Arocha Setiana Dewi atau biasa disapa Ocha. Gadis belia berusia 18 tahun yang baru lulus dari sekolah menengahnya. Ia hidup di zaman modern atau millenial.
Ocha bukanlah gadis yang mempunyai segalanya. Dia hanya anak yatim piatu yang hidup sendirian di dalam rumah sederhananya yang syukurnya masih layak untuk ditinggali.
Ocha hidup tanpa bergelantungan pada siapa pun, karena dia tidak ingin merepotkan siapa pun. Tentunya dengan hidupnya yang serba sederhana.
Kedua orang tuanya dahulu sama-sama anak tunggal, jadi kala mereka meninggal, dia tidak akan memiliki saudara atau sepupu semacamnya.
Bibi Aika, ia selalu mencari wanita sebatang kara itu kala biasanya dia bingung mendapatkan solusi.
Mereka bertemu di suatu tempat. Saat itu, Ocha sedang berbelanja kebutuhan dapur rumahnya. Namun dia lupa membawa uangnya, sehingga dia lebih memilih meninggalkan belanjaannya. Namun, seorang wanita yang berumur setengah abad itu menghampirinya dengan membawa dua buah paper bag besar. Ocha kebingungan kala itu, namun si wanita itu ingin bahwa Ocha menerima pemberiannya.
“Terima saja ini. Aku tau, kau sangat butuh barang ini,” kata wanita renta itu. Ocha mengernyitkan alisnya, merasa tak enak dan malu. Tentu saja.
“Bibi, terima kasih. Tak usah repot-repot. Aku bisa membelinya lain kali,” tolak Ocha sungkan. Wanita itu tentu saja menolak.
“Tidak. Cepat terima ini saja. Aku ikhlas membantumu. Anggap saja, sekarang kau sedang beruntung dan mendapat rezeki dadakan,” ucap cepat wanita itu. Segera saja Ocha menerima paper bag dari tangan wanita itu.
Dia memeriksa isi dalam paper bag yang diterimanya. Lengkap, sama seperti yang tadi diambilnya untuk keperluannya.
“Ini, kartu namaku. Kau terima saja. Jika nanti kau membutuhkannya, kau bisa datang padaku,” ucap wanita itu. Ocha tersenyum segan. Wajahnya merasa tak enak. Sungguh dirinya malu dan merasa merepotkan.
“Terima kasih, Bibi,” balasnya dengan membungkukkan tubuhnya 180 derajat.
Wanita itu pergi dengan melayangkan tangannya sebagai tanda berpamitan pada Ocha. Ocha tersenyum. Matanya menatap kartu nama di tangannya. Kemudian beralih pada belanjanya.
“Ah, baik sekali wanita itu. Mengingatkan ku kembali pada Ibu,” batinnya.
****
Setelah pertemuan itu, Ocha ingin kembali menemui wanita itu. Namanya Bi Aika. Wanita berusia lima puluh dua tahun yang hidup sebatang kara. Hidupnya berlimpah harta, namun sendirian.
Bahkan, kesan pertama Ocha mendatangi rumah Bi Aika adalah, sangat mewah. Rumah dengan dua lantai yang banyak dilapisi kaca, dengan kolam dan air mancur di halaman depannya kemudian beberapa mobil mewah yang terparkir rapi sejajar di dalam garasi yang terbuka itu.
“Permisi, apa benar ini alamat Aika Rosmala?” tanya Ocha ragu pada satpam rumah mewah itu.
Dia berada di luar gerbang Bi Aika. Tentunya, dia harus sopan saat akan berkunjung. Apalagi dirinya datang tanpa komunikasi dengan sang pemilik rumah.
“Iya benar, Non. Ada yang bisa aku bantu?” tanya seorang satpam berbadan gemuk berlarian dari dalam pos satpam menuju pagar tepat Arocha berdiri.
Ocha tersenyum puas mendengar jawaban itu, “Boleh aku bertemu dengan pemilik rumah?”
“Kalau boleh tahu, atas nama siapa?”
“Arocha. Gadis yang pernah ditolong pemilik rumah, dibelikan barang belanjaannya dan bertemu di supermarket.”
Satpam itu bergegas menuju interkom yang tertempel di balik tembok pagar.
