Seorang gadis kecil baru saja ditendang oleh ayahnya sendiri keluar dari kediamannya. Gadis itu adalah Jang Xia Lu. Jang Xia Lu segera bangun dan merangkak memeluk kaki Jenderal Jang Fang Lin, ayahnya. Semua kerumunan segera datang dan melihat kegembiraan.
"Menyingkir kau anak sialan!" Jang Fang Lin menggerakkan kakinya dengan kerasa agar gadis kecil itu melepaskan kakinya.
"Ayah maafkan Xia Lu, Xia Lu tidak sengaja. huhuhu" Xia Lu menangis di bawah kaki ayahnya.
Jendral Jang Fang Lin menendang Xia Lu sekali lagi. Membuat anak gadisnya yang baru berusia delapan tahun itu berguling di tanah. Kepalanya terbentur batu hingga mengeluarkan darah segar.
"Sudah untung sampah sepertimu bisa tinggal di sini. Tapi apa yang kau lakukan heh? Kau sudah membuat Selir Ye kehilangan anaknya. Kau harus pergi dari kediamanku. Mulai hari ini, aku Jendral Jang Fang Lin, memutuskan hubungan darah diantara kita."
Kerumuman orang todak bisa tidak untuk tidak berbisik-bisik. Mereka membenarkan apa yang dilakukan sang Jenderal. Putri sampah seperti itu tidak layak dipertahankan di kediaman jenderal besar.
Bagai tersambar petir, Xia Lu menghentikan tangisnya. Dia tahu seperti apapun keadaannya, ayahnya tidak akan peduli lagi dengannya. Ayahnya marah besar kepadanya. Ucapan sang Jendral membuat Xia Lu membeku. Dia segera mengambil buntalan kain yang berisi bajunya dan pergi meninggalkan kediaman yang menjadi tempat tinggalnya selama delapan tahun itu.
Sesekali Xia Lu menengok dan mengenang saat-saat indah masa kecilnya empat tahun yang lalu, sebelum ibunya meninggal. Saat itu Xia Lu hidup bahagia karena Jendral Fang Lin selalu memanjakannya.
Namun, setelah ibunya meninggal dan ayahnya mengangkat Selir Ye, kehidupan Xia Lu berbalik seratus delapan puluh derajat. Selir Ye dan kedua anak perempuannya selalu memperlakukan Xia Lu dengan tidak adil selama Jendral Fang Lin tidak berada di kediaman karena bertugas di perbatasan.
Apalagi setelah mengetahui jika pengujian bakat yang selalu dilakukan pada anak yang mencapai usia enam tahun dilakukan, dirinya diketahui tidak memiliki elemen bakat bawaan apapun. Bahkan dia juga tidak bisa mengolah qi.
Bakat bawaan seseorang akan dilihat setelah ia mencapai usia enam tahun. Seorang anak yang sudah berusia enam tahun akan dibawa ke balai pengujian. Anak tersebut akan diminta untuk menyentuh sebuah bola kristal sebesar kepalan tangan. Dengan menggunakan qi yang dimiliki, elemen bakat bawaannya akan ditunjukkan dengan warna yang dipancarkan oleh bola bening itu.
Cahaya yang dipancarkan bola kristal itu akan berwarna merah jika elemen bawaan seseorang adalah api, biru tua adalah air, biru muda adalah angin, hijau adalah kayu, dan coklat adalah tanah. Seseorang biasanya memiliki satu elemen bakat bawaan. Tapi ada juga yang memiliki elemen bakat bawaan ganda bahkan lebih. Tapi itu jarang terjadi, meskipun ada beberapa. Yang paling langka adalah menguasi semua elemen bakat bawaan. Dan yang ini hanya akan muncul seribu tahun sekali.
Tinggal di tengah masyarakat yang memiliki prinsip yang kuat yang berkuasa tentu saja kekuatan itu sangat diperlukan. Jadi Jang Xia Lu menjadi noda bagi kediaman Jenderal Jang selama dua tahun terakhir.
