NovelToon NovelToon

Diary Sang Penulis

part 1 : Gantung Diri?

Part 1 : Gantung Diri?

"THALITAAA...AHHH TIDAAAKKK."

Pekik histeris terdengar dari sebuah rumah kost mahasiswi yang semula sepi. Jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi, rumah kost tampak sepi karena para penghuninya masih beraktifitas di kampus.

Hanny yang sedang kurang enak badan, memutuskan untuk sementara beristirahat saja di kamar. Tiba - tiba dia teringat, kemarin menjemur sepatu di rooptop, sepatu satu - satunya yang dia miliki.

"Ah, sial. Kenapa bisa lupa angkat sih? Mana sepatu ontang - anting lagi, bisa - bisa kalau kehujanan, besok aku nyeker ke kampus," gerutu Hanny sambil bergegas naik tangga.

Pemandangan mengerikan, menyambut gadis manis itu sesampainya dia di atap. Tubuh teman sekamarnya, tergantung dengan lidah terjulur, mata melotot dengan sebuah tali tambang terikat di lehernya, pada sebuah besi kerangka atap.

Tubuh Hanny seketika limbung tak bertenaga, beruntung ada sebuah pilar jemuran di dekat dia berdiri. Dengan tergesa Hanny meraih pilar itu, dan memindahkan bobot tubuhnya di sana. Kaki Hanny terasa lemas, tak kuat lagi menopang beban tubuhnya, sehingga gadis itu merosot terduduk di lantai.

Air mata berebutan meleleh membasahi pipi Hanny yang tampak semakin pucat. Pusing di kepalanya semakin tak tertahankan, sementara perutnya juga bergejolak hendak mengeluarkan isinya.

"Hoek..Hoek...Hoek."

Tak ada yang keluar dari mulut Hanny, karena memang dari kemarin perutnya tak diisi. Demam dan sakit kepala yang dialami Hanny, membuat gadis itu tak berselera untuk makan.

Sekali lagi Hanny menguatkan hati untuk memandang tubuh Thalita yang tergantung. Tak ada sesuatu yang dapat digunakan teman sekamarnya itu untuk berpijak, jika memang dia berniat menggantung lehernya sendiri.

Hanny menggelengkan kepalanya perlahan, menurut pendapatnya, tak mungkin seorang Thalita mempunyai keinginan nekad untuk mengakhiri hidupnya. Tapi, kenapa pagi ini tubuhnya malah tergantung seperti itu? Apakah benar dia gantung diri?

Pak Seno, pemilik rumah kost yang saat itu sedang mencabut rumput di halaman, terkejut dengan teriakan histeris Hanny, salah satu anak kost di tempatnya. Bergegas pria tua itu naik ke atas, dan mendapati Hanny terduduk lemas sambil menangis dan memeluk pilar.

"Ada apa, Ndhuk? Kamu jatuh?" tanya Pak Seno sambil berlutut di sebelah Hanny.

Hanny tak menjawab pertanyaan Pak Seno, hanya telunjuknya menunjuk tempat mayat Thalita tergantung.

"YA TUHAN, NDUK THALITAAAA," pekik Pak Seno terkejut.

Seketika tubuh orang tua itu ikutan lemas, Pak Seno jatuh terduduk di sebelah Hanny. Rasa pusing akibat terlalu ngeri juga mendera Pak Seno. Namun tak lama kemudian, orang tua itu sudah dapat mengatasi rasa ngeri yang dirasakannya. Perlahan, pria tua itu bangkit berdiri dan menguatkan pijakan.

"Mari, Ndhuk! Kita turun dulu. Bapak mau melaporkan hal ini ke Pak RT. Kamu pegang tangan Bapak, kita turun pelan - pelan," kata Pak Seno sambil membantu Hanny berdiri.

Hanny cuma bisa mengangguk, dan mengikuti ajakan Pak Seno untuk turun. Tubuhnya yang masih lemah terpaksa dipapah oleh Pak Seno. Dengan berpegangan pada besi tangga, mereka berdua turun.

Tak lama kemudian, petugas dari kepolisian dan perangkat kelurahan tiba di rumah kost itu. Juga sebuah mobil ambulance tampak terparkir di pinggir jalan depan rumah kost.

Para Aparat segera melakukan tugas mereka masing - masing. Memeriksa tempat kejadian perkara dengan teliti, juga menurunkan jenasah Thalita dari tali yang mengikat lehernya.

