareng,ibu udah lapar nih." ucap Komala ibu dari Bambang ,Rosidah dan sari. Iya,Bambang adalah anak kedua dari pak Ahmad dan Komala ,Rosidah anak pertama dan Sari anak bungsu mereka.
"Iya bu ." ucap Bambang.
mereka pun bersantap bersama dengan penuh kebahagiaan.
Keesokan paginya Bambang sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kota, kak Rosidah memeluk sang adik yang ia sayangi akan pergi lagi meninggalkan mereka.
"Kenapa sih cepat - cepat pergi lagi,kakak kan masih kangen sama kamu ." ucap Rosidah dengan sedih.
"Iya kak,maaf tapi mau gimana lagi kerjaan di sana siapa yang urus,kan kaka tau om Gilang udah sering sakit-sakit .Siapa lagi kalo bukan aku yang urus."ucap Bambang sambil memeluk kakaknya.
"Sari ,kenapa kmu dari tadi diam saja?"tanya Bambang pada adik bungsunya yang masih duduk di bangku SMA.
"Aku kesal sama kakak ,masa aku ingin ikut ke Jakarta gak boleh.Aku juga kan ingin tinggal di kota kaya kakak, biar putih gitu,lihat nih kulit aku gosong gini kelamaan tinggal di kampung." cerita Sari sambil monyong- monyong bibirnya.
"Ha..ha..Sari ,Sari .Kamu tuh ada -ada aja ,itu mah udah dari sono nya kulit kamu item." goda Rosidah .
"Ih, kak Rosidah awas yah, bilangin ibu ." rengek Sari.Meskipun Sari sudah SMA ,tapi kelakuannya masih seperti anak SD,dia terlalu manja karena limpahan kasih sayang dari orang tua dan kakak-kakaknya.
"Sini peluk kakak ."ucap Bambang pada Sari.
"Ibu juga mau di peluk dong." pinta bu Komala pada ke tiga anaknya,sementara Pak Ahmad hanya memperhatikan mereka, pak Ahmad tergolong orang yang pendiam,tegas dan berwibawa sehingga di hormati oleh warga kampung itu maupun keluarganya.
"Ayo siap -siap ,nanti keburu siang ." tegas pak Ahmad.
Mobil pun melaju diiringi lambaian tangan keluarga Bambang .Di perjalanan Bambang teringat dengan Hayati gadis desa yang telah mencuri hatinya, ia bertekad kelak saat kembali,ia akan meminang gadis itu .
"tunggu aku Hayati ."gumam Bambang.
Hayati duduk termenung sambil mengupas kulit kacang tanah, Fatimah menyuruhnya melakukan itu karena mereka akan membuat sambal dari kacang tanah.Dalam hati Hayati bergumam:" Apakah Bambang sudah pergi ?"
bersambung...
Hari berganti bulan,bulan berganti tahun ,kini Hayati telah lulus SMP ,ia sedang bingung apa yang harus di lakukan ,ingin sekali ia melanjutkan ke SMA .Tapi Hayati sadar diri,darimana ia akan mendapatkan uang untuk biaya masuk SMA .Sedangkan untuk makan sehari -hari saja serba kekurangan. Ibu nya yang setiap hari bekerja di ladang dan sawah milik tetangga ,sedangkan ia berjualan kue keliling jika libur sekolah.
"Hayati, kenapa kau melamun nak?" tanya Fatimah penasaran sebab dari kemarin dilihatnya Hayati murung .
"Tak ada apa-apa mak, hanya saja kemarin guru Hayati bertanya apa Hayati akan melanjutkan ke sekolah menengah atas atau tidak.Hayati bingung mak?" jelas Hayati sambil mengusap matanya yang mulai basah.
"Anakku,maafkan emak mu ini belum bisa mendapatkan uang untuk pendaftaran masuk SMA ,emak coba mencari pinjaman ke saudara kita ,tapi hasilnya nihil." sedih Fatimah .
