NovelToon NovelToon

Nikahi Aku, Pak Dosen

Dia tampan sekali

“Ganteng bangeeett.” Niki menggigit bibir bawahnya dengan gemas. Tidak hanya dia, tapi semua wanita yang ada di halaman kampus, seketika terpukau dengan kehadiran satu sosok pria tampan di area kampus mereka.

Kemeja lengan putih panjang yang membentuk tubuh pria itu, celana chinos berwarna coklat muda serta sepatu pantofel hitam melengkapi penampilannya yang sudah mendekati sempurna.

“Dia siapa?” tanya Fera penasaran.

“Masa depanku,” ucap Niki lirih.

“Ow, sepertinya masa depanmu akan suram.”

“Kenapa?” protes Niki, tapi matanya tak mau lepas dari sosok pria tampan yang berjalan masuk ke dalam kampus.

“Lihat, sepertinya hampir semua punya keinginan yang sama seperti kamu. Bayangkan kalau doa mereka semua dikabulkan, kamu bakal dapat urutan keberapa?” Fera menunjuk ke arah para mahasiswi yang juga terpesona dengan pria asing itu.

“Iissh, cuman kagum doang.” Niki mengikuti langkah Fera masuk ke dalam kelas, “Fer, kira-kira dia siapa ya mahasiswa baru tapi ketuaan, kalau jadi dosen masih terlalu gemes mukanya.”

“Penjaga kantin kali,” sahut Fera tak acuh.

“Ngaco. Fer, kok duduk di depan. Belakang aja yuk, mata kuliah Bu Sinta nih bikin ngantuk. Mana aku belum sempat revisi judul lagi.” Niki menarik tangan Fera yang sudah duduk di barisan paling depan.

“Bu Sinta minggu lalu kecelakaan, kalian belum dengar?” timpal Bobi.

“Tuh, paling juga kasih tugas doang.” Fera bertahan di kursinya.

“Selamat pagi.” Suara berat menyapa di ambang pintu. Suasana menjadi hening seketika. Semua mata menatap ke arah pintu masuk di mana sosok asing yang ditemui Niki di parkiran, berdiri di sana.

“Siang.” Beberapa anak menyahut pelan walau terlambat.

“Benar ini kelasnya Ibu Sinta?” tanya pemuda itu sembari berjalan masuk ke dalam kelas.

“Benar.” Lagi-lagi hanya terdengar beberapa orang saja yang menyahut, lainnya masih terpaku termasuk Niki.

“Syukurlah, semoga saya tidak terlambat.” Pria itu berjalan terus ke arah meja dosen dan menaruh setumpuk buku di atas meja, “Silahkan duduk.” Pria itu menatap Niki dengan senyum ramah. Niki baru sadar kalau hanya dia yang masih berdiri.

“Minggir,” bisik Niki pada Fera.

“Diih! Cari tempat sendiri,” Fera balas berbisik.

“Ga mau, aku mau di sini.” Niki bersikeras menggeser Fera dari duduknya. Jelas ia tidak mau kehilangan kesempatan menikmati pemandangan indah di pagi hari. Sedikit menggerutu, Fera mengalah dan berjalan ke arah deretan bangku yang masih kosong.

“Perkenalkan, nama saya Farel Artama, kalian boleh memanggil saya dengan Farel atau Tama. Sa---“

“Panggil sayang boleh ga, Pak,” celetuk Niki berani. Pria yang menyebut dirinya Farel Artama itu, hanya tersenyum simpul menanggapi godaan Niki.

“Saya diperbantukan di sini hanya sementara untuk menggantikan Ibu Sinta, yang minggu lalu mengalami kecelakaan dan masih di opname. Kalian sudah menjenguk beliau?”

“Belum, boleh minta antar ga, Pak?” tanya Niki mulai menebarkan pesonanya.

“Ibu Sinta di opname di Rumah Sakit Waras, mudah saja mencarinya.”

“Saya takut tersesat, Pak. Sekarang aja saya sudah tersesat dalam pesona, Bapak,” ucap Niki yang langsung ditimpali dengan seruan hu yang panjang dari teman-temannya. Namun Niki sama sekali tak peduli, ia hanya fokus dengan satu senyuman di depan kelasnya.