“Permisi, Bu, maaf mengganggu waktunya. Ini ada tamu, atas nama Arocha, katanya gadis itu pernah bertemu Ibu di supermarket. Dia gadis yang barangnya dibelikan oleh Ibu waktu lalu,” ujar satpam itu.
“Suruh saja dia masuk. Aku mengenal orang itu.”
Ocha tersenyum.
Satpam itu beralih menghampiri Ocha kembali. Kemudian menundukkan badannya, dan membuka pagar besar itu, ternyata otomatis.
Bukankah ini sangat mewah? Ah, Ocha rasanya malu dan sia-sia datang kesini bila untuk mengganti uang belanja milik Bi Aika jika saja rumahnya semewah ini ternyata. Uangnya bukanlah apa-apa.
“Silahkan masuk, Non. Ibu sudah menunggu di dalam. Tadi aku lihat beliau ada di ruang tengah,” ucap satpam itu. Ocha mengangguk dan mengucapkan terima kasih dengan senyuman.
Dia mulai berjalan untuk menyusuri rumah mewah ini, yang besar dan indah. Seperti rumah-rumah di luar negeri. Kakinya berjalan di atas lantai keramik bercorak batu kristal yang tertempel di atas tanah halaman rumah bi Aika.
“Ketuk tidak, ya?” tanyanya pada diri sendiri. Ia berdiri ragu di depan pintu utama rumah Bi Aika.
Matanya melirik bel rumah yang terpasang di balik bunga besar depan jendela pintu utama.
Ocha menekan bel itu. Hingga menunggu beberapa menit, terbukalah pintu besar yang mewah itu.
Terpampang wajah si pemilik rumah yang kala itu menolongnya. Ocha tersenyum canggung. Pasalnya, wajah wanita tua ini sangat buruk, tak ada senyum.
“Masuk,” titahnya sekali kemudian berjalan pergi meninggalkan Ocha di tempat.
Setelah sadar, dia segera mengikuti langkah pemilik rumah. Yang menuju ruang tengah, sepertinya pemilik rumah sedang sibuk. Bi Aika sudah duduk di sana dengan berbagai kertas berhamburan di atas meja, dan orang tersebut duduk di atas sofa mewah berwarna abu-abu itu.
“Duduk,” titahnya lagi. Ocha bergegas duduk di sofa tunggal di hadapan Bi Aika. Ia menunduk ragu.
“Em, sebelumnya aku izin memperkenalkan diri. Namaku Arocha Setiana Dewi. Terima kasih sudah membantuku untuk membayar belanjaanku dua minggu lalu. Aku baru sempat datang kemari karena harus lebih dulu mengumpulkan uang.”
Bi Aika menghentikan kegiatannya. Kemudian ia menatap Arocha. Gadis itu menatap mata Bi Aika.
“Berapa usiamu?” tanya Bi Aika.
Ocha mengernyit, namun tetap menjawab.
“Tahun ini, delapan belas tahun.”
“Kapan kau ulang tahun?” tanyanya lagi.
“Tanggal tiga belas bulan lalu.”
Sejenak, Ocha menatap sekelebat rasa terkejut di mata Bi Aika.
“Dimana orang tuamu? Kenapa kau mencari uang sendiri di usia semuda itu?” tanya Bi Aika lagi.
“Orang tua ku sudah meninggal dua tahun lalu. Dan, aku hidup sebatang kara. Hingga menghidupi kehidupanku sendiri adalah hal yang wajar,” jawab Ocha. Bi Aika mengangguk. Matanya tetap menatap Ocha, Ocha merasa getaran dalam dadanya kala melihat tatapan itu.
“Ada urusan penting apa sampai kau datang kemari?”
“Aku ingin mengembalikan uang Bibi yang digunakan untuk membayar hasil belanjaanku dua minggu lalu,” jawab Ocha seraya mengeluarkan amplop putih yang di dalamnya tentu ada uang ganti yang dimaksudnya.
Bi Aika tersenyum, “Tak usah. Aku tak butuh. Itu hanya sedikit, bahkan kurang untuk mencukupi hidupmu selama sebulan. Sudah kubilang, anggap saja kau mendapat rezeki dadakan,” tolak Bi Aika. Ocha tersenyum tak enak.
“Tetapi, aku berhutang budi padamu, Bi.”
