NovelToon NovelToon

Terjebak Dengan Sang Jelita

Bagian 1

Satu unit motor matic tengah melaju santai di jalanan, masih benar-benar santai dan tenang sampai akhirnya satu mobil yang melaju tak jelas mendahului lalu memotong jalannya.

Brak!

Motor yang dikendarai seorang wanita sudah tergeletak tak berdaya di pinggir jalan, dalam waktu singkat emosi wanita bernama Ralensi Jelita memenuhi kepalanya.

Turuuuuuuunnn!!"

Suara lantang sekaligus cempreng sungguh sangat memekakkan telinga.

"Ah, pantas saja sebentar lagi waktunya para setan gentayangan," gerutu Ipul saat melihat pada jam tangannya yang sudah berada di angka 6 kurang, hampir Maghrib menganggap bahwa wanita yang sekarang tengah meneriakinya adalah jenis hantu.

"Keluar woi!" makin tak sabar ketika melihat pria di dalam mobil hanya menurunkan kaca sedikit lalu menatapnya dengan sadis.

Apa-apaan ini! dia yang salah malah tampangnya yang lebih galak dan menyebalkan. dasar Saipul Gunawan!

Tok! tok!

"Keluar atau gue panggil massa?!" ancam sang wanita yang mulai tak sabar.

"Ck!" Ipul berdecak kencang tapi tangannya segera mematikan mesin mobil.

Lebih baik segera keluar ketimbang harus berhadapan dengan massa yang lebih senang main keroyokan, bisa-bisa wajahnya lebih babak belur daripada apa yang sudah dia perbuat pada Abangnya.

Oh apakah ini peringatan akan karma yang akan segera datang padanya karena sudah memukuli Abang sepupunya sendiri?

Brak!

Ipul membanting pintu mobilnya dengan sangat keras, menyalurkan kekesalannya pada benda mati itu.

"Ada apa?!" bertanya ketus.

Astaga pertanyaan gila macam apa yang tengah dilontarkan oleh pria yang sudah menabrak wanita dengan panggilan Ralen ini? apa matanya tidak melihat ada motor yang tertidur di samping mobilnya?.

Mata Ralen melebar sekian rupa dengan pertanyaan tak bertanggung jawab dari pria pemilik mobil yang Ralen tak tahu kisaran harganya, hah! tentu saja karena ia bukan seorang pemilik showroom apalagi pengoleksi barang-barang mahal seperti itu.

"Serius Lo tanya ada apa?" Ralen menggeleng takjub dengan sikap yang Ipul tunjukkan.

Bayangkan saja pria itu malah melipat tangannya sambil bersandar di pintu mobil berwarna hitam metaliknya.

"Apa?" dengan entengnya Ipul malah mengulangi pertanyaannya seraya memicingkan mata.

"Minimal minta maaf terus bangunin motor gue yang lagi tiduran!" teriak Ralen tak kuasa menahan lengkingan suaranya yang cempreng.

"Kenapa gue mesti minta maaf? lagian motor Lo ngantuk kali jadi tiduran," sahut Ipul melirik motor yang memang tepat berada di samping mobilnya tergeletak di trotoar hampir masuk ke got.

"Heh!" bentak Ralen tak terima dengan pernyataan pria di depannya, "jangan pura-pura bego! atau benar-benar bakal gue panggilin massa! udah nabrak nggak mau tanggung jawab," Ralen tak menekan Ipul yang menunjukkan itikad buruk.

Ipul melihat jam tangannya lalu mendesah, "berapa mesti gue bayar?" masih setenang seperti saat dia turun dari mobil tadi.

Ralen mengepal tangan gemas dengan tingkah laku pria kaya di depannya sekarang.

"Berapa? gue banyak urusan nggak bisa ngeladenin cewek preman macem elo," kata Ipul sangat sinis seraya matanya memindai penampilan wanita di depannya yang menggunakan celana jeans serta kaos yang ditutupi oleh jaket kebesaran, tampilan tomboi di tambah dengan mulutnya yang sangat melengking tinggi.

