NovelToon NovelToon

Cool Boy

Pagi Yang Buruk

Kecelakaan yang menimpa kedua orang tua Salsa yang mengakibatkan Salsa harus kehilangan keduanya. Dan sekarang dia tinggal di rumah sahabat kedua orang tuanya yang memiliki satu anak laki laki yang sudah dekat dengan nya sejak kecil.

"Aku pasti akan melindungi mu." ucap Ryan kecil.

.

.

.

"Kalau ingatan dapat di simpan dalam kotak, maka harus sebesar apa kotak itu, Kunci ini harus di simpan dimana. Manusia selalu tumbuh dalam pencarian, hilang di tengah pencarian. Namun aku, menemukan diriku kembali di tengah pencarian."

"Dalam perjalanan hidup, perpisahan dan kematian sulit terelakkan. Merasakan asam garam kehidupan, tidak bisa lepas dari suka dan duka."

"Ada orang yang hanya di takdirkan menjadi orang lewat. Dan ada orang yang akan terikat seumur hidup."

***

Beberapa tahun kemudian

"Ryan, keluar!" kata Salsa mengusir Ryan yang pagi pagi berada di bawah tempat tidurnya.

"Keluar!" usir Salsa

"Kau, kau sudah sebesar ini. Kau juga punya kamar sendiri. Cepat keluar." ucap Salsa kesal.

"Berisik sekali." ucap Ryan dengan mata yang masih terpejam.

"Kau!" kesal Salsa

"Aku mau merekam bukti kesalahan mu. Aku mau melapor pada Ibu." ucap Salsa

Salsa telah mengambil benda pipih nya ingin menelvon Ibu angkatnya tapi sayang sebelom telvon itu di angkat sudah keburu di rampas duluan benda pipih nya oleh Ryan.

"Kau! Kembalikan padaku. " ucap Salsa dengan nada meninggi.

Mereka pun akhirnya berebut benda pipih namun terhenti karena mendengar suara dering di benda pipih milik Salsa.

Drrrt Drrrt Drrrt

Ryan pun melihat benda pipih Salsa melihat nama panggilan yang tertara "Ibu" dan dia pun mengangkat panggilan itu.

Ibu : Hallo selamat pagi? Salsa, sayang ku.

Salsa : Bu, Ryan..

Ryan : Ada seseorang yang tidak mau memasak, mau aku mati kelaparan.

Salsa : Bukan begitu, dia..

Ibu : Ayah dan Ibu pergi dinas 20 hari, tapi kalian sudah bertengkar 43 kali.

Jawab mereka berdua serempak "Ibu, ini gara gara dia"

Ibu : Sudah. Salsa, kau adalah kakak, kau harus mengalah pada adik. Ryan, kau adalah lelaki, harus sopan pada perempuan, mengerti?

Ibu : Sudah, sudah nanti lagi. Kami boarding dulu ya.

Tuuutt

"Dengar tidak, kau harus menjagaku." ucap Ryan

"Kau yang harus sopan padaku." ucap Salsa

"Apakah kau perempuan." ucap Ryan

"Kau!" ucap Salsa kesal

'Ini adalah mimpi buruk dalam kehidupan ku. Kalau aku tidak ada adik jahanam ini, pasti sangat bagus.' keluh Salsa dalam hati

***

Dapur

Dimana Salsa saat ini sedang membikin adonan kue untuk sarapan adik angkatnya.

"Antarkan ke kamar ku." ucap Ryan

"Kau, apa aku pelayan mu?" tanya Salsa

"Kalau begitu aku tidak makan." ucap Ryan

"Tunggu. Kalau bukan karena kau terkena sakit lambung, saat pertandingan matematika sebelum nya, pasti selalu merepotkan ku. Dan aku pun harus mengorbankan waktu belajar ku yang berharga, demi memasak untuk mu setiap hari." papar Salsa

Salsa pun mencari obat lambung di laci dan memberikan nya kepada Ryan.

"Baru beli, cepat minum dan cepat sembuh." ucapnya sambil menyerahkan obat lambung.

"Hemm." Ryan pun pergi ke kamarnya, menaroh obat langsung yang dari Salsa dia taroh di laci dan mulai duduk di kursi belajar.

Saat dia sedang sibuk dengan laptop nya Salsa tiba tiba datang dengan nampan yang berisikan kue untuk sarapan nya.