“Kalau gitu, balas hutang budi itu dengan kau menjadi temanku di masa tuaku ini.”
Ocha terkejut. Ini nyata?
“Apa kau serius, Bibi?” tanyanya. Bi Aika mengangguk.
“Untuk apa aku bercanda. Kau mau?”
Ocha tersenyum. Kebetulan apa ini dirinya pun hidup sendiri di dunia ini. Melewati susah senangnya sendirian. Akhirnya, dia akan kembali memiliki keluarga.
“Ya, aku terima. Sekarang, kita menjadi keluarga, bukan?” kata Ocha bertanya. Dia tersenyum senang. Matanya berbinar bahagia. Anggukan itu terasa sangat menyenangkan di kepala Ocha.
“Yeah, we’re are family now. Jika kau butuh aku, kau bisa mencariku,” titah Bi Aika. Rautnya pun tak kalah senang. Dia mendekat ke Ocha dan segera memeluk gadis itu.
Ocha memeluk erat Bi Aika. Ia tak akan menyiakan waktu dan kesempatan ini. Dirinya akan kembali memiliki teman hidup di dunia. Namun, dia tak akan berpacu pada bibi barunya. Ia akan tetap hidup dengan mandiri, akan ia usahakan.
****
Sudah beberapa bulan mereka saling mengenal. Hingga keakraban mereka semakin kuat. Bahkan sekarang sudah layaknya keluarga kandung.
Siang ini, Arocha sedang bersiap-siap untuk menemui seseorang yang berarti di hidupnya beberapa bulan terakhir ini.
Posisi Arocha ada di trotoar jalan raya yang sangat padat. Dia berhenti di depan sebuah kotak telepon umum. Dia bersandar di bollard yang terpasang di pinggir trotoar. Tangannya memegang telepon genggamnya, yang menampilkan sambungan telepon pada Bi Aika, dan tertulis kata ‘tersambung’ tanpa ada panggilan diangkat.
“Duh, Bibi Aika ke mana, sih?” Matanya menoleh untuk mencari-cari tubuh sang bibi, yang bisa saja ditelan oleh ramainya para manusia.
“Ocha!” teriakan itu berasal dari belakang punggungnya. Dia menoleh mencari sumber suara. Senyumnya terpampang. Akhirnya ia akan kembali bertemu dengan sang bibi, keluarga barunya itu. Setelah sebulan berlalu dengan penuh kesibukan diri mereka masing-masing.
Hiruk pikuk ramainya manusia berada di jalan tak membuat Ocha tuli akan teriakan itu.
Hingga, suatu kecelakaan maut membuatnya memunculkan rasa terkejutnya. Dan apalagi, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwasanya tubuh sang bibi yang berada di seberang jalan itu terpental jauh akibat tabrakan motor dan mobil yang disebabkan oleh sebuah truk oleng.
Brak!
Pyar!
Bruk!
Cittt ....
“Bibi!” Teriakan Ocha membuat orang di sekeliling tersedu. Tabrakan beruntun yang juga menyebabkan orang tersayangnya tersangkut di dalamnya.
Berakibat dari satu truk bermuatan besar yang mengakibatkan beberapa mobil terpental termasuk kendaraan lain dan juga beberapa manusia yang mengalami luka. Dan, Bibi Aika ialah salah satu wanita yang ikut dalam daftar korban. Naasnya, beliau tewas di tempat saat itu juga.
Ocha menangis. Dia tersedu keras. Dia masih syok, tak bisa menerima apa yang baru saja ia alami.
Langkahnya membawa dia untuk menghampiri tubuh sang bibi yang sudah remuk karena terpental jauh. Tangannya terkepal, memeluk tubuh penuh darah Bi Aika. Memangku dengan sayang kepala korban itu. Kemudian kepalanya mendongak ke langit.
“Kenapa kau ambil nyawanya, Tuhan?! Mengapa kau harus mengambil satu-satunya manusia yang aku miliki di dunia ini?!” teriaknya penuh emosi.
Matanya tak bisa berbohong. Ia terus memeluk erat tubuh sang bibi, tak perduli bahwa ia berlumuran darah.
