Alisha Dhanureza seorang gadis desa yang merantau ke kota karena hubungannya yang kurang harmonis dengan keluarganya. Keluarganya selalu mengekang ia dan selalu bertengkar di depan matanya yang membuat Alisha merasa sangat tidak nyaman untuk tinggal dirumahnya sendiri bersama dengan kedua orangtuanya.
Alisha membeli sebuah rumah mewah di perkotaan dengan harga yang sangat murah dibandingkan dengan rumah-rumah mewah pada umumnya. Alisha hanya membayar sepertiga dari harga rumah mewah pada umumnya.
Rumah itu memang luas dan besar namun terlihat sangat menyeramkan walaupun hanya dilihat dari luarnya saja mungkin karena sudah sangat lama tidak berpenghuni. Menurut warga sekitar, rumah itu sudah 20 tahun tidak berpenghuni, namun cat dan bangunannya masih sangat kokoh, belum ada yang rusak sedikit pun, sangat jauh berbeda dengan rumah lain yang sudah sangat lama tidak berpenghuni.
Alisha tidak memikirkan hal itu, ia tidak peduli mengapa rumah itu sampai tak berpenghuni 20 tahun, dan siapa penghuni terdahulunya, yang ia pikirkan adalah ia bisa tinggal di rumah yang sangat mewah dengan harga beli yang sangat murah itu, sangat membuatnya bahagia.
Menurut rumor yang tersebar luas di kalangan tetangga, penghuni pertama rumah itu adalah seorang noni Belanda yang tewas karena dibunuh didalam rumah itu dan menurut rumor yang beredar semenjak kematian noni Belanda itu banyak sekali kejadian mistis yang terjadi di dalam rumah hingga mengakibatkan satu keluarga tewas mengenaskan di dalam rumah itu.
Menurut seorang wanita indigo yang selamat dari mautnya saat tinggal di rumah itu mengatakan bahwa noni Belanda itu telah mengutuk rumah itu sebelum ajal menjemputnya. Di detik-detik terakhir noni Belanda itu mengatakan jika tidak boleh ada satu orang pun yang tenang untuk tinggal di dalam rumahnya itu, ia akan melakukan apapun untuk membuat penghuni baru di rumah itu merasa tersiksa tinggal di dalam rumahnya dan akhirnya meninggalkan rumah itu dengan selamat atau tinggal nama belaka.
Semenjak penuturan gadis indigo itu, setiap orang yang ingin membeli rumah itu membatalkan niatnya hingga rumah itu terbengkalai selama 20 tahun lamanya, namun Alisha yang bersikeras tidak ada apapun di dalam rumah itu tetap membelinya, dan tidak menghiraukan rumor yang beredar tentang seberapa menyeramkannya rumah mewah itu.
Rumah itu masih terlihat rapih dan bersih seperti tidak terbengkalai, ruang tamu dan kamar tidurnya juga masih tertata rapih dan tidak ada debu sama sekali yang menempel, rumah itu seperti istana mewah yang baru dibangun bukan seperti istana lama yang terbengkalai. Tidak ada rumput liat yang tumbuh di pekarangan rumah itu hanya pohon yang tertata dengan rapih.
Batinnya bertanya-tanya, benarkah rumah sebagus, serapih, dan sebersih ini adalah rumah yang telah lama terbengkalai?
Dimata Alisha rumah itu seperti istana yang tertata dengan rapih dan bersih namun dimata warga sekitar rumah itu seperti rumah hantu yang sangat menyeramkan dengan cat depan rumah yang sudah mengelupas dan berubah warna menjadi kehitaman, rumput liat dan ilalang yang sangat tinggi dan ketika Alisha membuka pintu rumahnya ada salah satu warga yang melihat penampakan rumah itu benar-benar sangat tidak terawat, atap rumah dipenuhi oleh sawang yang menjuntai panjang ke bawah dan ada salah satu warga yang melihat penampakan sosok noni Belanda yang tersenyum menatap ke luar. Noni Belanda itu seperti sangat senang dengan kehadiran Alisha di dalam rumahnya.
