NovelToon NovelToon

SANG DEWI PENAKLUK

Berpindah Jiwa

Brukkk

uhh

"sialan! sakit sekali"

umpat seorang gadis yang terjatuh dari tempat tidurnya dia menoleh ke sekeliling merasa bingung dengan apa yang ia lihat saat itu.

"tempat apa ini?"

dia menggosok matanya berulang kali untuk memastikan pemandangan yang ada, nampak sebuah ruangan yang cukup luas dengan pilar pilar tinggi sebagai penyangga, kasur berukuran besar dengan nuansa kuno sebagai hiasan, tidak terlalu banyak barang namun terlihat bersih dan rapih.

"kenapa aku di sini?"

ucapnya bermonolog sendiri, gadis itu bernama axela alvaria seorang agen rahasia dan pembunuh bayaran di dunia moderen abad ke 24, bagaimana cara dia bisa datang ke tempat ini ? itu adalah misteri yang harus axela pecahkan sendiri.

"apa yang terjadi? seingat ku aku berada di hutan kenapa berakhir di sini?"

axela terbengong mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya, ia benar benar tidak paham dengan apa yang terjadi pada hidupnya.

flashback on,,,

seorang gadis pakaian serba hitam berlari dengan kencang menuju sebuah hutan menghindari kejaran beberapa pria dan satu orang wanita yang terus mengikutinya sejak tadi.

"axela berhenti! kau tidak akan pernah bisa kabur dari kami"

wanita yang sedari tadi ikut adil mengejar axela berteriak menyuruh gadis itu berhenti, namun jangankan untuk berhenti untuk sekedar memperlambat laju larinya saja dia tidak mau, axela tidak sebodoh itu menyerahkan nyawanya sendiri kepada musuh.

axela terus berlari tanpa arah namun sial seolah takdir tak mendukung dia malah tiba di tepi jurang yang sangat curam tidak ada jalan keluar lain lagi yang bisa ia lalui.

"sial apa kau sedang mempermainkan ku takdir!"

axela terus mengumpat merasa kesal dengan situasi yang ada terpaksa dia juga harus berhenti berlari, ia menoleh kebelakang melihat sekelompok orang yang mengejarnya juga sudah sampai.

senyum puas tercetak jelas di bibir gadis yang sangat axela kenal, dulu mereka adalah sepasang saudara namun entah apa yang terjadi pada saudara angkatnya hingga dia mengkhianatinya.

"kenapa kau melakukan ini pada ku sila?"

Axela akhirnya menanyakan apa yang sedari dulu ingin dia ketahui tentang perubahan sikap saudaranya itu.

"karena aku membenci mu!"

gadis itu mendengus kesal dan memilih membuang muka saat menjawab pertanyaan tersebut.

"kenapa?"

tanya Axela penasaran dia menatap dalam mata gadis itu.

"kau merebut semuanya dari ku axela"

murka sila sambil menatap benci ke arah axela.

"aku tak pernah merebut apa pun dari mu sila"

axela di buat bingung dengan tuduhan tak berdasar tersebut.

"persetan dengan semua itu! kau mengambil segalanya dari ku padahal aku sangat menyayangi dan mempercayai mu axela"

"apa maksudmu aku tidak mengerti"

perdebatan itu terus berlanjut sedangkan beberapa pria yang ikut adil hanya diam menyaksikan.

"kau! karena mu aku kehilangan kasih sayang kedua orang tua ku! mereka lebih perduli pada mu ketimbang aku anaknya sendiri, kau adalah benalu dalam hidup ku, aku menyesal telah membawa mu masuk dalam kehidupan ku, bahkan pria yang aku sukai sejak lama malah menyukai mu! kau merebut segalanya dari ku axela! kau hanya gadis yatim piatu yang hidup di jalanan aku berbaik hati menjadikan mu saudara dan memberikan kasih sayang keluarga ku pada mu tapi apa balasan mu pada ku? sejak kehadiran mu aku seolah tak ada di kehidupan mereka, aku sungguh membenci mu axela!"

gadis bernama sila itu akhirnya mengeluarkan seluruh kebenciannya terhadap Aqila yang sudah dia pendam selama Bertahun-tahun.

