NovelToon NovelToon

Mistery Red Umbrella

Payung Merah Berdarah

Ting... suara bel pintu berbunyi, seorang wanita cantik masuk ke dalam sebuah toserba untuk membeli sesuatu. Langit malam di kota Manhattan tampak mendung, angin sepoi meniup pepohonan yang ada di sisi jalan sehingga dedaunan yang sudah menguning berguguran.

Cuaca semakin memburuk, angin yang tadinya sepoi menjadi sedikit kencang, Hujan rintik pun mulai membasahi jalanan Manhattan. Para pejalan kaki berlari untuk mencari tempat berlindung agar tidak basah terkena air hujan.

Suara bel di pintu kembali berbunyi, wanita tadi keluar dari toserba dan terdiam memandangi hujan yang tadinya rintik menjadi deras. Jam tangan dilihat, wanita itu tampak terburu-buru karena ada janji. Hujan yang semakin mengguyur deras membuatnya harus menunggu sebentar sampai hujan berhenti. Wanita itu tampak gelisah, jam di tangan kembali dilihat.

Bukannya berhenti, hujan semakin mengguyur dengan derasnya. Decakan lidah pun terdengar, sepertinya mau tidak mau dia harus menerobos derasnya air hujan. Lagi pula apartemennya hanya beberapa blok dari toserba tersebut.

Wanita itu sudah akan menerobos tapi langkahnya terhenti karena seorang wanita yang terlihat aneh berdiri di sampingnya sambil memberikan sebuah payung berwarna merah.

"Payung, Nona. Hanya satu dolar saja," ucap wanita misterius itu. Tatapan matanya begitu dingin terasa menusuk tulang.

Karena tidak ada pilihan, mau tidak mau payung seharga satu dolar itu pun dibeli. Lagi pula begitu murah, dari pada kebasahan lebih baik membeli payung itu walau penjualnya terlihat aneh dan mencurigakan.

"Aku beli," satu dolar diberikan, wanita itu segera mengambil payung berwarna merah dari si penjual misterius.

Payung dibuka, wanita itu melangkah pergi menerjang derasnya air hujan untuk tiba di apartemen miliknya. Semula tidak ada yang aneh namun wanita itu tidak tahu jika payung yang dia beli seharga satu dolar itu adalah payung merah terkutuk yang akan memakan korban setiap orang yang menggunakan payung tersebut.

Hujan semakin deras, angin bertiup kencang beserta petir yang menyambar. Wanita itu mulai menyeberangi jalan saat lampu tanda penyeberangan sudah menyala namun langkahnya terhenti saat berada di tengah jalan karena sesuatu menetes dari dalam payung dan mengenai wajahnya.

Wanita itu menyeka sesuatu yang berada di wajahnya, dia tampak terkejut saat melihat noda merah berada di tangan. Wanita itu terkejut karena itu adalah darah. Darah kembali menetes mengenai wajahnya, tubuh wanita itu pun membeku apalagi karena tetesan-tetesan darah semakin banyak.

Dengan keberanian yang ada, wanita itu mendongak untuk melihat apa yang terjadi. Wanita itu pun kembali terkejut, mata melotot bahkan napasnya tertahan pasalnya dari dalam payung yang sedang dia gunakan, muncul wajah seorang wanita yang pucat dan sangat mengerikan.

Sebelah wajahnya membusuk, bola matanya berwarna hitam kelam dan darah keluar dari kedua matanya. Seringai menakutkan terukir dari bibirnya yang robek ke samping. Kedua tangannya yang putih pucat keluar dari payung, kuku-kuku jarinya terlihat panjang dan mengerikan.

Wanita itu tidak bisa berteriak, suaranya seperti hilang. Tubuhnya juga tidak bisa dia gerakkan, hantu wanita yang mengerikan itu terus keluar dari payung dan duduk di atas bahu sang wanita bahkan kedua jari jemarinya yang menakutkan berada di wajahnya yang ketakutkan.

"Aku menginginkan nyawamu," hantu wanita itu berbisik, lalu tertawa terkikik yang bisa membuat siapa saja yang mendengarnya akan bergidik ngeri.

"Ti-Tidak!" dengan kekuatan yang wanita itu miliki, wanita itu melempar payung yang berada di tangan dengan susah payah.

