NovelToon NovelToon

Mbak Jum Wo Ai Ni

Goresan Cinta.

"Cilok ... Mba Jum, sehat, enak .. kenyul ..minul, minul!" teriak seorang gadis berusia 20 tahun.

Di tengah teriknya panas kota Surabaya, ia mengayuh sepeda onthel untuk menjajakan dagangannya. Juminten, gadis manis ini selalu rajin berkerja, jam setelah tujuh ia sudah berada di sekolah untuk menjajakan dagangannya.

Saat siang menjelang, Juminten akan pulang sambil menjajakan cilok buatannya. Ya, sapa tau masih ada orang yang pengen ngemil di tengah hari seperti ini.

Peluh bercucuran dari kening Juminten, hari ini Surabaya lebih panas dari biasanya. Gadis itu mengangkat sedikit topi merah yang ia pakai untuk menyeka keringatnya.

"Huft ... panas e, rek," gumam Juminten.

Ia memutuskan turun dari sepeda, menurunnya perlahan. Juminten melewati gang-gang sempit untuk bisa sampai ke rumahnya.

"Ciloook.... Cilok Jum, menul, kenyul!" teriakannya lagi.

"Mbak Jum, Cilok!" panggil seorang remaja.

"Wokeh." Juminten, menuntun sepedanya mendekati remaja itu

Menstandarkan sepeda onthelnya. wanita dengan rambut hitam panjang yang di kuncir kuda itu membuka, panci pengukus. Uap panas mengepul, menyebarkan bau gurih makanan bulat yang terbuat dari tepung kanji itu.

"Tumbas pinten?" tanya Juminten.

[ "Beli berapa?" tanya Juminten. ]

"Sepuluh ewu, Mbak." Remaja itu memberikan piring yang ia bawa.

[ " Sepuluh ribu, Mbak." Remaja itu memberikan piring yang ia bawa.]

Juminten mengangguk sambil tersenyum, ia menerima piring itu. Kemudian dengan cekatan ia menusuk cilok lalu memindahkannya ke piring. Mulut Juminten komat-kamit menghitung jumlah cilok sesuai dengan yang di inginkan pembeli.

"Tak imbuhi, terakhir soale. Sambel e dipisah opo campur?"

[ "Aku kasih bonus, terakhir soalnya. Sambelnya dipisah atau dicampur?" ]

"Campur ae, Mbak."

[ "Campur saja, Mbak." ]

"Ok." Juminten pun mengguyur bulatan kecil itu dengan bumbu kacang pedas dan memberikan kecap sebagai sentuhan terakhir.

"Makasih, Mbak Jum," ucap remaja itu sambil menyodorkan uang pecahan sepuluh ribu rupiah.

"Cama-cama, Cantik." Juminten tersenyum manis dan menerima uang itu, gadis belia itu tersenyum malu mendengar ucapan Juminten.

Wanita itu kemudian merapikan kembali panci dagangannya. Ia tersenyum penuh syukur, hari ini cilok yang ia bawa habis tak bersisa. Dengan bersenandung kecil, Juminten kembali mengayuh sepedanya.

Belum berapa lama Juminten mengayuh sepeda, dia harus kembali turun dari kendaraan roda dua itu. Sebuah mobil mewah terparkir di sisi gang, dan hampir menutupi seluruh badan jalan.

"Ctk ...Mobil e sopo se rek, parkir kok di kene. ga ruh sempit iki tah," gumam Juminten kesal.

[ "Ctk ... Mobil siapa sih, parkir kok di sini. Apa tidak tahu kalau di sini sempit," gumam Juminten kesal. ]

Juminten memarkirkan sepedanya, ia merentangkan kedua tangan untuk mengukur sisa jalan yang tersisa. Juminten mengarah tangan yang terentang dengan gerobak yang ia bawa.

Juminten menghela nafas, badan jalan yang tersisa sangat terbatas. Ia sebenarnya khawatir jika gerobaknya menggores bodi mobil. Juminten mendongakkan kepalanya, matahari sudah tepat di atas ubun-ubun. Ia harus segera pulang.

Juminten mengintip jendela mobil, mobil itu kosong. Wanita itu pun celingukan mencari si empunya mobil, tetapi tidak ada. Jalanan itu tampak sepi, rumah - rumah warga di sekitar juga tertutup. Mungkin mereka sedang istirahat siang.

