Hallo semua terima kasih yang sudah menyempatkan mampir ke sini. Semoga kalian suka karyaku yang satu ini.
Happy reading 😘😘😘
-
-
-
-
Ratna Amelia
Wanita karir berparas cantik. Di usianya yang masih 18 tahun dan masih duduk di bangku SMA harus menerima perjodohan dengan anak dari sahabat orang tuanya, laki-laki itu bernama Rehan Alandra yang sudah berumur 24 tahun. Karena ayahnya sedang sakit keras, Ratna terpaksa menerima perjodohan itu demi biaya pengobatan ayahnya. Diusianya yabg menginjak 20 tahun, Ratna melahirkan bayi perempuan cantik yang diberi nama Monica Alandra putri.
Disaat Monica berumur 2 tahun, Ratna menggugat cerai suaminya, karena telah dikhianati suaminya. Rehan Alandra selingkuh dengan sekertarisnya di kantor.
Gambar hanya pemanis. Ratna Amelia
Gambar source: geogle
Rehan Alandra (Mantan suami Ratna)
Pengusaha muda yang cukup sukses. Menikah dengan Ratna karena terpaksa. Memiliki anak tak juga membuatnya menerima Ratna sepenuh hati. Ratna menggugat cerai dirinya saat Monica berumur 2 tahun. Rehan berselingkuh dengan sekertaris nya yang sekaligus mantan kekasihnya yang dia putuskan saat menikah dengan Ratna.
Gambar hanya pemanis. Rehan Alandra
Source : geogle
Angga Pratama (Suami kedua Ratna)
Bekerja sebagai wakil direktur di perusahaan sahabatnya. Angga sudah lama menaruh hati pada Ratna saat akan mengungkapkan perasaanya pada Ratna, Angga mendengar kabar kalau Ratna menikah dengan anak dari keluarga Alandra. Angga adalah laki-laki yang sangat baik. Setelah mendengar kabar perceraian Ratna dengan Rehan, Angga kembali berusaha mendekati Ratna dan karena kegigihannya Angga akhirnya mendapatkan Ratna.
Gambar hanya pemanis. Angga Pratama.
source : google
Egi Pramuja
Pengusaha muda yang sukses. Egi adalah sahabat Angga sekaligus atasannya. Angga dan Ratna bekerja di perusahaannya. Mereka bertiga bersahabat dari SMA. Paras yang tampan dan mapan membuat banyak wanita tergila-gila pada nya. Namun entah apa, wanita sepeti apa yang bisa menaklukan hatinya, sampai sekarang masih betah melajang. Bahkan bisa di bilang Egi masih perjaka sampai sekarang. Dia tak ingin menjajakan tubuhnya seperti ke sembarang wanita, apalagi yang bukan istrinya.
Gambar hanya pemanis. Egi Pramuja
source : google
Monica Alandra putri (Anak pertama Ratna dan Rehan)
Monica Alandra Putri anak yang sangat ceria dan juga cantik. Karena perceraian membuat hidupnya sedikit salah jalan. Monica tinggal bersama Ratna hanya sampai umur 7 tahun. Rehan mengambil hak asuh Monica karena selingkuhannya yang sudah menjadi istrinya sulit sekali untuk memiliki anak. Dengan status keluarganya yang amat terkenal dan memiliki kekuasaan menjadi hal mudah untuk mendapatkan hak asuh Monica. Demi membuat Monica jauh dari Ratna, Rehan membawa Monica ke luar negeri.
Gambar hanya pemanis. Monica Alandra putri(18 tahun)
Source: google
Itulah tokoh utamanya. Sekarang kita lanjut ke awal kisah Ratna.
Gadis dengan seragam putih abu-abu nya berlari di koridor rumah sakit. Terlihat di wajahnya sebuah rasa kekhawatiran. Keringat bercucuran tak dia hiraukan demi untuk melihat kondisi sang ayah yang sedang kritis di rumah sakit.
Saat sudah sampai di ruang perawatan ayahnya, Ratna langsung saja membuka pintu itu.
"Bapak!" panggilnya. Ratna melihat ada Dokter dan perawat yang sedang memeriksa keadaan ayahnya. Ratna menghampiri ibunya yang sedang menangis di sudut ruang perawatan ayahnya.
Safitri, ibunya Ratna langsung memeluk putrinya saat Ratna berada disampingnya.
"Ratna. Bapak kamu, nak." Tangis Ratna dan Safitri pun pecah.
