NovelToon NovelToon

Hasrat Terlarang Pembantu

Menyelamatkan Tuan Muda

🌹🌹🌹🌹

Brakk!!

"Sialan Kalian!" Kedua mata Franklin memerah tatkala melihat pemandangan tak senonoh di hadapannya.

"Franklin!"

"Heh! Mau apa si bodoh itu kemari?!"

Kedua manusia yang sedang asik-asiknya bergelut panas. Buru-buru memisahkan diri mereka, serta menarik apapun untuk membungkus tubuh polos mereka.

"Jadi ini yang kalian lakukan di belakangku! Menjijikkan!" hardik Franklin. Pria tampan itu, mengeratkan rahangnya seraya mengepalkan kedua tangannya. Menahan gemuruh dan amarah yang membakar akal sehatnya.

Dimana dihadapannya ini, istri serta sahabatnya sendiri tengah bergumul panas di atas peraduan sebuah hotel mewah. Berkat, kekuasaan serta uang yang di milikinya. Franklin meminta pihak hotel untuk memberinya akses terhadap kamar tersebut.

" Sekarang, kau 'kan sudah tau, jadi menyingkir lah!" Alexander, pria berkulit eksotis dengan bentuk badan yang atletis itu, tersenyum miring. Ia merangkul bahu polos Raisa, yang masih sah menjadi istri dari Franklin sahabatnya.

"Anjing pun tidak akan menggigit tuannya sendiri! Kau, penghianat busuk!"  Franklin tak dapat lagi menahan emosinya. Ia mendekati Alex kemudian memukuli pria itu hingga selimut yang menutupi bagian bawah Alex terbuka.

Buukk!!

Dugghh!!

Tubuh kekar Alex terjerembab dan tersungkur.

Satu-dua pukulan telah mendarat di wajah tampannya, hingga darah mengucur dari hidung serta ujung bibirnya. Bagaimanapun, Alex tak bisa menandingi keahlian beladiri Franklin.

Franklin menarik nafasnya, berusaha mengontrol degup jantungnya yang tak beraturan, sisi dada kirinya sakit, tapi dia mencoba mengabaikannya.

  ‘Bagus saja Franklin tengah keracunan, jika tidak aku pasti akan dipukulinya hingga mati.’ batin Alex.

"Segitu saja? Ayo pukul aku lagi!" tantang Alex. Pria itu tau penyakit yang di sembunyikan oleh mantan sahabatnya itu. Ya mantan, karena kini Franklin telah mengetahui kebusukannya.

Alex sengaja, membiarkan Franklin emosi dan menghajarnya bertubi-tubi. Karena, yang akan tumbang nanti bukanlah dirinya melainkan Franklin sendiri.

Franklin semakin meremas dada kirinya,  rasa sakit serta nyeri itu semakin menjadi. Bahkan, ia mulai kesulitan bernapas serta pandangannya mulai kabur.

"Sebaiknya kau sadar diri, Franklin! Aku tidak membutuhkan pria yang lemah! Kau, bahkan tidak mampu untuk melindungi dirimu sendiri!" sarkas Raisa,  wanita itu membantu Alex  bangun lalu merangkulnya.

‘Kau tidak akan mati sekarang suami payah! Kau masih memiliki waktu satu purnama lagi, itu jika kau masih bertahan.’

Raisa terus tertawa dalam hatinya. Sejak awal ia tidak pernah mencintai Franklin. Sebuah dendam berkarat, yang telah membuatnya berada di titik ini.

"Kau, pulang saja sana! Biarkan aku bersenang-senang dengan Alex. Kau silakan bermain dengan pembantu saja, dia tidak akan menuntut macam-macam padamu." Raisa berkata tanpa perasaan sama sekali. Tak ada rasa bersalah dan malu di hatinya, ketika sang suami memergokinya secara langsung, dirinya tengah di tunggangi.

Franklin tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia menyimpan tenaganya agar tidak pingsan saat ini. Ia berusaha kuat di hadapan para penghianat. Sahabat serta istrinya sendiri, yang berselingkuh juga membodohi nya.

Merencanakan untuk mengambil sebagian harta warisan kakeknya. Sungguh, Franklin merasa di permainkan bagai sampah tak berguna. Penyakit yang di deritanya, telah membuatnya menjadi manusia lemah.