“Baiklah, kita mulai mata kuliah pagi ini.” Dosen muda itu berbalik dan membuka buku yang tadi dibawanya.

Sepanjang penjelasan yang disampaikan oleh Farel, tidak sedikitpun materi yang masuk di kepala Niki. Matanya sama sekali tidak beralih dari wajah dosen muda itu, beberapa kali Farel juga mendapati ia sedang memandang tanpa mengedipkan mata sama sekali dan langsung dilemparkannya senyuman tipis yang membuat hati Niki semakin berbunga-bunga.

“Baiklah, sampai di sini dulu hari ini,” ucap Farel mengakhiri mata kuliahnya, “Susana, Bobby Pramana, dan Anikkin Nastiti, tolong nama-nama yang saya sebut tadi temui saya di ruang Ibu Sinta. Terima kasih semuanya, sampai bejumpa di pertemuan berikutnya.”

“Dia panggil aku ke ruangannya, Fer.” Niki menggoyang-goyangkan tangan sahabatnya.

“Ya, aku dengar, tapi ga cuma kamu yang dipanggil, Susana sama Bobby juga jadi jangan GR,” ledek Fera. Ia merasa geli dengan kelakuan sahabatnya yang mudah sekali terpesona pada dosen baru itu.

Niki jelas tidak mau berlama-lama, ia sudah sampai di depan ruang Bu Sinta mendahului kedua temannya yang juga ikut dipanggil.

“Kok ninggalin sih, Nik. Dipanggil-panggil juga belagak budek,” sungut Susana saat ia sedang memastikan riasannya masih menempel dengan sempurna sebelum mengetuk pintu.

“Mau ketemu dosen aja bibir diwarnain,” ledek Bobby.

“Sirik,” sahut Niki ringan. Ia mengacuhkan tatapan heran dari Bobby dan Susana.

“Ngapain kalian masih berdiri di sini, ayo masuk.” Farel membuka pintu ruangan Bu Sinta lalu mempersilahkan ketiga mahasiswanya untuk masuk. Farel yang ternyata sejak awal tidak ada di ruangan, sudah melihat tingkah laku Nikki dan keributannya dengan kedua temannya dari depan toilet.

“Kalian bertiga dipercayakan Bu Sinta kepada saya, untuk membimbing tugas skripsi sampai Bu Sinta aktif mengajar kembali. Jadi apapun terkait penyusunan tugas akhir kalian, bisa tanyakan pada saya,” jelas Farel lugas setelah duduk berhadapan dengan ketiga mahasiswanya.

“Baik, Pak,” sahut Bobby dan Susan.

“Kenapa?” tanya Farel pada Niki yang memberikan respon berbeda. Gadis itu menyodorkan ponselnya kearah Farel.

“Saya rasa kedepannya saya dan Bapak harus saling berhubungan ... eh, maksudnya saling berkomunikasi,” ralat Nikki ketika melihat raut wajah dosennya sempat tercengang.

“Ow, kamu mau minta nomer ponsel saya? Saya memang berencana meminta nomer ponsel kalian, tapi kamu lebih dulu punya inisiatif. Bagus, saya suka.” Farel melempar senyum manisnya. Angan Niki langsung melayang tinggi entah kemana.

Farel mengambil ponsel dari tangan Niki dan mengetikkan sederet angka di sana, lalu ia menyebutkan angka yang sama agar kedua teman Nikki mencatatnya di ponsel mereka.

“Baik, Pak terima kasih.” Kedua teman Niki berdiri dari duduknya lalu keluar dari ruangan.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Farel melihat Niki masih duduk di tempatnya memandangnya dengan tersenyum.

“Eee, eemm ... enggak Pak, saya permisi.” Niki tergagap dan langsung berdiri menyusul kedua temannya.

Malam harinya, Niki memandangi profil foto pesan singkat dosen tampannya yang hanya bergambar lautan lepas. Ia sedang mencari bahan untuk dapat bertemu hanya berdua saja dengan dosennya.

