NovelToon NovelToon

Aku Yang Kau Buang

Kabar Baik atau Buruk?

"Bagaimana, Dok? Apa yang terjadi sama majikan saya?" tanya seorang wanita paruh baya berdaster lusuh dengan segera begitu dokter yang memeriksa majikannya membuka tirai pemeriksaan.

Disusul seorang wanita muda dengan wajah pucat pasih berjalan tertatih-tatih. Bi Sari dengan segera membantu dan mendudukkannya di kursi bersebrangan dengan dokter wanita tersebut.

"Bagaimana, Dok?" ulangnya kembali bertanya.

Dokter tersebut tersenyum, menuliskan hasil pemeriksaan juga sebuah resep yang harus ditebus. Ia menumpuk kedua tangan penuh wibawa di atas meja, memandang kedua wanita berbeda usia di depannya yang tak sabar ingin segera mendengar hasil pemeriksaan tadi.

"Nyonya tidak apa-apa, ini adalah hal wajar yang biasa terjadi pada seorang wanita hamil di trimester pertama. Jadi, tidak ada yang perlu dirisaukan," ucapnya dengan sangat tenang dan mendayu seperti lagu Melayu tentang cinta.

Namun, respon kedua wanita di hadapannya, tidak seperti yang dia pikirkan. Sang majikan dan asistennya termangu dengan kedua bibir yang membentuk celah. Tak ada ekspresi hanya kelopak mata mereka saja yang terus berkedip tak berhenti.

"Ibu, Nyonya! Saya-"

"Apa, Dok? S-s-saya ha-hamil?" tanya wanita tersebut terbata dan hampir tersedak liurnya sendiri.

Dokter tersebut mengangguk dengan senyum kecil tersemat manis di bibir. Ada lesung pipi kecil di kedua sisinya, menambah manis sosoknya.

Ia berkata, "Usia kandungan Nyonya baru memasuki Minggu ketiga."

Wanita itu terperangah, rasa tak percaya, tapi teramat bahagia menjejali rongga dada. Ia menutup mulutnya dengan tangan, setetes air jatuh dari salah satu bagian matanya. Tangan yang lain ia gunakan mengusap perut yang masih sangat rata. Diliriknya si jabang bayi yang masih terbungkus kulit sang Ibu.

"Selamat, Non. Akhirnya Non hamil juga, Bibi sangat bersyukur sekali," ucap wanita paruh baya itu pada sang majikan.

"Iya, Bi. Alhamdulillah."

"Yah, seperti itulah seharusnya. Selamat, ya, Nyonya. Jangan stress, jangan banyak pikiran, makan makanan yang bergizi. Jika nanti ada mual dan muntah, jangan kaget. Itu hal wajar. Ini ada resep tolong tebus di farmasi, ya," ucap dokter tersebut sambil menyerahkan secarik kertas berisi tulisan tangannya.

"Terima kasih, Dokter," sahut wanita itu seraya mengambil kertas tersebut dari tangan dokter.

Keduanya berpamitan, dan kembali mengantri untuk menebus obat yang diresepkan dokter.

Aku mau buat kejutan buat Mas Zafran, pasti dia seneng karena sebentar lagi akan jadi Ayah.

Ia bergumam dalam hati sambil mengusap-usap perut ratanya.

******

Seira, wanita berusia dua puluh lima tahun, istri seorang juragan beras bernama Zafran, 33 tahun. Hidupnya bahagia dan bergelimang kemewahan setelah menikah dengan laki-laki itu.

Namun, sampai lima tahun pernikahannya, ia belum juga hamil. Entah apa yang terjadi, tapi Zafran tidak pernah mempersalahkan itu semua.

"Mas, kenapa kita belum juga dikasih anak, ya?" keluhnya saat itu.

"Sudahlah, jangan mikirin yang kayak gitu mulu. Yang penting kamu sehat dan selalu melayani aku," jawabnya di ketika itu.

Zafran amat menyayanginya, lantaran Seira adalah seorang kembang desa di wilayah tersebut. Banyak lelaki yang menginginkannya, tapi hanya juragan Zafran yang berhasil menaklukkan sang kembang.

Selain itu, Seira juga disebut titisan sang Dewi Sri karena sering membantu para petani menyuburkan ladang. Ia pun kerap memberikan sembako pada mereka yang kekurangan, itu sebabnya ia dijuluki Sang Dewi Sri oleh sebagian orang.

