NovelToon NovelToon

TUMBAL

Perempuan Itu

Arlan menatap ke luar jendela kelasnya, di tengah jam pelajaran matematika yang menurutnya mulai membosankan. Dia merasa jenuh, karena sejak tadi dia tidak bisa mengerti dengan apa yang guru matematikanya katakan.

Matanya tertuju pada empat orang anak laki-laki yang sedang duduk santai di pinggir lapangan basket. Mereka tampak asyik bercengkrama satu sama lain, sambil sesekali tertawa lepas. Sayup-sayup, Arlan dapat mendengar isi percakapan mereka.

Pandangan Arlan beralih ke arah jam dinding yang tergantung di atas papan tulis dan diapit foto presiden serta wakilnya. Sudah lewat sepuluh menit dari jam istirahat, namun belum ada tanda-tanda bahwa sang guru akan mengakhiri penjelasannya.

Arlan mengintip ke bangku belakang dari balik bahunya, melihat seorang laki-laki seusianya yang bersembunyi di balik buku yang sengaja dibiarkan terbuka di depan wajahnya. Sudah pasti, anak itu tidak mendengarkan penjelasan. Dia tidur.

"Baik. Sampai di sini dulu penjelasan dari saya. Mohon maaf karena saya menyita lebih waktu istirahat kalian!"

Kalimat itu bagaikan angin segar untuk Arlan. Cacing-cacing di perutnya sudah meronta untuk diberikan makan. Begitu salam hormat telah diberikan, semua anak bergerak brutal dari kursi mereka. Beberapa bahkan berlari kencang ke arah kantin sekolah.

Arlan berjalan menghampiri sahabatnya yang masih bergelut di alam mimpi. Dengkurnya bahkan bisa Arlan dengar dari jarak dua meter.

"Dim!" Arlan melayangkan buku catatan yang dia bawa ke kepala Dimas. "Woi! Bangun lo!"

"Nnngg!" Dimas mengerang dengan mata terpejam. Dia mengerjap beberapa kali, sebelum benar-benar sadar, apa yang terjadi. "Kenapa, Lan?"

"Ke kantin, nggak?" tawar Arlan.

Dimas menoleh ke kanan dan kirinya. Hampir semua bangku telah kosong, ditinggal penghuninya. "Udah jam?"

"Telat banget lo!" Arlan berjalan duluan, sementara Dimas buru-buru mengikutinya. "Jangan deket-deket gue! Muka lo masih muka bantal! Malu gue jalan sama lo!" Arlan mendorong Dimas menjauh, ketika Dimas tiba di sebelahnya.

"Sialan lo! Kayak lo cakep aja!" Dimas malah menjadi-jadi dan bergelayut di punggung Arlan seperti monyet.

"Woi, lepas, Nyet!" Arlan berusaha melepas tangan Dimas yang melingkar di lehernya.

Ketika pegangan Dimas terlepas, Arlan terhuyung beberapa langkah ke samping. Tanpa sengaja, Arlan menabrak seseorang dengan keras. Tanpa menoleh pun, Arlan tahu orang yang dia tabrak terpental dan jatuh.

"Maaf!" Arlan reflek menghampiri perempuan yang jatuh terduduk di jalan setapak. Wangi bunga lavender langsung tercium begitu Arlan berlutut di depan perempuan itu. Arlan sempat kagum dengan rambutnya yang hitam berkilau sepanjang pinggang.

Perempuan itu mengecek telapak tangan kirinya yang terasa sakit, sebelum mendongak melihat Arlan di depannya.

"Wah, tangan lo luka," Arlan berkomentar. Namun, ketika dia membalas pandangan perempuan itu, Arlan malah disuguhkan wajah ketakutan. Perempuan itu sampai pucat dan bibirnya bergetar ketika mereka bertemu pandang. "A-ada apa?" tanya Arlan hati-hati. Arlan merasa, jika dia mengeluarkan suara mendadak sedikit saja, perempuan itu akan melompat dan lari terbirit-birit.