"Mak, biarlah Hayati tak usah melanjutkan sekolah,biarlah Hayati bekerja membantu emak di sawah,nanti kalo kita sudah punya uang Hayati bisa melanjutkan sekolah ." ucap Hayati sambil memeluk ibunya.
"Anakku, emak sedih jika kau bersedih.Seandainya dulu sawah kita tidak kita jual,mungkin saat ini kita kau bisa melanjutkan sekolah mu,dan kehidupan kita tidak akan sesulit ini." ucap Fatimah sambil terus meneteskan air mata.
"Emak, jangan menangis,ini sudah jadi takdir hidup kita." Hayati mencoba menenangkan sang ibu.
" Hayati emak harap kelak kau akan hidup enak,menemukan jodoh yang bisa membahagiakan mu nak,dari kecil kau hidup susah,semoga kelak kau bahagia ,anakku." doa sang ibu untuk anak tercinta.
"Aamiin. Hayati berterima kasih emak sudah merawat Hayati sedari kecil sampai sekarang."ucap Hayati sambil memeluk tubuh renta sang ibu.
Sementara di kediaman pak Ahmad ,bu Komala sedang menyiram tanaman di pekarangan rumahnya yang luas, sesekali ia mencabuti rumput yang tumbuh liar di sekitar bunga bunga kesayangannya.
" Bu. Aku minta uang dong !" teriak Sari dari depan teras rumahnya.
" Kamu tuh ya, uang terus ,buat apa lagi sekarang?"tanya Komala.
"Aku mau jalan sama teman- teman ku ." jawab Sari.
"Nih ,awas pulangnya jangan malam -malam ,nanti bapa mu marah sama ibu." terang Komala.
"Siap ,bu."
" Aku pergi dulu ya"pamit sari lalu melangkah pergi meninggalkan sang ibu.
Tak lama kemudian datang Rosidah dan suaminya Anwar ,mereka belum memiliki keturunan meski pun mereka menikah sudah menginjak 3 tahun.
" Bu ,bang Anwar akan ke peternakan memeriksa jumlah pakan yang di perlukan." jelas Rosidah.
"oh,iya -iya,jangan lupa catat juga berapa ayam yang mati hari ini, kemarin ibu dengar ayam kita pada mati,tolong kamu periksa juga ayam -ayam yang masih hidup ,kalo - kalo ada yang sakit,langsung potong saja." perintah Komala kepada Anwar.
" Baik bu."jawab Anwar
" Bu hari ini Bambang jadi pulang kan?"tanya Rosidah.
" Ya jadi dong ,kalo enggak ibu susul ke kota ." jawab Komala sambil tertawa.
Sementara di Jakarta.Bambang yang sedang melayani pelanggan di toko bahan bangunan milik sang paman itu.Yah Bambang di percaya oleh pamannya yang bernama Gilang untuk mengelola tempat usaha nya,dikarenakan om Gilang sering sakit -sakitan.Sementara beliau tidak memiliki keturunan.Hanya Bambang lah yang ia percaya,ia merawat Bambang dari kecil karena sang istri tidak kunjung hamil.
Bambang mendapatkan telepon dari istri om Gilang.
" Bambang,cepat pulang.om ,om Gilang Bang,om Gilang !" suara istri om Gilang sambil menangis.
" Tante, ada apa dengan om Gilang?" tanya Bambang.
" om Gilang meninggal .Hiks..Hiks.." menangis istri om Gilang semakin kencang.
" Inalillahi.Bambang segera pulang ,tante." jawab Bambang lalu menutup telepon nya.
Sesampainya di rumah ,om Gilang sudah terbujur kaku ,dengan di tutupi kain kapan.
" Om, maafkan Bambang ,om !"isak Bambang sambil memeluk jasad pamannya.
