NovelToon NovelToon

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

BAB #1

***HALO, KEMBALI LAGI BERSAMA MOM AL. DENGAN CERITA BARU YANG MENCERITAKAN TENTANG PERJALANAN HIDUP SEORANG CEO, GADIS DESA, DAN JUGA RUMAH TANGGA YANG PENUH DENGAN LIKA-LIKU. JANGAN LUPA DUKUNG KARYA TERBARU MOM KALI INI, TERIMAKASIH ***

Tap

Tap

Tap

Suara langkah sepatu masuk ke dalam sebuah gedung besar yang menjulang tinggi ke atas.

"Selamat pagi, Pak. ." ucap resepsionis kala seorang pria berusia 30tahun berjalan dengan penuh wibawa di depan mejanya.

"Pagi." sahut sang pria dengan sekilas anggukan kepala.

Pria dengan tinggi badan 170cm, bola mata indah dengan manik berwarna kecoklatan dan rambut yang sedikit gondrong membuatnya sangat terlihat cool dan mempesona.

Tak sedikit para kaum hawa yang bekerja di kantor selalu memujanya dan mencari perhatian agar sang pria bisa melirik salah satu dari mereka.

"Bos!" seru seorang tangan kanan seorang Raymond William yang kala itu berlari kecil ke arah lift.

Raymond William, CEO di perusahaan RND GROUP.TBK yang sangat banyak digilai oleh para kaum wanita. Ray menoleh sejenak dan menghentikan laju jarinya yang ingin memencet tombol angka 15.h

"Ada apa?" Raymond memencet kembali angka 15 di lift tersebut dan pintu lift pun langsung terbuka.

Mereka berdua masuk ke dalam lift.

"Hari ini kita ada rapat." ucap sang tangan kanan sekaligus sekertaris Ray.

"Katakan pukul berapa."

"Pukul sembilan, saya akan membawakan dokumen rapat ke ruangan anda nanti." ucap sang sekertaris.

Raymond mengangguk diiringi oleh pintu lift yang terbuka.

"Aku sebenarnya sangat lelah, Need." Raymond dan Need berjalan berdampingan.

"Lelah? Memangnya kenapa?"

"Kau tau bahwa aku terpaksa menjalankan perusahaan ini bukan?"

Need mengangguk.

"Aku butuh liburan sejenak bersama dengan Mey.'' curah Raymond.

"Hanya dengan Mey?" tanya Need dengan memicing.

"Hm," Raymond mengangkat kedua bahu.

"Kau tidak boleh seperti itu, Kak. Kau dan Mey itu belum resmi, jadi jika ingin liburan sebaiknya kau mengajak diriku."

"Kau seperti benalu yang sukanya hanya menempel saja. Dasar sepupu laknat!'' decih Raymond kesal.

Ya, Need Kusuma adalah adik sepupu seorang Raymond William. Need sangat suka menganggu Ray ataupun membuat Raymond kesal, Ibu Need adik kandung dari Mama Raymond.

"Kau segera antar 'kan dokumen ke ruangan ku, aku akan mengerjakan tugas yang lain terlebih dahulu sebelum kau mengantar dokumen itu." Raymond langsung masuk ke dalam ruangannya setelah mendapatkan anggukan dari Need.

Setelah berada di dalam ruangan, Ray langsung menyandarkan badan di kursi kebesarannya.

"Huft! Mulai lagi hari yang sangat padat dengan rutinitas pekerjaan." Ray mulai menegakkan kembali tubuhnya dan memegang kertas yang berada di atas meja.

Drtt drtt!

Ponsel milik Ray bergetar dan dia langsung mengambilnya di dalam kantong celana.

Bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman, seseorang yang sangat dia rindukan tengah menghubungi dirinya.

"Halo Honey..." Ray menyapa dengan lembut.

📲"Sayang, aku akan ke kantormu siang nanti. Kau tidak sibukkan?"

"Tidak, siang nanti aku akan meluangkan waktu untukmu..." ucap Ray.

📲"Baiklah, sampai jumpa nanti. Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu." kata terakhir yang Raymond ucapkan sebelum sambungan terputus.

Setelah itu, Raymond langsung memandang ponselnya dengan senyum yang terus mengembang.

Dia mulai mengerjakan tugasnya agar tidak terbengkalai dan akan membuat rencana liburan bersama dengan sang kekasih.