Dokter mengatakan kalau kondisi Johan, ayah Ratna, sudah sangat kritis. Johan yang mengidap tumor dikakinya harus segera dioperasi. Tapi karena kondisi keuangan yang memprihatinkan tak memungkinkan untuk melakukan operasi.
"Maaf ibu. Suami anda harus segera dioperasi." Dokter mengatakan dengan sangat tegang.
Safitri melihat suaminya mengulurkan tangannya, Safitri langsung menghampiri Johan. Johan membisikan sesuatu ke telinga Safitri. Safitri menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Johan. Safitri menghampiri Ratna dan menyuruh putrinya itu untuk pergi ke alamat yang sudah dia tulis .
Tanpa menunggu waktu lama, Ratna langsung bergegas pergi ke alamat yang sudah ibunya berikan. Hampir dua jam perjalanan waktu untuk sampai ke alamat itu. Karena jalanan kota yang memang sedang dalam keadaan macet.
Hujan deras mengguyur Ratna saat berjalan menuju alamat rumah yang ternyata di dalam kompleks perumahan elit. Ratna sampai di rumah besar bercat putih. Ratna menghampiri Satpam yang berjaga di depan rumah besar itu.
"Pak mau tanya, apa ini rumah bapak Gunawan Alandra?" tanya Ratna dengan sedikit menggigil kedinginan.
Satpam memperhatikan penampilan Ratna dan memandang nya remeh.
"Maaf,Bapak Gunawan sedang tidak ada di rumah. Mba siapa? Ada keperluan apa mba mencari Bapak Gunawan?"
"Saya disuruh ibu saya untuk menemui beliau!" jelas Ratna.
Satpam bernama Maman itu masih meragukan Ratna dan dengan kasar menyuruh Ratna untuk segera pergi.
"Pak, tolong. Ini penting!" Ratna masih memohon supaya bisa bertemu dengan Gunawan.
"Sebaiknya mbak pergi sebelum saya dapat masalah."
Ratna terus memohon membuat Satpam itu kesal dan tidak sengaja mendorong Ratna.
TIIIIIIIIIN
Tubuh Ratna menabrak mobil yang akan memasuki gerbang rumah besar itu. Untung saja mobil dalam laju yang sangat lambat membuat Ratna tidak terluka. Ketiga orang yang berada di dalam mobil langsung saja keluar.
"Pak Maman, ada apa ini?" tanya wanita cantik yang keluar dari dalam mobil.
"Ini Bu, Gadis ini memaksa untuk bertemu dengan Bapak Gunawan!" jelasnya.
"Iya, tapi kamu jangan kasar gitu donk. Coba kalau gadis ini kenapa-napa kamu mau tanggung jawab?" omel wanita itu yang tak lain adalan Donita Alandra, istri dari Gunawan Alandra.
Donita menghampiri Ratna yang sedang mengusap sikunya. Ratna menunduk melihat Donita berdiri di hadapannya. Donita tersenyum lalu menyentuh dagu Ratna untuk mengangkat wajahnya.
"Siapa kamu. Kenapa kamu ingin bertemu dengan suami saya?" tanyanya lembut.
"Maaf Bu. Saya disuruh ibu saya menemui Bapak Gunawan?" jawab Ratna terbata-bata karena menahan dingin.
Donita meminta Gunawan untuk menghampirinya lalu menanyakan apa suaminya itu mengenal gadis yang ada di hadapannya apa tidak.
"Kamu siapa?" tanya Gunawan.
"Maaf Anda Bapak Gunawan?" tanya balik Ratna.
Ratna terkejut saat Donita memakaikan jaket ke tubuhnya. Donita merasa kasihan melihat Ratna yang kedinginan serta bibirnya yang mulai membiru.
"Kamu belum jawab pertanyaan saya loh, nak?"
"Maaf Bu. Ibu saya Safitri meminta saya untuk memberi tahukan kalau bapak saya, Johan sedang di rawat di rumah sakit, itu saja Bu."
Gunawan mengingat-ingat nama Johan dan setelah mengingatnya Gunawan langsung saja bertanya apa yang terjadi dengan Johan.
"Ya saya ingat. Ayo kita segera ke rumah sakit menemui ayah mu," titah Gunawan.
"Ada apa pah. Siapa Safitri?" tanya Donita yang terlihat curiga mendengar nama Safitri.
"Sudah masuk dulu. Nanti papah ceritain.''
