Brakkk
"Awass, kamu! Kamu, ini punya sopan santun gak sih!" bentak seorang gadis, kepada pria yang telah menabrak bahunya. Tanpa melihat siapa pelaku penabraknya.
Gadis dalam keadaan mood buruk itupun merasa kesal. karena, pria yang menabraknya itu dengan sengaja menabrakkan dirinya. Sehingga menjatuhkan buku yang telah ia bawa dari perpustakaan dengan susah payah.
"Emang gue peduli," balas pria tersebut. Dengan santainya pergi begitu saja. Tanpa ada sedikit pun untuk membantu gadis yang ditabraknya, jangankan menolongnya, meminta maaf pun, tidak ia lakukan.
"Ishh dasar pria sombong." gumamnya, lalu merapihkan buku yang berjatuhan di lantai. Tanpa ada satu orang pun yang membantunya. Kemudian gadis itupun pergi.
"Lo, kenapa nabrak gadis tadi?" tanya salah satu teman pria itu.
Dengan senyum, pria itu pun menjawab pertanyaan temannya.
"Gue sengaja, supaya dia tau gue adalah pria paling tampan dan kaya di sekolah ini," ujarnya santai.
"Idih gak jelas banget lo, bukanya semua orang di sekolah ini tau, kalau lo ini, pria paling tampan setelah gue." Sambil menepuk dadanya. Bercanda, pria itu mengatakan bahwa ia adalah pria yang paling tampan di sekolah ini.
"Dan apa hubungannya coba, sama gadis tadi. Dan lo bilang supaya kenal lo?" lanjutnya.
Dengan senyum kecutnya pria itu menjawab."Lo ingat gadis tadi?"
"Ya," balasnya.
"Dia adalah salah satu cewek incaran gue selanjutnya."
"Hmmm." Pria menganggukan kepalanya dan kemudian mengedikan bahunya. bingung teman pria itu meminta penjelasan.
"Dia itu gadis paling cuek sama gue, dan itu menjadi tantangan tersendiri untuk menaklukannya. Apalagi, pas tadi dia berani bentak gue, disaat semua cewek pada ngantri hanya untuk liat muka ganteng gue." Pria itu menjelaskan secara singkat kepada temannya itu. Dengan sombong.
"Emang lo bisa, secara gue kenal tuh sama cewek, dari dia masuk sekolah ini, dia tuh cewek yang ga pernah keliatan atau banyak dikenal disini. Bahkan bisa dibilang dia itu selalu menghindar dari keramaian. Dan apapun aktivitas di sekolah ini dia gak pernah ikut. kecuali, itu memang diwajibkan dan masuk nilai."
Yang menjawab pertanyaan pria itu adalah salah satu teman yang bisa di bilang tukang gosip di antara mereka berlima.
Pria itu pun menaikkan sebelah alisnya, dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya, sambil bersandar ke tembok dibelakangnya.
"Lo tau banyak tentang gadis itu dari mana?"
"Ah lo mah lupa ya. kita kan pernah sekelas sama dia, dan gue pernah ngajak dia kenalan eh malah diabaikan. Gue kira, mungkin ini masih awal masuk. Tapi, setelah enam bulan sekolah satu kelas sama dia gak ada perubahan, dan di sekolah ini ga ada yang tau sifa aslinya gimana," terangnya.
"Hmmm.'' pria itu pun menganggukan kepalanya seolah paham.
"Baiklah gue akan tetap mencobanya, dan mungkin ini tidak akan membosankan, seperti biasanya." Dengan senyum devilnya pria itu pergi ke kelasnya. dan dikuti oleh temannya.
"Dasar lo, gak pernah berubah!"
"Hai selamat pagi Sayang," sapa seorang gadis kepada Bumi, yang tak lain adalah pacar barunya sejak seminggu yang lalu.
"Pagi," balas Bumi, masih sibuk dengan ponsel yang berada di genggamannya.
"Kamu lagi apa Sayang?" tanya Septi, nama pacar baru Bumi seminggu ini. Septi pun duduk di bangku depan, yang sedang Bumi dan teman-temannya duduki.
Lain dengan Bumi yang hanya diam, dan terus saja memainkan ponselnya. Tanpa menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting itu. Bumi malah asyik dengan game di ponselnya.