"itu tidak benar sila"

perlahan tapi pasti sila mulai mendekat ke arah axela begitu pun axela yang mulai mundur satu langkah ke belakang

"jika ada kehidupan selanjutnya aku sungguh tidak ingin mengenal mu lagi sila, persaudaraan kita berakhir sampai di sini selamat tinggal semoga dengan kepergian ku kau mendapatkan kembali apa yang kau inginkan aku harap kau tidak menyesal nantinya"

setelah mengatakan hal itu axela menoleh ke belakang satu langkah lagi dia akan benar benar terjatuh ke bawah jurang yang sangat curam.

"sepertinya ini akhir hidup ku"

axela membuang nafas kasar sambil memantapkan hati karena dia sudah tidak punya pilihan lain lagi, perlahan tapi pasti axela melangkah mundur dan dia pun terjatuh.

flashback off,,,

setelah sadar dari lamunan axela merasa tidak percaya dengan apa yang baru di alaminya, ini seperti mimpi tapi rasa sakitnya begitu nyata.

"konyol"

satu kata itu terucap begitu saja, axela tidak habis pikir bahwa ia melakukan perjalan waktu ke dunia lain.

dan lebih konyol lagi adalah dia terbangun karena jatuh dari atas ranjang dengan posisi tak wajar jika ada yang melihat itu sungguh memalukan.

axela yang masih asik mengumpat dalam hati tidak sadar bahwa ada seorang gadis yang datang mendekat ke arahnya dengan wajah khawatir.

"nona akhirnya anda sadar,kenapa nona duduk di bawah? lantai ini sangat dingin anda Baru saja tersadar Ayo bangun nona"

ucap gadis itu yang mengenakan pakaian sederhana sambil terus berjalan mendekat ke arahnya.

"berhenti! siapa kau"

axela mengatakannya dengan ekspresi dingin sambil menatap tajam gadis tersebut, tidak ada senyum sama sekali di wajah-nya.

gadis itu tertegun juga merasa takut saat pandangannya tak sengaja bertemu mata tajam axela.

"nona tidak ingat siapa saya?"

tanya gadis itu ragu, dia takut terjadi sesuatu pada majikannya.

axela menggelengkan kepala tanda dirinya tidak tau apa pun, bahkan tidak ada ingatan asing yang melintas di kepalanya.

"saya Lila pelayan pribadi nona"

jelas gadis bernama Lila dengan gamblang-nya.

"pelayan pribadi, nona, apa maksud mu"

ucap axela masih dengan ekspresi datar dia sungguh tidak menyangka bahwa ia benar benar terlahir kembali

"keajaiban macam apa ini, sepertinya sang pencipta masih ingin aku tetap hidup"

axela terbengong kembali sampai suara dari lila mulai menyadarkan lamunannya

"mari bangun dulu nona saya akan memanggil tabib untuk memeriksa keadaan anda terlebih dulu"

Lila meraih tubuh axela dan memapahnya ke atas ranjang bisa di lihat bahwa kondisi tubuh barunya saat ini masih sangat lemah.

"tunggu di sini sebentar nona saya akan memanggil tabib"

setelah mendudukkan axela di atas ranjang Lila berjalan keluar dengan tergesa gesa menuju tempat tabib.

"tabib, apa itu"

Aqila bermonolog sendiri karena saat ini hanya ada dirinya saja di ruangan tersebut.

sepuluh menit berlalu Lila kembali ke kamar itu bersama seorang pria tua yang menurut penglihatan axela tidak jauh berbeda dengan seorang dokter di zaman-nya

"tolong periksa keadaan nona saya tabib, sepertinya luka-nya serius, sampai-sampai nona tidak mengenali saya"

"maaf boleh ulurkan tangan anda nona"

tabib tersebut berbicara dengan sopan membuat axela tidak bisa menolak.

akhirnya axela menurut dan mengulurkan salah satu tangan-nya setelah menunggu sekitar sepuluh menit pria tua itu mulai membuka suara.

"kondisi tubuh Nona Aqila sudah lebih baik, tapi kabar buruknya nona mengalami hilang ingatan"

jelas tabib tersebut, membuat Lila semakin khawatir.

"apa itu bisa di sembuhkan"

"sepertinya tidak, karena benturan keras yang terjadi di kepalanya cukup parah hingga menghapus sebagian besar ingatan nona Aqila"

"apa sungguh tidak ada cara lain lagi untuk mengembalikan ingatan nona saya"

tanya Lila berharap penuh demi kesembuhan majikannya itu.

