NovelToon NovelToon

Kualat Di Gunung Keramat

Aneh

“Di! Naik gunung yuk! Suntuk tahu di rumah terus kalau libur kuliah.” ujar Rita, ia yang ingin menyegarkan pikiran dengan melihat pemandangan Asri pun mengajak sahabatnya mendaki.

“Ke gunung mana?” tanya Dia, sebab ia belum pernah naik gunung mana pun.

“Gunung monyet!” ujar Rita.

“Gunung monyet? Dimana itu?” Dia makin bingung di buat Rita.

“Kau enggak tahu ya? Itu ada di daerah Abcd! Pokoknya gunungnya indah, pemandangannya juga bagus, banyak gosip yang beredar, kalau disana kita bisa cari ilmu dan juga gunung itu adalah gunung keramat,” terang Rita.

“Kau gila ya! Masa mau pergi ke gunung keramat seperti itu? Enggak ah, takut!” Dia menolak pergi karena takut, terlebih ia sering melihat konten creator para yutuber yang menceritakan banyak misteri di setiap gunung-gunung yang di datangi oleh para narasumber.

“Hahaha.... aku hanya bercanda, itu cuma gunung biasa, tinggi hanya 3.025 mdpl, nanti disana mata mu akan di manjakan pemandangan indah, pokoknya kau enggak akan menyesal pergi kesana.”

Rita mempengaruhi Dia agar mau ikut mendaki dengannya.

“Bukan kita berdua sajakan?” ucap Dia.

“Enggak dong, karena aku sudah mengajak Angga dari jurusan teknik, Meli, Reza, Ali dan juga Heru.” Rita mengatakan satu persatu yang ia ajak untuk pendakian nanti.

“Wah! Kau gesit juga, tapi hanya Angga yang bukan dari jurusan kita ya,” ucap Dia.

“Iya, karena saat kami ngobrol di kantin kemarin, dia minta ikut,” terang Rita.

“Oh, gitu ya, enggak apa-apa sih, makin ramai horornya akan hilang.” Dia menghela napas panjang, karena ia masih teringat setiap penuturan para narasumber di yutube dan juga blog-blog kisah horor pendakian.

Saat mereka berdua masih mengobrol, teman-teman mereka yang lainnya pun dagang.

“Hei, lusa jadi naikkan?” ujar Reza.

“Iya, kita berangkat Kamis sore saja, biar langsung mendaki Jumat paginya,” ucap Rita.

“Apa tidak apa-apa jalan hari Jumat?” Meli merasa ngeri kalau harus jalan di hari itu.

“Ya ampun Mel, memangnya ada apa di hari jumat?” Rita yang tak ada takutnya membangkitkan energi positif bagi semua teman-temannya.

Setelah itu mereka bertujuh pun melakukan diskusi terkait persiapan yang harus mereka lakukan di pendakian lusa.

🏵️

Malam harinya, Reza yang akan bersiap-siap tidur tiba-tiba melihat jendelanya kamarnya yang terbuka.

“Bukannya tadi sudah ku tutup ya?” Reza ingat betul kalau ia telah mengunci jendela kamarnya sebelum ia pergi sholat Isa.

”Mungkin memang belum.” kemudian Reza berjalan menuju jendela yang pemandangan luarnya adalah perkebunan pisang dan juga ubi jalar.

Saat kedua tangannya akan menutup jendela, tanpa sengaja ia melihat daun sebuah pohon pisang bergoyang seperti di tiup angin, pada hal jika ia perhatikan tidak ada angin sama sekali malam itu.

Dan yang paling membuat Reza merasa aneh, hanya pohon pisang itu saja yang daunnya bergerak kencang.

Berrr!!!

Seketika bulu kuduk Reza berdiri, ia pun segera menutup jendela kamarnya.

“Sialan! Bikin merinding saja!” ia yang lelah pun masuk ke dalam selimutnya, karena kebetulan cuaca malam itu sangat dingin sekali.

Saat Reza akan memejamkan mata, tiba-tiba ada yang mengetuk jendela kaca yang baru saja ia tutup.

Tuk, tuk, tuk!

“Ya Tuhan, ada saja ya yang iseng malam-malam begini! Awas saja kalau itu si Heru!”

Reza mengira itu kelakuan sahabatnya yang sering menginap di rumahnya.

