NovelToon NovelToon

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Vanila Elouis Si Gadis Nekad

Sebuah Mobil Bugatti La Voiture Noire yang dibrandol dengan harga 18 juta dolar As atau setara dengan 225,9 Milliar berhenti di sebuah bar yang ada di Australia. Seorang pemuda dengan penampilan super rapi keluar dari mobil itu. Dia disambut oleh beberapa anak buahnya yang sudah menunggu di depan bar.

Pria itu terlihat gagah dan tampan, rambutnya hitam dan tampak tebal. Bola matanya berwarna hitam legam. Tubuhnya terlihat kekar, pakaian yang dia gunakan mencetak setiap lekukan otot tubuhnya yang atletis. Pria itu adalah Abraham Aldway. Dia adalah seorang Ceo pemilik perusahaan terbesar di Inggris. Usianya masih terbilang cukup muda, di usianya yang baru menginjak tiga puluh tiga tahun, Abraham sudah menguasai saham dan menjadi pengusaha termuda yang paling sukses di Inggris. Tidak saja ketampanan  dan kekayaan yang dia miliki, Abraham juga terkenal dengan ke kejamannya sehingga para pengusaha segan dengannya.

Hari itu, Abraham mendatangi bar untuk menjalin kerja sama dengan seorang pengusaha. Dia datang ke Australia memang untuk menjalani bisnis. Abraham sudah memiliki seorang tunangan cantik yang akan dia nikahi tidak lama lagi. Dia sudah berencana untuk melamar tunangannya setelah kembali dari Australia.

Bar terlihat ramai, Abraham masuk ke dalam dikawal oleh anak buahnya. Jas dirapikan saat dia melangkah masuk sehingga para wanita yang ada di dalam bar itu terpesona dengannya. Ini bukan kali pertama dia datang ke bar itu, dia sudah datang beberapa kali karena dia sudah berada di Australia cukup lama.

Beberapa bisnis penting yang harus dia jalani, membuatnya tertahan di kota itu namun saat kembali, kejutan manis akan dia berikan pada tunangan cantiknya. Setelah bertemu dengan pengusaha yang sebentar lagi akan dia temui, dia harus menemui beberapa pengusaha lainnya.

Dari meja bartender, seorang gadis bermata biru tidak melepaskan tatapan darinya. Gadis itu adalah Vanila Eloius yang berprofesi sebagai bertender di bar tersebut. Vanila gadis berusia dua puluh enam tahu, dia gadis ceria dan pekerja keras. Vanila bukan orang yang pantang menyerah, dia akan mengejar dan mendapatkan apa yang dia inginkan apa pun caranya.

Vanila selalu memandangi Abraham saat pria itu datang ke bar. Tatapan matanya tidak lepas dari pria tampan penuh karisma tersebut. Dia sungguh mengagumi pria itu dan kekagumannya menjadi obsesi. Diam-Diam Vanila menaruh hati pada Abraham Aldway. Dia seperti wanita lainnya yang tergoda oleh ketampanan dan kegagahan pria itu.

Vanila sedang meracik minuman untuk pelanggan, namun tatapan matanya tidak lepas dari Abraham yang berjalan mendekat ke arahnya dan duduk di sebuah kursi yang tidak jauh darinya. Pria itu mengangkat tangan, sebagai isyarat jika dia hendak memesan minuman. Vanila menghampirinya dengan terburu-buru, saatnya memainkan perannya.

"Minuman apa yang kau inginkan, Sir?" Vanila tersenyum manis. Dia berusaha mencari simpati namun sayangnya pria yang sedang dia goda tidak meliriknya sama sekali.

"Vodka," ucap Abraham sambil melihat jam mahal yang melingkar di tangannya.

Vanila tersenyum, sial. Suaranya terdengar begitu seksi. Dari jarak sedekat itu, dia bisa melihat bulu mata Abraham yang panjang. Hidungnya begitu mancung membuatnya terlihat begitu sempurna. Jika disamakan dengan dewa Yunani mungkin pria itu bisa bisa disamakan dengan dewa Hermes sang putra Zeus yang terkenal sebagai dewa paling cerdas dan tampan.

Sebotol Vodka diletakkan di hadapan Abraham, Vanila masih tersenyum. Senyumnya semakin mekar apalagi Abraham melihat ke arahnya. Dia sudah sering datang ke tempat itu tapi ini kali pertama dia melihat bartender cantik itu.

