NovelToon NovelToon

Pedang Elemental Raja Iblis

Bab 1 Pertemuan Terburuk

Di hutan yang tenang dan damai, di mana sinar matahari menerobos masuk melalui dedaunan yang lebat, angin bertiup sepoi-sepoi membuat suasana di sekitar hutan menjadi sedikit sejuk.

Diiringi dengan suara roh yang berterbangan di langit dengan bebas, membuat hutan ini terasa lebih hidup. Suara gemericik air juga bergema melalui sela-sela pepohonan yang cukup besar.

Dan tidak jauh dari sumber air, seorang remaja laki-laki tengah membuka mulutnya lebar-lebar karena melihat sesuatu yang mengejutkannya.

'B-bagaimana bisa ....!?' batin remaja tersebut.

Apa yang dilihat olehnya adalah seorang gadis cantik setengah telanjang yang sedang mandi. Gadis itu mengguyur tubuhnya dengan air dari sungai yang terlihat dingin dan menyejukkan.

Dia punya mata besar dengan pupil merah, dan bibir ceri yang lembap dan menggoda. Kulitnya yang sehalus dan seputih susu terlihat lumayan mempesona. Kakinya yang ramping dan indah menghilang di bawah permukaan air yang riak.

Namun, apa yang menarik perhatian remaja itu lebih dari segalanya adalah rambut merahnya yang menyala seperti api. Rambutnya terlihat basah dan lembap hingga menempel di kulit tubuhnya yang indah seperti sebuah porselen.

Remaja yang mempunyai nama Kaizo, tiba-tiba merasakan keringat dingin mulai terbentuk di punggungnya. Bagian paling penting di otaknya saat ini menyuruhnya untuk lari, tapi tubuhnya tidak mau bergerak leluasa sesuai perintahnya.

Dia saat ini seolah-olah terpesona akan adegan yang nyata dan penuh dengan keindahan surga.

Matanya yang lembap dan indah berkedip saat melihat seorang penyusup yang muncul secara tiba-tiba di belakangnya. Ekspresinya langsung kosong, dan dia belum sepenuhnya memahami situasi. Gadis tersebut bahkan belum menutupi dadanya yang kecil dan masih berkembang.

Setetes air yang membasahi rambutnya, jatuh dari poni gadis muda itu. Dengan suara tetesan air tersebut, kesadaran Kaizo di tarik kembali dengan paksa ke kenyataan di depan matanya.

"K-kamu ....!" gumam Kaizo, kebingungan.

Kaizo kemudian mengalihkan pandangan mata dari gadis kecil setengah telanjang yang masih berdiri tak bergerak dengan ekspresi yang lucu.

"K-kurasa aku harus bilang kalau ini kecelakaan yang besar ...?" Kaizo lalu menggosok belakang kepalanya. "Ya, kejadian ini adalah kecelakaan yang tidak menguntungkan untuk kita berdua."

Pada saat ini, Kaizo membuat dua kesalahan.

Pertama, dia tersandung kata-katanya dengan membuat alasan yang tidak masuk akal. Dan pilihan terbaik yang harus diambil Kaizo adalah memanfaatkan kenyataan jika gadis itu sedang bingung dan buru-buru melarikan diri dari sana.

Dan kesalahan lainnya adalah dia mengatakan hal yang harusnya tidak dia katakan. Itu adalah kesalahan yang membuatnya jatuh ke dalam kondisi dan situasi yang membuatnya terpuruk.

"Meskipun ini adalah kecelakaan, tidak dapat di sangkal kalau aku telah melihatmu." kata Kaizo dengan wajah yang memerah, dan kemudian ia menundukkan kepalanya. "Maafkan aku, nona!"

Sampai saat ini, dia masih baik-baik saja. Dan apa yang dia katakan tidak ada yang salah, tapi yang terjadi selanjutnya adalah masalah besar.

"K-kamu tidak perlu khawatir. Aku adalah anak laki-laki yang normal. Tentu aku tidak memiliki minat seperti itu." Kaizo melirik dada gadis itu dan tertawa canggung. "Aku tidak tertarik pada tubuh seorang anak kecil, jadi kamu tidak perlu takut karena aku tidak akan menyerang dirimu."

Kaizo akhirnya menginjak ranjau darat raksasa dan menggali kuburannya sendiri. Keheningan sedingin es jatuh dan angin dingin yang datang dari hutan tidak bisa mereka rasakan kembali.

Gadis itu perlahan mengangkat lengannya dan rambut merah menyala melingkari panjangnya ke bawah. Bahunya sedikit bergetar. Itu bukan karena dia kedinginan, tapi itu karena dia malu.