Reza yang ingin mengacuhkan suara ketukan di jendela kamarnya kembali memejamkan matanya.

Namun sayang, ketukan itu tak kunjung berhenti, Reza yang merasa terganggu bangkit dari ranjang dan menuju jendela.

Saat tangannya akan membuka engsel jendela, tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang pundaknya.

Tab!

Deg! Reza yang terkejut merasa deg degan.

“Jangan di buka...” ucap seseorang dengan suara yang lirih di telinganya.

Sontak Reza menoleh ke sumber suara, namun tak ada siapa-siapa.

“Sialan! Kenapa kamar ku tiba-tiba jadi horor?!” Reza yang ketakutan pun memilih kembali ke ranjang, ia yang biasa tidur dengan mati lampu, kali itu membiarkan kamarnya terang benderang.

🏵️

Dia yang baru selesai sholat melihat ibunya melintas ke arah dapur dengan memakai pakaian serba hitam-hitam.

“Bu.” Dia memanggil nama ibunya.

Namun Martini tak menjawab, ia terus saja berjalan tanpa menoleh ke arah putrinya.

Dia yang merasa aneh dengan tingkah ibunya mencoba menyusul ke dapur.

Apa ibu bertengkar lagi dengan ayah? batin Dia.

Sebab ibunya akan sering melamun jika ada masalah dengan sang ayah.

Setelah melipat mukenanya dan menyusul dengan rapi di atas bufet, Dia menyusul sang ibu ke dapur.

“Hum?” Dia mengernyitkan dahinya.

Sebab pintu dapur tertutup dengan sangat rapat.

“Aku enggak dengar ibu mengunci pintu, apa aku yang enggak fokus ya?” gumam Dia.

Saat Dia membuka handle pintu, ia pun mendapati kejanggalan, karena pintu dapur yang ia pegang tersebut malah terkunci.

“Dia!”

“Akh!!” Dia berteriak kencang saat ia melihat ibunya telah berdiri di sebelahnya dengan memakai piyama serba ungu.

“Ada apa? Kenapa muka mu syok begitu?” Martina merasa heran dengan putrinya, ia yang ingin minum pun membuka pintu dapur dengan kunci yang ia bawa ke kamar tadi.

Tek tek! Retek!

“Kenapa ibu mengunci pintu dapur?” tanya Dia, karena ibunya tak biasa melakukan itu.

“Ibu baru membasmi tikus, dan mulai sekarang kalau sudah selesai dari dapur, kau wajib menguncinya.” Martini mengatakan aturan barunya pada Dia sang putri semata wayangnya.

“Iya bu, aku mengerti,” ujar Martini.

“Iya bu,” sudat Dia.

“Kalau begitu kau tidur sekarang, kau tahukan ini sudah jam 00:00?!” ucap Martini.

“Iya bu.”

Dia yang masih takut mutuskan untuk tak cerita pada ibunya. Karena ia khawatir kalau ibunya yang penakut akan kepikiran.

Akhirnya Dia kembali ke kamarnya, meninggalkan sang ibu yang sedang menyeduh kopi.

“Tumben ibu minum kopi, apa lambungnya sudah sehat?” meski merasa janggal, namun Dia tak mau memikirkan yang aneh-aneh soal ibunya.

Mungkin tadi aku hanya berhalusinasi, batin Dia.

Ia yang menuju kamarnya harus melewati kamar ibu dan ayahnya terlebih dahulu.

Ia yang akan melintas melihat pintu kamar kedua orang tuanya yang terbuka separuh.

“Ya ampun ibu, tikusnya memang enggak akan ke dapur, tapi ku rasa akan beralih ke kamar ibu.” saat Dia akan menutup pintu kamar orang tuanya menyempatkan diri untuk mengintip sang ayah.

“Kalau masih bangun aku mau minta uang jajan, mumpung ibu enggak lihat.”

Martini yang pelit membuat Dia sering meminta uang pada sang ayah tanpa sepengetahuan ibunya.

Krieett!!

Dengan perlahan Dia mendorong pintu kamar orang tuanya agar terbuka lebih lebar.

Deg deg deg!

Jantungnya berdebar dengan sangat kencang , saat Dia melihat ibu dan ayahnya sedang terlelap seraya berpelukan.