Kebaikannya terkenal imbang dengan kecantikan parasnya, jauh sebelum ia menikah dengan Zafran. Bedanya setelah menikah, Seira bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya.

Seira tersenyum saat membayangkan kemesraan bersama sang suami. Ia melirik perut dan mengusapnya lembut.

"Mas Zafran pasti seneng kalo tahu aku sekarang hamil," celetuknya yang masih bisa didengar oleh dua orang di dalam mobil tersebut.

Tiba-tiba mobil oleng ke kanan membuat panik Seira dan Bi Sari.

"Eh, kenapa ini Mang Udin? Hati-hati!" bentak Bi Sari sambil menahan tubuh majikannya agar tidak membentur badan mobil.

Mobil berhenti sebelum menabrak sebuah pohon, Mang Udin memburu udara secepat mungkin dan peluh bercucuran di pelipisnya.

"Ada apa, Mang? Kok, tiba-tiba oleng?" tanya Seira sambil menenangkan dirinya.

"A-anu, Bu. Maaf, saya agak ngantuk," jawabnya gugup dan gagap.

Seira menggelengkan kepala tetap tersenyum meskipun hampir saja celaka.

"Mamang pasti belum ngopi, ya. Mau istirahat dulu? Kita bisa cari warung kopi buat Mamang," usul Seira tetap dengan nada lembut mengalun merdu.

"Ng-nggak usah, Bu. Saya nggak apa-apa, kok," katanya seraya melanjutkan perjalanan lagi.

Mang Udin terlihat gelisah, sesekali ia menyeka keringat yang terus bermunculan di dahi. Seira mengernyit bingung, tak biasanya supir itu bertingkah begitu.

"Mamang lagi ada masalah, ya? Kok, kayaknya gelisah gitu?" tanyanya sembari memperhatikan wajah Mang Udin yang tampak pucat dari spion.

Bi Sari turut melirik, urat-urat kekesalan masih terlihat jelas di wajahnya yang hampir keriput. Meskipun begitu, kinerjanya tak perlu dipertanyakan lagi. Dia masih cukup kuat melakukan segala macam pekerjaan rumah.

"Masa, sih, Bu? Perasaan saya biasa-biasa aja," sahut Mang Udin tersenyum kikuk ketika bertatapan dengan manik majikannya.

"Nggak apa-apa, Mang. Kalo emang ada masalah ngomong aja, kita cari sama-sama jalan keluarnya. Jangan dipendem sendirian aja, capek hati!" seloroh Seira dengan nada jenaka.

Hal itu biasa ia lakukan ketika melihat para pekerja yang gelisah dan terbebani dengan masalah. Akan tetapi, ucapannya yang mencarikan solusi bukan hanya di ujung lidah saja. Ia akan benar-benar membantu sampai orang tersebut keluar dari masalah.

"Nggak ada, kok, Bu. Oya, Bu, saya denger tadi Ibu sekarang lagi hamil, ya?" tanya Mang Udin memastikan telinganya tak salah mendengar.

Seira melirik perutnya lagi, tak segan mengusapnya sambil tersenyum.

"Iya, Mang, Alhamdulillah. Ini juga berkat doa kalian semua. Terima kasih, ya," ucapnya.

Mang Udin terdiam, melirik takut-takut pada majikan yang terlihat senang. Rasa bersalah terbersit dalam hatinya, berulangkali meminta maaf pada sang majikan walau hanya dalam bentuk batin saja. Sejujurnya, Mang Udin tidak tega dan ingin mengatakan semuanya, tapi mendengar majikan tersebut hamil ia takut mengganggu mentalnya.

"Tapi, Mang, Bi, jangan bilang Mas Zafran dulu. Aku mau kasih kejutan sama dia. Mas Zafran pasti senang, udah lama banget kami menginginkan anak ini," ucapnya dengan pandangan mengawang membayangkan wajah sumringah sang suami.

Bi Sari tentu saja mengangguk setuju, sekecil apapun, Bi Sari tak pernah membocorkan rahasia majikannya pada orang lain. Sekali pun itu suami sang majikan.

Berbeda dengan Mang Udin yang berwajah kaku tak bereaksi. Hanya sesekali melirik pada majikan yang baik hati, sungguh dalam hati merasa iba, kasihan pada nasib yang akan menimpanya.