"Ng-nggak! Nggak apa-apa," perempuan itu menjawab dengan panik. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya yang pucat. "G-gue permisi!" tambahnya, kemudian bergegas berdiri sendiri.

Arlan buru-buru mengikuti perempuan itu berdiri. Tapi, belum saja Arlan berdiri dengan benar, perempuan itu sudah mengambil langkah seribu. Arlan terbengong-bengong dibuatnya.

"Gila, tuh, cewek!" Dimas muncul di sebelah Arlan.

"Kenapa dia kabur?" tanya Arlan, tidak mengerti.

"Lo jelek, sih!" Dimas menjawab asal. "Lanjut kantin, Bro!" ajak Dimas.

Arlan mengikuti langkah Dimas menuju arah yang berlawanan dengan arah perempuan tadi berlari. Tetapi, untuk beberapa detik, Arlan mengagumi sosok perempuan itu dari belakang.

Kelebatan rambutnya yang hitam kelam dan halus diterpa angin, terus melayang-layang di pelupuk mata Arlan. Wajahnya yang polos tidak bisa hilang dari pikiran Arlan. Dalam hati dia bertanya, bagaimana bisa dia melewatkan perempuan itu selama ini?

"Lan! Woi!" Dimas mengguncang bahu Arlan. "Lo melamun? Dari tadi kenapa diam aja?"

"Oh? Ya? Kenapa?" Arlan kembali ke dunia nyata.

"Ditanyain, lo mau pesan apa? Jam istirahat nggak banyak, Bro!" kata Dimas.

"Satu soto ayam dan satu es jeruk," kata Arlan pada perempuan paruh baya yang menunggu di samping meja mereka.

"Lo mikirin apa, sih?" tanya Dimas setelah penjaga kantin berlalu. "Tumben banget sampai bengong begitu."

"Cewek tadi," jawab Arlan tanpa basa-basi.

"Hah? Manda maksud lo?" Dimas memastikan.

Arlan mengangguk.

"Waduh, waduh! Lo kesambet, ya, waktu tabrakan sama dia?"

Arlan memberenggut. "Nggak usah berlebihan!" kata Arlan. "Gue cuma kagum aja sama sosoknya. Hmmm, dia punya kharisma."

Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak, "ck ck ck... Ada banyak cewek cantik di sekolah kita, dan lo naksirnya malah sama Manda? Nggak sehat lo!"

"Emang kenapa, sih? Kayak lo kenal aja sama cewek itu," sindir Arlan. Sebenarnya dia sendiri tahu kalau dia pastinya banyak ketinggalan berita. Arlan tidak suka menguping tentang gosip-gosip yang beredar di sekitarnya. Dia selalu menutup telinga jika ada yang mulai membicarakan sesuatu.

"Semua orang kenal dia," sanggah Dimas.

"Serius? Kenapa gue nggak pernah lihat dia selama enam bulan sekolah di sini kalau dia memang seterkenal itu?"

Dimas menghela nafas. "Mending lo nggak usah berurusan sama dia, deh! Gue akui kalau Manda itu cantik. Tapi, dia itu aneh. Katanya, sih, dia bisa lihat yang nggak kasat mata. Apa, ya, istilah kerennya? Indigo?"

"Apa salahnya?" tanya Arlan.

"Ya... Coba aja lo lagi makan sama dia, terus dia tiba-tiba nyeletuk 'ada hantu lagi berak di bakso lo'."

"Kalau itu, lo-nya aja yang jorok!" Arlan meninju lengan Dimas, kesal sendiri dengan temannya yang tidak bisa diajak bicara serius.

"Gue kenal beberapa cewek kalau lo mau pacaran atau sekedar dekat. Tapi, please, jangan Manda! Gue nggak mau lo terjerumus ke dalam ilmu hitam!"

"Dia pakai ilmu hitam?" tanya Arlan dengan suara rendah. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Arlan dapat merasakan sendiri, bahwa aura yang Manda tebarkan sangat segar. Bagaimana bisa orang 'sesejuk' Manda, memakai ilmu hitam?