Suasana di rumah om Gilang pilu dengan tangisan orang orang terdekat om Gilang, jenazah belum di kebumikan karena menunggu keluarga dari kampung om Gilang yaitu keluarga Bambang.
Sore hari ,akhirnya jenazah om Gilang di kebumikan,setelah semua keluarga hadir.
Mereka semua larut dalam kesedihan.
Beberapa hari kemudian, datang dua orang pria berpakaian rapi menghampiri istri om Gilang yang sedang duduk termenung di depan teras rumahnya.
"Permisi bu, kami dari pihak bank, apa betul ini dengan bu Arini ,istri dari mendiang bapak Gilang?" jelas kedua pria itu.
" Iya betul,ada apa ya,pak?" tanya Arini heran.
" Begini bu, kami minta maaf sebelumnya,ini adalah surat-surat kepemilikan rumah dan tempat usaha bahan bangunan milik pak Gilang yang telah di gadaikan kepada kami."jelas pria itu.
" Apa? " Arini kaget dengan pernyataan kedua pria itu.
" Iya bu, jadi waktu masih hidup ,pak Gilang meminjam sejumlah uang dengan nilai yang besar kepada kami dengan menggadaikan rumah dan tempat usaha nya, dan selama ini pak Gilang tidak membayar selama 3 bulan,oleh sebab itu kami akan menyita seluruh rumah dan tempat usahanya."jelas kedua pria itu panjang lebar.
Bambang yang tidak sengaja lewat,dan mendengar percakapan mereka sangat terkejut.Di tidak menyangka kalau selama ini pamannya memiliki hutang yang sangat besar,mungkin itulah sebab nya om Gilang sering sakit.Hingga beliau meninggal dunia, menanggung penderitaan seorang diri ,tanpa ada yang tahu.
Seketika Arini pingsan,dia benar - benar syok dengan kejadian yang begitu tiba - tiba ini ,baru kemarin ditinggal sang suami .Sekarang ia harus menghadapi kenyataan ,seluruh hartanya akan sirna dalam sekejap.
Setelah siuman Arini berbicara pada Bambang.
"Bang ,besok pagi kita berangkat ke kampung orang tua mu, tante ingin membicarakan semua ini dengan ibu mu." ucap Arini dengan suara serak karena terus terusan menangis.
" iya tante."
Keesokan pagi .Mereka pun berangkat menuju kampung tempat tinggal keluarga Bambang.
Sore hari mereka baru sampai.
mereka pun berkumpul di ruang keluarga ,karena Arini ingin semua hadir untuk membicarakan masalah yang menimpanya.
" Begini mbak, saya datang kesini untuk mengatakan kepada kalian ,kalo ternyata almarhum bang Gilang telah menggadaikan seluruh harta benda kami kepada pihak bank.Selama ini almarhum tidak pernah mengatakan apa pun kepada saya.
Saya sangat terpukul dengan semua kejadian ini,oleh karen itu, peternakan,sawah dan ladang yang ada di sini terpaksa saya ambil,karena saya butuh untuk bertahan hidup dan melunasi sisa- sisa hutang almarhum." jelas Arini panjang lebar .
Bagai petir di siang bolong ,keluarga Bambang sangat terkejut ,terutama pak Ahmad dan bu Komala.Bagaimana tidak aset yang selama ini mereka jaga dan rawat akan di ambil pemiliknya,apa kata orang - orang kalo mereka tahu bahwa harta yang selama ini mereka agung -agung kan ternyata milik om Gilang.
Mau bagaimana lagi ,mereka hanya bisa pasrah .
"Rumah ini sebagian milik Ahmad jadi rumah ini tidak akan saya ambil dan satu petak sawah akan saya berikan untuk kalian bisa bertahan hidup dengan hasil tani." ucap Arini, dia juga masih punya perasaan,bagaimanapun mereka saudara almarhum suaminya .
Setelah semua selesai Arini pun kembali ke kota,untuk melanjutkan hidupnya.