Raymond anak pertama dari dua bersaudara Papa nya bernama Bimo William dan Mama nya bernama Rara William, sementara Ray mempunyai adik perempuan bernama Amelia yang saat ini sedang berkuliah jurusan tata busana.

Di sudut kota lebih tepatnya di sebuah desa yang asri dengan pemandangan hijau disekitarnya, udara yang sejuk, terlihat seorang gadis tengah memetik daun teh.

"Kia!" seorang gadis lain memanggil Kia yang sedang asyik memetik daun teh sembari bersenandung ria.

Gadis yang mempunyai nama lengkap Kiara Putri menoleh, sejenak kemudian dia kembali memetik daun teh tanpa menghiraukan sang teman yang berlari kecil menghampirinya.

"Kia!" sang gadis yang usianya kira-kira 24 tahun sudah berada di samping Kiara dengan nafas terengah.

"Anum, kenapa kau berlari seperti itu?" Kiara bertanya dengan santai.

"Nenek —" Anum mengambil nafas terlebih dahulu lalu menghembuskannya perlahan.

Kia menghentikan tangannya dalam memetik daun teh dan menatap wajah Anum yang terlihat khawatir.

"Num, ada apa dengan Nenek?" Kia menjadi penasaran.

"Nenek, nenek pingsan. Dia jatuh dari kamar mandi."

Kia melongo dan menjatuhkan keranjang yang berada di dalam gendongannya. "Nenek!" Kiara berlari meninggalkan Anum serta keranjang daun tehnya.

Anum hanya menghela nafas kala melihat Kia yang berlari menjauh. "Semoga nenek bisa diselamatkan ya Allah..." lirih Anum berdoa untuk kesembuhan sang nenek.

Sesampainya di rumah yang terlihat sederhana dan sangat kecil, Kia melihat di dalam rumahnya sangat ramai.

"Nenek!!!" teriak Kiara masuk ke dalam rumah. "Ada apa dengan Nenek? Kenapa bisa terjadi!" Kiara memeluk tubuh sang nenek yang terlihat pucat.

"Kia, sebaiknya kamu bawa nenek ke rumah sakit. Bibi was-was jika terjadi sesuatu dengan nenekmu nanti." ucap tetangga Kiara.

"Bi, tapi saya belum mencari mobil untuk membawa nenek ke rumah sakit." ucap Kiara bingung.

"Paman sudah mencarikan mobil untuk membawa nenek ke rumah sakit. Kau tidak perlu khawatir, tunggulah sebentar lagi dan mobil pasti segera datang."

Kiara mengangguk.

Beberapa menit kemudian mobil sampai di depan rumah Kiara.

Kiara meminta bantuan kepada bapak-bapak agar mengangkat tubuh sang nenek masuk ke dalam mobil.

Setelah nenek telah masuk ke dalam mobil, Kia menyusul dan mobil pun pergi menuju rumah sakit.

"Nek, nenek harus kuat. Kia akan melakukan apapun untuk nenek, bertahanlah nek... Kia gak punya siapa-siapa lagi selain nenek," air mata menetes di pipi Kiara.

Bibi Maryam mengelus pundak Kiara. "Sabar Ki, kita sama-sama berdoa agar tidak terjadi apapun dengan nenek. Semoga nenek baik-baik saja."

Kiara mengangguk dan menghapus air matanya.

**TBC

HAPPY READING**

SEE YOU NEXT PART

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA 😘😘

BAB #2

Siang harinya.

Mey telah sampai di kantor milik Raymond, dengan anggun dia berjalan menuju lift untuk ke ruangan sang kekasih.

"Selamat pagi, Nona Mey.." sapa seorang karyawati yang kala itu lewat di depan lift khusus petinggi.

"Hm." Mey menjawab dengan singkat.

Lift terbuka dan Mei langsung masuk ke dalam lift.

Ting

Pintu lift terbuka, Mei pun langsung berjalan ke ruangan Ray.

Ceklek!

"Sayang..." sapa Mey ketika dirinya sudah berada di dalam ruangan itu.

Ray yang kala itu memang sudah hampir selesai mengerjakan tugasnya langsung menoleh ke arah pintu.

Senyumnya terbit kala melihat siapa yang berjalan menuju meja nya.

"Sayang.." Meysa melingkarkan tangannya di leher Ray.

Cup!

Tak lupa Mey memberikan kecupan mesra di pipi sebelah kanan milik Raymond.

"Kau datang sendirian?" Ray menutup map merah yang sedang dia pegang.

Mey mengangguk dan duduk di ujung meja milik Raymond. "Aku sangat merindukanmu."

