NovelToon NovelToon

Berliana

01. Berduka

Titik terberat yang di alami oleh seseorang adalah dimana dua orang yang di cintai dan disayangi meninggalkan dirinya untuk selamanya.

Hidup bersama dengan orang-orang yang membuat diri kita nyaman membuat kita akan semakin rapuh untuk kedepannya jika orang yang disayangi mulai meninggalkan kita untuk selamanya.

Disebuah daerah yang berada di pinggiran kota, seorang wanita cantik sedang berdiri menatap kedua pemakaman yang ada di hadapannya dengan perasaan yang teramat sedih.

Gadis cantik yang sudah berusia 16 tahun itu adalah Berliana Santara.

Berliana menatap sendu kedua makan yang ada di depan dirinya, makam tersebut adalah makan nenek dan kakek yang sudah membesarkan dirinya selama ini dengan penuh kasih sayang yang luar biasa.

Air mata yang tanpa diminta itupun jatuh dengan sendirinya tanpa bisa di tahan lagi.

Di area pemakaman yang sudah mulai sepi dan para pengantar jenazah sudah mulai meninggalkan area tersebut dengan secara perlahan.

"Nak Berliana" panggil seorang wanita paruhbaya yang mendekati dirinya yang masih berdiri tepat didepan makan.

"Iya" ucap Berliana dengan suara sedikit serak.

"Kau harus kuat ya, ingat perjalanan kamu masih panjang. Jangan sampai keduanya menangis sedih melihat kondisi mu yang seperti ini." ucapnya dengan bijaksana sambil memeluk tubuh Berliana dengan erat dan lembut.

"Tapi," ucapan Berliana terpotong saat wanita itu membuka suara lagi.

"Ingatlah satu hal nak, mereka akan selalu melihat, mendoakan dan selalu menginginkan yang terbaik untuk mu. Jadi jangan jadikan hal ini membuat dirimu lemah, apalagi menyerah" sambung wanita itu lagi sambil menghapus air mata Berliana yang kembali menetes.

"Terima kasih, aku akan barusaha membuat mereka tersenyum bahagia di sana" ucap Berliana dengan sungguh-sungguh.

"Bagus, jadilah Berliana yang mereka harapkan. Terkadang kehidupan yang kuat akan ada saatnya melewati masa sulit dan pahit tapi itu semua jangan jadikan penghalang ataupun hambatan untuk melangkah kedepannya ya nak Berliana" ucap wanita itu sambil tersenyum.

"Baik ibu" ucap Berliana sambil tersenyum tipis.

"Ibu dan yang lainnya akan kembali dahulu kerumah mu dan akan membersihkan sisa-sisa proses pemakaman tadi" ucap ibu itu dengan lembut.

"Terima kasih banyak ibu" ucap Berliana dengan tulus.

"Sama-sama Berlian kami" ucap ibu itu sambil mengelus kepala Berliana dengan lembut.

Sekarang tinggal dirinya seorang berada di area pemakaman tersebut.

Berliana menghela nafas berat dengan tatapan mata sendu menghadap kuburan didepan dirinya.

"Nenek dan kakek jangan khawatir. Berliana pasti akan menjadi wanita yang lebih baik lagi, lebih dewasa dalam menerima kenyataan ini"

"Kuatkan Berliana ya, dan terima kasih sudah merawat Berliana dengan kasih sayang yang luar biasa sampai hari ini dan Berliana akan tetap menjadi Berlian di hidup kalian"

"Nenek, Kakek terima kasih kalian sudah memenuhi ruang kosong di dalam hidup Berliana selama 16 tahun ini dan maaf jika Berliana belum bisa membahagiakan kalian semasa kalian hidup"

"Nenek, sungguh aku tidak tau apakah nanti aku akan bisa memenuhi apa yang kau ucapkan terakhir kalinya. Ini sunggu berat dan sangat bertentangan untuk hidup dan prinsip ku" ucap Berliana dengan wajah penuh kebimbangan.

"Nenek, jika dengan ini jalan yang terbaik untuk Berliana maka akan Berliana jalani Nek, walaupun ini akan terasa berat untuk Berliana".

Semakin dirinya bercerita dan mengungkapkan kekhawatiran dirinya membuat Berliana semakin tidak bisa menahan kesedihan dalam hidupnya.