...Bersambung......

Ketemu Setan

“Jangan pergi Dia.”

Suara yang tak asing berbicara di belakangnya.

Saat Dia menoleh, ia pun melihat ibunya berdiri tegap menatap tajam ke arah dirinya.

“Akhh!!” Dia berteriak histeris dan bangun dari tidurnya.

“Astaga! Ternyata cuma mimpi.” Dia mengusap wajahnya yang penuh keringat.

“Kenapa aku bermimpi horor begitu sih.” Dia yang haus pun berniat turun dari ranjang.

Namun matanya tak sengaja menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 00:00.

“Masih jam 00:00? Perasaan aku sudah tidur lama banget.” Dia yang akan beranjak ingat yang ibunya katakan di mimpi

“Kau tak tahu ini jam 00:00?”

Mengingat hal itu, Dia jadi mengurungkan niatnya untuk keluar kamar karena takut.

Saat ia ingin merebahkan tubuhnya kembali, tiba-tiba angin menerpa wajah mulusnya.

Dia pun menoleh ke arah datangnya angin. “Kampret! Sejak kapan jendela ku terbuka? Bukannya tadi sore sudah ku kunci?!”

Dengan langkah yang ragu Dia mendekat ke jendela.

Saat ia akan menutupnya, ia pun melihat sebuah kain putih melayang-layang di udara.

“Apa itu?” Dia menatap kain itu dengan seksama. pHingga kain itu perlahan-lahan menuju dirinya.

Brak!

Dia menutup cepat jendelanya, karena ia melihat kain putih itu memiliki kepala.

Ia yang penasaran pun mencoba mempertegas, dengan menyingkap sedikit tirai jendelanya.

Deg!

Jantungnya berdetak dengan kencang, saat ia melihat, wanita berbaju putih sampai ke mata hari kaki, memiliki rambut panjang, sedang berdiri membelakangi dirinya, dengan jarak 30 meter dari jendela kamarnya.

Dia yang ingin beranjak tak bisa bergerak sedikit pun karena terlalu takut.

Karrena eanita berbaju putih itu, atau yang biasa di sebut dengan kuntilanak perlahan memutar kepalanya sampai 190 derajat.

Dia pun melihat wajah kuntilanak itu bersimbah darah, dan kedua matanya bolong.

Seketika Dia gemetaran, keringatnya mengucur deras.

Badannya pun semakin kaku untuk di gerakkan.

Ingin berteriak, suaranya seperti tertahan, tak bisa di keluarkan.

Kuntilanak yang tahu ada manusia mengawasi dirinya, langsung berjalan tanpa menyentuh tanah ke arah jendela Dia.

Astaghfirullah, ya Allah tolong aku!! batin Dia.

Ia pun membaca segala do'a yang ia bisa, namun tetap tak bisa mengusir makhluk halus itu.

“Kau melihat ku ya? Hihihihi!!” kuntilanak itu kini menempelkan wajahnya di kaca, matanya dan Dia saling bertemu. Dia yang sudah tak kuat akhirnya ambruk tak sadarkan diri.

Pagi harinya, saat Dia membuka mata, ia heran karena telah berada di atas ranjang.

“Siapa yang mengangkat ku kesini? Apa ayah? Atau aku hanya bermimpi ketemu hantu tadi malam?” Dia bingung bukan main dengan apa yang ia alami selama ini.

Ia yang ingin berangkat kuliah segera turun dari ranjang menuju kamar mandi.

15 menit kemudian Dia keluar dari kamar mandi, setelah itu ia berpakaian dan memakai make up.

Setelah selesai, Dia menenteng tasnya dan berjalan ke arah pintu, saat ia akan membuka handle pintu, ia pun melihat, kalau engsel pintu kamarnya terkunci rapat.

Jadi yang ku alami tadi malam hanya mimpi? batin Dia.

Ia yang tak ingin memikirkannya lagi dengan cepat keluar dari dalam kamar kemudian menuju dapur.

Sesampainya ia ke dapur, ia pun melihat ayah dan ibunya yang sedang sarapan bersama.

“Eh Dia, apa kau tidur lagi setelah sholat subuh?” ucap Martini.

“Sholat Subuh?” Dia mengernyitkan dahinya.