Police line sudah dipasang di bagian teratas bangunan rumah kost itu. Petugas juga sudah meminta keterangan dari Hanny dan Pak Seno, dua orang saksi yang menemukan jenasah Thalita pertama kali. Mereka berdua juga diminta kesediaannya untuk datang ke kantor polisi, jika sewaktu - waktu diperlukan.

Jenasah Thalita sudah dibawa petugas ke rumah sakit terdekat untuk diotopsi. Setelah itu, menunggu kedatangan keluarganya untuk dibawa pulang dan dimakamkan dengan layak di kampung halamannya.

Hanny masih tampak menangis di kamarnya, di temani oleh Mbak Clara, putri Pak Seno yang berprofesi sebagai seorang bidan.

"Sudahlah, Dek. Kamu yang tenang, mungkin ini sudah takdir Thalita. Semua akibat pastilah ada sebab, bisa jadi ini balasan dari perbuatan yang dilakukan Thalita," kata Clara dengan nada mencibir.

"Apa maksud Mbak Clara?" tanya Hanny heran. Gadis itu menghentikan tangisnya, dan menghapus air matanya kasar dengan punggung tangan.

"Ya kan kamu tau sendiri, Thalita itu suka menganggu hubungan orang. Pasti orang yang merasa diganggu sama dia, doanya buruk - buruk. Dan inilah saatnya doa mereka dijawab oleh Tuhan."

"Kok Mbak Clara bisa ngomong kayak gitu? Thalita yang ku kenal, tidak seperti yang Mbak omongin kok. Justru Thalita itu teman yang paling care, dia tak pernah yang namanya menganggu hubungan orang kok. Bahkan kalau ada teman yang sedang berselisih, dia selalu berusaha mendamaikan," bela Hanny sengit.

"Kamu belum tau kebusukan Thalita sih, Dek. Coba kamu tau, pasti kamu akan berpendapat seperti Mbak," kata Clara kalem.

"Maksud Mbak apa? Aku sudah berteman dengan Thalita dari lama, tapi belum pernah aku dengar atau lihat Thalita melakukan tindakan seperti yang Mbak tuduhkan itu," kata Hanny sedikit emosi.

"Sudah ku bilang, Thalita itu cewek bermuka dua. Mungkin di depanmu dia cuma menampakkan wajah malaikatnya. Sementara wajah setannya dia sembunyikan darimu."

Hanny mengerutkan dahi tak mengerti dengan perkataan Clara. Semua yang dituduhkan Clara tak ada satupun yang benar menurut Hanny. Apakah Clara cuma mengada - ada ?

"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Dek? Kamu mengira aku cuma seorang pembohong?" tanya Clara ketus.

"Selama apa yang Mbak Clara tuduhkan pada Thalita tidak ada bukti, aku akan tetap menganggapnya sebagai suatu kebohongan," kata Hanny tegas.

"Suatu saat, kata - kataku akan terbukti, Dek. Dan aku yakin, kamu akan mempercayai semua yang kukatakan."

"Jika Mbak bisa membuktikannya. Jika tidak, maka yang Mbak katakan itu cuma fitnah semata. Dan sebuah fitnah, sama kejamnya dengan menghilangkan nyawa seseorang," kata Hanny sambil memandang Clara dengan tatapan tajam.

Clara menghela napas kesal, seorang bocah mengajarinya tentang hukum dari memfitnah.

"Aku punya bukti, juga punya saksi atas semua tindakan buruk Thalita. Dia itu racun dari semua komunitas yang dia masuki. Merusak pertemanan antar membernya. Memutuskan hubungan banyak pasangan dengan segala kelicikannya. Dan pandai berpura - pura seolah dia itu hanya korban. Playing victim. Itulah sebenarnya temanmu itu."

Hanny hanya bisa tertegun mendengar semua perkataan Clara.

"Dan asal kamu tau ya, Dek. Thalita itu juga selalu menjelekkan kamu di belakangmu. Kalau kamu gak percaya, kamu bisa menanyakan hal itu pada anak - anak kost yang lain," kata Clara.

Hanny mau membantah pendapat Clara, tetapi sebuah panggilan dari luar kamar, membuat Clara pamit, meninggalkan kamar Hanny yang dulunya dia tempati bersama Thalita.

part 2 : Kisah Thalita

Part 2 : Kisah Thalita

Setelah Clara pergi, Hanny beranjak mendekati meja belajar Thalita. Buku - buku dan alat tulis milik gadis itu masih tersusun rapi di sana. Hanny mendesah perlahan, berharap kejadian yang terjadi pagi ini cuma sebuah mimpi, dan dia akan terbangun dengan Thalita yang masih hidup sedang duduk di kursi ini seperti biasanya.