"Orang kaya belagu!"

Mata Ipul membesar sempurna dengan ucapan wanita yang seperti preman ini.

"Udahlah gue males berurusan dengan cewek nggak jelas kayak elo," Ipul sudah akan membuka pintu mobilnya.

"Mau kabur Lo ya?" Ralen menahan pintu mobil dengan kaki kirinya.

Ipul memutar bola matanya jengah dan mulai tak sabar ketika harus menghadapi wanita bermulut besar yang ke bawelannya melebihi Zara serta Mamanya, oh sungguh Ipul pusing hingga mengurut pangkal hidungnya diiringi dengan ******* napas yang kasar.

Tanpa bicara Ipul mendirikan motor milik wanita bermulut cempreng, menurunkan standarnya lalu melihat pada sang wanita, "tuh motor Lo udah gue bangunin," desis Ipul, "puas?" sambung Ipul sinis.

"Motor gue lecet!" kata Ralen mendapati sisi motornya tak lagi mulus seperti biasanya.

"Nah kan ujung-ujungnya duit juga, sok jual mahal!" cibir Ipul mengingat tadi dia sudah sempat bertanya berapa dia harus ganti rugi.

Ipul mengeluarkan dompet dan untungnya dia membawa uang cash lalu mengeluarkannya.

"Nih sekalian buat ganti celana Lo yang sobek!" sindir Ipul melirik celana Ralen yang sobek pada bagian dengkulnya.

"Ini model, dasar norak!" seru Ralen tak terima lalu mengambil beberapa lembar uang yang ia taksir cukup untuk memoles motornya lalu mengembalikan sisanya ke tangan Ipul, "gue nggak butuh duit Lo!" menyentak uang itu di tangan pria hitam manis yang meskipun tampan tapi sangat menyebalkan dan bermulut pedas.

Ipul tertawa sinis lalu melihat saja ketika wanita bercelana sobek itu menaiki motor dan melajukan nya dengan kencang.

******

Bagian 2

Ralen menghentikan motornya dengan guratan emosi yang masih tercetak jelas di wajahnya, tak menyangka bahwa tadi dia berurusan dengan makhluk berjenis laki-laki dan sangat menyebalkan.

"Dasar cowok songong! jangan sampai gue ketemu dia lagi ih amit-amit amit-amit," cerocos Ralen menepikan motornya lalu turun dari kendaraannya itu.

Di tepi jalan yang lebih sepi wanita dengan tampilan cuek itu memeriksa kembali motor kesayangannya yang ia jadikan tunggangan sehari-hari untuk mencari uang.

Ia yang tahun ini berusia 20 tahun seharusnya duduk di bangku kuliah seperti yang sangat ia impikan dulu, namun apa yang menjadi mimpinya harus ia kesampingkan karena setelah lulus SMA ia harus menjadi tulang punggung setelah Ayahnya mengalami kecelakaan hingga tak lagi bisa bekerja untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga serta biaya adiknya yang masih duduk di bangku SMP.

Terkadang merasa iri dengan teman-temannya yang bisa hidup senang dan bebas pergi ke sana-sini tanpa harus repot memikirkan apakah besok ia akan mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Ralen harus menahan keinginannya untuk kuliah, mengalah demi orang tua serta Adik laki-lakinya yang baru saja masuk SMP.

Setelah memeriksa motornya Ralen pun mengambil handphone dari dalam kantong jaket yang dia pakai, menghubungi satu nomor di dalam handphone android berharga murah itu.

"Lo masih lama kan?" Ralen langsung saja bertanya begitu panggilannya di jawab.

"Lumayan sih, kenapa memangnya?"

Tanya balik wanita yang Ralen hubungi.

"Gue ke bengkel dulu ya, motor gue lecet sama pecah ini spakbor depannya," jelas Ralen menyentuh spakbor motornya yang ternyata lumayan parah rusaknya.

"Ya udah gue matiin ya, gue masih harus rapiin barang yang baru datang soalnya," sahut wanita yang biasa di panggil Riska.

