NovelToon NovelToon

Belenggu Hasrat Tante Cantik

Bab 1: Terapi pagi

Langit malam telah bergeser, berganti pagi dengan kicauan burung di pohon mangga. Seorang pria dengan celana boxer masih terlelap menikmati mimpi indahnya. Hingga usapan lembut yang menjalar kemana-mana, mengusik waktu tidurnya. Usapan itu semakin terasa dan membangunkan ular naga di bawah sana.

"Hentikan," pinta pria itu dengan suara serak khas bangun tidur.

Bukannya berhenti, justru tangan lembut itu semakin liar memainkan peran nya. "Bangun, Ano. Sudah pagi."

Kelopak mata terbuka dan pandangan pertama yang tertangkap lensa matanya adalah seorang wanita cantik dengan pakaian sexy. Wanita itu tersenyum manis ke arah Keano. "Mau terapi?"

"Apa Ken, sudah terapi?" tanya Keano polos.

Wanita cantik itu, mengedipkan mata dengan senyuman yang lebih manis. Pagi yang indah ketika keindahan ciptaan Tuhan memberikan sentuhan cinta sedingin hujan.

"Mau terapi atas atau bawah?" tanya wanita itu dengan mengusap kulit putih Ano.

Keano memejamkan menikmati sentuhan yang membangkitkan gairah di pagi hari. "TanCa, @ah. Jangan disitu....."

Des@han dari bibir Keano, membuat TanCa semakin gencar memberikan pijatan lembut di area keramat pria itu. Ular naga semakin tegak dan mengeras, TanCa tersenyum penuh arti. "Nikmati saja, sayang. All your mine."

Keano meremas ujung selimut, gelenyar aneh mulai menyebar ke seluruh nadinya. Darahnya berdesir hebat. Gelora panas dingin menguasai tubuh dengan senyuman TanCa yang semakin liar. Lihatlah tangan lembut wanita itu dengan semangat meremas ular naga. Terapi pagi bawah telah dimulai.

"@ahhh.... Hurry baby...." desah Keano.

TanCa semakin mempercepat tempo merem@s ular naga milik Keano. Remas@n demi remas@n semakin membuat Keano meracau tidak jelas. Hingga semburan cairan putih keluar membasahi tangan wanita itu dan lumer kemana-mana.

TanCa merayap dan memposisikan tubuhnya di atas Keano. Bibir merah alami pria dibawahnya sangat menggoda. Tanpa permisi, bibir itu direnggut dan ses@pan lembut diberikan. Keano menikmati pagutan bibir cherry ber kelopak mawar dengan senang hati. Seakan tak ingin kalah, bibirnya ikut membalas pergulatan lidah dengan rakusnya.

Pagutan selama beberapa menit itu menyisakan kenikmatan, bibir terpisah dan keduanya berebut udara untuk bernafas. "Mandilah, aku tunggu di bawah. Kita sarapan bersama."

Cup

Satu kecupan di kening mengakhiri sesi terapi pagi darinya. Tanpa mencuci tangan, wanita cantik itu turun dari ranjang Keano dan berjalan keluar meninggalkan kamar pria yang lemas di ranjang. Bagaimana pagi harinya selalu dimulai dengan terapi yang begitu menyiksa tubuh dan jiwa sebagai pria normal.

"Bangun, Ano. Ingat malam nanti, malam istimewa TanCa." ucap Keano dan bangun.

Tubuhnya sudah polos, dan itu ulah TanCa. Sejenak Keano menatap tubuh polosnya di depan cermin, tubuh tinggi semampai dengan postur kekar dan tampan rupawan bak seorang model. Tapi, semua yang ada pada dirinya adalah milik TanCa seorang.

Keano bergegas ke kamar mandi, tanpa menutup pintu dan menyalakan shower. Air dingin menetralkan perasaan di dalam hatinya. Tidak malam ataupun pagi, akan ada terapi yang memanaskan tubuhnya. Semua terjadi selama bertahun-tahun. Sekelebat ingatan melintas. Dimana semua bermula, dan sentuhan manja TanCa menjadi candu.

Aku menikmati setiap permainan ranjangnya. Bagaikan sengatan setrum yang menjalar, memacu semangat hidupku. ~ Keano.