Pandangan Hanny meneliti setiap inci meja belajar itu. Ada novel - novel remaja hasil karya Thalita di deretan rak paling atas. Ya, Thalita adalah seorang penulis novel bergenre teenlit. Dengan tulisan - tulisannya yang berhasil dibukukan, Thalita mendapatkan uang saku yang cukup lumayan. Gadis itu juga menulis di beberapa platform berbayar.

"Kamu hobi nulis ya, Tha? Ku lihat novel - novel kamu cukup laris. Semoga suatu hari kamu berhasil jadi penulis hebat seperti Stephenie Meyer, deh," kata Hanny suatu hari.

"Amin. Ku amin kan aja kata - katamu, Han. Siapa tau suatu saat bakal jadi kenyataan. Kan kata orang, ucapan itu doa," kata Thalita sambil tertawa.

"Ya kan ku lihat, hampir tiap bulan ada tuh novel kamu yang diterbitkan. Belum lagi yang di platform, aku lihat juga kamu cukup produktif di sana."

"Yah, hanya ini yang bisa aku lakukan, Han. Berimajinasi. Aku kan gak seperti kamu, bisa melakukan banyak hal, bisa mengunjungi banyak tempat, bisa berteman dengan banyak orang. Jadi aku menuangkan imajinasi ku dalam bentuk tulisan, dan syukurlah, bisa cukup menghasilkan," kata Thalita sambil tersenyum.

"Apa maksud kamu, hah?" tanya Hanny sambil tertawa dan mengacak rambut Thalita.

"Yah, setidaknya ekonomi keluargamu jauh lebih baik dari aku, Han. Kamu bisa aja milih tempat kost yang jauh lebih elit dari tempat ini, dan aku yakin papamu sanggup membayarnya dengan mudah. Dan aku juga tau, semua ini kamu lakukan untuk rasa setia kawan sama aku," kata Thalita datar tanpa ekspresi.

"Haduh, jangan pernah punya pikiran kayak gitu, Tha. Kita ini sama saja, papaku juga cuma seorang buruh pabrik, sama kayak abbamu. Cuma bedanya, aku anak tunggal, dan kamu punya tiga adik yang masih butuh banyak biaya. Jadi kesannya, orang tuaku lebih mampu dari orang tuamu," kata Hanny merasa tak enak dengan ekspresi datar Thalita.

"Serius amat, Non. Kan aku cuma bercanda. Aku memang hobi baca dan nulis cerita dari kecil, dengan menulis aku bisa mengekspresikan diriku menjadi apa yang aku mau. Menulis sudah menjadi kebutuhan pokok sih, bagiku," kata Thalita sambil tersenyum manis.

Hanny merasa lega mendengar omongan Thalita baru saja. Wajah serius Thalita tadi, sempat membuat Hanny takut, perkataannya menyinggung Thalita.

"Sebenarnya, menulis juga sebagai ajang buatku meluapkan perasaan. Aku tak punya teman untuk curhat, jadi aku menuliskan semua keluh kesah dalam bentuk karya," kata Thalita kembali sendu.

"Kan kamu masih punya aku, Tha. Aku bisa jadi tempat curhat buat kamu," Hanny menawarkan diri.

"Aku gak mau merepotkan siapapun, Han. Lagian masalahku gak jauh - jauh amat dari duit kok, jadi jelas - jelas aku gak bisa curhat sama kamu. Aku menjadikan curhatku sebagai tulisan juga bukan tanpa alasan. Selain membuat hati lebih plong, juga bisa menghasilkan cuan," kata Thalita kembali tersenyum.

Sebagai seorang sahabat, Hanny merasakan, senyuman Thalita hanya digunakan gadis itu sebagai penutup beban dan kesedihan.

Thalita berasal dari keluarga yang sangat sederhana, ayahnya hanya sebagai buruh pabrik dengan gaji yang tidak besar. Untuk membantu suaminya, ibu Thalita berjualan gorengan keliling kampung. Tapi kadang semua itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

Thalita dapat kuliah dengan beasiswa karena kepandaiannya. Meskipun biaya kuliah gratis, untuk biaya makan dan kost, tetaplah harus membayar. Untuk itu, Thalita pernah berkerja paruh waktu di sebuah cafe. Namun tubuh Thalita yang lemah serta sering sakit, membuat Thalita tak bisa meneruskan pekerjaan itu.