"maaf nona, sepertinya kita hanya bisa menunggu keajaiban tiba"

"baiklah, terimakasih"

jawab Lila pasrah setelah membuang nafas kasar, sedangkan axela menggerutu dalam hati.

"tentu saja tidak bisa, pemilik aslinya sudah mati"

sambil mengumpat axela memperhatikan perubahan ekspresi ke duanya.

"kalau begitu saya permisi undur diri"

setelah mendapatkan upah tabib itu berjalan keluar di susul oleh Lila yang mengantar kepergiannya.

selang beberapa waktu lila kembali menghampiri axela yang masih menatap lurus ke depan.

"jelaskan"

ucap axela dingin meminta gadis bernama Lila tersebut untuk menceritakan segalanya tentang pemilik tubuh

"nona adalah Han Aqila putri sah dari kediaman bangsawan Han, ayah nona bernama Han Zain, ibu kandung nona ialah nyonya meilin, beliau sudah meninggal sejak nona berumur 6 tahun, kini tuan Han memilik satu selir dan Dua anak perempuan yang usianya tidak berbeda jauh dengan nona"

jelas Lila secara detail namun ada perubahan ekspresi saat gadis itu mulai menceritakannya.

"hanya itu"

tanya Axela lagi sambil menaikan sebelah alisnya merasa Lila sedang menyembunyikan sesuatu.

"sebenarnya Masih banyak lagi yang harus anda tau tapi"

tiba-tiba gadis itu berhenti berbicara, membuat axela semakin penasaran dengan kehidupan pemilik tubuh yang asli.

"tapi apah"

"selir Han dan ke dua putrinya tidak menyukai anda nona, mereka juga sering menindas anda selama tuan besar tidak ada di rumah"

"apa tuan Han tidak tau"

ucap axela, gadis itu memanggil ayah pemilik tubuh dengan namanya saja karena tidak terbiasa.

"tidak nona, tuan Han sibuk mengurus bisnis beliau jarang ada di kediaman hanya sesekali pulang untuk melihat keadaan anda"

"lalu apa yang aku lakukan saat dia pulang"

"nona hanya bersikap seolah tidak terjadi apa pun karena ancaman dari selir Han"

"bodoh"

umpat Axela dalam hati merutuki sikap lemah si pemilik tubuh

"anda jatuh ke dalam sungai yang ada di belakang kediaman utama tabib sebelumnya mengatakan bahwa kepala anda terbentur bebatuan dan sudah tidak sadarkan diri selama tiga hari itu membuat saya khawatir, maaf nona karena kelalaian saya anda hampir saja kehilangan nyawa"

setelah menceritakan segalanya Lila menunduk lemas dengan air mata yang mulai berjatuhan, Axela yang mendengar itu semua akhirnya paham dengan apa yang terjadi pada si pemilik tubuh.

"baiklah, aku akan membalas perbuatan mereka untuk mu aqila, tapi setelah itu tubuh mu menjadi milik ku sepenuhnya"

ucap axela dalam hati, setelahnya dia kembali membuka suara.

"berhenti menangis itu tidak berguna"

lagi dan lagi Aqila berbicara dengan nada dingin serta ekspresi datar, Lila yang mendengar mulai menghentikan tangisan-nya tapi masih dengan kepala menunduk.

"berapa usia ku saat ini"

"16 tahun nona, beberapa bulan lagi anda akan berusia 17 tahun"

"apa tuan Han tau tentang kejadian ini"

"tau nona kemungkinan besok lusa tuan sudah tiba di kediaman

"sekarang abad ke berapa"

"ini abad ke 76 nona anda berada di wilayah kerajaan Cang'an"

"baiklah sekarang kau boleh pergi aku ingin istirahat"

"baik nona kalau begitu saya pamit terlebih dulu jika nona membutuhkan sesuatu nona bisa memanggil saya"

"hm"

Aqila hanya menjawab dengan singkat kemudian membaringkan tubuhnya kembali ke atas ranjang Lila yang melihatnya juga mulai melangkah pergi sebelum benar benar keluar dari kediaman Aqila mengatakan sesuatu.