Juminten harus menyuapi ibunya yang terbaring di tempat tidur, karena stroke. Dengan terpaksa ia pun menuntut pelan sepedanya, melewati jalan yang tersisa. Tidak ada pilihan lain, Juminten harus pulang sekarang, ia takut terjadi apa-apa dengan ibunya.

Dengan menahan nafas, Juminten menuntun sepedanya. Seolah melewati batas hidup dan mati, dengan sangat hati-hati ia melewati mobil mewah itu.

Namun, nasib tak berpihak padanya.

Srrrt....

Ujung gerobak Juminten, menggores pintu depan mobil, goresan yang cukup panjang. Juminten hanya bisa meringis melihat warna putih yang memanjang dari pintu hingga bagian depan mobil.

"Ya Allah, piye iki?"

[ "Ya Allah, bagaimana ini?" ]

Juminten berjongkok, takut dan bingung. Pemilik mobil itu pasti akan sangat marah melihatnya. Ia harus bertanggung jawab, tetapi ia Juminten juga harus segera pulang.

Gadis manis itu berdecak kesal, bingung harus bagaimana. Tanpa sengaja ia melihat kertas bekas bungkus gorengan, yang berserakan di tanah. Juminten mengambil kertas itu, beruntung ia membawa bolpoin di keranjang sepeda.

Nuwun sewu Pak, Bu. Aku ora sengaja ngeruk mobilmu, aku bakal tanggung jawab kanggo kesalahanku. Nanging aku kesusu saiki, aku ora duwe wektu ngenteni Mas, Pak utawa Bu. Sampeyan bisa hubungi kula ing nomer iki.

081 xxxx xxxxxx

Sugeng rawuh, Jum.

[ Maafkan saya Mas,Bapak atau Ibu. saya tidak sengaja menggores mobil Anda, saya akan bertanggungjawab atas kesalahan saya. Tapi saya sedang terburu-buru sekarang, saya tidak sempat menunggu Mas, Bapak, atau Ibu. Anda bisa menghubungi saya di nomor ini.

081 xxxx xxxxx

Salam manis, Jum. ]

Juminten menyelipkan kertas itu di wiper kaca mobil. Ia pun segera bergegas pulang, sang ibu sedang menunggunya.

.

.

.

.

.

Seorang laki-laki berjalan dibelakang sang majikan, mereka berdua baru saja mengunjungi salah satu pegawai pabrik yang mengalami kecelakaan kerja di pabrik.

Karena rumah pegawai itu berada di jalan sempit yang hanya bisa di lewati sepeda motor atau pejalan kaki, mereka pun terpaksa memarkirkan mobil di jalan.

Si asisten membuka pintu mobil, kemudian mempersilahkan majikannya untuk duduk. setelah itu, ia berjalan ke depan.

Raka mengerutkan keningnya saat melihat kertas kotor r terselip di wiper kaca, penasaran ia pun mengambilnya kertas itu dan membaca tulisan yang ada di kertas itu.

Raka terkejut, ternyata itu adalah pesan dari seseorang yang telah membuat kerusakan pada mobil majikannya.

"Kamu baca apa?" tanya Dylan dengan kaku, laki-laki itu baru sebulan ini menginjakkan kaki di Indonesia.

"Surat Tuan," jawab Raka. Ia menyodorkan kertas kotor itu pada Dylan.

Mata sipit Dylan sedikit melebar saat membaca surat itu, ia kemudian mengembalikan kertas itu pada asistennya.

"Apa kamu sudah tidak waras? Saya tidak mengerti bahasa aneh itu!"

Raka tersenyum kikuk, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia lupa majikannya itu belum mengerti bahasa jawa.

"Itu, seseorang telah merusak mobil ini, dan dia meninggal pesan serta nomer telpon untuk menghubunginya," jawab Raka.

"Kamu cari dia, suruh benar-benar tanggung jawab!" tukas Dylan dengan wajah marah.

Mobil yang Dylan pake saat ini adalah mobil pribadinya. Mobil yang paling ia sukai.

"Baik Tuan, " jawab Raka singkat.

Laki-laki itu pun menyalakan mesin mobil, kemudian mulai melajukan kendaraan roda empat itu meninggal permukiman padat penduduk itu.

Keinginan Dimas

"Assalamualaikum," ucap Juminten saat sampai di rumah.

