NovelToon NovelToon

Ibu Sambung Untuk Anakku

Part 1

Saat ini aku lagi berkumpul bareng sama kedua orang tuaku.Ibu dan Bapak sebentar lagi mau berangkat ke sawah sedangkan adiku, Wulan sudah berangkat sekolah sejak pukul jam enam pagi. Aku sudah lulus sekolah SMA setahun yang lalu aku hanya membantu ibu bekerja menjadi tukang cuci gosok keliling di rumah para tetangga yang membutuhkan tenaga cuci gosok.

"Ibu, Bapak, Aku ingin merantau ke Jakarta, aku ingin membantu ibu dan bapak supaya bapak dan ibu nggak terlalu cape, ngurusin sawah para tetangga dari pagi sampai sore." Aku mengutarakan keinginanku.

Bapak dan Ibu hanya saling berpandangan, mungkin mereka bingung kenapa tiba-tiba aku memutuskan untuk merantau ke jakarta, sebenernya aku kasian sama kedua orang tuaku, mereka kerja banting tulang menghidupi kedua anaknya hanya sebagai buru tani bayarannya nggak seberapa, sedangkan Wulan sudah kelas tiga SMP sebentar lagi dia akan masuk SMA yang pastinya butuh banyak uang.

"Nak, kenapa kamu tiba-tiba ingin merantau ke jakarta? Di jakarta nanti kamu mau kerja apa dan tinggal sama siapa?" Tanya ibuku.

Sedangkan bapak hanya menganggukan kepalanya, bahwa beliau setuju sama yang di katakan ibu barusan.

"Aku ingin bekerja sebagai baby sitter pak, bu. Kalau jadi baby sitter nanti aku tinggal di yayasan dulu, sampai ada majikan yang memilihku untuk bekerja dengan mereka." Ujarku sama bapak dan ibu.

"Tapi, Ibu takut terjadi sesuatu sama kamu nak, kita nggak punya saudara yang ada di jakarta, memangnya kenapa kamu juga kan kerja ke para tetangga sebagai cuci gosok." Sahut ibuku lagi keberatan.

"Tapi bayarannya nggak cukup bu, sebentar lagi Wulan akan masuk SMA butuh biaya banyak bu, kalau ngandelin uang hasil kerja aku dan bapak, ibu nggak bisa mencukupi untuk biaya sekolah Wulan saat mau SMA nanti.

"Jadi tolong ijinkan aku merantau ke jakarta." Aku masih sajah meminta ijin sama kedua orang tuaku.

Lagi-lagi ibu dan bapak hanya saling pandang, aku tau pasti mereka berat memberikan keputusan untuk aku berangkat ke jakarta.

"Nanti bapak dan ibu pikirkan lagi, sekarang bapak harus berangkat ke sawah," Ucap bapak dan langsung berpamitan.

Selepas bapak pergi berangkat ke sawah, aku membereskan meja bekas kami sarapan, sebentar lagi ibu juga harus berangkat ke ruma bu Tini bu RT yang sering memakai jasa ibu untuk menjadi tukang masak di rumahnya. Terkadang juga ibu jadi tukang masak di rumah pak Jaya untuk para petani yang kerja di kebunnya.

Sedangkan aku berangkat agak siangan, aku harus mencuci piring bekas sarapan, cuci baju dan beberes rumah. Setelah semuanya selsai aku baru berangkat dari rumah yang satu ke rumah yang lain, itulah pekerjaanku sejak lulus SMA makanya aku kepengen banget merantau ke jakarta membantu ibu dan bapak.

Pagi berganti siang, berganti malam. Saat ini kami semua lagi ngumpul di ruang Tv, bersantai setelah seharian bekerja.

"Pak, tadi pagi guruku sudah menanyakan uang SPP yang sudah nunggak tiga bulan, kalau aku ngga bayar aku nggak boleh ikut ujian kelulusan pak, bapak tau kan sebentar lagi ujian dan kalau aku lulus SMP aku mau masuk SMA favorit, aku mau kaya temen-temen pak yang bisa masuk SMA." Ujar Wulan panjang lebar.

Kami bertiga saling berpandangan, mungkin bapak dan ibu bingung mau bayar, Spp dari manah sedangkan mereka belum gajian, aku pun sama mau kas bon juga pasti nggak boleh.

"Bapak dan Ibu denger kan? Wulan butuh biaya sekolah yang tidak sedikit, jadi ijinkan aku merantau ke jakarta buat membantu kebutuhan kalian." Kataku lagi meminta ijin sama bapak dan ibu.

Setelah memikirkan tentang sekolah Wulan, dan memikirkan ucapan aku akhirnya mereka setuju dengan keputusan aku.