Meninggalkan Keano yang menikmati kesegaran air, di kamar lain ada seorang pria dengan wajah mirip Keano. Pria itu sudah berpenampilan rapi dan mengambil botol parfum beraroma mawar. Senyuman di bibirnya, membuat lesung pipinya timbul.

Tok!

Tok!

Tok!

"Masuk!" ucap pria itu.

Semprotan parfum menyebarkan harum wangi mawar ke seluruh ruangan kamar. Seorang pria paruh baya masuk dengan membawa beberapa map di kedua tangannya. "Permisi, Tuan Kenzo ini file untuk meeting hari ini."

Kenzo meletakkan botol parfum, dan berbalik menatap pria paruh baya di depan pintu. "Ok. Taruh di meja seperti biasa, paman kapan balik? Bukannya izin pulang kampung?"

"Hehehe, Tuan tahu kan. Bagaimana nyonya, beliau tidak mengizinkan jika pewaris bisnis bekerja terlalu larut." Paman meletakkan map di atas meja kaca.

Kenzo paham maksud paman itu. "Istirahat saja hari ini. Meeting biarkan aku dan Ano yang pergi. Besok paman bisa mulai bekerja!"

"Terima kasih, Tuan. Kalau begitu saya permisi." pamit paman dan membungkukkan badan.

Kenzo melambaikan tangan, dan membiarkan paman itu keluar, meninggalkan kamarnya. Sekali lagi Ken menatap penampilannya di cermin dan menyambar jas di atas kursi. "Sempurna."

Ken berjalan mengambil map di atas meja kaca dan membawanya keluar kamar. Langkah kakinya berjalan menyusuri anak tangga dari sisi kiri, dan dari arah sisi kanan tangga, kembarannya juga baru keluar. Penampilan keduanya seperti pinang dibelah dua. Tentu saja karena mereka itu kembar identik. Hanya warna mata saja yang berbeda.

"Pagi," sapa keduanya serempak.

"Ano, kamu rapat bersama dewan direksi dan aku rapat bersama para klien. Bagaimana?" Kenzo mengambil dua map dan menyodorkan ke Keano.

Map diambil, dan sekilas dibaca dari nama file di depan map. "No problem. Ayo sarapan, aku sangat lapar."

Langkah duo K sudah dinanti wanita cantik di ruang makan. Sambutan manis dengan senyuman terbaik dari TanCa, semakin menghangatkan suasana pagi. "Duduk!"

"Hari ini, aku tidak akan ikut ke kantor. Kalian bisa sendiri kan?" ucap TanCa.

Ken yang baru saja memegang sendok, kembali diletakkan. "Apa maksudnya? Bukankah...."

"Ayolah, Enzo. Biarkan hari ini, aku melakukan perawatan." sela TanCa dengan puppy eyesnya.

"Pergilah, baby. Nikmati harimu." Jawab Keano.

"Enzo?" tanya TanCa menatap pria didepannya.

Kenzo menghela nafas, "Pergilah. Jangan lupa kabari kami."

"Thank's boy," ucap TanCa.

Cup...

Cup...

TanCa mengecup pipi Keano dan Kenzo bergantian. Tangannya kembali mengambilkan makanan untuk duo K. Sarapan kali ini, masih seperti biasa. Khidmat dan tanpa percakapan. Hanya ada bunyi kunyahan dan sendok beberapa kali.

Sarapan pun berakhir, Keano bangun setelah menghabiskan jus mangga nya. "TanCa mau bareng, gak?"

TanCa menggelengkan kepala, dan kembali memasukkan sepotong buah naga ke mulutnya. Kenzo ikut bangun, membawa map di atas meja dan meninggalkan meja makan. Wajah cemberut Ken, terlihat jelas. Tapi, hal itu tidak mengubah rencana wanita cantik itu. "Malam ini, aku tunggu kalian di Villa Flow."

Kenzo berhenti sesaat, hanya sesaat dan kembali berjalan menuju pintu utama. Sementara Keano mengacungkan jempol ke atas, langkah kaki pria itu menyusul saudara kembarnya.

"Ken, apa kamu mengejar kereta?" seru Keano dan berjalan normal setelah sampai di samping Kenzo.

Tidak ada jawaban. Kenzo membuka pintu mobil dan diikuti oleh Keano. Pintu ditutup tanpa perasaan. Sopir yang di depan terkejut dan mengelus dadanya.

"Jalan!" tukas Ken dengan wajah datar.