"Lila"

"iya nona, apa anda membutuhkan sesuatu

"tidak jadi"

setelah memastikan tidak ada yang axela inginkan Lila melangkah keluar dari ruangan tersebut.

ketemu lagi sama author maaf yh🙏🙏 yang udah pernah baca karya pertama author gak author terusin soalnya author juga bingung endingnya mau di bawa kemana

tapi tenang aja buat karya author yang ini bakal author terusin💪

selamat membaca semoga kalian suka😊😊

_na15_

Perubahan Sikap Aqila

pagi hari, seperti biasa para pelayan dan penjaga sibuk berlalu lalang mengerjakan tugasnya masing masing di kediaman itu,

mereka bangun sebelum ayam jantan berkokok, berita sadarnya aqila telah menyebar ke penjuru kota hingga ke telinga selir Han dan kedua putrinya.

"apa anak sialan itu benar bener sudah sadar?"

ucap seorang wanita yang tidak lain adalah selir Han itu sendiri.

"benar nyonya"

jawab salah satu pelayan, dia adalah orang kepercayaan wanita tersebut

"ahhh kenapa dia tidak mati saja bersama ibunya sungguh merepotkan"

wanita itu bernama huranran ia menggeram marah saat mendengar anak tirinya tidak jadi kehilangan nyawa.

beberapa pelayan yang ada di sanah hanya menundukkan kepala tidak berani mengangkat suara karena takut menjadi sasaran kemarahan wanita itu mereka tau betul seperti apa karakter selir Han sebenarnya jika tidak sedang di hadapan banyak orang.

sedangkan di kediaman Aqila, gadis itu baru saja terbangun dari tidur lelapnya, mulai hari ini axela akan menggunakan identitas baru sebagai nona sah dari keluarga bangsawan Han yaitu Han Aqila.

"nona apa anda ingin membersihkan diri sekarang atau nanti saja"

tanya Lila sambil terus melangkah masuk ke kamar gadis itu untuk membantunya bersiap, karena selama ini hanya dia yang bersedia melayani Aqila tanpa takut dengan ancaman selir Han.

sebagai seorang pelayan pribadi lila sudah hafal betul dengan segala tugas-tugasnya ia sudah lama berada di samping Aqila sejak dirinya berusia 13 tahun.

"mandi"

ucap Aqila singkat dan masih terdengar dingin Lila hanya bisa pasrah mengahadapi perubahan sikap gadis itu.

dulu Aqila adalah gadis yang ceria juga penurut tapi sekarang berbeda sembilan puluh derajat dari sebelumnya.

"baiklah saya akan segera mempersiapkannya, anda ingin menggunakan wewangian apa nona"

"lavender"

Lila jelas terkejut setelah mendengar hal itu sambil terus berfikir sejak kapan tuan-nya menyukai wewangian dari bunga lavender.

meski begitu dia tetap melangkah pergi menuju dapur kediaman anggrek untuk menyiapkan keperluan mandi gadis tersebut.

Aqila yang asli memang tinggal di kediaman anggrek Karena gadis itu sangat menyukainya bahakan halaman depan kediaman penuh dengan berbagai jenis tanaman anggrek bukan cuma tanaman hias tapi ada juga berbagai jenis buah buahan meskipun luas taman kediaman itu tidak sebesar kediaman utama tapi tempat tersebut sangatlah sejuk dan nyaman untuk di tinggali.

kediaman anggrek berada di paling ujung kediaman utama Aqila sendiri yang memilih tinggal di sana.

seharusnya Aqila tinggal di paviliun sakura karena dia putri sah dari tuan Han, tapi itu tidak dilakukan hingga sekarang kediaman sakura masih kosong karena pria paruh baya tersebut melarang siapa pun menempatinya selain Aqila.

"kenapa sekarang nona jadi irit bicara dan sejak kapan nona menyukai bunga lavender seingat ku selama ini nona hanya akan mandi menggunakan wewangian bunga sakura, apa ini juga efek dari hilang ingatan hingga kebiasaan nona juga ikut berubah"

sambil menyiapkan keperluan mandi Lila sesekali berbicara pada dirinya sendiri sampai semua persiapan selesai.

"nona airnya sudah siap"

"hm"

Aqila turun dari atas ranjang dan berjalan menuju tempat pemandian yang berada di pojok ruangan kamar, Lila mengikuti gadis itu seperti biasanya namun kali ini Aqila malah menegur.

"pergilah aku bisa mandi sendiri"

Aqila mengusir lila karena tidak terbiasa mandi di bantu oleh orang lain.

"tapi nona"

ucap Lila yang semakin di buat bingung dengan perubahan besar Aqila kali ini.