“Kirim ... tidak ... kirim ... tidak.” Jari jempol Niki melayang siap menekan tombol hijau di ponselnya.

“Kirim ... aaahhhh!” Niki menjerit setelah pesan yang ia kirimkan sudah terbaca oleh Farel. Ia melempar ponselnya ke atas ranjang, lalu menutup wajahnya dengan bantal. Dadanya bergemuruh menunggu pesan balasan dari dosennya.

“Baik. Jam satu di perpustakaan.” Balasan singkat dari Farel membuat Niki menjerit untuk kedua kalinya.

Belum genap jam satu siang, Niki sudah duduk di sudut perpustakaan kampusnya, dengan laptop menyala dan setumpuk buku. Tentu saja itu hanya untuk mempermanis penampilannya. Niat sesungguhnya adalah dekat dan semakin dekat dengan dosen tampannya.

“Maaf saya terlambat.” Farel berjalan cepat dan langsung mengambil posisi duduk di depan Niki. Saat Farel menaruh tumpukan buku di atas meja, ada sesuatu yang menarik perhatian Niki.

Cincin?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku ingin kamu

Itu bukan cincin kawin kan? Masak seimut ini sudah nikah?

Mata Niki tidak mau beralih dari jari manis Farel. Cincin emas bermata satu itu sangat mengganggu konsentrasinya selama Farel menjelaskan.

“Kenapa, Niki?” Rupanya Farel menyadari perhatian mahasiswinya terpaku pada jarinya.

“Mmm, cincin Bapak bagus,” pancing Niki.

“Terima kasih. Bagaimana kau sudah punya bayangan kira-kira topik apa yang akan kamu angkat di tugas akhirmu?” Niki tersenyum getir karena pancingannya tidak mengenai sasarannya.

“Nanti saya pelajari lagi, Pak.”

“Baiklah kalau begitu, saya mau lanjut mengajar lagi.” Farel mulai menyusun tumpukan bukunya.

“Pak!” Farel yang sudah berjalan dua langkah ke depan, berhenti lalu menoleh ke arah Niki, “Mmm, ada film yang saya mau jadikan referensi, Pak.”

“Bagus, film apa?”

“Ivanna.”

“Film bioskop yang sedang tayang?” Farel memutar tubuhnya menghadap Niki, “Apa hubungannya? Itu film horor dan kamu jurusan psikologi. Memangnya tema apa yang mau kamu angkat mengambil referensi film tersebut?”

Bibir Niki berkedut-kedut mencari alasan yang tepat, karena sesungguhnya ia hanya asal bicara.

“Mmm, perbedaan reaksi keluarga terhadap hubungan asmara ditinjau dari masa lampau dan masa kini?” ucap Niki tak yakin. Farel sesaat mengerutkan keningnya lalu ia mengangguk pelan.

“Boleh jika hanya sekedar referensi.”

“Saya butuh Bapak,” ujar Niki cepat sebelum Farel kembali membalikkan badan.

“Heh?”

“Maksudnya, saya butuh Bapak untuk ... memberikan arahan saat menonton film.” Farel semakin mengerutkan keningnya. Ia masih mencerna arah pembicaraan mahasiswinya itu, “Saya ingin Bapak temani saya nonton,” ucap Niki akhirnya dapat mengutarakan keinginannya. Farel tak langsung menjawab, ia sangat terkejut dengan keberanian mahasiswi di hadapannya ini.

“Kamu minta saya menemanimu nonton?” Farel mengulangi pernintaan Niki agar yakin kalau ia tidak salah dengar. Niki tidak sanggup berkata lagi, ia hanya menganggukan kepala pelan. Rasa malu sebenarnya mendera, tapi kepalang tanggung ia benar-benar ingin memiliki waktu hanya berdua lebih lama lagi dengan pria bertubuh tegap di hadapannya ini.

“Boleh, saya juga belum nonton. Kamu bisa ajak teman yang lain biar kita nontonnya ramai-ramai,” ujar Farel setelah berpikir sejenak.

