NovelToon NovelToon

Doktor Dika'S Wife Is Queen Mafia

BAB 1. Penyerangan Tiba-Tiba

Dor ... dor ... dor

Ciiiiiiit

Gubrak ... gubrak ... bruk ...

Suara tembakan mengenai sebuah mobil dan membuat mobil itu hilang kendali. Mobil tersebutpun berguling dan menabrak pembatas jalan dengan sangat keras hingga menimbulkan sebuah percikan api. Penyerangan tiba-tiba itu sungguh membuat orang yang ada di dalam mobil itu tidak bisa berbuat banyak.

Duar

Mobil Rubicon berwarna hijau army tersebut meledak. Beruntung orang yang ada didalamnya dapat keluar dengan selamat meski tertatih.

Beberapa bagian tubuhnya terluka lumayan parah dan darah segar masih terus mengalir dari kepalanya. Namun orang tersebut masih bisa berjalan menjauh dari mobil yang meledak.

Dor... dor...

Suara tembakan kembali terdengar. Sepertinya orang yang ingin mencelakai si pengendara mobil ini tau kalau dia masih hidup.

"Heh Q, aku yakin kamu tidak akan bisa selamat," ucap seseorang.

Q adalah wanita yang mobilnya meledak tadi. Q yang mempunyai nama asli Sivya terus bergerak. Tangan kirinya memegang pistol FN 57, karena tangan kanannya terluka lumayan parah. Namun menggunakan tangan kiri tidak mengurangi ketangkasannya melumpuhkan musuh.

Dor... dor...dor...

Adu tembak masih terjadi, Silvya memejamkan matanya sejenak merasakan pergerakan musuh. Saat ia tahu lokasi musuhnya berada dia pun mengangkat pistolnya dan dor ... kena.

"Jangan pernah panggil aku Q kalau aku tidak bisa membekuk musuhku," gumamnya.

Silvya berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Ia hendak menghubungi Ian sang asisten, tapi seketika dia ingat ponselnya ikut terbakar bersama mobil yang meledak.

"Sial ponselku di mobil," umpatnya kasar.

"Sial peluruku tinggal satu." Silvya kembali mengumpat. Sedangkan musuh masih mengincar dirinya. Ia tahu Silvya mulai kehabisan pelurunya, dan itu kesempatannya untuk melumpuhkan Silvya.

"Ini saatnya," ucap musuh itu.

Dor ... shhhhh. Silvia mendesis, dia lengah. Dada nya tertembus peluru namun ia masih bisa mengangkat tangannya dan mengarahkan pistol itu ke musuhnya.

Dor

"Mati kau!" Peluru Silvya tepat mengenai kepala musuhnya.

***

Silvya berjalan menjauh dari lokasi tadi mencoba mencari pertolongan. Namun akhirnya ia jatuh juga karena kehabisan darah.

Dari arah belakang tampak sebuah mobil fortuner warna hitam tengah melintas. Tadinya orang yang didalamnya acuh, namun karena jiwa dokter memanggilnya, ia oun memundurkan mobilnya dan melihat kondisi wanita yang tergeletak dijalan raya itu.

"Hash ... kenapa sih nggak bisa cuek," umpatnya lirih sambil turun dari mobil.

Pria itu mendekat ke arah Silvya dan memeriksanya.

"Ya Allah lukanya parah sekali. Ini luka tembak." Pria itu terkejut melihat luka tembak di dada kanan Silvya. Ia pun dengan sigap menggendong tubuh Silvya ke mobil.

"Aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit, oh iya lebih baik ku bawa ke klinik."

Pria itu memutar arah mobilnya, membawa Silvya ke sebuah klinik. Klinik tersebut adalah klinik pribadi miliknya.

Sepanjang perjalanan banyak pertanyaan dari benak pria yang berprofesi sebagai dokter itu. Sepintas ia melihat wajah Silvya, cantik kata itu mewakili wajah gadis itu.

"Sebenarnya siapa kamu, mengapa bisa kena luka tembak?"

Sampai di klinik dokter itu menggendong Silvia dan menaruhnya di brankar. Ia kemudian membersihkan luka Silvya dan mengeluarkan peluru dari tubuh gadis itu. Beruntung peluru itu tidak mengenai organ vitalnya.