Tak pikir panjang lagi. Gunawan menyuruh supir pribadinya untuk segera menuju rumah sakit tempat Johan di rawat.
Memilih adalah satu hal yang paling menyakitkan.
💔💔💔💔
Gunawan menceritakan tentang Johan pada Donita. Donita mendengarkan dengan seksama dan seketika itu dia mengingat kalau Johan adalah orang yang pernah menolongnya saat akan melahirkan anak keduanya, Reyvan Alandra. Donita ingat bagaimana Johan dan Safitri tulus membantunya, yang pada saat itu keluarganya belum menjadi orang sukses seperti sekarang.
Ratna menceritakan kalau ayahnya mengidap penyakit tumor ganas dikakinya dan harus segera di operasi. Karena biaya operasi yang begitu mahal, akhirnya memutuskan untuk menunda operasi. Safitri dan Ratna mencoba mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, namun sayang sebelum uang itu terkumpul, kondisi Johan lebih dulu drop.
Gunawan mengingat terakhir kali betemu Johan delapan tahun yang lalu. Gunawan beberapa kali bertemu Johan di tempat kerjanya. Johan memiliki usahanya sendiri. Johan berjualan nasi goreng di pinggir jalan. Beberapa kali Gunawan menawarinya uang untuk modal usahanya, namun Johan menolak karena tak ingin berhutang, takut tidak bisa membayar.
Suatu hari Gunawan datang bersama Donita, tetapi Johan sudah tidak di sana. Gunawan menyuruh orang untuk mencari Johan dan keluarganya, namun mereka bagai ditelan bumi. Beruntungnya dulu Gunawan sempat memberikan kartu namanya kepada Johan. Sekarang Gunawan menemukan Johan, meski dalam keadaan seperti ini.
Sesampainya di rumah sakit, Ratna membawa Gunawan menuju ruang perawatan Johan, tanpa berpikir panjang lagi, Gunawan meminta Dokter untuk melakukan tindakan operasi dan dirinya lah yang akan menanggung semua biaya rumah sakit.
"Terimakasih banyak Bapak, Ibu." ucap Ratna sambil menangis.
Donita mengusap air mata Ratna yang membanjiri pipi Ratna, "sama-sama sayang. Sekarang ganti pakaianmu yang basah ini, nanti kamu sakit." Ratna mengangguk dan pamit untuk mengganti pakaiannya yang basah karena kehujanan.
Donita mengajak Safitri dan suaminya untuk membicarakan sesuatu yang penting.
"Ada apa Mba Donita?" tanya Safitri bingung.
"Mba Safitri, saya suka sama Ratna. Saya ingin menjodohkan Ratna dengan anak pertama saya, Rehan." ucap Donita seraya menggenggam tangan Safitri.
"Mamah serius?" tanya Gunawan.
"Ya serius lah, pah. Masa urusan kaya gini mamah bercanda." jawab Donita penuh keyakinan. Sejak pertama kali melihat Ratna di rumahnya, Donita sudah menyukai Ratna.
"Tapi Mbak, anak saya masih sekolah. Bagaimana Ratna bisa menikah?"
"MENIKAH???"
Semua menoleh kearah pintu, meraka melihat Ratna berdiri di sana. Ratna sudah kembali dari toilet dan mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
Ratna menghampiri ketiga orang di hadapannya. "Maksud Ibu apa?" tanya Ratna pada Safitri.
Safitri diam tak bisa menjawab pertanyaan anaknya. Donita meraih kedua tangan Ratna lalu tersenyum tersenyum kepadanya.
"Iya Ratna. Tante mau kamu menikah sama anak tante namanya Rehan Alandra."
Ratna sangat terkejut, seketika Ratna membayangkan sinetron yang pernah dia lihat dan sama persis seperti posisinya sekarang. Ratna membayangkan kalau sampai pemeran wanita menolak perjodohan itu makan seluruh pengobatan untuk orang tuanya akan dihentikan. Ratna terdiam dan terus terngiang sinetron itu.
"Ratna,,,Ratna,,,Ratna?" panggil Safitri. Safitri melihat Ratna diam saja. Safitri menggoyangkan tubuh anaknya dan langsung menyadarkan anaknya yang sedang membayangkan hal-hal buruk seperti di yang pernah dia lihat.
"Iya Bu, kenapa?" tanya Ratna kepada Safitri.
"Kamu kenapa melamun?" tanya lagi Safitri.