Kehidupan gadis kecil itu dua tahun belakangan sangatlah buruk. Ayahnya sendiri enggan melihatnya. Kedua saudara tirinya selalu membullinya. Dan meskipun ayahnya tahu akan hal ini, ia akan berpura-pura tidak mengetahui karena merasa seorang sampah memang sudah sepantasnya diperlakukan seperti itu. Itulah mengapa, bahkan pelayanpun tidak menaruh hormat padanya. Satu-satunya pelayan yang menempatkannya di matanya adalah pelayan ibunya yang mengikutinya dari kediaman asalnya. Namun pelayan itu pun sudah diberhentikan beberapa bulan yang lalu.
Sebenarnya Jang Xia Lu mempunyai saudara kandung yang satu ibu dengannya yang bernama Jang Hao Shan, kakak laki-lakinya yang berusia tujuh tahun lebih tua darinya tidak berada di kediaman karena pergi ke perguruan untuk belajar, sehingga tidak ada yang membela Xia Lu yang mendapatkan perlakuan tidak adil. Bahkan para pelayan mulai tidak menghormati Xia Lu sebagai anak sah kediaman jenderal Jang.
Puncaknya, saat Selir Ye untuk pertama kalinya mengandung anak Jendral Jang Fang Lin setelah penantian empat tahun lamanya, Xia Lu difitnah mencelakai Selir Ye sehingga membuat selir itu keguguran.
Pada saat itu, Selir Ye sedang melukis di pinggir kolam bersama kedua anak perempuannya, Jang Mue Lan dan Jang Dong He, mereka sengaja memanggil Xia Lu untuk bergabung.
Awalnya Xia Lu sangat senang karena menganggap bahwa selir Ye dan kedua anaknya menerima Xia Lu. Tapi Xia Lu kecil tidak tahu bahwa itu adalah salah satu intrik untuk menyingkirkan Xia Lu dari kediamannya sendiri.
Saat Xia Lu sudah berada di samping Selir Ye, Selir itu dengan sengaja menjatuhkan diri. Namun, Xia Lu lah yang di fitnah sengaja mendorong selir Ye. Dan kesalahan fatal terjadi. Selir Ye jatuh dengan posisi perut yang menabrak batu besar di pinggir kolam.
Para pelayan segera menolong selir Ye dan memanggil tabib. Namun sayang, janin yang dikandung Selir Ye tidak dapat diselamatkan.
Jendral Fang Lin yang berada di perbatasan segera kembali ke kediaman setelah mendengar kabar buruk itu. Dia sangat murka dan Mengusir Xia Lu tanpa mau mendengarkan kesaksian dari Xia Lu.
"Tuanku, hamba yakin Lu'er tidak sengaja melakukannya. Maafkanlah dia" bujuk Selir Ye sambil menangis di dekapan Jendral Jang Fang Lin.
"Tidak Yun'er. Jangan membela anak nakal itu lagi. Para pelayan melihat Xia Lu sengaja mendorongmu. Dia sudah keterlauan kali ini. Kesalahannya tidak dapat dimaafkan." Selir Ye tersenyum dalam hatinya. Uang yang ia berikan pada para pelayan itu tidak terbuang sia-sia. Lagipula anaknya yang belum lahir tidak boleh mati tanpa hasil yang menguntungkannya.
"Iya hamba tahu. Tapi tidak harus mengusir Lu'er kan." Selir Ye mengelus dada Jenderal Jang Fang Lin untuk meredakan amarahnya.
"Kesabaranku sudah habis. Sudah berulang kali dia berniat mencelakaimu, He'er dan juga Lan'er. Aku tidak mau mengulangi kesalahanku karena dia terus berusaha mencelakai kalian."
"He'er dan Lan'er bukanlah darah daging tuan. Lu'er pasti hanya iri tuanku menyayangi mereka berdua."
"Tidak. Jangan berbicara seperti itu. Sejak aku membawamu masuk ke kediaman ini, Mereka berdua juga sudah menjadi putriku. Kalian adalah tanggung jawabku. Aku tidak akan mempertahankan anak yang selalu berusaha mencelakai keluarganya sendiri. Apalagi anak itu hanyalah sampah. Jika tidak ada kejadian ini pun aku sudah akan membuangnya." Jendral Jang Fang Lin mencium pucuk kepala selir Ye. Selir Ye menyeringai. Dia yakin Rencananya berhasil sekarang.