Merasa cukup dengan kesedihan yang ia rasakan, Berlina mulai menghapus sisa-sisa air mata yang menempel di wajahnya dengan halus.

Berliana mulai membalikkan tubuhnya dan melangkah secara perlahan meninggalkan kedua makan tersebut dengan perasaan yang tidak bisa di gambarkan.

"Terima kasih untuk semuanya" ucap Berliana dalam hati sambil terus meninggalkan kedua kuburan tersebut.

.......................

Sampai di rumah yang ia tempati bersama kakek dan neneknya membuat Berliana kembali mengingat banyak hal yang telah terjadi kepada dirinya.

Beberapa foto terpajang di dinding rumah, dan akan menjadi kenangan tersendiri untuk dirinya.

Memutuskan pandangan ke segala arah penjuru rumah, Berliana berjalan masuk kedalam kamar dirinya untuk membersihkan dirinya.

Setelah membersihkan diri, Berliana mulai membantu para ibu-ibu untuk membersihkan rumah.

"Nak, Berliana silakan makan dan ibu tau kamu pasti belum makan sedari pagi bukan?" tanya ibu Maya dengan ramah.

Tanpa membantah Berliana langsung duduk di kursi meja makan dan mulai mengambil lauk pauk yang sudah di sediakan di atas meja tersebut.

"Makan yang banyak nak Berliana" ucap ibu Maya sambil meletakkan segelas air putih di depan piring.

Selesai makan Berliana beristirahat di dalam kamarnya. sedangkan para warga yang membantu dirinya mulai kembali kerumah mereka masing-masing.

Berliana menatap langit-langit kamar dengan tatapan datar serta dahinya sedikit berkerut yang menandakan bahwa dirinya sedang berpikir rumit.

Sebuah deringan ponsel memutuskan tatapan datar Berliana setelah mendengar deringan ponsel miliknya.

Mulai beranjak dari atas kasur, Berliana mulai membuka laci meja belajar dan mengambil ponsel miliknya.

Sambungan telepon,

"Ada apa?" ucap Berliana.

" Kami turut beduka cita atas apa yang menimpa dirimu Berliana" ucap seseorang disebrang sana

" Dan kami minta maaf jika tidak bisa datang secara langsung" sambung seseorang lagi.

"Tidak masalah, doa kalian saja sudah cukup untuk mereka" ucap Berliana yang terkesan santai.

"Pastinya kami akan mendoakan mereka dengan baik serta tulus" ucap seseorang di seberang sana.

"Istirahatlah Berliana kau pasti lelah dan semoga kita bertemu kembali" ucap seseorang.

"Terima kasih untuk semuanya" ucap Berliana dan langsung mematikan sambungan telepon tersebut.

Telepon berakhir.

.........................

Di sebuah rumah mewah, yang berada di pusat kota besar juga mendapat berita duka yang di alami oleh Berliana.

"Apa keputusan kita ini sudah tepat? dan apakah Berliana mau menerimanya?" tanya seorang istri kepada sang suami.

"Aku yakin dia akan menurutinya, dan ku harap kau juga sudah mempersiapkan keperluan saat kita akan pergi kesana dan saat kembali kerumah" perintah sang suami kepada sang istirnya.

Didalam lubuk hatinya, dirinya juga ada perasaan cemas dan khawatir akan keputusan yang sudah ia ucapkan.

Hanya saja ego dapat mengalahkan segalanya dan harus berjalan dengan sesuai kehendak diri mereka masing-masing tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Keduanya sepakat akan berangkat kesana sesuai dengan apa yang sudah di sepakati bersama.

...**************...

**Terima kasih sudah membaca, dan diharapkan pembaca dapat memberikan dukungan kepada sang penulis agar. Author dapat update chapter selanjutnya dengan penulisan yang lebih baik lagi untuk kedepannya.

Author juga mempersilakan kepada pembaca yang ingin memberikan saran serta massukan yang dapat membuat novel ini menjadi lebih baik lagu kedepannya.

Selamat membaca,

#Karya hasil pemikiran sendiri.

#No plagiat.

#Dari imajinasi sendiri dan mulai berani menuangkannya dalam bentuk tulisan.

#NunaYu**~

02. Keputusan Berliana

Tepat pada malam hari, Berliana terbangun dari tidurnya. Hal yang pertama ia lihat adalah kegelapan kamar yang ia tempati saat ini.