"Ahh tidak Bu."
Ratna berpaling menatap Donita, "maaf Bu Donita. Apa kalau saya menolak perjodohan ini, Ibu Donita sama pak Gunawan akan menghentikan pengobatan bapak saya?" tanya Ratna dengan sangat polos.
Donita menatap suaminya sekilas. Gunawan tahu apa yang dikatakan oleh mata istrinya itu. "Itu mungkin saja," jawab Gunawan sedikit ragu.
Gunawan merasa tidak enak hati kepada Safitri dan Ratna. Dia tak mungkin bisa setega itu untuk tidak menolong sahabatnya yang sedang sakit, tapi Gunawan juga tahu istrinya juga tidak akan melakukan itu. Gunawan belum tahu alasan sebenarnya kenapa istrinya ngotot mau menjodohkan Rehan dengan Safitri.
Ratna menunduk lemas tak terasa air matanya menetes. Safitri menahan perih melihat anaknya menangis. Andai saja tidak seperti ini keadaannya, Safitri akan menolaknya dengan tegas.
"Bu Donita, saya terima permintaan Bu Donita. Tapi tolong izinin saya tetep melanjutkan sekolah saya."
"Tentu sayang, tentu saja." jawab Donita tersenyum penuh dengan kebahagiaan.
Ratna pamit pulang untuk beristirahat sekaligus untuk menenangkan pikirannya. Ratna akan melakukan apapun demi ayahnya. Baginya kesehatan ayahnya lebih penting dari kebahagiannya.
Safitri masih menangis lirih merantapi nasib keluarganya. Sekarang suaminya dirawat di rumah sakit dan anaknya harus menikah di usia yang masih sangat belia demi pengobatan ayahnya. Itu sama saja dengan menjual anaknya sendiri demi uang.
Safitri menghampiri suaminya yang sudah siuman. Johan juga sudah mendengar pembicaraan mereka semua.
"Donita, Gunawan, kenapa kamu tega pada anak ku." tanya Johan dengan suara lemah.
Donita dan Gunawan menghampiri Johan. Gunawan menggenggam tangan sahabatnya itu dan meminta maaf. Gunawan sendiri juga tidak tahu kenapa istrinya melakukan itu.
"Maafkan saya Johan. Bukan maksud saya memanfaatkan kondisi kamu. Entah kenapa dari awal saya melihat Ratna, saya sangat menyukainya. Dan saya berjanji padamu Johan, saya akan menjaga serta memberinya kehidupan yang layak setelah Ratna menjadi menantu saya."
Air mata Johan mengalir dari sudut matanya. Ratna memang dari dulu hidup sangat sederhana bahkan rela bekerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Tak ada pilihan lain, mungkin dengan cara ini Ratna bisa hidup layak dan tak kekurangan. Meski harus menikah dengan orang yang tak dia kenal sebelumnya. Dan juga karena Johan mengenal Donita dan Gunawan, mereka adalah orang baik.
Donita dan Gunawan pamit untuk kembali ke rumahnya. Donita meminta Safitri dan Johan untuk tak memikirkan semuanya, "Mba Safitri dan Mas Johan tenang saja semuanya kami yang akan mengurus.
"Terima kasih Mbak Donita, terima kasih banyak." ucap Safitri dengan linangan air matanya.
Gunawan dan Donita sudah ada di dalam mobil. Gunawan bertanya pada istrinya kenapa ngotot untuk menikahkan Rehan dengan Ratna. Biasanya Donita sangat pemilih dengan wanita-wanita yang dekat dengan anak-anaknya. Dan ini sungguh keajaiban, baru pertama kali melihat Ratna, Donita langsung melamarnya untuk Rehan.
"Mah! kenapa mamah melakukan ini kepada keluarga Johan?" tanya Gunawan.
"Pah! mamah benar-benar suka sama Ratna, dia sepetinya anak yang baik. Dan mamah berharap Rehan anak kita, bisa berubah sikapnya setelah menikah dengan Ratna, itu saja." jawab Donita penuh keyakinan.
"Apa Rehan akan setuju?" tanya Gunawan, mengingat sifat anaknya yang sangat keras.
"Ya harus. Kalau tidak, kita harus buat dia menerimanya apapun caranya. Mamah sudah bosan mendengar Rehan berhubungan dengan banyak perempuan diluaran sana. Mama tidak mau Rehan salah memilih pasangan hidup." tegas Donita.