Tubuhnya ditarik oleh petugas rumah sakit yang mengangkut korban kecelakaan, dan dengan mata kepalanya, dia melihat tubuh Bibi Aika dimasukkan ke dalam mobil ambulance.
Sayangnya, Ocha kurang teliti sehingga kala itu, dia hanya fokus pada tragedi kecelakaan itu tanpa tahu bahwa penyebab segala hilangnya puluhan nyawa itu karena satu manusia yang ada di dalam ramainya lingkaran manusia di sana.
“Akhirnya, aku puas melihatmu seperti ini Arocha. Ini belum seberapa, tunggu saja selanjutnya. Hidupmu tak akan tenang,” gumam seseorang yang wajahnya tertutup tudung hoodie hingga wajahnya tak diketahui. Ekspresi orang itu tersenyum miring dan puas. Matanya tertutup satu perban, hidungnya ditindik indah.
Orang itu memilih pergi setelah menatap raut kehancuran Arocha yang sangat membuatnya bahagia.
Dia sangat puas akan tragedi tersebut tanpa memerdulikan keluarga korban lain yang ikut tersangkut akan rasa dendamnya ini.
Kabar duka yang tersebar di berita dengan nama korban ada dalam daftar yang disebutkan oleh reporter itu.
Ocha menatap kosong ke arah TV jadul yang dimilikinya menampilkan kondisi ricuh pada saat kecelakaan beruntun itu terjadi. Kejadian itu terjadi kemarin.
Tok! Tok!
“Arocha, buka pintunya.”
Ceklek!
Ocha menatap tetangga rumahnya, yang mana wanita paruh baya itu menangis tersedu.
“Ayo kita ke pemakaman Bi Aika yang akan dilaksanakan 15 menit lagi,” ajak wanita itu. Ocha mengangguk. Wajahnya pucat. Jangan ditanya, mengapa tetangga rumahnya itu juga mengenal Bi Aika? Karena tetangganya itu merupakan teman semasa sekolah Bi Aika.
Saat perjalanan, matanya terpejam. Dia merasa bersalah, karena dia tak bisa menolong para korban, termasuk bibinya sendiri.
Sesaat kemudian, sekelebat bayangan muncul dengan samar. Namun, Ocha masih bisa mengingat dengan baik siapa orang-orang yang terlibat itu. Namun apa daya, dia tidak memiliki apa pun yang mampu ia raih untuk mengancam orang-orang tersebut.
“Akan aku balas kalian suatu hari nanti,” ujarnya pelan dengan mata terpejam namun tangan mengepal erat. Giginya bergemeletuk di dalam mulut.
****
“Ayo Cha, sudah sampai di rumah sakit.” Suara dari tetangganya membuat ia tersadar kembali.
Rumah sakit itu sangat ramai. Banyak keluarga dari korban yang ikut serta dalam masa terakhir hidup korban di dunia sebelum dimakamkan. Termasuk ia beserta wanita yang merupakan tetangganya ini. Mereka diarahkan oleh petugas menuju ruang jenazah yang di depannya sangat ramai.
Ocha semakin mengepalkan erat tangannya, mendengar tangisan sesak dari keluarga korban yang kehilangan anggotanya. Dia menajamkan tatapannya, “Akan kuingat ini, Adriana. Akan ku balas kau lebih kejam dari perbuatan ini. Kehancuran akan segera datang di hidupmu.” Kemudian ia memejamkan matanya.
Ya, Ocha mengingat, bahkan akan sangat mengingat nama itu. Nama orang yang selalu mengganggu ketenangan hidupnya. Bahkan orang tersebut akan sangat puas kala melihatnya menderita. Dendam memang sangat menyedihkan sekaligus menyeramkan. Ocha akan segera mencari tahu penyebab dendam ini terjadi.
Punggungnya dielus lembut membuat Ocha tersadar kembali. Matanya berusaha menetralkan tatapannya. Ia menoleh ke orang yang mengelusnya.
Tetangganya itu menatap ia ragu dan sendu.
“Yang sabar ya, Ocha. Bu Aika pasti akan bahagia di sana, dia sudah tenang.”
Ocha kembali bersedih. Rasa sesak kembali mendatanginya. Ia menyesal, seharusnya, seharusnya ia yang menghampiri Bi Aika ke rumah wanita itu bukan malah mengajak wanita itu bertemu di luar.