Wanita itu membuka pintu rumah setelah meletakkan sepeda di teras. Sebuah rumah sederhana yang ia tempati bersama adik dan ibunya yang stroke. Juminten pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sebelum ke kamar ibunya. Setelah selesai mencuci tangan, kaki dan muka, Juminten pergi ke kamar yang ada di sebelah dapur.

"Bu," panggil Juminten, ia menyibakkan tirai yang menutupi pintu kamar itu.

Mirna, wanita berusia 65 tahun itu dengan susah payah menoleh. Matanya berbinar saat melihat anak perawannya pulang.

Juminten melangkah mendekat, ia tersenyum manis pada wanita yang tengah menatap lekat padanya itu. Juminten meraih tangan Mirna lalu menciumnya dengan takzim, setengah itu ia menyingkirkan kain jarik yang menutupi tubuh Mirna untuk memeriksa popok yang ia pakaikan tadi pagi.

Popok sekali pakai itu sudah basah, dengan cekatan Juminten menggantinya, tak ada rasa jijik. Baginya ini merupakan sebuah kewajiban sebagai seorang anak, ia masih bersyukur Tuhan memberikan dia waktu untuk merawat ibunya.

"Mpun wangi," ujar Juminten setelah selesai menganti popok Mirna.

[ "Sudah wangi," ujar Juminten setelah selesai menganti popok Mirna. ]

Ia kembali menutupi tubuh kurus itu dengan kain jarik. Juminten merunduk ia kemudian mengarahkan kedua tangan Mirna melingkar dilehernya, sedangkan tangan Juminten mengangkat sedikit demi sedikit tubuh Mirna, membantunya duduk.

"Ibu maem ya, mpun siang."

[ "Ibu makan ya, sudah siang." ]

"Emh ..." gumam Mirna sambil mengangguk lemah.

Juminten tersenyum, ia beranjak pergi ke dapur. Mirna menatap punggung anak gadisnya yang berlalu dibalik tirai usang.

Lelah sebenarnya, sudah lima tahun Mirna seperti ini, sejak kecelakaan yang merenggut nyawa anak pertama dan menantu serta sang suami. Kini Mirna hanya bisa menggantungkan hidupnya pada Juminten, begitu pula Dimas cucunya dari Juleha.

Awalnya Mirna hanya anggota badan sebelah kanan yang tidak bisa ia gerakkan. Namun, karena sering jatuh, kini ia hanya bisa terbaring di ranjang, Mirna tidak bisa bicara, kedua tangannya juga sulit untuk di gerakkan.

Juminten terpaksa harus putus sekolah, gadis belia itu merawat sekaligus menghidupi dirinya. Kadang Mirna merasa putus asa dengan keadaan, jika saja maut bisa lebih cepat datang padanya. Ia tidak harus membebani Juminten.

Namun, Juminten selalu menyemangatinya. Juminten selalu bilang, Mirna bukan beban, dia adalah ladang pahala untuknya. Tak pernah sekalipun Juminten mengeluh atas kehidupan mereka, saat Juminten merawatnya gadis itu selalu tersenyum dengan tulus.

Juminten kembali dari dapur, ia membawa sepiring nasi lembek beserta sayuran dan ikan. Dengan telaten Juminten menyuapi Mirna, ia senang saat sang ibu makan dengan lahap. Tak apa ia kerja keras banting tulang untuk, melihat Mirna yang mempunyai semangat hidup lagi seperti saat ini, sudah cukup baginya.

Juminten mengusap mulut ibunya dengan kain basah, membersihkan sisa makanan yang ada. Juminten pun kembali ke dapur untuk meletakkan piring kotor, setelah itu ia kembali ke kamar itu.

"Ngunjuk obat rien nggeh, Bu."

[ "Minum obat dulu ya, Bu." ]

Mirna mengangguk, Juminten mengambil beberapa butir obat yang harus rutin di minum oleh ibunya. Juminten membantu menyuapkan obat itu ke mulut Mirna, setelah itu segera ia mengarahkan sedotan agar Mirna bisa minum.

"Bu, Jum tinggal beresi dagangan rien nggeh. Ibu purun nonton TV nggak?"

"Bu, Jum tinggal beresin dagangan dulu ya. Ibu mau lihat TV ngga?" ]

Lagi-lagi Mirna hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. Juminten pun menyalakan televisi tabung berukuran 14 inchi itu.