Payung terlepas, wanita itu berlari namun naas baginya karena sebuah truk besar tiba-tiba sudah berada di dekatnya. Malang tak bisa dihindari, nasib naas pun terjadi. Sang supir terkejut dan tidak bisa menghentikan laju mobilnya karena wanita itu tiba-tiba muncul dari pandangannya.

Teriakan wanita itu terdengar lalu tubuhnya ditabrak oleh truk yang sudah tidak bisa berhenti lagi. Tubuh wanita itu terpental sejauh lima meter. Tidak saja dihantam oleh truk, tubuh wanita itu dilindas oleh mobil lain yang membuat kepalanya pecah sehingga wanita itu mati di tempat.

"Hi... Hi... Hi... Hi...!" arwah wanita itu tertawa senang karena dia sudah mendapatkan apa yang dia mau.

Tidak ada yang menyadari keberadaan arwah tersebut, orang-orang berlari melewatinya untuk melihat mayat wanita yang begitu mengerikan di atas aspal jalan. Keberadaan wanita itu tidak terlihat oleh supir truk karena dia seperti disembunyikan oleh sang hantu wanita. Sebab itu ketika payung merah dilepas, wanita itu bagaikan muncul secara tiba-tiba apalagi saat itu lampu lalu lintas sudah berwarna hijau.

Payung merah yang tidak dihiraukan oleh siapa pun ditiup oleh angin, terbang ke sisi jalan. Hantu wanita yang berdiri di sisi korban masih melihat korbannya dengan tatapan penuh dendam, entah apa yang dia cari tapi hantu itu terlihat begitu dendam seolah-olah kematian wanita itu tidaklah cukup.

Tawa mengerikannya masih terdengar, namun tidak ada yang menyadari keberadaannya. Jalanan menjadi macet, keadaan semakin diperburuk dengan keadaan hujan yang tidak juga berhenti. Darah wanita yang baru saja tertabrak mobil mengalir mengikuti aliran air bahkan isi kepalanya yang berserakan di atas aspal jalan juga terbawa oleh aliran air.

Polisi bergerak turun ke tempat kejadian untuk mengevakuasi korban. Beberapa saksi pun dimintai keterangan. Seorang agen wanita melompat turun dari mobil, hujan yang lebat tidak menyurutkan niat Anna Baker untuk melihat apa yang terjadi.

Anna berlari menuju lokasi kejadian namun langkahnya terhenti saat melihat wanita berambut panjang dan bergaun merah tidak melepaskan pandangan dari sang korban. Wajah wanita itu pucat, sorot tatapan matanya menunjukkan kebencian. Ekspresi wajahnya terlihat dingin, wanita misterius itu pun melihat ke arahnya.

Anna Baker menatap wanita misterius dengan tatapan curiga, sepertinya tidak ada yang menyadari keberadaan wanita itu dan memang itulah yang terjadi. Dialah orang pertama yang bisa melihat arwah wanita penuh dendam itu.  Wanita misterius itu pun pergi dari kerumunan orang. Merasa ada yang aneh, Anna Baker mengejar dan menerobos kerumunan orang yang berkerumun. Tatapan matanya tidak lepas dari wanita misterius itu tapi anehnya wanita itu terlihat semakin menjauh.

Langkah Anna terhenti, tatapan matanya masih tidak berpaling dari wanita misterius yang sudah berada di ujung jalan dan anehnya, sebuah payung merah sudah wanita itu kenakan. Anna bahkan belum memalingkan tatapan matanya dari wanita misterius itu. Seringai mengerikan menghiasi wajahnya yang pucat karena ini kali pertama ada yang melihat sosoknya selain korbannya.

Anna memandanginya dengan tatapan heran, siapa wanita misterius itu? Kenapa sosoknya tidak seperti manusia pada umumnya? Wanita itu pun melangkah pergi tetapi sesungguhnya dia tidak melangkah namun melayang ke udara tapi Anna tidak bisa melihat jika wanita itu sedang melayang. Wanita itu bahkan hilang dari pandangannya dalam sekejap mata.

Anna Baker ingin mengejar namun seseorang menepuk bahunya sehingga membuat Anna terkejut. Sang rekan menatapnya heran, apa yang dilakukan Anna di sana?

"Ada apa?" tanya rekannya.