“Boleh tidak aku melihat Bi Aika?” tanyanya sengau. Tetangganya mengangguk.
Ocha memasuki ruang jenazah dan diarahkan oleh petugas menuju peti Bibi Aika yang dibuka. Wajah pucat itu. Wajah yang biasanya berseri ketika bertemu dengannya, kini tak akan ada lagi senyum indah di bibir keriput itu.
“Pemakaman akan dilakukan lima menit lagi. Jadi, tenangkan hatimu wahai gadis belia,” ucap seorang dokter. Umur dokter itu sudah tak muda. Tetapi yang membuatnya heran ialah, dokter itu menatap sendu jenazah Bi Aika. Dan, wajahnya familiar di mata Ocha. Ia ingat pernah melihat wajah pria itu.
Sekelebat bayangan hadir di penglihatannya, ia terpejam tanpa sakit. Kilasan bayangan mengenai kehidupan Bi Aika selama ini. Sebelum kemudian wanita itu hidup sebatang kara.
Matanya terbuka kembali, “Dokter Aditama. Mantan suami Bi Aika yang bercerai 12 tahun yang lalu karena kau berselingkuh di belakangnya dengan wanita yang tak lain adalah sahabat mantan istrimu sendiri,” ujarnya, membuat dokter itu terkejut seketika.
“K-kau, bagaimana kau tahu?” tanyanya. Ocha tersenyum miring. Matanya berubah sendu dan tajam.
Ya, tentu saja Ocha tau, bahkan sangat tahu. Di dalam ingatannya tadi dan juga berdasarkan cerita dari Bi Aika sendiri, 12 tahun yang lalu. Bi Aika berumur 26 tahun. Wanita itu sudah menikah dengan dokter Aditama selama 7 tahun, mereka menikah muda. Namun sayang, pernikahan mereka belum dikaruniai anak. Dan kala itu, Bi Aika ingin memberi tahu kabar bahagia mengenai kehamilannya yang dinanti selama 7 tahun itu. Dia datang ke rumah sahabatnya, niatnya ingin memberi tahu lebih dahulu pada sahabatnya tentang kebahagiaan itu, sayangnya, disana malah ia melihat suaminya sedang bercumbu mesra dengan sahabatnya sendiri.
Matanya berkaca-kaca, “Jika bukan karena kau, Bi Aika pasti akan selalu bahagia, tidak hidup kesepian di luar sana. Kau hidup enak tanpa tau bagaimana kabar kehidupan mantan istrimu. Bercerai tidak memberi penjelasan malah langsung pergi. ”
Dokter tersebut menatap jasad Bi Aika sendu. Kemudian menatap lagi Ocha, “Kau gadis belia yang pintar. Aku berterima kasih karena kau sudah peduli dengan mantan istriku. Aku tau siapa kau, Gadis Muda. Aku tahu bagaimana kau hidup bersama mantan istriku beberapa bulan ini.”
“Cih, urusi saja istri dan anakmu di rumah. Bi Aika sudah tidak ada, dia sudah meninggal. Tidak ada yang perlu kau sesali, Dokter,” ucapnya kemudian pergi. Ocha sangat muak melihat wajah itu. Wajah itu, wajah yang selalu membuat bibinya tersakiti, menderita dan seperti menjadi gila. Gila karena terbayang akan rasa kesepiannya selama ini. Memuakkan.
“Urus dengan baik pemakaman bibiku dengan layak,” titah Ocha pada salah seorang perawat yang bertugas mengurus pemakaman semua korban ini.
“Baik.”
Sepertinya, ia membutuhkan ketenangan.
****
Dan, kamar mandi adalah tempat yang dipilih Ocha untuk mendinginkan kepalanya yang terasa panas. Kesedihan dalam dirinya sudah lumayan bisa terkontrol. Ini sudah lewat dari sehari setelah kecelakaan itu terjadi. Ocha menyusuri lantai rumah sakit yang bersih. Memasuki kamar mandi yang ada di koridor rumah sakit yang dilewatinya ini.
Di sebuah ruangan, terdapat seorang lelaki yang berbaring di atas brankar rumah sakit ruangan VVIP kelas 1.
“A-aku di mana ini?”
“Shhh, mengapa sakit sekali”
“Tuan, bagaimana kondisimu, apa yang kau rasakan?”