“Iya, pada hal ibu meminta mu untuk membantu ibu memasak di dapur, tapi kau malah langsung pergi,” timpal Martini.

“Tapi aku baru bangun bu, dan aku ingat banget kalau aku aku enggak sholat subuh.” Dia merasa kalau ada yang tak beres di rumahnya.

“Beneran tidur anak mu yah, buktinya dia enggak ingat kalau tadi sholat berjamaah dengan kita,” Martini tertawa kecil ke arah ayah Dia.

Ia menganggap kalau putrinya hanya lupa semata.

Ada apa ini? Kenapa rumah ku mendadak jadi horor? batin Dia.

🏵️

Reza yang terlebih dahulu masuk kelas meletakkan kepalanya ke atas meja.

“Kau kenapa Za?” tanya Meli yang baru datang ruangan Matematika A.

Lalu Reza mengangkat kepalanya yang teras berat.

“Aku tadi malam mimpi buruk,” ucap Reza.

“Mimpi apa?” tanya Meli lebih lanjut.

“Di kejar-kejar pocong!” ujar Reza.

“Hahaha, mungkin di kaki mu ada nempel nasi kali, makanya bermimpi buruk, harusnya sebelum tidur itu cuci kaki dulu sayang.”

Cup! Meli mengecup bibir merah merona Reza.

“Apa-apaan sih kau?! Gimana kalau ada yang lihat?!” Reza marah dengan kelakuan Meli yang tidak bisa lihat tempat.

“Masih pagi, enggak akan ada yang lihat, mau satu sedotan enggak?” Meli menunjuk ke arah Joni Reza.

“Gila kau! Dasar mesum!” pekik Reza.

“Kalau aku enggak gatal, kau enggak akan tertarik pada ku! Kau masih bertahan karena dada ku yang besarkan?!” Meli yang terus terang membuat Reza gusar dalam hatinya.

Dasar cewek sialan! batin Reza.

Dia yang ternyata menyaksikan kemesraan keduanya memutuskan untuk tak jadi masuk kelas.

Karena ia merasa canggung kalau harus berada di antara keduanya.

“Dasar buaya!” Dia cukup kesal pada Reza.

Sebab mereka baru 2 bulan putus, namun Reza sudah mendapatkan penggantinya, yaitu sahabatnya sendiri.

“Harusnya aku enggak datang pagi-pagi, mata ku jadi ternodai karena mereka berdua!” Dia mengoceh sendiri di bangku yang ada di depan ruangan mereka.

Ia yang tak punya kegiatan pun hanya mengambil handphonenya untuk menonton YouTube dan membuka channel Prasedjo Muhammad.

Saat ia akan membuka video tentang mendaki gunung, Angga datang menyapanya.

“Kenapa enggak masuk ruangan?”

“Angga? Sejak kapan kau ada disini?” tanya Dia.

“Baru saja.” Angga pun melirik ke layar handphone Dia.

“Sebaiknya jangan nonton konten gunung kalau mau mendaki, nanti yang ada kau malah kepikiran.” kemudian Angga duduk di sebelah Dia.

“Begitu ya.” Dia pun menutup handphonenya.

“Rita belum datang juga ya?” tanya Angga.

“Belum,” sahut Dia.

“Oh, sudah sejauh mana persiapan mu?” ucap Angga.

“Bukannya yang harus ku bawa hanya barang-barang keperluan ku saja?” ujar Dia.

“Iya, betul. Jangan lupa bawa jajanan yang banyak Dia.” Angga tersenyum pada Dia.

“Sebanyak apa?” tanya Dia dengan serius.

“Pokoknya sebanyak-banyaknya, karena kita akan tinggal disana, hahaha...” Angga tertawa cekikikan.

“Kau saja, aku sih enggak mau tinggal di hutan.” meski bercanda, namun Dia tak suka dengan apa yang di katakan Angga.

“Hahaha... kau ini serius banget, pantas saja Reza memutuskan mu.” perkataan Angga membuat Dia jengkel.

Aku putus dengannya, karena dia minta susu terus tahu! batin Dia.

“Sok tahu! Eh, ngomong-ngomong apa kalian sudah pernah kesana?” tanya Dia sebagai basa-basi, karena ia tak punya topik lain yang harus di bicarakan.