Septi yang merasa diabaikan pun langsung mengambil ponsel Bumi.
"Kamu lagi ngapain sih! sibuk main handphone sedangkan aku di sini. Aku nanya kamu malah diam aja!" marah Septi
Bumi hanya mendengus kesal dengan kelakuan pacar barunya, sedangkan teman-temannya hanya memperhatikan apa yang di lakukan Septi kepada Bumi.
"Lo yang apa-apaan, main ngambil handphone gue hah!" balas Bumi dengan sama.
"Aku cuman gak mau kamu mengabaikan aku, ketika aku sama kamu gitu aja kok. dan apa masalahnya, aku ngambil handphone kamu, aku kan pacar kamu," jawab Septi dengan manjanya sambil memegang tangan Bumi.
Bumi yang merasa risih dengan kelakuan pacar barunya itupun, dengan sedikit paksa melepaskan tangan Septi dari lengannya." Sebaiknya lo kembali ke kelas, bentar lagi bel masuk bunyi," ujar Bumi yang sudah tak tahan dengan tingkah Septi. Kemudian mengambil handphonenya kembali.
"Kamu ngusir aku!?" Dengan menunjuk dirinya sendiri. Dengan suara naik satu oktaf.
"Bukan. Tapi, gue mau lo cepat masuk kelas. Takutnya nanti ada guru yang masuk," kilah Bumi.
"Tapi aku kan____"Belum selesai Septi mengatakan sesuatu, Bumi sudah menarik tangan Septi keluar dari kelasnya dan menutup pintunya.
"Huh punya pacar kok ribet banget ya." Celetukan khas seorang Kiki, pria yang bisa di sebut tukang gosip itu.
"Alah ngomong aja lo sirik sama Bumi. Karena udah punya pacar baru lagi," balas Bintang kepada kiki.
Mendengar apa yang dikatakan Bintang, kiki pun mengakhiri game di ponsel-nya
"Apa lo bilang. Sirik? gak laya, gue lebih baik ga punya pacar dari pada punya modelan kaya si Septi. Ihhhh," jawab kiki sambil bergidik ngeri.
"Bumi, kok lo bisa sih. Punya pacar kaya si septi itu. Udah dandannya menor, manja, genit lagi." Ucap kiki menjelek-jelekan pacar baru Bumi.
Sedangkan Bumi yang mendengar kiki menjelekkan-jelekan Septi hanya diam masa bodo karena ia memang tak peduli.
"Kok lo diem aja sih, Kiki bilang gitu sama pacar lo. Emang lo gak marah? dasar gak punya perasaan lo." timpal Raka
"Lo kan tau Gue hanya main-main aja tuh sama cewek, ga ada yang lain. kalau masalah pacaran kalian tau, gue ga pernah bawa yang namanya perasaan. Dan kiki mau bilang apa ya terserah. Gue gak peduli," balas Bumi.
"Lagian lo ini ngapain nanya? yang tentu sudah tau jawabannya. Malah pake nanya segala." Sahut kiki kepada Raka
Kringg
Bel masuk pun berbunyi, tanda pelajaran akan di mulai. Tak lama kemudian, guru pun masuk untuk mengajar. Seketika, kelas yang tadinya ramai kini menjadi sunyi. Dan Yang terdengar hanya lah guru yang sedang menjelaskan materi.
"Selamat pagi anak-anak. Hari ini, kita akan memulai pelajaran tentang bisnis, dan bapak minta kalian membuat tugas masing-masing. yaitu rencana kalian ke depan nya dalam berbisnis, dan kalian bebas menentukan tema bisinis apa yang kalian jalani di masa depan nanti."
Dan bla bla bla seterusnya semua siswa menyimak apa yang di sampaikan oleh guru.
Tak terkecuali Bumi yang sedang memainkan handphonenya sambil cekikikan sendiri.
Kringggg
Setelah jam pelajaran yang ke dua selesai. kini, semua murid pun keluar kelas untuk jajan atau lainya. Seperti biasa, Bumi dan teman-temannya beriringan berjalan ke kantin hal itu menjadi sudah biasa. ketika mereka lewat para wanita akan berteriak heboh memanggil nama mereka masing masing.