"Aku juga. Apa kita akan pergi sekarang?"

Mey mengangguk. "Jika pekerjaanmu sudah selesai lebih baik kita pergi sekarang, aku sudah tidak sabar untuk melihat lokasinya." Mey berkata dengan senyum manis di bibirnya, senyum yang sangat Raymond sukai.

"Baiklah, apapun akan ku lakukan untukmu." Ray bergegas membereskan barang-barang nya lalu dia beranjak dari kursi dan menggenggam tangan Mey keluar dari ruangan.

Mereka berdua saat ini ingin meninjau lokasi dimana akan diadakan acara ijab kabul serta resepsi pernikahan.

Raymond dan Mey sudah menjalin hubungan selama lima tahun ketika Mey pulang kuliah dari London. Raymond bertemu dengan Mey ketika ada acara keluarga dan disaat pertemuan pertama Ray langsung jatuh hati dengan Meysa begitupun sebaliknya.

Raymond dan Mey masuk ke dalam mobil dengan Mico yang menjadi sopir pribadi mereka berdua.

"Aku sangat bahagia karena sebentar lagi kita akan segera menikah." ucap Mey manja sembari menyandarkan kepala di dada bidang milik Raymond.

"Sama sepertimu, Honey. Aku pun sangat bahagia karena akhirnya aku bisa menemukan cinta sejati ku." Ray memeluk tubuh Mey dari samping.

Sementara Mico, dia melihat kemesraan Ray dan Mey lewat kaca spion. 'Untuk saat ini kalian berdua bisa berbahagia, tetapi lihat saja nanti. Aku tidak akan membiarkan Meysa jatuh ke pelukanmu, Raymond.' geram Mico terbakar api cemburu.

Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di sebuah gedung yang sangat megah dan terlihat elegan.

"Apa ini lokasinya?" Ray bertanya sambil turun dari mobil.

"Ya, aku rasa ini sangat cocok untuk tempat resepsi pernikahan kita yang akan tampil elegan serta mewah bak kerajaan dongeng." ungkap Mey dengan antusias.

"Ayo kita lihat ke dalam." Ray menggenggam tangan Mey.

Mereka berdua berjalan masuk ke dalam gedung dengan Mico yang setia menunggu di samping mobil.

"Sayang, apa kau tau berapa bajet untuk menyewa gedung ini?" Mey melirik Ray.

Ray menggeleng. "Aku sudah menyerahkan semuanya padamu agar kau bisa memilih segalanya sesuai seleramu."

"Aku menyewa gedung ini dengan bajet 100juta per-malam. Apa kau tidak keberatan?"

"Tentu tidak." Ray menggeleng. "Segalanya akan ku berikan untukmu asal kau bahagia hidup bersamaku. Meskipun kau menyewa gedung ini selama satu tahun aku masih sanggup untuk membayarnya."

"Akh, kau benar-benar terbaik.." Meysa memeluk tubuh Ray dengan mesra.

Mereka kembali berkeliling melihat seisi gedung tersebut.

Di rumah sakit Cempaka Hospital.

Kia tengah menunggu dokter yang kala itu sedang memeriksa sang nenek.

Ceklek!

Pintu ruangan terbuka dan Kia langsung beranjak dari duduknya.

"Dokter, bagaimana keadaan nenek saya?"

"Maaf, Mbak. Saya harus menyampaikan sesuatu hal yang penting atas keadaan pasien."

"Katakan Dokter ada apa?" Kia menjadi khawatir.

"Keadaan nenek anda sangat lemah, kami harus memasang ring jantung untuk nenek anda. Jika tidak di pasang maka keadaan pasien akan darurat serta bisa mempercepat kematian."

Pasang Ring jantung adalah produser pemasangan alat berbentuk tabung kecil yang biasanya terbuat dari logam untuk membuka arteri yang tersumbat.

Pemasangan ring jantung berfungsi untuk melancarkan aliran darah dan oksigen dengan cara memperbesar rongga pembuluh darah yang mengalami penyempitan atau penyumbatan. Pemasangan ring jantung tidak dilakukan pada semua pasien dengan penyakit Jantung koroner.

Kiara menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. "Apa tidak ada cara lain selain memasang ring Dok?"

Dokter menggeleng. "Hanya itu jalan satu-satunya agar nenek anda bisa diselamatkan. Mungkin jauh dari kata sembuh, tetapi dapat mempertahankan hidupnya."