Hari demi hari, minggu demi minggu Alisha tinggal di dalam rumah itu, Alisha merasa semakin tidak tenang dan gelisah, ia seperti merasakan kehidupan lain di dalam rumahnya padahal ia hanya tinggal sendiri di dalam rumah itu.
Alisha merasa ada seseorang yang terus memandangi dan mengikutinya setiap kali ia pergi di belakangnya, namun setiap kali ia melihat ke belakang untuk memastikan apakah ada orang atau tidak, ia tidak melihat satu orang pun yang mengikuti di belakangnya.
Keanehan demi keanehan ia rasakan saat berada di dalam rumah itu sendirian. Mulai dari suara teriakan seorang wanita, suara rintihan kesakitan, suara seseorang meminta pertolongan dan suara orang seperti membawakan tembang Jawa.
Tidak sampai di situ saja, air di dalam bak mandinya pun sering berubah warna menjadi kemerahan dan berbau amis. TV yang semula mati tiba-tiba hidup dan menayangkan adegan-adegan menyeramkan. Lampu yang semula menyala tiba-tiba padam dan menyala dengan cepatnya, banyak suara langkah kaki yang berlarian mengelilinginya serta bau busuk, kemenyan dan melati yang selalu tercium setiap malamnya.
Alisha sering merasakan jika saat ia di dapur dan di dalam kamarnya seperti ada tangan yang memegang tangan atau menepuk pundaknya namun setiap kali ia mengecek tidak siapapun di belakangnya.
Ketika sedang bercermin, Alisha melihat rambutnya berubah menjadi hitam panjang padahal rambutnya hanya sebahu dan berwarna kecoklatan. Ia juga sering melihat wajahnya di cermin berubah menjadi pucat pasi seperti mayat hidup dan kantung mata yang sangat hitam seperti mata hantu. Alisha sering menampar pipinya sendiri untuk menyadarkan dirinya sendiri saat pipinya merasakan sakit semua kembali normal, bayangan di kaca sama seperti dirinya yang berambut pendek kecoklatan bukan berambut hitam panjang dan kantung matanya pun terlihat biasa saja tidak menghitam seperti saat pertama ia lihat, wajahnya juga tidak pucat pasi lagi.
Karena ketakutan yang berlebih, akhirnya Alisha mengajak teman laki-lakinya untuk tinggal bersamanya, saat pria itu masuk ia sudah disambut oleh banyaknya kejadian diluar nalar yang membuat ia berlari sekencang-kencangnya dari rumah itu.
Ada apa sebenarnya dengan rumah itu? mengapa rumah itu terasa seperti ada banyaknya aktivitas kehidupan? padahal hanya ia seorang yang tinggal di dalam rumah itu, siapa orang yang selalu mengikutinya? Apakah orang itu nyata ataukah hanya sekedar halusinasi Alisha belaka?
Pertanyaan demi pertanyaan selalu menghantui pikirannya namun seperti ada sesuatu yang menahan langkah kakinya untuk pergi dari rumah itu selamanya. Sangat sulit baginya untuk pergi meninggalkan rumah itu padahal ia merasa sangat tidak nyaman untuk tinggal lama di dalam rumah itu, namun mengapa ia tidak pernah bisa untuk meninggalkan rumah itu? ia seperti selalu mendengar bisikan-bisikan seorang wanita yang mengatakan padanya untuk tidak pernah pergi dari dalam rumah itu, mengapa? siapa wanita yang selalu berbisik padanya itu? sampai ia selalu mengikuti bisikan-bisikan itu yang pada akhirnya membuat ia merasa sangat tertekan untuk tinggal di dalam rumahnya sendiri namun seperti terbelenggu di dalam sana. Seperti ada sesuatu yang mengikat kakinya untuk tidak jauh melangkah pergi dari dalam rumah itu. Tubuhnya terasa sangat berat seperti memikul beban dan kakinya terasa sangat kaku seperti di rantai, mengapa? ada apa sebenarnya?
