NovelToon NovelToon

Karena Aku Mencintaimu, Raya

BAB 1 Mall dan Meeting

“Mama…tapek akuuu” Rengek suara imut di

dalam gendongannya. Pipi cabbynya menggembung sehingga memunculkan wajah yang

sangat menggemaskan. Raya tertawa gemas seraya mencubit pipi putrinya.

“Padahal Hanum selalu gendong mama lho,

dimana capeknya coba” Kata Raya memandang putrinya.

“Lapel mama…” Kata gadis kecil itu

dengan wajah melas seraya mengelus perutnya yang bahkan kelihatan buncit walau

sedang dalam keadaan lapar.

“Huh, makan aja yang di duluin, nih

kakak aja masih dapat satu baju, iya adek udah banyak…noh” Protes Titania

seraya mengangkat paper bag di tangannya yang berisi pakaian Hanum. Gadis kecil

itu hanya meringis dan hampir menangis.

“Pi Anium lapel mama…” Matanya sudah

berkaca-kaca. Raya jadi tidak tega melihatnya.

“Iya..iya, baiklah kita istirahat cari

makan dulu ya, Kakak Tita nanti dilanjut lagi cari bajunya, ya…” Raya menengahi

perdebatan kedua putrinya. Titania mengangguk dan mengikuti Raya menuju sebuah

kafe yang ada di dalam mall.

Mereka hari ini memang berjalan-jalan

untuk membeli perlengkapan sehari-hari, karena mereka baru pindah dan kebutuhan

rumah tangga juga belum dipenuhi. Raya membeli sebuah rumah tinggal dengan tiga

kamar tidur lengkap dengan kamar mandi dalam, dapur, dan satu kamar mandi luar.

Perlengkapan rumah tangga masih kosong, sehingga ia mengajak kedua putrinya

mencari perlengkapan rumah tangga sekalian baju untuk kedua putrinya.

Dan di sinilah mereka, di sebuah kafe

di dalam mall yang mereka kunjungi. Hanum bersenandung riang di tempat duduknya.

Ia menunggu pesanannya dengan tidak sabar.

“Tak napa lama” Rengeknya pada

kakaknya.

“Ish…sabar dulu napa, ini juga masih di

masak kali” Kata Titania ketus. Raya hanya menggeleng menyaksikan perdebatan

kedua putrinya. Titania memang sifatnya ceplas ceplos cenderung judes, mirip

banget sama sifat Ervin papanya. Tapi itu tidak sungguh-sungguh ketika bersama

keluarganya.

“Mama…” Rengek Hanum menatap Raya.

Wanita itu mengelus kepala Hanum sayang.

“Iya, sabar ya, sebentar lagi pesenan

Hanum datang…” Baru menghibur putri kecilnya, hidangan mereka datang. Mata Hanum

langsung melebar berbinar. Tersaji hidangan di meja dengan tertata apik, sup

bola daging, nugget ayam, sosis bakar kecap kesukaan Hanum, ayam kremes dan

omelet telur dan sayuran kesukaan Titania, minumannya ada es krim vanilla

kesukaan Hanum, dan capcin kesukaan Titania, sementara Raya hanya memesan es

kelapa muda. Raya menyiapkan sepiring nasi dengan lauk yang di tata rapi di

sebelah nasi. Hebatnya Hanum tidak mau di suapi, ia bilang bahwa ia sudah gede

tidak mau manja. Hal itu membuat Raya merasa bersyukur. Raya hendak menyiapkan

nasi juga untuk Titania, namun langsung ditolak dengan cuek.

“Aku bisa sendiri Ma…” Raya tersenyum

kemudian mengelus kepala Titania. Ia menyaksikan kedua putrinya makan dengan

lahap, sesekali Raya akan menghapus noda saus di sekitar bibir dan pipi Hanum.

.

.

Tok

Tok

Laki-laki gagah itu memutar hendel

pintu dan mendorong pintu memasuki ruangan bernuansa kalem nan sejuk. Tampak

seorang pria sedang duduk di kursi kebesarannya tanpa merasa terganggu dengan

keberadaan seseorang yang masuk. Karena ia tahu siapa yang memasuki ruangannya,

sehingga ia tetap fokus pada laptop di depannya.

“Tuan, meeting dengan perusahaan

Nirwana Raya sudah siap” Kata pria itu yang membuat laki-laki serius itu

mendongak menatapnya, kemudian mengangguk. Ia menyelesaikan ketikannya sekilas

kemudian berdiri meraih jas yang tersampir di sandaran kursinya.