3 jam, ia berhasil mengobati Silvya sendirian karena tidak ada lagi orang di klinik. Waktu menunjukkan pukul 4 dini hari. Dokter itu pun merebahkan tubuhnya di brankar sebelah. Ia sangat capek, tak lama ia pun tertidur.

Silvya mengerjapkan matanya, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.

"Dimana aku ... auh ... ini infus. Apa aku di rumah sakit? Tapi mengapa sangat sepi?" Silvya berucap smabil melihat sekeliling.

"Oh kamu sudah bangun," sapa pria itu.

"Siapa kamu dan apa yang sudah kamu lakukan kepadaku?"

"Haish ... dasar tidak tau terimakasih. Kalau bukan karena aku kamu sudah mati di jalan."

Silvya mencoba mengingat kejadian semalam. Ia membuang nafasnya kasar.

"Hah, baiklah tuan terimakasih sudah menolongku."

"Namaku Dika buka Tuan. Aku seorang dokter."

"Maaf dokter. Terimakasih dokter Dika. Eh, mana pakaianku. Siapa yang menggantinya?" Silvya terkejut melihat pakaian pasien ditubuhnya.

"Aku, aku yang menggantinya."

"A-apa. Ka-kau yang menggantinya. Dasar dokter mesum." Wajah Silvya memerah. Ia sangat malu.

"Haish, berisik. Tenang saja aku tidak tertarik dengan tubuhmu yang rata." Ucap Dika acuh lalu pergi.

"Heh sialan dasar dokter mesum. Kamu pasti mengambil kesempatan. Rata kau bilang, enak saja. Ini namanya atletis."

Silvya menggerutu, ia sangat kesal tapi juga berterimakasih. Berkat dokter mesum itu nyawanya selamat. Ia tidak bisa membayangkan jika dokter itu tidak menolongnya, mungkin hari ini adalah hari pemakamannya.

Silvya Bellona Linford, gadis berusia 25 tahun itu sepertinya harus merubah namanya untuk sementara waktu. Bukan hanya namanya tapi juga penampilannya untuk mencari tahu banyak hal.

"Aku harus menyembunyikan identitas ku sementara waktu untuk mengetahui siapa penghianat di Wild Eagle. lihat saja jika aku menemukanmu maka aku akan mencincang habis kalian. sepertinya aku harus memanfaatkan Dokter mesum ini untuk mencapai tujuanku."

sorot mata gadis itu begitu tajam dan senyumannya begitu mengerikan.

TBC

Hai readers, jumpa lagi di karya baru aku ini ya.

Semoga kalian suka, jika ada saran coba sebutkan ya biar othor bisa membuat karya yang lebih baik lagi.

Yuk ikuti kisah dokter dan mafia ini.

terimakasih

matursuwun

BAB 2. Wild Eagle

Markas Wild Eagle heboh atas berita tentang penyerangan tiba-tiba yang diterima oleh ketua mereka. Mereka tidak habis pikir kenapa bisa terjadi Padahal pertemuan malam itu tidak ada yang mengetahuinya. Namun berita itu tidak sampai tersebar ke semua anggota, hanya orang-orang terdekat Q saja yang berhasil mengetahuinya.

"Sial kenapa aku membiarkan Queen sendirian. Biasanya aku mengawalnya sampai rumahnya." Sesal Ian. Ian adalah orang kepercayaan Silvya. Biasanya memang ia yang mengawal kemanapun Silvya pergi. Namun malam itu tidak biasanya Silvya menolak untuk dikawal.

"Sudah tidak perlu menyesali yang sudah terjadi, yang harus kita lakukan adalah menutup kabar ini. Jangan sampai musuh tau tentang berita Queen diserang bahkan lita sampai kehilangan jejak keberadaannya," ucap Geoff si tangan kanan Q.

Semua orang di sana bungkam. Apa yang dikatakan Geoff memang benar.

"Terus besok yang ke perusahaan siapa dan bagaimana memberi alasan ketidakhadiran Q?" Kali ini Drake yang berbicara.

Semua orang kembali bungkam, namun secepat kilat mereka menjatuhkan pandangannya ke arah Ian.

"Kenapa, kenapa melihatku? Oh sialan kalian menjebak ku," umpat Ian.

"Sorry brother tapi kamu yang selama ini disampingnya Q jadi kamu paling paham soal perusahaan," ujar Geoff.

"Terus kalau semua orang mencari Q bagaimana, aku harus bilang apa?"