Alisha yang baru tiba di rumah, sudah dibuat kesal dan tidak nyaman karena orangtuanya sedang bertengkar lagi. Alisha pergi ke kamarnya dan mengemas seluruh pakaiannya untuk pergi dari sana dan merantau ke Jakarta agar ia bisa pergi jauh dari rumah pertamanya yang retak karena kehadiran orang ketiga itu.
Ayah Alisha bernama Reza Albyansyah berselingkuh dengan seorang wanita bernama Aneska Zahara. Mengetahui jika suaminya berselingkuh dengan wanita lain, Dara Finola juga malah melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh suaminya yaitu berselingkuh dengan laki-laki lain bernama Erick Emilio Kivandra. Alisha yang merasa keluarganya tidak ada yang benar memutuskan untuk pergi dari sana.
Alisha mau kemana kamu? tanya ayahnya.
Alisha mengabaikan perkataan ayahnya dan melanjutkan langkahnya kembali untuk pergi dari rumah. Ayahnya semakin murka karena perlakuan Alisha menarik tangannya dan akan menampar pipinya namun ditahan oleh ibunya.
''Biarkan dia pergi dari rumah ini, kasian Alisha, pasti mentalnya jatuh, kejiwaannya terganggu karena perbuatan kita, pergi nak, carilah kebahagiaan mu sendiri, jangan hiraukan kami, kami telah gagal memberikan mu rumah yang nyaman untuk menetap, carilah rumah mu sendiri yang akan membuatmu nyaman'' ucap ibunya tersenyum.
''Iya mah, makasih atas pengertiannya, Alisha pamit mah, pah, assalamualaikum'' ucap Alisha tersenyum dan pergi dari sana.
''Wa'alaikumsalam, hati-hati Alisha, jaga diri kamu baik-baik disana'' ucap ibu Alisha tersenyum menepuk pundak putrinya.
''Iya mah'' ucap Alisha tersenyum.
''Puas kamu pah? puas kamu? karena kamu Alisha pergi dari rumahnya sendiri'' ucap Dara mendorong suaminya.
''Apa? apa kamu bilang tadi? karena aku? HEI!! NGACA DONG KAMU!! kamu tidak jauh lebih baik dari aku, tidak ada perbedaan diantara kita paham?'' tanya suaminya bernada tinggi penuh dengan emosi.
Dara pun pergi dari sana mengemas seluruh pakaiannya.
''Mau kemana kamu?'' tanya Reza.
''Mau pergi pah dari rumah ini, aku udah gak tahan tinggal sama kamu lagi'' ucap Dara.
''Oke silakan pergi, aku akan urus surat perpisahan kita secepatnya, agar aku bisa secepatnya menikah dengan Aneska'' ucap Reza.
''Oke, aku tunggu kamu di pengadilan'' ucap Dara.
''Oke'' ucap Reza menyeringai mengangkat alisnya.
Dara pun berjalan menyusuri jalanan hingga malam hari dan dengan hujan deras yang membasahi tubuhnya. Di tengah perjalanan Data bertemu dengan Erick.
''Dara'' panggil Erick dari dalam mobilnya.
''Erick'' jawabnya.
''Kamu mau kemana Dara?'' tanya Erick.
''Aku mau pergi dari rumah mas Reza'' ucap Dara.
''Reza ngusir kamu dari rumah?'' tanya Erick.
''Iya mas'' ucap Dara.
''Ayok masuk ke mobil ku, biar aku antarkan ke rumah mu, aku akan jelaskan semuanya pada Reza'' ucap Erick.
''Tidak perlu mas, mas Reza telah memilih Aneska, mas Reza sudah memasukkan bunga lain ke dalam rumahnya yang itu berarti aku harus pergi karena itu sudah menjadi keputusan mas Reza, mas Reza lebih memilih Aneska'' ucap Dara meneteskan air matanya di tengah guyuran air hujan.