"tidak untuk sekarang juga berikutnya"

"apa saya telah melakukan kesalahan besar nona"

"tidak"

"lalu kenapa"

"keluar"

"hah baiklah, jika ada yang nona butuhkan anda tinggal berteriak saja, saya berjaga di depan"

"hm"

setelah kepergian Lila Aqila mulai membuka semua pakaiannya dia bisa melihat dengan jelas pantulan tubuhnya di dalam cermin.

tinggi badan ideal bentuk tubuh yang proporsional kulit putih selembut salju rambut hitam panjang tergerai indah bulu mata lentik dan bola mata berwarna hazel bentuk wajah seperti oval serta bibir ranum bagaikan buah peach.

Aqila sempat tertegun melihat tubuhnya sendiri lebih tepatnya milik Aqila yang asli, perlahan tapi pasti Aqila memasuki bak mandi yang sudah terisi dengan air dan taburan kelopak bunga lavender di dalamnya

wangi dan segar itu yang Aqila rasakan rasanya sungguh nyaman berendam di dalam sana.

setelah 15 belas menit Aqila menyudahi acara mandinya dia mengambil pakaian yang sudah di sediakan oleh Lila tapi sayang dia tidak pernah berhasil menggunakan pakaian itu dengan benar.

hal tersebut wajar terjadi karena Aqila atau lebih tepatnya axela terbiasa memakai pakaian moderen seperti jins dan atasan karena sangat mudah di gunakan tapi sekarang pakaian yang ada di hadapannya sangatlah rumit yaitu sebuah hanfu.

axela yang merasa jengah akhirnya memutuskan memanggil Lila untuk membantunya mengenakan pakaian, sebenarnya dia sangat malu tapi mau bagaimana lagi.

"Lila bisa kau bantu aku mengenakan ini"

"baik nona"

Lila yang mendengar Aqila membutuhkan bantuan langsung menghampiri gadis itu dan membantunya berpakaian, setelah selesai dia membawa Aqila ke meja rias.

saat hendak merias wajah gadis itu malah menolaknya.

"tidak perlu menggunakannya"

"baik nona, apa anda ingin memakai perhiasan "

"tidak perlu cukup ikat sebagian rambut ku dengan pita yang senada dengan pakaian yang aku kenakan"

"baik nona"

Lila sangat lihai dalam mendandani Aqila kini gadis Tersebut terlihat cantik dengan gaya sederhananya bahkan mulut Lila tidak berhenti memuji kecantikannya.

"nona masih saja terlihat cantik meski berdandan sederhana, pria seperti apa yang beruntung menjadi suami anda nantinya"

"berhenti membual"

Aqila merasa jengah mendengar Lila yang tiada ada habis memuji dirinya.

karena bosan sepanjang hari berada di dalam kamar Aqila memutuskan keluar untuk sekedar berkeliling melihat keadaan seluruh kediaman.

dia tidak pergi sendiri melainkan bersama Lila yang bertugas sebagai pemandu jalan, Aqila hanya ingin tau apa saja yang ada di tempat baru-nya ini.

hal tersebut di lakukan agar dirinya mudah beradaptasi Karena mungkin dia akan tinggal di tempat ini untuk waktu yang tidak bisa di tentukan, pikir gadis itu.

"nona ini kediaman utama yang di tempati oleh tuan besar"

Lila menunjuk pada sebuah kediaman dengan papan nama bertuliskan "kediaman tulip"

terlihat sebuah bangunan dengan taman yang cukup luas beberapa bunga tulip berjajar rapih di sepanjang Taman yang mereka lewati serta ada beberapa pohon dan bunga bunga lain sebagai hiasan pelengkap ada juga kolam ikan yang tidak terlalu besar.

"lalu beberapa bangunan yang sudah kita lewati tadi seperti dapur utama, taman belakang tempat latihan para prajurit dan kesatria, tempat tinggal para pelayan dan prajurit ada juga paviliun mawar yang di huni oleh nona ketiga Han weilin juga paviliun teratai yang di tempati oleh selir Han yaitu nyonya huranran dan yang terakhir paviliun kenanga yang di tinggali oleh nona pertama Han Lin Lin.

Lila kembali menjelaskan segalanya dengan rinci, sedangkan Aqila diam mencerna semua yang di ucapkan oleh gadis itu.