Melihat keyakinan istrinya, Gunawan akan mendukung semua keputusan nya kali ini.
Harta di atas segalanya.
💔💔💔💔💔
Donita berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya. Donita sedang mencoba menghubungi anaknya, Rehan Alandra yang dari semalam sudah tidak pulang. Gunawan melihat tingkah istrinya hanya menggelengkan kepalanya.
"Mamah gak pusing apa, mondar mandir terus?" tanya Gunawan. Gunawan menutup surat kabar yang sedang dia baca lalu meminum kopinya.
"Mamah lebih pusing mikirin anak kita Rehan, pah!" jawab Donita yang masih tak berhenti berjalan mondar-mandir dan tak berhenti juga
untuk menghubungi Rehan.
Di tempat lain
Di dalam kamar hotel sepasang kekasih sedang tertidur sangat pulas dengan tubuh polos mereka. Jangan ditanya apa yang sudah mereka lakukan semalam. Rehan Alandra masih tertidur bersama kekasih nya Karin Hardika. Rehan masih asyik berjalan di dunia mimpi bersama kekasihnya sampai mengacuhkan dering ponsel yang sedari tadi berteriak memanggilnya.
Dering ponsel kembali terdengar dan membuat Rehan kesal karena tidurnya terganggu. Rehan mengusap wajahnya kesal lalu meraih ponsel dari meja samping ranjangnya. Rehan menerima panggilan telepon itu dengan nada malas.
Pembicaraan di telepon.
"Hallo Mah. Ada apa?" tanya Rehan dengan nada sangat malas.
"Ada apa? Kamu tanya ada apa?" tanya kembali Donita dengan suara nyaring.
"Cepat pulang! Kalau tidak, sekarang juga Mamah block kartu kredit kamu." ancam Donita dari seberang telepon.
Mata Rehan langsung terbuka semua. "Tapi Mah, Mamah?" Rehan berulang kali memanggil Donita, tapi sayang, Donita sudah lebih dulu memutus sambungan teleponnya.
"Aaaah...sial." teriak Rehan lalu melempar ponsel ke sampingnya.
Teriakan Rehan membangunkan Karin. Karin mengusap matanya lalu duduk bersandar kepala ranjang.
"Ada apa, sayang?" tanya Karin lalu mengusap pipi Rehan.
"Aku harus segera pulang." Rehan langsung turun dari ranjang dan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari bekas percintaan mereka semalam.
Setelah selesai mandi Rehan langsung bergegas memakai pakaiannya. Rehan merasakan dua tangan yang melingkar di perutnya. Karin sedang memeluknya dari belakang.
"Aku masih ingin bersamamu, Rehan." ucapnya manja.
Rehan memutar badannya untuk berhadapan dengan Karin. Rehan memeluk pinggang Karin dan mengecup kening kekasih hatinya.
"Maafkan aku Karin, aku harus segera pulang. Kalau tidak, orang tuaku akan mencabut semua fasilitas yang mereka kasih ke aku." Rehan berusaha membujuk Karin.
"Oke, baiklah." Karin melepas tangannya yang melingkar di leher Rehan. Rehan tersenyum dan mengecup kilas bibir Karin sebelum keluar dari kamar hotel itu.
-
-
-
-
"Anak itu kenapa lama sekali. Pasti dia sedang bersama si kare itu." omel Donita.
"Karin Mah, bukan kare." protes Gunawan tanpa mengalihkan pandangannya dari surat kabar yang sedang dia baca.
"Mau Karin, mau kare, tetep saja mamah gak suka sama perempuan penjilat itu." Donita memang pernah bertemu tak sengaja dengan Karin. Karin yang tak mengetahui Donita mamahnya Rehan bersikap kasar pada Donita. Dan setelah Karin mengetahui Donita, mamahnya Rehan, sikap Karin langsung berubah lembut pada Donita. Namun sayang Donita sudah terlanjur tak menyukai Karin.
Rehan berlari masuk ke dalam rumah, dan ternyata kedua orang tuanya sudah menunggunya. Rehan duduk di sofa di samping Donita dengan sangat malas.
"Dari mana kamu, kenapa semalam kamu tidak pulang?" tanya Donita.
"Kumpul sama teman lah mah. Namanya juga anak muda." jawab Rehan.
"Habis kumpul kebo sama Karin lagi kan?" Donita mulai geram melihat tingkah anaknya. Donita tahu kalau tingkah anaknya sangat bebas. Bahkan mungkin melakukan sex bebas bukan hal yang sangat baru lagi bagi Rehan.