"Aaaaa!!! ka Bumi ganteng!!" jerit siswi yang melihat Bumi lewat
"Ka Ardan! kiki!!! " teriak mereka
"Ya ampun, kamu lihat ga itu ka Raka ganteng banget, dan lihat betapa gagahnya cara dia berjalan, hati ini meleleh bang." Dan pujian-pujian lainya. Tapi, tentu tidak hanya wanita saja yang memuji mereka, banyak dari kaum adam pun ikut memuji ketampanan dan kesolidaritas pertemanan mereka yang begitu lengket.
Sesampainya di kantin...
"Eh Bumi kita mau dimana nih kursinya udah penuh kayanya ga muat kalau buat kita berlima deh?" ujar Bintang yang melihat bahwa semua meja di kantin yang penuh. Tapi, Raka melihat ada meja yang masih kosong hanya ada satu wanita saja yang sedang makan sambil membaca buku dengan tenang. Tanpa terganggu suara teriakan dari para fans mereka.
"Eh ka, mejanya penuh ya. di sini aja bareng kami," tawar salah satu siswi kepada mereka.
"Maaf kami ga suka kalau ada orang asing di meja kami," balas Ardan dengan cuek. Dan seperti yang Raka bilang bahwa ada bangku kosong dan mereka akan duduk di sana. dengan mengusir siswi tersebut. Yang tak lain adalah Ariestya Kumala, siswi paling cuek dan masa bodo itu.
"Bisa lo pergi dari meja ini kita mau makan di sini," usir salah satu teman Bumi, kiki.
"Bisa tidak, untuk tidak menggangu orang, saya sedang ingin di sini, Sebaiknya kalian cari tempat yang lain dengan sukarela meninggalkan tempatnya untuk kalian." Masih dengan membaca buku yang di tangannya itu. Tanpa melihat siapa lawan bicaranya.
sedangkan Bumi yang melihat dan mendengar apa yang di katakan Ariestya dibuat kesal sehingga.
braaakkk
Bumi memukul meja yang sedang di tempati Ariestya. Dan membuat semua siswa terkejut melihat hal itu, dan menghentikan sejenak acara makan mereka dan lebih memilih melihat apa yang akan terjadi.
"Lo ga tau siapa gue hah!" Bentak Bumi pada Ariestya.
"Hmmmm." Jawab Ariestya Sambil mengedikan bahunya ke atas. Tidak peduli.
"Heh cewek budeg! pergi ga lo dari meja ini!" Saking kesalnya Bumi samapi sampai Bumi harus menahan emosinya agar tidak meledak.
"Udah deh lebih baik kita cari meja yang lain aja, sepertinya ada yang sudah selesai makan dan kita bisa pergi dari sini. dari pada harus berdebat disini." Lerai Raka bijak.
"Gue ga mau, gue pengen duduk di meja ini bagai manapun titik," tolak Bumi Dengan nada penuh tekanan.
"Ayolah Bumi jangan kekanakan sebaiknya kita mengalah saja,'' ujar Ardan.
Dan tiba-tiba saja Ariestya berdiri dan pergi meninggalkan kantin sekolah begitu saja. Setalah menghabiskan makanannya yang telah ia bayar itu.
Tanpa perduli apa yang mereka katakan tentang dirinya. Dan hal itu membuat amarah Bumi tak terbendung lagi.
"Heh cewek bego!! ga punya sopan santun, malah pergi begitu aja dasar sialan lo, liat aja nanti apa yang bakal gue lakuin." Maki Bumi
"Udah deh Bum, ayo kita duduk," ajak Rangga.
"Lo aja deh gue ga nafsu lagi." Bumi pergi begitu saja meninggalkan temannya.
"Eh, Bumi lo mau kemana!!" Panggil Kiki.
Melihat Bumi meninggalkan kantin.
Kringggg
Jam pulang akhirnya berbunyi semua murid berhamburan keluar kecuali mereka yang ikut ekskul. Seperti bola basket, pramuka dan lainnya.
"Eh Bumi lo kok ga masuk kelas tadi kenapa?" tanya Kiki.
"Ki lo tau siap cewek tadi?" Bumi malah balik bertanya. Dan mengabaikan pertanyaan Kiki.