"Bakpao kukus, Kue lapis, dan Bubur akar teratai." ucap Salsa menjelaskan apa yang dia bawa di nampan.

Ryan pun memakan kue lapisnya. "Keras sekali." komentar Ryan. "Manis sekali." ucap nya saat mencicipi bubur.

"Bubur makan sesendok. Makanan tetap tiap minggu." ucap Salsa sambil menulis di buku catatan nya. "Bakpao nya habis di makan." lanjutnya lagi.

Lalu Salsa pergi keluar dari kamar Ryan, setelah Salsa keluar Ryan pun buru buru mengahabiskan kue yang di bawa oleh Salsa tadi.

"Ternyata semuanya enak." ucap Ryan setelah Salsa pergi.

Salsa Billa telah menginjak kelas 3 di Sekolah Menengah Akhir dimana dia sangat membenci Kakak angkatnya yang selalu merepotkan nya karena kepopuleran nya.

"Sudah kelas 12, aku harus semangat." ucap Salsa menyemangati dirinya sendiri.

"Hei, Salsa. Kau masuk di kelas berapa?" tanya salah satu teman laki laki satu kelasnya dulu yang bernama Edo.

"Apa itu perlu di tanya. Bertanya pada murid bodoh masuk di kelas berapa, pasti masuk kelas paling akhir." keluh Salsa

"Ternyata memang sama dengan ku, sama sama di tempar terendah. Kita semua adalah teman, saling membantu ya? " tanya Edo

"Aku biasa tidak konsentrasi saat belajar, tapi sudah tahun ke Tiga, aku bertekad untuk berjuang. Dengan menggunakan seluruh konsentrasi memutar balik keadaan." ucap Salsa

"Eh, tunggu. Kau minta tolong adikmu yang pintar itu untuk belajar saja." ucap Edo

"Aku malas kata katanya penuh dengan ceramah untuk ku, dan saat melihat ku selalu memasang muka masam, sampai mati pun aku tidak mau belajar dengan nya." ucap Salsa kesal.

Salsa pun lari menuju kelas nya meninggalkan Edo yang terdiam seorang diri.

"Selalu memasang muka masam. Eh, Salsa tunggu aku." ucap Edo setelah dia sadar kalau Salsa sudah pergi ke kelas duluan.

***

Kelas 12-5

"Kau juga masuk kelas ini."

"Kau juga di kelas ini!"

"Ah iya."

"Setelah ini kita remaja."

Perbincangan para murid yang terdengar oleh Salsa saat Salsa memasuki kelasnya.

Salsa mulai masuk duduk di bangku kosong yang paling akhir, dan membuka tas nya melihat isi buku yang dia bawa ternyata ada buku yang tertinggal atas kecerobohan nya berangkat sekolah tanpa melihat buku yang dia bawa terlebih dahulu.

"Yah ampun, ternyata aku salah membawa buku pelajaran. Dasar otak ku ini." ucap Salsa

Kelas pun mulai heboh karena kedatangan adik angkatnya Salsa yang tiba tiba memasuki kelas nya karena heran anak unggulan masuk di kelas akhir.

"Oh Tuhan, siswa unggulan di sekolah masuk ke kelas kita?"

"Ganteng sekali dirinya, bukannya dia murid pintar?"

"Muka itu, sangat tampan."

"Benar benar murid kelas kita kah."

"Murid super pintar yang merupakan, kapten basket selama 2 tahun"

"Tidak, harusnya dia masuk ke kelas 12-1."

"Benar kenapa dia masuk ke kelas kita?"

Begitulah bisik bisik yang keluar dari murid kelas 12-5 saat Ryan memasuki kelas kakak nya itu. Ryan pun berjalan dengan gaya cool nya melangkah menuju meja yang di duduki oleh Salsa saat ini. Dia pun berhenti di depan Salsa mengambil tas yang tersampir di bahu nya, dan membuka resleting tas niat untuk mengambil buku Salsa yang tertinggal di rumah.

"Dasar ceroboh." ucao Ryan

'Ternyata hanya mengantar buku pelajaran. Ku kira dia masuk ke kelas ini, mengagetkan ku saja.' ucap Salsa dalam habi

"Thanks. Pergilah, sebentar lagi pelajaran akan di mulai." ucap Salsa

Ryan tidak menjawab dan ia tiba tiba menarik kursi kosong di sebelah Salsa lalu menduduki kursi itu.

