NovelToon NovelToon

Dosen Hot Perawan Tua

Bab 1

𝐎𝐅𝐅𝐈𝐂𝐈𝐀𝐋 𝐒𝐘𝐀𝐇

Bergabung dengan Grup Chat Author, pilih grup mana yang kamu sukai dan mulai berinteraksi.

Kisah ini hanya imajinasi belaka dari author pribadi yang sebenarnya memang suka dengan wanita yang bisa dikatakan seksi dan bohay.

Jangan diartikan bahwa author ini seorang yang mesum, tapi memang benar adanya author ini mesum sih.

Oke dimulai saja.

❣️ Selamat Membaca ❣️

Di sebuah hotel saat aku berada di Paris. Karena pada saat di Indonesia aku cukup terkenal di kalangan teman-temanku, aku jadi tidak memiliki waktu untuk menyembunyikan rahasia bahwa sebenarnya aku ini tidak bisa berenang.

Jadi, aku memutuskan untuk pergi ke luar negeri agar teman-temanku tidak mempunyai alasan untuk ikut berlibur denganku.

Bukan hanya aku sebenarnya, aku pergi berlibur dengan seorang gadis. Hanya saja, dia bukan pacarku, kami hanya berpura-pura dan aku yang membayarnya untuk pekerjaan rental pacar ini.

Bukan hanya mendapatkan sewa rental pacar, tetapi dia juga dapat berlibur denganku dan dibayar olehku.

Dia memang sangatlah cantik, tapi entah kenapa hatiku tidak bisa tergerak olehnya. Meskipun kami sudah sering bersentuhan, aku tetap tidak bisa memiliki perasaan padanya.

"Kamu mau berenang kan?" tanya Angelin, pacar sewaanku.

"Iya, kamu tidak ikut aku berenang?" tanyaku yang menanti jawaban darinya.

"Tch! Aku malas! Aku ingin mencari pria untuk bersenang-senang!" serunya yang langsung pergi meninggalkan ku.

Mungkin karena salah satu faktor ini aku tidak dapat suka padanya, dia adalah wanita murahan. Yang ada dalam pikirannya hanya untuk mendapatkan uang meskipun dia harus mengorbankan status perawannya itu hanya untuk mendapatkan sejumlah uang dengan mudah.

Dia adalah seorang gadis yang entah sudah berapa kali bermain bersama seorang pria-pria yang memiliki uang.

Aku sungguh ingin mencari pacar yang serius, hanya saja dia ingin mendapatkan uang dariku dengan cara mengorbankan keperawanan nya kepadaku.

Tentu, meskipun aku seorang pria dan memiliki cukup uang, hanya saja aku ingin melakukan kegiatan bercinta itu dengan orang yang benar-benar kucintai.

Dia pun pergi, aku menyapu pandanganku ke segala arah dan melihat banyak kolam renang yang ada disana.

Tidak memilih, aku berlari mencari area kolam yang sepi disana.

"Eh, bukankah disana area seorang profesional?" batin seorang wanita di kejauhan yang melihatku.

"Hei! Jangan berenang kesana! Itu adalah area seorang profesional anak muda!" teriaknya.

Namun, teriakan itu tidak jelas ditelingaku karena banyaknya pengunjung kolam renang yang juga berteriak, ketika aku melirik wanita itu, aku hanya merasa biasa dan menghiraukannya.

Aku pun melompat ke sebuah kolam renang meskipun aku belum bisa berenang, mengambang pun aku tidak tahu caranya.

Saat aku melompat ke dalam kolam, kakiku tidak bisa menyentuh lantai-lantai, aku terus mencarinya dengan keadaan mulai tenggelam.

Aku terus menahan nafas didalam air, tidak bisa berteriak karena takut aku akan lebih cepat kehabisan oksigen.

Di dalam kolam itu, aku hanya melihat sebuah cahaya di luar permukaan air.