''Masuklah, biar aku antarkan kamu untuk mencari tempat tinggal baru'' ucap Erick.
''Iya mas, makasih'' ucap Dara membuka pintu mobil Erick dan masuk ke dalam untuk mencari tempat tinggal baru.
Setelah cukup lama menyusuri jalan, mereka melihat tulisan "rumah ini di kontrakan" terpasang di salah satu pintu rumah, mereka pun menghampiri rumah itu.
''Mas, itu ada kontrakan'' ucap Dara menunjuk salah satu rumah.
'Ya udah ayok kita kesana'' ucap Erick.
''Iya mas'' ucap Dara.
''Cari siapa ya neng?'' tanya salah satu wanita menghampirinya.
'''Cari pemilik kontrakan ini bu'' ucap Dara.
''Kebetulan saya pemiliknya, mau ngontrak disini ya neng?'' tanya pemilik kontrakan.
''Iya bu, perbulan berapa ya?'' tanya Dara.
''800 aja kok neng'' ucap pemilik kontrakan.
''Itu udah sama air dan listrik belum ya bu?'' tanya Dara.
''Sudah neng'' ucap pemilik kontrakan.
''Kamar mandinya di dalam rumah atau di luar ya bu?'' tanya Dara.
''Di dalam neng, mau lihat-lihat dulu ke dalam rumahnya neng?" tanya pemilik kontrakan.
''Boleh bu'' ucap Dara tersenyum dan mengangguk mengikuti langkah kaki pemilik kontrakan menyusuri rumah yang akan ia tempati.
''Rumahnya luas juga ya bu, ya udah saya ambil ya bu, saya bayarnya 1 bulan dulu ya bu, gak apa-apa kan?'' tanya Dara.
''Gak apa-apa kok neng'' ucap pemilik kontrakan.
''Kalau nantinya bayar pertahun bisa gak ya bu?'' tanya Dara.
''Bisa kok neng'' ucap pemilik kontrakan.
''Oh ya udah ini uangnya bu, makasih ya bu'' ucap Dara tersenyum.
''Iya neng sama-sama ibu permisi ya, selamat istirahat'' ucap pemilik kontrakan tersenyum dan pergi dari sana membawa uang hasil sewa kontrakan Dara.
''Iya bu'' ucap Dara membalas senyuman ibu kos.
''Erick makasih ya, udah nemenin aku cari tempat tinggal yang baru'' ucap Dara tersenyum.
''Iya Dara sama-sama, kalau ada apa-apa jangan segan-segan untuk hubungi aku, aku akan selalu bantuin kamu kan kamu sahabat aku dari kecil'' jawab Erick tersenyum.
''Makasih banyak ya Erick'' ucap Dara tersenyum.
''Iya Dara sama-sama, aku pamit pulang ya biar kamu bisa istirahat'' ucap Erick tersenyum.
''Iya Rick'' ucap Dara tersenyum.
''Assalamualaikum'' ucap Erick tersenyum.
''Wa'alaikumsalam, hati-hati dijalan ya Rick'' ucap Dara tersenyum.
''Iya Dara'' ucap Erick.
''Kasian Dara, aku harus ketemu sama Reza biar Reza gak salah paham lagi mengenai hubungan ku dengan Dara. Reza pasti berpikir jika aku dan Dara ada hubungan spesial padahal kami hanya bersahabat dan kami juga jarang bertemu lagipula aku juga sudah memiliki istri dan anak saat ini, mana mungkin aku menjalin hubungan dengan Dara yang sudah jelas-jelas berkeluarga dan aku pun juga sudah jelas berkeluarga, tidak mungkin aku tega untuk melakukan hal itu, iya aku harus ke rumah Reza sekarang kali aja dengan aku menceritakan semuanya, Reza bisa berubah pikiran dan hubungan mereka membaik seperti sediakala, tapi ini udah malam banget, udah jam 11, besok pagi aja kali ya? ya udah deh besok pagi aja, gak enak juga kan bertamu ke rumah orang malam-malam begini'' ucap Erick pada dirinya sendiri.