"Enam belas ...." bibir halus merah tipis gadis itu menggumamkan sesuatu yang aneh dan Kaizo mengangkat alisnya ke atas. "A-aku, aku enam belas tahun! Jangan buat aku mengatakannya!"

Begitu gadis muda itu meneriakkan kalimatnya, rambut merahnya berdiri. Api merah berputar di sekitarnya dan membuat air yang menutupi sebagian tubuhnya di bawah menguap ke atas.

Kaizo membuka matanya lebar-lebar, terkejut dengan apa yang dikatakan gadis itu. "E-enam belas tahun!? Sungguh? Seorang anak berusia enam belas tahun dengan dada yang meny—!?"

Dia dengan cepat menutup mulutnya dan tidak mengatakan apa yang dia pikirkan, tapi semua itu sudah terlambat karena gadis itu pun kesal.

"Tidak bisa dimaafkan." gumam gadis muda itu dengan suara yang rendah dan dingin. "J-jelas tidak dapat dimaafkan! D-dasar kau pria cabul!"

Pada saat ini, Kaizo tiba-tiba merasakan firasat buruk mendatanginya. Dia lalu memperhatikan bahwa pepohonan yang terdapat di sekitarnya membuat suara gemerisik seperti bisikan iblis.

Whoosh

"A-angin apa itu?" gumam Kaizo merenung, dan memikirkan dari mana angin itu datang. "Tidak! Ini bukanlah angin kencang biasa. Ini adalah ...!"

"Penguasa api, penjaga neraka yang tak pernah mati! Sekarang adalah waktunya untukmu dari alam roh datang dan mematuhi kontrak darah kita! Ke sini dan laksanakan semua perintahku!"

Dari bibir gadis itu, muncul sebuah mantra suci dalam bahasa roh yang tak sulit diterjemahkan.

Bersamaan dengan suara udara yang berputar dan mengalir ke ruang hampa, sebuah cambuk yang terbuat dari api keemasan muncul dari kehampaan dan mendarat di tangan gadis itu.

"S-seorang «Elementalist»!" ucap Kaizo saat ia menyadarinya, dan menatap gadis itu kembali.

Elementalist adalah kekuatan sebuah individu yang bisa mengendalikan sesuatu dari dimensi yang berbeda dari dunia ini, tempat yang biasa disebut sebagai dunia lain atau juga, Alam Roh.

Mereka dapat menggunakan berbagai jenis roh dan dengan bebas menggunakan kekuatan asli mereka. Seperti halnya yang dilakukan gadis di depan Kaizo, dia telah mengontrak roh tipe api yang agresif serta memiliki afinitas yang tinggi.

Kenyataan bahwa gadis muda itu sebenarnya seorang Elementalist bukan sesuatu yang baru. Bagaimanapun, ini adalah tempat di mana para Elementalist hebat dari negara lain berkumpul.

'Ini mengejutkan.' batin Kaizo kagum. 'Aku tidak menyangka kalau dia bisa menggunakan Mana «Ether» yang sulit untuk dipelajari Elementalist lain demi membangkitkan kekuatan sejati roh!'

Cara roh dipanggil dan bentuk mereka setelah datang ke dunia ini dibagi menjadi dua bagian.

Yang pertama adalah bentuk seperti gumpalan kekuatan suci tanpa adanya batas ruang, tidak bermassa dan dalam bentuk yang abstrak. Itu adalah bentuk murninya pemanggilan kekuatan yang biasa digunakan sebagai bentuk sihir roh.

Dan bentuk pemanggilan lainnya adalah bentuk paling murni yang memanggil sebagian besar keberadaan roh itu sendiri dan mewujudkannya di dunia. Pemanggilan ini membutuhkan Ether suci dengan jumlah yang sangat besar. Dan di atas itu semua, roh itu sulit untuk dikendalikan.

Jadi, mereka yang mampu memanggil sedikit keberadaan roh dikatakan sebagai elit terkuat di antara jajaran Elementalist di seluruh dunia.

Sementara itu, gadis yang ada di depannya ini tidak hanya menggunakan kekuatan roh, tapi ia juga menggunakan kekuatannya dalam bentuk Ether yang penggunaanya cukup dioptimalkan.

"Apakah aku sekarang berada di dalam situasi hidup dan mati?" gumam Kaizo saat pikiran itu menghantamnya dengan keras seperti mimpi.

Di mana cambuk api yang gadis itu pegang di tangannya menyentuh permukaan air, uap putih naik ke atas dengan cepat. Gadis muda itu pun menatapnya dengan ruat wajah sangat marah.

"K-kamu ternyata punya nyali yang besar untuk datang ke sini!" gumam gadis itu dengan suara yang gemetar dan wajah merah seperti tomat.