"Baiklah, bapak dan ibu izinkan kamu kerja di jakarta." Ujar bapak membuat aku seneng.

"Terimakasih, pak, bu sudah mengizinkan aku berangkat ke jakarta," Ucapku lagi.

Kami berempat berpelukan.

Bersambung.

Part 2

Saat ini aku dan keluarga lagi ada di terminal. Bapak dan ibu serta adik ku, Wulan terpaksa harus izin untuk nggak masuk sekolah kami pun mengizinkan karena baru kali ini juga dia nggak masuk sekolah.

"Fani, nak, nanti kamu di sanah jaga diri baik-baik ya? Jaga kesehatan, jaga pergaulan jangan percaya sama orang yang belum di kenal. Jangan lupa sholat lima waktu," Ucap bapak memberi wejangan untukku.

"Iya nak, dengerin pesan dari bapak kamu ya?" Tanya ibu lagi.

"Bapak dan ibu tenang sajah, Fani bakalan jaga diri baik-baik, Fani juga nggak akan melampaui pergaulan selama ada di jakarta." Jawabku tersenyum ke arah bapak dan ibu.

Aku mendekati adikku Wulan yang sedari tadi diem sajah, ada apa dengannya, dia yang melihat aku berjalan ke arahku langsung memelukku dan menangis.

"Hei, ada apa kenapa kamu menangis? Apa kamu masih memikirkan pembayaran sekolah?" Tanyaku mengelus rambutnya.

Dia menggelengkan kepalanya dan kembali menangis, aku jadi heran tumben-tumbenan dia nggak cerewet kaya biasanya.

"Hei, kamu kenapa dari tadi menangis terus?" Tanyaku lagi.

Dia melepaskan pelukannya masih menangis, baru kali ini aku melihat dia menangis rasanya lucu sekali udah mau tumbuh remaja masih sajah menangis.

"Wulan nggak papa mba, Wulan hanya sedih saja mau di tinggal mba merantau ke jakarta, Wulan pasti kesepian saat pulang sekolah ngga ada bapak dan ibu dan nggak ada yang bisa di ajak ngobrol lagi," Ucapnya.

Ya ampun ternyata gara-gara ini dia sampai menangis, kirain ada apa bikin kaget saja ini anak, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku sajah.

"Ya ampun dek, kirain apaan bikin mba takut saja, kamu tenang saja dek nanti setelah mba sudah bekerja dan sudah dapat gaji nanti bapak dan ibu nggak boleh bekerja banting tulang lagi. Kamu jagain bapak dan ibu ya? Kalau pulang sekolah langsung pulang nggak boleh main. Dan kalau malem juga jangan keluyuran ikut-ikutan sama kaya temen kamu, dan kalau sudah pulang sekolah juga jangan lupa beresin rumah kalau lagi berantakan, apa kamu mengerti?" Tanyaku sama adiku Wulan.

"Iya mba tenang sajah, aku pasti akan ingat semua pesen mba." Jawabnya.

Bis tujuan ke jakarta sudah datang, aku berpamitan sama bapak dan ibu serta adikku Wulan.

"Pak, bu, Fani berangkat dulu yah itu mobilnya sudah dateng, takut ketinggalan, dek inget pesan mba ya?" Aku berpamitan dan mengingatkan kembali adikku.

"Iya nak kamu hati-hati di jalan, kalau sudah sampai jakarta kamu kabarin bapak dan ibu jangan lupa telpon, Wulan kalau sudah sampai di jakarta." Ujar Bapak.

Aku melepaskan pelukan bapak, ibu dan juga Wulan, karena bisnya mau segera berangkat.

"Iya, bapak dan Ibu tenang saja." Sahutku.

"Ini ada sedikit uang buat pegangan kamu di sana ya, maaf bapak dan ibu cuma bisa kasih uang yang nggak banyak mudah-mudahan bisa buat beli makanan di sana selama kamu belum mendapatkan pekerjaan," Ucap Bapak.

"Kamu hati-hati ya, inget pesan bapak dan ibu." Ujar ibu lagi.

"Iya kalau begitu Fani berangkat." Pamit ku sama mereka bertiga.

...****************...

Sekitar pukul jam empat sore aku sudah sampai di terminal jakarta, rasanya cape seharian dalam perjalan. Aku turun dari bis berniat mau melangka untuk beristirahat di warung yang ada di terminal.

Setelah cukup beristirahat, aku melangkah di halte tempat untuk menunggu angkutan umum lewat aku duduk di halte.

"Mamah, mamah kemanah saja?" Tanya anak kecil menarik-narik tasku.