"Terima kasih tuanku. Maaf hamba tidak bisa menjaga calon anak kita." Selir Ye semakin terisak. Jendral Fang Li menepuk pelan punggung selir Ye. "Tapi... "
"Keputusanku sudah bulat Yun'er. Jangan membela anak tidak tahu diri itu." Jendral Jang Fang Li segera bangun dan keluar paviliun milik Selir Ye. Meninggalkan wanita yang baru saja memanfaatkan kematian anaknya yang belum lahir untuk keuntungan pribadinya. Wanita itu mengelap air mata buaya yang sudah dia keluarkan. Kemudian tersenyum penuh kemenangan.
Tak apa kehilangan satu anaknya. Dia masih punya dua anak perempuan. Lagipula dia masih muda dan masih dapat mengandung anak dari Jendral nomer satu di kerajaan Tao.
Kehilangan anaknya sungguh menguntungkan baginya. Rencananya berhasil. Niatnya hanya ingin membuat anak dari istri sah suaminya dibenci oleh ayahnya sendiri, tapi dia mendapatkan hasil yang lebih baik dari itu.
Selir Ye awalnya bukanlah siapa-siapa. Dia berasal dari keluarga biasa di dekat perbatasan. Dia juga sudah menikah sebelumnya, suaminya meninggal saat ia dan suaminya akan meninggalkan desa untuk mengungsi karena desa mereka sangat dekat dengan perbatasan yang sedang terjadi perang. Namun, di tengah perjalanan mereka dihadang oleh perampok. Suami selir Ye pun melawan perampok itu dengan segenap kekuatannya.
Secara kebetulan, anak buah Jenderal Jang Fang Lin yang sedang berpatroli menemukan penyerangan itu dan membantu suami selir Ye. Namun mereka sudah terlambat. Suami selir Ye sudah terluka parah. Setelah mendapat bantuan dari prajurit, kelompok perampok segera dapat ditumpas. Prajurit membawa selir Ye dan suaminya ke tenda yang dibangun sebagai markas sementara untuk mengobati luka suami selir Ye. Namun takdir berkehendak lain, pria itu akhirnya meninggal.
Melihat selir Ye dengan dua anaknya itu, hati Jenderal Jang Fang Lin merasa iba. Ia pun membiarkan ketiga orang itu tinggal di sana sementara. Selir Ye bekerja dengan giat membantu para prajurit sebagai balasan atas bantuan mereka. Dan hal ini dilihat oleh jendreral Jang Fang Lin dan akhirnya mengangkat selir Ye menjadi selir di kediamannya.
Selir Ye yang awalnya sederhana karakternya berubah dengan cepat. Ambisi mengalahkan segalanya. Dengan segala upaya ia berusaha menaiki posisi yang lebih tinggi. Ia ingin menjadi istri sah. Tetapi derajatnya tidak mengizinkan akan hal itu.
Melihat nasibnya itu, selir Ye berjanji tidak akan membiarkan kedua putrinya mengalami hal yang sama dengannya. Ia akan menghancurkan segala yang menghalangu kedua putrinya untuk berada di puncak.
Itulah mengapa, selir Ye selalu mencari cara untuk menyingkirkan Jang Xia Lu bagaimana pun caranya.
Selir Ye mulai memasukkan racun ke dalam makanan yang dimakan oleh Xia Lu untuk menghancurkan pondasi Qi nya agar dia tidak dapat mengolah Qi. Dengan begitu secara otomatis, Jang Xia Lu juga tidak akan memiliki elemen bakat bawaan.
Jang Mue Lan da Jang Dong He juga tidak kalah mengerti. Mereka selalu membuat kondisi dimana Jang Xia Lu terlihat selalu mengganggu mereka hingga membuat Jenderal Jang Fang Lin marah setiap harinya.
Perlahan-lahan tetapi pasti, meskipun kedudukanya hanyalah seorang selir, tapi kediaman Jenderal ada di dalam telapak tangannya.
...~♡♡♡~...
...~*♡The Story Of Han Aruna_1♡*~...
*
*
*
Terima Kasih Sudah mampir ~☆(*¿*)☆~
Happy reading gaess...
Jangan lupa like, komen dan Vote ya... biar rajin update nya!