Sementara Bambang,ia tidak akan ke kota lagi ,karena sudah tidak ada lagi yang bisa ia kerjakan di sana.
" Bu, kita bangkrut !" teriak Rosidah dengan air mata yang mengalir.
" hiks..hiks..ibu tidak menyangka ini semua akan terjadi pada kita."keluh Komala.
" Sabar bu,ini semua sudah kehendak Tuhan."
" Bapak ini, sabar ,sabar bisanya.apa gak nyesek harta kita hilang begitu saja?" teriak Komala pada sang suami.
"Bu, jangan bicara seperti itu,gini - gini aku suami mu ! " jawab pak Ahmad dengan suara lantang.
Komala hanya bisa menangis sambil pergi meninggalkan suaminya ke kamar.
Sementara Bambang yang menyaksikan semua itu hanya bisa menarik napas panjang,jujur ia juga sangat terpukul.Rencananya saat ia kembali akan melamar Hayati .Tapi bagaimana saat ini kondisinya seperti ini.
" Ah, aku tidak peduli,pokoknya aku akan tetap melamar Hayati secepatnya,aku tidak mau gadis pujaan ku di ambil orang." ucap Bambang dalam hati.
Pagi itu Bambang masih tertidur di kamarnya,saat Sari menggedor- gedor pintu kamarnya.
"Apa?" bisa gak berisik ?" teriak Bambang kepada Sari.
" Kakak,ko kakak galak gitu sih ,biasanya gak pernah bentak Sari." ucap Sari sedih.
" Sudah pergi sana,aku masih ngantuk." teriak Bambang sambil menutup pintu kamar nya.
Memang ,semenjak peristiwa itu Bambang jadi tempramental ,sering marah - marah,kerjaannya hanya tidur dan nongkrong .
Bu Komala juga tidak memperdulikan anaknya itu,ia juga sama - sama syok atas kejadian itu.
Sore itu,Bambang duduk di samping sang ibu ,yang sedang berbicara dengan Rosidah.
"Bu, Bambang ingin bicara penting." ucap Bambang.
" Katakanlah." jawab Komala.
" Bu,aku ingin melamar seorang gadis." ucap Bambang dengan menatap sang ibu.
" Apa? " Komala kaget dengan yang di ucapkan Bambang .
" Gadis yang mana ,yang kau maksud?" tanya Komala penasaran .Karena selama ini Bambang tidak pernah membawa seorang gadis pun ke rumah.
" Iya bu, gadis itu bernama Hayati ,anak dari mak Fatimah dari kampung sebelah." jelas Bambang penuh semangat.
"Fatimah yang suka bekerja di ladang kita,yang janda itu ?" tanya Komala kaget.
" Iya bu." jawab Bambang.
"Apa kamu tidak salah pilih? " dia kan orang miskin sama sekali tidak punya apa-apa." ucap Komala sedikit emosi.
" Memang kenapa bu,kalo mereka miskin,aku mencinta Hayati.Dia gadis yang sangat cantik,dan sopan.Hanya dia yang aku mau." jelas Bambang penuh keyakinan .
"Tidak,ibu tidak setuju, ibu akan carikan kau gadis yang pantas kau nikahi." jelas Komala .
"Tidak bu,aku tidak mau gadis lain,aku mau Hayati, selama 3 tahun aku menunggu Hayati."
"Sekarang aku sudah mantap untuk melamarnya." ucap Bambang sambil melotot kepada Komala.
" Bambang, anak tidak tau diri kamu,berani ngomong gitu sama ibu !" teriak Rosidah marah.
" Kakak juga tidak setuju kamu menikah dengan gadis miskin itu,malu aku punya adik ipar orang miskin ." ejek Rosidah.
" Sudah lah, aku tidak peduli dengan omongan kalian ,pokoknya aku akan tetap melamar Hayati !"
teriak Bambang sambil berlalu meninggalkan ibu dan kakaknya.