Ternyata Berliana tertidur terlalu cepat dan itu membuat dirinya terbangun sangat awal.

Langkah Berliana membawa dirinya masuk kedalam kamar mandi, dan ingin mencuci mukanya. Selesai mencuci muka, Berliana mengambil sebuah buku dan mulai membaca buku itu dengan menggunakan lampu yang ada di atas meja belajarnya dan tentunya tanpa menghidupkan lampu utama yang ada di dalam kamarnya.

Sudah hampir setengah buku ia baca dan merasa cukup, Berliana menutup buku tersebut dan menyimpan di tempatnya semula.

Sekilas Berliana melihat di sudut ponselnya ada sedikit lampu kecil yang berkedip, Melihat itu Berliana langsung mengambil ponselnya yang berada di sudut tempat tidur.

Ternyata ada sebuah email yang masuk dan belum terbaca, tanpa membuang waktu ia langsung membukanya.

"Stop bersedih dan bangkitlah!"

"Kuatlah dan kami akan ada untuk mu!"

"Tuhan selalu berada didalam hati kita"

"Berliana, akan selalu menjadi Berlian kami"

Beberapa pesan yang sedikit membuat bibir Berliana menipis seperti membentuk sebuah senyuman di wajahnya.

........................

Di pagi hari Berliana sudah dalam keadaan bersih dan rapi walaupun ia hanya memakai pakaian rumahan biasa.

Di rumah itulah dirinya bahkan sampai saat akhir hidup kakek dan neneknya, selalu memberikan yang terbaik untuk Berliana dan membebaskan cucu mereka untuk melakukan sesuatu hal yang baru.

Berliana mulai tenang dan santai duduk di kursi meja makan tersebut.

Berliana sarapan dengan di meja makan yang hanya bisa menampung 4 orang saja.

Sekilas berliana mendengar suara mobil yang berhenti tepat di depan rumahnya.

Rumah yang sangat sederhana dan hanya berlantai 1 dengan luas tidak seberapa membuat ia sangat mengenali ada sebuah mobil yang berhenti didepan rumah.

Mendengar suara ketukan pintu, membuat Berliana beranjak dari dapur dan mulai membuka pintu dengan lebar.

Tepat didepan Berliana berdiri terdapat dua orang yang sedang menatap ke arah Berliana dengan pandangan terpaku.

"Cari siapa?" tanya Berliana kepada kedua orang yang berdiri kaku di depannya.

"Apa kau Berliana?" tanya seorang wanita dengan suara cukup lembut yang terdengar.

"Iya itu nama saya" jawab Berliana.

"Bisa kami masuk nak, ada hal yang ingin kami bicarakan" pinta seorang lelaki.

"Tentu silahkan" ucap Berliana dan langsung masuk dan diikuti kedua orang tersebut.

Ketiganya duduk saling berhadapan di sofa yang ada di ruang tamu.

Berliana masih menatap keduanya dengan bergantian, bahkan mereka sudah duduk disana selama beberapa menit dan belum ada kata yang terucap.

"Kami ingin kamu ikut bersama kami" ucap lelaki itu dan tentunya Berliana mengenali sifat atau karakter yang tidak ingin basa-basi.

"Pah," tegur pelan wanita di sebelahnya sambil sedikit menepuk pelan paha lelaki itu.

"Berliana, perkenalkan saya Mira Pohan dan ini suami saya Bondan Pohan"

"Tujuan kami disini ingin membawa mu pergi dari sini dan itu sudah mendapatkan restu nenek kamu" ucap Mira dengan perlahan.

"Dan kami ingin memberitahukan jika kami ini adalah orang tua kandung kamu yang selama ini kita hidup terpisah karena sesuatu hal yang belum bisa kami jelaskan" ucapnya lagi dan hal itu membuatnya menarik nafas sedikit berat.

"Ya, dan saya sudah mengetahuinya" ucap Berliana yang terkesan santai.

Mendengar ucapan Berliana kedua orang yang ada di depan Berliana sedikit tidak percaya akan respon Berliana yang terkesan santai.

Jika orang biasa maka mereka akan menangis di dalam pelukan kedua orang tua kandung mereka yang baru kali ini bertemu dan itu tidak berlaku bagi Berliana.

"Kapan kalian akan membawa ku?" tanya Berliana.

"Jika kau bersedia hari ini juga kita akan pindah" ucap Bondan dengan semangat.