"Eh, Mang! Kita ke gudang aja, ya. Jangan pulang! Aku nggak sabar pengen kasih tahu Mas Zafran," sergah Seira dengan tergesa disaat mobil akan berbelok mengambil jalan pulang.

"Eh? Apa nggak sebaiknya pulang aja, Bu. Ibu harus banyak istirahat, Ibu hamil nggak boleh kecapean, Bu." Mang Udin menyarankan, tapi nada suaranya terdengar gugup.

Hal itu membuat Seira curiga, sudah lama menyimpan rasa tersebut, tapi tetap ditahannya selama ini.

"Aku nggak apa-apa, kok, Mang. Udah lama juga nggak datang ke gudang. Aku mau kasih kejutan sama suamiku," ucap Seira dengan nada berbeda.

Tak ingin dibantah, itulah nada yang ia keluarkan. Mang Udin patuh, membawa mobil berbelok ke jalan gudang yang sedikit jauh dari rumah. Senyum di bibirnya raib, berganti kecemasan yang tiba-tiba menyeruak ke permukaan.

Setibanya di gudang, ia gegas keluar dari mobil dan berjalan cepat memasuki area tersebut. Semua karyawan tampak terkejut melihat kedatangannya, Seira semakin bingung. Namun, ia menepis semua prasangka, dan tetap memasang senyum ketika melihat ruangan suaminya.

Langkahnya terhenti, tangannya yang mengudara hendak mengetuk pun tak kunjung terlaksana. Seira membeku mendengar suara tawa dan saling menggoda dua insan di dalam ruangan tersebut.

Seira dengan cepat membuka pintu, ia memekik, "Mas Zafran!"

Pengkhianatan

Seira berjalan tergesa memasuki gudang beras milik sang suami. Dahinya mengernyit dalam dikala para karyawan di gudang hanya termangu sambil menatap dirinya. Ia tak akan mengira jika akan ada drama menyebalkan di dalam tempat tersebut.

"Jago, Mas Zafran ada di ruangannya, 'kan?" tanya Seira begitu mendapati mandor gudang menghampiri dirinya.

Mereka berhadapan, laki-laki berjanggut tebal itu memainkan jemari di depan tubuh. Bola matanya bergerak liar, seolah-olah sedang menyusun sebuah rencana persengkongkolan.

Melihat itu, wanita dengan dagu bak lebah bergantung itu semakin mencurigai gudang. Tak menunggu jawaban dari sang mandor, Seira kembali membawa langkahnya semakin dalam memasuki gudang.

"Eh, Bu! Bapak lagi nggak di gudang, Bu. Bapak pesen kalo ada Ibu dateng ke gudang saya diminta menyampaikan itu," sergah Jago dengan gesit menjegal langkahnya.

Seira memicing, gelagat yang ditampilkan laki-laki berwajah beringas itu amat mengganggu ketenangan hatinya. Bukannya tenang, tapi justru menambah was-was yang ada.

"Kalo suami saya lagi nggak di gudang, kenapa Lita juga nggak ada di mejanya? Apa mereka pergi berdua?" selidik Seira sedikit memiringkan kepala demi dapat melihat wajah merah berkeringat milik mandor tersebut.

Jago menunduk menghindari tatapan elang milik Nyonya majikannya. Wanita itu terlihat polos di luar, tapi sesungguhnya dia amat berbahaya. Menolak jika ingin, tak dapat dibantah.

"Anu ... i-itu ... s-s-saya ...."

Tanpa ingin mendengar keterangan darinya, Seira mendorong bahu laki-laki itu hingga menyingkir dari jalannya. Terus berlanjut menuju sebuah lorong di mana ruangan Zafran berada.

Jago menggaruk kepalanya yang tak gatal, lidahnya berkali-kali berdecak juga berdesis karena tak dapat mencegah wanita tersebut. Ia berjalan cepat, niat hati ingin kembali mencegah. Namun, apalah daya, wanita dengan mata setajam elang itu telah berdiri membeku di depan ruangan milik suaminya.

"Gawat! Bos pasti marah sama aku!" gerutunya sambil memukul telapak tangan sendiri. Berkali-kali melirik sang majikan sambil menggigiti kuku-kukunya.

Seira mematung di depan ruangan milik Zafran, sayup-sayup ia dengar suara desah*n bercampur obrolan dua insan di dalam sana. Seira semakin mendekatkan diri pada daun pintu, menempelkan telinga padanya demi dapat mendengar dengan jelas suara tersebut.