"lalu aku yang ke dua"

tanya Aqila dengan ekspresi datar, sebelum menjawab Lila lebih dulu menarik nafas dalam kemudian membuangnya secara perlahan.

"benar nona, sebenarnya anda memiliki saudara laki laki bernama Han zayu tapi tuan muda sudah lama meninggal saat berumur 5 tahun "

"kenapa"

tanya aqila ingin tau lebih dalam tentang kehidupan pemilik tubuh.

"saya kurang tau lebih jelasnya seperti apa, tapi menurut desas-desus tuan muda meninggal karena keracunan yang lebih anehnya racun itu baru terlihat setelah dia meninggal, sebelumnya tuan muda masih baik baik saja"

Lila menjelaskannya dengan ekspresi sendu, setelah mendengar itu semua Aqila merasa ada yang janggal dengan kematian kakak laki lakinya tapi untuk saat ini ia tidak bisa berbuat apa pun sebab dirinya belum cukup kuat untuk mencari bukti tentang kasus itu.

tanpa bicara Aqila melangkah pergi kembali ke paviliun anggrek dan menghiraukan gadis di sampingnya.

Lila yang melihat kepergian gadis itu hanya bisa membuang nafas kasar mencoba menerima perubahan besar sikap tuannya tersebut baru setelahnya dia mengikuti dari belakang.

setelah sampai di pintu paviliun Aqila mengamati pemandangan yang tersaji dia tidak menyukai bunga anggrek dan berencana untuk mengubahnya.

....

sore hari, Aqila meminta Lila untuk membeli berbagai jenis tanaman baru termasuk bunga lavender dan beberapa bibit buah lainya.

ia juga meminta Gadis itu pergi ke tukang kayu untuk membuat ukiran nama baru, Aqila ingin mengubah kediaman anggrek menjadi kediaman lavender.

tidak lupa gadis tersebut juga meminta Lila mengumpulkan para pelayan yang siap bekerja untuknya.

meski tidak banyak orang yang bisa dia bayar karena tidak memiliki cukup banyak uang, tapi Aqila masih bisa memberi upah dengan layak pada mereka semua.

Aqila yang asli tidak memiliki banyak uang dia hanya di beri sepertiga dari yang seharusnya ia dapatkan padahal dirinya adalah pewaris sah dari seluruh kekayaan milik sang ayah karena sistem keuangan di monopoli sendiri oleh selir huranran.

tanpa banyak bertanya Lila langsung melaksanakannya selagi gadis itu merasa senang dan Yaman.

tidak butuh waktu lama semua yang di inginkan Aqila ada di hadapannya Lila melakukan pekerjaan dengan baik membuat gadis itu merasa puas.

"semua yang anda inginkan sudah tersedia, apa masih ada lagi yang butuhkan nona"

"tidak, cukup"

setelah mengatakan hal tersebut Aqila memandang ke arah para pelayan yang di bawa oleh gadis itu.

"siapa nama mu"

Aqila bertanya pada salah satu dari keempat laki laki yang ada di hadapannya, ada sekitar sepuluh orang termasuk Lila yang ikut membantu dan sisanya adalah perempuan.

"saya Lin Tao nona anda bisa memanggil saya pelayan Lin"

"baiklah, tolong kau ganti papan nama di atas dengan yang baru sisanya ganti tanaman anggrek dengan tanaman yang lain jangan ada satu pun tanaman anggrek dan tolong tata dengan rapih seperti sebelumnya, apa kalian bisa melakukan hal itu"

"sesuai perintah anda nona"

mereka membubarkan diri untuk memulai pekerjaan yang di berikan, sedangkan Aqila pergi ke arah dapur mengambil beberapa makanan dan minuman untuk di sajikan pada mereka semua.

terimakasih sudah membaca karya author semoga kalian masih suka dengan ceritanya😊

selamat **membaca🙏**😊

Tuan Han

dua Jam sudah mereka bekerja keras akhirnya taman yang di inginkan oleh Aqila selesai sekarang mereka sedang duduk di bawah pohon apel sambil menikmati minuman dan beberapa kue ringan, awalnya para pelayan menolak karena paksaan dari Aqila akhirnya mereka menurut saja.

di hati para pelayan Aqila jauh lebih baik dari anak anak selir Han yang memiliki tempramen yang sangat buruk sama seperti ibunya, Aqila memperlakukan mereka dengan baik selama mereka tidak membuat kesalahan yang fatal meskipun sikap Aqila terkesan dingin dan irit bicara tapi mereka semua betah berada dekat Aqila.

matahari sepertinya sebentar lagi akan terbenam mereka membubarkan diri ketempat masing masing, setelah menyelesaikan ritual mandi akhirnya Aqila tertidur lelap.

keesokan pagi semua orang sudah terbangun dan seperti biasa mereka sudah memulai mengerjakan pekerjaannya masing masing, kabar kembalinya tuan Han juga sudah sampai ke telinga Aqila.