Beralih ke Alisha, kini Alisha sedang berada di dalam bis yang akan menuju ke Jakarta. Ia menatap foto keluarganya ketika masih harmonis seperti dulu, ia sangat merindukan rumahnya yang hangat dan utuh tidak dingin dan retak seperti saat ini. Air matanya terjatuh saat mengingat semua kejadian yang pernah hadir di kehidupannya dulu, betapa bahagianya dia, dan betapa hancurnya dia ketika Aneska masuk ke dalam rumah mereka sebagai orang ketiga yang menghancurkan bahtera cinta keluarganya.
''Seandainya tidak ada wanita malam bernama Aneska itu mungkin saat ini keluarga ku masih utuh, aku tidak akan pernah memaafkan mu Aneska, aku akan selalu membencimu bahkan hingga maut menjemput dan ketika maut menjemput ku, kamu adalah orang pertama yang akan aku jemput untuk ikut bersama ku, rasa sakit harus dibalas dengan rasa sakit Aneska Zahara, tunggulah pembalasan ku, cepat atau lambat kamu pasti akan mati Aneska'' batin Alisha dipenuhi oleh rasa dendam untuk wanita penggoda yang telah merusak keluarganya itu.
Ketika sedang menahan emosinya, Alisha dikejutkan oleh bayangan seorang wanita yang melintas dengan cepat seperti kilatan cahaya melewatinya di dalam bis.
''Eh kayak ada cewek yang lewat deh tadi, tapi siapa? cepat sekali ia menghilang, apa jangan-jangan dia hantu lagi, ikh serem banget sih, udah akh mending aku tidur aja daripada mikirin yang macam-macam'' ucap Alisha memiringkan kepalanya ke arah jendela dengan tangan kirinya sebagai bantal.
Ketika memejamkan mata ia seperti merasa diperhatikan terus oleh seseorang, ia pun membuka matanya dan melihat seorang Noni Belanda yang sedang berdiri di bahu jalan tersenyum menatapnya lalu menghilang, Alisha mengabaikannya dan kembali tertidur. Nampaknya kebencian Alisha pada Aneska disukai oleh Noni Belanda itu, namun Alisha tidak menyadarinya.
Pagi harinya Alisha tiba di Jakarta, ia mencari alamat rumah yang sahabatnya berikan. Sahabatnya berkata ada salah satu rumah mewah di perkotaan yang dijual dengan harga yang sangat murah.
Cukup jauh mencari akhirnya Alisha menemukan rumah itu ia langsung menghubungi pemilik rumah yang nomornya tertera di depan pintu pagar untuk membeli rumah itu.
Alisha mendapatkan harga rumah mewah itu hanya dengan harga lima puluh juta saja. Harganya yang dikatakan tidak sebanding dengan kemewahan di rumah itu. Alisha mengirimkan uangnya dan pemilik itu mengatakan jika sebentar lagi akan seorang pria yang menghampirinya untuk memberikan kunci rumah itu.
''Neng ngapain di depan rumah itu?'' tanya salah satu warga sekitar.
''Nungguin seseorang yang akan memberikan kunci rumah ini bu, rumah ini sudah saya beli tadi'' ucap Alisha.
''Hah? beli? beli ke siapa neng? pemiliknya udah meninggal dunia dua puluh tahun yang lalu'' ucap salah satu warga yang menghampirinya.
''Akh ibu, bisa aja deh, gak boleh gitu bu, orang pemiliknya masih hidup kok, tadi saya habis teleponan sama pemiliknya'' ucap Alisha.
''Oh gitu'' ucap warga itu ketakutan menatap sekeliling rumah.
''Iya bu'' ucap Alisha.
''Neng beli rumah ini berapa juta?'' tanya warga.