"Katanya, dia pernah buat beberapa orang celaka," Dimas memelankan suaranya, seolah ini adalah hal rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapapun.

"Celaka bagaimana?" Arlan tetap tidak percaya.

"Waktu orientasi siswa baru enam bulan lalu, Manda dekat dengan beberapa anak cewek lainnya. Cecilia, Anggi, sama Winda."

"Bukannya mereka anak-anak yang absen karena sakit, ya?"

"Lo nggak tahu ceritanya?" Dimas bertanya, tidak yakin. "Ini berita buat sekolah kita heboh! Seriusan, lo nggak tahu?"

Arlan menggeleng. Dia teringat dengan hari-hari awal masa orientasi siswa enam bulan yang lalu. Kakeknya sakit keras hingga hari ini, dan dia lumayan sibuk mengurus Beliau, mengingat orangtuanya sibuk bekerja. Memang ada perawat yang bergantian menjaga kakeknya di rumah, namun Arlan tidak sampai hati jika lepas tangan begitu saja.

"Gue ceritain sambil makan," Dimas menyambut pesanannya yang datang terlebih dahulu. Asap putih tipis mengepul dari mangkuk bergambar ayam jago, menebarkan aroma gurih yang tidak bisa ditolak. "Nyam!" Dimas memasukkan sesendok penuh soto ayam ke mulutnya.

"Dim! Buruan ceritanya!" pinta Arlan tidak sabar.

"Makan dulu, Lan!" protes Dimas.

***

Bekas Luka

"Cepat ceritakan!" Arlan menuntut haknya mendengarkan penjelasan dari Dimas. Dimas yang tadinya ingin bercerita sambil makan, dihentikan oleh Arlan karena makanan di mulut Dimas malah berhamburan ke sana-sini.

Mereka berjalan beriringan untuk kembali ke kelas. Bel tanda berakhirnya jam istirahat sudah berbunyi lima menit yang lalu. Tidak masalah bagi mereka untuk telat sedikit, karena mereka berdua sudah langganan menerima hukuman.

"Cerita dari mana?" Dimas malah cengengesan.

"Lu gue piting, nih!" Arlan sudah siap dengan kedua lengannya yang berotot.

"Ampun, Bos!" ujar Dimas sambil nyengir seperti kuda. "Jadi, singkatnya, Manda pernah dekat sama tiga orang anak cewek waktu masa orientasi siswa. Tapi, ketiga cewek itu malah celaka. Kabarnya, sih, mereka jadi tumbalnya Manda."

"Tumbal apa?" tanya Arlan.

Dimas mengangkat bahunya. "Katanya supaya Manda tetap cantik?"

Arlan menghela nafas panjang. "Dari tadi lo bilang 'kabarnya' atau 'katanya'. Apa nggak ada fakta?"

"Tauk, deh," Dimas menjawab sekedarnya. "Gue sendiri nggak pernah ngomong langsung sama Manda. Lagian, nggak ada perlu juga. Mending nggak usah dekat-dekat dia."

Mendengar apa yang Dimas katakan, membuat Arlan ragu. Semua itu hanya opini belaka dan membuat Arlan semakin penasaran. Manda yang tadi dia lihat sama sekali tidak menyeramkan seperti apa yang Dimas ceritakan. Kesejukan yang dia tebar, dapat Arlan rasakan sepenuhnya. Manda memang berbeda, namun dalam artian positif.

"Gue pengen ngobrol sama Manda lagi," gumam Arlan.

Dimas menoleh cepat, kaget dengan perkataan sahabatnya itu. "Lo bukannya menghindar, tapi malah mau ketemu dia lagi?" tanya Dimas memastikan. "Lan, nyebut, Lan!"

"Apa, sih!" Arlan meninju lengan Dimas. "Woi, Pak Hendri, tuh! Gas! Gas!" Arlan berlari mendahului Dimas, ketika matanya menangkap guru mata pelajaran kimia sudah hampir tiba di kelas mereka.