"Ayah Ibu takut kau punya pacar terlalu cepat, jadi menyuruh ku untuk mengawasi mu belajar." ucap Ryan alibi nya padahal dia hanya ingin melihat Salsa setiap saat padahal mereka tinggal di atap yang sama.

'Orang ini kenapa selalu menghantuiku.' gerutu Salsa dalam hati

Kelas pun tiba tiba sepi karena guru mulai memasuki kelas mereka.

" Hari pertama di tahun ajaran baru, adalah pertandingan persahabatan basket. Dan juga Ryan, tak di sangka berisinisiatif untuk masuk ke kelas lima kita. Bagaimana persiapan pidato upacara pembukaan nya, Ryan?" tanya Guru itu kepada Ryan.

"Nanti di liat lagi saat acara, untuk saat ini tidak ada masalah." jawab Ryan

"Bagus lah kalau begitu. Mari kita mulai sesi pelajaran untuk hari pertama masuk kelas." ucap Guru itu kepada seluruh murid nya.

Kenzo Falentino

RUMAH

Di mana, Salsa sedang berada di kamar nya, dan dia duduk di meja belajar nya yang berhadapan langsung dengan jendela.

"Tahun ketiga, dua target. Pertama keluar dari cengkraman si setan Ryan." ucap Salsa.

Dia pun mengambil kertas dari laci. Kertas yang berisikan catatan urutan, dari mulai siswa paling pintar ke bawah. Dan dia melihat perbedaan tingkat nya, dan Ryan sangat lah jauh.

"Berbeda 532 peringkat. Aku tidak percaya, kalo aku tidak bisa masuk Universitas yang jauh dari setan itu." ucap nya ketika dia melihat berbedaan, nilai nya yang sangat jauh dengan Ryan. "Tapi, dengan nilai ku ini, apa aku bisa masuk Universitas?" keluhnya.

Tiba tiba dia tersenyum melihat bingkai foto yang berisikan Ryan, diri nya, dan juga Kenzo Falentino yang tak lain, adalah cowok yang di sukai Salsa.

"Target kedua." ucap nya sambil menutup sebelah bingkai foto, yang bergambar kan Ryan dengan telapak tangan nya.

Dan dengan tiba tiba, Ryan pun masuk ke dalam kamar Salsa, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan dengan sengaja, dia pun mengambil bingkai foto yang di pegang oleh Salsa tadi.

Saking kaget nya, Salsa dia pun reflek langsung berdiri berhadapan dengan Ryan.

"Kau sedang apa disini?" tanya nya sambil mengambil secara kasar bingkai yang di ambil oleh Ryan.

"Apa perlu melamun seperti itu? Hanya karena bingkai foto." ucap Ryan, karena sebelom Ryan menghampiri Salsa, dia secara diam diam memperhatikan Salsa. Sebelom mengambil bingkai foto yang di pengan oleh Salsa.

"Memang nya kenapa? Aku hanya melihat foto lelaki yang ku sukai. Kau iri?" tanya Salsa ketus.

"Kenzo memang lebih ganteng, dan lembut dari mu. Permainan basket nya juga lebih hebat dari mu. Apa lagi senyuman nya, sekali aku melihat langsung membuat hati ku meleleh." ucap Salsa sebelom Ryan menjawab pertanyaan nya.

"Kalau memuji orang lain, tidak perlu di bicarakan di depan ku." ucap Ryan dengan nada dingin. (ya elah bilang aja cemburu🤣)

"Aku mau memberi tahukan mu, nanti sore ke lapangan basket liat aku bermain." ucap nya lagi.

"Sudah ku bilang, aku tidak bisa pergi. Aku ada kelas tambahan." kata Salsa.

Ting Ting

Longceng sepeda pun mengalihkan perhatian mereka berdua. Dengan kompak, mereka melihat dari balik jendela. Untuk melihat ke bawah, siapa yang baru saja membunyikan lonceng sepeda. (Oh yah kamar Salsa ada di lantai atas yah)

Dan dengan senyum merekah, Salsa melihat dari balik jendela. Bahwa, yang barusan membunyikan lonceng adalah Kenzo. Pemuda tampan yang sangat di sukai nya.

"Kenzo Falentino." ucap Salsa dengan senyum lebar nya.

