Di sebuah rumah mewah, terdapat banyaknya karangan bunga ucapan belasungkawa. Bahkan tenda dan kursi masih berjejer di depan kediaman Pak Erlangga.
Siang itu, lelaki yang merupakan pendiri dan pemilik perusahaan Pradipta baru saja di makamkan. Beberapa orang kebersihan tampak masih membersihkan bagian depan. Sedangkan di dalam rumah megah nan mewah itu. Sosok perempuan nomor satu di rumah itu masih berada di tempat tidur dalam keadaan tak sadarkan diri.
Lukis Wijayanti, ia masih merasakan kesedihan yang mendalam karena kehilangan lelaki yang menemani dirinya. Erlangga Pradipta atau biasa dipanggil Pak Rangga meninggal dunia karena penyakit jantungnya. Hal itu dikarenakan satu berita yang ia dengar bahwa salah satu cucu kesayangannya yang bernama Ibrahim dinyatakan menjadi salah satu korban ledakan Bom di sebuah gedung saat sedang kuliah di Australia.
Putra ketiga Ayra memang melanjutkan pendidikannya ke Australia untuk mengambil jurusan ekonomi di negara kangguru itu. Namun naas saat terjadi ledakan di gedung itu. Anak ketiga Bram sedang berada disana sebagai salah satu peserta seminar. Maka kabar bahwa Ibrahim menjadi salah satu korban meninggal dunia di gedung itu, membuat Pak Erlangga langsung dilarikan ke rumah sakit. Seolah Keluarga Pradipta itu dibuat untuk kembali kuat di kala musibah datang bertubi-tubi.
Ayra juga harus mencoba tegar, dikala anak nya dinyatakan telah tiada. Papa mertua yang begitu menyayangi dirinya di awal pernikahan membuat dirinya cukup terpukul walau masih mencoba untuk tetap tegar. Rumah mewah nan megah milik Pak Erlangga itu terlihat sekali suasana duka. Rani dan Bambang pun hanya mampu memandangi wajah orang tua mereka yang ada di ruang keluarga. Begitupun Beni dan Liona. Sepasang suami istri itu masih saling menenangkan.
Di ruangan kamar Lukis. Ayra menemani sang ibu mertua masih dengan melantunkan shalawat yang ia harap bisa menjadi penenang hatinya yang sedang bersedih. Air mata tak mampu lagi keluar dari sudut mata Istri Bram itu. Saat ia sibuk dengan bacaan shalawatnya. Seseorang memeluknya dari belakang.
"Ma.... " Suara serak Ammar yang baru saja tiba di Jakarta.
Anak pertama Ayra itu tak bisa menghadiri proses pemakaman Pak Erlangga karena ia berada di Jepang. Saat berita meninggalnya Ibrahim, ia langsung terbang ke Indonesia namun saat tiba di tanah air. Sebuah kabar duka baru ia dengar bahwa Pak Erlangga telah tiada. Maka saat ia tiba di tanah air. Pak Erlangga telah di makamkan.
Ayra menoleh ke arah suara yang ia rindukan satu Minggu ini. Ammar memeluk perempuan yang telah melahirkan dirinya. Ia tak menyangka jika sang ibu masih bisa tersenyum menatap wajahnya. Ayra memegang pundak anak pertamanya.
"Kamu harus kuat Mar. Jangan tunjukkan kesedihan mu di hadapan Qiya. Temuilah adik mu di kamar biasanya ia tidur." Ucap Ayra pelan.
Ia tadi sempat menenangkan anak perempuannya. Saat ini, Qiya masih mengurung diri di kamar yang biasa ia tempati jika sedang menginap di rumah Pak Erlangga.
Ammar mengangguk pelan. Ia mencium punggung tangan Ayra. Cukup lama ia tahan kecupan pada punggung tangan ibunya itu. Sehingga tak terasa butiran hangat jatuh membasahi punggung tangan Ayra.
Ayra mengusap pipi putranya itu.