Selama sisa jam pelajaran, Arlan tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya melayang kepada Manda. Wajah cantik Manda tidak mau hilang dari kedipan matanya. Semakin ingin menyingkirkan wajah Manda, semakin baik Arlan mengingat detail wajah perempuan itu.

Arlan tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Dia tahu bahwa rasa ini lebih dari sekedar perasaan kagum. Ada yang membuatnya tertarik dengan Manda. Bukan hanya parasnya yang cantik, namun ketentraman yang dia berikan.

Arlan mengusap dagunya, mulai memikirkan perkataan Dimas beberapa jam yang lalu. Manda penyebab tiga kecelakaan temannya? Arlan tidak mau percaya akan hal itu. Dia harus membuktikannya sendiri.

Jam istirahat kedua yang sisa beberapa menit lagi, membuat Arlan merasa gila. Dia terus-menerus melihat ke luar jendela ketika ada siswa yang lewat, berharap bisa melihat Manda lagi.

Arlan menoleh ke belakang. Dimas yang merasa, langsung membalas pandangan Arlan. Dimas melemparkan pandangan tanya tanpa suara. Arlan bertanya di mana kelas Manda, juga tanpa suara. Dimas menjawab dengan cibiran, membuat Arlan kesal.

Arlan kembali duduk tenang di bangkunya. Dia menulis pertanyaan yang sama untuk teman sebangkunya di atas secarik kertas. Dito--teman sebangku Arlan--menoleh kaget setelah membaca pertanyaan Arlan. Mata Dito membelalak, seolah berharap apa yang dia baca adalah suatu kesalahan.

Namun tekad Arlan sudah bulat. Dia harus menemui Manda. Hati kecilnya menyuruhnya seperti itu.

1-A

Begitu balasan dari Dito. Arlan meremas kertas kecil di tangannya, kemudian memasukkannya ke saku kemeja. Dia akan menemui Manda saat pulang sekolah nanti.

***

"Duluan!" Arlan melambai kecil pada Dimas begitu bel pulang sekolah berdering. Arlan bahkan tidak repot-repot menunggu Dimas yang memanggilnya berkali-kali. Matanya sibuk mencari sosok Manda di antara anak-anak yang keluar kelas.

"Ketemu!" ujar Arlan girang, saat melihat sosok Manda yang muncul dari pintu kelas Satu-A. Rambut hitam Manda yang panjang berkilau, sesaat membuat Arlan termenung. Dia ingin sekali membelai rambut itu.

Saat mereka bertemu pandang, barulah Arlan sadar dari lamunannya. Namun, Manda yang melihatnya malah ketakutan dan bersiap untuk kabur.

"Manda! Manda!" Arlan buru-buru mengejar Manda dan meraih tangannya. "Jangan pergi!" pinta Arlan.

Mereka langsung menjadi pusat perhatian. Manda yang tidak berani didekati siapapun, tiba-tiba saja dikejar oleh Arlan. Tentu saja Manda menyadari hal itu. Pandangan curiga dan menghakimi datang dari segala arah. Manda langsung menepis tangan Arlan. Dia menunduk dengan wajah pucat.

"Ja-jangan dekat-dekat," gumam Manda.

Arlan maju selangkah dan sedikit menunduk, mendekatkan wajahnya pada Manda. "Apa?" tanyanya. "Kalau lo ngomong sepelan itu, gue nggak bisa dengar."

Manda reflek mundur beberapa langkah karena kaget. Tapi pandangannya tetap tertuju pada sepatunya sendiri. "Pergi! Gue nggak ada urusan sama lo!"

Kening Arlan berkerut. "Apa lo kayak gini, karena apa yang menimpa teman-teman lo enam bulan lalu?" tanya Arlan. "Gue mau tahu ceritanya."