"Nikmatilah, Raisa. Selagi, kau masih bernapas, tertawalah di atas penderitaan ku. Suatu saat, aku akan membalas kalian berdua!" ancam Franklin dengan suara yang terputus-putus. Emosinya, membuat dadanya bergemuruh hebat hingga adrenalin nya berpacu dengan cepat.

"Jangan emosi dong, kau tidak mau mati muda 'kan? Franklin, cucu kesayangan Oma Elli!" ledek Raisa dengan tawa meremehkan. Memandang keadaan menyedihkan dari pria yang tertulis sebagai suaminya itu.

"Terima saja, nasib mu! Harta warisan Opa sebentar lagi jatuh ke tanganmu bukan? Hanya menunggu sampai tiga bulan pernikahan kita saja, dan itu adalah pekan depan. Jadi, kau jangan mati dulu, setidaknya tunggulah sampai hak waris itu jatuh ke tanganmu." Raisa berkata dengan senyum jahat menghias wajah cantiknya.

  ‘Aku sangat mencintaimu, Rai. Tapi kenapa kau balas cinta dan ketulusanku ini dengan racun dan penghianatan? Kenapa kau menipuku? Apa salahku Rai?’

Franklin menatap nanar wanita setengah bugil yang masih sah sebagai istrinya itu. Wanita yang ia nikahi atas dasar cinta dan kasih sayang, hingga Franklin rela memberikan apapun yang diminta olehnya.

Tapi, ternyata wanita itu telah menipunya. Berkerja sama dengan sahabat nya sendiri, meracuninya dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya secara perlahan.

" Kau, sangat kejam sayang." Alex memuji Raisa seraya mengecup bibirnya dari samping. Sengaja, melihat wajah sengsara Franklin membuatnya bahagia. Benar-benar sahabat terlaknat seantero galaksi.

‘Kejahatan nampak di depan mata, tapi aku tak berdaya untuk menghentikannya. Oma Elli, akan terkena serangan jantung jika mengetahui kejahatan mu Rai. Biar aku saja yang pergi, demi menghentikan persekongkolan dua iblis ini.’

"Apa kau sedang berpikir untuk mati? Bersabarlah, sepekan lagi. Jadikan aku janda berharga dengan kekayaan peninggalan suaminya." Raisa dan Alex pun tergelak bersama.

"Tidak akan! Kalian berdua tidak akan menikmati apapun dari ku! Permainan kalian berakhir seiring dengan berakhirnya nyawaku." Franklin berkata dengan nada dingin.

Pria itu melangkah lunglai meninggalkan kamar   panas membara yang meninggalkan sesak di dalam dadanya.

"Hei, dia pergi begitu saja!"

" Dia tidak berniat bunuh diri kan?" risau Alex tiba-tiba.

"Tidak, mungkin. Mana berani dia!" tampik Raisa.

Franklin terus melangkah. Ia sudah memutuskan, untuk mengakhiri semuanya. Hingga, kedua kakinya membawanya menjauh, keluar dari gedung hotel. Menyebrangi jalan raya yang ramai. Hingga beberapa kendaraan meneriakinya dengan klakson kencang.

Franklin tetap terus berjalan, melangkahkan kakinya memasuki gedung, tatapannya kosong. Di dalam pikirannya saat ini adalah, sekarang atau pun nanti dirinya memang akan mati. Lalu, apa salahnya jika ia mempercepat takdirnya.

  ‘Ku harap kepergianku dapat mengakhiri semuanya. Maafkan aku, Oma. Rai, aku akan membawa cintaku ke alam baka. Berharap di kehidupan selanjutnya, aku akan mendapatkan hati dan cintamu yang tulus.’ Franklin bergumam dalam hatinya. Hingga ia tak menyadari jika kakinya telah membawanya hingga berada di puncak gedung tertinggi.

"Jangan lakukan hal bodoh itu! Aku akan membuat, Tuan melupakan dia!" pekik Vynnitta pada pria yang tak lain adalah majikannya itu.

Sementara Franklin seakan sudah tuli tak bergeming di atas sana. Meskipun Vinnytta berkali-kali berteriak padanya. Pembantunya itu melihatnya menyebrang dengan asal hingga mengikutinya sampai ke atas gedung ini.