“Je, kau atur nanti baiknya kerja sama

itu, aku mau tahunya beres.” Perintah atasannya.

“Baik Tuan, Anda tidak perlu

mengeluarkan suara sedikitpun”

“Bagus” Mereka keluar meninggalkan

ruangan kantor menuju lift eksklusif khusus presdir dan berlalu menuju tempat

parkir.

Asisten Je melajukan mobil dengan

kecepatan sedang merambah lalu lintas kota yang mulai padat. Mereka akan

bertemu dengan klien di restoran Chines Food, restoran yang memang menyediakan

tempat khusus bagi pertemuan para pebisnis untuk membangun jaringan bisnis.

Mereka tiba di lokasi bertepatan dengan

klien yang sama-sama ingin masuk ke dalam, sehingga klien itu mempersilahkan Alvero

dan Asisten Je masuk terlebih dahulu. Kedua pria gagah itu memasuki restoran di

ikuti oleh pria paruh baya dan sekretarisnya seorang wanita dengan dandanan

menor dan pakaian yang kurang bahan. Namun, kedua pria di depan tidak pernah menghiraukan

keberadaan sekretaris itu.

Mereka memasuki ruangan VVIP yang sudah

dipesan, dengan hidangan yang langsung disajikan begitu mereka duduk.

“Baik Tuan Haryo, apa yang bisa Anda

tawarkan agar kami bersedia bekerja sama dengan perusahaan Anda?” Tanya Asisten

Je langsung pada pokok bahasan. Baginya basa-basi sesuatu yang muluk-muluk dan

membuang-buang waktu.

Haryo, laki-laki paruh baya itu melirik

sekretarisnya untuk memulai rencananya memuluskan kerja sama tersebut.

Sekretaris itu berdiri dengan gaya yang di buat seksi bahkan ia berusaha

merendahkan dadanya untuk menarik perhatian kedua pria tersebut.

“Lakukan dengan benar Nona kalau ingin

kerja sama lancar!” Sentak Asisten Je tajam membuat sekretaris itu langsung

pucat pasi.

“Ba..baik Tuan” Sekretaris Rina

langsung memulai presentasinya dengan gugup, sesekali ia melirik ke arah

Asisten Je yang masih tetap berwajah datar. Suasana di ruang VVIP menjadi

mencekam, dua orang pria yang tidak bisa tersentuh dan seorang pria paruh baya

dengan sekretarisnya yang berusaha menyajikan presentasi yang menarik. Harapan

Haryo, ia bisa mengikat perjanjian itu melalui keseksian sekretarisnya. Namun

ternyata hal itu tidak mempengaruhi kedua pria di depan mereka.

Setelah satu jam di lalui dengan cukup

membosankan, akhirnya presentasi berakhir dan cukup membuat Alvero dan Asisten

Je tertarik, namun belum cukup untuk bisa menanamkan investasi yang besar. Mereka

akan menanamkan sahamnya sejumlah 15% saja, walaupun mengecewakan bagi Haryo,

ia tetap menerima dengan senang, dan kesepakatan akan dilakukan di kantor

Alvero. Haryo harus menerima konsekwensi mencari lebih banyak lagi penanam

saham agar perusahaannya tetap bertahan.

Sekretaris Rina mempersilahkan Tuan

Alvero dan Asisten Je menikmati hidangan yang disediakan, sesekali ia

menawarkan hidangan lain pada Asisten Je, tapi pria itu tidak bergeming. Dalam

kesempatan langka itu sekretaris Rina sengaja menyenggolkan tangannya ke tangan

Asisten Je, pria itu langsung wajahnya mengeras penuh kebencian dan jijik, sehingga

ia langsung mengambil handsanityzer dan menyemprotkan berulang-ulang ke

tangannya yang disentuh tadi. Dalam waktu lima detik langsung muncul gatal-gatal

di seluruh tangan dan tubuhnya, ia hanya bisa menahan dengan rasa jijik yang

luar biasa, seakan ia telah terkena bakteri. Alvero mengetahui asistennya

mengalami gatal-gatal tapi tidak mau merusak persepsi orang tentangnya dan

perusahaannya karena memiliki asisten yang mengalami alergi parah, ia langsung

menggebrak meja dengan wajah garang, ia berdiri dan menyeret lengan Asisten Je

kemudian berucap dengan marah.