"Mas, sampai kapan kita akan begini terus? Kamu nggak main-main, 'kan, sama aku," rajuk suara Lita disela desah*nnya yang terdengar menggiurkan.

Mata dan hidung Seira memanas, ada gumpalan awan hitam menyelubungi wajah. Hatinya perlahan diliputi perih yang mencabik-cabik. Sekuat hati menahan diri agar tidak menangis, dia masih ingin di sana mendengarkan apa yang akan dikatakan laki-laki di dalam sana yang dikiranya setia dan amat mencintainya itu.

"Sabar dulu, sayang. Aku masih mikirin cara gimana wanita yang nggak berguna itu menjauh dari aku," sahut suara lelaki yang tak asing di telinganya itu.

Tidak! Seharunya erangan itu hanya dia yang mendengar. Wajah puas laki-laki itu harusnya hanya saat berhadapan dengannya, bukan dengan wanita lain yang notabene adalah sahabatnya sendiri.

Hancur hatinya menerima kenyataan bahwa lelaki yang dicintainya juga yang ia pikir mencintainya itu tengah memadu kasih dengan wanita lain.

Tega kamu, Mas. Kalo kamu emang udah nggak cinta sama aku, kenapa harus selingkuh? Jahat kamu, Mas.

Batinnya bergumam, tak terasa air mata luruh begitu saja tak tertahan. Namun, disekanya dengan segera, ia tak ingin mengalah pada rasa sakit yang terus menghujam hatinya.

"Hmm ... dia lagi, aku capek tiap kali kamu ngomongin dia kalo lagi sama aku. Bisa nggak, sih, kamu cepetan singkirin dia? Buat apa coba kamu pertahanin perempuan mandul kayak dia itu," ujar Lita lagi terdengar kesal.

Semakin deras air mata yang mengucur dari tempatnya, Seira benar-benar tak menyangka bahwa suami dan sahabat akan tega mengkhianati dirinya. Ia menggelengkan kepala sembari menutup mulutnya agar isak tangis tak menguar.

Lita, ternyata kamu nggak lebih dari pagar makan tanaman. Menusukku dari belakang, nggak sadar siapa yang bawa kamu keluar dari masalah dan hidup enak kayak gini? Jahatnya kalian!

Seira tak tahan lagi, ia membuka pintu ruangan tersebut seraya memekik lantang, "Mas Zafran!"

Kedua manusia laknat itu pun sama-sama menoleh dalam keadaan yang memalukan. Lita cepat-cepat menyambar pakaiannya, dan menutupi apa yang perlu disembunyikan.

"Seira!" Zafran bergumam lirih, ia membenarkan celananya seraya bangkit dan mendekat.

"Memalukan! Jadi begini kelakuan kalian di belakang aku?! Kalian benar-benar binatang. Apa nggak ada tempat lain selain di gudang ini, hah?!" bentak Seira dengan matanya yang memerah dan terasa panas bergejolak.

"Sei ...." Zafran menggigit bibir bingung. Harus seperti apa menjelaskannya pada sang istri, ingin berkilah, tapi Seira telah melihat dengan jelas.

"Apa, Mas? Apa kamu selama ini nggak cukup dapat pelayanan dari aku? Apa kurang aku selama melayani kamu, Mas? Sampai-sampai kamu masih mencari kepuasan dari wanita lain," sambar Seira melirik tajam pada wanita yang tak tahu malu di sofa tersebut.

"Sei, Sei, tunggu! Jangan marah dulu. Coba kamu ingat, akhir-akhir ini kamu sering sakit. Aku nggak tega minta hak aku sama kamu, dan udah hampir satu Minggu juga aku nggak dapat servis. Terus, aku nggak bisa nahan dan ... yah, kayak yang kamu liat inilah," ungkapnya tanpa rasa berdosa sama sekali.

Seira tertawa sumbang, sama sekali tidak menyangka suaminya akan berbicara terang-terangan seperti itu. Benar-benar laki-laki tak punya hati.

"Bener-bener kamu, Mas. Kamu tega ngomong kayak gitu sama aku. Aku cuma lagi nggak enak badan, terus kamu nyari tempat pelampiasan lain? Ini nggak masuk akal. Kamu udah nggak waras, Mas. Kamu udah dikuasai hawa nafsu. Apa kamu nggak sadar apa yang kamu lakuin ini zinah? Dosa, Mas!" Seira menatap Zafran tak percaya.