“Aku sih enggak, Rita dan keluarganya yang sudah kesana, kata Rita, di gunung itu ada danaunya, airnya jernih sekali, dan ada tambang emasnya juga.” Angga bersisik di telinga Dia.

...Bersambung......

Berbohong

Sontak Dia menoleh ke arah Angga, “Kau serius?” ucap Dia.

“Iya, minggu lalukan Rita baru turun gunung, dan dia bawa 10 batang emas dari sana!” Angga begitu antusias mengatakannya pada Dia.

“Jadi tujuan utama kita kesana buat cari emas?” tanya Dia.

“Iya, tapi kau jangan bilang-bilang ke yang lain, karena hanya kita bertiga yang tahu.” Angga menekan bibirnya dengan telunjuknya.

“Sssttt!!!” lalu Angga tersenyum.

“Kenapa kau memberitahu ku?” Dia tak mengerti dengan alasan Angga.

“Karena kau adalah sahabat ku!” ujar Angga.

Memang kita sedekat itu? batin Dia.

Angga yang terlihat aneh membuat Dia tak nyaman.

“Aku masuk ruangan dulu kalau begitu.” Dia pun memilih pergi, karena ia tak suka berbicara lebih lama dengan Angga. Angga yang masih duduk di kursi tersenyum.

“Itu karena aku menyukai mu, aku akan bawa turun banyak emas-emas itu, setelah itu aku akan melamar mu.”

Angga yang sudah lama menyukai Dia berencana akan meminang gadis cantik itu setelah turun dari gunung yang akan mereka tujuan.

Sore harinya, setelah jam kuliah selesai, mereka bertujuh pun berkumpul di lapangan kampus.

“Nanti habis isya kumpul ya, karena kita berangkatnya pakai mobil ku dan juga Reza,” ucap Heru.

“Jangan ada yang terlambat, karena jam 08:00, kita langsung jalan!” ujar Reza dengan tegas.

Karena ia tahu, mayoritas yang tinggal di negara Wakanda memakai jam karet.

“Iya!!!” jawab serentak semua orang.

Setelah diskusi singkat itu selesai mereka semua pun bubar.

Angga yang melihat Dia pulang sendirian mulai menawarkan tumpangan.

“Kitakan searah, pulang bareng yuk!” Angga tersenyum manis pada Dia.

“Terimakasih banyak, tapi aku naik ojek online saja.” Dia menolak karena tak nyaman dengan Angga yang begitu agresif mendekatinya.

“Baiklah kalau begitu.” Angga tak mau memaksa Dia, karena ia mengerti Dia bukan wanita yang mudah di dekati.

Saat mereka semua naik ke motornya masing-masing, dia yang menunggu ojek pesanannya melihat hal yang janggal pada Angga.

Yang mana di belakang Angga duduk wanita berbaju putih, dengan rambut panjang sampai menyentuh tanah.

Dia yang melihat sosok itu pun sontak menundukkan kepalanya.

Ia yang takut berada dalam kampus dengan cepat bangkit dari duduknya.

Angga yang melihat Dia berjalan cepat, malah menyusul Dia dengan motornya.

“Dia, mau ke gerbang ya?!” suara Angga yang memanggil namanya membuat Dia makin bergidik ngeri.

Untuk apa sih dia mengikuti ku? batin Dia.

Cittt!!

Angga menghentikan motornya tepat di sebelah Dia.

Dia yang takut melihat Angga pun terus saja menundukkan kepalanya.

“Ada apa Dia? Kok kamu ketakutan begitu?” Angga tidak tahu apa yang ia bonceng sedari tadi.

“Di belakang mu Ngga.” tangan Dia yang gemetaran menunjuk ke belakang Angga.

“Apa?” Angga pun melihat ke belakangnya. “Tidak ada apa-apa Dia! Kau ini jangan parno deh! Ini masih sore!” Angga menertawai Dia yang di anggap berhalusinasi.

Dia yang mendengar tawa Angga pun memberanikan diri untuk menoleh ke arah Angga.

“Hem??” ia merasa heran, karena sosok kuntilanak itu sudah ada tak ada di boncengan Angga.

“Ayo, mau ikut enggak?” Angga kembali mengajak Dia untuk pulang bersama.

Dia yang melihat kondisi kampus telah sepi, memutuskan untuk ikut pulang dengan Angga.