"Untuk apa, anda putus asa hanya demi dia? Apa anda itu sudah menjadi bodoh karena cinta?" sindirnya, ia sengaja hendak memancing emosi Franklin Marquise. Berharap, pria itu berbalik dan tak jadi melompat.

Pria bertubuh tinggi tegap yang tak lain adalah majikannya selama enam bulan itu, tak bergeming. Franklin merasakan angin kencang menerpa tubuhnya. Kata-kata wanita di bawah sana, telah menghentikan sementara kakinya yang hendak melangkah menginjak udara. Karena, dirinya kini berada ujung gedung tertinggi, di pusat kota itu.

"Ternyata, pria tampan dan kaya itu, tak semuanya berotak normal! Percuma saja, kau punya darah bangsawan! Jika, nyawamu saja lebih rendah dari seekor kutu!" teriaknya lagi, terus memancing emosi Franklin.

Terlihat, sebelah tangan pria itu terkepal. Frank, memang tak kuasa mendengar hinaan dari orang yang ia anggap rendah dari dirinya. Terutama, Vynnitta. Dimana gadis itu adalah perempuan yang ia anggap bodoh karena telah di DO dari kampusnya. Satu lagi, perempuan itu adalah pembantunya sendiri.

"Mati lah! Maka Raisa, istri yang kau banggakan itu akan menertawakan mu bersama dengan pacar barunya!"

"Jadilah orang bodoh dan lemah! Ayo ... melompat saja sana!" teriaknya  lagi, meski jantungnya  berdegup dengan kencang. Takut, jika Franklin benar-benar akan melompat.

"Gadis sialan! Pembantu bodoh!" umpat Franklin pelan. Pria itu mengeratkan giginya.

"Alexander memang lebih hebat darimu, karena dia tidak akan melakukan hal bodoh demi Raisa!" Vyn, terus menyerang sisi arogan dari Franklin.

Kaki itu mundur selangkah, dua langkah. Seketika raga atletis dengan tinggi 185cm itu, berbalik, lalu melompat.

Hap!

Bugh!

"Akh!" pekik Vyn, merasakan tulang punggungnya nyeri karena terbentur dinding.

"Apa yang kau katakan barusan? hah!" hardik Franklin, yang tengah mencengkeram dagu Vyn.

"Apa anda sudah tuli, Tuan yang terhormat?" ledek Vyn, dengan tawa, meski pria di hadapannya ini terus mengikis jarak dengan tubuhnya.

" Beraninya kau!" Franklin semakin mengeratkan cengkeramannya.

"Jangan melunjak, hanya karena aku pernah menciummu! Bagiku, itu adalah kesalahan terburuk dalam hidupku." Franklin berkata dengan datar dan dingin, anehnya meski pun marah ia tidak merasakan sesak di dadanya.

Hati gadis itu sangatlah, sakit. Tapi, ia tak peduli. Baginya kini, yang terpenting, Tuannya tak jadi melompat dari gedung. Maka, ia masih punya muka untuk menghadap Oma Elli. Nenek dari majikannya itu. Vyn, juga tidak bisa melihat  Franklin mati di hadapannya.

Tap ... Tap ... Tap!

Beberapa pria berseragam menghampiri mereka.

"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya salah satu dari pria berpakaian serba hitam itu. Untung saja, mereka datang terlambat. Karena, jika tidak pasti akan membuat keadaan semakin genting.

 

"Kau, tunggu aku di dalam kamar! Karena urusanku denganmu belum beres!" titah Franklin pada Vyn dengan gaya ketus seperti biasa.

 

"Kalian bertiga, ikut aku!" titahnya pada  anak buahnya itu. Lalu, pria dengan wajah kaku serta hati sedingin es itu melangkah cepat, seolah barusan tidak terjadi apapun.

 

‘Pria itu, bisa-bisanya ia berlagak sekarang. Tadi, siapa yang ingin sekali mati. Ya Tuhan, kenapa aku harus jatuh cinta pada manusia gletser itu.’ Batin Vyn, merutuki kebodohannya.

 

Vyn, akhirnya ikut dengan  pengawal Franklin. Hingga kini mereka telah sampai di mansion milik keluarga Marquise Boudouin.

 

"Vyn!" pekik Elli, wanita yang

berusia 60 tahun, tapi masih nampak sangatlah bugar.