Sebuah suara terdengar merdu di telinga Xia Lu. Gadis kecil itu mengerjapkan kedua matanya. Menoleh ke arah suara yang dia dengar.
Seorang wanita cantik berumur tiga puluhan tahun tersenyum lembut ke arahnya. Membantunya duduk. Xia Lu memperhatikan pakaiannya yang sudah digantikan dengan pakaian miliknya yang lain.
"Kamu pasti lapar. Makanlah dulu." Wanita itu menata meja kecil di atas ranjang di depan Xia Lu. Memindahkan banyak makanan dari meja di samping ranjang ke atasnya.
"Tunggu apa lagi? Makanlah." Xia Lu pun mulai mengambil sumpit dan memasukkan makanan di atas mangkuknya dengan cepat. Dia memang sudah sangat lapar. Dalam sekejap, makanan itu sudah pindah ke dalam perutnya. Wanita itu tersenyum melihat cara Xia Lu makan.
"Nah, sekarang perkenalkan, namaku Han Mora. Kamu bisa memanggilku bibi Han. Aku menemukanmu pingsan di depan restoranku. Dan sekarang kamu berada di kediamanku."
"Terima kasih Bibi Han. Namaku Xia Lu."
"Kamu mempunyai nama yang indah. Dimana tempat tinggalmu nak? Dari pakaianmu, kamu sepertinya bukan dari kalangan biasa." tubuh Xia Lu menegang mendengarnya. Dia mengingat pengusiran yang dialaminya dua hari yang lalu.
"Emmm saya adalah putri dari Jendral Jang Fang Lin. Tapi dua hari yang lalu saya sudah diusir dan secara resmi bukan lagi putri dari jendral Jang Fang Lin."
"Oh begitu. Nasib yang tragis. Baiklah kalau begitu, maukah kamu menjadi anak angkatku? Kebetulan aku tidak mempunyai anak. Apakah kamu mau?" Han Mo Ra menatap Xia Lu penuh harap, tangannya mengelus kepala Xia Lu.
"Tapi saya hanyalah sampah." Xia Lu menundukkan kepalanya dengan dalam. Tidak akan ada yang mau menerima sampah sepertinya. Lagi pula ia juga tidak mau menjadi beban orang baik seperti bibi Han ini.
"Huh! Sampah apanya? Aku sudah memeriksamu, dan aku menemukan banyak racun yang menyumbat meridianmu. Itulah mengapa kamu tidak bisa mengolah Qi selama ini." Ucap Han Mora dengan jengkel. Ia tidak menyangka ada orang yang begitu kejam hingga menargetkan seorang anak.
Xia Lu yang mendengar hal ini tentu saja merasa syok. Selama dua tahun ini ia selalu menjadi bahan olok-olokan. Ayahya sendiri bahkan memberikan punggung yang dingin karena hal ini. Di saat anak seusianya sudah berada di tahap penempaan tubub Huang, dia masih belum bisa apa-apa. Merisiannya selalu kosong.
Tapi Xia Lu tidak menyangka jika kondisinya yang buruk itu dikarenakan adanya racun yang menyumbat meridiannya hingga membuatnya nyaris menjadi sampah!
"Tapi tenang saja. Di tanganku, kondisimu itu tidak lah ada apa-apanya. Jika kamu ikut denganku, percayalah aku akan merawatmu dengan baik. Bagaimana?" Ucapan Han Mora membuat Xia Lu kembali tersadar.
"Saya mau." Xia Lu memgangguk semangat. Ia sudah bosan dengan kondisi tubuhnya. Ia sudah tidak sabar untuk membalik keadaan.
"Karena sekarang kamu menjadi anak angkatku, namamu harus berubah sekarang. Bagaimana kalau Han Aruna?"
"Aruna?" kedengaran aneh. Tidak ada yang mempunyai nama seperti itu di sini.
"Ah. Aku adalah seorang pedagang yang sering bepergian ke banyak negara. Dan aku pernah mendengar nama Aruna di salah satu negara yang pernah aku singgahi. Bukankah itu terdengar indah?" Xia Lu mengangguk. Nama itu memang aneh. Tapi memang terdengar indah. Aruna.