Antika namanya, dia adalah teman dekat Ralen, mereka dulu satu kelas dari SD sampai SMP sedangkan saat SMA sekolah mereka berbeda tapi masih tetap bertemu sebab rumah mereka yang tetanggaan.

Antika bekerja di sebuah minimarket di sebuah mall yang padahal Ralen juga sempat menitipkan surat lamaran di tempat sang teman tapi keberuntungan belum mau berpihak padanya, sampai saat ini ia belum juga mendapatkan panggilan dari tempat Antika bekerja.

Ah mengingat itu rasanya Ralen ingin menangis, terasa sangat sulit mencari pekerjaan di kota besar ini dengan berbekal ijazah SMA saja, rasanya sudah banyak surat lamaran yang Ralen titipkan di berbagai macam tempat yang katanya tengah membutuhkan karyawan tapi nyatanya ia masih saja kalah saing dengan para pencari kerja lainnya yang mungkin pendidikannya lebih tinggi diatasnya.

Dan sambil mengisi waktu serta mencari pekerjaan dengan gaji yang lumayan Ralen pun memilih untuk bekerja di sebuah usaha catering makanan yang kadang mendapat pesanan dari berbagai macam acara mulai untuk acara pengajian, pesta pernikahan, arisan sampai untuk catering kantor-kantor, lebih sering mendapat pesanan dari kantor dan tugas Ralen hanya mengantarkan makanan yang sudah di pesan itu, hampir setiap hari ada saja pesanan dari kantor untuk para karyawan atau untuk bos-bos besar yang sedang rapat.

Tidak mengapa, Ralen menjalaninya dengan senang hati asal ada gaji di akhir bulan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sebenarnya ibu Ralen pun sempat menjadi buruh cuci di rumah tetangganya tapi sudah Ralen larang ketika ibunya mulai sering sakit-sakitan karena kelelahan.

Meski lelah dan kadang ingin mengeluh namun Ralen selalu berusaha melupakan semua isi hatinya itu, baginya tidak guna meratapi takdir yang sudah tuhan gariskan untuknya, tidak ada cara lain selain menghadapinya.

Ralen melajukan motornya mencari bengkel untuk memperbaiki motornya dan langsung masuk ke dalam satu bengkel yang ia lihat segera mengatakan kondisi motornya pada seorang montir yang menghampirinya.

Menunggu lama sampai akhirnya Ralen membayar motor yang sudah selesai di perbaiki dengan mengganti spakbor yang pecah tadi, wanita itu segera membayar jumlah yang ada di struk pembayaran dengan uang yang ia dapatkan dari pria yang sudah menyerempet motornya.

"Iiissh kurang 50," keluh Ralen menghitung uang yang tadi ia ambil dari si pria songong, sejenak langsung menyesal kenapa malah mengembalikan sebagian uang tadi.

"Berkurang 50ribu duit bensin gue," sungut Ralen sambil merogoh saku celananya untuk menambah kekurangan.

Selesai sudah dengan urusan bengkel Ralen pun kembali menaiki motonya dan melajukan nya di jalanan yang semakin lama malah jadi padat.

"Tumben macet banget," ucap Ralen merasa tak biasanya sebab ia yang biasanya mondar-mandir di jalanan ketika harus mengantar pesanan catering ke pelanggan.

Setelah salip sana sini akhirnya Ralen berhasil keluar dari kerumunan kendaraan dengan didominasi roda empat, bergerak kepinggir lalu mematikan mesin motornya ketika sudah mendapatkan tempat yang pas untuk menunggu Antika yang akan keluar dari mall di seberang jalan depan sana.

Oh apakah Ralen lupa kalau ia berada di pusat kota dengan gedung-gedung tinggi menjulang yang pastinya di huni oleh orang-orang pekerja keras dan akan serentak keluar jika urusan mereka sudah selesai membuat jalanan menjadi jauh lebih ramai lagi.