"Nyo–nya," lirih Vyn, mau tak mau menerima pelukan dari pemilik kekayaan nomer sepuluh di negeri ini.

 

" Kau darimana Vyn? Kenapa begitu lama hanya untuk berbelanja?" tanya wanita paruh baya dengan pakaian rapi dan tongkat di tangan kanannya.

"Maaf Nyonya, tadi ada sedikit kendala di jalan," jawab Vyn sengaja menutupi yang sebenarnya.

 

"Berapa kali, sudah kubilang . Call me, Oma. Seperti yang lainnya," pinta Elli, sedikit merajuk.

"Ah, ya. Baiklah, Oma," ucap Vyn dengan seulas senyum manis. Membuat oma Elli, kembali memeluknya.

Bersambung>>>

Racun Beku

🌹🌹🌹🌹

 

[Menikahlah! Dengan tuan Arnots maka ayah akan sangat berterima kasih padamu. ]

 

[Tidak ayah, aku tidak mau! Menikahi bandot tua hanya demi harta. Aku ingin menikah karena cinta!]

 

[ Pria itu kaya dan terpandang. Kau gadis yang  beruntung bila menjadi istrinya]

 

[ Tidak ayah! Jangan memaksaku! Aku masih ingin melanjutkan kuliah dan mengejar cita- citaku]

 

[Kuliah! Gadis bodoh sepertimu, kapan mau lulus, hah!]

[Aku tetap tidak mau, ayah]

 

[Anak tidak tau, di untung! Kau telah membuatku menyesal, karena memiliki anak perempuan, dan bukan laki-laki! Pergilah! Dan jangan kembali sebelum kau menghasilkan uang!]

 

"Huh ... hah ... Huufftt ...!" Vyn mengatur napasnya yang tersengal, ternyata ia tertidur di atas kasur Franklin. Ini adalah kamar pribadi Franklin, semenjak Raisa tidak lagi mengurusnya.

 

Vyn, memang terkadang tidur di kamar ini. Di sofa besar pojok samping jendela yang menghadap langsung keluar. Oma Elli, menugaskannya merawat Franklin jika Raisa keluar kota.

 

Keadaan, Franklin yang sering sakit-sakitan, ternyata hanya cocok jika Vyn yang mengurusnya. Karena Franklin adalah tipe orang yang tak mudah di dekati atau percaya dengan orang lain.

 

Sejak itulah, sering nya Vyn bertemu dengan Franklin. Bermula dari simpati dan kasihan, akhirnya menumbuhkan rasa yang terlarang di hatinya.

 

𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶. 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘭𝘢𝘨𝘪𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘍𝘳𝘢𝘯𝘬𝘭𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘙𝘢𝘪𝘴𝘢. 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯, 𝘪𝘢 𝘳𝘦𝘭𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘦𝘮𝘪 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘪𝘵𝘶. 𝘈𝘬𝘶, 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶.

 

Vyn, menyugar rambutnya. Matanya terpejam seraya menarik napas dengan dalam.

Vyn,menatap ruangan itu nanar, sepi. Ternyata, Franklin belum juga pulang. Sementara jam, telah menunjukkan pukul 22. 30 malam.

Vyn, mendengus kasar.

"Kemana, Franklin? oma, tumben gak bangunin aku?" gumamnya seorang diri.

 

Kamar ini, memang terhubung dengan kamar utama, dimana sebelumnya Franklin dan Raisa tidur bersama.

Sampai saat ini, oma Elli belum mengetahui kebusukan Raisa. Elli hanya tau bahwa Raisa, juga sibuk bekerja mengurus perusahaan keluarga Matthew.

 

"Mimpi itu lagi! Kenapa serasa begitu nyata?" Vyn mengusap wajah dengan kedua tangannya.

 

"Ayah, kau pasti akan menyesal telah mengusirku. Ku pastikan, aku akan pulang, serta membawa uang yang banyak. Perjodohan  terkutuk itu pasti akan aku akhiri." Vyn meremas seprai dengan kencang. Ia telah bekerja keras, mengumpulkan uang dari pekerjaannya. Walaupun, sebagai 𝙢𝙖𝙞𝙙 di keluarga Marquise Boudouin.

 

"Aku bertahan karena gaji di sini sangat besar. Ingat, kau hanya bekerja, jangan memikirkan hal lain." Vyn, terus bergumam sendiri. Dan, tiba-tiba ...