“Beneran, Pak?” Tak sadar Niki terpekik gembira sehingga mengundang tatapan tak suka dari pengunjung perpustakaan lainnya.

“Iya kamu kabari aja kapan waktunya,” sahut Farel cepat. Ia semakin tak nyaman berada di bawah tatapan menuduh penghuni perpustakaan.

“Terima kasih, Pak.” Niki tersenyum lebar, ia tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya. Di kepalanya sudah tersusun berbagai rencana agar hanya dia dan Farel saja yang menonton tanpa adanya mahasiswi lainnya.

Tak butuh waktu lama Niki sudah mendapatkan waktu, lokasi dan hari yang tepat untuk mengajak dosennya itu nonton film. Bukan Niki namanya, jika tidak mendapatkan jadwal mengajar Pak Farel yang akurat. Niki berusaha meminimalisir kemungkinan penolakan dari dosennya itu.

Selang beberapa hari setelah bimbingan di perpustakaan, Niki berniat menemui Farel di ruang dosen dengan membawa sebagian tugas akhir yang sudah dipersiapkan sebagai alasan bertemu dengan dosennya itu.

“Tolonglah, Echa kenapa kamu sulit sekali mengerti aku?” Tangan Niki yang sudah terangkat siap mengetuk pintu ruang dosen, terhenti melayang di udara saat mendengar suara Farel yang emosional.

“Sampai kapan kamu seperti ini?”

“Oke, okeee! Kamu maunya apa, aku akan coba ikuti apa yang kamu inginkan asal jangan abaikan aku seperti ini terus, Echa.” Suara Farel yang terdengar memohon pada seorang wanita di seberang sana membuat Niki cemburu.

“Baiklah, aku harap tidak lebih dari tiga hari. Cepatlah pulang. Aku mencintaimu, Echa.” Kalimat terakhir yang keluar dari bibir Farel, membuat tangan Niki lunglai jatuh ke bawah.

Sementara itu di dalam ruangan, Farel memandangi layar ponselnya yang sudah gelap. Pembicaraan dengan istrinya sudah berakhir sejak tadi, malah sebelum ia selesai mengucapkan kata mencintaimu, istrinya sudah memutus sambungan teleponnya.

Farel sadar pernikahannya sejak awal bukan keinginan dari sang wanita, Marisa adalah wanita yang ia cintai namun bertepuk sebelah tangan. Marisa berpacaran dengan Galih teman baiknya. Namun sayang, Galih menikah dengan gadis yang dijodohkan orangtuanya dan meninggalkan Marisa dalam keadaan mengandung.

Farel yang sejak awal perkenalan sudah jatuh hati pada Marisa, menawarkan diri untuk menikahi dan menutup aib kedua temannya. Perjalanan pernikahan indah yang diharapkan Farel tidak pernah terwujud,. Marisa keguguran dan kembali menjalin hubungan dengan Galih secara terang-terangan meski keduanya masing-masing sudah memiliki pasangan yang sah.

Satu tahun lamanya Farel menunggu Marisa membuka hati untuknya, namun yang ada wanita itu semakin menyakitinya dengan kata dan perbuatan.

Niki membuka pintu ruang dosen perlahan, dari celah pintu yang terbuka ia dapat melihat gurat kesedihan di wajah dosennya yang sedang termenung.

“Niki?” Farel terkejut melihat mahasiswinya berdiri di ambang pintu.

“Maaf, saya tadi sudah ketuk pintunya tapi Bapak ga dengar, jadi saya langsung buka aja.”

“Ga apa-apa. Maafkan, saya tadi ga dengar. Ada yang bisa saya bantu?” Farel berusaha cepat mengendalikan perasaannya, ia mengurai senyum manisnya untuk menutupi wajah sedihnya.

“Saya mau minta pendapat, Bapak.” Niki menggeser berkas berisi konsep tugas akhirnya ke atas meja.

“Baiklah, saya coba lihat dulu ya.” Sementara dosennya itu memeriksa tugasnya, Niki memperhatikan raut wajah Farel yang sendu walau bibirnya tersenyum. Pelupuk mata pria tampan itu masih menyisakan genangan air yang tidak sempat terjatuh.