Dari bawah, Kenzo bisa melihat di jendela atas, ada Salsa yang sedang melihat nya. Dia pun secara tiba tiba melambaikan tangan nya.

"Hai." sapa Kenzo.

Saking seneng nya, Kenzo tiba tiba datang dan menyapa nya. Membuat Salsa jadi salah tingkah, dan tidak langsung menjawab sapaan nya.

Karena Ryan, melihat Salsa yang hanya terdiam, dengan ke salah tingkahan nya dia pun mulai berucap.

"Yah sudah, kalau tidak mau pergi. Kelas tambahan juga penting." jawab nya yang sebelom Kenzo datang. Ia sempat meminta, Salsa untuk datang ke lapangan basket tapi malah dia tolak, karena alesan ada kelas tambahan.

Dengan perlahan, Ryan pun melangkah untuk keluar dari kamar Salsa. Namun langkah nya terhenti karena ucapan Salsa yang tak lain kakak angkat nya.

"Tidak, tidak. Aku putuskan menjadi kakak yang baik, aku mau menyaksikan saat saat membanggakan adik ku mendapat kan gelar juara. Kenapa masih berdiri di sini? Aku mau ganti baju sana, sana, keluar!." ucap nya berubah pikiran, karena dia baru tau bahwa Kenzo akan ikut dalam pertandingan basket juga.

Salsa pun mendorong badan Ryan, untuk keluar dari kamar nya. Setelah Ryan keluar Salsa pun menutup pintu kamar nya dengan rapat.

Dia pun menuju lemari, untuk melihat lihat baju yang akan dia pilih, untuk di pakai nya, untuk melihat pertandingan basket adik angkat, dan lelaki yang di sukai nya itu.

***

RUANG TAMU

Disitu ada Ryan dan juga Kenzo yang sedang duduk santai di sofa, sambil menikmati acara televisi.

DAPUR

Dimana Salsa sudah rapih dengan baju nya. Dan baru selesai membuat kan kue, untuk di nikmati oleh mereka ber tiga.

Kenzo pun berdiri dengan tiba tiba. Saat dia melihat, Salsa menuju ke ruang tamu dengan membawa nampan berisikan kue.

"Salsa, sini aku bantu." ucap Kenzo memberi bantuan. Salsa pun memberi nampan nya kepada Kenzo, untuk di letakan di meja ruang tamu.

"Terima kasih." ucap Salsa.

"Kau sibuk dari tadi, membuat ku tidak enak hati." ucap Kenzo karena dia merasa tidak enak. Karena kehadiran nya, Salsa jadi repot repot bikin kue.

Ryan yang sedari tadi hanya terdiam, dan tiba tiba merilik mereka ber dua dengan tatapan tajam. Namun yang di tatap, tidak melihat nya sama sekali.

"Kalau begitu aku makan, ya?" ucap Kenzo meminta izin, untuk memakan kue bikinan Salsa.

"Kau makan lah lebih banyak, jangan sungkan." jawab Salsa.

"Aku coba sedikit. Lumayan enak." kata Kenzo di sertai pujian nya.

"Kau buat sendiri?" ucapnya lagi dengan sedikit basa basi. Salsa pun hanya mengangguk pelan.

"Hebat sekali." ucap Kenzo

"Kenzo, apa kau tidak mengerti apa kata arti "enak"? " tanya Ryan tanpa melirik Kenzo. Ryan yang sedari tadi hanya terdiam, akhir nya membuka suara nya.

"Tidak kok, kakak mu memang sangat hebat. Masakan nya enak, juga sangat pintar. Kalau ada orang yang setiap hari, memaksakan makanan yang enak untuk ku. Aku pasti akan rajin untuk bangun pagi, karena tidak sabar untuk segera memakan masakan nya." jawab Kenzo dan secara tidak langsung, dia pun memuji masakan Salsa.

Karena masakan nya yang di puji oleh Kenzo, Salsa pun dengan tidak sadar langsung tersenyum.

"Kalau begitu, kau boleh sering sering datang." ucap Salsa

"Pasti." jawab Kenzo

"Kalau menonton pertandingan, tunjukkan ketulusan mu. Apa sudah membuat poster dukungan?" sindir Ryan karena dia mulai panas. Karena melihat, ke akraban mereka berdua.