 

Bruakk!!

 

Pintu kamar di buka dengan kasar oleh Franklin.

 

Bukk!!

 

"Tuan!" pekik Vyn. Buru-buru ia turun dari kasur lalu menghampiri majikannya  yang tersungkur.

 

"Apa yang terjadi denganmu?" bingung Vyn. Dirinya kini telah meletakkan Franklin di atas kasur, tubuh pria itu berkeringat sangat banyak. Napasnya memburu dengan mata yang terpejam.

 

"Apa penyakitmu kambuh lagi? apa yang  bisa ku lakukan sekarang? ha, aku harus melaporkan ini pada oma, agar memanggil Dokter Patric kesini." Vyn, pun hendak berdiri, akan tetapi tangan Franklin mencekal nya kuat.

 

" Tu–tuan? kenapa?" herannya.

"Ja ... ngan," lirih Franklin pelan, dengan napas yang terputus-putus.

 

"Tuan, apa racun dingin itu menyerang anda lagi? saya yakin, ini bukan penyakit jantung biasa," tebak Vyn. Membuat mata Franklin yang terpejam sedikit membuka.

 

"Tolong, aku, Vyn ...," pinta Franklin lirih. Cekalannya semakin kuat mencengkeram tangan Vynnitta.

 

"A–apa yang harus aku lakukan?" Vyn semakin bingung, bahkan ia juga sampai keluar keringat dingin.

 

"Saya akan mengganti pakaian anda terlebih dulu. Karena, pakaian anda sangat basah, saya khawatir justru bisa membuat anda masuk angin." Vyn, kemudian berlalu menuju walk in closet.  Mengambil kaos dengan bahan adem yang menyerap keringat. Tak lupa juga dalaman hingga celana panjang. Karena, Franklin tidak suka mengenakan celana pendek.

 

"Mari, Tuan." Vyn, perlahan mulai membuka pakaian Franklin. Ia membuka kancing kemeja itu satu persatu dengan cepat, lalu beralih pada celana panjangnya.

 

 Sampai di bagian ini, Vyn masih biasa saja. Karena, yang ada di dalam pikirannya hanyalah khawatir terhadap majikannya. Apalagi, Franklin terlihat meringis menahan sakit.

 

𝘙𝘢𝘤𝘶𝘯 𝘥𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘣𝘶𝘩 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢. 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘬𝘶𝘯𝘰, 𝘳𝘢𝘤𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶  𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘧 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯. 𝘏𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢, 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘫𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯.

 

Vyn, begitu tak tega melihat keadaan Franklin. Di luar dari sikap buruknya, terhadap Vyn. Ia, tetap tak bisa membiarkan tuannya ini menderita di hadapannya. Inikah yang dinamakan cinta buta? apakah dirinya termasuk jajaran manusia bodoh?

 

Tangan Vyn, sontak berhenti. Tepat, di bagian segitiga biru milik Franklin. Bahkan, ia melengos kan wajahnya yang memerah.

 

"Aku harus bisa! Ini demi menolongnya. Tidak ada maksud apa-apa. Aku, tidak akan melihatnya, sungguh." Vyn berbicara sendiri. Sementara itu, tubuh Franklin semakin gemetar.

 

"Aku akan cepat, aku akan cepat!" Vyn sedikit berteriak ketika membuka penutup benda pusaka Franklin, demi menutupi kegugupan dalam dirinya. Lalu, ia tidak bisa melakukan hal yang serupa ketika memakaikannya.

 

"Haih, memakaikannya akan lebih sulit." Vyn bergumam masih dengan mata yang terpejam.

 

"Baiklah. Akan ku coba tanpa melihat." Vyn, melanjutkan kegiatannya. Ia memakaikan segitiga dengan mata tertutup, akan tetapi ...

"Akh! Aku tidak sengaja menyenggolnya!" Vyn memekik, lalu ia membekap mulutnya. Padahal, kamar itu kedap suara.

 

" Maaf, Tuan," ucap Vyn lirih. Lalu dengan cepat ia dapat menyelesaikan tugas yang sangat menegangkan itu.

 

"Fiuuhh!"

"Ini, lebih sulit ketimbang ketika menyelesaikan tugas dari dosen killer." Vyn menyeka keringatnya yang bercucuran. Padahal hanya memakaikan celana saja.