"Dokter, lakukan apapun untuk kebaikan nenek saya." pinta Kiara dengan sendu.

"Kami akan melakukan semua yang terbaik untuk pasien. Mbak bisa membayar setengah terlebih dahulu untuk biaya operasinya, setelah itu barulah kami akan menindaklanjuti perawatan serta operasi nenek anda." ucap Dokter menjelaskan lalu pergi dari harapan Kia.

Kia terdiam sembari menatap pintu ruang rawat sang nenek, dadanya terasa sesak kala mengingat betapa hancurnya jika nenek harus pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.

Tubuh Kiara lemas dan dia terduduk di kursi ruang tunggu tepat depan ruang rawat. Kiara menundukkan kepalanya sembari menutup wajah menggunakan telapak tangan.

"Hiks.. Hiks.. Apa yang harus aku lakukan? Aku yakin untuk biaya operasi nenek pasti membutuhkan dana yang begitu besar.. Ya Allah, tolong bantu aku ." Kiara terisak memikirkan bagaimana caranya mencari uang untuk biaya operasi sang nenek.

Seseorang menepuk pundak Kiara pelan, Kiara berhenti menangis dan membuka kedua telapak tangan yang digunakan untuk menutupi wajah lalu Kiara pun mendongak.

"Mas Jaka?" lirih Kiara dengan suara parau nya.

Jaka duduk di samping Kiara. "Apa yang sedang kau pikirkan? Ada apa dengan nenek, Kia?"

"Hiks.. Nenek harus di operasi, Mas. Dokter bilang nenek diharuskan memasang ring jantung, aku bingung mencari dana dari mana untuk operasi nenek." Kiara kembali menangis.

Jaka Pratama, pria berusia 28tahun yang terlahir dari keluarga lumayan berada, Ayahnya mempunyai kebun teh sendiri dan Ibunya adalah seorang pedagang Emas murni.

"Aku akan membantumu,"

Kiara menatap Jaka dengan tatapan tidak percaya. "Apa Mas? Kamu akan membantuku?" Kiara menggeleng. "Aku tidak ingin mencari masalah dengan Ibumu, Mas."

Ibu Jaka sangat tidak menyukai Kiara karena Kia berasal dari keluarga miskin serta tidak mempunyai pendidikan tinggi. Maka dari itu ketika Jaka mengatakan kepada kedua orang tuanya untuk melamar Kiara, sang Ibu menolak dan mengancam akan menghapus nama Jaka dari keluarga Pratama.

"Kau tenang saja, Kia. Aku mempunyai tabungan sendiri dan aku tidak akan memberitahu Ibu bahwa aku memberikan bantuan padamu."

"Lagipula jika Mas Jaka mau membantuku, aku tidak bisa mengembalikan uang Mas Jaka dalam jangka waktu yang dekat." ucap Kia jujur.

"Berapa yang kau butuhkan?"

"Aku belum tahu berapa biayanya, lebih baik sekarang kita ke meja administrasi untuk menanyakan berapa biaya operasi nenek."

Jaka mengangguk dan mereka berdua beranjak lalu berjalan bersama ke meja administrasi.

"Permisi, Mbak. Saya mau tanya biaya operasi nenek Marwiah yang kamarnya nomor 108." ucap Kia kepada suster penjaga meja administrasi.

Suster membuka buku." Totalnya 150juta, Mbak. Anda bisa membayar uang muka terlebih dahulu sebesar 70juta agar nenek anda bisa segera di operasi."

"Baik, Sus. Terimakasih, saya akan kembali lagi nanti jika sudah ada uangnya."

Suster mengangguk sembari tersenyum ramah.

Kiara dan Jaka menjauh dari meja administrasi.

"Kamu dengar berapa biayanya'kan Mas?" Kia lesu ketika mendengar betapa banyak uang yang harus dia cari untuk biaya sang nenek.

"Tabungan ku bahkan lebih dari 150juta. Jika kau ingin memakai semuanya silahkan, aku tidak keberatan untuk memberikannya padamu."

"Tidak, Mas! 150juta itu adalah jumlah yang sangat banyak, aku takut tidak bisa mengembalikan uang mu." sahut Kiara jujur.

"Kia, kau tidak perlu mengembalikan. Kau hanya perlu menjadi istriku dan kita segera menikah,"

Kiara terbengong mendengar ucapan ringan yang Jaka katakan.