“Kerja sama batal!” Kedua orang itu

langsung pucat pasi dengan tangan sektetaris Rina yang gemetar ketakutan. Haryo

memandang sekretaris Rina dengan geram.

“Tuan…tolong pertimbangkan lagi” Haryo

memohon seraya menangkupkan kedua tangannya.

“Sekretarismu merusaknya!” Sentak

Alvero tajam tanpa memandang ke arah wanita itu.. Haryo langsung terduduk lemas

tak percaya, kerja sama yang sudah di pegang dalam genggaman tangan dalam waktu

tidak ada lima menit langsung hancur. Ia menatap sekretarisnya nyalang.

“Kenapa kamu membuat masalah hah! Kerja

sama kita gagal, haahhh!” Bentak Haryo marah kemudian pergi meninggalkan

sekretaris Rina yang masih pucat pasi. Haryo kembali berbalik dengan wajah

merah padam.

“Kamu di pecat!” Ucapnya dengan tekanan

kemarahan.

“Tu..tuan…jangan pecat saya…” Hiba

sekretaris Rina. Haryo tidak perduli, dia pergi meninggalkan wanita itu dengan

tergesa. Sekretaris Rina hanya duduk lemas seraya menangis meratapi nasibnya

yang sial. Hilang sudah kemewahan hidup yang selalu diberikan Haryo setiap

harinya, sugar daddynya telah pergi…

Sementara itu Tuan Alvero dan Asisten

Je melaju ke rumah sakit untuk mengobati gatal-gatal yang muncul di tangan

Asisten Je yang menjadi memerah karena terus digaruk dengan kasar begitu sampai

di dalam mobil.

Alvero yang menggantikan menyetir tidak

bisa menghentikan, dia hanya bisa menahan dengan mulutnya untuk tidak di garuk,

tapi tetap percuma karena Asisten Je menggaruk dengan semakin jijik.

“Hei, jangan kau garuk terus, nanti

tambah lecet!” Seru Alvero merasa cemas, ini kali kedua dia menyaksikan gejala

aneh yang muncul di kulit Asisten Je ketika ia bersentuhan dengan seorang

wanita, sampai kinipun ia tidak tahu kenapa laki-laki di sebelahnya begitu

benci dan jijik terhadap wanita. Asisten Je hanya diam dengan tetap menggaruk

tangannya, bahkan kini sudah muncul kemerahan dan terkelupas seperti habis

terbakar.

Mereka tiba di rumah sakit langganannya

dan langsung ditangani dengan segera oleh pihak rumah sakit dengan fasilitas

istimewa.

To Be Continued

BAB 2 Lowongan Pekerjaan

Raya dan kedua anaknya meninggalkan

mall setelah selesai berbelanja, Raya telah memesan taksi online sehingga

ketika tiba di luar mall taksi telah siap dan pak sopir membantu membawa barang

belanjaannya yang cukup banyak dan memasukkannya ke bagasi taksi.

“Alamatnya sesuai aplikasi ya Non?”

Tanya pak sopir yang Raya perkirakan berusia 50 tahunan.

“Iya pak, benar” Jawab Raya ramah. Ia

memangku Hanum yang terlihat kelelahan dan mengantuk, sekejap kemudian gadis

kecil itu sudah mendengkur di pangkuan Raya.

Taksi membelah jalan raya dengan

perlahan, karena sore ini jalanan menjadi agak macet, mungkin bertepatan dengan

para pegawai yang mulai pulang dari kantor atau lembaga pendidikan, sehingga

membuat jalanan penuh dengan berbagai kendaraan baik roda dua maupun roda

empat. Raya menatap ke luar jendela sekilas dan melihat sebuah toko emas yang

sangat besar, berbeda dengan toko emas biasanya yang hanya terdiri dari satu ruko

itupun sempit, tapi toko emas itu luar biasa luas, indah dan megah.

“Wah…pak, toko emas itu beda dengan

toko emas yang lain ya pak, tampak paling bagus dan besar” Ucap Raya terkagum.

“O iya Non, itu toko emas yang terbesar

di Kota Malang ini, kalau tidak salah cabangnya ada 10 di seluruh Indonesia

Non, dan ada beberapa juga di luar negeri” Jawab pak sopir.

“Lho, bapak kok tahu?” Tanya Raya

penasaran.

“Iya Non, bapak dulu pernah kerja jadi

sopir di situ, tapi karena usia bapak sudah di atas 50 tahun bapak harus

pensiun Non, dan jadilah sopir taksi ini Non, hehe” Jawab pak sopir seraya

tertawa.