"Hidupku hancur sudah! Apakah mereka akan membantu orang asing sepertiku?" batinku yang belum mempercayai orang asing.

Hanya pada saat hampir ku tutup mata karena sudah mencapai batasanku menahan oksigen, aku melihat sosok bayangan yang melompat ke dalam kolam dan berenang ke arahku.

***

Perlahan aku tersadar dari keadaanku yang baru saja pingsan karena tenggelam.

Di area mulutku terasa basah, ada rasa hangat sedikit dan manis entah seperti apa.

Perasaan ini sungguh membangkitkan gairahku, ini adalah pertama kalinya aku merasakan bahwa ada sebuah kenikmatan yang belum pernah aku rasakan.

Perlahan aku membuka mataku, melihat sosok wanita yang berparas cantik, hidung mancung, alis matanya yang lebat dan rambut hitamnya yang sedang diikat itu menampakkan sosok lehernya yang begitu indah.

Wanita itu adalah wanita yang sebelumnya aku hiraukan itu, saat aku tersadar. Aku sedang diberikan nafas buatan olehnya.

Bibirnya begitu lembut, rasanya manis dan aku tidak berniat untuk melepaskan ciuman ini. Terus kurasakan dengan aku yang melihat tubuh indah miliknya.

Menara yang berada di tubuhku mulai menegak layaknya tiang yang kokoh.

Menara itu menyentuh paha wanita itu yang membuat wanita itu membuka matanya.

Melihat aku yang sudah sadar, dia melepaskan ciumannya itu.

Dia melihatku dengan jijik, menyeka mulutnya yang basah seakan aku ingin memakan mulutnya kembali.

Wanita itu langsung memelototiku, dengan pandangan yang mulai menyeramkan.

"Jika kamu sudah bangun, kenapa tidak langsung melepaskannya? Dasar anak kecil yang mesum!" ketusnya yang langsung pergi meninggalkanku.

Aku masih terpaku diam, menatap wanita itu dengan tanpa adanya kedipan mata. Setelah melihat dirinya yang sudah menghilang dari pandanganku, aku baru saja tersadar.

"Si.. Siapa barusan itu?"

Aku mulai resah dan bertanya-tanya pada diriku sendiri. Karena paniknya aku, aku langsung berdiri untuk mengejar wanita itu.

Aku gagal mendapatkan jejak wanita itu meskipun aku sudah bertanya kepada orang-orang asing yang berada disana.

Aku pun menyerah untuk mencarinya lagi, di dalam lubuk hatiku. Aku merasakan perasaan yang campur aduk, mungkinkah aku mencintai wanita itu?

***

Di Bandara, aku kembali pulang ke kota B karena aku baru saja lulus dari sekolah menengah atas dan akan mendapatkan pendidikan di bangku kuliah.

Karena keluargaku terbilang cukup kaya, aku dengan mudah bisa masuk ke dalam Universitas Negeri yang cukup terkenal.

Sebelum pulang ke kota B, Angelin yang sebelumnya bersamaku berniat tinggal disana karena untuk mendapatkan banyak uang dengan menjual dirinya.

Aku sudah lelah juga, jadi sudah ku putuskan untuk mengakhiri kerja sama sebagai pacar sewaan itu.

❣️\=\=\=\=\=\=\=\=❣️

Di Universitas Negeri Karmabakti. Aku adalah seorang mahasiswa baru disana. Karena aku melewati jalur belakang, aku tidak menjadi pusat perhatian.

Karena apa? Karena jika aku masuk dengan cara melalui tes, itu akan sangat mudah bagiku. Hanya saja, aku terlalu malas untuk itu.

Banyak mahasiswa baru yang berkumpul di halaman utama kampus. Begitu juga denganku, aku tentu juga berada disana.

Saat aku menyapu pandanganku, aku melihat sosok wanita yang tidak asing. Aku mengingatnya kembali. Apakah dia adalah wanita pada saat di Paris? Apa yang sedang dilakukan olehnya di kampusku?