"Minuman itu aku yang traktir," ucap Vanila.

Abraham tidak menjawab, dia tampak tidak peduli. Tidak perlu ditraktir oleh waniita itu pun, dia mampu membayar apalagi hanya sebotol Vodka saja. Vanila kembali bekerja, dia akan kembali menyapa pria itu nanti agar dia semakin mengenalnya. Dia tetap mencuri pandang jika ada kesempatan, dia sudah tidak berbeda jauh dengan para wanita yang ada di sana, yang mengagumi ketampanan dan kegagahan Abraham.

"Jangan terlalu dilihat, nanti kau tidak akan bisa berpaling lagi," ucap salah satu rekannya yang juga sama-sama bartender.

"Aku sudah tidak bisa berpaling," ucap Vanila sambil mencampur minuman yang dia racik untuk tamu.

"Semua wanita hampir melihat ke arahnya, ternyata kau tidak jauh berbeda!"

"Hei, dia terlihat luar biasa. Sekarang katakan padaku, apa kau tahu siapa dirinya?" mata kembali melihat ke arah Abraham yang saat itu sedang menyambut rekan bisnis yang sedang dia tunggu.

"Tidak, apa kau kira aku kenal?" tanya sahabatnya pula.

"Ck, dasar tidak berguna!" minuman yang sudah di racik pun di tuang ke dalam gelas dan setelah itu diberikan pada tamu.

"Apa kau ingin tahu?" sahabatnya mendekati Vanila. Dia berbisik saat menanyakan hal itu.

"Tentu saja, apa kau bisa mencari informasi tentangnya? Aku akan membayarmu jika kau bisa memberikan aku informasi tentangnya," Vanila juga berbicara dengan pelan.

"Pegang ucapanmu, aku pasti akan mendapatkan apa yang kau mau!"

"Apa kau yakin kau bisa? Aku tidak mau ada yang tahu jika tidak aku akan menyeretmu jika aku harus mengalami masalah!" ancam Vanila.

"Tidak perlu khawatir, aku memiliki seorang kenalan yang ahli dan aku pastikan jika orang itu akan melakukan sesuai yang kau inginkan. Tidak butuh lama, dua hari lagi kau akan mendapatkan informasi semua tentang pria itu. Aku membantumu agar kau tidak menjadi pengagum rahasia saja!"

"Ck, tidak perlu membual. Kau melakukannya karena aku akan membayarmu!"

"Tepat sekali tapi ini rahasia di antara kita berdua jadi jangan katakan pada siapa pun!"

Vanila mengangguk dan tersenyum, jangan salahkan dia berbuat nekad. Dia melakukan hal seperti itu karena dia sudah jatuh hati pada pria gagah dan tampan yang sedang duduk tidak jauh darinya. Matanya bahkan kembali melihat ke arah Abraham. Target sudah terkunci, pria itu tidak akan bisa lari darinya karena dia pasti akan mendapatkannya. Dia tidak suka menjadi pengagum rahasia, dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dari pada menyukai secara diam-diam.

Abraham masih berbincang dengan rekan bisnisnya, dia tidak sadar jika dia sudah menjadi target seorang gadis gila si pengagum rahasia yang ambisius. Gadis itu bahkan sudah merencanakan sesuatu untuk mendapatkannya. Dia tidak peduli Abraham siapa, asalnya dari mana yang pasti apa yang dia inginkan harus bisa dia dapatkan terutama pria itu. .

Vanila bahkan selalu memandanginya sampai pria itu beranjak pergi. Dengan bantuan sang rekan, dia pasti bisa tahu siapa Abraham, di mana dia tinggal dan setelah dia tahu mengenai pria itu maka dia akan mengambil keputusan apakah dia akan mendapatkan pria itu atau tidak. Dia bahkan tidak ragu melakukan hal nekad dan jika pria itu tidak memiliki istri, maka dia tidak segan melakukan aksi gila untuk mendapatkan sang pujaan hati.

Ide Gila

Abraham tidak datang ke bar selama beberapa hari karena dia sibuk dengan pekerjaannya. Dia ingin cepat kembali agar dia bisa melamar sang tunangan. Selama beberapa hari itu pula, Vanila tidak begitu bersemangat karena dia tidak bisa melihat sang pujaan hati begitu lama tapi bukan berarti dia tidak bisa melihat Abraham.