"Kalau kamu tidak mau, kita bisa mencari namanya bersama-sama." Han Mora sebenarnya sudah mencari tahu tentang Xia Lu. dan saat mengetahui bahwa di telah ditinggalkan oleh keluarganya, ia langsung berniat untuk menjadikannya putri angkatnya.
"Tidak bibi Han. Nama itu sungguh cantik. Saya suka." Xia Lu tersenyum. Han Mo Ra memeluk putri angkatnya.
"Karena sekarang kamu adalah putriku, mulai sekarang panggil aku ibu. Oke?"
"Iya I-Ibu."
"Bagus. Itu baru putriku. Mulai sekarang, jangan pernah menundukkan dirimu di depan orang lain lagi. Dengan berada di sampingku, ibumu ini akan selalu melindungimu."
"Terima kasih ibu."
Setelah hari itu, tidak ada lagi yang namanya Jang Xia Lu. Yang ada hanya Han Aruna. Nyonya Han membawa Aruna dalam perjalanannya.
Selama itu pula, Aruna mendapatkan pengobatan yang akhirnya berhasil membuka jalan meridianya.
Han Mora memberikan segala perhatian pada Aruna. Memberinya pendidikan seorang putri bangsawan. Memberinya segala bakat yang mengagumkan selain memberikan pelajaran bela diri dan berkultivasi.
Dwngan bantuan Han Mora, Aruna tumbuh menjadi gadis multitalenta yang kuat.
Basis kultivasinya lebih baik dari gadis seusianya yang lain. Han Mora memberikan banyak sumber daya yang berharga untuk mendukung Aruna mengasah kemampuannya.
Han Mora sendiri adalah seorang padagang kaya yang malang melintang dari satu benua ke benua lainnya. Serikat dagangnya berada di seluruh kekaisaran di benua Timur. Apalagi di kekaisaran Tao, hampir dua pertiga perekonomian dikuasai oleh klan Han.
Namun klan Han sejak dulu tidak tertarik pada bidang politik. Dunia mereka hanyalah usaha. Dan saat ini, Han Mora adalah kepala keluarga yang paling dihormati karena selain Han Mora berasal dari keluarga pusat, basis kultivasinya adalah yang tertinggi di klan.
Sebenarnya, tidak ada yang tahu sampai mana basis kultivasi Han Mora, wanita itu selalu menyamarkan basis kultivasinya. Namun banyak yang menyakini jika itu adalah berada di ranah Alam Bumi. Cukup tinggi untuk seorang wanita yang masih berusia tiga puluh dua tahun.
Secara spesifik, Tingkatan basis kultivasi dibagi menajdi beberapa tahap:
Tahap pemula:
Tahap Penempaan Tubuh Huang
Tahap Penempaan Tubuh Xuan
Tahap Penempaan Tubuh Di
Tahap Penempaan Tubuh Tian
Tahap budidaya:
Tahap Budidaya Alam Roh
Tahap Budidaya Alam Jiwa
Tahap Budidaya Alam Bumi
Tahap Budidaya Alam Langit
Tahap lanjutan:
Tahap Saint
Tahap Immortal
Tahap Raja
Tahap Abadi
*
Seorang gadis muda yang berada di dalam masa puncaknya sedang duduk menyilangkan kedua kakinya di atas sebuah meja dari giok berwarna hitam tinta di atas sebuah kapal dagang.
Sudah sepuluh tahun berlalu sejak ia memutuskan untuk menjadi putri dari seorang Han Mora. Gadis itu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Kulitnya terawat putih seputih susu yang lembut dan kenyal. Hidungnya mancung. Mata poenixnya tajam dan menawan. Dibingkai alis melengkung yang sangat indah seperti sengaja diukir. Bulu mata yang panjang dan melengkung dengan sempurna. Saat kelopak mata itu berkedip akan terlihat seperti sayap kupu-kupu.
Yang lebih menawan adalah bibir tipis berwarna merah muda alami yang terbentuk cantik di atas dagu yang runcing itu akan membuat orang yang melihatnya ingin mengecupnya dalam sekali pandang. Rambut hitamnya yang terurai seperti air terjun yang begitu lembut turun hingga ke pinggangnya yang ramping.