"Baiklah, aku akan berkemas" ucap Berliana yang tampak menyetujui ajakan tersebut.

"Tidak perlu nak, semuanya sudah kami siapkan di rumah" ucap Bondan dan hal itu membuat Berliana menatap sedikit tajam kepada Bondan.

"Tidak apa-apa sayang bawalah barang yang ingin kau bawa" ucap Mira dengan bijak.

...........................

Di dalam kamar, Berliana mulai memasukan beberapa barang kedalam tas punggung miliknya. ia hanya membawa beberapa potong baju, laptop, dan foto kesayangannya.

"Semoga ini pilihan yang baik" gumam Berliana sambil mengusap foto nenek dan kakeknya.

Merasa barang yang ingin ia bawa sudah ia masukkan kedalam ransel, membuat Berliana langsung beranjak dari dalam kamarnya.

Sampai di ruang tamu ia terus melihat kedua pasang tersebut dengan tatapan sulit.

"Sudah selesai?" tanya Mira.

"Sudah" jawab Berliana.

"Baiklah mari kita pergi, dan kau tenang saja semuanya sudah di atur" ucap Mira dengan sedikit senyuman.

"Bisakah kalian tunggu di mobil saja, ada sesuatu yang perlu aku lakukan" ucap Berliana.

"Tentu" ucap Bondan dan Mira secara bersamaan.

Melihat kedua punggung pasangan itu membuat Berliana menghela nafas kasar, setelah tidak terlihat lagi punggung keduanya, Berliana langsung berjalan dan masuk kedalam kamar nenek serta kakeknya.

Pintu dibuka secara perlahan, pandangan mata sendu menatap kesegala penjuru kamar.

"Aku sudah mengambil keputusan dan aku harap apa yang kita bicara beberapa hari yang lalu bisa berjalan dengan baik"

"Aku tidak bisa mundur lagi, dan kalianlah alasan ku menjadi kuat dan mengambil langkah ini" ucap Berliana.

Setelah berdiam diri beberapa saat, Berliana sekali lagi menatap kamar itu dengan perasaan sendu.

"Aku pergi!" ucap Berliana dengan tegas dan langsung menutup pintu kamar itu tanpa melihat kebelakang lagi.

Sebuah mobil mewah mulai meninggalkan pekarangan rumah sederhana tersebut. Sepanjang perjalanan menuju rumah besar, Berliana hanya menatap datar ke arah jendela. Disamping kirinya ada Mira sedangkan Bondan duduk di kursi bagian depan bersama sang sopir.

Jarak pusat kota dengan tempat tinggal Berliana hanya memakan waktu selama 4 jam perjalanan, jika menggunakan kecepatan normal.

Melihat tanda yang bertuliskan selamat jalan, membuat Berliana menghela nafas pelan dan mulai mengalihkan pandangannya ke depan dengan tatapan tidak terbaca.

Melihat hal itu Mira menawarkan minuman ataupun cemilan yang sudah mereka siapkan untuk selama di perjalanan.

"Mau minum?" tawar Mira kepada Berliana.

"Tidak terima kasih" tolak Berliana dengan sopan.

"Kalau kamu menginginkannya tinggal ambil saja" ucap Mira setelah meletakkan kembali air mineral yang ia siapkan untuk Berliana.

Bondan yang melihat sang istri berusaha mendekati Berliana membuat dirinya sedikit merasa perasaan sakit di bagian dadanya.

"Kami harap kau bisa bergabung bersama keluarga yang lain dan kedua saudara kamu nantinya" ucap Bondan ambil memandang Berliana melalui kaca tengah mobil.

Mendengar ucapan Bondan, membuat Berliana menatap mata Bondan dengan sedikit menyipitkan matanya.

"Tentu" jawab singkat Berliana setelah memutuskan kontak mata dengan Bonda.

"Dan saya harap kamu mulai saat ini biasakan untuk memanggil kami dengan sebutan papa dan mama, sama seperti saudara kamu yang lainnya"

Ada sedikit perubahan ekspresi di wajah Berliana dan itu tidak ada yang menyadarinya, hal itu di karenakan dirinya cepat mengembalikan ekspresi dirinya seperti biasa saja.

Berliana hanya diam tanpa mengiyakan ataupun menolak permintaan Bondan agar dirinya mau memanggil mereka dengan sebutan papa dan mama.