"nona sebentar lagi tuan akan tiba di kediaman apa anda ingin menyambutnya"

"tentu"

"kalau begitu mari saya bantu bersiap siap"

"seperti biasa"

"baik nona sesuai dengan keinginan anda"

tidak butuh waktu lama hanya lima belas menit Aqila sudah selesai berias, keduanya berjalan keluar menuju gerbang utama kediaman dimana tuan Han akan tiba.

dipertengahan jalan Aqila bertemu dengan rombongan ibu dan anak siapa lagi jika buka selir Han dan kedua putrinya.

"oh lihat lah ibu sepertinya kakak kedua sudah sadar dari tidur panjangnya"

weilin mengatakan dengan nada mencibir sesekali ia juga melirik malas ke arah Aqila dan Lila, selir Han yang pandai tipu muslihat langsung mengubah wajah kesalnya dengan wajah lemah lembut serta senyuman manis yang tampak memuakkan di mata Aqila.

"akhirnya kau sudah sadar putri Ku maafkan ibu yang belum bisa menjenguk mu karena beberapa urusan yang sangat penting di kediaman apalagi ayah mu jarang ada di rumah"

"tidak masalah"

Aqila hanya menjawab seperlunya dengan mimik wajah datar tanpa ekspresi, huranran yang melihat itu semua Merasa sangat marah bahkan kuku kuku jarinya menembus kulit telapak tangan akibat menggenggam terlalu kuat, ia sudah bersusah payah bersikap baik tapi gadis itu malah menjawab perkataannya dengan dingin, huranran juga merasa heran dengan perubahan sikap Aqila gadis itu tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan bersikap sangat sopan pada siapa pun.

tapi yang ada di hadapannya sekarang seperti orang lain, meskipun merasa kesal huranran tidak berani membentak Aqila karena itu akan merusak reputasinya sendiri di hadapan publik apalagi banyak orang yang menyaksikan mereka.

"mari kita pergi bersama sepertinya ayah kalian akan segera tiba"

mereka akhirnya melanjutkan perjalanan kembali sampai ke depan gerbang utama.

"tuan besar Han telah tiba"

teriak salah satu penjaga pintu utama sambil membukakan pintu tersebut, dan keluarlah seorang pria paruh baya dari dalam Tandu, meskipun sudah berumur tapi perawakannya masih tetap bugar seperti seorang kesatria.

tuan Han melangkah mendekat kearah istri dan anak anaknya dengan penuh wibawa dan aura yang tegas sebagai kepala keluarga dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan semuanya.

"salam suami ku"

"salam ayah"

"salam kalian aku terima sekarang ayo kita masuk"

keluarga tersebut melangkah masuk kembali ke kediaman, mereka duduk berkumpul di salah satu ruangan di kediaman utama.

"bagaimana keadaan mu putri ku Aqila? apa kau sungguh sudah sembuh perlukah ayah memanggil tabib terbaik untuk memeriksa keadaan mu kembali, ayah sangat khawatir dengan kondisi mu ayah berusaha datang secepat mungkin, bagaimana kau bisa terjatuh ke dalam sungai"

tuan Han berbicara dengan panjang lebar banyak pertanyaan pertanyaan yang di ajukan pada Aqila wajahnya juga terlihat sangat lelah dan khawatir, sebagai seorang ayah tentu saja tuan Han merasa cemas atas kondisi putri kesayangannya itu.