Dari pada ketemu hantu, mending ikut Angga saja! batin Dia.

“Oke.” Dia pun segera naik ke motor besar Angga.

“Siap?” tanya Angga.

“Iya, ayo! Cepat!” desak Dia.

“Iya-iya!” kemudian Angga pun melajukan motornya.

Selama perjalan, Dia hanya diam saja, karena ia masih syok dengan apa yang ia lihat tadi.

Aduh, kenapa pundak ku terasa berat? batin Dia.

Ia pun memijat pundak kiri dan kanannya yang tiba-tiba merasa pegal.

Sesampainya di depan rumahnya, Dia pun turun dari motor Angga dengan membungkuk.

“Kau kenapa?” Angga tak mengerti kenapa Dia mendadak seperti orang yang sembelit.

“Enggak tahu, pundak ku berat banget,” ucap Dia.

“Ya sudah, masuk sana, mungkin kau masuk angin, jangan lupa minum air jahe hangat, agar anginnya keluar, kau tahu sendirikan, nanti kita mau berangkat?” ujar Angga.

“Iya, terimakasih banyak sudah memberi tumpangan.” ucap Dia, setelah itu ia masuk ke dalam rumahnya.

Angga yang ingin pergi pun terhenti, karena ia melihat Dia menatapnya dengan lekat dari jendela kaca rumah Dia.

Angga yang sopan pun melambaikan tangannya pada Dia seraya membunyikan klakson motornya.

Tintin!

Setelah itu ia melaju membelah jalan raya menuju kosannya.

“Hum... Dia manis juga kalau lagi tersenyum.” Angga merasa kalau Dia memberi lampu hijau padanya.

Selama perjalanan Angga terus saja tersenyum seraya mengingat wajah cantik dia.

Ia yang telah sampai di parkir kosan turun dari atas motornya.

Setelah itu ia menuju kamarnya yang terletak di lantai 2.

Saat kakinya akan melangkah menaiki anak tangga, samar-samar ia melihat seorang wanita berbaju merah yang sedang berjalan menuju lantai 2.

“Sejak kapan perempuan di ijinkan masuk kesini?” hatinya bertanya-tanya siapa anak kosan yang berani melanggar kode etik kosan.

Yang mana setiap penghuni yang tinggal di kosan pak Haji Manaf, tidak di izinkan untuk membawa lawan jenis bertamu apa lagi menginap.

Angga yang ingin menyelidiki pun menaiki anak tangga dengan langkah yang cepat.

Saat kakinya menginjak lantai 2, ia pun melihat wanita itu berdiri di pintu, tepatnya di sebelah kamarnya.

Angga yang ingin tahu siapa gadis berbaju merah itu pun dengan segera mendekat.

Ia yang kini adalah di sebelah wanita itu tak berani menyapa, karena si wanita hanya menundukkan kepalanya.

Angga pun diam-diam melihat wanita itu dengan sudut ekor matanya seraya membuka pintu kamarnya.

Cantik, tapi mukanya pucat, batin Angga.

Sontak ia masuk ke dalam kamarnya, karena ia merasa merinding melihat wanita tersebut.

🏵️

Malam harinya, Dia yang sedang makan malam bersama ayah dan ibunya pun mulai membuka obrolan

“Bu, aku mau minta izin nginap di rumah Rita, karena orang tuanya lagi enggak di rumah, kasihan enggak ada yang menemani.”

Dia yang takut tak di izinkan naik gunung memilih berbohong pada kedua orang tuanya.

“Ya sudah, memangnya berapa hari kau disana?” tanya Martini.

“4 hari bu.” Dia memilih waktu yang lama karena ia takut terlambat turun dari gunung.

“Hati-hati, jangan tidur malam-malam, jangan keluyuran juga.” ujar Marhan ayahanda Dia.

“Iya yah, kita baik-baik kok disana.” Dia merasa senang karena dapat izin dari kedua orang tuanya.

Setelah selesai makan malam, Dia langsung berangkat menuju rumah Heru dengan menaiki transportasi mobil online.

Setelah menempuh perjalanan selama 30 akhirnya Dia tiba di rumah Heru.

Ia pun melihat semua teman-temannya

sudah berkumpul disana.

...Bersambung......

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!