Saat memikirkan itu, aku kembali dengan keadaan pasrahku karena mencoba untuk tidak percaya pada kenyataan bahwa aku tidak mungkin bisa bertemu dengan wanita itu lagi.

Aku pun mengucek mataku dan wanita itu lenyap seketika, tidak hanya itu. Acara penyambutan mahasiswa baru juga telah usai.

Semua mahasiswa baru memasuki kelasnya masing-masing sesuai dengan jurusan apa yang dipilihnya. Dan aku masuk di jurusan matematika.

Saat memasuki kelas, tidak ada satupun yang aku kenal. Semuanya adalah wajah baru, aku sudah lama tidak merasa seperti ini. Jadi, aku dengan acuh tak acuh berjalan melewati mahasiswa lain dan duduk di salah satu kursi yang terletak di dekat jendela.

Aku bosan dengan belajar kegiatan belajar sebenarnya, hanya saja wasiat dari orang tuaku adalah untuk mendapatkan sebuah sertifikat ijazah sarjana di bidang yang aku akan pilih.

Seorang dosen wanita dengan pakaiannya yang begitu ketat memasuki kelas. Mahasiswa yang berada disebelah ku mengacaukan ku dari lamunanku saat ini yang sedang melihat ke arah jendela.

"Hei, hei! Coba lihat! Dosen itu sungguh mempesona!" serunya yang mengurung mataku untuk melihat dosen itu.

"Hei, apa sih hanya seorang wanita! Apa yang perlu di—"

Bab 2

Aku terkejut dan tidak bisa berkata-kata, melihat sosok wanita yang sangat jelas kuingat di dalam pikiranku.

Menatap terkejut hingga pada saat wanita itu melihat ke arahku, dia membalas tatapanku dengan ekspresi jijiknya.

Benar, mungkin itu karena saat aku menatapnya, aku mengingat kembali dengan jelas setiap lekuk tubuhnya. Bibirnya yang menggoda membuatku ingin melahapnya.

Sosok wanita itu benar-benar membuat hatiku campur aduk, entah benar-benar apakah ini yang dinamakan cinta, aku pun tidak yakin.

"Namaku adalah Hanifah, salam kenal semuanya! Tidak perlu ada keributan lagi, aku sudah mendapatkan informasi tentang kalian, jadi pelajaran akan ku mulai sekarang" kata wanita itu yang ternyata bernama Hani.

Dosen cantik nan seksi itu pun memulai kelas pertama untuk mahasiswa baru jurusan matematika.

Hanya ada keheningan saat pelajaran berlangsung, semua mahasiswa tertib mengikuti kegiatan belajar mengajar. Namun, saat setelah kelas selesai.

Para mahasiswa laki-laki langsung berlarian mengejar dosen Hani itu. Dengan banyaknya pertanyaan dari para mahasiswa itu kepada dosennya.

Aku mendengar suatu hal yang membuatku merasa bahagia, tentunya yang kudengar adalah kabar yang sangat baik.

Hanifah Azzahra, seorang dosen di Universitas Negeri Karmabakti dengan usia tiga puluh tahun dengan statusnya saat ini adalah lajang.

Aku sangat terkejut, wanita cantik seperti dia tidak ada orang yang melamarnya, atau mungkinkah dia memiliki kelainan?

Tapi, aku langsung membuang jauh-jauh pikiran jelekku itu. Saat aku akan meminta nomor ponselnya juga, aku tidak bisa masuk ke dalam keriuhan mahasiswa yang juga meminta nomor WhatsApp milik dosen itu.

Drrttt Drrrtt Drrtt

Hingga saat ponselku bergetar, aku melihat nama si penelpon itu yang membuatku harus mengabaikan sosok dosen cantik itu.

"Dek, ada apa?" jawabku yang baru saja menerima panggilan dari adikku yang bernama Kia. Lebih tepatnya adalah Zaskia.