"aku baik"

dua kata singkat itu mampu membuat tuan Han terkejut bukan karena dia tidak senang putrinya baik baik saja tapi dia cukup terkejut dengan perubahan sikap Aqila itu.

apa yang sebenarnya terjadi sehingga sikap putrinya berubah delapan puluh tujuh persen dari sikap sebelumnya.

biasanya Aqila akan bermanja manja pada dirinya saat ia pulang senyum manis juga tak pernah luntur dari bibir mungilnya itu tapi sekarang gadis yang ada di hadapannya benar benar berbeda.

apakah gadis itu marah karena ia tak selalu ada di sisinya tuan Han baru menyadari bahwa sekarang putrinya sudah bertumbuh dewasa, tuan Han berfikir mungkin ini yang membuat Aqila Berubah. ia merasa menyesal karena tidak selalu bisa berada di samping anak anaknya menemani mereka tumbuh berkembang.

dia jarang ada di kediaman selama dua tahun lamanya sekali dia hanya pulang itu pun cuma sebentar, kesibukan dalam mengurus bisnis pertambangan membuat ia jarang memberikan perhatian lebih kepada keluarganya dia hanya akan mengirim barang sebagai hadiah jika dirinya tidak bisa pulang.

Aqila yang melihat perubahan wajah tuan Han bersikap acuh tidak perduli sama sekali dengan perasaan pria tersebut, mungkin dia adalah ayah kandung Aqila tapi tuan Han bukan ayah kandung axela dia juga belum pernah berinteraksi dengannya jadi wajar jika axela tidak memiliki perasaan apa pun terhadap pria paruh baya itu.

itu juga termasuk salah tuan Han sendiri yang kurang memberi perhatian dan menyerahkan tanggung jawab membesarkan dan mendidik Aqila sepenuhnya pada selir Han dia tidak tau saja bagaimana sifat asli selir Han selama ini ketika dirinya tidak ada di kediaman, dan bagaimana reaksinya jika tuan Han tau bahwa putri tercintanya sudah tiada karena ulah selir kepercayaannya.

suasana ruangan tampak hening tidak ada yang berani membuka suara, beberapa orang merasa jengah menunggu drama pertemuan ayah dan anak yang terlihat sangat membosankan.

"beristirahatlah dulu ayah, ayah pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kondisi adik Aqila juga sudah lebih baik dia sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa aku juga akan selalu ada untuk menjaganya".

Lin Lin yang pandai bersilat lidah berusaha terlihat seperti seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya.

Lila yang mendengar itu semua terasa sangat ingin mencakar wajah yang penuh kemunafikan itu padahal semua orang tahu bahwa Lin Lin tidak pernah menginjakan kakinya ke kediaman Aqila selama nona-nya sakit.

"istirahatlah ayah"

setelah mendengar ucapan Aqila tuan Han merasa lebih baik karena menurutnya Aqila masih perhatian dan menyayanginya sama seperti dulu.

"baiklah kalau begitu ayah akan beristirahat dulu kalian kembalilah ke kediaman masing masing, selir Han minta para pelayan untuk menyiapkan jamuan nanti malam kita akan makan malam bersama"

"baik suami ku"

setelah mendapat perintah semuanya membubarkan diri dari ruangan tersebut.

di kediaman lavender Aqila sedang duduk manis menikmati secangkir teh sambil menunggu acara makan malam di mulai.

"sepertinya aku harus melakukan sesuatu agar kehidupan ku di dunia ini tidak terlalu membosankan"

Aqila berucap sendiri dalam hati, setelah berfikir cukup lama dia sudah memutuskan playning apa saja yang akan dia lakukan selama ia tinggal di dunia baru ini.

"nona makan malam akan segera di mulai semua orang sudah berkumpul di aula utama mereka sedang menunggu anda"

"baiklah ayo pergi"

Aqila melangkah keluar kediaman di ikuti oleh Lila pelayan setianya kini Aqila sudah terbiasa dengan kehadiran Lila

tidak butuh waktu lama mereka sudah tiba di sana semua orang melirik kearahnya tanpa ada banyak obrolan lagi semua orang menikmati makanan dengan khusu hanya dentingan sumpit yang beradu yang terdengar di ruangan tersebut.

setelah menyelesaikan acara makan malam semua orang kembali membubarkan diri terjadi sedikit perbincangan tadi, hari juga semakin larut malam sang rembulan dan bintang bintang tampak bersinar begitu indah di gelapnya malam, kini semua orang sudah menuju ke alam mimpinya masing masing.

maaf yh author GK bisa nulis banyak takut GK nyambung nantinya karena otak author udah pusing wkwkwk😂😂

makasih banyak buat yg masih setia menunggu up selanjutnya 🙏😊

selamat membaca 🙏

_na15_

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!