Manda mendongak, makin kaget dengan apa yang Arlan katakan. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Manda kembali membuang wajahnya. "Tanya saja sama yang lain. Gue nggak ada niat buat cerita."

"Tapi gue maunya nanya sama lo," Arlan berkeras.

"Tanya sama yang lain!" Manda ikut keras kepala.

Arlan menggeleng. "Gue maunya dengar langsung versi lo."

"Gue nggak mau cerita."

"Sedikit aja."

Bisik-bisik mulai terdengar di sekitar mereka. Kerumunan menjadi lebih banyak daripada sebelumnya. Manda menjadi panik sendiri. Dia melirik Arlan yang masih anteng berdiri di depannya. Manda tahu, Arlan tidak akan mudah disingkirkan.

"Ikut gue!" desis Manda. Dia sebenarnya kesal dan tidak suka menghadapi laki-laki macam Arlan. Arlan tampak tidak terganggu dengan kerumunan yang memperhatikan mereka, dan tetap ngotot bertanya padanya.

Arlan sedikit kaget karena mengira Manda akan membawanya ke tempat sepi agar mereka bisa bicara dengan leluasa. Kenyataannya, Manda membawa Arlan ke dekat lapangan basket, di mana sebagian besar siswa tengah berkumpul untuk menyaksikan pertandingan basket antaranak populer di kelas sebelas.

"Mau tahu bagian mana?" tanya Manda.

"Kenapa lo nggak balas pandangan gue?"

Manda menoleh, kesal. "Tadi pertanyaan lo nggak kayak gini!" bentaknya.

Arlan tersenyum lebar. "Lo malu?"

"Malu buat apa?" Manda balik bertanya. Dia menunduk lagi. Alisnya masih berkerut. "Jangan tanya yang aneh-aneh! Bicara ke intinya saja!"

Arlan menimbang sejenak, apa mau terus menggoda Manda?

"Apa yang terjadi dengan ketiga teman lo?" Arlan memutuskan untuk berhenti bercanda.

Manda memandang ke arah lapangan basket. Sorak-sorai para suporter menggelegar di sekitar lapangan. "Winda kecelakaan, Anggi jatuh dari tangga, Cecilia ditabrak mobil."

"Bisa lebih jelas?"

Manda mendengus. "Lo nggak akan percaya."

"Coba saja cerita ke gue," tantang Arlan.

Manda melirik Arlan untuk sekian detik. "Lo mimpi buruk?"

Arlan mengerjap. Hanya beberapa detik Manda menatapnya, namun ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Arlan meremang. Bola mata Manda yang sehitam langit malam, seakan menyedot kesadaran Arlan. "Hah?" hanya itu yang bisa keluar dari mulut Arlan.

"Mimpi seorang wanita tua," Manda bergumam. "Tapi, wanita itu berbeda dengan yang ada di belakang lo."

Arlan reflek menoleh ke belakang. Dia hanya menemukan udara kosong. Dia kembali pada Manda yang masih enggan membalas pandangan matanya. "Kenapa lo bisa tahu soal mimpi gue?"

"Terlihat. Di mata lo."

Seketika Arlan sadar, kenapa Manda tidak mau melihat matanya dan menghindar terus. "Apa lo punya kemampuan khusus?"

Manda terkekeh. "Kemampuan khusus, ya? Ini pertama kalinya ada yang bertanya begitu. Biasanya mereka menyebut ini ilmu hitam."

"Apa lo yang menyebabkan hal buruk yang menimpa mereka bertiga?" tanya Arlan.

Manda menggeleng lesu. "Gue dekati mereka, karena mereka diikuti sesuatu yang berbahaya."

"Apa?"

"Jin," Manda menjawab dengan nada pelan. "Gue berusaha mencegah hal buruk terjadi, tapi ternyata nggak bisa sepenuhnya."

"Kenapa sampai ada gosip kalau lo penyebab mereka celaka?" tanya Arlan, masih tidak mengerti.