"Semua yang ada di dunia ini akan kembali pada Nya Nak. Termasuk Ibrahim dan juga Kakek mu." Ucap Ayra dengan suara serak.
Mata dan hidungnya bahkan terlihat merah. Dahinya terasa berat karena banyaknya air mata yang keluar.
Sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Ammar mencium dahi neneknya yaitu Lukis.
Ammar pun menuju ruangan dimana adiknya yang manja namun kadang tegas itu sedang menyendiri. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Itulah ungkapan yang pas untuk Qiya. Ia memang menyendiri di ruangan itu. Namun ia duduk diatas sajadah, tangannya sibuk dengan butiran tasbih kayu yang terus bergerak diantara sela-sela jari telunjuk dan jempol nya.
Ammar mengucapkan salam ketika ia mengetuk pintu kamar adiknya. Qiya menjawab sambil menoleh ke arah pintu. Kakak beradik itu saling pandang. Mereka yang biasanya bisa saling merasakan jika salah satu dari mereka sakit. Maka apalagi di saat hari mereka kehilangan adik bungsu mereka. 'Baim' Panggilan yang biasa Qiya sematkan untuk bungsu Ayra itu.
"Baim.... Baim.... sudah pergi. Dia sudah tidak ada kak.... Kakek...." Ucap Qiya masih dengan posisi duduk dan kepala menoleh ke arah kakaknya.
Ammar berjalan pelan. Ia duduk di hadapan adiknya. Ia tarik kepala adiknya yang terbungkus mukenah. Qiya menangis sepuasnya di dalam pelukan sang kakak.
"Ibra tidak pergi Qi. Dia telah kembali menemui kekasihnya. Ia pulang kemana ia berasal. Teruslah berdoa untuk Ibra. Dia akan senang jika kita tidak berlarut-larut dalam kesedihan." Ucap Ammar dengan suara tenang.
Qiya memundurkan wajahnya dari sang kakak. Ia menatap bola mata Ammar.
"Kakak tidak merasa kehilangan?" Tanya Qiya penasaran. Karena suara Ammar begitu tenang walau ada sisa air mata di sudut mata penerus MIKEL Group itu.
"Apakah untuk bersedih harus ada air mata yang mengalir? apakah untuk merasa kehilangan harus menangis terisak-isak? Hati kakak mana yang tak merasa sakit, kehilangan adik yang lebih pintar dalam segala hal. Bahkan Ia yang selalu mengingatkan kakak mu ini untuk selalu mengedepankan bekal ke akhirat." Jelas Ammar sambil memegang pundak adiknya.
Ibrahim memang sering mengingatkan Ammar bahwa prinsip hidup Ammar yang mengatakan bahwa harus seimbang antara dunia dan akhirat. Sedangkan adik bungsunya itu yang dari kecil sudah di pondok hingga lulus SMA masih mengabdi di pondok, memiliki prinsip bahwa yang paling penting adalah bekal untuk akhirat.
Ibrahim mirip Bram. Ia irit bicara tapi sosoknya kadang membuat Ayra teringat akan Abi Rohim. Ada kesamaan antara Ibrahim dan Abi Rohim dalam bersikap dan bertindak. Bahkan Ammar jika sudah berdiskusi dengan Ibrahim, maka dipastikan jika putra sulung Ayra itu akan terdiam mendengar penjelasan-penjelasan dari sang adik bungsu.
Saat Ammar mencoba menenangkan hati sang adik. Cobaan kehidupan seolah ingin kembali bermain-main dengan salah satu anak kembar Ayra. Seorang tamu yang baru saja Bram temui di ruangan depan. Membuat Bram menahan amarahnya berkali-kali. Ia yang tadi sengaja tak memanggil Qiya atau Ayra ke ruangan depan. Ternyata keputusannya betul.