"Makanya, Sei, kalo punya suami dijagain. Banyak, lho, yang naksir sama Mas Zafran dan mau jadi istrinya," seloroh Lita sama-sama tidak tahu malunya.

Seira melempar lirikan pada wanita yang kini sudah berbusana. Dia kembali tertawa, tapi air mata jatuh begitu saja. Dia sudah kalah.

"Hah, apa kamu bilang? Jagain suami? Banyak yang naksir? Termasuk kamu yang cuma mau hartanya Mas Zafran aja? Heh, wanita l*cur kayak kamu ini emang cuma mau itu, 'kan?" sarkasnya sembari melangkah mendekati Lita yang mendongak cepat.

"Jaga mulut kamu, Sei!"

Seira tertawa terbahak mendengar hardikan suaminya, tawa yang seumur hidup belum pernah Zafran dengar.

"Kamu minta aku buat jaga mulut aku, Mas? Terus kalian ini harus jaga apa? K*mal*an? N*fsu? Apa? Kalian sendiri udah kayak binatang, berzinah tanpa tahu malu. Melakukan dosa besar di depan mata semua orang. Kalian nggak malu?" bentaknya lagi tak ingin kalah.

"Malu sama siapa? Orang kita sama-sama suka, kok," sambar Lita yang terdengar seperti gumaman, tapi masih dapat didengar oleh Seira.

Seira menatap berang perempuan yang sudah kehilangan harga diri itu. Langkahnya melaju cepat, dan tanpa terduga sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Lita hingga meninggalkan bekas kemerahan di wajah lelahnya.

"Sei!"

"Ingat, wanita murahan! Perempuan yang menjadi duri dalam kehidupan perempuan lainnya suatu saat akan menuai luka yang sama seperti yang dia berikan. Karma itu nyata walaupun tidak terlihat apalagi terasa. Kamu-"

Plak!

Tamparan lain mendarat dengan tepat di wajah Seira, tangan yang selama ini bekerja keras untuknya itu justru memberikan luka fisik padanya. Seira menoleh sambil memegangi pipi yang memanas. Lita tersenyum puas meskipun rasa pedih masih melekat di pipinya.

"Kamu tega nampar aku, Mas, cuma demi perempuan rendahan ini!" geram Seira tak percaya.

"Udah aku bilang jaga mulut kamu!" Zafran menudingnya dengan geraham yang saling beradu, "dia bukan wanita rendahan. Dia wanita baik-baik dan terhormat." Dia membentak hingga air liurnya menyembur ke wajah Seira.

Wanita itu mengusap wajah, tawa kecil menguar semakin membuat berang Zafran.

"Wanita baik-baik? Terhormat? Wanita baik-baik akan selalu menjaga harga dirinya agar tidak ternoda. Wanita terhormat selalu menjunjung tinggi harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita, tapi dia ... masih kamu sebut wanita baik-baik? Wanita terhormat? Wanita baik-baik tak akan melakukan kecurangan seperti yang dia lakukan. Wanita terhormat tak akan melakukan hal yang tidak bermoral seperti yang dia lakukan. Masih kamu-"

"DIAM!"

"Argh!"

Zafran mendorong tubuh Seira cukup kuat hingga membentur dinding. Wanita itu mengerang sambil memegangi perutnya.

Kemalangan

Rasa sakit akibat membentur dinding ruangan, menyadarkan Seira dari lamunan. Ia tersentak dengan napas memburu hebat. Rasa sesak akibat sakit yang merebak, membuatnya kehilangan pasokan udara beberapa saat lamanya.

Rupa-rupanya, ia masihlah berdiri dibalik pintu ruangan tersebut. Bergeming tanpa melakukan apapun jua, kejadian tadi hanyalah buah pemikirannya saja.

Kenapa aku sampe mikirin hal yang kayak gitu? Ya Allah ....

Seira membatin, ia mengurut dadanya perlahan sambil memejamkan mata. Menahan sakit yang tiada tara dari laki-laki yang ia cinta benar-benar menguras energi dalam tubuhnya.

Belum lagi mental yang tak siap menerima kenyataan bahwa dia telah dikhianati. Air kembali mengucur dari pelupuk, jemarinya meremas sedikit kuat bagian dada kirinya yang terasa berdenyut.