"Hah, eh apa-apaan nih!?" di saat sedang melamun memikirkan dunia yang padahal bukan kewajibannya Ralen merasakan ada yang menduduki motornya.

"Antar gue ke bandara gue bayar berapapun yang Lo minta."

Pinta pria yang Ralen belum melihat wajahnya.

"Eh gue bukan ojek, gue lagi nunggu temen gue!" menoleh ke belakang lalu matanya membulat lebar melihat wajah yang berada dekat dengannya, "Elo!?" seru Ralen terkejut.

"Ck, cepetan gue udah terlambat!" malah tetap memaksa yang rupanya sudah tahu siapa pemilik motor yang dia naiki sekarang tadi dia sangat mengingat plat nomor yang motornya dia serempet hingga jatuh di pinggir jalan.

Wanita yang mengajaknya ribut dengan suara cempreng bahkan wajah judesnya pun masih Ipul ingat dengan jelas, jadi jangan salahkan jika dia yang sudah sangat terjepit ini memanfaatkan tumpangan dari si pemilik motor.

"Ogah! turun nggak Lo!" Ralen menolak marah dan memaksa Ipul setelah tahu siapa pria yang sudah duduk di jok belakang.

"Mau antar gue atau gue teriakin maling?!"

Luar biasa! Ipul sudah berani mengancam orang lain yang tidak dia kenal bahkan yang lebih parahnya itu adalah seorang wanita, astaga teganya.

"Lo tuh.."

"Dengan penampilan Lo dan gue yang berbeda jauh menurut Lo siapa yang akan di percaya kali ini?" kata Ipul dengan senyum sinis nya.

Ralen meniti penampilannya yang hanya memakai celana jeans robek serta kaos dan jaket masih dengan pakaian yang tadi saat bertemu dengan Ipul, sedangkan Ipul memakai pakaian sangat rapi dan wangi parfumnya pun sudah mencirikan bahwa pria itu bukan orang biasa, jangan di bandingkan! jelas orang-orang akan lebih percaya pada orang kaya dibelakangnya ini.

Ipul menyingkirkan jari Ralen yang tadi menunjuk tepat di depan wajahnya.

"Pakai helm!" kata Ralen yang akhirnya memilih untuk selamat ketimbang harus masuk kantor polisi dengan tuduhan palsu.

"Hari sial!" sungutnya.

"Gue aja yang bawa," kata Ipul lalu turun dari motor.

"Cepat pindah, gue udah telat," celetuk Ipul meminta Ralen menggeser ke belakang.

Dengan terpaksa Ralen menurut membiarkan pria songong mengambil alih motor maticnya.

Ipul pun menyalakan mesin motor dan melajukan nya.

"Woi Raleeen." suara teriakan dari teman Ralen yang tadi minta di jemput olehnya, wanita itu bersungut-sungut saat motor Ralen malah semakin menjauh dan tak terlihat.

"Sialan Ralen, malah kabur sama Om-om," gerutunya karena sekilas tadi dia melihat bahwa yang membawa motor temannya seorang pria.

Kemacetan masih terus menjalar sepanjang jalan seakan tidak ingin memberi kesempatan orang-orang untuk bisa segera sampai di rumah dan beristirahat setelah seharian lelah bergulat dengan kesibukan mereka masing-masing.

Sedangkan dua orang yang tidak saling mengenal namun sudah dua kali dalam sehari ini dipertemukan masih berada di atas kendaraan yang membawa mereka ketujuan sang pengendara, tidak ada pembicaraan hanya tangan sang penumpang yang tampak berpegangan pada baju sang pengendara yang tidak dia kenal.

Laju motor yang kencang membuat takut akan terjatuh, meskipun dia sudah sering membawa motor tapi tidak dipungkiri nyalinya akan diuji ketika duduk di boncengan.

Sang pengendara merasakan tangan yang memegang bajunya hanya melirik laku kembali fokus pada jalanan yang perlahan semakin lengang, harapannya untuk sampai tepat waktu pun akan segera terlaksana sebentar lagi.