Orang tua dari Hilman yang merupakan calon suami Qiya memutuskan untuk membatalkan pernikahan yang tinggal 14 hari lagi. Undangan telah disebar, belum lagi duka kehilangan ayah dan anak bungsu tercinta hilang. Kembali ia harus di tuntut untuk sabar dan bijaksana menerima kabar itu. Ia pun mencoba Manahan gerahamnya. Jika dulu keluarga Hilman yang begitu berharap putrinya menjadi menantu di keluarga mereka. Maka kenapa tiba-tiba di hari duka itu mereka justru menambah luka baru.
"Apakah tidak bisa menunggu sampai besok Pak Rendra?" Tanya Bram sambil menatap sinis keluarga calon besannya.
"Maaf Pak. Putra kami sendiri yang mengatakan jika ia tak ingin menikah dengan putri anda. Ia tak ingin karir politiknya menjadi buruk karena menikah dengan Qiya." Ucap Pak Rendra dengan hati-hati.
"Apa maksud anda!" Bentak Bram.
"Apa Pak Bram belum membaca berita terbaru?" Tanya Pak Rendra sambil menunjukkan sebuah tablet ke arah Bram.
Kedua pupil mata Bram membesar membaca media yang diterbitkan oleh pemerintah tempat dimana Ibrahim menuntut ilmu jurusan ekonomi. Ia pun mengepalkan tangan kanannya.
"Siapa yang membuat Berita Gila Ini!" Bentak Bram masih menahan emosinya.
"Jadi dengan alasan ini. saya juga sependapat dengan Hilman. Kami rasa lebih cepat lebih baik. Rencana pernikahan Qiya dan Hilman kami batalkan." Ucap Pak Rendra sambil permisi pamit.
Seorang perempuan yang dari tadi mencoba tegar. Terjatuh tepat sebelum ia menuruni anak tangga. Pertahanannya roboh, ia seolah tak mampu mendengar berita yang kembali menyakiti hatinya.
Perempuan itu jatuh dari atas anak tangga hingga berguling sampai ke bawah. Bram berteriak kencang menyebut sebuah nama.
Bersambung...
"Ayraaaaa!"
Suara teriakan Bram terdengar sampai ke kamar Qiya. Sepasang anak kembar itu cepat luar kamar. Mereka tidak pernah mendengar Bram berteriak di dalam rumah. Apalagi dari suara Pendiri Mikel Group itu terdengar Panik. Ammar cepat berlari ke arah suara. Ia cepat menuruni anak tangga.
Ia melihat Bram memangku kepala Ayra. Tampak dahi perempuan yang telah melahirkan Ammar itu berdarah.
"Mama!" Ammar cepat berlari dan menggendong tubuh ibunya.
Tanpa berpikir panjang, Ammar cepat membawa tubuh Ayra ke arah luar rumah. Qiya yang telah tiba di lantai bawah pun cepat mengejar Ammar. Masih lengkap dengan mukenah di tubuhnya. Bram pun mengikuti putranya. Penghuni rumah lainnya cepat ingin bertanya apa yang terjadi. Namun Qiya yang langsung membuka pintu mobil belakang. Ia masuk, dan Kepala sang ibu pun berada di pangkuannya. Ia memegang pergelangan tangan Ayra.
Ia memeriksa denyut nadi perempuan yang telah melahirkan dirinya. Kemudian putri Ayra itu menekan dahi Ayra yang masih mengeluarkan daraaah. Agar darah tak terus mengalir.
Sedangkan Bram masuk kedalam mobil. Ia duduk di sisi Qiya. Ia memangku tubuh istrinya yang bagian bawah. Ammar langsung masuk kedalam mobil dan duduk di balik kemudi.
"Pasang sabuk pengamannya. Kita cari klinik atau rumah sakit terdekat!" Ucap Ammar sambil memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya. Qiya dan Bram melakukan hal yang sama.
"Berdoa dulu kak. Jangan terburu-buru. Mama insyaallah tidak apa-apa. Denyut nadinya stabil." Ucap Qiya sambil melonggarkan pakaian sang ibu. Terutama bagian underwaer bagian dada sang ibu melalui sela-sela baju.