'Wajahnya sangat merah.' batin Kaizo sembari melangkah mundur. 'Apakah itu karena amarah atau rasa malunya atas situasi ini? A-aku tidak berani bertanya tentang masalah ini padanya.'

"Sungguh ...! K-kau berani mengintip ketika aku, Victoria Blade sedang mandi!" gadis itu berkata dengan gagap dan terlihat sangat malu-malu.

Kaizo menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah panik. "T-tunggu, ini semua salah paham! Biarkan aku menjelaskan hal ini dulu padamu."

"Aku tidak mau mendengar alasan yang hanya omong kosong itu!" Victoria lalu mengayunkan cambuk api yang menyala dengan ganas dan berteriak, "Berubahlah jadi abu, dasar mesum!"

Cambuk itu bergerak liar seolah-olah air yang di bawah dan menutupi sebagian tubuhnya sama sekali tidak ada. Itu adalah pemandangan yang menakutkan sekaligus mengancam nyawanya.

"Sial!" keluh Kaizo sambil mendorong tubuhnya ke semak-semak rimbun yang ada di dekatnya.

Pada waktu yang hampir sama, cambuk api itu menyapu kepalanya. Bunga api yang tersisa di pepohonan ditebang, terlihat seperti sebuah kertas yang gampang untuk dipotong olehnya.

"Dia benar-benar serius ingin membunuhku!"

Permukaan batang pohon yang telah dipotong ternyata sangat halus dan tanpa meninggalkan bekas potongan. Serangan itu begitu cepat dan api tidak punya waktu tuk menyulut kebakaran.

Rambut di dahi Kaizo terbakar setengah, dan melayang jatuh tepat di depan mata. Keringat dingin mulai terbentuk, bahkan rasa panik yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya muncul.

"I-ini lelucon, 'kan?" gumam Kaizo dengan rasa gugup. "A-aku tidak akan mati seperti ini, 'kan?"

Ada tarian tidak berujung dari kilatan api merah yang memotong baik garis horizontal maupun vertikal di dalam hutan. Semak di sekitarnya di tebas dalam sekejap mata sampai tak bersisa.

Setelah kehilangan perlindungannya, Kaizo pun buru-buru lari untuk menyelamatkan hidupnya.

"J-jangan menghindar, mesum!" teriak gadis itu sambil memutarkan cambuk apinya. "Aku tidak bisa membakarmu dengan baik kalau kau lari!"

"Jangan meminta yang tidak mungkin!" balas Kaizo dan berusaha menghindari cambuk yang terus berayun-ayun menguras nyawanya. "Dan aku bukan orang cabul seperti yang kau bilang!"

Kaizo lengah untuk sesaat, dan pada saat yang sama, cambuk itu berayun ke arah kakinya dan menyebabkan percikan, lalu membantingnya.

Dia bangkit dari tanah, namun cambuk segera meluas ke arah hutan dan menyebabkan lebih banyak pohon yang ditebang dalam sekejap.

Dan di antara ketidakberuntungan yang Kaizo alami, bidikan gadis bernama Victoria lumayan buruk. Ini memang tidak masuk akal, karena satu tangan menyembunyikan dada yang kecil.

Untuk menyembunyikan bagian terpentingnya, dia berjongkok di dalam kolam, tapi mengingat seberapa baik dia mampu menangani cambuk apinya dalam posisi seperti itu, dia pasti cukup terampil menggunakan kemampuan dari roh.

"Betapa sombongnya pria mesum ini!" Victoria berteriak dengan keras. "Tolong dengan patuh berubah menjadi abu dan tinggalkan dunia ini!"

"Sudah kubilang, aku bukan orang mesum! Tapi ngomong-ngomong ...." Kaizo berhenti lari dan berbalik karena ada sesuatu yang janggal, yang harus dia diperhatikan selama beberapa waktu ini. "Kamu harus menutupi dirimu dengan baik dan benar! Celah di jari-jemarimu itu tidak bisa menyembunyikan benda kecil itu sepenuhnya."

...

Kira-kira, apa yang dimaksud Kaizo ketika dia mengatakan hal aneh itu? Lalu ,apakah dia bisa selamat dari amukan gadis api yang marah?

Bab 2 : Emosi Gadis Pemarah

Victoria perlahan memproses perkataan yang baru saja di ucapkan Kaizo padanya. Itu membuatnya tiba-tiba melepaskan cambuknya dengan wajah yang memerah.

"Tidak!" Victoria berteriak dengan suara yang lucu.

Anehnya, dia dengan cepat menyembunyikan dadanya dengan kedua tangan. Itu merupakan tindakan yang cepat menurut situasi yang dia hadapi saat ini.