"Karena gue ada di sana. Gue ada di detik-detik mereka celaka. Gue yang berusaha menolong, malah dituduh mencelakai." Manda masih mengingat bagaimana dia berusaha melindungi ketiga siswa yang menurutnya ada di ambang kematian. Manda berharap dengan kemampuannya, dia bisa menolong orang. Sayang sekali, keadaan berbalik. Manda yang mampu menyelamatkan nyawa ketiga siswa itu, dianggap membawa bencana karena ada di sekitar mereka.

"Lalu, tentang mimpi itu..." Arlan melanjutkan.

"Jangan bicara di sini," sahut Manda. Manda bergerak gusar. Dia menoleh ke sana-sini. "Gue nggak bisa bantu. Pokoknya, itu masalah yang lo harus pecahkan sendiri. Gue nggak bisa apa-apa."

"Tapi--"

Manda menggeleng keras, kemudian berlari meninggalkan Arlan yang termenung sendirian. Sorakan suporter di pinggir lapangan, terdengar jauh di telinganya. Karena Manda mengungkit, dia jadi teringat kembali mengenai mimpi semalam. Mimpi yang membuatnya terbangun dan tidak bisa tidur kembali.

***

Mimpi

Arlan berdiri di sebuah tempat yang tidak ia kenal. Rumput liar setinggi lutut menggelitiki kakinya tanpa henti. Angin dingin menusuk berhembus dari berbagai arah secara bergantian Anehnya, tubuhnya tidak menggigil karena kedinginan.

Dia menajamkan pendengarannya berkali-kali lipat. Satu-satunya suara yang Arlan dengar, adalah suara gemerisik dedaunan di pohon. Arlan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, berharap menemukan petunjuk, di mana dirinya sekarang.

Arlan tahu ini mimpi. Mimpi ini adalah mimpi keduanya di tempat yang sama. Arlan menunduk, menemukan jalan setapak yang kemarin dia lihat. Jalanan itu sama persis. Bahkan, batu yang ada di dekat kakinya kemarin, sekarang berada di tempat yang sama.

Pandangan Arlan berubah ke arah depan dan belakangnya. Di kedua ujung jalan itu, tidak terlihat apapun. Hanya kegelapan yang terasa akan melahapnya hidup-hidup jika Arlan menyusurinya.

Arlan mendongak ke atas. Bulan purnama di atas kepalanya adalah satu-satunya sumber penerangan malam itu. Namun, cahayanya tidak mampu memberikan jawaban. Jadi, Arlan tidak bergerak. Dia masih menimbang apa yang akan terjadi dan apa yang harus dia lakukan beberapa saat lagi.

'Wanita itu akan muncul!' batin Arlan.

Sebagian dari dalam dirinya merasa takut. Bayangan wanita itu yang muncul kemarin malam, masih tersisa di kepalanya. Jika bisa memilih, Arlan tidak mau menyaksikan wajah buruk rupa itu lagi.

Suara gemerisik yang terdengar berbeda, muncul beberapa meter dari belakangnya. Arlan berbalik, mendapati rumput liar yang bergerak secara cepat. Dia tahu bahwa ada yang mendekat.

Arlan mengepalkan tangannya. Jantungnya memburu seiring dengan hembusan nafasnya yang tidak beraturan. Dia tahu apa yang akan dia hadapi.

"KETEMU!"

Suara tinggi melengking dan serak menggema di tengah malam. Arlan memasang kuda-kuda ketika sebuah kepala muncul dari balik rumput, disusul dengan tubuh yang tidak lagi utuh. Tangan kiri wanita itu tidak ada pada tempatnya. Sebagian kulit perutnya juga menghilang, memperlihatkan organ dalam yang tidak lagi sehat. Kakinya menekuk ke arah yang salah. Wanita itu berjalan terseok-seok mendekati Arlan dengan cepat.

Arlan berbalik, hendak mengambil langkah seribu karena ketakutan. Arlan sadar yang dia hadapi bukanlah manusia. Namun, belum sempat dia menggerakkan kakinya, wanita itu tiba-tiba melesat ke depan Arlan secepat kilat.