"Tidak!" Anna melihat ke arah hilangnya arwah wanita itu lalu mengikuti sang rekan menuju tempat kejadian untuk mengumpulkan barang bukti dan membawa supir truk untuk di interogasi lebih lanjut.

Sang Agen, Anna Baker

Supir yang menabrak korban hingga tewas sudah di bawa untuk diinterogasi. Sang supir yang tidak tahu kenapa korban tiba-tiba muncul tampak kebingungan saat ditanya oleh seorang polisi. Jawaban yang dia berikan tidak bisa diterima oleh petugas tersebut sehingga sebuah gebrakan meja dia dapatkan.

"Cepat jawab, apa kau sedang mabuk atau sedang mengkonsumsi obat?!" tanya polisi itu sambil berteriak.

"Tidak, aku tidak minum dan aku juga bukan pecandu," sang supir berharap polisi itu percaya dan tidak menahannya karena dia memiliki keluarga yang sedang menunggunya di rumah.

"Tidak perlu menipu!" teriak polisi itu lagi.

"Aku sungguh tidak sengaja menabraknya," sang supir yang malang menunduk dan terlihat pasrah.

Petugas itu ingin kembali bertanya namun niatnya terhenti saat dua agen masuk ke dalam ruangan. Yang wanita meletakkan map yang dia bawa ke atas meja, sedangkan yang pria menghampiri polisi yang sedang menginterogasi sang supir truk.

"Sisanya serahkan pada kami," ucap agen pria itu sambil menepuk bahu si petugas.

Si petugas mengangguk dan keluar dari ruangan meninggalkan kedua agen yang akan menginterogasi supir truk. Sesungguhnya kasus itu seperti kasus tabrakan pada umumnya namun keberadaan payung merah yang selalu berada di sisi korban membuat sang agen Anna Baker ingin mendalami kasus itu lebih jauh karena dia merasa, kasus yang sedang dia tangani saling berkaitan.

Sang supir semakin ketakutan, dia tidak mau masuk penjara gara-gara hal itu walaupun dia yang telah menabrak korban hingga tewas.

"Mam, aku benar-benar tidak melihatnya. Wanita itu tiba-tiba muncul di depan mataku sehingga aku tidak bisa menghindarinya!" ucap sang supir.

"Tidak perlu berkelit, apa kau mengira wanita itu bisa muncul tiba-tiba seperti hantu?" ucap sang agen pria.

"Barrow, ijinkan aku yang berbicara dengannya," pinta Anna.

Anna Baker yang berusia dua puluh sembilan tahun sudah menjadi agen selama enam tahun untuk menangani kasus rumit tapi kali ini dia dihadapkan dengan kasus berantai yang menewaskan banyak wanita muda. Dia memaksa datang untuk menginterogasi sang supir secara pribadi dan Barrow ditugaskan untuk menemaninya.

"Baiklah, entah kenapa kau begitu ngotot untuk menginterogasinya jadi aku ingin tahu," agen pria yang dia panggil Barrow menarik kursi dan duduk di hadapan sang supir.

"Terima kasih atas kerja samanya," Anna juga menarik kursi untuk duduk.

"Sekarang aku ingin mendengar, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau tidak melihat wanita itu sedang menyeberangi jalan?" tanya Anna pada sang supir.

"Mam, aku berani bersumpah jika wanita itu muncul secara tiba-tiba," ucap sang supir.

"Tolong jelaskan secara rinci," pinta Anna.

"Aku membawa mobilku seperti biasa karena saat itu lampu sedang hijau dan lampu penyeberangan jalan berwarna merah namun wanita itu tidak ada di jalan sebelum aku mulai melintas. Entah bagaimana caranya, aku juga tidak tahu. Tiba-Tiba saja wanita itu muncul di depan mataku. Dia seperti berteriak dan ketakutan, payung yang dia bawa juga berusaha dia lempar. Aku terkejut dan tidak bisa menghindari lagi sehingga tanpa aku inginkan mobil yang aku bawa menabrak wanita itu," jelas sang supir sambil menunduk.

"Apa kau tidak melihat orang lain di samping wanita itu?" tanya Anna.

"Tidak ada, Mam. Hanya wanita itu saja yang tiba-tiba muncul."

"Sudahlah, Anna. Itu hanya alasannya saja untuk menghindar dari tuduhan," ucap Barrow.