"Bilang saja Q tengah berlibur bersama keluarganya." Drake mengatakan sebuah ide.

"Oh baiklah. Kalian menang. Aku akan mulai bekerja besok." Ian akhirnya kalah.

Semua orang terkekeh namun semenit kemudian mereka kembali murung. Sampai saat ini mereka belum mengetahui dimana keberadaan Q. Tempat kejadian perkara sama sekali tidak meninggalkan jejak, bahkan sudah bersih. Seperti ada yang sengaja melakukannya agar tidak tercium polisi.

"Tapi kenapa tkp bersih gitu yak, apa kalian tidak merasa aneh," ucap Ian.

"Iya juga sih. Tapi kira kira siapa orang dibalik semua ini. Apakah Tiger Fangs?" Drake mengira-ira.

"Jangan berprasangka dulu fokus kita mencari Q dan pastikan dia aman dulu." Usul Geoff.

"Apakah kita tidak minta tolong saja kepada Mr. Sun. Dia pasti bisa tau dimana Q dengan cepat," lanjut Ian.

"Haaah. Kau tau sendiri Mr. Sun hanya Q yang bisa menghubunginya. Dia sangat anti dengan organisasi seperti ini. Tapi entah bagaimana Q bisa berkomunikasi dengan dia," jawab Geoff.

Mereka bertiga hanya bisa terus berusaha mencari dan menghubungi Q, agar Wild Eagle tidak kehilangan sayapnya.

Ian, Geof, dan Drake pun menyebar orang dan membuat sandi-sandi khusus yang hanya diketahui oleh mereka. Mereka berharap jika Q melihatnya maka Q akan segera memberi mereka sinyal.

"Oh iya aku tidak melihat Jeff, dimana dia?" Ian bertanya.

"Kemarin dia diperintahkan Q untuk mengecek gudang, oh astaga aku hampir lupa besok jadwal pengiriman senjata ke negara Borga (ini nama karangan ya gengs)," ucap Drake

"Damn, kau benar. Segera hubungi Jeff untuk menyiapkan barangnya. Besok aku dan Jeff yang akan mengirimnya. Ian kau tetap pergi ke perusahaan dan Drake kau tetap di markas, takutnya Q mengirim sinyal. Bagaimana apakah kalian setuju," tawar Geoff.

Ian dan Drake mengangguk, Geoff memang seorang planner yang handal. Tidak heran Q selalu meminta saran Geoff dalam setiap perencanaan apapun.

🍀🍀🍀

Di klinik Dokter Dika Q atau Silvya tengah terbaring lemah di brankar. Beruntung Dokter Dika membuka kliniknya saat sore hari saja sehingga pagi itu klinik masih sepi.

"Huft, sialan. Bagaimana cara menghubungi anak-anak. Aku yakin mereka pasti sangat khawatir." Silvya mengumpat pelan.

"Kemana dokter mesum itu. Apakah dia tidak tinggal disini. Atau dia sedang pergi."

Silvya melihat ke arah nakas, di sana sudah ada sejumlah obat dan bubur ayam serta ada sebuah catatan kecil.

Makanlah, lalu minum obatnya. Aku akan kembali sore nanti. Saat ini aku sedang bekerja.

Dika.

"Haish, dokter mesum itu baik juga. Oh shitt bukan waktunya mengagumi orang lain. Saat ini nyawamu sedang terancam. Kamu harus berpikir cepat."

Silvya bangun dari tidurnya. Memiliki tubuh yang sehat dan kuat karena selalu berlatih fisik memudahkan proses penyembuhannya.

Ia memakan bubur yang Dika sediakan dan meminum obatnya. Silvya berusaha bangkit namun tubuhnya masih sangat sakit.

Gadis cantik berambut coklat dan bola mata yang memiliki warna sama dengan rambutnya itu tetap terlihat cantik meski wajahnya pucat.

Haish, mommy dan daddy pasti mencariku. Mereka selalu menganggapku anak kecil padahal aku ini sudah dewasa. Silvya Bellona Linford seorang CEO dari perusahaan Linford Transportation jika di rumah hanyalah anak mommy. Haih mau ditaruh dimana mukaku jika para kolegaku tau. Andaikan kamu di sini Zi, mommy tidak akan memperlakukan aku seperti sekarang.