"Kak! Apakah kakak ada waktu? Kami sekarang sudah ada dirumah, kami akan mengikuti perlombaan matematika bulan depan" pinta Kia dengan memastikan kesibukan kakaknya itu.

"Oke! Kakak baru selesai kelas, kakak akan langsung pulang ya?" jawabku yang tidak bisa menolak permintaan satu-satunya adikku dan satu-satunya anggota keluargaku yang tersisa.

Saat setelah sampai dirumah, aku baru saja memarkirkan motorku di halaman depan rumaku. Lalu, aku disambut oleh dua gadis cantik, mereka ada teman sekolah adikku.

"Halo Kak Alam, siang Kak!" sapa mereka sopan secara bersamaan.

Benar, namaku adalah Alam dengan umur sembilan belas tahun kurang, karena hari ulang tahunku akan segera tiba di tahun ini.

"Halo dek Kinan dan dek Nayla!" jawabku menyapa mereka berdua dengan lembut dan ramah serta tidak lupa menyebut nama mereka. Aku mengingat nama mereka karena mereka memang sering berkunjung ke tempat tinggal kami.

Setelah sapaan itu, aku masuk dengan melepaskan alas kaki ke dalam rumah dengan diikuti oleh kedua gadis cantik itu.

"Kakak! Kami dipilih untuk ikut perlombaan matematika di bulan depan nanti! Pokoknya, Kakak harus membimbing dan mengajari kami!" pinta Kia dengan manjanya.

Zaskia, setelah kematian orang tua kami yang mengalami kecelakaan. Zaskia semakin manja kepadaku karena aku adalah satu-satunya keluarganya. Kami sudah menjalani kehidupan mandiri ini semenjak tiga tahun lalu. Di saat kelas satu SMA, kedua orang tuaku mengalami kecelakaan yang begitu tragis.

Aku tidak habis pikir, kecelakaan itu tidak seperti kecelakaan pada umumnya. Karena berita tentang kecelakaan mereka malah ditutup-tutupi oleh pihak kepolisian.

"Iya dek! Tenang saja! Hanya masalah kecil ini kok!" jawabku dengan sembari mencubit hidung kecil milik adikku.

Meskipun usia kami hanya berbeda dua tahun, tapi kami benar-benar menjadi sepasang kakak beradik yang cukup romantis jika dikatakan oleh orang yang tidak mengetahui kebenarannya.

Adikku adalah seorang siswi tercantik di sekolahnya, bukan hanya cantik tapi adikku adalah seorang yang cerdas. Mungkin itu karena DNA kami berasal dari ibunda kami yang memang memiliki wawasan yang sangat luas.

"Bi.. Apakah Bibi sudah menyiapkan makan siang?" tanyaku berteriak menanyakan tentang makan siang kepada seorang asisten rumah tangga di rumahku.

Bi Alin namanya, dia sudah menjadi asisten rumah tangga semenjak aku masih kecil di keluarga ku.

"Sudah Alam!" teriaknya menjawab pertanyaanku.

Berbeda dengan panggilan Bibi Alin kepadaku yaitu "Alam" yang menyebut namaku. Bi Alin memanggil adikku dengan sebutan "Non" atau juga bisa disebut "Nona Muda".

Bukan karena Bibi Alin tidak mau memanggilku "Den" atau "Tuan Muda", sebenarnya itu karena permintaanku kepada seluruh para pekerja di rumahku untuk memanggil namaku secara langsung.

Karena aku sadar, bahwa aku adalah seorang yang lebih muda dibandingkan dengan mereka.

Aku meletakkan tasku ke kamar, meninggalkan adikku, Kinan dan Nayla di beranda dengan memberikan arahan untuk segera menungguku di ruang makan.

Karena gerah, aku pun mandi terlebih dahulu sebelum untuk pergi makan lalu mengajari adikku dan temannya pelajaran matematika.

***

Seorang wanita yang cantik sedang berputar-putar berjalan di kantornya. Dia adalah Hanifah Azzahra atau kita panggil saja Hani.