"Sekecil apa pun alasannya, kita harus tahu Barrow. Bagaimana jika penjelasan yang dia berikan memberikan kita petunjuk atas kasus yang sedang kita tangani."

"Mana mungkin, Anna. Ini kasus tabrakan sedangkan kasus yang kita tangani adalah pembunuhan berantai," ucap Barrow.

Anna Baker diam saja, memang terdengar aneh dan tidak masuk akal namun dia memiliki firasat jika pembunuhan yang sedang terjadi saling berhubungan dan saling berkaitan.

"Ada hubungannya atau tidak, kita lihat nanti, Barrow," ucap Anna.

"Baiklah, lanjutkan!" Barrow menghela napas. Entah apa yang dipikirkan oleh Anna, dia rasa apa yang dia lakukan saat ini hanya sia-sia saja.

"Terima kasih, sekarang jawab aku. Apa ada orang lain selain wanita itu?" tanya Anna lagi pada sang supir.

"Tidak ada, hanya wanita itu saja yang terlihat ketakutan seperti melarikan diri dari sesuatu," jawab sang supir.

Anna Baker menatap sang supir, lalu mengeluarkan beberapa lembar foto dan meletakkan beberapa foto itu di hadapan sang supir.

"Lihatlah, kenapa aku berkata jika kasus ini saling berkaitan," foto di susun satu persatu yang menampakkan beberapa kasus wanita yang juga memakan korban wanita muda.

"Mereka semua mati mengenaskan, yang ini mati di gantung di atas pohon yang ada di hutan," Anna menunjukkan foto yang dia maksud, "Dan yang ini ditemukan di dalam gorong-gorong dan kau bisa melihat itu semua," ucapnya lagi.

"Lalu apa hubungannya denganku, Mam?" tanya sang supir.

"Apa kau tidak melihat, di setiap foto ini selalu ada sebuah payung merah berada di dekat sang korban!"

"Yang benar?" Barrow beranjak dari tempat duduknya untuk melihat foto-foto yang Anna maksud. Benar saja, disetiap foto tersebut terdapat sebuah payung berwarna merah. Aneh, dia baru menyadari hal itu.

"Apa kau baru menyadarinya? Semalam aku juga melihat payung itu berada tidak jauh dari tempat kejadian."

"Sial, jadi kau melihat payung itu saat aku menghampirimu?" tanya Barrow ingin tahu.

"Tidak, aku melihat seorang wanita misterius bergaun merah berada di lokasi."

"Jangan mengada-ada, tidak ada wanita seperti yang kau sebutkan bahkan kita sudah melihat cctv tapi tidak ada wanita seperti itu!" ucap Barrow.

Apa yang dikatakan oleh supir truk sangat berbeda dengan rekaman cctv. Korban terlihat menyeberangi jalan lalu truk melintas dan tiba-tiba menabraknya. Sebeb itu sang supir tidak bisa dilepaskan dan dianggap sebagai tersangka utama.

"Aku melihatnya, Barrow.  Apa kau tidak melihatnya?"

"Tidak, Anna. Aku juga tidak melihat adanya payung merah yang mau maksud apalagi wanita itu."

"Aneh," ucap Anna pelan. Dia benar-benar melihat wanita misterius dan mengerikan itu tapi kenapa rekannya tidak menyadari keberadaannya? Entah kenapa jadi semakin rumit, rasanya sangat ingin berada di sisi korban sebelum korban itu mati agar dia tahu apa yang terjadi.

"Bagaimana, Mam. Apa aku akan dibebaskan? Aku benar-benar tidak mau menabraknya tapi wanita itu yang muncul secara tiba-tiba," ucap sang supir.

"Maaf, bukan aku yang memutuskan atas kasusmu. Aku datang hanya untuk menginterogasi saja tapi kau tidak perlu khawatir, rekaman cctv sedang dipelajari oleh pihak berwajib," ucap Anna seraya merapikan foto-foto yang ada di atas meja.

"Apa, aku benar-benar tidak bersalah. Bebaskan aku sekarang karena keluargaku sudah menunggu di rumah!" teriak supir tersebut.