Fitur tubuh ini membuat semua pria bahkan wanita tidak akan bisa menolak pesonanya. Para wanita akan merasa iri dan rendah saat melihat penampilannya yang sempurna.
Pada tahap ini, orang-orang dari masa lalunya tidak akan lagi mampu mengenai dirinya kecuali memang mereka menaruh perhatian padanya di masa lalu.
Tiba-tiba, langit yang cerah berubah menjadi gelap. Nahkoda segera mengintruksikan semua anak buahnya untuk bersiap.
"Ah Sial! Tidak bisakah menerobos saat sudah sampai di daratan?" Decak seseorang laki-laki yang masih cukup muda itu.
"Yah. Dewa memberikan kita saat yang sulit kali ini." Rekannya juga mengeluh. "Menerobos di tengah lautan sperti ini apa menginginkan kita semua ditelan badai?" Lanjutnya dengan kesal.
"Diam saja kalian! Jangan sampai kapal kita karam." Nahkoda yang mendengar ucapan keduanya menjadi kesal.
Lagit mulai memperdengarkan suara gemuruh. Angin bertiup kencang menciptakan ombak yang besar di tengah lautan. Kapal yang mereka tumpangi terombang ambing di atas luasnya samudra. Para awak segera menggulung layar agar tidak terbawa badai. Nahkoda sibuk menggerakkan kendali kapal untuk menghindari ombak besar. Di sela itu, mereka mulai menghitung sambaran petir ilahi yang ternyata menuju ke kamar nona muda mereka.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga..."
"Empat..."
"Lima..."
"Enam..."
"Enam! Nona benar-benar menerobos Tahap Lanjutan Alam Jiwa!" Seseorang berteriak. "Ini surga. Bakat nona benar-benar menantang langit. Nona kita adalah seorang Jenius beladiri."
Setelah petir terakhir berhenti, langit yang gelap mulai menyebar. Matahari bersinar dengan terangnya sama sekali seperti tidak ada badai yang besar yang baru saja terjadi.
"Mau bilang apa lagi kamu? Nona kita yang menerobos. Masih mau melayangkan protes?" Nahkoda itu melirik anak buahnya lagi dengan ketus.
"Bawahan tidak berani. Bawahan ikut bahagia nona muda telah menerobos." Bawahan itu segera berlutut.
"Sudahlah. Menerobos itu adalah hal yang baik bagi semua orang. Lain kali jika ada kejadian seperti ini aku tidak ingin lagi mendengar ada keluhan."
"Baik Nahkoda." Kedua Bawahan itu menjawab dengan kompak.
...~♡♡♡~...
...~*♡The Story Of Han Aruna_2♡*~...
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ♤{^,^}♤
Setelah terombang-ambing beberapa hari di atas laut, kapal Aruna merapat di dermaga pelabuhan kekaisaran Bei. Kekaisaran yang berada di sisi sebelah timur kekaisaran Zhou. Kekaisaran Zhou tidak memiliki laut maupun sungai besar yang meungkinkan kapal besar untuk masuk. Jadi untuk merapatkan kapal besar milik serikat dagang Anggrek Bulan hanya bisa bersandar di pelabuhan kekaisaran Bei.
Secara khusus, serikat Dagang Anggrek Bulan bulan yang merupakan milik klan Han memiliki dermaga mereka sendiri di pelabuhan kekaisaran Bei. Jadi daerah mereka terpisah dari pelabuhan kekaisaran meskipun berada dalam satu wilayah.
Itu karena, serikat dagang Anggerk Bulan memiliki beberapa kapal besar mereka sendiri yang biasa mereka gunakan untuk berlayar. Tentu saja mereka memerlukan tempat khusus untuk menyimpannya. Selain itu, setiap kali berangkat maupun kembali, kapal-kapal mereka akan penuh barang yang akan mereka jual maupun mereka beli dari luar daerah.
Kekaisaran Bei sendiri sudah menjalin kerjasama yang lama dengan serikat dagang Anggrek Bulan. Jadi tidak ada masalah dengan itu. Apalagi pajak yang diberikan oleh serikat dagang Anggrek Bulan setiap bulannya adalah yang tertinggi dengan banyaknya toko yang mereka miliki.