"Ah, bodoh!" Kaizo tanpa sadar berseru.

Victoria yang telah melepaskan cambuknya, tiba-tiba kehilangan kendali dari cambuk api tersebut. Cambuk itu dengan liar memotong pepohonan di belakangnya hingga bersih dan menjadi hutan yang gundul.

Pohon-pohon besar perlahan tumbang dan salah satu dari mereka jatuh tepat ke arahnya.

Namun, Victoria tidak memperhatikan mereka karena matanya terpejam akibat malu sambil terus memeluk dadanya yang telanjang.

"Sialan!" keluh Kaizo sambil menendang tanah, berlari dengan seluruh kekuatannya menuju kolam air dan melompat ke arah Victoria.

"Apa!?" pupil merah Victoria melebar melihat Kaizo yang mendekatinya.

Kaizo dengan cepat terjun ke kolam air dan segera meraih bahunya yang terlihat gemetar. Ia mengabaikan ledakan beruntun yang terjadi di sekitarnya dan dengan agresif mendorong Victoria ke dalam air.

Srash

Saat tangan Victoria menyentuh air, semburan uap naik dan cambuk api menghilang.

Segera setelah itu, pohon-pohon di dekatnya bertabrakan dengan permukaan air dan menciptakan suara keras yang memekakkan telinga.

Akibatnya, pohon tumbang tersebut menciptakan kolom air yang besar. Dia menyerap panasnya api, dan air kolam yang sekarang hangat mengalir seperti hujan.

Beberapa detik kemudian...

"Oh..." Victoria membuat suara yang menggoda saat dia perlahan membuka matanya.

Ekspresinya kaget, matanya berkedip heran saat menyadari Kaizo bersandar padanya dan mendapati dirinya menatap lurus ke matanya.

Wajah mereka begitu dekat sehingga jika seseorang mendorong punggungnya dengan ringan, bibir mereka kemungkinan besar akan bersentuhan.

Rambut merah Victoria menempel erat di tengkuknya. Bibirnya yang lembab berwarna merah ceri, memikat seseorang untuk mencicipinya.

Wajahnya yang halus seperti boneka, tepat berada di depan mata Kaizo. Untuk sesaat sepertinya dia secara tidak sadar terpikat oleh kecantikan alaminya.

Kaizo dengan cepat menggelengkan kepalanya. "A-apa kamu baik-baik saja? Apa kamu terluka?"

Victoria hanya bisa mengangguk pelan.

Sepertinya dia belum sepenuhnya menyerap situasi yang tengah terjadi. Kaizo menghela napas, lalu mencoba berdiri untuk menghindari kesalahpahaman yang lebih besar.

Saat hendak berdiri, tangan Kaizo tiba-tiba menyentuh sesuatu yang lembut di bawah air. Dia tidak pernah menyentuh sesuatu yang lembut seperti itu, bahkan dalam hidupnya saat ini.

Bersamaan dengan Kaizo menyentuh benda lembut itu, Victoria bersuara imut.

"Hwaaah!"

"Apa itu? Lumpur?" pikir Kaizo menarik kesimpulan.

Dari bibir lembab Victoria, terdengar suara yang lembut dan manis. Tubuh telanjangnya yang terendam berkedut karena suatu alasan yang tidak pasti.

"Ini...?"

Setelah sampai sejauh ini, Kaizo akhirnya sampai pada kesimpulan tertentu dan bergumam dengan keringat dingin. "Aku tidak ingin apa yang kupikirkan menjadi kenyataan. Itu sangat menakutkan."

"Tu-tunggu, tenang. Ini tidak mungkin hal itu, 'kan?" Kaizo mati-matian mencoba untuk menyangkal kemungkinan seperti itu. "Ini tidak mungkin. Ketika aku melihat miliknya sebelumnya, mereka tidak begitu—"

"A-apa... apa yang kau lakukan pada..." bibir Victoria bergetar tanpa sadar. Dia memerah dengan air mata di matanya yang perlahan mengalir turun. "Kamu, cabul!"

"Gwah!" Kaizo berteriak kesakitan karena perutnya di tekuk dengan keras dan ambruk ke dalam air kolam.

Suara kabut panas naik dari permukaan sungai. Dengan kabut panas yang meningkat di belakangnya, Victoria perlahan berdiri.

Cambuk api yang merupakan manifestasi dari roh apinya, sekali lagi berada di genggaman tangannya.

Air di kolam seketika mulai mendidih, banyak gelembung berbuih ke permukaan di sekelilingnya.