 

"Sekarang celana panjangnya. Aih, kenapa bagian itu menonjol? Ah, mata suci ku," Vyn meringis melihat penampakkan di hadapannya.

 

"Selesai. Kini, tinggal kaos nya." Vyn beralih ke bagian atas tubuh, Franklin. Ia menyeka keringat pria itu sebelum mengganti bajunya.

 

Seketika itu juga, Franklin terlihat melenting kan tubuhnya ke atas. Dengan kedua tangan terkepal serta gigi yang terkunci rapat.

 

" Tuan!" pekik Vyn, spontan ia memeluk tubuh yang sedingin es itu.

 

"Kenapa hanya bagian atas yang dingin, tapi bagian bawahnya tidak? tuan, bertahanlah! Jangan mati di hadapanku!" Vyn semakin mengeratkan pelukannya. Hingga, kejang Franklin berangsur-angsur reda.

 

"Tu–tuan?" Vyn, mendongak, ketika ia merasakan, sebuah tangan yang merangkulnya erat. Ternyata, mata Franklin sedikit terbuka, meski sayu. Entah, atas dorongan apa? Vyn, malah mendekatkan wajahnya pada pria itu.

 Di luar  bayangannya, ternyata pria itu meraup bibirnya dengan cepat dan rakus.

 

𝘌𝘯𝘵𝘢𝘩, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘪 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶, 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘣𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘯𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘚𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘮𝘢𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘩𝘶  𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘪𝘬. 𝘚𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯, 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘶 ... 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘳𝘪𝘭𝘦𝘬𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨.

 

Vyn, tak merasakan lagi pergerakan dari Franklin. Ia pun melepaskan tautan panas dari bibir mereka barusan. Seketika bibirnya mengerucut ke depan.

 

"Bagus ya, setelah mengambil ciuman keduaku, kau pun tertidur. Besok, kau pasti tidak akan mengaku dan berakhir memaki diriku. Dasar, majikan jahat!" umpat, Vyn.

" Tapi, kenapa aku tidak bisa benci padamu? bahkan, setiap kita berciuman aku merasa semakin bugar, dan otakku tiba-tiba cemerlang." Vyn, bergumam dengan spekulasi asalnya. Sembari menaikkan selimut, hingga batas leher Franklin.

 

" Sepertinya, aku akan awet muda jika terus-terusan di cium oleh tuan muda tampan seperti dirimu." Vyn, terkekeh dengan ucapan ngaconya sendiri.

"Kau pasti sudah gila, Vyn. Ya, gila karena cinta di tambah bodoh juga." Akhirnya, Vyn menghela napasnya dengan berat.

 

" Yang penting, keadaanmu sudah baik-baik saja, tuan muda ku yang tampan. Tapi, sayangnya kau juga bodoh! Karena sudah cinta mati dengan si ratu ular derik." Vyn, pun beranjak ke sofa besar di samping jendela.

 

"Sampai kapan aku harus menemani, si raja 𝙋𝙤𝙡𝙖𝙧 𝘽𝙚𝙖𝙧? bagaimana perasaan ku tidak tumbuh semakin subur, jika tiap malam aku selalu di suguhi wajah tampan bin manisnya itu." Perlahan kedua mata Vyn, pun menutup. Seiring mulutnya yang juga berhenti bicara seorang diri.

Bersambung>>>

Mencuri Kehangatan.

🌹🌹🌹🌹🌹

𝘛𝘶𝘣𝘶𝘩𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘶𝘨𝘢𝘳 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘪𝘯𝘪. 𝘚𝘦𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘬𝘶, 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘬𝘶. 𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪 𝘉𝘳𝘢𝘯𝘥𝘺. 𝘋𝘦𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘳𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘪𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘶, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘪𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘨𝘦𝘫𝘢𝘭𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘥𝘢.

Franklin, buru-buru turun dari kasurnya. Sebelum pembantunya itu menyadari, bahwa dirinya sudah bangun. Ia tak ingin, beradu mulut setiap kali mereka bertatap muka.

"Aku akan mengucapkan terima kasih padamu, nanti." Franklin menaikkan selimut Vyn yang melorot. Tanpa di duganya, gadis itu justru menarik tangannya.

𝘚𝘪𝘢𝘭! 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘩, 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘮𝘶𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳. 𝘏𝘢𝘪𝘩𝘩, 𝘱𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨.