“Sudah bagus, Niki. Hanya kamu kurang detail. Jangan lupa sertakan hasil kuisionernya agar penelitianmu lebih valid,” ucap Farel sembari menutup tumpukan konsepnya lalu mengembalikannya ke Niki.

“Baik, Pak.”

“Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya Farel karena Niki masih bertahan duduk di depannya.

“Eee, saya sudah dapat jadwal filmnya, Pak.”

“Film? Oh, ya film untuk bahan referensimu? Kapan?”

“Hari Sabtu, jam delapan malam di Mall Hasrat Terpendam, Pak.”

“Sabtu besok? Baiklah saya ada waktu,” sahut Farel setelah sesaat berpikir. Istrinya sedang keluar kota bersama teman-temannya, lebih baik ia menghabiskan waktu malam minggu bersama para mahasiswanya dari pada meratapi nasib pernikahannya di kamar sendirian, “Teman-teman yang lain sudah kamu kabari?”

“Teman-teman yang lain? Eemm ... sudah, Pak. Nanti kami langsung kumpul di depan Bioskop,” sahut Niki cepat, tentunya ia berbohong karena tidak satu pun temannya yang ia kabari tentang rencana ini.

“Baiklah kalau begitu, kita ketemu besok malam di Mall Hasrat Terpendam,” ucap Farel tersenyum lebar.

“Baik, Pak. Terima kasih.” Melihat senyum manis sang dosen, semangat Niki semakin berkobar ingin memiliki pria yang ia sebut dosen itu

Ia tidak peduli jikalau benar Farel sudah memiliki pendamping hidup yang sah, yang ia tahu, Farel tidak bahagia dengan pernikahannya dan ia sangat yakin, Farel akan jauh lebih berbahagia bila bersama dengannya.

...❤️🤍...

Bawa karya bagus untukmu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menahanmu tetap bersamaku

Senyum Niki terkembang sempurna melihat Farel berjalan kearahnya. Dari jarak yang cukup jauh, Niki sudah dapat mengenali sosok pria yang akhir-akhir ini berdiam di hati dan pikirannya.

“Yang lain mana, Nik?” Farel mengedarkan pandangannya ke sekeliling area bioskop mencari kiranya ada wajah yang dikenalnya.

“Mmm, ga tau tuh mereka tiba-tiba batalin. Ada yang bilang acara keluarga, ada yang lagi ga enak badan,” ujar Niki pura-pura kesal.

“Jadi yang nonton cuman saya dan kamu? Kita berdua saja?” Farel tampak merasa tidak nyaman, “Kalau begitu kita jadwalkan ulang saja biar yang lain bisa ikut.”

“Tapi saya sudah beli tiketnya, Pak.” Niki menunjukan dua buah tiket bioskop di tangannya. Sudah sejauh ini, ia tentu tidak akan membiarkan Farel pulang sebelum dapat duduk berdua di dalam bioskop.

Farel memijat pelipisnya. Ia bukanlah pria lugu yang tidak tahu, jika mahasiswinya ini menaruh perhatian padanya, tapi jika langsung tegas menolak ia khawatir mahasiswinya ini bakal sedih dan bisa mempengaruhi penyusunan tugas akhirnya.

“Baiklah, saya temani kamu nonton,” putus Farel akhirnya. Ia berharap dapat menjadi dosen yang baik di awal kesempatan mengajarnya.

“Makasih, Pak. Saya beli popcorn ya.” Tanpa menunggu persetujuan Farel, Niki langsung melesat masuk ke dalam antrian. Farel menggelengkan kepala melihat tingkah Niki.

Ia lalu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, gedung bioskop di akhir pekan dipenuhi oleh banyak pasangan muda. Farel menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan, entah sudah berapa lama ia sudah tidak pernah lagi menginjak gedung bioskop. Seingatnya terakhir kali, ia pergi bertiga dengan Galih dan Marisa yang saat itu mereka berdua masih sebagai sepasang kekasih dan dia hanya nyamuk pengganggu. Farel menghembuskan nafasnya yang terasa berat di dada mengingat perjalanan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Sekali lagi ia mencoba mengirim pesan pada Marisa, walaupun ia tahu kemungkinan kecil akan dibalas oleh istrinya itu.