Juminten memilih acara sinetron di channel ikan asin yang paling digemari oleh emak-emak se-Indonesia. Juminten mengambil sisir, ia merapikan rambut sang Ibu yang sedikit berantakan.

"Jum tinggal ya, Bu," Pamitnya lagi.

Gadis manis yang mempunyai tahi lalat di sudut kiri bawah bibirnya itu pergi ke teras, untuk membereskan peralatan jualan ciloknya.

Selain itu ia juga harus menyiapkan seblak jualannya nanti sore, bagi Juminten tak ada waktu untuk istirahat. Ia harus mengunakan waktunya semaksimal mungkin untuk mendapatkan rejeki, Juminten ingin bisa mengobati ibunya hingga sembuh. Dia juga ingin Dimas sekolah dengan baik, jangan sampai keponakannya itu putus sekolah seperti dia.

"Assalamualaikum!"

"Wa'alaikumsalam," jawab Juminten.

Dimas meraih tangan Juminten lalu menciumnya dengan takzim, remaja kelas dua SMP itu melepaskan sepatu sebelum ia masuk rumah.

"Ndang salin, terus maem, Mbak goreng iwak lele senenganmu," ujar Juminten sambil berlalu masuk.

[ "Cepat ganti baju, terus makan, Mbak goreng ikan lele kesukaan kamu," ujar Juminten sambil berlalu masuk. ]

"Nggeh, Mbak."

[ "Iya, Mbak." ]

Dimas menenteng sepatu sekolahnya, ia masuk ke kamar untuk mengganti baju. Setelah itu, Dimas ke dapur untuk mengambil makan siang. Tak lupa ia ke kamar neneknya untuk menyapa.

Dimas menikmati makanannya di dapur, sesekali ia melirik kearah Juminten yang sedang mencuci piring kotor. Merasa di perhatikan Juminten berhenti mencuci, ia membilas tangan dengan air kemudian duduk di bangku kayu depan dimas.

"Lapo?" tanya Juminten.

[ "Ada apa?" tanya Juminten." ]

Dimas menggeleng, ia menunduk dan kembali memasukkan nasi ke mulutnya. Juminten tahu Dimas ingin mengatakan sesuatu, anak itu memang sedikit pendiam.

"Onok opo se, Dim? Mbak ngerti lho, ket mau awakmu ngiwasi Mbak," desak Juminten.

[ " Ada apa sih, Dim? Mbak ngerti lho, dari tadi kamu lihatin Mbak," desak Juminten. ]

Dimas meletakkan sendoknya, ia memang tidak bisa berbohong pada kakaknya itu.

"Anu Mbak, aku pingin kerjo," jawab Dimas lirih.

[ " Anu Mbak, aku ingin kerja," jawab Dimas lirih. ]

Juminten mengerutkan keningnya, kerja? mau kerja apa Dimas?

"Arep Kerjo opo pean? wes lah nggak usah, pean fokus sekolah ae. Lapo se kerjo barang? sangu ne kurang ta? pean butuh duit gae bayar sekolah ta?"

[ "Kamu mau kerja apa? sudahlah nggak usah kerja, kamu fokus sekolah saja. Kenapa sih, mau kerja segala? Uang saku kamu kurang? kamu butuh uang buat bayar sekolah?" ]

"Nggak, Mbak. Kabeh wes cukup, tapi aku di tawani koncoku, dadi kurir. Enggak bendino kok Mbak, seminggu paling ping pindo. Nggak po-po kan Mbak, aku pingin belajar mandiri," kekeh Dimas.

[ "Nggak, Mbak. Semua sudah cukup, tapi aku di tawarin temanku jadi kurir, Enggak tiap hari kok Mbak, seminggu paling hanya dua kali. Nggak apa-apakan Mbak, aku ingin belajar mandiri," kekeh Dimas. ]

Remaja itu menatap Juminten dengan penuh harap, ia ingin bisa membantu kakaknya itu untuk mencari uang.

Juminten mengambil nafas dalam, Dimas sangat keras kepala. Jikapun ia tidak memberikan izin, Dimas akan tetap pergi berkerja. Dengan berat hati, Juminten mengangguk.

"Tapi janji ya, nggak ganggu sekolah!" tegas Juminten.

"Enggeh Mbak, aku janji."

[ "Iya Mbak, aku janji." ]

Juminten tersenyum, ia bangkit dari duduknya. Dengan gemas ia mengacak-acak rambut Dimas.