Keano meletakkan map di pangkuannya, dan menatap bagaimana ekspresi kesal saudara kembarnya. "Zo, apa kamu marah dengan TanCa?"

"Kamu, kenapa izinkan TanCa keluar? Kita berdua tahu 'kan. Jika....."

Keano membekap bibir Kenzo. "You know, Everything belongs to her. Come on, we just her lover. (Kamu tahu, semuanya miliknya. Ayolah, kita hanya kekasihnya.)"

Kenzo melepaskan tangan saudara kembarnya. "Hmmm. Kita bahas ini nanti. Bagaimana persiapan nanti malam?"

"Done.(Selesai.)" jawab Keano.

Perdebatan Enzo dan Ano perlahan mereda dan beralih topic. Sementara di sebuah kamar mewah dengan desain elegan bertirai biru laut dan hitam. Seorang wanita berdiri di depan jendela kamar. Hembusan angin menerbangkan rambut panjangnya.

Kalian adalah milikku. Kemarin, sekarang dan selamanya. ~ batinnya.

Sebuah bingkai foto di genggaman tangannya di peluk erat. Wajah cantik itu berubah dingin dengan tatapan kosong ke arah langit.

Bab 2: Berawal dari Masa Lalu

Perdebatan Enzo dan Ano perlahan mereda dan beralih topic. Sementara di sebuah kamar mewah dengan desain elegan bertirai biru laut dan hitam. Seorang wanita berdiri di depan jendela kamar. Hembusan angin menerbangkan rambut panjangnya.

Kalian adalah milikku. Kemarin, sekarang dan selamanya. ~ batinnya.

Sebuah bingkai foto di genggaman tangannya di peluk erat. Wajah cantik itu berubah dingin dengan tatapan kosong ke arah langit.

Andaikan pria itu tidak hadir di hidupku, dan menghancurkan kepercayaanku. Mungkin, aku tidak melampiaskan hasratku pada kalian. Maafkan aku, tapi kalian hanya milikku.~batin TanCa dan berbalik, meletakkan bingkai foto di atas bufet dan menyambar tas jinjingnya.

Langkah kakinya berjalan meninggalkan kamar dan menyusuri anak tangga dengan wajah serius. Beberapa pelayan yang tengah beberes berhenti dan menundukkan wajah. Sebuah kebiasaan, ketika majikan mereka lewat. Maka, memberikan jalan adalah bentuk kesopanan.

TanCa berhenti di tengah ruangan di bawah lampu gantung. "Malam ini, kami akan bermalam di luar. Kalian bisa istirahat lebih awal!"

"Baik, Nyonya." jawab serempak para pelayan.

TanCa kembali melanjutkan perjalanan, berjalan menuju pintu utama istananya. Setelah melewati pintu utama, sebuah mobil sport putih menantinya. Kunci di tangan ditekan dan lampu sen menyala. Seorang bodyguard bergegas membukakan pintu kemudi, TanCa masuk dan Bodyguard menutup pintu, serta melambaikan tangan ke arah satpam. Agar pintu gerbang dibuka.

Mesin mobil menyala dan melaju meninggalkan halaman istana, menuju pintu gerbang. Kepergian mobil TanCa, membuat kediaman itu menjadi sepi tanpa ketegangan. Berbeda dengan keseriusan TanCa yang mengotak-atik ponselnya, sembari menyetir.

Triiing.....

Satu notifikasi pesan masuk, segera dibuka. Wajah serius wanita itu perlahan berubah lebih datar. "Rupanya, ada tikus jalanan."

Ponsel diletakkan ke tempat semula, dan fokusnya kembali ke jalanan. Dari pertigaan, arah salon langganan adalah ke kiri. Tapi, mobil sport itu berbelok ke kanan. Dimana jalan itu menuju daerah pemukiman kumuh dan juga terbelakang. Tanpa memperdulikan jalanan yang rusak, mobil tetap melaju dengan kecepatan standart. Hingga dari jarak pandang lima belas meter, terlihat sebuah bangunan runtuh dan juga dipenuhi tumbuhan menjalar.

Ciiit......

Mobil berhenti tepat di depan bangunan terbengkalai. Pintu mobil dibuka, dan TanCa turun dari mobilnya. Kacamata hitam dilepaskan, tatapan matanya menelisik ke depan. Dimana suara jeritan dan permintaan maaf tak di dengarkan. Kenangan masa lalu bermunculan di dalam bangunan itu. Bahkan waktu tak mengubah apapun, termasuk rasa sakit yang membekas di hatinya.