Degh.

Bersambung...

Part 3

"Mamah!" Teriak anak kecil kisaran berumur lima tahun.

Tifani menengok ke belakang dan melihat anak kecil yang begitu tampan, dia tersenyum melihat anak laki-laki yang sangat tampan. Tifani menggendong anak itu dengan senang hati.

"Hai sayang." Panggilannya tersenyum bahagia.

Anak itu membalas senyuman yang di berikan Tifani padanya, anak itu melingkarkan tangannya di leher Tifani dan mencium kedua pipi Tifani.

"Mamah, mamah kemana saja? Dikta merindukan mamah sudah lama mama nggak pulang." Dikta berkata dengan senyum cerahnya.

"Mamah?" Tanya Tifani bingung.

"Iya mamah, mamah sudah lama nggak pulang." Jawab Dikta polos tersenyum kearah Tifani.

"Tapi tan...." ucapan Fani terpotong saat ada seseorang memanggil Dikta.

"Dikta sayang kenapa kamu ada di sini? Dari tadi tante cariin loh." Ujar perempuan cantik.

Tifani tersenyum kearah perempuan cantik yang ada di depannya, Tifani sangat mengagumi kecantikan perempuan yang ada di depannya bagaimana bisa ada perempuan secantik ini? pikiran Tifani buyar saat Dikta menjawab ucapan tantenya.

"Tante nggak usah khawatir sama Dikta, karena sekarang Dikta sudah ketemu sama mamah," Ucapnya tersenyum manis kearah Tifani.

"Mamah?" Tanyanya bingung.

"Iya tante ini mamah Dikta, ayo Dikta kenalin tante sama mamah." Sahut Dikta turun dari pangkuan Tifani dan memegang tangan Tifani dan tangan Pricilia untuk segera bersalaman.

Tifani menggaruk kepalanya yang tertutup hijab sedangkan Pricilia menatap Tifani dari atas sampai bawah, dia tersenyum saat sudah menemukan perempuan yang cocok untuk kakanya yang kaku itu.

"Maaf mba saya nggak tau tiba-tiba sajah anak ini memanggil saya mamah, saya nggak menyuruh dia memanggil saya mamah mba karena saya juga baru bertemu di sini." Ujar Tifani nggak enak.

"Nggak papa, kenalin gue Pricilia panggil sajah Pricil nggak usa pake mbak." Sahutnya terkekeh.

"Nama saya Tifani mba." Tifani membalas uluran tangan Pricil.

Ya ampun sudah baik sopan juga, kirain orang secantik dia bakalan sombong kaya tetanggaku di kampung, batin Fani mengagumi sosok perempuan anggun yang ada di depannya.

"Ooh, iya kamu dari mana dan mau kemana? kenapa bawa tas?" Tanyanya menyipitkan matanya.

Tifani tesenyum kearah perempuan anggun dan baik yang ada di depannya, semoga sajah dia selalu di dekatkan dengan orang baik yang ada di depannya.

"Saya baru sajah dateng dari kampung mba, saya ke jakarta mau ke yayasan buat orang-orang yang mau bekerja sebagai baby siter." Jawabnya.

Pricilia makin tersenyum lebar pucuk di cinta ulam pun tiba, baru sajah dia memikirkan kalau perempuan polos yang ada di depannya sangat cocok untuk menjadi pendamping hidup kakanya yang suram itu. Sekarang tuhan malah kasih petunjuk untuk menjadikan, Tifani masuk di dalam keluarganya, dalam hati Pricilia bersorak penuh gembira.

"Kebetulan sekali di rumah kami membutuhkan baby siter untuk menjaga Dikta apa kamu mau? Jadi kamu nggak usah pergi ke yayasan dan langsug saja ikut bersama kami pulang kerumah gimana apa kamu mau?" Tanyanya nggak lepas dari senyumannya.

Tifani tampak bingung apa dia harus menerima tawaran yang di tawarkan perempuan yang ada di depannya? Apa dia harus pergi ke yayasan dulu biar pasti, sedangkan dirinya merasa baru berkenalan sama perempuan yang ada di depannya.

Pricilia yang melihat Tifani hanya diem saja meyakinkan kalau dirinya bukanlah perempuan jahat.

"Gue tau kamu pasti ragu dengan tawaran gue kan? Kamu tenang saja gue bukan perempuan suka nipu jadi kamu nggak usa khawatir jadi apa kamu mau?" Tanyanya sekali lagi memastikan.

"Pricil, kamu dan Dikta kemana sajah?" Seseorag datang langsung menanyakan dari mana sajah mereka berdua.

Bersambung..

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!