Gadis super nekad itu menjadi penguntit dadakan untuk mengikuti sang pujaan hati, walau dia sulit mendekati Abraham tapi dia bisa melihat pria itu dari jarak jauh. Rasanya hal yang dia lakukan tidaklah cukup, dia ingin memiliki pria itu dan tidak mau hanya menjadi pengagum rahasia seperti para wanita yang ada di luar sana.

Seperti yang biasa dia lakukan, Vanila sedang jadi penguntit siang itu. Dia memiliki banyak waktu saat siang apalagi jam kerjanya di mulai dari sore sampai subuh. Vanila mengekori Abraham menuju sebuah restoran, setiap kali dia menguntit, dia selalu merubah penampilan agar tidak diketahui oleh anak buah dan pria penuh pesona tersebut.

Buku menu menutupi wajah, mata mengintip dari balik buku menu karena saat itu dia sedang mengintip sang pujaan hati yang duduk tidak jauh darinya. Oh, pria itu begitu mempesona. Semakin dilihat, semakin membuatnya terbuai. Ups, air liurnya sampai menetes. Sungguh, dia tidak pernah melihat pria yang begitu mempesona padahal pengunjung bar sangat banyak.

Dia benar-benar sudah tergila-gila, apa pun yang dilakukan oleh pria itu tampak begitu mengagumkan. Jari jemarinya yang panjang, tanpa sadar Vanila mengusap jari jemarinya sendiri karena saat itu dia sedang membayangkan mengusap telapak tangan Abraham yang besar. Dia bahkan tidak sadar jika dia ditatap dengan tatapan tajam oleh seorang pelayan yang sedang melayaninya.

"Nona, aku sudah menunggu pesananmu selama lima belas menit tapi kau tidak juga memesan, apa kau kira pekerjaanku hanya berdiri diam menunggumu di sini?" sang pelayan restoran tampak kesal.

"Salad, berikan aku salad ikan salmon," pinta Vanila.

"Yang lain?"

"Semangkok cinta," Vanila mengedipkan matanya.

"Hm!" sang pelayan pergi dengan perasaan jengkel.

Vanila tersenyum, tatapan mata kembali melihat pria gagah dan rupawan yang sedang berbicara dengan rekan bisnisnya. Abraham tidak menyadari jika sebentar lagi dia akan bernasib sial karena dia menjadi incaran Vanila Elouis si gadis nekad yang ambius.

Salad yang dia pesan sudah datang, Vanila menikmati saladnya tanpa melepaskan pandangannya dari Abraham. Dia harap sang rekan kerja sudah menemukan siapa pria itu sehingga dia bisa mengambil keputusan apa yang hendak dia lakukan nanti. Apa dia harus mundur dan menyerah mengejar cinta pertamanya, ataukah dia harus terus maju untuk mendapatkan sang pujaan hati.

Vanila bahkan tidak ragu kembali mengikuti Abraham saat pria itu sudah selesai dan keluar dari restoran namun sayangnya, langkahnya harus terhenti karena suara ponsel. Agar anak buah Abraham tidak mengetahui aksinya, Vanila segera sembunyi apalagi beberapa dari mereka sudah menoleh.

Ponsel diambil, umpatannya juga terdengar. Vanila tampak kesal karena yang sedang menghubunginya saat ini adalah rekan kerjanya. Mengganggu saja, awas jika tidak memberinya informasi yang dia inginkan.

"Ada apa? Jangan katakan kau menghubungiku hanya untuk membicarakan pekerjaan!" ucapnya dengan nada tidak senang.

"Hei, gadis gila. Di mana kau sekarang?" tanya sang rekan kerja yang adalah seorang pria.

"Dasar pengganggu, aku sedang menjadi stalker!"

"What the hell?! Jangan katakan kau sedang mengikuti pria itu!" ucap sang rekan dengan nada tidak percaya.

"Jika aku tidak mengikutinya, lalu aku mau mengikuti siapa? Aku tidak mungkin mengikutimu karena kau bukan seleraku!"

"Ck, gadis yang bermulut pedas. Sebaiknya kita bicarakan bisnis. Siapkan uangmu yang tebal karena aku sudah tahu siapa pria yang sedang kau ikuti itu!"