Anna tidak bisa melakukan apa pun karena dia tidak memiliki bukti yang bisa membebaskan supir truk tersebut, semoga saja rekaman cctv bisa memberikan bukti jika supir itu tidak bersalah. Sungguh kejadian yang sangat aneh tapi dia yakin jika semua yang terjadi ada hubungannya dengan wanita misterius yang membawa payung merah yang dia lihat di lokasi kejadian tapi yang membuatnya tidak mengerti adalah, kenapa Barrow tidak melihat wanita itu dan kenapa di rekaman cctv tidak terlihat keberadaan wanita misterius tersebut?

Entah kenapa kasus itu semakin rumit ditambah keterangan yang supir truk itu berikan sangat tidak masuk akal. Jangan-Jangan sang supir sedang mengantuk sehingga dia mengira sang korban tiba-tiba saja muncul seperti yang ditunjukkan oleh cctv. Walau ingin menyangkal tapi yang terjadi sulit diungkapkan dengan logika dan dia juga yakin jika dia tidak salah melihat sosok misterius itu.

Anna dan Barrow keluar dari tempat itu tanpa mendapatkan hasil yang memuaskan.

"Sudah aku katakan, kau tidak akan mendapatkan apa pun," ucap Barrow.

Anna menghela napas beratnya, benar yang Barrow katakan. Dia kira sang supir bisa memberinya petunjuk tapi dia tidak mendapatkan apa pun. Apakah wanita misterius yang dia lihat sesungguhnya tidak ada?

"Dari pada pusing, bagaimana jika kencan di kamarku?" ajak Barrow.

"Ck, dari pada kencan di kamarmu yang bau lebih baik ajak aku makan," ucap Anna.

"Baiklah, ayo kita pergi makan!"

Anna tidak bersuara, memikirkan wanita misterius yang dia lihat. Barrow membawa mobilnya sedikit cepat agar mereka cepat tiba di restoran namun seorang wanita yang hendak menaiki sebuah bus menarik perhatian Anna. Wanita itu terlihat membawa sebuah payung merah padahal saat itu tidak sedang hujan.

"Stop, Barrow!" teriaknya.

"Ada apa?" Barrow tampak tidak mengerti.

"Stop aku bilang!" Anna kembali berteriak.

Mobil dihentikan secara mendadak. Anna keluar dari mobil secara terburu-buru untuk melihat bus yang mulai berjalan pergi. Anna terkejut melihat sosok wanita misterius yang dia lihat di tempat kejadian kini berada di belakang wanita yang dia lihat tadi.

"Ada apa?" tanya Barrow seraya menghampirinya.

"Ikuti bus itu, Barrow," perintah Anna.

"Untuk apa, Anna?" Barrow benar-benar tidak mengerti.

"Aku punya firasat akan ada korban!" Anna menarik sang rekan dan memintanya bergegas. Dia harap dia tidak terlambat namun arwah penuh dendam itu tidak akan melepaskan korban yang sedang dia incar dan dia tidak akan segan membunuh orang yang akan mengganggunya nanti.

Anna berharap dia bisa menghentikan wanita misterius itu sehingga tidak ada lagi korban yang jatuh tapi sayangnya dia belum tahu jika yang dia hadapi bukanlah manusia.

Tenang guys, sebenarnya ini kisah si agen Anna ini memecahkan kasus yang disebabkan oleh Arwah dan mencari tahu siapa arwah itu dan apa alasan sehingga dia selalu membunuh. Gak mistis amat kok, kalau takut bacanya pagi aja, wkwkwk....

Arwah Yang Marah

Anna masih meminta Barrow untuk mengikuti bus yang berada tidak jauh darinya. Dia masih bisa melihat jelas wanita misterius yang berdiri di belakang wanita yang dia ikuti. Barrow sungguh tidak mengerti kenapa Anna memintanya mengikuti bus itu dan mengatakan jika akan ada korban lagi. Ck, sepertinya mereka harus lembur malam ini.

Anna berusaha mengambil foto wanita misterius itu menggunakan ponselnya tapi tidak berhasil. Aneh, setiap kali dia mengambil gambar, sosok wanita itu tidaklah terlihat.

"Sebenarnya ada apa, Anna?" tanya Barrow.

"Apa kau tidak melihat ada yang aneh di dalam bus itu, Barrow?" tanya Anna sambil melihat tangkapan gambar dari kamera ponselnya.

"Tidak, bus itu biasa saja," jawab Barrow.