Aruna keluar dari kamarnya setelah anak buahnya memberitahu bahwa kapal mereka sudah merapat. Aruna turun diikuti Jei yang merupakan orang kepercayaannya. Pemuda yang sudah lima tahun berada di sisinya ini memiliki kemampuan yang mumpuni.
"Nyonya memberi pesan agar nona segera kembali ke pulang begitu mendarat. Nyonya juga berpesan agar nona tidak mampir kemana-mana." Ucap Jei hati-hati saat Aruna berdiri di buritan kapal untuk mengamati pemandangan di darat yang beberapa hari tidak dilihatnya.
"Ya. Kali ini mungkin kita akan tinggal lebih lama." Aruna berkata tanpa menoleh. Usianya sudah delapam belas tahun tahun ini. Ibunya sudah berulang kali memintanya untuk berhenti pergi berlayar dan mulai memikirkan masa depannya. Tapi Aruna selalu memiliki alasan untuk pergi.
Namun, kali ini sepertinya Ia sudah tidak bisa lagi menghindar. Ia tidak boleh membuat wanita itu terus menerus khawatir padanya.
Di belakangnya, Jei tidak bisa berkata apa-apa. Ia sudah mengikuti nonanya begitu lama. Orang seperti apa nonanya ia juga sudah tahu. Apalagi hanya untuk mengetahui keinginan nonanya juga tidak perlu berpikir lama. Nonanya ingin kehidupan bebas seperti yang selama ini dilalui. Tidak terikat oleh aturan yang membosankan.
"Siapkan kuda. Aku juga tidak bisa terus menghindar." Jei mengangguk singkat sebelum memerintahkan orang untuk mempersiapkan kuda nonanya.
Tak lama, Kuda berwarna putih dengan surai yang indah dituntun. Kuda itu selalu tampak gagah dan anggun dalam waktu bersamaan. Kuda putih itu sudah menjadi sahabat Aruna sejak ia mulai belajar naik kuda delapan tahun lalu.
Melihat kuda kesayangannya, Aruna segera terbang dengan menggunakan jurus peringan tubuh dan mendarat di depan kuda itu. Jei mengikutinya.
"Hai Snowie, apa kamu merindukanku?" Aruna membelai kepala kuda itu. Kuda yang diberi nama Snowie itu meringkik kecil sebagai jawaban. Snowie dengan manja menggerakkan kepalanya untuk meminta Aruna membelainya.
"Hahahaha. Kamu masih kuda yang manja." Sekali lagi Snowie meringkik senang.
"Baiklah antar aku pulang sekarang." Tanpa kesulitan Aruna sudah naik ke atas punggung kuda. Menarik tali kekangnya dan memukul ringan *5**3* kuda putih itu hingga kuda putih itu berlari dengan kencang. Di belakangnya, seekor kuda berwarna coklat tua mengikuti mereka. Di atasnya, Jei duduk dengn tegap. Pandangan matanya lurus ke depan. Tapi siapa yang sangka jika pria itu bahkan mampu melihat di sekitarnya dengan jelas meski secara fisik mata itu fokus menandang ke depan.
**
Untuk sampai ke kekaisaran Zhou letak Kediaman Han berada membutuhkan waktu dua hari perjalanan dengan kuda. Sekarang ini mereka sudah melewati hampir setengah hari perjalanan. Aruna mengarahkan kudanya ke sebuah penginapan. Mereka butuh istirahat dan juga makan. Kuda mereka juga butuh itu.
Hanya mereka berdua yang melalui jalan darat. Rombongan mereka lainnya harus melewati jalur sungai untuk mengangkut barang-barang mereka. Dengan jalur sungai, memudahkan perjalanan dan memperkecil resiko perampokan meskipun sebenarnya tidak akan ada yang berani mengganggu apapun milik Serikat Dagang Anggrek Bulan.
Aruna masuk ke dalam restoran yang dilengkapi dengan peninapan di lantai kedua dengan Jei di belakangnya. Aruna lebih suka memakai hanfu pria untuk dipakai sehari-hari. Apalagi untuk perjalanan jauh. Menurutnya hanfu pria lebih simpel daripada hanfu wanita yang menurutnya sangat merepotkan.