"Apa? Benarkah?" Vanila terlihat begitu bersemangat.

"Tentu saja, segera datang jika kau ingin tahu dan jangan lupa dengan bayarannya!"

"On the way," Vanila mengakhiri percakapan mereka dan berlalu pergi. Hari ini sampai di sana saja menjadi stalker-nya karena ada hal yang lebih penting dan tentunya sebentar lagi dia akan mengambil keputusan untuk melanjutkan aksinya atau tidak.

Vanila pergi ke bar, di mana rekan kerjanya sudah menunggu. Bar belum beroperasi sehingga belum ada pengunjung. Para pekerja yang lain juga belum datang sehingga hanya mereka berdua saja yang ada di dalam bar.

"Bagaimana?"

"Kau benar-benar tidak sabar!"

"Jangan banyak basa basi, katakan apa yang kau dapatkan!" ucap Vanila tidak sabar.

"Oke, Money first!"

"Ck, menyebalkan!" Vanila memberikan amplop berisi uang yang sudah dia siapkan. Sang rekan kerja sangat senang, sebuah map diberikan untuk Vanila bersamaan diambilnya amplop berisi uang yang diberikan oleh Vanila.

Vanila beranjak pergi dan duduk di sebuah sofa yang tidak jauh dari mereka. Map yang diberikan oleh rekannya pun dibuka, Vanila tersenyum melihat foto Abraham. Sial, mau aslinya atau di foto, pria itu sama-sama terlihat berkarisma.

"Aku harap kau tidak patah hati," ucap sang rekan kerjanya seraya menghampirinya.

"Apa maksudmu?"

"Dia sudah memiliki tunangan yang akan dia nikahi tidak lama lagi!"

"Apa, tidak mungkin!" Vanila tampak shock dan tampak tidak percaya.

"Kau bisa melihatnya, lagi pula dia bukan orang sini. Dia hanya pendatang yang sedang menjalani bisnis."

Vanila masih terlihat shock. Jadi pria yang dia sukai dan kagumi sudah memiliki tunangan? Tidak, dia tidak boleh menyerah. Cinta pertamanya tidak boleh kandas seperti itu. Lagi pula jodoh tidak ada yang tahu. Vanila melihat semua informasi tentang Abraham. Foto tunangannya yang cantik juga ada di informasi tersebut. Ternyata pria itu berasal dari Inggris tapi seperti tekad awalnya, selama pria itu belum menikah maka dia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan hatinya. Jika tidak dicoba tidak akan tahu dan jika dia menyerah begitu saja maka dia akan menyesal karena menyerah begitu mudah tanpa melakukan apa pun.

Sambil melihat semua informasi tentang Abraham, sebuah ide gila pun muncul di kepala. Dia rasa tidak ada ide lebih baik dari pada ide yang sedang dia pikirkan saat ini.

"Apa kau mau uang lagi?" tanya Vanila pada sang rekan.

Sang rekan melihatnya dengan tatapan curiga, firasat buruk. Dia yakin seratus persen ada hal gila yang sedang direncanakan oleh Vanila. Dia bahkan takut membayangkan rencana itu.

"Jangan melakukan hal gila, aku tidak mau terlibat!"

"Lima puluh dolar," Vanila tahu rekannya lemah terhadap uang.

"Tidak, aku tidak berminat!"

"Tujuh puluh lima, bagaimana?" Vanila masih berusaha membujuk.

"Sudah aku katakan, aku tidak berminat!"

"Seratus dolar?"

Sang rekan meliriknya lalu menggeleng. Dia tidak akan tergoda, tidak akan.

"Terakhir, seratus lima puluh jika kau tidak mau maka aku akan mencari yang lainnya!" Vanila sudah beranjak, dia akan membayar yang lain jika sang rekan benar-benar tidak mau.

"Sial, kau mempermainkan aku. Apa yang akan kita lakukan?"

"Jadi kau mau bekerja sama denganku?"

"Demi seratus lima puluh dolar, sekarang katakan apa yang ingin kau lakukan pada pria yang telah memiliki tunangan itu?"

Vanila tersenyum licik lalu berkata, "Menculiknya!"

"What the hell?!" sang rekan melongo, sedangkan Vanila tersenyum lebar. Dia tidak akan ragu untuk melakukan hal gila itu untuk mendapatkan sang pujaan hati.