"Tau emang kenapa?" jawab Kiki.
"Nanti lo ke rumah gue, kasih tau informasi cewek tadi sedetail mungkin." Bumi pun melemparkan bola basket begitu saja. Ia masih terlihat kesal dengan kejadian di kantin.
"Yoi kita cabut. kita mau nongkrong dimana nih hari ini?" tanya Raka, mengikuti langkah Bumi yang berjalan di depan.
"Hari ini gue ga ikut. Gue mau jemput kaka gue yang baru datang dari Australia. kalau kalian mau ikut boleh aja sih," tawar dan menolak ajakan untuk nongkrong.
"Kalau gitu kita ikut aja, lagian kita juga udah lama ga ketemu kaka lo, ya ga?" Ujar Bintang meminta persetujuan.
"Yoi bro," timpal Kiki.
Setelah sampai di parkiran sekolah merekapun menaiki motornya masing masing.
****
Sesampainya di rumah Ariestya hanya bisa mendesah nafasnya lelah dalam benaknya ia berkata, menyebalkan sekali hari ini. apa yang terjadi di kantin tadi siang, aku tidak menanggapinya dengan serius. Lagipula kalau aku membalasnya pasti akan lebih panjang. Lebih baik aku pergi bukan? Masa bodo apa yang di pikiran mereka tentang diriku ini, yang begitu cuek pada pria sombong itu.
"Sebaiknya aku segera membersihkan diri sepertinya sebentar lagi ibu pasti pulang," gumamnya.
Setelah insiden di kantin sekolah tadi. Sepertinya Bumi sudah melupakannya, dan sore ini pun ia akan bersiap menjemput sang kaka yang telah menyelesaikan study nya itu.
"Mah aku berangkat. Jemput kaka dulu ke bandara. Assalamualaikum." Bumi pun pamit kepada mamahnya, tak lupa Bumi salim kepada mamahnya itu.
Bandara internasional Soekarno Hatta.
"Kaka mana sih lama banget," gumam Bumi sambil melirik jam tangannya.
"Ini juga yang lain kemana coba, dari tadi di tungguin gak datang-datang, ahhh katanya barengan malah ngaret ngeselin!!" teriaknya kesal, Bumi pun hanya bisa menggerutu meretuki dirinya.
"Sepertinya gue masih kesal karena masalah tadi siang," gumamnya.
Setelah sekian lama ia menunggu, akhirnya munculah Surya, Kaka Bumi dari belakang sambil memegang ponselnya.
"Eh, Bumi udah datang ya? maaf nunggu lama, soalnya tadi ada telepon dari pacar kaka. katanya gak bisa jemput karena ibunya sakit dan maaf seperti nya kaka ga bisa langsung pulang. Soalnya kaka mau ketemu pacar kaka dulu. Tolong sampaikan ke mama ya, dan kamu bawain kopernya." Surya pun menyerahkan kopernya dan pergi begitu saja. Namun, tak lama kemudian Surya berbalik kembali.
"Oh iya Kaka lupa, mana kunci mobil kamu? Kaka mau pergi, masa naik taksi sih. Sebaiknya kamu pulang sama teman-teman kamu sepertinya mereka sudah datang," tunjuknya ke arah, dimana temannya berada. lalu mengambil kunci dari Bumi. Kemudian pergi begitu saja tanpa melihat tampang Bumi yang seperti buah kelewat matang.
"Ahh!! ka lo nyebelin banget sih harusnya lo itu berterima kasih sama gue dan menghargai gue, yang udah jauh jauh menjemput lo, dan apa yang lo lakuin itu membuat gue marah. Ahhh kesel-kesel!!!" Bumi hanya merutuki kakanya yang menyebalkan itu, dan dia hanya bisa melampiaskannya dengan mengacak acak rambutnya, yang malah terlihat lebih keren. dan tak sedikit orang memperhatikannya. Apalagi perempuan disana yang melihat Bumi begitu menggemaskan.
"Bumi, Kaka lo mana?" tanya kiki, saat mereka telah sampai dan hanya melihat Bumi seorang dengan sebuah koper.