Sungguh panggilan tersebut agak sedikit asing di telinga Berliana.

"Sepertinya aku akan semakin terjebak dalam permainan yang bertuliskan keluarga" ucap Berliana dalam hati.

03. Perkenalan 1

Mobil yang di tumpangi oleh Berliana sudah masuk kedalam perumahan elit dan hanya golongan orang-orang kaya saja yang dapat membeli salah satu perumahan yang ada di sana.

Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang yang mulai melintasi setiap perumahan elit baik di sisi kiri maupun di sisi kanan jalan aspal yang sangat mulus tanpa cacat sedikipun.

Tidak berselang lama mobil itu berhenti tepat di luar gerbang yang menjulang tinggi dengan warna hitam dipadukan pada warna emas. Untuk rumah mewah itu sendiri berwarna putih pekat dan memiliki 3 lantai. Jarak antara bangunan rumah dengan pagar mungkin sekitar 200 meter, dan disisi kiri jalan terdapat banyak tanaman yang sangat terawat.

Cukup dengan menyembunyikan klakson mobil, gerbang mewah itu akan terbuka secara otomatis.

Mobil itu berhenti sempurna tepat didepan pintu utama, melihat pasangan paruh baya itu turun, membuat Berliana mulai membuka pintu mobil secara perlahan sampai seluruh tubuhnya keluar dengan sepenuhnya.

Berliana masih mengedarkan pandangannya kebagian depan maupun samping rumah mewah itu dengan tatapan menilai.

Dan yang membuat Berliana sedikit mengkerutkan dahinya adalah terdapat beberapa mobil mewah yang tidak jauh dari mobil yang membawanya.

"Ayo masuk" ajak tuan Bondan Kepada Berliana yang masih mengedarkan pandangannya.

"Sepertinya mereka sudah datang" ucap nyonya Mira.

Mendengar ucapan nyonya Mira, membuat Berliana sedikit bingung dan siapa mereka yang di ucapkan oleh nyonya Mira.

"Sepertinya begitu" ucap tuan Bondan yang mulai berjalan ke arah pintu utama dan diikuti oleh Mira serta Berliana.

Sampai tepat didepan pintu utama yang cukup tinggi dan lebar, secara bersamaan pintu besar tersebut terbuka dari dalam

Ternyata seorang pria paruh baya yang menyambut mereka dengan hormat dan ramah. Dari penampilan dan sikap bisa dipastikan bahwa dia adalah salah satu pekerja di rumah besar itu.

"Selamat datang, tuan, nyonya dan nona muda" sambut lelaki itu dengan baik dan disertai senyum ramah.

"Apa mereka sudah berkumpul semua?" tanya tuan Bondan kepada ketua pelayan yang ada di rumahnya

"Iya tuan, bahkan tuan besar sudah datang sekitar 30 menit yang lalu" jawab ketua pelayan.

"Baiklah, dan ambil barang yang ada di bagasi mobil antarkan ke kamar yang sudah di siapkan" printah tuan Bondan.

"Baik tuan saya permisi tuan nyonya dan nona muda" pamit ketua pelayan itu dengan sopan.

....................

Berliana hanya diam sambil mengikuti kedua orang tua yang ada didepannya itu.

Sampai di ruang keluarga yang cukup luas, sudah terdapat beberapa orang yang sedang duduk disana dengan santai. Sepertinya mereka sedang menyambut kedatangan Berliana di rumah besar tersebut.

"Papa" panggil Bondan kepada seorang pria yang sudah lanjut usia yang sedang duduk di kursi single itu.

"Oh, kalian sudah datang?" tanya tuan besar kepada mereka tanpa melihat ke arah mereka yang baru sampai di ruang keluarga.

"Lihat pa, siapa yang kami bawa" ucap Bondan dengan senang.

"Rupanya kalian berhasil membawanya" ucap tuan besar dengan raut wajah biasa saja, bahkan terkesan tidak perduli.

"Ayo sayang duduk" ucap Mira kepada Berliana.

Tanpa membantah Berliana duduk di seberang tuan besar itu tanpa canggung sekalipun. Di tempat duduknya Berliana mulai menelisik siapa saja yang ada disana.

Tidak jauh dari samping kanan Berliana ada Mira bondan ada seorang remaja yang mungkin sepantaran dirinya dan satu lagi seorang lelaki dewasa yang duduk dengab tegap, yang pastinya Berliana belum mengetahui nama keduanya.