**TBC

HAPPY READING

SEE YOU NEXT PART

JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG KARYA TERBARU DARI MOM OTHOR 😘😘**

Bab #3

Keesokan harinya.

Ray telah bersiap untuk pergi meninjau lokasi pembuatan Villa.

"Need, apa kau sudah mempersiapkan semuanya?" ucap Ray sembari menutup laptop.

"Sudah, Bos. Saya sudah mempersiapkan segala hal untuk kita meninjau lokasi." sahut Need sopan, jika di jam kerja Need akan bersikap sopan bak Bos dan bawahan.

"Baiklah, kalau begitu kita akan pergi sekarang. Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku." Ray beranjak dari kursi kerjanya.

Mereka berdua bersama-sama keluar dari kantor.

Sesampainya di parkiran, Ray dan Need menaiki mobil Alphard berwarna putih milik Ray.

Need menstater mobil tetapi tidak menyala.

"Ada apa Need?" tanya Ray dari tempat duduk belakang dengan heran.

"Gak tau nih, kak. Kayak nya nih mobil mogok deh." Need mencoba berulang kali menstater mobil tetapi hasilnya tetap nihil.

Sebuah mobil berhenti tak jauh dari mobil Ray.

"Itu sepertinya Mico." ucap Ray ketika melihat siapa yang turun dari mobil.

Need melihat keluar mobil. "Iya, tumben dia ke kantor ini?"

"Entahlah, ayo kita turun." Ray keluar dari mobil lalu kemudian di susul oleh Need.

"Mico!" seru Ray berjalan ke arah Mico.

Mico yang kala itu ingin melangkahkan kaki langsung menoleh.

"Selamat siang, Tuan Raymond." sapa Mico dengan sopan.

"Ya, siang. Ada apa kau datang kemari? Tumben kau datang sendirian." ucap Ray sembari menatap ke mobil Mico.

"Saya diperintahkan oleh Nona Meysa untuk memberikan ini kepada Tuan." Mico memberikan amplop berwarna cokelat kepada Ray.

Ray menerima dan melirik Mico. "Apa ini?"

"Nona Mey mengatakan bahwa isi amplop itu adalah berbagai macam contoh model undangan pernikahan, Tuan."

"Kenapa tidak Mey saja yang memilihnya?"

"Saya tidak tau, Tuan. Sebaiknya Tuan tanya saja sendiri kepada Nona Mey, saya permisi.." Mico membalikkan tubuh.

"Mico tunggu!" Ray mengentikan langkah Mico.

"Ya, Tuan. Ada apa lagi?" sahut Mico sopan.

"Apa saya bisa minta tolong?"

Mico mengangguk.

"Kebetulan mobil saya mogok dan saya sekarang ini ada tugas penting untuk meninjau lokasi pembuatan Villa. Berhubung ada kau, saya ingin meminjam mobilmu untuk pergi ke desa itu."

"Baik, Pak. Bapak boleh memakai mobil saya, nanti saya akan pulang naik taksi saja."

"Eh, jangan! Kau naik mobil perusahaan saja, aku akan memerintahkan kepada Melati untuk memberikan kunci mobilnya." ucap Raymond.

Melati adalah Manager di perusahaan Ray.

"Baik, Pak." Mico mengangguk paham.

"Need, ayo kita berangkat!" Ray berjalan duluan menuju mobil Mico kemudian di susul oleh Need.

Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan tak lama kemudian mobil pergi melaju meninggalkan kantor.

Setelah mobil melaju, Mico tersenyum sinis.

Di dalam perjalanan.

"Kak, kenapa kita tidak naik mobil sendiri saja? Misal mobil perusahaan gitu." ucap Need dengan fokus menyetir.

"Kau tau'kan bagaimana laju mobil perusahaan. Aku tidak ingin terlambat hanya karena mobil yang laju nya sangat lemot seperti keong." ucap Ray sembari bermain ponsel.

"Entah mengapa aku tidak menyukai pria itu." celetuk Need tiba-tiba dengan suara yang pelan.

"Kau bicara apa Need?" Ray mendongakkan kepala menatap Need yang tengah menyetir.

"Tidak, aku tidak berbicara apapun. Mungkin kau salah dengar kak, makanya jangan fokus ke ponsel terus." Need melirik sang kakak sepupu dari kaca spion.

"Aku sedang mencari lokasi yang pas untuk liburan." Ray berbicara sembari terus menatap ponselnya.

"Liburan? Jadi kakak benar ingin liburan bersama dengan Mey?"