Dengan lelah setelah sekian lamanya berputar-putar. Hani duduk dan menjatuhkan dagunya ke meja yang dibawahnya tergeletak banyak sekali berkas-berkas.

"Hm? Kenapa aku bisa bertemu dengan bocah sialan itu disini? Bagaimana jika dia mengatakan yang sejujurnya kepada semua mahasiswa?"

"Akankah reputasiku hancur dibuat olehnya?"

"Argh!"

Hani mengacak-acak rambutnya dengan kesal memikirkan seorang anak kecil yang mesum itu.

Secara ajaib, dia melihat berkas tentang informasi pribadi milik mahasiswa kelasnya itu di depan matanya.

Melihat foto mahasiswa itu, dia melihat informasi pribadi milik mahasiswa yang ternyata adalah milik Alam.

Tertulis sebuah keterangan dengan kertas yang tersisip di berkasnya menjelaskan bahwa Alam masuk ke universitas itu dengan mengandalkan jalur belakang.

Senyuman tipis terukir di mulut Hani, dia langsung melihat layar ponselnya dengan memasukkan angka-angka nomor ke dalam dial panggilan sambil melihat kearah berkasnya.

Saat telah selesai, Hani menyimpan nomor tersebut dengan nama Alam di dalam penyimpanan kartu SIM miliknya.

Panggilan WhatApp pun diluncurkan, Alam yang sedang berada dikamar mandi melihat ponselnya berdering.

Bingung melihat sebuah nomor yang tidak dikenalnya, dia mengabaikan panggilan tersebut.

Bergegas untuk menyelesaikan mandinya, Alam berpakaian dengan cepat dan tanpa perlu menyisir rambutnya. Alam langsung pergi ke dapur untuk makan siang bersama adiknya dan kedua temannya itu.

Keseruan pun tercipta, dengan metode pembelajaran Alam yang tidak membosankan karena membuat perumpamaan matematika dengan kehidupan sehari-hari, membuat adiknya dan kedua temannya mudah mengerti apa yang dijelaskan olehnya.

Tidak terasa hari sudah berlalu, Kinan dan Nayla pamit pulang kepada Alam dan tentunya Alam meminta supirnya untuk segera mengantar kedua teman adiknya itu pulang ke rumahnya masing-masing dengan selamat.

Zaskia juga pamit pergi ke kamarnya untuk beristirahat dan mengisi sisa waktunya untuk rebahan.

Alam yang sadar bahwa sebelumnya ada panggilan masuk dari nomor asing, Alam penasaran dan langsung mengecek nomor WhatsApp si pemanggil.

Bab 3

Setelah Alam mengecek nomor asing yang sebelumnya melakukan panggilan WhatsApp, dia terkejut saat setelah melihat foto profil dari nomor WhatsApp tersebut.

Bukan main, nomor tersebut berasal dari dosen Hani, yang saat ini diimpi-impikan oleh Alam. Alam langsung balik melakukan panggilan telepon dengannya.

Drrrttt Drrrtt Drrrttt

Suara getaran ponsel di sebelah Hani membuat dirinya merasa resah.

"Ahh ! Kenapa harus pada saat ini! Padahal ini sedang asik-asiknya aku bermain dengan jariku!"

Di atas ranjang yang empuk Hani sedang melakukan sesuatu yang membuat dirinya keasikan hingga malas untuk mengangkat panggilan dari Alam.

"Nah benar begitu! Ini mantap sekali!"

"Ahhh ..."

"Aku akan keluar?" resahnya.

"Ah sialan aku keluar dengan begitu cepat di permainan ini! Permainan ini sungguh tidak menarik! Hanya karena aku mendapatkan armor dan senjata yang berlevel rendah aku kalah! Sungguh tidak menarik!" kesalnya yang langsung mengambil ponsel di sampingnya.

Panggilan WhatApp itu masih berlangsung, Hani langsung mengangkat kesal ponselnya itu.