Suara seorang pria dengan pakaian lengkap jas putihnya. Seorang dokter.
“Kau berada di rumah sakit, Tuan. Kecelakaan yang kemarin kau alami membuatmu berada di sini.”
Pria itu mengangguk dengan tetap memegang kepalanya. Ia terus mengingat, bagaimana bisa ia kecelakaan?
“Kecelakaan?” tanyanya bingung.
Dokter itu mengangguk, “Iya, Tuan. Apa kau tidak mengingatnya?”
Lelaki itu menggeleng.
“Kau ingat siapa namamu?”
Lelaki itu kembali menggeleng.
“Alamatmu?”
Kembali lelaki itu menggeleng. Ia memegang kepalanya yang terasa nyeri.
Dokter itu menghela napas. “Sudah saya duga. Bentrokan yang terjadi di kecelakaan kemarin membuat kepala Tuan terjadi pembekuan darah dan mengakibatkan amnesia.”
“Lalu?” tanya lelaki itu santai. Dia pun bingung.
“Bagaimana cara saya untuk mendapatkan identitas keluargamu, Tuan?”
Lelaki itu mengedikkan bahunya, “Apa aku tak punya ponsel? Barangkali kau bisa menghubungi kerabatku,” usulnya.
Dokter itu merengut, “Ponsel Tuan remuk akibat kecelakaan itu. Dan hanya tersisa kartu-kartumu saja.”
Ah ya, lelaki itu baru mengingat bahwasanya siapa yang bertanggung jawab mengenai pengobatannya ini. Dan mengapa bisa ia di tempatkan di ruang sebagus ini?
Apa dari kartu-kartu yang dimaksud dokter itu?
“Bayar saja biaya pengobatanku dengan itu. Ashh, sakit sekali kepala ini,” keluhnya.
Dokter itu segera memeriksa pria tersebut.
“Sebaiknya kau istirahat, Tuan,” titahnya. Dokter itu keluar dari ruangan pasien.
Sedangkan di luar ruangan, tepatnya di lorong rumah sakit, Arocha berjalan pelan dengan menggerutu di sepanjang jalan.
“Wow, mengapa desain koridor ini sangat indah? Ah iya, aku lupa. Inikan ruangan pasien VVIP. Jelas saja bagus.”
Ocehnya sembari terus berjalan menyusuri koridor. Namun, dia kembali mengingat pria yang menjadi mantan suami dari bibinya. Itu sungguh menjengkelkan. Terlebih, wajah itu tadi hanya terlihat shock bukan sedih.
“Sial. Bagaimana bisa pria itu menemui Bi Aika saat orangnya sudah meninggal?”
Ocehan pelan dari Ocha terdengar di lorong rumah sakit. Ia menuju pintu keluar koridor elegan itu. Jenazah bi Aika sudah ia titipkan pada pihak rumah sakit dan tetangganya. Ia akan menyusul nanti.
“Dia amnesia. Bagaimana kita menghubungi keluarganya jika dia saja tidak tahu? Pria itu sepertinya orang luar negeri, wajahnya begitu asing bagi kita semua.”
Suara itu membuat Ocha penasaran. Ia menghampiri seorang dokter yang sedang bercakap dengan kedua perawat muda. Mengintip, ralat, tepatnya menguping semua pembicaraan mereka.
“Lalu bagaimana, Dokter?” Suara suster itu terdengar.
“Biarkan saja ia tinggal disini sampai dia sembuh. Selanjutnya, terserah dia mau bagaimana.”
“Benar kata dokter, toh pasien itu memiliki banyak kartu yang bisa menopang hidupnya nanti,” kata suster itu menjawab ujaran dokter sebelumnya.
“Amnesia?” Ocha bertanya pada dirinya sendiri. Dia berpikir. Dia berbisik pelan dengan batinnya.
“Ya, Dokter. Kecelakaan tragis itu banyak merengut nyawa, untung saja Tuan ini selamat, walau juga harus kehilangan ingatannya.”
“Ingatan?” Dia kikuk. Bertanya dan tentu geram. Ini semua disebabkan oleh satu orang, meski belum pasti, namun dia akan membuktikannya.