Mata Arlan yang membelalak terbuka, sekali lagi menangkap wajah wanita itu dengan jelas. Bola matanya melotot, seolah bisa menggelinding jatuh dari rongganya. Hidungnya mancung dan bengkok. Sudut bibirnya tertarik ke atas, melengkungkan senyum lebar mengerikan. Kulit wanita itu keriput dengan bekas luka di mana-mana. Rambut hitam kusamnya menjuntai menutupi sebagian wajahnya seperti tirai.

"Ke... te... mu..." ujar wanita itu lambat-lambat. Senyumannya semakin lebar. Tangan kanannya tiba-tiba terangkat, hendak meraih Arlan. Dengan cepat, Arlan meringkuk untuk menghindari tangan makhluk di depannya. Ketika membuka mata kembali, mimpi itu berakhir.

Arlan mengerjap, bingung. Sisa-sisa mimpi itu masih ada di pelupuk matanya. Tangannya masih gemetar ketakutan. Bajunya basah karena keringat, tetapi tubuhnya terasa dingin. Nafasnya memburu, sama dengan detak jantungnya.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Arlan terbatuk karena tenggorokannya sangat kering. Seolah dia habis berlari berkilo-kilo meter jauhnya. Arlan bangun dari tidurnya. Dia memegang kepalanya yang berputar memusingkan. Hampir saja dia muntah di lantai kamarnya.

"Astaga... Apa ini?" gumamnya. Arlan mengusap keringat di keningnya. Dia menyibak rambutnya ke belakang.

"Arlan?"

Panggilan itu menyadarkan Arlan kembali. Arlan berusaha bangkit dari duduknya dan pergi membuka pintu kamar.

"Ya, Ma?" jawab Arlan sambil membuka pintu kamarnya.

Wajah Lili tampak gusar. Matanya nanar tetapi tidak dapat diprediksi. Tangan Lili saling bertaut di depan dada. Arlan tahu, ada yang membuat ibunya tidak tenang saat ini.

"Ada apa, Ma?" tanya Arlan.

"Lan... Apa... Apa kamu lihat kakekmu?" Lili terbata-bata.

"Hah?" Arlan cengak. Dia yang baru saja bangun dari tidur, malah ditanya keberadaan kakeknya. Arlan bahkan bisa melihat kalau langit di luar masih gelap. "Kenapa Mama tiba-tiba nyari Kakek?" Arlan balik bertanya.

"Kakekmu nggak ada," jawab Lili.

"Nggak ada bagaimana?" Arlan masih belum nyambung.

"Kakekmu nggak ada di rumah. Mama sudah cari sampai depan jalan besar, tapi Mama nggak menemukan kakekmu. Apa kamu lihat?"

Arlan menggaruk kepalanya. "Nggak, Ma. Aku tidur daritadi," jawab Arlan pada akhirnya.

Mata Lili turun menuju baju Arlan. "Kenapa bajumu basah?" akhirnya Lili sadar.

"Aku mimpi buruk," aku Arlan.

"Mimpi apa?" sambar Lili.

Alis Arlan terangkat, kaget dengan pertanyaan ibunya. Tidak seperti biasanya Lili tertarik dengan mimpi anak laki-lakinya. Apalagi, hal yang paling penting sekarang adalah kakeknya yang hilang.

"Mimpi apa, Nak?" desak Lili sambil mencengkram lengan Arlan.

"Jatuh dari jurang," Arlan menjawab ngawur.

Lili menghela nafas panjang. Dia melepas genggaman tangannya. "Kalau begitu, tidur lagi saja, Nak. Mama akan mencari kakekmu sebentar lagi," kata Lili.

"Aku bisa bantu cari Kakek," tawar Arlan.

Lili menggeleng pelan. Ekspresi Lili terlihat tenang. Tidak tahu kenapa, Arlan menangkap ekspresi ibunya sebagai pertanda bahwa mereka tidak akan menemukan kakeknya apapun usaha mereka. "Kamu tidur saja," ulang Lili.