Bram hanya menatap Ayra sendu. Ia yakin istrinya mendengar berita pembatalan pernikahan Qiya dan Hilman. Dan hal itu mungkin membuat tubuhnya yang lemah tak fokus ketika melangkah menuruni anak tangga.
Qiya penasaran bertanya apa yang terjadi pada Bram.
"Apa yang terjadi Pa? Kenapa mama bisa jatuh dari tangga? Mama bukan orang yang teledor." Tanya Qiya sambil masih menekan luka pada dahi ibunya.
"Papa juga tidak tahu." Kilah Bram pada putrinya. Ia belum bisa berkata jujur pada sang buah hati. Ada Rasa bersalah namun lebih besar rasa tak tega untuk menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.
Ammar yang dari tadi berusaha tegar. Kini putra sulung Ayra itu meneteskan butiran bening dari sudut matanya. Sambil mengemudikan mobilnya. Ia sesekali mengusap wajahnya karena air mata yang terus saja keluar tanpa ia inginkan.
Qiya yang melihat kakak laki-lakinya menitikkan air mata dari spion mobil, ia tahu hanya kondisi ibunya yang bisa membuat Ammar lemah.
"Kamu bilang tidak perlu air mata untuk mengungkapkan kesedihan kak. Lantas air apa yang mengalir dari mata mu?" Tanya Qiya.
"Jika ada yang bisa membuat air mata ini tidak jatuh, maka dia adalah Mama. Dan Jika airmata ini jatuh. Ia juga karena Mama. Mama meminta ku untuk tak meneteskannya di hadapan mu, Qi." Ucap Ammar sambil tetap fokus menatap jalanan.
Selang beberapa menit. Ia tiba di sebuah rumah sakit swasta yang tak terlalu besar. Ia cepat memarkirkan kendaraannya di depan ruangan UGD. Tampak perawat dan satpam dengan cekatan membawa rolling bad ke arah Ayra yang sedang di gendong oleh Ammar.
Qiya ingin masuk kedalam ruangan itu, namun ia harus menahan langkahnya. Ia memang baru saja berhasil memperoleh gelar dokter (dr) karena berhasil lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter atau biasa disingkat UKMPPD. Akan tetapi jalannya untuk menjadi seorang dokter masih panjang. ia masih harus menjalani program internship dulu selama 1 tahun. Dan itu harus ia tunda karena rencana pernikahan dirinya yang akan diselenggarakan bulan itu.
Tak berapa lama seorang perawat mengatakan jika Ayra telah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Bram yang merasa bahwa rumah sakit itu kecil. Ia meminta untuk di pindahkan ke rumah sakit lebih besar. Namun putrinya mencegah.
"Biar disini saja dulu Pa. Kasihan Mama. Biar dapat perawatan dulu. Kita lihat kondisi Mama dulu." Ucap Qiya memohon pada Bram.
Lelaki paruh baya itu pun menghela napas pelan. Ia menyetujui apa yang dikatakan anaknya. Cepat ia berjalan kearah perawat yang membawa tubuh Ayra ke kamar perawatan. Bram meminta untuk ruang VIP. Dan beruntung masih ada satu kamar.
Namun saat akan masuk ke kamar itu. Bram melihat seorang lelaki. Dan Reflek, Bram menarik kerah baju Lelaki itu. Ia memukul wajah lelaki tampan itu hingga lelaki itu tersungkur jatuh ke arah lantai.
Ammar dan Qiya cepat berlari ke arah Bram. Qiya menahan tubuh Bram yang akan kembali maju untuk memukuli lelaki yang masih mencoba berdiri dibantu Ammar.
Lelaki itu terlihat memegang pipi dan bibirnya yang terasa sakit. Ia tak menyangka mendapatkan serangan mendadak dari Bram. Lelaki yang seharusnya menjadi ayah mertuanya itu terlihat menatap dirinya tajam. Ia tak percaya jika sang calon mertua bisa melakukan itu.
Hilman adalah tokoh pengusaha yang cukup terkenal di kalangan pengusaha. Termasuk dirinya yang sedang akan melakukan pencalonan sebagai anggota DPR.