“Ayo, Pak pintu studionya sudah dibuka.” Suara ceria Niki membuyarkan lamunannya.

Farel berjalan selangkah di belakang Niki, meski ini bukan di kampus tapi di adalah dosen yang sudah mempunyai istri tentunya harus menjaga batasan dengan wanita lain.

“Niki, kamu kenapa ga pilih bangku yang di tengah?”

“Tadi mau pilih tengah tapi sudah penuh, maklum filmnya masih baru,” ujar Niki yang tentunya berbohong. Ia memang sengaja memilih bangku di deretan belakang, di mana tempat yang biasa dipilih oleh pasangan agar bisa berduaan. Farel hanya menganggukan kepala pasrah.

Sepanjang film diputar, berkali-kali Niki menjerit dan merapat ke sisi Farel. Film horor yang menegangkan itu, memang membuat Niki takut dan tidak mengada-ada. Bulu tengkuk dan lengan Farel meremang saat kulit tangannya dan Niki bergesekan.

“Maaf,” cicit Niki untuk kesekian kalinya. Malu tapi bahagia, itulah yang dirasakan Niki. Aroma parfum Farel, bagaikan candu yang memanggilnya untuk tetap merapat ke tubuh pria di sampingnya.

“Kesimpulan apa yang mau kamu ambil kalau nontonnya ga konsentrasi seperti ini?” tanya Farel. Suasana hening dalam bioskop membuat keduanya harus berbisik dan saling mendekatkan wajah.

“Saya baca ringkasan ceritanya sih bagus, nyambung kok sama tema tugas saya,” elak Niki. Jantungnya berdegub kencang saat wajah Farel hampir tak berjarak tepat di depan wajahnya.

Beberapa detik mata keduanya bertaut, Farel yang lebih dulu tersadar langsung menarik tubuhnya mundur bersandar kembali di kursinya. Sisa film berlangsung dilewati Niki dan Farel hanya diam dan saling melirik canggung.

Keluar dari gedung bioskop, Farel tampak gelisah. Ia sesekali melihat layar ponselnya di tengah menimpali pembicaraannya dengan Niki.

“Menurut, Bapak cerita tentang Ivanna sama Danur seram yang mana?” tanya Niki.

“Hah? Ow, menurut saya le ... tunggu sebentar.” Farel menghentikan kalimatnya saat ponsel di tangannya berdering. Jelas terlihat di mata Niki, gambar wanita cantik berambut sebahu muncul di layar ponsel Farel.

Farel berjalan sedikit menjauh dan segera mengangkat panggilannya sebelum orang di seberang sana memutusnya.

“Halo, Echa kamu ga serius ‘kan mau terbang ke Singapura malam ini?” Niki perlahan mendekati Farel yang berdiri menghadap ke tembok. Ia berpura-pura melihat baju yang terpajang di salah satu toko terdekat.

“Mau apa kamu kesana?” Suara Farel terdengar antara emosi dan frustasi.

“Kamu mau menemui dia ‘kan, jujur saja, Echa.”

“Aku suamimu!” Niki hampir menjatuhkan sebuah patung peraga saat Farel berteriak cukup kencang. Beberapa orang yang melewatinya pun sempat menoleh terkejut.

“Pulang, Echa. Aku mohon pulanglah.” Merasa jadi pusat perhatian, Farel merendahkan nada suaranya. Sepertinya orang di seberang sana langsung menutup sepihak sambungan teleponnya, terlihat wajah Farel yang menatap nanar layar ponselnya yang sudah gelap.

Niki masih berdiri di tempatnya semula. Ia mengamati dan membiarkan dosennya itu menata perasaannya dulu. Dari pembicaraan yang ia curi dengar, jelas dosennya itu sedang berselisih paham dengan seorang wanita yang ia panggil Echa dan sialnya wanita itu adalah istri dari dosennya yang ia sukai. Melihat wajah frustasi Farel, Niki mengeluarkan senyum liciknya.