Arlan yang masih bingung dengan apa yang terjadi, menurut saja apa yang Lili katakan. Toh dia tidak bisa berbuat banyak. Arlan duduk kembali di atas tempat tidurnya. Jam masih menunjukkan pukul empat pagi.

"Mimpi yang sama, jam yang sama," gumamnya.

Mulai kemarin malam, Arlan mendapatkan mimpi buruk. Mimpi itu merusak jam tidurnya. Kemarin, Arlan hanya menganggap mimpi buruk itu adalah mimpi biasa. Tapi, pagi ini, ketika dia terbangun dengan mimpi yang sama, Arlan tahu ada yang salah dengan dirinya.

Arlan memejamkan mata. Bayangan wanita itu kembali terlintas. Kengerian yang makhluk itu timbulkan, masih dapat Arlan rasakan.

Tiba-tiba dia teringat Manda. Perempuan yang mampu melihat mimpinya dan mempunyai kemampuan khusus. "Gue harus ketemu dia lagi," Arlan bertekad.

Tentu saja pagi itu Arlan tidak kembali tidur. Dia tidak bisa terlelap meski sudah memejamkan mata lebih dari satu jam. Kepalanya dipenuhi bayangan wanita di mimpinya, kakeknya yang menghilang, dan Manda.

Beberapa kali, Arlan mendengar ibunya bicara di telepon dengan seseorang, namun Arlan tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Mungkin ibunya menghubungi beberapa orang untuk turut serta mencari kakeknya. Orangtuanya memang mempunyai kekuasaan. Pantas saja Lili tidak melibatkan Arlan dalam masalah ini. Arlan juga beranggapan kalau kakeknya pasti akan kembali. Ke mana lagi kakeknya itu bisa pergi di usianya yang sudah senja?

Pukul enam lebih tiga puluh menit, Arlan menyerah untuk mencoba tidur kembali. Dia bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, berharap Manda adalah tipe siswa yang datang pagi, jadi mereka bisa bertemu secepat mungkin.

Ketika turun ke ruang makan, tidak ada siapapun di sana. Aroma roti bakar memenuhi ruangan. Seperti biasa, Lili menyiapkan roti bakar sebagai sarapan. Bi Enja, si pengurus rumah, baru akan datang sekitar pukul sembilan pagi.

Arlan mengoleskan selai coklat ke atas roti bakar. Sebenarnya, dia tidak merasa lapar karena masih dibayangi oleh mimpi buruk semalam. Tapi, jika dia berangkat dalam keadaan perut kosong, selama jam pelajaran pertama hingga ketiga, dia tidak akan bisa menahan kantuknya. Jadi, Arlan melahap roti bakar di tangannya sebisa mungkin.

Arlan menghidupkan televisi yang bertengger manis di atas kulkas untuk menghidupkan suasana sepi di dalam rumah. Sambil mengunyah roti di mulutnya, Arlan mencari berita pagi itu. Lima menit pertama, semua berjalan baik-baik saja. Menit berikutnya, televisi itu tiba-tiba mengeluarkan garis-garis putih, seperti kehilangan sinyal untuk beberapa saat.

BUM!

Suara debam yang sangat keras tiba-tiba saja memenuhi seluruh isi rumah. Arlan terdiam. Dia tidak bisa bergerak saking kagetnya. Arlan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Asal suara itu tidak jelas, dan tidak ada yang terjadi pada rumahnya. Tidak ada getaran, ataupun tanda-tanda bahwa rumahnya akan roboh.

Arlan bangkit dan bergegas ke luar rumah. Dia memperhatikan  rumahnya dengan seksama. Tidak ada yang berubah. Bahkan, untuk pagi yang cerah itu, suasana lumayan sepi. Suara debam keras beberapa detik lalu, tidak menimbulkan kehebohan apapun.

"Ada yang aneh," gumam Arlan.

***

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!