Silvya mengenang saudara kembarnya, Zion Austin Linford. Saudara kembar Silvya yang memang sedari kecil memiliki fisik yang lemah dan membuat Silvya menganggap dirinya sebagai kakak.

Zion mempunyai penyakit jantung bawaan, sehingga kedua orang tuanya sangat ekstra dalam menjaganya begitupun Silvya. Zion terkadang merasa bersalah terhadap Silvya karena perhatian kedua orangtuanya tercurah kepadanya. Namun Silvya tidak merasa begitu. Kedua orang tua mereka juga sama sayangnya terhadap Silvya namun dengan cara yang berbeda.

"Zi, aku merindukanmu. Semoga kau tenang di sana, dan di sini aku akan terus mencari siapa yang membuatku kehilanganmu selamanya."

TBC

BAB 3 : Kulkas 12 Pintu

Hay readers, berjumpa lagi dengan karya terbaru Author ini ya.

Maaf kalau seandainya tidak up tiap hari. 

Mohon berikan dukungannya agar karya othor semakin baik. Jika ada saran atau tips boleh lho disampaikan.

Terimakasih. Matursuwun.

Radika Tara Dwilaga, atau yang kerap disapa dokter Dika adalah salah satu dokter yang bekerja di Rumah Sakit Mitra Harapan. Salah satu Rumah Sakit swasta terbaik di kota J. Usianya baru 27 tahun dan juga memiliki wajah yang tampan serta tinggi yang proporsional membuat banyak kaum hawa baik dokter ataupun perawat bahkan para pasien atau keluarga pasien begitu mengaguminya dan berlomba-lomba menarik perhatiannya. Di usianya yang masih muda tersebut dokter Dika sudah menjadi dokter spesialis bedah umum berfokus pada Kegawatan dan cedera (traumatologi).

Asal usul keluarga yang tidak biasa menambah nilai plus dokter Dika. Putra kedua dari keluarga Dwilaga itu menjadi sorotan setiap langkahnya di rumah sakit. Siapa yang tidak mengenal keluarga Dwilaga, keluarga yang memiliki yayasan pendidikan perguruan tinggi yang bernama Universitas Nusantara. 

Universitas Nusantara juga merupakan perguruan Tinggi Swasta yang paling banyak dijadikan favorit oleh para mahasiswa baru. Semua keluarga Dwilaga menjadi sorotan dari anak pertama hingga anak ketiga mempunyai keahlian masing-masing di bidangnya. Kecuali anak ke empat. Anak keempat adalah seorang putri yang masih berstatus mahasiswa, namun entah mengapa banyak yang tidak mengetahui putri keempat dari keluarga Dwilaga tersebut.

Namun mendekati dokter Dika bukan perkara yang mudah. Dokter dengan julukan kulkas 12 pintu itu sangat dingin dan datar. Makanya saking dinginnya ia dijuluki dokter kulkas 12 pintu. Dokter Dika hanya berperilaku ramah kepada pasiennya.

Siang ini Dika berada di ruangannya setelah melakukan operasi sejak pagi tadi.

"Huft….." Membuang nafasnya, ia menyandarkan punggungnya di kursi sejenak untuk melepas lelah. Dika memejamkan matanya rasa lelah yang luar biasa berhasil membuatnya terlelap.

"Astagfirullah, gadis itu masih di klinik. Sendirian."

Dika terbangun saat teringat Silvya. Ia lupa meninggalkan gadis itu seorang diri tanpa makanan. Jika tadi pagi ia meninggalkan sarapan, siang ini dia lupa jika ia bekerja sampai malam. Hari ini jadwal operasinya sangat banyak.

"Aku tidak mungkin pulang ke klinik, sejam lagi akan ada operasi lagi. Huft, oh iya pesan antar makanan saja. Ya hanya itu yang bisa dilakukan."

Dika mengambil ponselnya dan memesan beberapa makanan untuk makan siang dan makan malam Silvya.

"Sial aku lupa menanyakan siapa nama gadis itu. Ah biarkan saja pasti akan sampai."

Dika kembali berbicara sendiri, entah biasanya dia tidak pernah seperhatian ini terhadap orang lain terlebih lagi wanita. Mungkin karena Silvya adalah seorang pasien jadi Dika mengkhawatirkannya. 

Tok ... Tok ... tok.

Pintu ruangan Dika diketuk oleh seseorang. Dika mengernyitkan keningnya, ia merasa tidak punya janji temu dengan pasien dan juga operasi selanjutnya masih sekitar 45 menit lagi.