Familiar

Hari minggu, hari yang paling ditunggu para murid sekolah, tak terkecuali Juminten. Ia juga suka hari minggu, meskipun ia tidak sekolah. Namun, ia bisa sedikit bersantai di hari ini, Juminten tidak berjualan cilok hari ini, ia hanya akan jualan seblak di rumah.

Langit masih sedikit gelap, matahari belum sepenuhnya menampakkan diri. Namun, Juminten sudah menyelesaikan semua perkejaan rumah. Dia juga sudah selesai merawat sang Ibu, Juminten pada Dimas yang baru saja keluar dari kamar.

Tangan Juminten terulur untuk mengambil tas anyaman besar, dengan memakai celana training dan kaos oblong. Ia siap untuk pergi ke pasar.

"Nggeh Mbak," jawab Dimas dengan malas

[ "Iya, Mbak," jawab Dimas dengan malas. ]

Selesai berpamitan pada Dimas, Juminten melangkah ke teras rumah, ia menggerakkan leher ke kanan dan kiri untuk mengusir malas. pagi yang dingin, tetapi ia harus segera berangkat. Juminten mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi, layaknya orang yang sedang lomba sepeda, letak pasar yang cukup jauh membuat Juminten harus bekerja ekstra. Jika berangkat pagi-pagi seperti ini, dia bisa lebih leluasa memilih sayuran dan bahan-bahan lain yang masih segar.

Setengah jam mengayuh, dan berjibaku dengan dingin angin pagi. Juminten pun sampai di pasar tradisional, ia memarkirkan sepeda disamping pohon. Tak lupa ia mengaitkan pelek sepeda pada pohon dan mengemboknya.

Wanita muda itu pun langsung masuk ke pasar, menyusuri lapak-lapak pedagang. Tak butuh waktu lama untuk Juminten berbelanja, ia sudah punya langganan di pasar ini. Selain kebutuhan berdagang, ia juga membeli lauk untuk tiga hari kedepan.

"Siji ...loro ... telu ...." Juminten menghitung sisa yang tersisa di dompet kecilnya.

[ "Satu ...dua...tiga..." Juminten menghitung sisa yang tersisa di dompet kecilnya. ]

Ia menghela nafas, tidak banyak yang tersisa. Namun, setidaknya cukup untuk uang saku Dimas besok, dan masih tersisa sedikit untuk pegangan.

Juminten meletakkan tas besar yang sudah penuh dengan barang, ia kemudian duduk berselonjor di samping tasnya. Wanita itu mengambil nafas dalam sekedar melepas penat sejenak, belanja memang cukup melelahkan. Apalagi Juminten masih harus mengayuh sepedanya satu kilometer untuk bisa sampai rumah.

Seorang wanita paruh baya berjalan anggun, sambil menenteng tas kecil di tangannya. Dia pasti orang berada, Juminten bisa melihat dari baju yang dia kenakan.

Wanita itu berjalan semakin pelan, dia membungkuk dengan memegangi dadanya. Dia membuka tas kecilnya, raut wajah panik terlihat saat ia membuka tas itu. Dia terlihat mengaduk-aduk dalam tas, seolah mencari sesuatu. Namun, kemudian.ia kembali memegangi dadanya dan terlihat semakin kesakitan. Juminten segera bangkit dan berlari kearah wanita itu.

"Ibu kenapa? Apa Ibu sakit?" cerca Juminten, wajah wanita itu terlihat pucat, nafasnya tersengal-sengal.

"To-Tolong ... Antar saya ke mobil," jawab wanita itu terbata-bata.

"Iya saya antar, tapi mobil Ibu yang mana?'

Wanita itu menunjuk mobil berwarna silver yang letaknya cukup jauh. Juminten mengangguk mengerti, ia memapah wanita itu perlahan menuju mobilnya.

Wajahnya semakin pucat, dada wanita itu naik turun dengan cepat. Juminten semakin khawatir, terjadi sesuatu yang buruk. Jarak mobil masih jauh, sedangkan langkah mereka tertatih.

Juminten melepaskan pegangannya pada wanita itu, ia kemudian berjongkok didepan wanita itu.

"Ayo Bu, naik."

"Ja-Jangan, kita jalan Sa-saja."

"Biar cepat sampai, Bu."