Sepuluh tahun yang lalu,,

Buug...

Duug....

Kraak....

"Aaarrgghh.... " jerit seorang wanita menahan rasa sakit setelah mendapatkan penganiayaan dari kekasihnya.

"Sudah ku bilang, jangan datang ke rumahku. Tapi, kamu tidak mendengarkan aku. Apa kamu mau menjelekkan namaku di depan keluarga besarku? Cuih, jangan harap....."

"Mas, aku hanya ingin kau tahu...."

Pria itu mencengkam dagu wanitanya dengan tatapan tajam. "Kalau kamu hamil? Yah, aku sudah tahu, dan aku tidak sudi memiliki anak darimu. Lagipula, aku memiliki anak kembar dari istriku. Jadi jangan bermimpi menjadi nyonya di rumahku."

Ucapan pria itu masih membekas dan menusuk hingga ke nadi. Bukan hanya menghancurkan hati, setiap janji manis berubah menjadi racun yang menyebar keseluruhan aliran darahnya. Sejak malam itu, hubungan terlarang berakhir dalam pengkhianatan. Cinta yang merenggut kesuciannya, berubah menjadi dendam kesumat.

Akibat penyiksaan itu, bayi di dalam rahimnya pun tak terselamatkan. Benturan keras yang terjadi akibat dorongan ke sudut meja, membuat aliran darah mengalir dari kedua paha wanita itu. Pernyataan dokter, atas keguguran semakin menguatkan niat balas dendamnya. Meskipun, hubungan mereka memang terlarang. Tetap saja, pria itu mendapatkan mahkotanya.

Masa lalu itu menjadi awal dari kehidupan barunya. Sudah lama, tapi kenangan pahit itu tak bisa disingkirkan. Lamunannya terusik dengan suara sepatu yang melangkah semakin mendekat ke arahnya.

Tak!

Tak!

Tak!

Suara sepatu terdengar jelas, berjalan ke arahnya dari arah belakang. "Kamu sudah datang?"

"Hahaha tahu saja, jika aku datang. Bagaimana pekerjaanmu?" tanya balik dari orang yang baru datang.

TanCa memakai kacamatanya lagi, dan berbalik menatap seorang pria berperut buncit di belakangnya. "Pekerjaan yang mana? Seingatku, tidak ada perjanjian apapun diantara kita."

"Jangan main-main denganku....."

"Shiiit! Apa kamu pikir, aku bodoh? Ck. Jangan sok alim. Semua perjanjian batal, dan kamu jangan bermimpi mendapatkan bagian sepeserpun dariku." jelas TanCa dan menunjuk ke arah pria buncit itu.

"Kau!" seru pria itu dan maju ke depan dengan tangan terangkat.

Door!

Satu tembakan dari arah lain, melumpuhkan pria buncit. Tubuh pria itu terkejut dan terjatuh ke tanah dengan luka tembak di belakang kepalanya. TanCa tersenyum dan berjongkok menatap mayat pria buncit. "Seorang pengkhianat tidak pantas hidup. Kawan ataupun lawan, bagiku sama."

TanCa kembali berdiri dan masuk ke dalam mobil, meninggalkan mayat pria buncit begitu saja. Tangannya selalu bersih dan jauh dari noda darah. Wajah serius telah berganti wajah cantik dan manis. Kepergian mobil TanCa, membuat beberapa orang keluar dari tempat persembunyian dan membereskan kekacauan itu. Mereka adalah anak buah sekaligus bayangan sang Tante Cantik.

TanCa baru saja menyelesaikan masalah yang merusak mood paginya. Sementara di dalam gedung perkantoran terjadi kehebohan dengan kelakuan seorang OG baru. Gadis berambut panjang hitam, tak sengaja menabrak salah satu pemimpin yang baru saja keluar dari ruangan kerjanya. Lap kotor di pundak diambil dan digunakan untuk mengelap jus di jas pria itu.

"Stop! Menjauh dariku!" seru Keano menepis tangan OG baru itu.

Beberapa karyawan bergidik ngeri mendengar suara menggelegar pemimpin mereka. Seorang wanita paruh baya berlari kecil dan berhenti di depan Keano. "Maafkan dia, Tuan Muda. Dia masih baru bekerja disini."