Seira tak bisa melakukan apapun, hanya bisa mengumpat dalam hati. Tubuhnya luruh di lantai, dikala suara desah*n dan erangan kembali menjejali telinga. Dia tersadar bahwa semua yang didengarnya bukanlah halusinasi. Itu semua nyata adanya.

Wanita bermata lentik itu meremas perutnya yang tiba-tiba terasa nyeri, di kejauhan Jago tak tega melihat kondisi sang majikan yang menyedihkan. Ia mondar-mandir antara menghampiri atau tetap berdiri.

Seira merintih, kalimat-kalimat yang diucapkan suaminya terus berdenging di telinga, menusuk segumpal daging dalam dada. Terkoyak semua rasa. Nyeri itu semakin terasa dikala perkataan sang suami selanjutnya semakin mencabik hati.

"Yah, kamu benar. Lagian juga dia nggak bisa ngerawat diri, udah semakin tua dan jelek. Beda sama kamu, yang keliatan cantik tiap hari. Mungkin nanti malam aku akan menceraikan dia dan mengusirnya dari rumah, dan kamu ... akan jadi nyonya di rumah itu. Satu-satunya."

Suara yang berbarengan dengan napas terputus-putus itu sungguh membuat hati Seira semakin remuk redam. Disusul erangan panjang sesaat setelah Zafran menyelesaikan kalimat kejamnya. Deru napas mereka berbaur seolah-olah tidak peduli pada semua karyawan yang akan mendengar.

"Benar, ya, Mas. Awas kalo boong." Suara manja yang mendayu-dayu dari Lita bersambut pekikan mesra dari keduanya pun tak dapat diabaikan telinga Seira.

Ia memburu udara ketika rasa sakit di perut semakin menjadi-jadi. Diremasnya dengan sedikit kuat berharap akan mengurangi rasa yang mencabik tubuhnya itu. Namun, tetap saja, pedih yang meleburkan asa itu menikam-nikam jiwanya.

Ia mulai melenguh pendek, perih dalam hati bercampur dengan sakit di tubuh, membuatnya tak berdaya. Tak lagi peduli pada suara dua orang di dalam ruangan itu, tangannya mengudara meminta siapa saja untuk menolong.

Cairan hangat terasa mengalir dari sela kaki, pandangannya pun mulai mengabur. Beruntung, Jago masih di sana. Melihat tangan majikan melambai-lambai, bersegera ia mendekat.

"To-tolong, sa-sakit!" rintih Seira dengan kedua mata terpejam. Digigitnya bibir menahan rasa yang terus menusuk. Untuk menggerakkan lidah saja rasanya ia sudah tak mampu.

Jago mengambil langkah ringan berlari mendekati sang majikan. Ia memekik tanpa suara, melihat gaun yang dikenakan Seira telah basah oleh cairan merah yang khas.

"Ya Allah, darah!" Lisannya bergetar, tangan pula ikut gemetaran. Peluh membentuk gumpalan di sekitar pelipis, hawa panas dari rasa cemas menguar begitu saja.

"To-tolong!" Suara Seira semakin lemah terdengar. Tak berdaya nyaris seperti bisikan.

"Ibu! Ibu tahan, ya. Tahan, Bu. Jangan tidur!" bisik Jago khawatir akan terdengar oleh Zafran.

Sekilas wajahnya yang ditumbuhi janggut lebat itu memang serupa dengan para penjahat kejam di seluruh dunia, tapi dia memiliki hati yang lembut terutama saat berhadapan dengan Seira.

Meskipun usianya lebih tua, tapi Jago amat menghormati wanita itu layaknya seorang Ibu. Air menggenang di pelupuk, tak tega melihat kondisi Seira yang kesakitan. Lekas ia membopong tubuh lemah itu dalam gendongan.

"Jago, Ibu kenapa?" tanya suara laki-laki lain yang merupakan teman sejawat Jago di gudang tersebut sekaligus bawahannya.

"Nggak tahu. Coba kamu bersihin lantai yang di depan ruangan Bos. Aku bawa Ibu dulu," bisiknya, samar-samar masih bisa didengar oleh Seira.

Matanya terbuka, tapi penglihatan berkunang-kunang. Pening menyerang tak tahu waktu, menghantam kepalanya yang semakin berat. Jago berlari keluar gudang, ia tahu mobil pribadi sang majikan terpakir di depan bangunan tempatnya mengais rezeki itu.

"Non!"