''Lima puluh juta aja kok bu, murah banget ya untuk rumah sebesar ini, kata pemiliknya sih di dalam rumah peralatannya masih lengkap ada kasur, sofa, dan lain-lainnya bu'' ucap Alisha tersenyum menatap sekeliling rumah barunya.
''Lima puluh juta?'' tanya warga terkejut.
''Iya bu, ada apa?'' tanya Alisha.
''Saya saja membeli rumah itu sudah seratus lima puluh juta itu pun sudah dua puluh tahun yang lalu sepertinya, kok bisa neng dapat harga semurah itu? apa neng gak takut gitu? atau curiga mengenai rumah ini?'' tanya warga itu ketakutan.
''Takut kenapa bu?, rumahnya bagus kok, kelihatannya juga nyaman banget'' ucap Alisha menatap sekeliling rumah barunya.
''Hah bagus? rumah udah pada lepas gitu cat temboknya pasti di dalamnya kotor banget deh, ilalang ama rumput udah pada tinggi, secara rumah itu kan udah terbengkalai selama 20 tahun, gak mungkin sih dalam rumahnya masih bagus'' batin ibu itu.
Tak lama kemudian seorang pria paruh baya datang menghampirinya.
''Permisi, neng yang beli rumah ini ya?'' tanya pria itu.
''Iya pak'' ucap Alisha tersenyum.
''Perkenalkan nama saya Dadang, saya tukang bersih-bersih di rumah ini, ini kunci rumahnya neng'' ucapnya memberikan kunci.
''Makasih ya pak'' ucap Alisha tersenyum menerima kunci rumahnya.
''Sama-sama neng'' ucap pak Dadang tersenyum, mengangguk dan langsung pergi meninggalkan mereka.
''Kuncinya bisa terbang, gak benar banget deh ini'' batin ibu itu.
''Bu saya masuk dulu ya'' ucap Alisha tersenyum.
''Iya neng silakan'' ucap warga itu ketakutan.
Alisha membuka rumah itu dan terpukau akan keindahan rumah itu.
''Wow rumahnya bagus banget, bersih, rapih, pasti dalamnya lebih bagus lagi deh'' ucap Alisha tersenyum menatap sekeliling.
''Hah bagus dia bilang? itu dia gak sadar apa gimana sih? dia itu daritadi jalan di tengah-tengah rumput sama ilalang yang udah sepinggang dia, malah di bilang bagus lagi'' ucap ibu itu perlahan.
Ketika sampai di depan pintu rumah dan ingin membuka dengan kuncinya, pintu itu tiba-tiba terbuka lebar dengan sendirinya yang membuat Alisha sempat kebingungan.
''Perasaan aku belum masukkan kunci ini deh, kenapa pintunya kebuka sendiri ya? aneh banget deh, apa jangan-jangan ini pintu otomatis ya? yang kalau ada orang berdiri di depannya langsung terbuka, tapi emangnya ada ya pintu otomatis yang terbuat dari kayu jati? sepertinya ini bukan pintu otomatis deh tapi kenapa bisa terbuka sendiri ya?'' batin Alisha bertanya-tanya.
''Assalamualaikum'' ucap Alisha memasuki ruang tamu rumahnya.
Ketika Alisha masuk ia disambut dengan seorang Noni Belanda yang tersenyum menyambut kehadiran Alisha di dalam rumahnya, namun Alisha tidak bisa melihat keberadaan Noni Belanda yang berada tepat di depannya.
''Itu orang berani banget ya tinggal di rumah kayak gitu sendirian lagi, malah cewek pula, penampakan rumahnya aja sudah sangat tidak layak untuk di huni lagi, udah pada retak atap rumahnya, ada yang bolong juga, belum lagi sawang di langit rumahnya panjang banget udah kayak rumah hantu, tapi wajar sih ya kalau penampakannya kayak gitu, gak ada yang nempatin juga 20 tahun, emang sih peralatannya lengkap, ada TV segala macamnya tapi kalau rumah setan percuma, bukannya untung malah buntung'' batin warga sekitar yang menyapa Alisha tadi di depan rumah.