"Ti-tidak, ini salah paham! Tunggu, jika kamu melakukan itu, aku benar-benar akan mati!" Kaizo memohon untuk pertama kali dalam hidupnya.

Victoria mengangkat tangannya ke atas tak peduli pada ucapannya. "Di-diam cabul! Kamu akan mati di sini!"

Blammm

Dengan suara ledakan yang hampir memekakkan telinga dan nyaring, tubuh Kaizo terlempar tinggi ke udara dan jatuh dengan kuat menghantam tanah.

****

Beberapa menit kemudian...

Ugh!

Kaizo perlahan tersadar dari tidurnya. Pertama yang ia lihat adalah hutan luas terbentang di depan matanya.

Dia mencoba untuk bangun, tapi tiba-tiba dia sadar ada sesuatu yang melingkar di lehernya. Itu adalah cambuk kulit hitam yang biasa di gunakan untuk menyiksa.

"Benda apa ini?" gumam Kaizo sambil mencoba melepaskan cambuk yang terikat di lehernya.

"Kamu akhirnya bangun, dasar cabul pengintip."

Krkkk

Cambuk di lehernya mengencang hingga membuat Kaizo tercekik dan terbatuk. "Ugh! Le-lepaskan aku."

Kaizo kemudian melihat ke atas dan terlihat gadis muda berambut merah memegang ujung dari cambuk yang mengikat lehernya.

Gadis itu, Victoria Blade berdiri di atasnya dengan tangan di pinggang sambil menatap Kaizo dengan alis yang terangkat ke atas.

Kali ini dia tidak telanjang. Victoria telah berubah menjadi memakai seragam sekolah yang menggemaskan.

Polanya adalah garis biru di atas bidang putih bersih. Itu adalah seragam resmi dari Akademi Putri Sizuan.

Sebuah pita menghiasi bagian depan seragamnya, dan pola unik di jahit di tempat di mana kancing biasanya di letakkan.

Di antara celah stoking selutut berwarna hitam dan rok yang di lipatnya, kakinya yang indah dan ramping menonjol dengan cemerlang. Pita kecil mengikat rambut merahnya di belakang.

Inilah yang orang-orang sebut sebagai gaya rambut ponytail. Di lihat dari rambutnya yang masih basah, sepertinya Kaizo belum lama kehilangan kesadaran.

Menjaga leher Kaizo terikat, Victoria membusungkan dada kecilnya ke depan sambil mendengus. "Yah, bersyukurlah. Aku bersikap lunak padamu dan tidak mencoba membunuhmu secara langsung."

"Itu pasti bohong. Kau pasti berniat membunuhku, 'kan?" balas Kaizo dengan wajah datar.

Victoria menurunkan alisnya dan berbicara dengan tenang. "Apa yang kamu bicarakan? Jika aku lebih serius, kamu pasti sudah menjadi abu sekarang."

"Dia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat menakutkan dengan wajah yang sangat tenang." pikir Kaizo dengan memasang ekspresi wajah gugup.

"Aku minta maaf. Cepat jauhkan aku dari menjadi abu. Bagaimanapun, aku membantumu!" Kaizo memohon.

"Yah, ya baiklah. Aku adalah wanita cantik berpangkat bangsawan, jadi aku akan memberimu pujian atas bantuanmu. Meski begitu, kamu adalah kelas yang lebih tinggi dari cabul rata-rata, jadi kamu cabul tingkat tinggi!" bentaknya sambil menatap tajam ke arah Kaizo.

"Pada akhirnya sebutan cabul itu tidak berubah." Kaizo menghela napas sedih dan menyadari sesuatu. "Ngomong-ngomong, bukankah cabul kelas tinggi bahkan lebih buruk dari sebutan cabul rata-rata?!"

Victoria kemudian memeluk dirinya sendiri dengan wajah tersipu malu. "Aku yakin kamu hanya berpura-pura membantuku! Ka-kamu menyentuhnya!"

Mengingat apa yang terjadi terakhir kali, wajah Victoria tiba-tiba berubah menjadi merah padam.

Melihat reaksi seperti itu darinya, Kaizo punya ide bagus untuk lepas dari takdir menyedihkannya saat ini.

(Gadis ini, mungkinkah dia orang yang seperti itu?)

"Jadi sepertinya nona ini adalah tipe mesum yang memiliki hobi mencambuk pria." ucap Kaizo menggoda Victoria dengan acuh tak acuh.

Victoria tersentak dan cemberut. "Apa!? I-itu tidak benar! Aku bukan orang mesum seperti itu!"

Responnya segera seperti yang Kaizo harapkan. Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat dan pipinya langsung menjadi merah padam sampai ke telinganya.

"Kalau begitu, apakah kamu senang di cambuk?" Kaizo dengan licik melanjutkan godaannya.