Sesungguhnya Ralen merasa sangat kesal tapi laju motor yang kencang membuat ia harus memilih untuk menyelamatkan nyawanya ketimbang harus meluapkan emosi yang bertumpuk.

Mereka sempat mampir ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar motornya yang memang tinggal sedikit lalu kembali menuju bandara tempat yang menjadi tujuan si pria yang dari penampilannya terlihat kaya tapi bisa-bisanya melakukan pembegalan pada seorang wanita dan memaksanya mengantar ketujuan nya.

Begitu sampai Ipul langsung turun dan menyerahkan helm pada Ralen, dia sudah hampir terlambat membuatnya langsung bergegas tanpa mengucapkan terimakasih sedikitpun pada si wanita.

"Boro-boro bayar, bilang makasih aja nggak!" sungut Ralen yang dongkol.

Mulutnya masih terus menggerutu sampai akhirnya matanya menangkap benda warna hitam di dashboard motornya, perlahan Ralen menepikan motornya.

"Dompet?" kata Ralen mendapati dompet milik pria songong yang tadi memang sempat diletakkan di dashboard setelah mengisi bensin.

Tangannya pun bergerak untuk membuka lipatan dompet dan melihat isinya, "Wow," dalam sekejap matanya berbinar melihat lembaran-lembaran berwarna merah yang cukup banyak, pikiran demi pikiran mulai menggoda tapi kemudian menepis setan-setan yang ingin mendominasi, hingga akhirnya iapun membuka lipatan demi lipatan guna mendapatkan identitas pria songong yang ia tak tahu namanya.

Niatnya ingin mengembalikan dompet itu jika memang ada identitas di dalam dompet, tapi nyatanya tidak ada apa-apa selain uang rupiah serta beberapa lembar uang asing.

"Orang kaya macam apa yang pergi kemana-mana tidak membawa identitas, ckckck," Ralen berdecakan seraya menggelengkan kepala.

Setelah berpikir lama akhirnya Ralen mengantongi dompet itu memutuskan untuk membawanya sambil memikirkan bagaimana caranya untuk mengembalikan benda itu pada pemiliknya.

Sekalipun orang itu sangat menyebalkan kenyataannya Ralen masih berbaik hati ingin mengembalikannya, tidak berniat curang untuk memiliki barang yang bukan miliknya.

\*\*\*\*\*\*

******

Bagian 3

Ralen menjalani hari-harinya dengan sangat luar biasa, hari demi hari wanita itu jalani dengan harapan bahwa hidup keluarganya akan membaik tidak lagi harus dipusingkan dengan tagihan-tagihan yang terus menekannya sebagai satu-satunya tulang punggung dalam keluarga.

Setiap bulannya ia harus membayar tagihan rumah kontrakan yang mereka tinggali yang terkadang sudah melewati jatuh tempo membuat otaknya serasa ingin meledak akibat himpitan kebutuhan yang benar-benar mendesak.

"Ralen."

Terdengar suara wanita dengan diiringi suara batuknya dari arah ruang tamu sederhana yang beralih fungsi menjadi kamar tidur bagi Adik serta orang tuanya, kontrakan yang hanya tiga petak saja mau tak mau hanya menyisakan satu kamar untuknya, sebenarnya Ralen sudah meminta agar Ayah dan Ibunya saja yang mengisi kamar itu tapi mereka menolak mengatakan bahwa Ralen seorang gadis yang harus memiliki kamar pribadi sendiri.

"Iya Bu," sahut Ralen beranjak dari duduknya menuju sang ibu yang memanggil di tengah kepusingan yang melanda akibat uang kontrakan yang belum terkumpul.

Sebenarnya sudah terkumpul akan tetapi harus terpakai untuk membeli obat Ayahnya yang untuk sekian kalinya merasakan kakinya sakit akibat bekas kecelakaan yang cukup parah dulu, mau tidak mau Ralen harus membawanya ke rumah sakit untuk periksa dan membeli obat yang harganya lumayan menguras uang simpanan untuk membayar kontrakan.