Noni Belanda yang sedang berlalu lalang di ruang tamu pun mengangguk dan tersenyum sembari menyapa warga sekitar yang tengah asik memperhatikan rumahnya.
''Mau masuk juga bu ke dalam rumah ku?'' tanya Noni Belanda itu tersenyum pada warga sekitar.
'''Gak deh, makasih ya atas tawarannya tapi saya tidak berminat, permisi'' ucap warga itu berlari ketakutan.
''Itu ibunya kenapa lari kayak gitu? kayak orang lagi ketakutan aja deh, masa takut sih sama rumah sebagus ini, aneh'' ucap Alisha saat melihat warga sekitar berlari ketakutan.
Ketika Alisha berbalik arah, ia dikejutkan oleh pintu rumah yang tertutup kencang dengan sendirinya.
Brakkkk!!! bunyi pintu itu sangat kencang.
''Astagfirullahaladzim, tadi kebuka sendiri sekarang ketutup sendiri, aneh banget sih itu pintu udah kayak jelangkung aja, datang tak dijemput pulang tak diantar, tapi siapa yang mau antar jemput pintu ya? kurang kerjaan banget deh'' ucap Alisha tertawa sendiri.
Alisha melanjutkan langkah kakinya, menyusuri setiap tempat yang ada di rumah itu, dan memegang setiap peralatan disana.
''Ini rumah bersih banget ya, gak ada debu sama sekali, pemiliknya pasti orangnya rapih banget deh makanya rumahnya sama sekali gak ada debu, kalau aku yang tinggal mungkin udah kayak kapal pecah kali ya? berantakan kemana-mana haha'' ucap Alisha tertawa.
Alisha membuka penutup salah satu bingka foto besar yang terpasang di depan TV.
''Ini foto siapa ya? cantik banget mukanya, tapi kok kayak orang Belanda zaman dulu ya bajunya? apa ini rumah peninggalan kolonial Belanda? akh gak mungkin akh kalau nih rumah peninggalan kolonial Belanda kenapa tadi pemiliknya di telepon pakai bahasa Indonesia lancar banget, nada bicaranya juga sangat khas suku Jawa, apa mungkin kalau dia itu tergila-gila sama foto cewek-cewek Belanda vibes penjajahan kali ya? mungkin aja sih, eh bentar itu di matanya apaan ya merah-merah? kayak darah deh, gak mungkin akh kalau darah, itu kan hanya bingkai foto biasa, tapi netes terus, coba akh pegang itu darah atau bukan'' ucap Alisha mendekatkan wajahnya dan hendak memegang bingkai foto itu untuk memastikan cairan yang mengalir tepat di matanya itu darah atau bukan namun ia dikagetkan dengan foto itu yang tiba-tiba berkedip.
''Astagfirullah kenapa matanya bisa berkedip ya? itu kan hanya gambar saja yang dipasang di dalam bingkai foto, mana mungkin bisa berkedip tapi tadi aku lihat dengan jelas matanya berkedip, perasaan aku aja kali ya? kecapean mungkin ya? kan aku juga baru sampai di Jakarta belum sarapan juga mungkin karena itu makanya aku jadi berhalusinasi seolah-olah mata di dalam gambar itu berkedip, ya udah deh aku beli makanan dulu, beresinnya nanti aja, ini juga udah rapih paling tinggal masukin baju aku ke dalam kamar, ya udah deh'' ucap Alisha berjalan ke depan pintu rumahnya dan pintu itu terbuka kembali saat Alisha berdiri di depannya.
''Kebuka sendiri lagi pintunya, beneran pintu otomatis dong ini? keren banget sih, arsitekturnya canggih banget nih, bisa bikin pintu otomatis dari kayu jati, patut di apresiasi sih'' ucap Alisha tersenyum menepuk tangannya lalu pergi untuk membeli sarapan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!