Franklin berusaha menarik tangannya, dari cekalan Vyn. Akan tetapi, gadis itu malah meletakkan tangan Franklin ke depan dada seraya memeluknya.

"Hei kau! Apa-apaan ini!" Tanpa sadar Franklin berteriak. Namun, Vyn tetap saja tertidur dengan pulas.

"Bagaimana bisa? seorang majikan bangun lebih dulu dari pembantunya?" geram Franklin sembari mengeratkan rahangnya.

Franklin yang sejak menikah hanya di beri jatah beberapa kali oleh Raisa. Merasa seketika tubuhnya memanas, karena Vyn meletakkan telapak tangan Franklin di dadanya.

 Bagaimanapun, ia adalah pria normal. Seorang suami yang telah lama di abaikan oleh istrinya sendiri. Semenjak, racun itu menggerogoti tubuhnya, keperkasaannya mengalami penurunan drastis.

Raisa pun mempermasalahkan hal itu, dirinya seakan memiliki alasan logis untuk berselingkuh dengan pria lain.

Melihat Raisa tanpa pakaian pun, Franklin tidak akan bereaksi. Hasratnya seakan mati rasa. Akan tetapi tidak dengan perasaan cintanya. Hatinya sangat sakit dan kecewa mengetahui pengkhianatan keduanya di depan matanya sendiri.

𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘨𝘦𝘭𝘰𝘳𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘵𝘪𝘣𝘢-𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘴𝘦𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘥𝘪𝘩 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘬𝘶. 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭, 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬! 𝘋𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢! 𝘈𝘩, 𝘦𝘮𝘱𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭. 𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘏𝘦𝘪! 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯, 𝘍𝘳𝘢𝘯𝘬𝘭𝘪𝘯!

Lagi-lagi, pria itu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman gadis di atas sofa. Seketika Vyn menggeliat, membuat kancing atas pada piyamanya terbuka.

"Sial! Apa gadis ini sengaja menggodaku!" umpat Franklin dengan suara yang tertahan. Masalahnya, posisi tidur Vyn, justru memperlihatkan sedikit dadanya yang nampak padat serta mulus.

Franklin, tak dapat lagi menahan gejolak di dalam dirinya. Keinginan yang telah lama tidak keluar dari dalam tubuhnya. Sebuah gelora yang sekian purnama tidak lagi ia rasakan. Kini, tiba-tiba bergejolak seperti ada sesuatu yang ingin ia ledakkan dari dalam dirinya.

Entah kemasukan setan apa, tiba-tiba tangan Franklin terulur cepat, membuka kancing piyama Vyn satu persatu. Hingga, bongkahan dengan penutup berwarna merah itu nampak jelas memancing air liurnya. Franklin menyentuhnya, perlahan.

Hangat dan empuk, lalu ia memberi remasan pelan. Sambil memperhatikan pergerakan atau reaksi dari gadis yang tengah tertidur pulas itu. Ketika di rasa, tak ada reaksi dari Vyn. Franklin tak tahan lagi, lalu ia memajukan wajahnya.

𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘯𝘪, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘶𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘴𝘶𝘮. 𝘔𝘦𝘯𝘪𝘬𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘮-𝘥𝘪𝘢𝘮. 𝘛𝘢𝘱𝘪 ... 𝘢𝘳𝘰𝘮𝘢 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢.

Franklin terus bermain-main di kedua puncak gunung himalaya tersebut, karena ia telah membuka pengait di kedua tali depannya.

Pria itu begitu menikmatinya, hingga suara desah merdu keluar dari sang pemilik gunung.

𝘚𝘪𝘢𝘭! 𝘈𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯?

Franklin, mendongak dengan keadaan bibirnya yang masih belum melepas puncak gunung.

𝘓𝘶𝘢𝘳 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢! 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘴 𝘳𝘶𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘯𝘪, 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘪𝘩? 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘰𝘴𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳. 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘦𝘩 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶.

Franklin melepaskan mulutnya dari kedua bongkahan milik Vyn, merapikan kembali pakaian gadis itu seperti semula. Lalu, iapun segera beranjak keluar sebelum keinginan lainnya tak lagi mampu ia redam. Ia benar-benar merasa keanehan yang nyata pada dirinya.

𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘝𝘺𝘯, 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢. 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯, 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘬𝘶. 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘔𝘦𝘮𝘢𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯.