Meskipun menggunakan hanfu pria, pesona Aruna masih menarik perhatian. Rambutnya yang panjang diikat ekor kuda dengan gelang giok hitam yang mengkilat menampilkan leher jenjangnya yang mempesona. Semua orang di dalam restoran saat Aruna dan Jei masuk. Jei memang tidak bisa dikatakan ketampanan yang bisa menggetarkan sebuah negara, tetapi ia masih di atas pemuda pada umumnya.
Aruna dan Jei duduk di salah satu meja yang kosong. Pelayan menghampiri mereka dan mencatat pesanan mereka. Tak butuh waktu lama pelayan datang dengan membawa pesanan mereka.
Restoran ini terletak di pusat ibu kota kekaisaran Bei. Jadi bisnis disini sangat menguntungkan. Jarang ada meja kosong setiap jamnya. Apalagi di setiap jam makan kadang tidak menyisakan satu tempat duduk pun. Begitu juga saat ini, semua meja sudah diisi penuh. Aruna dan Jei masih mendapatkan meja karena mereka adalah pelanggan tetap sekaligus mitra bisnis penginapan ini.
Serikat dagang Anggrek Bulan adalah pemasok bahan makanan terbesar. Apalagi arak yang disediakan di tempat ini juga berasal dari sana.
"Nona Han." Seorang manager menghampiri Aruna begitu tahu jika Aruna datang. Ia menangkupkan tinjunya untuk memberi hormat. Meskipun dari usia Aruna jauh di bawahnya, tetapi dari status dan kemampuannya, gadis itu jelas berada di atasnya.
"Manager Sin." Aruna juga menangkupkan tinjunya. Meskipun Aruna tersenyun, tapi hatinya masam. Ia sangat tidak suka saat makannya diganggu. Apalagi untuk hal-hak sepele seperti itu
"Maafkan saya karena tidak menyambut kedatangan Nona dengan baik.''
"Tidak masalah manager Sin. Saya hanya mampir untuk makan dan beristirahat malam ini."
"Ya nona Han. Saya akan meminta seseorang untuk menyiapkan kamar terbaik untuk nona."
"Terima kasih manager Sin. Maaf merepotkan."
"Ah tentu saja tidak nona Han. Bisnis kami bisa seperti ini juga berkat barang-barang yang bagus dari Anggrek Bulan."
"Ya..."
"Baiklah nona Han. Saya tidak akan mengganggu lagi. Permisi." Manager Sin menundukkan kepalanya sebelum pamit. Ia sgera memerintahkan anak buahnya menyiapkan kamar untuk Aruna.
Baru saja Aruna menghela napas lega karena keadaan yang kembali tenang, suara keributan datang dari arah depan. Di sana, seorang nona muda cantik sedang marah-marah karena tidak mendapatkan tempat untuk duduk.
Nona muda itu adalah putri dari mentri perdagangan kekaisaran Bei. Gadis muda yang cantik itu terkenal sombong dan suka menindas gadis lainnya hanya karena hal sepele.
"Huh menjengkelkan sekali. Apa mereka tidak bisa membiarkanku tenang sebentar saja?" Aruna mendengus kesal.
"Biarkan saya urus nona." Jei segera berdiri. Tetapi segera ia larang dan memintanya untuk melanjutkan makan. Lagi pula hal ini tidak ada hubungannya dengan mereka. Jei pun menurut dan makan meskipun ia sebenarnya juga merasa terganggu.
"Hei kalian yang duduk di sana!" Teriak gadis itu menunjuk Aruna dan Jei yang sedang menikmati makanan mereka. Keduanya tidak memperhatikan Gadis itu, mereka mengabaikannya.
"Apa kalian tidak punya telinga?!" Gadis itu semakin kesal. Ia mendekat. Seorang gadis kecil dengan pakaian kasar mengikuti di belakangnya. Gadis itu adalah pelayannya.
Baik Aruna maupun Jei masih belum menanggapi.
"Aku bicara dengan kalian berdua!" Gadis itu menggebrak meja. Membuat Jei bahkan hampir menjatuhkan daging yang dijepit di sumpitnya.
"Ck! Apa mau kalian hah?" Aruna yang kesal bertanya dengan dingin.
...~♡♡♡~...
...~*♡The Story Of Aruna_3♡*~...
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ♡ ~(*,*)~♡
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!