“Emang Non mau cari kerja di situ?

Lebih baik cari yang lain aja Non, kalau pak bos nya baik sih Non, tapi

asistennya Non…ma sya Allah jahatnya Non.”

“Jahat gimana pak? Emang suka bunuh

orang gitu?” Tanya Raya bercanda.

“Eh…Non ini, ya gak sampai bunuh juga

kali Non, cuma asistennya gak mau kalau sekretarisnya wanita, jadi banyak yang

dikeluarkan dari jabatan sekretaris karena hal sepale Non” Cerita pak sopir.

“Maksudnya gimana ya pak?”

“Nggak tahu juga sih Non, cuma ada

rumor yang mengatakan asisten itu alergi perempuan apalagi yang genit Non”

“Ha…ha, alergi perempuan, mana ada itu

pak?” Raya hanya menggeleng tak percaya.

“Oke Non, dah sampai, ini rumahnya kan

Non” Pak sopir menghentikan taksinya di depan sebuah rumah yang tidak terlalu

besar tapi bersih dan indah. Pak sopir membantu mengeluarkan barang belanjaan

dan memasukkan ke rumah, di letakkannya semua barang itu di ruang tamu. Titania

sudah masuk terlebih dahulu, dan Raya keluar dengan menggendong Hanum yang

masih tertidur nyenyak.

“Ini pak uangnya, terima kasih ya…oya

pak boleh minta kartu namanya? Siapa tahu saya butuh taksi biar taksi bapak aja

yang saya carter.” Kata Raya seraya menyerahkan uang lembaran seratus ribu

sebanyak 2 lembar.

“O…boleh sekali Non, sebentar” Pak

sopir menerima uang dari Raya dan kembali ke mobil membuka laci kecil di sisi

kiri setir mobil kemudian menyerahkan kartu nama ke Raya.

“Ini Non kartu nama saya, dan ini

kembaliannya”

“Terima kasih pak, ambil aja pak,

rezeki gak boleh di tolak lho…”

“Waduh…alhamdulillah, terima kasih ya

Non…” Pak sopir bersyukur mendapat penumpang yang baik hati dan ramah seperti

Raya.

Raya memasuki ruang tamu dengan

menggendong Hanum, ia menuju kamar Hanum dan menidurkan putrinya di sana.

Kemudian ia keluar untuk membereskan barang belanjaannya tadi, ternyata Titania

sudah berada di ruang tamu dengan pakaian santainya.

“Wah…sudah selesai mandi Kak Tita?”

“Sudah Ma, ayo Tita bantu apa nih”

“Eh…gak capek?”

“Nggak Ma, biar cepat selesai, pasti

Mama juga capek kan?”

Raya tersenyum memandang putri

sulungnya, walaupun terkadang Titania judes namun ia memiliki sisi yang sangat

baik, ya…ia ringan tangan dalam membantu keperluan mamanya. Ia tumbuh menjadi

gadis remaja yang masih dalam tahap wajar.

Raya sangat bersyukur, perceraian orang

tuanya tidak membuat Titania melakukan pelarian kepada hal-hal yang buruk. Ia

lebih suka menghabiskan harinya di kamar dengan belajar, dan itu dibuktikan

dengan setiap semester ia selalu mendapat ranking satu pararel, itu menunjukkan

semangat hidupnya tetap baik.

Hubungan dengan papanya juga sangat

baik, pun ibu sambungnya juga sangat menyayangi Titania, bahkan Hanum menjadi

prioritas ibu sambungnya karena kelucuan dan menggemaskannya gadis kecil yang

sudah bisa bicara cerewet saat usianya 2 tahun. Mereka hanya memiliki dua putra

sehingga mereka mencurahkan kasih sayangnya juga untuk Titania dan Hanum

selayaknya putri mereka sendiri.

Keluarga mantan suaminya itu merasa

trenyuh dengan gadis kecil yang sudah ditinggal oleh ayahnya itu, namun ketika

Raya berencana pindah ke Kota Malang, keluarga besar Ervin sebenarnya

menyayangkan itu, tapi keputusan Raya untuk mengubur kenangan indah bersama

Revian suaminya menyebabkan keluarga besar Ervin menyetujuinya.