"Oh iya, aku lupa." ucap Salsa karena dia baru sadar, apa yang di ucapkan oleh Ryan itu benar. "Kalau begitu, aku membuat poster dukungan dulu. Sampai jumpa di lapangan basket." ucap nya sambil meminta izin, untuk pamit. Bikin poster dukungan, sebelom berangkat ke lapangan basket.

"Ok, sampai jumpa di lapangan basket." ucap Kenzo.

Salsa pun hanya mengangguk kecil, sebagai respon. Lalu pergi berlari menuju kamar nya. Untuk membuat poster.

SELAMAT MALEM🤗 INI NOVEL KE 2 KU YAH JANGAN LUPA MAMPIR YANG KE PERTAMA JUGA😊

Pertandingan Basket

Salsa saat ini berada di kamar nya, sedang sibuk membuat poster dukungan. Lalu dia mencari pensil warna. Lalu secara tidak sengaja, dia melihat lembaran kertas di meja belajar nya.

"Ini bukan kah cara penyelesaian soal, yang aku inginkan?" tanya nya pada diri sendiri. "Di tulis dengan sangat jelas, baik hati juga dia." ucap nya. Setelah dia mengamati soal itu dengan jelas, akhir nya dia tau siapa pelaku yang menulis nya.

Setelah tau siapa pelaku nya. Ia pun lanjut membuat poster dukungan nya itu hingga selesai. Lalu di liatnya poster itu, terpampang lah nama Ryan di poster itu.

Karna takut pertandingan basket sudah di mulai'i. Ia pun segera berbegas menuju lapangan basket, untuk menonton pertandingan adik angkat nya.

***

LAPANGAN BASKET

Dimana sorak sorak suara mulai meneriaki nama Ryan

"Ryan, semangat. Ryan, semangat."

"Kenzo, semangat. Kenzo semangat."

Begitu lah suara sorakan para penonton, secara bergantian. Oh yah jadi, Ryan sama Kenzo itu satu tim yah guys.

"Kenzo, Kenzo, semangat."

"Semangat."

"Ryan, semangat."

"Sini." ucap Kenzo di tengah permainan basket.

Setelah beberapa menit pertandingan di mulai, Salsa pun mulai datang ke pertandingan.

"Semangat. Semangat." ucap para menonton.

"Terlambat sebentar seharus nya tidak apa apa, kan?" ucap Salsa pada diri nya sendiri. Pasal nya dia memiliki kelas tambahan. Mukin dia akan telat, jika dateng ke kelas tambahan setelah nonton pertandingan.

"Ya Tuhan, semoga orang itu tidak mencari masalah dengan ku." ucap Salsa dalam hati. Pasal nya Guru kelas tambahan nya lumayan killer.

Setelah Salsa terdiam, merenung karena mimikirkan kelas tambahan. Akhir nya dia menuju tribun, untuk mencari tempat duduk yang masih kosong.

"Kakak kelas, apakah kau adalah Kaka nya Ryan?" tanya salah satu penonton.

"Kakak dari Ryan?" tanya penonton yang di sebelah nya.

"Kakak kelas, cepat, cepat di makan."

"Ryan memakai sepatu nomor berapa?"

"Ah iya iya," jawab Salsa yang tadi sempat terdiam karena di cecar oleh penonton. Lebih tepat nya penggemar nya Ryan.

"Tolong beri tahu aku." pinta penonton itu.

"Aku ada urusan mendadak. Aku pergi dulu." alibi Salsa untuk menghindari fans adik nya itu.

Awal nya Salsa mau pergi. Namun baru berdiri dia sudah di tarik oleh fans nya Ryan, akhir nya dia kembali terduduk lagi.

"Kakak kelas jangan pergi dulu."

"Ayolah beri tahu kamu."

"Ok ok, aku hanya akan menjawab satu pertanyaan saja." final Salsa.

"Oke, satu. Tidak apa."

"Sepatu Ryan, nomor 43." jawab Salsa.

Di sisi lain, masih di lapangan basket. Namun di sisi tempat duduk yang bersebrangan. Dimana disitu ada Arkana, yang sedang menonton pertandingan basket.

"Kau bantu aku tanyakan" ucap penonton di belakang Arka, berbicara dengan penonton yang di depan nya.

"Oke." ucap penonton yang di sebelah Arka.

"Permisi apa kah kau murid sekolah ini?" tanya penonton yang di sebelah Arka.