"Tadi Bude Parni datang," ujar sang ibu dengan wajah pucat nya akibat masih tak enak badan.

Bude Parni adalah pemilik kontrakan dan jelas Ralen tahu maksud kedatangan wanita gemuk itu, menagih uang kontrakan yang sudah jatuh tempo, memangnya apa lagi jika bukan itu?

"Maafkan Ayah nak yang tidak berguna ini."

Suara tua milik sang Ayah menyapa pendengaran Ralen, dari nada bicaranya pria itu terlihat sangat menyesal karena sebagai kepala keluarga sungguh tidak berguna, dia yang seharusnya berkewajiban untuk menafkahi serta memenuhi semua kebutuhan rumah tangga tapi akibat kecelakaan yang melumpuhkan sebagian tubuhnya menjadikan dia tidak bisa mencari uang, jangankan untuk bekerja sekedar untuk berpindah tempat saja dia membutuhkan bantuan orang lain.

Ralen menatap wajah sang Ayah yang terlihat semakin tua yang larut akan rasa bersalah karena menjadikannya sebagai tulang punggung guna menghidupi mereka berempat.

"Tidak apa-apa Ayah, ini sudah takdir kita Ayah tidak boleh merasa bersalah, sejak Ralen kecil Ayah susah payah menghidupi Ralen hingga besar lalu sekarang tidak ada yang salah jika Ralen menggantikan posisi Ayah, tubuh Ralen sangat kuat untuk bisa terus mencari uang, Ayah dan Ibu tenang saja Ralen akan segera membayar kontrakan pada Bude Parni."

Jelas Ralen memberikan ketenangan pada orang tuanya sekalipun dalam hatinya sendiri merasa kebingungan bagaimana caranya mendapatkan uang dengan cepat agar Bude Parni yang bawel itu tidak keburu murka karena ia yang sudah sering telat membayar kontrakan.

Ralen beranjak untuk masuk ke dalam kamar tapi langkahnya kembali terhenti ketika Adiknya, Ardan yang baru dari dapur berpapasan dengannya.

"SPP Ardan sudah 3bulan belum di bayar Kak," adu ABG berusia 13tahun itu.

Ralen menarik napas, bagaimana bisa ia lupa kalau Ardan pun masih menunggak SPP nya, lalu sekarang apa yang harus Ralen lakukan? bagaimana caranya mencari uang untuk membayar kontrakan sekaligus SPP sang Adik.

"Kakak usahakan ya Ar, sabar dulu," sahut Ralen memberi pengertian.

Ardan melihat wajah Kakaknya begitu kusut, jelas sebagai seorang Adik yang paham akan keadaan keuangan keluarga mereka merasa tidak tega hingga akhirnya dengan ragu berkata, "apa Ardan berhenti saja ya Kak, biar Ardan bisa bantu Kakak cari uang," katanya dengan suara pelan.

"Nggak ada! kamu harus tetap sekolah nggak usah mikirin biaya karena Kakak akan lakuin apapun demi kamu demi Ayah dan Ibu!" sentak Ralen menggeleng cepat menolak usul bodoh yang diajukan oleh sang Adik.

Bagaimana mungkin Ralen membiarkan Adiknya putus sekolah sedangkan Ralen tahu Adiknya itu bercita-cita menjadi orang sukses guna merubah kehidupan mereka, cukuplah Ralen seorang yang harus rela mengubur impiannya karena kekurangan biaya sedangkan Ardan tidak boleh! karena masih ada dirinya.

"Lebih baik kamu fokus belajar, Kakak akan segera cari uang untuk bayar SPP kamu," kata Ralen tegas seraya menepuk pundak sang Adik lalu melenggang ke dalam kamar yang tanpa pintu hanya memakai gorden saja untuk agar tidak terlihat saat ada orang yang akan ke dapur atau ke kamar mandi yang letaknya di belakang.