Keluarga Raya dan keluarga besar Revian

juga berat melepas anak perempuan mereka di kota yang tidak ada satupun

keluarga di sana, tapi Raya mampu meyakinkan mereka semua bahwa mereka akan

baik-baik saja di tanah rantauan. Dan di sinilah dia dan kedua putrinya akan

menghabiskan hari-harinya, di rumah yang indah dan asri walaupun tidak semegah

rumahnya waktu di Jakarta dulu.

“Baiklah, kita mulai dari membawa alat

masak dulu ya, baru setelah itu yang berat-berat”

“Oke Ma”

Mereka mulai menata peralatan yang tadi

dibeli mulai dari area dapur, pindah ke kamar Titania yang dilengkapi dengan

meja kaca rias kecil, untungnya pemilik rumah dulu menjualnya lengkap dengan

perabotan besar, seperti kasur, almari, meja makan dan kursi serta sofa di

ruang tamu. Jadi Raya hanya melengkapi perlengkapan yang kecil saja. Untuk

mesin cuci sementara mereka menggunakan jasa laundry sampai mereka sempat

membeli mesin cuci.

“Akh….akhirnya selesai juga, capek juga

Ma”

“He-em, ya sudah Kak Tita istirahat aja

dulu, urusan bersih-bersih biar mama aja.”

“Ya deh Ma, kalau urusan bersih-bersih

Tita paling anti” Kata Titania seraya nyengir kuda yang mendapat gelengan

kepala dari Raya. Pekerjaan bersih-bersih cepat selesai karena biang rusuh

masih tertidur dengan pulasnya. Raya pun membersihkan dirinya di kamar mandi,

kemudian mulai memasak untuk makan malam.

BAB 3 Lari Pagi Bersama

Raya Pov

Cuitan burung membangunkanku dari alam

mimpi. Dengan malas aku menggeliatkan badanku sambil mengumpulkan kesadaranku

yang tercecer. Perlahan aku bangun, kupandangi kamar yang kutiduri tadi malam

sangat jauh jika dibandingkan dengan istana tempat tinggal kami dulu sebelum

Mas Revian meninggal. Dengan terpaksa rumah itu aku kembalikan kepada mertuaku,

walau mereka menyerahkan semuanya padaku, tapi aku ingin merekalah yang merawat

peninggalan Mas Revian, aku tidak sanggup untuk hidup terus di rumah yang banyak

kenangan indah bersamanya. Orang tua Mas Revian akhirnya menyetujui merawat

rumah itu dan merelakan menantu serta cucu mereka hidup di tanah rantauan.

Uang warisan dari Mas Revian sebenarnya

juga sangat banyak jika untuk membeli rumah yang sangat besar, hanya aku tidak

ingin hidup mewah dan foya-foya, aku masih harus memikirkan kedua putriku yang

masih membutuhkan biaya yang sangat banyak. Kalau mengandalkan uang warisan

saja, suatu saat pastilah uang itu akan habis, jadi aku memutuskan membeli

rumah yang tidak terlalu besar tapi nyaman untuk tempat tinggal kami. Kedua

putrinya juga tidak mempersalahkan hal itu asalkan mereka masih tetap bisa

bersama.

Jam sudah menunjukkan pukul 05.00

setelah aku membersihkan diri dan sholat subuh, serta membangunkan Titania dan

Hanum, aku bersiap untuk jogging, olahraga yang memang sudah rutin aku lakukan

sejak SMA, bahkan Mas Revian juga sering mengajakku jogging ke taman

menghabiskan pagi bersamanya. Dan hari ini aku memulai kembali rutinitas

joggingku, yang memang membuat tubuh sehat, segar, bugar, dan keadaan tubuhku

yang selalu ideal, walaupun umurku sudah 32 tahun, tapi aku masih merasa sangat

energik. Aku tertawa sendiri di kamar seraya memandangi postur tubuhku di

cermin.

Aku keluar dari kamar dan ku lihat

Titania dan Hanum sudah berdiri di depan kamarku lengkap dengan pakaian

olahraga juga. Aku sampai terkejut dengan keberadaan mereka.

 “Lho

Kak Tita sama Dedek tumben pakai baju olahraga?” Tanyaku seraya mengelus kepala

kedua putriku kemudian mencium kening mereka bergantian.

“Aku mau ikut lali cama Mama cama Tak

Tita…” Kata Hanum ceria.

“Wah…bolehlah, Mama jadi ada teman nih,

ndak kesepian lagi kalau lari pagi”

“Pi anti bli bubuliyam ya Mama” Kata

Hanum dengan kata-kata yang masih belum jelas.