Untuk mendapat penghasilan tambahan, Thalita mencoba menulis di sebuah platform. Hasil yang cukup lumayan, membuat Thalita bersemangat untuk terus berkarya. Bahkan, Hanny lebih sering melihat Thalita duduk di meja belajarnya sambil tangannya sibuk menari di atas keyboard.

Jujur saja, Hanny belum pernah sekalipun membaca karya Thalita, karena genre yang dipilih Thalita tidak sesuai dengan selera Hanny. Tapi melihat banyaknya karya Thalita di beberapa platform dan juga bukti terbit yang dikirim ke alamat kost mereka, cukup sebagai bukti, tulisan Thalita mempunyai banyak pengemar.

"Sekarang kamu lagi sibuk nulis apa, Tha?" tanya Hanny setelah cukup lama mereka terdiam.

"Aku mencoba menulis genre misteri, Han. Tapi sepertinya kurang diminati," jawab Thalita sambil berbalik ke arah laptopnya.

"Kenapa? Bukankah genre roman lebih banyak diminati?"

"Cuma mencoba sesuatu yang baru, Han. Kali ini tujuanku bukan untuk cuan, lebih ke curhat. Apa yang selama ini ku alami dan ku rasakan, ku tulis dalam bentuk karya." Terdengar Thalita menghela napas berat.

Hanny tampak termenung di tempat dia duduk, selama ini Thalita pribadi yang sangat tertutup. Tak pernah sekalipun dia mencurahkan keluh kesahnya pada Hanny, kecuali tentang kuliah dan usahanya mencari uang saku. Thalita juga tak mempunyai banyak teman, bisa dibilang cuma Hanny teman terdekatnya.

Disaat teman - teman yang lain juga sibuk berpacaran, tak terkecuali Hanny, Thalita tak pernah kelihatan mempunyai pacar. Padahal banyak cowok yang berusaha mendekatinya, atau bahkan menyatakan perasaannya, tapi Thalita tak pernah menanggapi dengan serius. Sepertinya tujuan hidup Thalita cuma untuk lulus kuliah dengan baik, mendapat pekerjaan yang baik juga, dan membantu orang tuanya menyekolahkan adik - adiknya.

"Kok diam, Han? Biasanya kamu cerewet banget lho," tegur Thalita.

"Gak enak, kayaknya kamu lagi serius nulis, takut ganggu," kata Hanny sambil merebahkan tubuhnya ke kasur.

Thalita tertawa mendengar jawaban Hanny. " Aku tuh lebih senang kalo kamu cerewet lho, Han. Karena dari kecerewetan kamu, dari cerita kamu, aku sering dapat ide untuk tulisan."

Hanny kembali duduk mendengar perkataan Thalita, dilemparnya bantal ke arah teman kostnya itu. "Curang ahh kamu, aturan aku dapat bagian royalti dong, kan sudah nyumbang ide."

"Iya, nanti akhir bulan deh ya, kalo royaltinya sudah cair, aku traktir kamu makan mie ayam Pak Kumis."

"Masa ide dari aku cuma dihargai dengan semangkok mie ayam sih? Lain kali, aku kasih hak paten deh, biar gak bisa dicopy sama kamu," gerutu Hanny.

Thalita semakin terpingkal melihat Hanny yang cemberut. Tampang sahabatnya itu menjadi sangat lucu, pipi menggelembung dan bibir maju beberapa senti.

"Ya kan kalau cuma ide tapi gak dieksekusi jadi karya kan jadi gak menghasilkan. Jadi cukuplah semangkok mie ayam. Aku lagi baik hati nih, Han. Aku tambahin segelas es jeruk dan sebungkus kerupuk."

"Dah ah, ******!!! Lain kali aku gak mau cerita biar gak dimanfaatin sama kamu," kata Hanny semakin ngambek.

Thalita hanya tertawa mendengar omongan Hanny. Dilemparkannya kembali bantal Hanny ke pemiliknya. Hanny menangkap bantalnya, kemudian tidur membelakangi Thalita.

"Han, aku lapar nih. Mau masak mie instan, kamu mau dimasakin juga gak?" tanya Thalita masih menghadap laptopnya.

Tak terdengar jawaban apapun dari Hanny, cuma terdengar suara napasnya yang teratur.