"Aku tidak peduli. Baru maupun lama, harus tahu caranya bekerja dengan baik. Dia ceroboh, singkirkan saja!" tukas Keano melepaskan jasnya.

OG baru itu terkejut dan langsung berlutut di bawah. "Maaf, Tuan. Tolong beri saya kesempatan, sekali saja. Saya mohon."

Keano masih acuh dan memilih berjalan meninggalkan semua kehebohan itu. OG baru berlari dan menghentikan langkah Keano. Hal itu, membuat Keano kesal. "Menyingkir dari hadapanku!"

"Tuan, aku kan sudah minta. Kenapa anda tidak...."

"Apa kamu waras? Ini kantor ku, dan kamu mengajari ku? Virla, singkirkan wanita ini atau kamu yang angkat kaki." tegas Keano dan menyingkirkan OG baru dari hadapannya.

Wanita paruh baya yang bernama Virla bergegas menghampiri OG baru itu dan menahannya untuk diam di tempat. Setelah melihat Keano menghilang di balik dinding, Virla melepaskan cekalan tangannya. "Kamu ini, sudah ku bilang kan. Hati-hati, sekarang sudah terjadi. Ayo, gantilah pakaianmu dan carilah tempat kerja lain."

"Jangan, aku butuh pekerjaan ini. Ku mohon bantu aku, pasti ada cara meminta maaf pada tuan judes itu." ucap OG baru itu.

"Ada apa ini?" tegur seseorang dengan nada bariton.

Para karyawan memilih menunduk dan tak satupun berani menjawab. Hal itu, membuat sosok yang bertanya bingung.

"Apa kalian bisu?"

Bab 3: OG bahan percobaan

"Jangan, aku butuh pekerjaan ini. Ku mohon bantu aku, pasti ada cara meminta maaf pada tuan judes itu." ucap OG baru itu.

"Ada apa ini?" tegur seseorang dengan nada bariton.

Para karyawan memilih menunduk dan tak satupun berani menjawab. Hal itu, membuat sosok yang bertanya bingung.

"Apa kalian bisu?" tanya Kenzo dan menghampiri para karyawan.

"Vir, ada apa?" tanya Kenzo menatap pimpinan HRD.

Virla berdiri dengan sedikit membungkukkan badan. "Maafkan saya, Tuan. Office girl ini menumpahkan jus ke jas Tuan Keano."

Kenzo menelisik penampilan wanita di samping virla. Wajah oval, bermata bulat hitam dengan rambut panjang. Mata itu tak segan membalas tatapannya. "Lalu, apa yang Keano minta?"

"Tuan Keano....."

OG itu berlutut di hadapan Kenzo. "Tuan, jangan pecat saya. Saya siap melakukan apapun, asalkan tidak dipecat."

Kenzo menaikkan satu alisnya dan melangkah mundur. "Keputusan Keano, juga keputusan ku. Tapi, aku bisa memberimu satu kesempatan. Bagaimana?"

Mendengar itu, membuat OG baru berdiri dan mengangguk penuh semangat. "Saya mau, apapun syaratnya," OG itu, tanpa pikir panjang menyetujui ucapan Kenzo.

Kenzo tersenyum penuh arti, dan melambaikan tangan. Virla dan karyawan lain pergi meninggalkan lorong kehebohan. Sementara OG baru tetap diam di tempat dan berdiri dengan antusias di depan Kenzo.

"Ikuti aku!" titah Kenzo dan berjalan memasuki ruangan kerjanya.

Ruangan dimana awal mula terjadi kehebohan. Ken menunjuk ke arah sofa, dan OG itu duduk seperti isyarat bosnya. "Apa kamu sudah menikah?"

"Eh, maaf. Belum..." jawab OG itu gugup.

Kenzo mengambil air putih dan mencampurkan sesuatu ke dalamnya. Meletakkan segelas air putih ke depan OG barunya. "Minum!"

"Tapi, saya tidak haus Tuan." protes OG.

Kenzo mengambil gelasnya lagi. "Ya sudah, angkat kaki...."

Gleek....

Gleek....

Segelas air putih langsung tandas di minum wanita itu, mendengar kata angkat kaki. Pikirannya sudah tidak karuan dan meminum air putih itu, maka pekerjaannya selamat. Kenzo tersenyum penuh arti, dan berjalan mendekati kursi kerjanya.