"Jadi kau benar-benar tidak bisa melihatnya?" Anna menatap ke arah Barrow dengan tatapan tidak percaya.

Barrow menggeleng, dia benar-benar tidak melihat apa pun. Anna semakin merasa aneh, dia kembali melihat ke arah bus namun dia terkejut karena wanita misterius yang ada di dalam bus sedang melihat ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

Anna tidak bergeming, wanita itu terlihat marah. Sepertinya dia tahu jika Anna sedang mengikutinya. Tatapan matanya bahkan semakin menakutkan sehingga membuat tubuh Anna membeku.

"Ba-Barrow," Anna memanggil sahabatnya karena dia merasa memiliki firasat buruk.

"Ada apa?" tanya Barrow.

Anna menelan ludah, wanita misterius itu semakin terlihat mengerikan karena marah. Wanita itu berteriak, mulutnya begitu lebar hingga tertarik ke bawah bagaikan topeng scream yang menakutkan dan dengan mulutnya yang robek kesamping, semakin terlihat mengerikan. Rambut arwah wanita itu terlihat mekar seolah-olah ada yang menariknya. Anna dapat mendengar teriakannya yang melengking nyaring padahal jarak mobil Barrow dan mobil bus tidak begitu dekat namun Barrow tidak bisa mendengarnya.

"Hentikan mobilnya!" teriak Anna sambil menutup kedua telinganya akibat dia tidak tahan mendengar teriakan wanita misterius itu.

"Ada apa denganmu?" Barrow benar-benar tidak mengerti karena Anna seperti ketakutan dan seperti mendengar suara yang nyaring sehingga Anna harus menutup kedua telinganya.

"Per....gii...!" teriakan itu melengking di dalam pendengaran Anna sehingga dia merasa gendang telinganya hampir pecah.

"Hentikan mobilnya, Barrow. Hentikan!" pinta Anna. Kedua tangan semakin menutup telinga dengan rapat untuk menghentikan rasa sakit.

Barrow menghentikan mobilnya dengan cepat, dia tampak khawatir dengan keadaan Anna yang berteriak akibat rasa sakit di telinganya.

"Anna, ada apa denganmu?" Barrow mengguncang bahu Anna karena dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

"Dia marah, dia tidak ingin kita mengikutinya," ucap Anna sambil terengah.

"Siapa yang kau maksud, Anna?"

"Wanita itu," Anna duduk tegak dengan napas yang masih memburu, "Wanita misterius itu tidak ingin kita mengikutinya," ucap Anna lagi.

"Wanita yang mana? Kenapa kau selalu berkata ada wanita misterius, apa sebenarnya yang terjadi?"

"Aku melihatnya, Barrow. Wanita misterius itu berada tepat di belakang wanita yang baru saja naik ke atas bus itu. Entah kenapa kau tidak bisa melihatnya tapi aku sudah melihatnya dua kali!" ucap Anna.

"Jangan mengada-ada, apa kau kira wanita itu penyihir yang hanya menampakkan dirinya padamu saja?"

"Aku tidak tahu tapi ikuti bus itu lagi. Kita harus mencegah agar tidak ada korban yang jatuh lagi."

"Apa kau yakin, Anna? Entah kenapa aku merasa kita sedang berurusan dengan hal gaib," ucap Barrow. Semua yang dialami oleh Anna sudah diluar akal sehat. Dia sungguh tidak melihat wanita misterius yang disebutkan oleh Anna. Jangan-Jangan wanita yang dimaksud oleh Anna bukanlah manusia, sebab itu hanya Anna yang bisa melihatnya.

"Jangan mengada-ada. Aku tidak percaya dengan hal seperti itu," ucap Anna tanpa menyadari jika yang dia lihat adalah arwah wanita muda yang mati dan dipenuhi dendam.

Mereka kembali mengikuti mobil bus namun secara diam-diam agar tidak ketahuan oleh wanita misterius yang masih berada di dalam bus. Cukup lama mereka mengikuti, bus berhenti di halte yang sangat sepi. Wanita yang akan menjadi korban turun dari dalam bus.

Wanita itu bersikap aneh, tatapannya kosong dan dia bagaikan tidak sadarkan diri. Wanita itu melangkah tanpa tujuan arah dan anehnya, dia menggunakan payung merah yang selalu dia bawa sedari tadi padahal malam itu tidak hujan. Wanita itu bahkan melangkah memasuki hutan yang ada tidak jauh darinya.