"Ck! Jaga bicaramu, Need. Dia itu akan menjadi kakak ipar mu, panggil lah dirinya dengan panggilan yang sopan." ucap Raymond tidak terima.

"Ya ya ya.. Baiklah, maafkan aku." Need pasrah.

"Ya, aku memang sudah memutuskan untuk pergi liburan bersama dengan Mey.." Ray mengulas senyum.

"Aku ikut!" Need langsung membalas ucapan Ray dengan cepat.

"Kau akan menjadi pengganggu di hari liburan kami nanti, sebaiknya kau di rumah saja dan jika kau ingin berlibur maka pergilah bersama dengan Amel." Ray tersenyum geli sementara Need memasang wajah kesal.

"Aku sudah tidak ingin lagi pergi liburan bersama dengan Amel. Adikmu itu sangat menyebalkan kak, dia mengaku sebagai istriku ketika aku mencoba mendekati seorang gadis. Huft! Menyebalkan." decak Need kesal ketika membayangkan dirinya dan Amelia yang waktu itu pergi berlibur bersama ke pantai.

Ray terkekeh geli. "Kau baru tau jika dia itu menyebalkan? Sudah lama dirinya mempunyai sifat itu tetapi kau baru menyadarinya."

"Kau juga mengakui bahwa adikmu menyebalkan kak?" tanya Need antusias.

Ray mengangguk. "Bahkan sangat menyebalkan.."

Mereka tertawa bersamaan mengingat sang adik bungsu. Usia Need dan Amel terpaut (5tahun), sementara usia Ray dan Need terpaut (3tahun).

Need saat ini berusia 27 tahun sementara Amel berusia 23 tahun. Amel sebentar lagi akan lulus dari kuliah tata busana, dia tidak ingin menjalankan bisnis kantor seperti kakak dan sang Ayah. Jika bertemu, Need dan Amel akan terus bertengkar seperti tom & jerry.

Di sebuah rumah yang begitu megah nan besar.

"Mama!!!!" seorang gadis cantik berteriak kencang sembari masuk ke dalam ruang tamu.

"Sayang.. Kau ini apa-apaan? Anak gadis tidak boleh berteriak seperti itu," ucap sang Mama yang baru saja turun menuruni anak tangga.

"Ma.." gadis itu berlari kecil menaiki anak tangga.

"Ada apa hayo? Mama sudah tau pasti kau ada maunya jika sudah berperilaku seperti ini." sang Mama sudah bisa menebak.

Gadis itu nyengir kuda. "Mam, tadi Mel lihat ada promo mobil keluaran terbaru."

"Lalu?"

Mereka berdua duduk di sofa besar yang ada di ruang tamu.

"Mam, Mel mau mobil itu.. Mama tau gak, mobil itu limited edition jadi pasti akan langka nantinya." ucap Amelia kepada sang Mama.

"Berapa memang harga mobil itu?" tanya sang Mama sembari membuka majalah fashion.

"500juta." sahut Amel santai.

"Apa!" Mama terkejut mendengar harga mobil yang sang putri inginkan. "Apa Mama tidak salah dengar? 500juta! Kau jangan mengada-ngada Amel." lanjutnya.

"Mam, Mel serius.. Beliin ya? Please.." Amel memasang puppy eyes.

"Enggak!"

Seketika wajah Amel berubah menjadi murung.

"Mama pelit ih. Mam itu berhubung promo, kalau enggak pasti harganya udah milyaran." Amel terus membujuk sang Mama.

"Terus?" Mama melirik Amel sekilas.

"Ya beliin Mel mobil itu, ya ya Ma?" Amel memeluk lengan sang Mama.

"Sekali enggak tetap enggak Amelia William.. Apa kau tidak mendengarkan ucapan Mama?"

"Ck! Mama bener pelit ih, pelit pelit pelit.." Amel beranjak dari duduknya.

"Kau mau kemana, nak?" Mama mendongak menatap Amelia.

"Mel mau pergi, mau minta beliin sama kakak." sahut Amel cuek dan langsung keluar dari rumah.

Mama menggeleng melihat kelakuan sang Putri, jika dirinya tidak memberikan apa yang Amel mau, maka Raymond atau sang Papa lah yang memberikan Amel segalanya. Kedua pria beda usia itu selalu saja mengabulkan apa yang Amel minta, karena Amel anak bungsu perempuan satu-satunya keluarga William.

**Raymond William

TBC

HAPPY READING

SEE YOU NEXT PART

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘**

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!