"Permisi? Apa barusan anda melepon saya?" tanya Alam setelah panggilan itu terhubung.

"Huh! Memangnya siapa kamu?" tanya Hani dengan kesalnya.

"Eh.. apakah aku harus menceritakan tentang ciuman itu?" tanya Alam yang tidak sungkan membicarakan cerita pada saat di luar negeri.

Hani terkejut dan dengan segera melihat ke layar ponselnya, menunjukkan nama Bedo Alam yang merupakan nama dari si penelpon.

"Ehh kamu! Sialan! Jangan membahas itu lagi! Jadi, begini bocah. Aku akan memberikan kesempatan untukmu agar tidak menyebarkan rahasia tentang ciuman itu kepada mahasiswa lain dan aku juga tidak akan menyebarkan berita tentang kamu yang tidak berpengetahuan masuk ke dalam Universitas ini dengan jalur belakang!" serunya mengancam Alam.

"Ehh? Dia berpikir aku tidak berpengetahuan? Ini menarik!" batin Alam yang mulai diikuti dengan senyuman yang baru saja terukir di wajahnya yang tampan.

"Bagaimana jika aku ingin menceritakan itu kepada salah satu temanku?" tanya Alam yang balas mengancam pada dosennya itu.

"Eh? Kamu berani? Boleh, lakukan saja!" seru Hani dengan tidak percaya akan apa yang ingin dilakukan oleh Alam.

"Baiklah, aku sudah mendapatkan persetujuanmu! Aku akan menceritakannya sore ini juga."

Mendengar hal itu, Hani menjadi merasa tidak nyaman. Dirinya benar-benar merasa terancam oleh seorang Alam.

"Hei! Jangan lakukan itu bocah!" teriak Hani di dalam panggilan yang sedang berlangsung.

"Jika tidak mau, maka datanglah malam ini jam tujuh malam ke Cafe Ivela."

Dengan mengakhiri panggilan tersebut Alam merasakan kemenangan di dalam dirinya. Dia mengambil ponselnya yang baru saja dijatuhkan diatas kasur dan mulai mengoperasikannya kembali.

Mendengar panggilan barusan, dia mulai mengedit rekaman percakapan yang baru saja terjadi dengan senyuman licik yang dilanjut tawa bahagianya.

*****

Di Cafe Ivela. Cafe Ivela merupakan tempat dimana berkumpulnya anak-anak muda maupun orang dewasa lainnya untuk menikmati suasana yang nyaman disana.

Bukan hanya para penikmat ngobrol di zona nyaman saja, melainkan banyak juga pengunjung yang datang hanya untuk mengikuti satu kegiatan yang sangat menarik, yaitu pemburu poin.

Di dalam kegiatan pemburu poin banyak orang yang melakukan pembelian minuman ataupun makanan secara rutin hanya untuk mendapatkan poin.

Karena, setiap orang yang telah mengumpulkan sejumlah poin maka mereka bisa melakukan apapun kepada para pekerja maupun atasan di cafe Ivela tersebut.

Biasanya bagi seorang wanita, mereka mengumpulkan banyak poin hanya untuk bisa berfoto dengan artis terkenal yang memang sudah menjadi tamu VIP di Cafe Ivela, dia bernama Ichan.

Dengan ketampanan Ichan, banyak gadis yang seringkali datang berkunjung hanya untuk melihat ketampanan dari artis dalam negeri tersebut. Mereka tidak dapat menyentuh Ichan dikarenakan keamanan Cafe Ivela sangatlah ketat.

Dengan CEO dari Cafe Ivela yang bernama Rey, mampu membuat Cafe Ivela menjadi maju dan terus berkembang hingga sampai saat ini.

Biasanya pengunjung yang datang kemari berkumpul menjadi satu grup untuk membuat undian layaknya arisan agar bisa mendapatkan kesempatan untuk berfoto dengan Ichan di setiap minggunya.

Ada dari Grup Pena Digital, Grup Winter Dust, Grup Sambo maupun banyak grup yang lainnya.