"A-apa... apa yang kau katakan?" mata Victoria berputar saat hembusan uap keluar dari kepalanya.

"Oh, seperti yang kuduga." Kaizo tersenyum pahit.

(Gadis ini benar-benar polos.)

Kemungkinan besar bukan hanya Victoria yang sepolos ini. Lagipula, Akademi Putri Sizuan adalah sekolah tempat para gadis putri elementalist berkumpul.

Hanya gadis murni yang mampu bertukar perasaan dengan roh dari Alam Roh.

Di antara para putri suci, mereka yang memiliki cukup Divine Power untuk memerintahkan roh terkontrak adalah gadis dari garis keturunan raja atau bangsawan.

Mereka biasanya berasal dari keluarga kuno dan terhormat, yang darah elementalistnya telah di perkuat melalui pernikahan dari banyak generasi.

Untuk menjaga kemurnian tubuh dan hati mereka, gadis-gadis ini di besarkan di lingkungan yang benar-benar terpisah dari kontak dengan laki-laki sejak masa kanak-kanak hingga dewasa.

Apa yang di sebut pendidikan elit untuk elementalist tidak memiliki tempat untuk laki-laki. Oleh karena itu, semua gadis yang menghadiri akademi adalah putri super polos yang tidak terbiasa berurusan dengan pria.

Menemukan kelemahan Victoria yang mudah di kenali, Kaizo berpikir untuk mengerjainya.

Dari posisi berlutut, Kaizo menatap wajah merah cerah Victoria yang malu dan tampak lucu.

"Ka-kalau begitu, ada sesuatu yang ingin kukatakan sejak aku bangun." Kaizo tergagap mencoba untuk bermain-main lebih jauh lagi.

"A-ada apa, dasar cabul?" Victoria menjawab dengan hati-hati karena hatinya sudah tidak sanggup lagi.

Kaizo mengalihkan pandangan matanya. "Aku bisa melihat pakaian dalammu dari sudut ini.

Huh?

"Kyaaa!" teriaknya lantang dengan air mata yang mulai mengambang di mata merahnya. Ia buru-buru menekan pinggiran roknya dengan kedua tangan.

...

Bab 3 : Tekad Seorang Gadis

"Ka-kau melihatnya?" tanya Victoria dengan raut wajah yang merah.

Kaizo menurunkan pandangan matanya ke bawah, lalu mendongak. "A-aku melihatnya hanya sekilas. Dan kamu, secara tak terduga adalah gadis yang sangat pemberani. Pakaian dalammu berwarna sama dengan rambutmu. Aku terkesan padamu, nona muda."

"Ka-kamu bohong! Mereka tidak merah! Mereka putih!" Victoria berteriak dengan lantang tanpa sadar.

Kaizo mengangguk dengan bijak. "Ah, jadi mereka putih. Sepertinya aku tadi salah melihatnya."

Huh?

Menyadari bahwa dia telah di tipu, Victoria menggigit bagian depan bibirnya. Air mata yang dari tadi mengembang di sekitar matanya, mulai turun ke bawah.

"U-uuuuuh..." Victoria mulai menangis.

Pada reaksi tak terduga yang tiba-tiba ini, Kaizo langsung panik. "Tidak, kau adalah wanita cabul. Seorang wanita muda kotor, yang mengungkapkan warna pakaian dalamnya sendiri."

Dia telah berencana mengatakan lebih untuk menggodanya, tapi seperti yang di harapkan, dia mulai merasa bersalah dan seperti orang jahat.

Mengambil kesempatan saat Victoria masih menangis, Kaizo segera melepaskan cambuk dari lehernya.

"Baiklah, aku bertindak terlalu jauh dengan leluconku. Aku minta maaf." Kaizo berdiri dan meletakkan tangannya di atas kepala Victoria.

Dia berhenti menangis dan tampak bingung menatap mata hitam Kaizo.

"Ini salahku bahwa aku melihatmu telanjang saat kamu mandi. Aku juga menyentuh dadamu. Namun, tindakan itu tidak di sengaja. Tolong percayalah padaku." jelas Kaizo dengan suasana yang tidak mengenakkan itu.

Melihat kebenaran dari kata-kata yang dia ucapkan dari matanya, Victoria mau tidak mau mengalihkan pandangannya. Hatinya berdegup entah kenapa dan tubuhnya terasa mulai hangat.

"Apa-apaan ini! Jika kamu bukan orang mesum, lalu kenapa kamu bisa ada di sini?"

Sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk di jawab oleh Kaizo. Hutan ini berada di bawah yurisdiksi Akademi Putri Sizuan, yang di kenal sebagai Hutan Roh.