"Boleh kenalan, tidak?" tanya nya lagi.

"Tidak." jawab Arka sambil menggeser tempat duduk nya.

"Bagaimana, bagaimana?" tanya penonton yang di belakang tadi.

"_"

Kita balik lagi ke tempat nya Salsa. Di tempat Salsa duduk, kedatangan perempuan yang sedang berdiri. Bernama Silvinana. Di susul oleh cowok di belakang nya.

"Aku sudah pergi ke enam toko teh susu." ucap cowok itu berbicara dengan Silvi.

Nah guys, jadi cowok yang nyusul Silvi. Yang suka sama Silvi yah, ntah berapa banyak cowok yang suka dengan nya. Sampe sampe dia nyuruh cowok untuk membelikan dia teh susu, tuh cowok pun mau mau aja.

"Baru bisa membeli teh susu yang kau suka." ucap nya lagi.

"Aku sudak tak mau lagi. Untuk mu saja." jawab Silvi.

"Dia kenapa datang?" tanya salah satu fans Ryan kepada temen nya. Saat dia mengetahui Silvi tiba tiba datang.

"Siapa?" tanya Salsa yang kebetulan mendengar, obrolan fans Ryan yang di sebelah nya.

"Lagi lagi ganti pasangan."

"Penakluk pria memang berbeda."

"Memang." ucap fans Ryan yang di belakang Salsa. Yang masih membicarakan Silvi.

"Apa dia sangat terkenal?" tanya Salsa, kepada fans Ryan.

"Siviana." jawb nya.

"Benar, gadis bermasalah yang terkenal. Lihat pengikut yang ada di samping nya. Aku beri tau pada kalian, dia memanggil semua orang dengan satu panggilan. "Hei kau." Silvi memanggil semua orang seperti itu." jawab nya lagi.

"Siapa dia?" tanya Silvi kepada Rizky, cowok yang tadi mengikuti nya. Sambil melirikan mata nya ke arah Salsa.

"Tidak pernah melihat nya." jawab Rizky.

"Dia cukup terkenal yah." ucap Silvi.

"Bagaimana dia bisa di bandingkan dengan mu." kata Rizky.

Balik ke pertandingan basket. Dimana penonton mulai heboh, karena Ryan mencetak poin memasukan bola ke ring. Akhir nya tim Ryan pemenang nya.

Salsa yang bangga dengan adik, nya secara tiba tiba berdiri dari duduk nya. Namun secara tidak sengaja poster yang dia pegang jatuh, lalu di kasih poster dari penonton. Alahasil poster yang bertulis kan nama Ryan itu terbengkalai di bawah lantai.

"Terima kasih." ucap nya kepada penonton yang memberi kan dia poster. Lalu dia melihat poster, itu dan ternyata.

"Kenzo Falentino." ucap Salsa pelan.

'Sejak kapan, aku mulai memperhatikan Kenzo? Seharus nya dari saat itu.' lanjut nya dalam hati.

Flasback On

Dimana Salsa sedang berdiri, di pinggir lapangan basket. Tidak tau dari mana arah nya, bola basket itu hampir mengenai kepala nya. Kalau tidak di cegah oleh Kenzo.

' Dia adalah lelaki pertama.'

' Yang begitu lembut pada ku.'

'Senyuman nya,, dalam sekejap menerangi masa muda ku' ucap Salsa dalam hati.

"Kau tidak apa apa kan?" tanya Kenzo pada Salsa yang hanya diem mematung.

"Ah iya aku tidak apa apa." jawab Salsa setelah dia sadar lamunan nya.

Flasback Off

Salsa tiba tiba mengambil ponsel nya, untuk memotret Kenzo secara diam diam.

Salsa yang lagi sibuk memperhatikan Kenzo. Tiba tiba Silvi datang menghampiri nya.

"Bagaimana seseorang menilai ketampanan?" ucap Silvi tidak jelas arah pembicaraan nya.

'Jangan jangan wanita yang di tolak Ryan. Menggunakan ku untuk melampiaskan emosi nya.' ucap Salsa dalam hati.

Karena dia sangka Silvi ada lah cewek yang telah di tolak oleh adik nya. Karena dia tau, adik nya selalu menolak pernyataan cinta setiap cewek. Yah walaupun Silvi belom termasuk.