Berbeda dengan Alam, dia datang seorang diri karena tidak tertarik dengan kegiatan rutin dari Cafe Ivela.

Alam saat ini sedang duduk disebuah kursi dengan satu meja di depannya. Hanya ada satu meja dan dua kursi saja yang dipilih olehnya dikarenakan Alam ingin berduaan dengan Hani di balkon Cafe Ivela.

Suasananya sangat sejuk dilantai atas, berbeda dengan lantai bawah yang banyak sekali pengunjungnya.

Karena di lantai atas adalah tempat khusus yang disediakan oleh Cafe Ivela untuk mendapatkan situasi yang romantis untuk para pengunjung.

Panggilan dari Hani pun dijawab oleh Alam dengan mengarahkan Hani dimana letak lokasinya saat ini.

Sesampainya Hani di lantai atas, Alam terkejut dengan penampilan Hani yang sungguh membuatnya terpesona.

Bukan main, wanita dengan usia tiga puluhan tahun itu masih terlihat sangat muda, bukan hanya itu parasnya terbilang sangat cantik. Dengan tubuhnya yang selalu terbayang dipikiran kotor Alam, dia malah mengabaikan panggilan suara yang masih berlangsung.

Tentu saja Hani kesal, panggilan tidak Alam jawab sama sekali, saat terus mencari keberadaan Alam. Hani terkejut melihat tampang Alam yang saat ini terpaku melihatnya dengan ekspresi mesumnya itu.

Hani semakin jijik dengan Alam, dia berjalan dengan cepat ke arah Alam. Langsung dicubitnya pinggang milik Alam.

"Awww... Sakit!" keluh Alam sesaat terhenti karena melihat sosok Hani yang baru saja mencubitnya itu.

Hani langsung memaafkan Alam dan segera duduk dikursi yang ada didepan matanya.

Saat setelah duduk, Alam memanggil pelayan dan juga memilih pesanan makanan dan minuman dengan mengikuti apa yang Hani inginkan.

Makanan pun telah disajikan, sebelum membicarakan topik tentang saat di panggilan tadi sore, Alam meminta Hani untuk menyelesaikan makan terlebih dahulu.

Pada saat makan, Alam tidak henti-hentinya untuk memandang dosennya itu dengan tatapan mesumnya. Bagaimana pun, Alam telah merasakan rasa dari bibir cantiknya yang manis itu.

Ketika membayangkan ciuman pertamanya itu, Alam terpikirkan sebuah ide.

"Hei Bu Dosen, apakah benar kamu tidak mau aku menceritakan tentang kejadian itu kepada teman-temanku?" tanya Alam yang memulai topik.

"Tentu saja! Jika kamu berani, maka aku akan membongkar rahasiamu itu!" seru Hani yang masih dengan pendiriannya untuk mengancam Alam.

Alam tidak takut dengan ancamannya itu, bagaimana pun juga jika dia dikeluarkan oleh pihak Universitas, maka Universitas itulah yang akan rugi karena tidak memiliki seorang mahasiswa super jenius seperti Alam.

"Sebenarnya aku tidak takut!" seru Alam yang masih tenang menghabiskan Lasagna yang ada di piring nya itu.

"Kamu! Das—" keluh Hani yang dipotong karena Alam menyiapkan satu sendok Lasgna ke mulut Hani dengan cepat.

"Bagiamana? Enak bukan makanan favoritku di Cafe ini?" tanya Alam yang tidak merasa bersalah sama sekali.

"Sebenarnya apa maumu?" tanya Hani yang saat ini kekesalannya berada di level yang lebih tinggi lagi.

"Baiklah! Aku tidak akan sungkan! Hanya ada satu permintaanku!" ujar Alam dengan tenang.

"Apa itu?" tanya Hani yang mulai penasaran menunggu jawaban dari Alam.

"Aku ingin mencoba ciuman dengan Ibu, satu kali lagi!"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!