"Masuk!" Ucap Dika

"Maaf dok, apakah dokter sudah makan siang. Saya mau mengajak dokter makan siang jika belum," ucap seorang wanita yang berpakaian dokter.

"Maaf dokter Tania, saya akan sholat dhuhur dulu baru makan siang."

"Oh begitu, baik dokter." 

Wanita yang bernama Tania itu pun kembali menutup pintu ruangan Dika. Ia begitu malu karena ajakannya ditolak lagi.

"Huft, kapan sih dokter Dika mau menerima ajakanku," gumam wanita itu.

Di dalam ruangan Dika menggerutu, "Kenapa sih pada kurang kerjaan banget, yang ngajak makan lah yang ngajak pulang bareng lah, emang pada nggak ada kerjaan ya ngajak ngajak orang. Pergi sendiri napa."

Dika pun memasuki kamar mandi mengambil air wudhu lalu membentangkan sajadahnya, dia menyulap bagian dari ruangannya sebagai tempatnya untuk menunaikan ibadah sholat. Bukannya enggan untuk ke masjid RS tapi panggilan operasi yang terkadang bisa dadakan membuatnya harus selalu standby.

Di kantin rumah sakit tampak seorang  wanita cantik yang bernama dokter Tania tengah kesal. Ia memanyunkan bibirnya.

"Kenapa kamu Tan?"

"Hmmm aku lagi kesel Lis."

"Pasti ditolak sama si kulkas 12 pintu ya."

"Sialan kau Lis, temen lagi kesel malah diledekin."

" Tania ... Tania, habisnya kamu. Udah tahu dokter Dika itu begitu dingin dan datar masih saja berusaha ngedeketin. Udahlah nyerah aja. Cari yang lain. Tuh Dokter Andre udah siap nampung."

"Lisa mulutmu. Emangnya aku pengungsi."

"Wkwkwk."

Kedua dokter wanita itu berbincang selama makan.

Dokter Tania sebenarnya adalah wanita yang cantik. Tinggi semampai dengan tubuh yang seksi dan rambut coklat bergelombang menjadikannya banyak dipuja dan dikejar oleh dokter-dokter muda di sana. Namun dia malah gencar mengejar dokter Dika yang terkenal dingin, datar, dan cuek itu.

🍀🍀🍀

"Healthy clinik"   Tempat dimana Q atau Silvya berada. Disana juga merupakan klinik pribadi milik dokter Dika. Silvya merasa perutnya sangat lapar. 

"Sialan, dokter mesum itu tidak memberiku makan siang ataupun meninggalkan uang. Dia hanya memberiku obat. Memangnya kalau minum obat tidka perlu makan. Dokter sialan. Kalau mau menolong itu sekalian jangan setengah setengah. Huh dasar."

Silvya terus mengomel tiada henti.

Ting tong

"Elaaah siapa sih yang datang. Masuk aja, tidak dikunci. Di dalam hanya ada orang sakit tidak bisa berjalan keluar."

Silvya berteriak sekeras mungkin agar orang yang bertamu mendengar.

"Saya Masuk ya mbak."

Seorang pria masuk dengan jaket berwarna hijau, pria tersebut menyerahkan beberapa kantong makanan.

"Ini mbak, atas nama dokter Dika, disuruh memberikan kepada mbak mbak yang sakit. Apa benar mbaknya yang sakit."

"Huh…" Silvya mendengus keras, " Apa mas nya tidak melihat kondisi saya, dan di sini cuma ada saya. Berarti saya benar yang sakit."

Mas mas kurir itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tidak mau berlama lama, ia pun menyerahkan makanan yang sudah di pesan kepada wanita sakit itu.

"Ini mbak, semuanya sudah dibayar oleh dokter Dika."

"Terimakasih. Hmm baik juga tuh doktwr mesum."

Mas kurir itu pun berlalu, dan Silvya membuka beberapa makanan lalu memakannya. Namun tiba-tiba ia berhenti.

"Bodoh, kenapa tadi aku nggak minjem ponsel punya nya kurir tadi buta ngubungin anak-anak ... argh! Sial. Auuch, sial ini masih terasa sakit."

Silvya merutuki kebodohannya, dan ia masih merasa sangat sakit di dada kanannya.

TBC.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!