"Ahh, ternyata kamu udah molor ya, Han." Thalita tersenyum sambil memperbaiki selimut Hanny yang sedikit tersingkap di bagian kaki. Kemudian Thalita melangkah keluar kamar dengan hati - hati, tak ingin membuat Hanny terbangun.

part 3 : Kisah Pertama

Part 3 : Kisah Pertama

Hanny menyusut air matanya yang tak mau berhenti mengalir. Ingatan akan hari - hari sewaktu Thalita masih hidup, berseliweran di otaknya, membuat gadis itu semakin sedih. Pandangan matanya yang masih memindai meja belajar Thalita, tak sengaja terpaku pada sebuah buku bersampul coklat, sebuah diary.

Berlahan, Hanny menyentuh buku itu dan menariknya dari deretan novel karya Thalita. Dengan rasa bersalah dan juga penasaran, Hanny mulai membaca halaman pertama buku harian itu.

Malang, 10 November 2022

Hari ini aku membuka aplikasi biru dengan logo huruf F dengan harapan akan ada event menulis yang akan membukukan karya peserta. Tapi yang ku dapati di sana adalah sederetan notifikasi yang mengomentari postinganku. Komentar itu tidak ada hubungannya dengan postingan yang ku tulis, tapi berisi hujatan dan cemooh yang sangat membuatku muak.

Hmm...

Komentar dari seseorang yang tidak ku kenal dan juga gak berteman dengan akun ku. Tapi jelas sekali di situ, dia berteman dengan Mbak Clara.

Hanny mengerutkan dahinya heran. Halaman pertama di diary itu tertanggal hari ini. Keheranan Hanny semakin bertambah, karena halaman berikutnya masih kosong, tanpa ada coretan sedikitpun.

Hanny mendesah, kemudian menaruh kembali diary itu di tempat asalnya. Setelah sekali lagi memindai meja belajar Thalita, Hanny beranjak, dan merebahkan diri di kasurnya. Karena letih, Hanny terlelap.

🌼🌼🌼🌼🌼

Clara sedang asik berbalas chat dengan teman yang dia kenal dari aplikasi biru. Sesekali tawa cekikikan tercetak di bibirnya yang selalu dilapisi lipstik warna merah yang norak. Tak puas hanya berbalas chat, Clara menelepon teman chat itu dengan aplikasi hijau.

"Hallo, Yud. Bini lu udah tidur belom?" tanya Clara pada seseorang di seberang sana.

"Hallo, Sayang. Kenapa nelpon? Gak puas cuma chat ya? Pasti lu kangen deh ma gua," kata Yudi sambil tersenyum jahil.

"Pede banget lu, Yud. Mana ada gua kangen sama laki orang, bisa dilabrak ma bini lu, ntar."

"Bini gua udah tau kali, kalo hubungan kita cuma kerjasama yang berujung cuan. Asal saldo ke dia lancar, bini gua mah gak bakal komplain. Gimana tuh kerja gua? Bagus kan?"

"Bagus kok bagus. Gua rasa tuh Si Bocil pasti trauma baca komentar elu di sosmed dia. Baru jadi penulis gitu doang udah belagu tuh Bocil. Lu harus bisa bikin mental dia semakin down, biar gua gak rugi transfer saldo ke e-wallet bini elu," kata Clara ketus.

"Tenang aja, Sayang. Apa sih yang gak gua lakuin buat elu, Cantik? Menjual harga diri gua aja gua lakuin kok, asal elu yang beli," kata Yudi sambil terbahak.

"Ya udah, lu gak mau ketemu gua nih? Gak kangen ma gua?"

"Kangen dong, Cantik. Tar lagi gua meluncur ke klinik tempat lu gawe. Tapi tunggu bini gua pules dulu ya, Sayang."

"Oke deh, gua tunggu elu. Jangan lama - lama, tar gua merana karena terlalu lama nahan kangen ke elu." Clara mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban dari Yudi.

Diseberang sana, Yudi merasa kesal dengan sikap tidak sopan Clara. Lelaki itu mendengus kesal. "Awas aja lu kalau ketemu, akan ku buat lu nyesel udah nutup telpon gak sopan gitu."

Istri Yudi tampak memasuki kamar dengan membawa secangkir kopi yang diminta suaminya. Wanita itu meletakkan kopi di meja dengan kesal, karena suaminya sudah tampak rapi, bersiap mau pergi.

"Mau kemana, Mas?"

"Biasalah, Sayang. Mau ketemu Clara, barusan dia nelpon," jawab Yudi sambil menyisir rambutnya.

"Kalau Clara yang rajin transfer saldo ke virtual akun milikku, udah ku labrak itu cewek gatel," kata bini Yudi kesal.