Salsa pun terbangun, untuk berhadapan langsung dengan Silvi.

"Perempuan yang menyukai Ryan, sangat lah banyak. Jika kau di tolak, jangan sakit hati." ucap Salsa, dan Silvi pun hanya menganga mendengar penuturan Salsa. Karena dia tidak mengerti, apa yang di maksud kan oleh penurunan Salsa.

"Apa yang kay katakan?" ucap Silvi dengan nada ketus.

"Maksud ku Ryan bukan hanya menolak ku. Dia menolak semua orang, tidak perduli siapa pun akan dia tolak. Jadi kau jangan terlalu sakit hati. Kau sangat lah cantik, dan kau harus percaya diri" ucap Salsa. Jadi si Salsa masih ngiranya, Silvi orang yang di tolak oleh Ryan yah guys.

"Hah. Aku, di tolak? Siapa yang menolak ku?" tanya Silvi tidak habis pikir dengan otak Salsa yang berbicara dengan nya.

"Bukan kah begitu?" ucao Salsa bingung.

"Apa mata mu buta, mana mungkin aku di tolak." ucap Silvi dengan nada sedikit meninggi.

Semua orang yang mendengar nya, langsung menoleh an pandangan nya terhadap Salsa dan Silvi. Termasuk Ryan. Ryan yang mendengar Salsa di bentak, dia pun langsung menghampiri Salsa tanpa melihat Silvi.

"Ryan."

"Ryan."

"Ryan." sorakan para penggemar Ryan.

"Kenapa?" tanya Ryan kepada Salsa.

"Ini karena diri mu.." ucapan Salsa pun terputus, karena suara tepukan tangan Silvi ke pundak Ryan yang sedang membelakangi nya.

"Tidak ada urusan nya dengan mu. Cepat,," ucap Silvi terhenti karena Ryan tiba tiba menoleh ke arah nya. Dia pun hanya terdiam karena terpesona dengan ketampanan Ryan.

Jadi Ryan itu orang nya tinggi ada lah 185 cm, kulit nya putih, alisnya tebal, bibir nya tipis ke pink pink an gitu apa lagi kalo ngelirik seseorang tatapan mata nya sangat tajam. Gimana Silvi yang notabe nya pecinta cogan gak terpesona coba.

Ryan pun kembali menoleh ke arah Salsa. "Ada masalah apa. Katakan lah pada ku?" tanya Ryan

"Ini terhadap pacar ku. Maksud ku wanita pujaan ku. Cepat meminta maaf." ucap Rizky yang tidak terima, perempuan yang di sukai nya di hina. Karena di tolak oleh Ryan padahal sebenarnya tidak sama sekali. Eh ralat maksudnya belom di tolak. Karena bentar lagi Silvi bakal tergila gila oleh Ryan.

"Kebetulan hari ini banyak guru yang dateng, kalau mau membuat keributan besar, akan gue temani sampai selesai." ucap Ryan karena tidak terima di suruh meminta maaf.

"Keren sekali benar benar keren." ucap salah satu penggemar Ryan.

"Jangan kira gue takut pada lo." jawab Rizky.

"Kau,, kita pergi saja." ucap Silvi mengajak Rizky untuk pergi.

"Lihat tidak keren sekali." ucap penggemar Ryan.

"Kita masih akan bertemu." ucap Silvi terhadap Ryan sebelom dia menglangkah pergi, meninggalkan lapangan.

"Tidak terluka, kan?" tanya Ryan dingin kepada Salsa. Secara tiba tiba dia mengusap rambut Salsa, namun keburu Salsa tepis.

"Singkir kan tangan mu, keringat mu bisa nempel di kepala ku." ucap Salsa.

"Apa kau sudah keramas?" tanya Ryan kesal. Karena tangan nya yang di tepis oleh Salsa.

Sebelum Ryan beranjak pergi, tanpa sengaja dia melihat poster yang bertulilan namanya, tergeletak di lantai.

"Jelek sekali." ucap Ryan ketika dia melihat poster buatan Salsa.

"Jelek dari mana." ucap Salsa kesal.

"Keren sekali. Pahlawan lelaki, penyelamat kaka nya." ucap penggemar Ryan.

"Keren sekali."

Setelah beberapa menit beristirahat, pertandingan basket pun mulai di lanjut kan kembali.

.

.

.

...Bersambung.... ...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!