“Maaf, tadi ada telepon penting.” Farel berjalan lunglai menghampiri Niki.

“Ga apa-apa, Pak.” Niki memberikan senyum lebarnya.

“Baiklah, sudah malam lebih baik kamu pulang,” ujar Farel sembari melirik jam di pergelangan tangannya. Niki tidak menjawab, ia berakting seolah sedang memikirkan sesuatu, “Kenapa, Niki?”

“Saya ga bawa kendaraan. Tadi kesini diantar Papa, bilangnya nanti kalau pulang dijemput, tapi Papa baru aja kasih kabar ga bisa jemput karena ada tamu yang mendadak datang,” ujar Niki dengan wajah kalut.

“Lalu apa kata Papamu?”

“Papa bilang naik taxi online, tapi ... saya takut.” Niki menarik rok yang ia kenakan sedikit lebih ke bawah. Ia mau memberi isyarat pada Farel, kalau ia tidak nyaman naik taxi online mengenakan rok yang panjangnya hanya setengah pahanya saja.

Farel meraup wajah dan menyugar rambutnya secara bersamaan. Pikirannya kacau antara pertengkaran dengan istrinya dan memikirkan situasi mahasiswinya sekarang.

“Rumahmu di mana?” tanya Farel setelah berpikir sebentar.

“Perumahan pondok coklat.”

“Saya antar, kamu hubungi Papamu biar beliau ga khawatir,” ujar Farel lalu berjalan mendahului Niki. Di belakangnya Niki melakukan selebrasi dengan mengepalkan telapak tangannya.

Saat duduk di dalam mobil dosennya, Niki berusaha menyembunyikan rasa bahagianya di balik wajah pura-pura sedihnya.

“Kamu kenapa lagi?” tanya Farel. Baru sepuluh menit mobil keluar dari area parkir Mall, mahasiswi centilnya itu mulai bertingkah berusaha menarik perhatiannya lagi.

“Ga apa-apa, cuman agak laper aja,” ujar Niki malu. Tentu saja ia tidak benar-benar lapar. Ia hanya tidak mau malam ini berlalu begitu saja.

Farel menarik nafas panjang, beberapa jam bersama mahasiswi centilnya ini sungguh menguras kesabarannya, “Kamu mau beli makan dulu?”

“Kalau Bapak ga keberatan.”

“Di mana?”

“Cafe Marimasuk aja ya, searah kok,” ucap Niki cepat sebelum Farel berubah pikiran.

Farel sempat ragu saat akan memutar kemudi mobilnya masuk ke dalam area parkir cafe yang ditunjukkan oleh Niki. Cafe itu tampak sangat ramai meski waktu sudah menjelang tengah malam.

“Di sini?”

“Iya, di sini makanannya enak. Yuk.” Niki langsung melompat turun begitu mobil terparkir sempurna. Farel yang awalnya ingin menunggu di dalam mobil, mengurungkan niatnya. Ia segera turun dari mobil dan menyusul Niki, karena banyaknya pengunjung pria yang menatap lapar seakan ingin menelan mahasiswinya itu.

“Saya pesankan Soto Betawi ya, Pak,” ucap Niki yang sudah berdiri di depan kasir.

“Saya ga makan, kamu saja pesan bungkus untuk dibawa pulang.” ujar Farel sembari kembali melihat jam di tangannya. Niki seketika memasang wajah kecewanya.

“Tapi tadi saya sudah pesankan untuk Bapak makan di sini, kalau di rumah saya ga ada teman makan.” Niki semakin menunjukan raut wajah sendu.

“Heehh, baiklah. Jangan lama-lama, saya ga enak sama orangtua kamu antar pulang anak gadis terlalu malam.”

“Siap, Pak.” Wajah yang semula suram dalam hitungan detik berubah kembali ceria.

“Hai, Niki jalan sama siapa?” Sapaan dan tepukan di pundak membuat keduanya serempak menoleh ke belakang.

...❤️🤍...

Bawa cerita bagus untukmu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!