"Pak Bram..." Ucap Hilman sedikit tak percaya.
Sedangkan Qiya menoleh sebentar ke arah Hilman. Ia cepat mengalihkan pandangannya pada Bram.
"Kamu Pecundang! Orang seperti kamu ingin menjadi wakil Rakyat? bahkan untuk dirimu saja, kamu tidak bisa bijak dalam bersikap!" Suara Bram terdengar sangat marah.
"Istighfar Pa... Ada apa? Bicarakan semua baik-baik." Pinta Qiya pada sang ayah.
Bram cepat menarik tangan putrinya ke dalam ruangan dimana Ayra di rawat. Putri Bram itu hanya pasrah dan mengikuti langkah sang ayah. Ia di didik untuk begitu menjaga adab kepada orang tua. Sekalipun ia benar, ia tak berani untuk langsung meminta penjelasan. Ia selalu menunggu orang tuanya lebih dulu menjelaskan perkara suatu kejadian.
Hilman baru akan mengejar Bram dan Qiya. Namun tangan kekar Ammar menahan pundak Hilman.
"Berhenti, Papa sedang sangat emosi. Papa ku tak pernah se emosi itu. Maka aku khawatir aku pun terpancing emosi jika kamu menyusul papa. Katakan apa yang terjadi?" Ammar menatap tajam Hilman.
Sulung Ayra itu sangat hapal siapa ayahnya. Jika ia sampai memukul orang lain, maka ada hal yang menyakiti hatinya bukan dirinya. Dan Ammar lelaki yang cerdas, ia bisa dengan mudah menebak. Hal itu tentu berhubungan dengan adik perempuannya, Qiya.
"Katakan! Jangan sampai kamu menyakiti adik ku seujung kuku pun! Dia tidak pernah disakiti oleh ku atau pun oleh kedua orang tuanya. Jika kamu yang baru mengenalnya dan menyakiti dirinya. Aku orang pertama yang akan mencari dan menghajar mu!" Nada bicara Ammar terdengar dingin.
Hilman menelan salivanya dengan kasar. Ia duduk di kursi yang ada di depan ruang pasien. Ia mengusap wajahnya berkali-kali. Hilman adalah pemuda tampan. Ia bertemu Qiya ketika saat akan mendaftar kuliah kedokteran. Namun takdir berkata lain, dirinya tak diterima sehingga ia terjun ke dunia politik dan menjadi pengusaha di kota itu. Dan ketika Hilman menghadiri Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter di sebuah gedung.
Ia yang terjebak di dalam lift yang tiba-tiba macet bersama Qiya dan satu lansia juga salah satu tamu di acara itu. Qiya membantu lansia itu ketika pingsan di dalam lift. Hilman yang sebenarnya juga pernah mondok di pondok pesantren yang sama dengan Qiya sudah menaruh hati pada putri Bram itu. Maka kesempatan itu membuat ia bisa berkenalan dengan Qiya juga keluarganya.
Dan ternyata kakek dari Hilman adalah teman dari Kyai Rohim. Saat sang kakek datang langsung melamar Qiya ke kediaman Bram dan Ayra. Keponakan Kyai Rohim itu juga mengenal lelaki tersebut. Namun semua keputusan Kembali ke Qiya. Bram dan Ayra termasuk orang tua yang mendidik anaknya dengan prinsip agama namun ada demokrasi saat memilih keputusan apalagi untuk menjalani kehidupan. Walau mereka pun memberikan beberapa pertimbangan pada sang anak.
Maka keputusan menerima atau menolak lamaran Hilman ada ditangan Qiya. Dan setelah beberapa hari ia memikirkan dan mengenal Hilman. Qiya pun setuju menerima lamaran dari lelaki yang di calonkan oleh salah satu partai menjadi calon anggota DPR di kota mereka.
Hilman terlihat mengelap keringatnya dengan sapu tangan. Satu benda yang diberikan oleh Qiya saat Hilman tangannya terkena benda tajam saat mencoba membantu membawa tubuh lansia ketika terjebak di lift.