Setelah melihat kepergian ketiga orang itu, Ocha melangkah mendekat pada sebuah ruangan VVIP tepat ketiga orang tadi bercakap. Netranya menatap seorang lelaki yang berbaring di atas brankar mewah rumah sakit. Wajahnya begitu pucat, masih terdapat selang yang menempel di hidung pria itu. Namun, sepertinya lelaki itu sudah sempat sadar terbukti brankar itu sedikit ditinggikan.
“Malang sekali nasibmu, namun kau juga beruntung, karena kau selamat dari kecelakaan maut itu,” gumam Arocha.
Tangannya kembali terkepal. Netranya beralih menatap lurus koridor, tak lagi menatap pasien di balik brankar itu.
“Hidupmu sungguh merugikan orang banyak, Adriana. Kau pasti akan mendapat karma,” katanya bergumam. Waktu akan terus berjalan, dan akan ia pastikan untuk cepat bertindak menghentikan segala perbuatan merugikan dari Adriana.
Ia harus merencanakan rencana ini dengan matang, sebab, Adriana tentu memiliki kuasa, dan ia pasti akan menggunakan kekuasaan itu untuk melindungi dirinya sendiri.
Hari telah berlalu. Ocha mematok dirinya harus bisa bangkit kembali. Ia takkan terus terkurung dalam rasa sedihnya.
“Sepertinya, rencanaku harus dimulai dari sekarang. Jika tidak, Adriana akan terus bertingkah. Aku tak mau hidupku kembali hancur. Aku sudah lelah untuk terus mengalah dan merasakan takut,” ucapnya dengan tegas. Matanya mengecil, pertanda dia sedang memikirkan sebuah rencana.
Beberapa hari terakhir, Ocha terus mendapatkan gambaran tentang kejadian tragis itu. Kecelakaan yang merengut banyak korban jiwa.
Rasa antisipasi dan waspada, terus Ocha tingkatkan untuk menjaga dirinya sendiri. Dia selalu menyamar saat akan keluar rumah. Dia selalu menjadi orang yang teliti dan berhati-hati.
Dan sekarang, Ocha berada di sebuah supermarket untuk berbelanja kebutuhannya. Rencana pertamanya, ia harus pergi lebih dulu dari rumahnya untuk bersembunyi dari Adriana. Dengan dalih, kabar kegilaan jiwanya yang beredar. Tenang, itu hanya rumor.
Ocha menjual rumah lamanya, untuk kehidupan barunya. Ia sudah memiliki tempat tinggal baru untuk ditinggali nantinya. Rumah yang dijual dengan murah, karena ada di gang kecil dan sempit. Namun indahnya, rumah itu terawat dan sangat bersih.
“Kayaknya aku cuma butuh ini saja,” katanya lalu mendorong troli untuk dibayarkan di kasir.
Setelah selesai berbelanja, Arocha menuju rumahnya dengan langkah santai, supaya tak menimbulkan kecurigaan orang-orang di sekitarnya.
Ocha meringkasi seluruh barang yang harus dia bawa dan sangat penting.
Puk! Puk!
Tepuknya diatas koper pakaian nya. Ia sudah bersiap untuk meninggalkan rumah penuh kenangannya ini.
“Sampai jumpa lagi kenangan. Sampai jumpa rumah masa kecil,” ujarnya sembari menatap keseluruhan rumah lamanya, yang hanya akan meninggalkan kenangan di ingatan Ocha saja.
Dia menggeret kopernya. Tujuannya adalah Kota D, tempat persembunyian yang akan aman. Karena kota itu merupakan kota terpencil di negara ini, dan jarang ada yang mengenal kota itu.
****
Ocha menghirup udara segar di sekeliling rumahnya. Nuansa pepohonan memadu indah dalam netranya. Ini sangat indah. Dia sangat nyaman berada di rumah barunya. Meski belum ada bertahun-tahun, namun keadaan dalam rumah ini membuatnya betah untuk tinggal dengan lama.
Ocha memilih berjalan-jalan sekedar mengapa tetangga barunya. Gang kecil ini sangat sempit. Namun ramai, dan juga sangat indah karena tatanan bangunan dan juga pepohonan sangat rapi.
Ocha sampai di sebuah jembatan yang di bawahnya mengalir aliran sungai yang deras dan jernih. Ia seperti hidup di dunia dongeng.