“Ngomong tuh yang jelas Dek, jadi Mama

ngerti” Sahut Titania judes.

“Iya, Mama ngerti kok, bubur ayam kan?”

Tanyaku tersenyum, Hanum meledek kakaknya dengan memeletkan lidahnya.

“Dasar bocil!”

“Kakak…” Peringatku memandang putri

sulungku, karena aku menekankan kepada mereka jangan suka memanggil dengan nama

yang tidak bagus, gadis remaja itu hanya tersenyum manyun.

“Dah yuk mulai lari paginya” Ajakku

kepada kedua putriku yang langsung keluar begitu aku membuka pintu.

Kami lari pagi mengelilingi komplek

perumahan dengan diiringi celotehan Hanum yang tidak pernah berhenti. Dan

ternyata banyak juga bapak ibu dan remaja yang lari pagi di minggu pagi ini.

Asyik berlari, tak lama ada seseorang yang membalap kami, seorang laki-laki

dengan perawakan gagah dengan tubuh atletis, walaupun aku tidak melihat

wajahnya, ku yakin ia laki-laki tampan. Haha…apa sih…

Kami sudah lari cukup jauh dari rumah

dan ku lihat Hanum juga sudah mulai kelelahan, gadis kecilku itu sudah merengek

minta berhenti. Kami berhenti tepat di taman perumahan yang ternyata

menyediakan aneka jajanan dan makanan di pinggir taman. Hanum mengajakku ke

tempat penjual bubur ayam. Hanum dan Mas Revian memang penyuka bubur ayam,

sementara aku dan Titania sangat menyukai mashed potato yang berbahan dasar

kentang, susu cair, dan keju. Sayangnya di taman ini tidak ada yang menjual

makanan jenis itu, akhirnya kami bertiga menikmati bubur ayam di pagi hari.

Raya Pov End

Setelah puas makan bubur ayam mereka

bertiga kembali pulang ke rumah, dan ketika akan memasuki rumah, seorang ibu

memanggil Raya. Wanita itu menoleh tersenyum ramah.

“Neng baru pindah ya…” Sapa ibu yang

bertubuh agak gendut itu.

“Iya bu, salam kenal saya Raya…, kami

baru pindah seminggu yang lalu”

“O ya, kenalin saya Bu Nanik, semoga

betah tinggal di kompleks perumahan ini ya”

“Ah…iya bu terima kasih”

“Eh…tapi Neng Raya hanya tinggal

bertiga saja sepertinya…” Tanya Bu Nanik heran.

Raya tersenyum canggung, ini yang ia

khawatirkan kalau mereka sudah bertanya tentang statusnya.

“Iya bu, suami saya meninggal satu

tahun yang lalu…”

“Ooo innalillahi wainna ilaihi

roojiuun, maaf ya Neng, ibu nggak tahu…”

“Iya bu nggak papa, oya, boleh Raya

masuk dulu bu?” Pamitnya mulai merasa tidak nyaman.

“O iya, silahkan Neng, sekali lagi ibu

minta maaf ya Neng” Kata Bu Nanik merasa bersalah.

“Iya bu nggak papa, mari bu…” Raya

pamit masuk dan menutup pintu dengan rapat. Ia menghela nafas sejenak seraya

memejamkan matanya, “Ya Allah, kuatkanlah hamba menghadapi ujian mu ini Ya

Allah…” Lirihnya di iringi dengan lelehan air matanya ke pipinya. Wanita itu

terkejut ketika ada yang menyentuh tangannya. Dilihatnya Titania sudah berdiri

di depannya dengan wajah yang sendu.

“Mama jangan sedih ya, kita pasti bisa

melewati ini semua” Kata Titania menghibur Raya. Wanita itu memeluk putrinya

dengan erat seraya tersenyum. Ia merasa bersyukur memiliki putri yang sangat

mengerti akan keadaan dirinya.

“Iya…kita baru memulai ini, jadi harus

semangat” Raya melepas pelukannya dan mencium kening putrinya sayang.

“Yum aku dugak Mama” Tarik Hanum di

baju Raya. Wanita itu segera berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi

putri kecilnya.

“Ehmmm sini..sini..pipinya Mama cium,

muah…muah” Gadis kecil itu tertawa kegirangan bahkan kegelian dengan ciuman

Raya, Titania juga ikut menggoda dengan mengacak-acak rambut Hanum.

“Lucak tak ini…” Hanum memperbaiki rambutnya yang

membuat Raya dan Titania tertawa.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!