Tap. Tap. Tap ...

Franklin melangkah keluar dari lift, yang membawanya dari lantai atas, menuju lantai bawah mansion mewah peninggalan opa Marquise.

Tanpa ia sadari, sepasang mata tajam dengan senyuman sinis nya tengah memperhatikan dirinya dari balik dinding di lantai sebelumnya.

𝘍𝘳𝘢𝘯𝘬𝘭𝘪𝘯, 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵. 𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳-𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘪𝘯𝘪. 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯. 𝘗𝘦𝘳𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳-𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘪𝘯𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯.

Wanita itu, mencengkeram pagar pembatas di lantai tempatnya berdiri dengan anggun.

"Rai!" panggil seorang wanita tua yang masih terlihat bugar dan cantik. Meski seluruh rambutnya telah berubah warna.  Tongkat berkepala rubi dengan ukuran yang cukup besar, selalu setia di bawanya. Entah untuk apa, sedangkan wanita itu masih gagah ketika berjalan.

"Oma Elli." Wanita yang bernama Raisa itu pun segera menghampiri, wanita tua.

"Kapan kau pulang ke mansion ini? kenapa Oma tidak tau?" tanya oma Elli dengan raut wajah penuh kerinduan. Sepertinya, wanita itu tidak tau apa yang telah di lakukan wanita ular derik itu terhadap cucu kesayangannya. Cucu satu-satunya. Entah, apa yang akan terjadi? jika oma Elli mengetahuinya.

"Dini hari, Oma. Maaf, jika aku belum sempat menemui mu. Kau sepertinya sangat sehat dan bertambah cantik saja," puji Raisa. Membuat wanita tua itu senang dan tersenyum.

"Kau ini, paling bisa menyanjungku. Apa kau sudah sarapan?" tanya Oma Elli yang tengah di rangkul oleh cucu menantunya itu.

"Tentu saja, belum Oma sayang. Baru saja, aku ingin mengajak Franklin, tapi dia keburu pergi," jelasnya lesu dengan mimik wajah yang di buat-buat.

"Haih, kau ini. Apa kalian belum bertemu?" tanya Oma Elli.

" Belum, Oma. Aku langsung masuk kamar dan tertidur. Sementara Franklin ada di kamar sebelah yang terkunci dari dalam. Ku pikir, aku akan menemuinya pagi ini. Ternyata, dia keburu pergi," ucap Raisa lirih dengan raut wajah yang di buat sedih.

"Sudah, sudah. Nanti, biar Oma yang menghubunginya. Sekarang, kau temani   aku sarapan. Dasar cucu nakal! Selalu saja pergi meninggalkan Oma." Oma Elli, merajuk dengan manja. Lalu, kedua wanita berbeda generasi itupun menuruni tangga beriringan.

𝘊𝘪𝘩, 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘐𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘴𝘪𝘯𝘪. 𝘈𝘨𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘦𝘤𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘮𝘣𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘭𝘮𝘶 𝘪𝘯𝘪.

Raisa terus memasang senyum manis nan lembut di wajah cantik teduhnya itu. Tanpa ada yang tau, di balik wajah polosnya tersimpan naluri yang lebih kejam dari serigala.

________

"Eungghh!" Vyn menggeliat hingga tubuhnya menggelinding ke bawah.

"Aduhh!" pekiknya, ketika bokongnya mendarat dengan mulus di atas lantai marmer. Karena, karpet berbulu hanya melapisi sampai di bawah kasur Franklin saja.

"Eh, tuan muda sudah bangun rupanya." Vyn berdecak kecewa.

"Kenapa aku bisa bangun kesiangan? dan, mimpi itu aneh sekali. Serasa begitu nyata. Bahkan, sepertinya bagian bawah tubuhku sedikit lembab. Ck, apa ini yang di bilang mimpi basah ya?" Vyn, pun terbangun dengan berbagai kebingungan yang menyelimuti otak polosnya.

🐾Atuh, makanya tidur jangan keblug banget neng! Di sedot ama codot ampe kagak kerasa😁

Heh! Masa Franklin disamain ama codot sih? 🙄

Note:

Codot ( kelelawar kecil pemakan buah)

Keblug ( tidur terlalu pulas/ susah di bangunkan ).

Bersambung>>>>

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!