Tring!
Suara notif ponselnya berbunyi, menandakan sebuah pesan masuk.
Unknown.
[Hai, Bu Bos. Perintah sudah aku laksanakan. Bukti akan terkirim beberapa menit lagi di ponselmu. Tenang saja, semua gratis tanpa bayar, karena ini juga menyangkut nyawa manusia tersayangku.]
Pesan masuk itu membuat Ocha menyunggingkan senyum kecil di bibirnya. Ini baru langkah pertama. Belum seberapa. Dia akan terus mengusahakan supaya Adriana dapat ditahan pihak berwajib akibat perbuatannya. Tentunya, dia juga akan mencari tahu lagi akibat dendamnya Adriana yang begitu besar pada Arocha.
Saat sedang menatap ponselnya, sebuah suara memasuki indra telinganya.
“Aw, sakit sekali.”
Desisan dari suara bariton pria membuatnya teralih dari layar ponsel. Ia mencari tahu letak suara itu. Kemudian, dia menemukan seorang lelaki bertubuh jangkung dengan penampilannya yang rapi. Namun, wajah lelaki itu sangat familiar di ingatannya.
Bruk!
“Hei, kau kenapa?!” pekiknya melihat seorang lelaki dewasa itu yang tubuhnya meluruh.
Dia berlari menghampiri lelaki itu. Lelaki itu menyipitkan matanya, dengan tangan memegang kepalanya.
“S-siapa kau?!” pekiknya. Ocha sontak saja terkejut.
“Hei, aku hanya menolongmu.”
“Tak usah. Aku tak membutuhkan itu.”
“Ck, sombong sekali.”
Ocha berdiri dan menjauh dari tubuh lelaki itu. Namun rasa cemas tak juga menjauh dari dirinya. Sungguh, dia kadang kesal memiliki sikap yang seperti saat ini.
“Tunggu sebentar!” tahan lelaki itu dengan suara baritonnya dan tanpa ringisan.
Ocha menghentikan langkahnya mengikuti titah dari lelaki itu dia berbalik, kembali menghadap lelaki itu. Mengangkat satu alisnya menandakan sarat bertanya.
“K-kau, apa kau tau kecelakaan yang terjadi di Kota B?” tanya lelaki itu. Ocha mengernyit.
Kecelakaan yang merenggut nyawa bibinya? Ya tentu saja ingat.
“Tentu saja.”
“Apa kau bisa membantuku untuk mencari tahu penyebab kecelakaan itu?”
Pertanyaannya tidak salah. Namun, Ocha tersenyum manis tanpa sepengetahuan pria itu yang masih menunduk dengan sebelah tangan memegang kepalanya.
“Ada apa?” tanya Ocha memancing.
“Kata dokter, aku melupakan identitasku. Mungkin saja, penyebab kecelakaan itu bisa membuatku ingat kembali. Aku sangat butuh memori otakku, karena aku tidak mau bila saja orang-orang terkasihku di sana bersedih,” jelas lelaki itu.
Ocha mengangguk paham, dia meletakkan tangan di dagu dan satu tangannya dilipat di perut. Memperagakan layaknya orang berpikir.
“Jadi, kau tidak tahu siapa dirimu sendiri?”
Lelaki itu mengedikkan bahunya.
Lantas, bagaimana cara Arocha mencari tahu penyebab itu bila saja orang yang mengajaknya bekerja sama ini lupa identitasnya sendiri. Haruskah Ocha mengajak pria itu tinggal satu atap dengannya?
“Kau bisa membantu ku mencari identitasku dan juga penyebab kecelakaan ini terjadi, bukan?” tanya pria itu menyadarkan. Ocha berpikir, terdiam.
“Baiklah,” jawabnya yang menimbulkan senyum dari bibir lelaki itu.
Sepertinya Ocha harus mencari dua permasalahan. Yang pertama, tentang penyebab dan cara menjebloskan pelaku yang begitu lincah seperti lintah itu ke dalam jeruji besi, dan yang kedua, dia harus membantu lelaki yang bekerja sama dengannya ini untuk mencari tahu identitas asli lelaki amnesia itu. Ya, dia ingat, lelaki itu adalah lelaki yang terbaring di brankar rumah sakit kala itu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!