Tidak akan ada alasan bagi seorang pria untuk berada di halaman akademi. Bahkan jika dia bukan orang cabul, fakta bahwa dia berada di tempat yang seharusnya tidak bisa di ganggu gugat tidak bisa di hindari.

"Aku di panggil oleh Aidenwyth." Kaizo memberitahu Victoria dengan terus-terang.

"Aidenwyth? Kepala sekolah akademi!?" Victoria bertanya dengan curiga dan melebarkan matanya terkejut. "Memang mengapa kepala sekolah memanggil laki-laki ke akademi? Apa kamu berbohong?"

"Aku tidak berbohong. Lihat, ini buktinya." Kaizo melanjutkan sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan surat dari dalam mantelnya.

Surat itu di tandatangani oleh kepala sekolah yang terkenal. Itu juga di cap dengan segel lambang yang melambangkan Five Elemental Lord yang agung.

"Apakah itu segel lambang peringkat pertama Kekaisaran!?" Victoria berteriak kaget.

Segel lambang peringkat pertama di produksi dengan menyegel roh dengan teknik khusus ke dalam segel.

Segel ini di nilai sebagai yang tertinggi di antara segel lambang yang di keluarkan oleh Kekaisaran dan di katakan sama sekali tidak mungkin untuk di palsukan.

Tentu saja, itu adalah sesuatu yang jarang terlihat. Namun sebagai seorang elementalist, Victoria pasti bisa mengatakan bahwa itu adalah hal yang nyata.

"Sepertinya ini asli. Tapi mengapa kepala sekolah memanggil seorang pria ke akademi?" Victoria bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi.

Kaizo menghela napas lelah. "Yah, untuk jawaban atas pertanyaan itu, kamu harus bertanya pada Aidenwyth, perempuan tua itu. Di panggil juga merepotkan bagiku."

"Itu... 'perempuan tua itu!?'" wajah Victoria menegang.

«Penyihir Istana Biru, Aidenwyth».

Dia merupakan individu yang sangat di hormati oleh para putri suci yang bertujuan untuk menjadi Ksatria Roh. Di katakan juga bahwa dia sepopuler Pemegang Gaya Pedang Terkuat di Kekaisaran Eldant, Rei Assar.

Bahkan setelah dia pensiun satu dekade yang lalu dari «Sebelas Jenderal Ksatria», kekuatan paling elit dari Ksatria Roh yang di kenal sebagai «Zero Order», status legendarisnya sebagai «Penyihir Istana Biru» masih harus di takuti dan di puja di tingkatan tertinggi.

(Yah, bagiku dia hanyalah mimpi buruk yang melekat.)

Kaizo berbicara dalam hatinya sambil memasukkan kembali surat itu ke dalam sakunya.

"Aidenwyth adalah kenalan lamaku. Aku datang jauh-jauh ke sini, tapi lapangan akademi sangat besar sehingga aku tersesat." lanjut Kaizo, mencoba untuk memperjelas situasinya saat ini.

Lahan Akademi Putri Sizuan sangat luas. Selain itu, kota akademi di kaki bukit juga mencakup seluruh Hutan Roh yang mengelilinginya.

"Mungkinkah kamu di sesatkan oleh roh-roh di hutan?" Victoria menekuk dahinya dan mencibir. "Itu sangat buruk. Keberuntunganmu benar-benar sial."

Kaizo mengangguk, merasa sedikit sedih. "Ya, begitulah. Terima kasih atas hinaan halus itu."

Di berbagai lokasi benua, hutan «Five Roh» terhubung dengan «Alam Roh» melalui «Gate».

Seluruh hutan ini di huni oleh roh-roh yang telah mengembara ke dimensi ini. Sebagian besar dari roh tidak tertarik pada manusia dan karena itu mereka di anggap tidak berbahaya.

Ada juga roh yang senang bermain lelucon. Mereka sengaja menyesatkan pengelana yang tersesat ke dalam hutan. Kaizo di bingungkan oleh bisikan roh dan pergi semakin jauh ke dalam hutan, karena itu dia tersesat.

"Ngomong-ngomong, aku sangat senang bertemu seseorang. Tidak menyenangkan menjadi korban di hutan. Ke mana aku harus pergi ke akademi?" Kaizo bertanya dengan sungguh-sungguh pada gadis di depannya.

"Arah mana? Aku akan memberitahumu bahwa di butuhkan dua jam untuk sampai ke akademi dari sini dengan berjalan kaki." jawab Victoria dengan penuh pengertian.

"Apa?!" Kaizo berteriak tak percaya. "Sejauh itu?!"