Karena tidak ada pergerakan, Juminten pun langsung menarik tangan wanita itu agar segera menunduk. Wanita paruh baya itu pun tak bisa menolak, Juminten mengerahkan seluruh tenaga untuk mengendong wanita itu mobil.

"Nyonya!" pekik seorang laki-laki berseragam sopir.

Pria itu segera membuka pintu mobil untuk Juminten, dengan perlahan Juminten mendudukkan wanita paruh baya itu di kursi belakang mobil.

"Man ... Man, To-Tolong obat saya." Wanita itu menunjuk dasbor mobil.

Pria itu mengangguk cepat, ia segera mengambil obat inhaler yang tersimpan di dasbor mobil.

Parman memberikan obat itu pada majikannya, dengan tangan sedikit sedikit gemetar wanita membuka tutupnya kemudian menghisapnya kuat-kuat beberapa kali.

Juminten berdiri, ia berjalan dua langkah kebelakang, memberikan sedikit ruang agar wanita itu mendapatkan lebih banyak ruang.

"Terima kasih sudah menolong, Nyonya saya," ucap Parman.

"Sama-sama Pak, emangnya Ibu ini sakit apa sih Pak? Tadi saya lihat wajahnya pucat, saya jadi takut. Takut kalau terjadi apa-apa sana Ibu ini."

"Nyonya menderita Asma," jawab Parman.

Juminten hanya manggut-manggut dengan bibirnya yang di bentuk huruf O.

Juminten melihat wajah wanita itu, dia sudah tidak sepucat tadi. Nafasnya juga sudah lebih teratur.

"Nyonya, saya permisi dulu," pamit Juminten pada wanita itu.

"Tunggu Nak, siapa nama kamu?" tanyanya dengan lirih.

"Saya Juminten, Nyonya," jawab Juminten dengan senyum manis.

"Terima kasih sudah membantu saya." Wanita itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari tas, lalu memberikannya pada Juminten.

Juminten mendorong kembali ia itu.

"Saya menolong Nyonya dengan ikhlas, bukan karena ini." Juminten menggeleng cepat.

"Saya juga ikhlas, saya hanya bisa membalas kebaikan kamu dengan ini."

"Tidak perlu Nyonya. Maaf, saya harus segera pulang sekarang. Lain kali jika nyonya pergi ajaklah seseorang bersama Anda, agar kejadian seperti ini tidak terulang." Juminten menepuk pelan tangan wanita itu.

"Kamu anak yang baik, Juminten," ujarnya dengan menatap wajah Juminten dengan lekat, ia merasa sangat familiar dengan gadis itu.

"Biasa saja Nyonya, masih banyak orang yang lebih baik dari saya. Semoga Anda cepat sembuh, permisi." Juminten pun melangkah menjauh, hari sudah semakin siang.

Juminten juga khawatir dengan tas belanjaan yang ia tinggalkan sendirian di bawah pohon. Mayleen hanya bisa menatap punggung gadis yang berlari menjauh darinya.

"Andai saja pacar anakku sebaik gadis itu ya Man," ujar Mayleen.

"Kenapa Nyonya, apa Nyonya ingin menjadikan gadis tadi sebagai menantu? Sebaiknya Nyonya hati-hati, sekarang banyak orang yang berpura-pura baik."

"Iya Kamu benar, tapi aku rasa gadis itu beneran baik, Man.

Jika bisa Mayleen ingin sekali bertemu dengan Juminten lagi. Gadis itu membuatnya merasa akrab, rasanya seperti bertemu seseorang yang lama ia rindukan. Sayangnya, Mayleen lupa menanyakan alamat Juminten.

"Semoga aku bisa bertemu lagi denganmu," gumam Mayleen lirih.

"Apa kita pulang sekarang Nyonya?" tanya Parman.

Mayleen mengangguk, ia masih menatap jalan di mana Juminten menghilang dari pandangannya. Parman menggeleng pelan, gadis itu sepertinya sudah memikat hati majikannya.

Parman menutup pelan pintu mobilnya. Dia kemudian menyalakan mesin dan mengendarai mobil itu menjauh dari pasar.

Mayleen sangat bersyukur ke pasar hari ini, meskipun tidak memperoleh apa yang ia mau. Tetapi bertemu dengan Juminten membuatnya merasa senang. Mayleen masih menatap lembar uang yang ditolak Juminten, sebuah senyum tersungging di bibirnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!