"Dan kalo transferan dia gak gede dan lancar, ya Mas juga ogah ngeladeni dia. Mana lawan dia yang harus Mas kerjain itu masih bocah lagi. Menang gak bikin banga, kalah malu - maluin. Tapi demi cuan, apa boleh buat," kekeh Yudi.

Istri Yudi masih cemberut, sebenarnya dia tak rela berbagi kasih Yudi dengan Clara, tapi apa boleh buat, dana yang ditranfer Clara ke rekeningnya tidak sedikit.

"Ya udah, minum dulu kopinya, baru pergi! Udah susah - susah ku buatin tuh," kata istri Yudi.

Yudi mengecup kening istrinya lembut, berharap kekesalan wanita itu bisa sedikit berkurang. Istri Yudi cuma mendengus kesal, dan menjatuhkan diri di kasur, untuk kemudian menarik selimut.

Dengan mengendarai sebuah motor matic, Yudi berniat menemui Clara di klinik bersalin tempat dia bekerja. Tak lama sampailah Yudi, dan segera disambut oleh Clara dengan senyum cerah.

"Hallo, Sayang," sapa Yudi setelah memarkir motornya.

"Kirain lu gak bakalan datang, Yud." Clara menghampiri Yudi sambil mengenakan jaket.

"Pasti datanglah, kan gua gak mau lu menderita karena nahan rindu ke gua," gurau Yudi.

Clara tak menyahuti gurauan Yudi, dia malah sudah duduk manis di boncengan motor pria itu.

"Kok main nangkring di situ sih? Emang lu gak lagi kerja?" tanya Yudi heran.

"Klinik lagi sepi, gak ada pasien. Jadi gua pengen ngajak lu jalan - jalan. Kita makan di angkringan," jawab Clara kalem.

Yudi cuma mengangkat bahu, kemudian menuruti keinginan Clara. Tak berapa lama, mereka berdua sudah duduk di sebuah angkringan, menunggu pesanan mereka.

"Lu tau gak, Sayang? Tuh Bocil marah banget waktu baca komentar gua. Sampai gua dikatain piaran elu lho," lapor Yudi sambil mengunyah makanannya.

"Kok bisa dia bilang gitu?"

"Karena gua ngatain dia cabe. Cewek sok caper yang cari muka di sosmed."

"Bagus, kan emang kenyataannya kayak gitu. Dia itu cuma cewek miskin yang sok - sokan berlagak kaya, untuk cari teman. Kalau udah dapat, gak segan - segan dia bakal manfaatin temannya itu," kata Clara geram.

"Emang salah dia apa? Sampai lu segitu gak sukanya sama dia?"

"Karena dia caper, berlagak jadi cewek baik - baik di sosmed, cuma buat cari simpati."

"Terus, dia dapat tuh simpati?"

"Dapat. Karena aksinya yang jadi playing victim itu, banyak yang kasian sama dia."

"Aneh aja, jangan - jangan lu cemburu sama cewek sampah itu?" tanya Yudi menyelidik.

"Gak level banget gua cemburu sama cabe," kata Clara geram.

"Ya udah, jangan emosi kayak gitu! Serahkan dia padaku, biar ku urus."

Baru saja Yudi mengucapkan perkataan itu, tiba - tiba ada seekor anjing besar dengan liur menetes lari ke arah mereka duduk. Yudi dan Clara yang melihatnya, menjadi panik dan berlari meninggalkan tempat itu.

Malang bagi Yudi, anjing itu mengejar kemanapun dia lari. Yudi semakin mempercepat larinya, hingga napasnya terasa sesak.

Yudi menengok ke belakang, dan tampak anjing itu masih mengejarnya. Dan tiba - tiba, sebuah motor melintas tanpa disadari Yudi. Tubuh Yudi jatuh terpental dan kepalanya membentur aspal. Darah segar tampak mengalir dari luka di kepala Yudi.

Clara yang menyaksikan kejadian itu, menjerit histeris, sebelum akhirnya jatuh pingsan. Orang - orang yang ada di tempat itu, segera memberikan pertolongan pada Yudi dan Clara.

Tanpa disadari siapapun, Si anjing yang tadi mengejar Yudi, melenggang meninggalkan tempat itu dengan bibir seolah menyungging senyuman.

🌼🌼🌼🌼🌼

Di kamar kost Hanny, tampak gadis itu masih terlelap. Hingga tak menyadari, tulisan di buku diary Thalita telah bertambah :

Akhirnya, Anjing itupun mati karena dikejar anjing gila. Wkwkwkwk

Thalita Adelia.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!