"Ibu!"

Bi Sari dan Mang Udin sama-sama terpekik melihat Jago yang membopong tubuh lunglai Seira. Wajah laki-laki yang biasanya beringas itu, kali ini tampak pucat dan kusut.

"Buka pintunya, cepat!" titahnya segera begitu tiba di dekat dua orang yang masih termangu.

Bi Sari membuka pintu dengan cepat, dan menyingkir dari sana. Memberi ruang kepada Jago untuk meletakkan majikan mereka itu di dalam.

Samar mereka mendengar suara rintihan Jago yang persis seperti seorang anak kecil yang merengek, "Ibu, jangan tidur, Bu. Tetep buka mata, jangan tidur!"

Dengan amat hati-hati seolah-olah itu adalah intan berlian berharga di dunia, Jago meletakkan tubuh Seira di atas jok. Ia cepat-cepat keluar dan mendorong tubuh Bi Sari agar segera masuk ke dalam.

"Jaga Ibu, jangan sampai tertidur. Jaga Ibu! Aku percayakan Ibu sama kalian, bawa ke rumah sakit. Cepetan!" ucapnya melebarkan biji mata pada Mang Udin yang masih tak sadar dari lamunan.

"UDIN!" bentak Jago yang hampir saja tinjunya melayang karena laki-laki perokok itu masih saja termangu tak jelas.

"I-iya!"

Mang Udin masuk ke dalam mobil, menginjak pedal gas dengan cepat. Ia melirik cemas pada Seira yang terlihat berat di setiap tarikan napasnya.

"Aduh, Mang, ini Non Sei kenapa? Ya Allah, ada darah di kakinya, Mang. Cepetan!" pekik Bi Sari panik.

Ia mendekap tubuh lemah Seira, menangis cemas meratapi keadaan sang majikan. Betapa Bi Sari amat menyayanginya laksana putri kandung sendiri.

Mang Udin tak banyak bicara, menekan klakson terus menerus meminta jalan pada pengendara lain. Menyalip kendaraan-kendaraan besar dan kecil, melaju secepat yang dia bisa.

Suara rintihan Seira menghantarkan sesal yang mendalam di hatinya. Penyesalan yang tak akan ada akhirnya jika sampai wanita baik hati itu kehilangan si jabang bayi atau bahkan kehilangan nyawanya.

Ban berdecit nyaring disaat Mang Udin menginjak rem tiba-tiba. Di depan mereka, sebuah mobil dengan kecepatan yang sama pun nyaris menghantam mobil yang membawa Seira. Kecelakaan hampir saja terjadi jika kedua pengemudi tak sigap menginjak rem.

"Hati-hati, Mang Udin! Non Sei udah kesakitan kayak gini, malah nggak lihat-lihat bawa mobil!" bentak Bi Sari bertambah cemas disaat Seira mengaduh sambil merintih.

"Maaf, Bi. Maaf, Bu. Kita lanjutin lagi, keburu orang di mobil itu keluar terus menghambat perjalanan," katanya terburu-buru.

Mobil melaju kembali berbarengan dengan seorang laki-laki berpenampilan resmi keluar dari mobil yang berhadapan dengan mobil mereka.

"Ah, sial! Udah menghambat jalanku, mereka pergi gitu aja!" gerutunya kesal sambil melihat-lihat keadaan depan mobilnya.

"Untung nggak sampe nabrak. Gila kali tuh orang, ya. Nggak tahu apa orang lagi buru-buru," umpatnya lagi tak lepas memandang arah ke mana mobil Seira melaju.

Getar ponsel di saku celananya menyentak, ia sigap merogohnya dan meletakan benda tersebut di telinga setelah menekan tombol hijau.

"Kamu di mana, Fatih? Lama banget!" Teriakan dari ujung telepon di sana membuat telinga laki-laki itu berdenging. Ia menjauhkan benda itu seraya mengusap-usap telinganya.

"Iya, Mah. Ini aku lagi di jalan. Di rumah sakit mana, sih?" tanya laki-laki itu seraya memasuki mobilnya.

Ia mendengarkan dengan baik, lantas menginjak pedal gas dan melaju. Perlu GPS untuknya tahu letak rumah sakit di wilayah tersebut.

Sementara mobil Mang Udin baru saja tiba di parkiran rumah sakit beberapa detik setelah tubuh Seira lunglai tak sadarkan diri.

"Non!"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!