Sang Penculik

Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Abraham berada di hotel mewah yang ada di tengah kota. Pekerjaannya sudah selesai, dia berencana kembali dua hari lagi. Dia juga sudah membelikan hadiah untuk tunangannya, sebuah cincin berlian juga sudah dia beli karena dia akan langsung melamar sang tunangan ketika dia kembali.

Abraham sedang berdiri di depan jendela kamarnya, kota yang indah namun harus dia tinggalkan. Lagi pula kota London tidak kalah indah. Ponsel sudah berada di tangan karena saat itu dia sedang menghubungi tunangannya yang cantik.

"Kapan kau akan kembali?" seorang wanita bertanya dengan suara manjanya.

"Dua hari lagi, aku akan kembali dua hari lagi," jawab Abraham.

"Kenapa begitu lama, Abraham? Aku sudah sangat merindukan dirimu."

"Sudah aku katakan aku akan segera kembali. Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu jadi sabarlah menunggu."

"Benarkah?"

"Tentu saja, Honey. Kapan aku pernah berbohong padamu?"

"Jika begitu aku akan menunggu kepulanganmu. Aku sungguh sudah tidak sabar mendapatkan kejutan darimu," ucap sang tunangan. Dia adalah Renata Harvey, sang tunangan yang sudah menjalin hubungan dengan Abraham selama tiga tahun.

Mereka bertemu di sebuah pesta perusahaan, Renata adalah salah satu putri rekan bisnis Abraham. Dia bersaing dengan sekian banyaknya wanita yang ingin bersama dengan Abraham dan pada akhirnya, Renata memenangkan pertarungan itu berkat bantuan ayahnya sehingga dialah yang bisa bersama dengan Abraham.

Menarik simpati pria itu tidaklah mudah, dia diusir beberapa kali oleh Abraham namun demi tujuannya dia tidak menyerah sehingga dia berhasil mengambil hati Abraham Aldway yang terkenal akan kekejamannya. Setelah menjadi kekasihnya, dia diangkat melambung tinggi. Mereka menempati mansion paling mewah yang ada di kota London.

Mansion itu seperti sebuah istana, hidupnya berubah drastis karena Abraham memanjakan dirinya dan begitu mencintainya. Usahanya tidaklah sia-sia sebab itu dia tidak akan melepaskan Abraham apalagi pria itu selalu membelikan apa pun yang dia mau bahkan tanpa dia minta sekalipun.

"Saat aku kembali, gunakan pakaian terbaik yang kau miliki dan berdandanlah yang cantik. Aku akan memberikan kejutan untukmu," ucap Abraham. Tidak ada alasan baginya untuk menunda pernikahan mereka karena dia sudah sangat ingin menjadikan Renata sebagai istrinya sehingga dia bisa segera memiliki seorang ahli waris yang bisa menggantikan dirinya nanti.

"Sepertinya kau sedang merencanakan sebuah rencana besar. Apa kau akan memberikan aku kejutan di mansion?" tanya Renata ingin tahu.

"Tidak, seseorang akan menjemputmu nanti jadi berdandanlah secantik mungkin."

"Oh.. aku sungguh sudah tidak sabar," ucap Renata. Dia sangat menantikan hari itu tiba karena setiap kali Abraham memberikan kejutan untuknya, dia selalu mendapatkan kejutan yang tidak terduga.

"Bagus, jadilah gadis baik dan tunggu aku kembali!"

"Pasti, aku tidak akan mengecewakanmu nanti!" Renata tersenyum, menjadi kekasih seorang Billionaire sungguh sangat menyenangkan. Itu impian semua gadis, tentunya dia sangat senang berada di posisi itu.

Pembicaraan mereka berakhir, Abraham meneguk minuman yang ada di dalam gelas sampai habis. Pria itu beranjak dan meletakkan gelas di atas meja. Tidak ada hal yang lebih baik selain menikahi tunangannya. Renata wanita yang baik, lemah lembut. Dia juga akan menjadi istri dan ibu yang sempurna nantinya namun sayang, Abraham tidak akan menduga kedatangannya ke tempat itu akan membawanya pada nasib sial yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Si gadis nekad sedang menyusun rencananya, tidak saja dengan sang rekan, tiga orang akan membantunya melancarkan aksi. Tidak peduli dia harus menghabiskan banyak uang, yang dia inginkan hanya tujuannya tercapai. Dia bahkan rela mengeluarkan uang lagi untuk membayar tiga orang yang akan membantunya. Setidaknya dia memiliki tabungan.