Tunggulah beberapa saat lagi, kupastikan obatku bekerja. Kita lihat, seberapa kuat kamu menahan efek sampingnya. ~batin Kenzo.

Beberapa menit kemudian, wanita itu merasakan sesuatu terjadi pada tubuhnya. Rasa panas dan tidak nyaman mulai menjalar ke seluruh tubuh. Rasa yang aneh dan semakin lama, justru tidak bisa dikendalikan. "Tuuaan......"

"Kenapa?" tanya Kenzo enteng.

Wanita itu berjalan mendekati Kenzo, hawa panas dan tak karuan semakin menghilangkan akal sehatnya. "Panaas, bantuu aaakkuu...."

Kenzo menarik tubuh wanita itu. Sentuhan itu seperti sengatan listrik. Insting memburu menyala. Tanpa permisi, bibir tipis dengan warna alami di sambar Kenzo. Awalnya wanita itu menolak, tapi tubuhnya menerima sentuhannya. "Emmmptt...."

Kenzo melepaskan pagutan dan membisikkan sesuatu. Meniup leher jenjang wanita di atas pangkuannya itu. "Ku lanjutkan atau...."

Sentuhan tarik ulur, membuat wanita itu semakin tersiksa. Tangannya dikalungkan ke leher Kenzo. "Lanjutkan, aku tidak tahan dengan panas ini...."

Cup....

Bibirnya dibungkam dengan rakus. Permainan perang lidah menjadi semakin panas. Tangan Kenzo tak tinggal diam, menggendong wanita itu dan berjalan menuju kamar pribadinya. Pintu di tutup dan dikunci. Kasur ukuran besar dengan bantal empuk menyambut keduanya. Kenzo menurunkan wanita itu di atas ranjang.

"Aku tidak akan memaksamu. Masih ada kesempatan, mau lanjut?" tanya Kenzo sekali lagi.

Bukannya menjawab, wanita itu justru menarik Ken dan mengambil alih. Liar, yah tak disangka. Jika seorang office girl bisa seliar wanita malam. Bagaimana cara wanita itu merampas jalannya pergulatan. Kenzo cukup menikmati permainan. Hingga mencapai puncaknya. "Aku tidak akan mengambil kehormatanmu. Aku gunakan ini saja."

Bisikan Ken sembari memainkan perannya. Jemari Ken mulai mengobrak-abrik gua keramat wanita itu, permainan yang membuat lawannya menggeliat dan mendes@h. Ken semakin mempermainkan hasrat wanita itu, hingga cairan putih membasahi jemarinya. "Masih mau lagi?"

Wanita itu mengatur nafas yang ngos-ngosan. "Aku mau itu, biarkan aku puas."

Ken menatap kearah yang di tunjuk wanita itu. Di balik celana, dimana tongkat ajaibnya bersembunyi. "Nakal, ini hanya milik TanCa. Jangan berpikir menyentuh nya."

Wanita itu bangun dan menarik tubuh Kenzo, Karena tak siap. Akhirnya tubuh Kenzo ikut ambruk ke ranjang. Tangan yang menjalar dan meraba tubuhnya semakin liar. Sensasi yang berbeda. "Hentikan!"

Wanita itu tak mau berhenti dan menarik sesuatu yang mengeras. Kenzo masih di dalam kesadarannya dan menghempaskan tubuh wanita dari atas tubuhnya. "Shiiit. Tetaplah disini dan puaskan dirimu sendiri!"

Tak peduli seberapa sexy dan liarnya wanita itu. Di dalam benak dan imajinasinya hanya ada TanCa seorang. Sentuhan Tante Cantik tidak ada yang bisa menandingi. Kenzo meninggalkan wanita itu dan keluar dari kamar pribadinya.

S!al, kenapa aku melakukan percobaan dengan wanita seliar itu. Aku membutuhkan TanCa. Aaargggh, kenapa kepalaku jadi pening sekali. Lebih baik aku hubungi TanCa. ~ batin Kenzo dan mengambil ponselnya.

Satu panggilan di lakukan, dan tak perlu menunggu lama. Panggilan dijawab, belum sempat menyapa. Sambutan dari seberang, membuat Kenzo berimajinasi liar. "Honey...."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!