Didalam kamar, Bambang murka dan membanting barang - barang yang ada di kamarnya.
"Sialan , kenapa semua ini harus terjadi ?" teriak Bambang sambil menendang ranjang nya.
Pak Ahmad baru tiba saat mendengar ribut - ribut di rumah.
" Ada apa ini ?" tanya pak Ahmad kepada Komala sang istri.
" Si Bambang pak, dia mau melamar anaknya si Fatimah ,janda yang suka bekerja di ladang kita." jelas Komala sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" Benarkah itu?" lalu apa masalahnya?" tanya pak Ahmad .
" Bapa ini gimana sih,si Fatimah itu kan orang tidak punya ,apa yang bisa di banggakan dari mereka,hanya akan menyusahkan saja, belum lagi apa kata orang - orang?" jelas Komala.
"Bu, kita tidak boleh begitu,mereka juga manusia ,sama seperti kita,lalu apa yang kita punya? kita juga sama tidak punya apa- apa.
Sudahlah jangan seperti itu,kita izinkan saja Bambang melamar gadis itu." terang pak Ahmad dengan tenang.Memang ,di keluarga itu hanya pak Ahmad yang paling bijaksana.
Sementara ditempat Fatimah yang saat itu sedang menjemur padi ,seorang tetangga menghampirinya.
" Mak, lagi jemur padi ya?" tanya bu Eti .
" Iya bu .Mau kemana ?"tanya mak Fatimah.
" Ini ,saya mau nyuruh Hayati menjualkan dagangan saya mulai besok, bukankah Hayati sudah lulus sekolah?" tanya bu Eti.
" Iya , sebenarnya Hayati ingin melanjutkan sekolah ,tapi mau gimana lagi keadaan emak seperti ini." ucap Fatimah.
" Iya, sayang ya mak,padahal Hayati kan pintar dan cantik juga." tutur bu Eti.
Tak lama kemudian Hayati datang dia baru saja mengambil jemuran di belakang rumah.
" Hayati ,besok kamu jualan lagi ya?" tanya bu Eti.
" Iya, bu Eti." jawab Hayati.
Begitulah keseharian Hayati setelah lulus sekolah,harapannya ada keajaiban yang datang.
" Bima, sini ! "
teriak bu Eti kepada anaknya. Bima adalah pemuda di kampung itu yang paling sholeh,rajin ke mesjid dan rajin membantu sesama,saat ini ia sedang mengajar di sebuah sekolah dasar di kampung sebelah.
" Iya bu, ada apa?" jawab Bima.
" Ini Hayati besok mau dagang dagangan ibu.Nanti kamu kasih pinjam sepeda kamu ya?"pinta bu Eti.
" Oh ,iya bu boleh." jawab Bima dengan sopan.Lalu ia melirik ke arah Hayati yang tertunduk malu,sebenarnya Bima sangat menyukai gadis itu,tapi ia tidak ada keberanian untuk mendekatinya.
"Hayati,kamu sudah lulus kan? apa kamu akan melanjutkan sekolah mu ?" tanya Bima kepada Hayati.
" Tidak bang, Hayati berhenti dulu,nanti kalau sudah ada uang ,Hayati lanjut sekolah SMA nya." jelas Hayati.
"Oh, begitu.Ya sudah saya permisi mau ke mesjid." pamit Bima kepada Hayati dan ibunya.
" Iya bang." jawab Hayati.
Di perjalanan, Bima terus saja memikirkan Hayati ia senyum - senyum sendiri,kala mengingat wajah Hayati yang teduh dan ayu .
Perasaan Bima terhadap Hayati ia rasakan sudah dari 2 tahun yang lalu,dia sangat terpesona dengan ketekunan Hayati ,dan kebaikannya.Selain wajahnya yang rupawan,Hayati juga pintar mengaji,gadis idaman semua laki - laki.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!