Untuk sebelah kanannya ada sepasang suami istri dan 2 orang remaja dan sepertinya mereka kembar menurut Berliana.

"Ternyata kau sudah besar sekarang" ucap tuan besar itu dengan suara tegas dan beriwibawa tentunya.

Merasa ucapan lelaki tua itu mengarah kepada dirinya membuat Berliana langsung menatap mata lelaki tua tersebut.

"Seperti yang kau lihat" ucap Berliana santai tanpa merasa terimitidasi dari tatapan lelaki tua tersebut.

Mereka yang ada disana yang memperhatikan langsung bagaimana sikap Berliana membuat mereka menatap sedikit keheranan.

"Perkenalkan dirimu, biar orang yang ada di ruangan ini mengetahui nama kamu" pinta lelaki tua itu kepada Berliana.

"Sebelum bertanya nama orang lain, lebih baik perkenalkan dirimu dahulu" ucap Berliana dengan datar tanpa ekspresi.

"Berliana" tegur Bondan dengan suara penekanan.

"Haha, baiklah perkenalkan nama saya Pohan Narendra, dan kalian perkenalkan juga diri kalian" ucap tuan besar Pohan.

"Kalau nama papa dan mama kau pasti sudah tau kan?" tanya tuan Bondan kepada Berliana, mendengar ucapan tuan Bondan Berliana hanya menganggukkan kepalanya sedikit.

"Dan kenalkan ini Arkana pohan" tunjuk tuan Bondan kepada seorang lelaki yang memiliki umur sekitar 25 tahun.

"Dia adalah anak tertua yang ada di kelurga ini dan papa harap kamu bisa memaklumi kalau dirinya seperti tidak tersentuh" jelas tuan Bondan.

Arkana yang di perkenalkan oleh papanya hanya menatap sebentar kepada Berliana.

Berbeda dengan Arabela yang langsung menatap kurang suka kepada Berliana dan ia merasa bahwa kehadiran Berliana di rumah ini akan membuat posisinya bergeser dari keluarga Pohan.

"Dan ini Arabela Pohan, berdasarkan umur kalian bahwa dia adalah adik kamu walaupun kalian lahir di tahun yang sama" sambung Bondan lagi.

Mendengar penjelasan tuan Bondan membuat Berliana sedikit menebak bahwa disini ada kejanggalan menurut dirinya. Tanpa mau berpikir terlalu jauh dan terlalu malas lebih tepatnya membuat Berliana masih dalam mengamati orang-orang yang ada di sekitar dirinya

Selesai tuan Bondan memperknalkan dirinya, di sebelah kiri Berliana langsung membuka suara.

"Selamat datang di rumah ini, perkenalkan nama bibi atau kau juga bisa memanggil dengan sebutan mommy sama seperti kedua putra ku" ucap perempuan itu dengan sedikit tertawa.

Melihat cara bicara wanita tersebut membuat Berliana dapat menyimpulkan bahwa dia adalah wanita yang cukup humoris.

"Mommy ini namanya Azura Pohan, dan ini daddy atau suami mommy, Radika Bagaskara dan kedua pemuda tampan yang ada disebelah daddynya itu Ramkes Radika dan sebelahnya lagi Remi Radika" ucap mommy Azura agar Berliana kenal sama keluarga kecilnya.

"Mereka ini kembar dan sifat mereka sangat bertolak belakang. Sayang, jadi mommy harap kamu jangan kaget ya" sambungnya lagi dengan kekehan kecil.

"Hallo, tadi mommy sudah memperkenalkan aku, nama ku Remi Radika tentunya aku ini sangat tampan".

"Kalau kakak ku ini, sangat mirip dengan daddy seperti kulkas" ucap Remi kepada Berliana dengan nada sedikit berbisik. Padahal orang yang ada di ruangan itu dapat mendengar jelas apa yang di ucapkan oleh Remi.

"Kamu pasti dapat menilai dengan sendirinya putra kembar mommy ini, yang satu ceria yang satunya dingin dan datar. Mommy harap kalian berteman dengan baik walaupun keduanya lebih muda 1 tahun dari kamu" ucap mommy Azura dengan tulus.

"Nah sekarang giliran kamu untuk memperkenalkan diri" ujar tuan besar Pohan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!