"Oke, Mamah ke intinya saja. Mamah sama papah sudah sepakat untuk menjodohkan kamu sama Ratna, anak teman mamah."
"Apaaaa!" Rehan terkejut mendengar kata perjodohan. "Maksud Mamah, Rehan mau di nikahin sama anak teman Mamah itu?" tanya Rehan.
"Ya. Mamah sudah mengaturnya."
"Mah, jangan seenaknya gitu dong. Emang ini jaman Siti Nurbaya apa, pake acara jodoh-jodohan. Rehan gak mau."
"Terserah. Kalau Rehan tidak mau. Papah tinggal coret nama kamu dari daftar ahli waris." ancam Gunawan. Donita senang karena Suaminya mau mendukungnya.
"Pikirkan itu baik-baik. Kalau kamu menolak dan tetap memilih perempuan seperti Karin, silahkan tinggalkan rumah ini."
Setelah Gunawan mengucapkan itu, dia langsung meninggalkan Rehan yang sedang sangat kesal. Donita yang melihat Suaminya pergi, langsung mengambil langkah seribu untuk menyusul suaminya.
🌸🌸🌸🌸
Gunawan dan keluarganya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Setelah Rehan memutuskan untuk menerima perjodohan itu, Donita langsung melesat menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Gunawan dan keluarganya langsung menuju ruang operasi.
"Mba Safitri." panggil Donita.
Safitri menoleh kearah Donita. Safitri langsung memeluk Donita dan menangis dipelukannya.
"Yang sabar Mba. Kita berdoa saja yang terbaik buat mas Johan." Donita mengusap lembut punggung Safitri mencoba memberi kekuatan untuknya.
Safitri melepas pelukannya, Donita mengajak Safitri untuk duduk di kursi tunggu.
"Mba Safitri, ini anak saya." Donita menyuruh Rehan untuk memberi salam pada calon mertuanya.
"Rehan Tante!" Rehan mencium punggung tangan Safitri.
"Apa Ratna belum datang?" tanya Donita.
"Belum. Mungkin masih dalam perjalanan."
"Kaya apa sih tuh perempuan. Ngebet banget mamah nyuruh aku nikah sama dia." tanya Rehan dalam hatinya.
Sudah dua jam Safitri dan keluarganya Gunawan menunggu di depan ruang operasi. Safitri dan Donita menunggu dengan sangat cemas, Gunawan dan Rehan sedang keluar untuk mencari makanan.
Safitri melihat Ratna sedang berlari ke arahnya. Rasa lelah tergambar jelas di wajah anaknya. Safitri memeluk Ratna, dia merasa kasihan pada Ratna yang harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi segala kebutuhannya sendiri termasuk biaya sekolah.
Kedatangan Ratna bertepatan dengan datangnya Rehan dan Gunawan. Donita langsung memperkenalkan Rehan pada Ratna.
"Ratna! ini anak Tante, Rehan. Dia yang mau Tante jodohin sama kamu," ucap Donita.
Ratna memandang lekat wajah Rehan yang begitu tampan di matanya.
"Hah. Mamah gak salah mau jodohin aku sama perempuan model kaya dia? Gak ada bagus-bagusnya." guman Rehan dalam hatinya.
"Rehan! Ini Ratna. Calon mantu Mamah sama calon istri kamu. Cantikan?"
Rehan tersenyum terpaksa. "Cantik apaan?" ujarnya dalam hati.
Donita tahu kalau Rehan pasti tak menyukai Ratna. Donita memberi kode mata untuk Rehan supaya bersikap baik pada Ratna.
Rehan langsung mengulurkan tangannya ke hadapan Ratna.
"Rehan." sapa Rehan pada Ratna.
Ratna menyambut tangan Rehan. "Ratna."
Ratna terus memandang wajah Rehan. Jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Kalo bukan karena harta warisan. Aku gak mau baik-baik sama dia." guman Rehan lagi.
Setelah pertemuan itu. Kedua keluarga itu sudah memutuskan untuk melangsungkan pernikahan secepatnya.
Ratna begitu bahagia akan menikah dengan laki-laki yang sangat tampan seperti Rehan, tanpa tahu sifat aslinya. Sedangkan Rehan sangat kesal harus menikah dengan perempuan yang menurutnya biasa saja seperti Ratna.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!