Mereka sedang mengintai, melihat anak buah Abraham yang sedang berjaga. Demi misinya malam ini, Vanila dan rekannya mengambil cuti. Misi mereka tidak boleh gagal, sebab itu mereka menyusun rencana terlebih dahulu sebelum memulai aksi mereka.

Seragam hotel yang didapatkan dengan bantuan orang dalam sudah digunakan. Seorang pelayan hotel akan menyusupkan mereka ke dalam nanti. Tentunya pelayan hotel itu adalah sahabat baik Vanila. Itulah gunanya sahabat baik, sahabatnya bahkan rela membantu tanpa mendapat bayaran.

Mereka tidak langsung bergerak, mereka menunggu tengah malam di mana anak buah Abraham sedang lengah. Mereka manusia biasa, pasti akan diserang rasa kantuk juga. Mereka menunggu cukup lama dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, mereka bergerak.

Hotel yang sepi di mana para tamu sudah terlelap membuat mereka semakin mudah menjalankan aksi mereka apalagi dibantu oleh sahabat Vanila. Cctv yang mereka lalui dimatikan agar tidak ketahuan, semua dilakukan dengan rapi.

Si gadis nekad itu Vanila Elouis memimpin di depan, dia gadis yang sedikit tomboy dan dia tidak takut sama sekali. Mereka sedang bersembunyi di balik dinding, untuk melihat anak buah Abraham yang sedang menjaga tempat itu. Sebagian dari mereka sudah tertidur dan sebagian dari mereka masih berjaga namun dalam keadaan kantuk berat.

Di dalam kamarnya, Abraham tidak bisa tidur. Aneh, firasatnya buruk. Dia merasa tidak tenang. Abraham sudah berusaha untuk memejamkan mata namun usahanya sia-sia. Mungkin dia butuh segelas minuman, mungkin saja dia jadi bisa tidur setelah mengkonsumsinya.

Abraham beranjak dan melangkah menuju meja di mana beberapa jenis botol minuman berada. Minuman di tuang ke dalam gelas dan di teguk sampai habis. Rasanya tidak cukup, dia kembali menuang minuman namun dia masih merasa gelisah.

"Room service," terdengar suara seseorang di luar sana bersamaan dengan suara pintu diketuk.

Abraham mengernyitkan dahi, room service? Dia tidak meminta pelayanan hotel tapi tidak ada salahnya melihat. Kakinya sudah melangkah menuju pintu, Abraham tidak curiga sama sekali. Pintu pun dibuka, namun tiba-tiba saja dia terkejut saat seseorang memukul kepalanya dengan keras.

Abraham melangkah mundur, tangannya sudah berada di kepalanya. Beberapa orang menyergap masuk, mereka menutupi sebagian wajah mereka sehingga mereka tidak bisa dia kenali.

"Siapa kalian?" teriak Abraham namun sebuah pukulan keras kembali dia dapatkan. Kali ini pukulan itu membuatnya jatuh pingsan, Vanila terkejut karena dia tidak berniat membuat pria itu sampai pingsan.

"Sial, apa aku terlalu kuat memukul?" tanyanya dan dia terlihat panik.

"Bagaimana ini, kami tidak mau bertanggung jawab!" ucap rekannya.

"Jangan menakuti, cepat bawa. Aku yang akan bertanggung jawab!" ucap Vanila.

Sial, dia tidak menduga aksi gilanya akan melukai pria itu. Sekarang bukan saatnya panik, kepala Abraham tampak berdarah karena pukulan yang dia berikan. Sesuai dengan permintaan Vanila, mereka membawa Abraham pergi dari hotel tanpa ketahuan. Anak buah Abraham sudah tertidur akibat asap yang mengandung obat bius, karena mereka menggunakan seragam hotel jadi benar-benar tidak ada yang curiga apalagi tubuh Abraham disembunyikan di dalam sebuah lemari dorong.

Misi penculikan berjalan sukses tapi setelah ini mereka akan menerima konsekuensi dari apa yang mereka lakukan malam ini, terutama si biang kerok, Vanila Elouis.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!