Ralen duduk di tepi ranjang yang terbuat dari kayu dengan model kuno di tambah dengan kasur kapuk yang memakai seprai berwarna usang, jelas ini adalah tempat tidur jadul yang dimiliki orang tuanya.

Wanita yang saat di rumah hanya memakai celana pendek dengan kaos kebesaran di tubuh kurusnya itu menekuk kedua kakinya lalu menyandarkan kepalanya di atas lutut dengan pandangan yang kosong menatap tak jelas, sesekali tarikan napasnya terdengar sangat berat.

Ini bukan pilihan hidupnya dan tentu semua orang pun jika bisa memilih tidak akan mau memilih hidup susah seperti keluarganya, ini adalah takdir yang sudah tercatat untuknya bahkan sebelum ia dilahirkan ke dunia.

Ingin rasanya menangis tapi air matanya seolah sudah mengering, karena sekuat-kuatnya Ralen, dia tetaplah seorang wanita yang akan diam-diam menangis jika sudah merasa sangat lelah dengan semua yang harus ia jalani.

"Sekarang harus gimana? utang sama Antika saja belum bisa di ganti," lirih Ralen mengingat sudah beberapa kali ia meminjam uang temannya itu untuk kebutuhan keluarganya, rasanya sangat malu selalu menyusahkan orang lain.

Pikiran wanita berusia 20tahun itu menerawang kemana-mana berusaha untuk mencari cara bagaimana mendapatkan uang dengan cepat tanpa harus menyusahkan orang terdekatnya.

"Dompet!" seru Ralen dengan suara tertahan.

Wanita itu ingat dompet milik pria songong yang tertinggal di motornya, ini sudah beberapa bulan kan? dan dia masih belum juga bertemu dengan pria songong itu.

Ralen turun dari tempat tidur usang yang selama ini menjadi tempatnya merilekskan tubuhnya yang lelah setelah seharian mencari uang, langkahnya begitu cepat kala menuju lemari kayu yang lagi-lagi terlihat sangat kuno dan mulai lapuk karena di sisi kanannya sudah mulai keropos di gigit rayap.

Membuka pintu lemari yang kacanya sudah hilang setengah lalu mengulurkan tangan mengangkat tumpukan baju miliknya dan menarik sebuah dompet dengan warna hitam, dompet yang sudah lebih dari dua bulan ia simpan itu Ralen perhatikan dengan seksama sambil kembali menghempaskan tubuhnya ke atas kasur kapuk yang sudah mengeras.

Ralen menarik napasnya dengan tangan yang bergerak membuka lipatan dompet, isi di dalamnya masih utuh dan dengan posisi yang tidak berubah dari sejak ia melihat dompet itu ada di motornya tak sekalipun Ralen berani untuk mengambil meski hanya satu lembar saja, tapi sekarang dengan terpaksa ia akan memakai uang di dalam dompet itu.

"Gue cuma pinjam, gue bakal ganti," tutur Ralen seraya mengeluarkan beberapa lembar lalu menghitungnya untuk ia gunakan membayar kontrakan serta SPP Ardan.

Kata-kata pinjam masih terus Ralen gumamkan lewat bibirnya seolah mengingatkan dirinya untuk segera mengganti uang itu.

Sebelumnya ia tidak pernah melakukan hal seperti ini, meskipun hidup pas-pasan tapi orang tuanya tidak pernah mengajarkannya untuk memakai barang atau uang yang bukan miliknya, tapi sekarang ia terpaksa harus melakukan hal seperti ini untuk menyambung hidup keluarganya, bahkan jantungnya berdebar dengan sangat cepat ketika harus mengambil uang dari dompet tanpa identitas itu.

"Gue cuma pinjam, salah sendiri karena tidak meninggalkan identitas apapun di sini," gumam Ralen.

Seandainya saja ada identitas tentu sudah sejak lama ia mengembalikan dompet ini, tapi nyatanya kecerobohan sang pemilik malah membuat Ralen harus menyimpannya lama bahkan sekarang malah memakai uang di dalamnya dengan dalih meminjam.

\*\*\*\*\*\*

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!