"Hentikan mobilnya, Barrow," pinta Anna.

"Apa kau yakin, Anna?" Barrow menghentikan mobilnya di sisi jalan.

"Tentu saja aku yakin, jika kau takut maka tunggu aku di mobil," sepucuk senjata api dan sebuah senter dibawa saat Anna keluar dari mobil. Dia akan menembak wanita misterius itu jika sampai wanita itu melakukan sesuatu yang berbahaya.

"Anna, tunggu aku!" teriak Barrow.

Anna sudah melangkah di depan, dia terlihat mengendap-endap untuk mencari wanita yang yang akan menjadi korban dan sudah masuk ke dalam hutan. Wanita itu tidak terlihat, Anna mengendap dari satu pohon ke pohon yang lain sambil mengarahkan senter ke depan untuk menerangi jalan yang gelap dan juga senjata api yang bisa dia gunakan untuk menembak jika ada sesuatu yang aneh.

Hutan gelap yang sedikit berkabut membuat jarak pandang Anna semakin menjadi minim. Anna mencari sosok korban, sedangkan Barrow mencari sosok Anna yang tidak bisa dia lihat lagi.

"Anna!" Barrow berteriak memanggil namun tidak ada yang menjawab.

Langkah Barrow terhenti dan melihat sekelilingnya. Hutan itu begitu sunyi, hanya ada suara serangga malam dan burung hantu saja. Barrow terus mencari Anna, seharusnya ada sinar lampu senter yang Anna gunakan tapi kenapa tidak terlihat cahaya sama sekali?

"Anna, di mana kau?" Barrow kembali berteriak memanggil. Anna pasti bisa mendengar panggilannya karena mereka tidak begitu jauh tapi kenapa Anna tidak menjawab?

"Anna!" dia berteriak untuk kesekian kali tapi apa yang dia lakukan sia-sia karena dunia mereka terpisah.

Anna semakin melangkah maju menerobos kabut asap. Wanita itu tidak terlihat takut sama sekali, dia juga tidak mendengar panggilan Barrow seolah-olah ada yang menutupi pendengarannya. Napas Anna memburu, kakinya melangkah perlahan namun dia dikejutkan dengan sesuatu yang tiba-tiba melintas dari semak-semak.

Anna mengarahkan senternya ke aras semak-semak namun tidak ada siapa pun. Semak-Semak itu tampak bergerak seperti ada yang baru saja melintasinya. Hutan itu sangat hening, serangga malam tidak terdengar sama sekali. Anna kembali melangkah namun kali ini dia dikejutkan oleh sesuatu yang melintas di sisi lainnya.

"Hallo, siapa di sana?" Anna mencoba memanggil namun hanya kesunyian yang dia dapatkan.

"Barrow, itukah kau?" Anna melangkah mendekati semak-semak dan kali ini dia dikejutkan oleh sesuatu yang melintas di belakangnya.

"Barrow, ini sama sekali tidak lucu!" teriak Anna. Dia sudah terlihat kesal karena dia pikir Barrow yang menakutinya padahal Barrow terus mencari keberadaannya padahal jarak mereka tidak begitu jauh.

Suasana hening, tidak ada pergerakan lagi. Anna kembali melangkah maju, senter terus menyinari jalan yang akan dia lalui. Beberapa pohon besar dia lewati, langkah Anna terhenti saat menemukan apa yang dia cari. Wanita itu berdiri di bawah pohon besar dengan ranting-rantingnya yang sudah kering dan wanita itu berdiri membelakanginya. Payung merah masih dia kenakan, wanita itu terlihat begitu aneh.

"Apa yang kau lakukan di sana, Nona?" pistol diangkat tinggi begitu juga senter yang dia gunakan untuk menerangi wanita itu.

Wanita itu berbalik, wajahnya terlihat mengerikan. Anna menelan ludah dan memundurkan langkahnya, semua bola mata wanita itu terlihat hitam legam. Seringai jahat juga menghiasi wajahnya dan wanita itu memang sudah menunggunya di sana. Tidak, yang menunggunya adalah arwah si payung merah karena dia tidak senang Anna mengikutinya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!