Jika Kaizo berjalan sejauh itu sendirian, kemungkinan besar dia akan sekali lagi di tipu oleh para roh. Karena ada seorang siswa dari akademi yang saat ini di depannya, dia mengira bahwa akademi itu lebih dekat.

(Tunggu, kenapa gadis ini mandi di tempat seperti ini?)

Kaizo bertanya-tanya dalam hatinya.

Hari ini memang agak panas, namun alih-alih datang sejauh ini, seharusnya ada fasilitas mandi di dalam akademi. Hanya ada perempuan di sekolah, jadi tidak ada yang perlu di permalukan.

Kaizo menanyakan pertanyaan ini kepada Victoria, tapi dia memasukkan tangannya ke rambut ponytail yang basah dan mencoba menyisirnya.

"Aku di sini untuk ritual pemurnian kontrak roh. Mata air di sebelah kuil memiliki kualitas pemurnian air yang tinggi. Kamu tahu bahwa roh menyukai wanita yang memiliki pikiran dan tubuh yang murni, 'kan?"

"Kontrak roh?" Kaizo merenung sesaat.

Saat dia mendengar kata-kata itu, rasa sakit yang berdenyut datang dari punggung tangan kirinya yang di tutupi sarung tangan kulit berwarna hitam. Kaizo meringis dari rasa sakit yang menusuk tajam itu.

"Sedikit lebih jauh ke dalam hutan dari sini ada pedang suci kuno di kuil. Rumor mengatakan bahwa roh tersegel yang kuat terkunci di sana. Sejak berdirinya akademi, tidak ada satu pun putri gadis yang berhasil membuat kontrak dengannya. Kedengarannya seperti roh yang sangat mulia." kata Victoria dengan antusias.

«Roh Tersegel».

Mereka bukan roh normal yang tinggal di Dunia Roh dan pindah ke dimensi ini. Di antara jajaran dan jenis roh, ada beberapa yang di segel menjadi senjata atau baju besi oleh kekuatan kuno elementalist.

Sebagian besar dari roh-roh tersegel ini telah membawa bencana yang mengerikan bagi umat manusia dan merupakan makhluk mengerikan yang di sebut «Babel» atau «Akuma» oleh masyarakat kuno.

Tentu saja, mereka tidak di maksudkan untuk di pekerjakan oleh para elementalist.

Para elementalist kuat di masa lalu menyegel roh-roh ini dalam senjata atau baju besi sehingga mereka tidak akan pernah bisa di panggil lagi dan memberikan lebih banyak kerusakan pada dunia di sekitar mereka.

"Jangan bilang, kamu berencana untuk membuat kontrak dengan roh tersegel itu?" Kaizo bertanya dengan wajah yang tercengang dan khawatir.

Victoria mengangguk ringan. "Itu benar. Apa kamu punya masalah dengan itu?"

"Berhenti, itu terlalu berbahaya!" Kaizo mencoba untuk menghentikan Victoria yang ingin bertindak gegabah.

"Sepertinya kamu tahu sedikit tentang roh tersegel meskipun kamu bukan seorang elementalist. Aku cukup sadar akan bahayanya, tapi bagaimanapun juga aku membutuhkan roh yang kuat." gumam Victoria dengan menggigit bibirnya yang tertutup rapat.

Melihat tekad kuat dalam ekspresinya, Kaizo membentak kembali ceramahnya di ujung lidahnya. "Bukankah kamu sudah memiliki kontrak dengan roh api itu? Itu juga roh yang kuat, bukan? Tidak apa-apa jika kamu memakai dia! Kenapa harus mencari yang lain?!"

Roh api tidak terlalu langka, tetapi hanya ada segelintir elementalist yang bisa mengendalikan roh api dan mampu menggunakan kemampuan penuh Ether di seluruh Kekaisaran.

Pada catatan lain, elementalist yang telah membentuk kontrak dengan banyak roh sangat langka, mendapatkan banyak sekali keberuntungan. Mereka akan di sebut sebagai putri elementalist ekstrim.

Perselisihan antara roh terkontrak dapat menyebabkan penurunan keseimbangan kekuatan suci. Tanpa bakat yang cukup, seseorang tidak akan bisa mengendalikan mereka dengan leluasa.

"Salamander adalah partner yang penting, tapi aku butuh lebih banyak kekuatan." Victoria dengan tenang menggelengkan kepalanya. "Aku punya tujuan. Untuk mencapainya, aku harus punya semangat yang kuat."

Ponytail merah Victoria berayun bolak-balik di punggungnya saat dia membawa Kaizo lebih jauh ke dalam hutan. Apalagi, Kaizo merasakan firasat buruk dari perjalanan mereka saat ini.

...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!