"Apa Pak Bram telah mendengar kabar dari partai ku?" Tanya Hilman dalam hatinya.
Ammar berdiri di hadapan lelaki bernama Hilman itu.
Ia memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Cepat Katakan!" Bentak Ammar pada Hilman.
"Maafkan saya. Saya bingung. Partai mendesak saya untuk segera membatalkan rencana pernikahan bersama Qiya." Ucap Hilman dengan pelan.
Ammar menarik kerah baju Hilman. Sehingga wajah tampan dua lelaki itu terlihat begitu dekat. Napas mereka pun terasa di kulit lawan bicara mereka.
"Jangan main-main Bung! Kamu sendiri yang datang kerumah dan meminta untuk melamar adik ku. Kami bahkan keberatan di awal karena dia belum seutuhnya menyelesaikan pendidikannya. Tapi hari ini kamu bilang akan membatalkan pernikahan kalian! Apa otak mu itu masih ada?" Ucap Ammar dengan penuh amarah.
Ammar masih mencoba untuk tidak menyakiti calon adik iparnya itu. Seketika ia pun melepaskan cengkraman pada kerah baju Hilman. Ia tak ingin terpancing mengikuti nafsu yang ada di hatinya. Namun hati kakak mana yang tak akan sakit mendengar adik yang sangat ia sayangi akan batal menikah saat gaun dan pesta pernikahan telah siap. Undangan sebanyak 2ribu undangan telah di sebar.
Hilman pun mencoba mengatur napasnya. Ia sedikit takut melihat tatapan dan nada bicara Ammar. Lelaki yang merupakan sulung dari tiga bersaudara itu memang mewarisi sifat Bram dan Ayra. Maka tak aneh jika emosinya bisa naik ketika ada orang yang disakiti.
"Maafkan saya, saya sebenarnya begitu menyukai Qiya. Namun saya tak tahu mana yang harus saya pilih. Orang tua saya pun meminta hal yang sama. Saya bahkan belum membuat keputusan." Ucap Hilman jelas.
Ammar duduk di sebelah Hilman. Ia memainkan korek api gas miliknya.
"Lalu alasan apa yang membuat partai dan orang tua mu meminta pembatalan pernikahan kalian? Dan apa keputusan mu!" Ucap Ammar tegas. Masih menatap korek api gas yang ia hidup dan matikan berkali-kali.
"....."
Hilman bingung menjawabnya. Ia sebenarnya sangat menyukai Qiya. Gadis cantik, pintar, ramah, baik hati dan suka menolong. Namun bulan depan adalah waktu pemilihan. Sedangkan ia dihadapkan dengan pilihan, mundur dari partai atau tetap menikah dengan Qiya.
"Saya masih bingung..." Ucap Hilman pelan.
Ammar menepuk pundak calon adik iparnya.
"Jika kamu tak punya keputusan. Maka apa alasan pernikahan ini harus di hentikan?" Tanya Ammar.
"Berita tentang di duga terlibatnya Ibrahim pada jaringan teroriiiis yang menyebabkan ledakan di gedung kemarin adalah alasan akan menurunkan elaktabilitas suara partai dan juga saya." Ucap Hilman sambil menelan salivanya kasar.
Kedua netra Ammar sudah sangat merah. Bahkan kedua bola matanya seakan-akan ingin keluar mendengar kalimat yang keluar dari mulut Hilman.
"Breeeengsek! Jadi kamu menikah dengan adik ku juga untuk menaikan elaktabilitas suara mu dan partai mu!" Ucap Ammar dengan keras.
Baru ia ingin meninju muka tampan Hilman. Lengan Ammar di tahan oleh sosok perempuan yang menjadi objek pembicaraan dua lelaki itu.
"Bersabarlah Kak...." Ucap gadis itu sambil berlinang air mata.
Ia bahkan menatap lelaki yang tak berani mengangkat wajahnya dengan tatapan tajam.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!