"Dari mana kalian hah! dari tadi gue nungguin lo pada kemana aja!" Kesal Bumi.
"Sorry, tadi kita habis makan dulu di cafenya si Ardan."
"Udah gue pengen pulang hari ini mood gue bener bener ancur. Dan kiki lo bawain koper kaka gue!" Dan mereka pun mengikuti kemaun Bumi. Karena mereka tau kalau sudah seperti ini, artinya Bumi tidak ingin di ganggu.
****
Di lain tempat, Ariestya sedang berada di rumah. Membantu sang ibu berjualan karena sang ibu sedang sakit." Bu apa ga sebaiknya kita ke rumah sakit aja," sambil merapihkan selimut ibu Ariestya yang sedikit merosot.
"Gak usah ibu pasti sembuh kok. Oh ya, kata kamu Dewa mau datang ke rumah, sebaiknya kamu siap-siap aja gih. Biar nanti, kalau Dewa datang ga berantakan," titah ibu Kumala.
"Iya Bu, kalau gitu ibu istirahat ya."
Ariestya pun keluar dari kamar ibunya dan merapihkan dagangannya.
Tak lama setelah merapihkan dagangan ibunya, Dewa pun datang.
"Assalamualaikum."
"Walikumsalalam. kakak udah datang duduk dulu kak, pasti Kaka cape," jawab Ariestya, kemudian Airestya pun mempersilahkan duduk terlebih dahulu kepada Dewa.
"Kamu gimana kabarnya sama ibu, baik-baik aja kan. tadi aku kahawatir banget loh denger ibu sakit," ujar Dewa dengan raut wajah khawatir.
"Aku baik ka kalau ibu ya gitu. tapi sekarang udah lebih baik kok."
"Oh ya Kaka mau di buatin apa? teh atau kopi?" tanya Ariestya kepada Dewa.
"Ga usah kaka ga mau ngerepotin kamu, kaka disini ga lama kok cuman mau jengukin ibu. Sekarang Kaka mau lihat kondisinya dulu, bolehkan Kaka masuk?" Ijin Dewa kepada Ariestya.
"Boleh. Tapi jangan lama-lama ya, soalnya ibu baru saja istirahat."
"Iya ayo kamu temenin kaka masuk ."
Ariestya dan Dewa pun masuk kedalam kamar yang di tepati ibunya Ariestya. Dewa yang melihat itu sangat sedih. "Apa ga sebaiknya ibu dibawa kerumah sakit aja. Aku hawatir loh sama kondisinya ibu."
"Aku tadi udah ngajakin, tapi ibunya ga mau, mau gimana lagi ka."
"Ya udah sebaiknya kita keluar aja, biarkan ibu istirahat. Dan aku juga mau pulang, dari tadi kan aku belum pulang. Takutnya mama marah." Ariestya dan Dewa pun keluar dari kamar ibunya.
"Ya udahlah aku antar kedepan ya ka. Hati-hati di jalan, sampai rumah langsung istirahat ya dan jangan lupa makan yang banyak," tuturnya perhatian.
"Iya, calon istriku ini perhatian banget sih," balas Dewa dengan gemas, Dewa pun mencubit pipi Ariestya pelan, bukan terlihat mencubit namun seprti mengelus, Sehingga pipi Ariestya bersemu merah karena malu di perlakukan seperti itu oleh Dewa.
"Ih Kaka sakit tau sudah sana cepat pulang." Melepaskan tangan dewa dari pipinya kemudian mendorong Dewa keluar rumahnya.
"Iya-iya kamu juga juga hati hati ya di rumah. Bye love you." Sambil melambaikan tangannya juga ciuman jauhnya, Ariestya hanya tersenyum dengan senang apa yang di lakukan Dewa menurut nya itu sangat lebay namun itu juga membuatnya senang sekaligus.
****
Ke esokan paginya di kediaman keluarga Bramantyo sedang terlihat sarapan bersama, sarapan yang biasanya sepi. Kini terliaht ramai, karena kehadiran sang putra sulung yang baru saja menyelesaikan studinya.
Keluarga Bumi bisa di sebut keluarga yang terpandang dan terhormat di kota ini bahkan bisa masuk jajaran 10 orang terkaya di Indonesia.
"Surya kemarin kemana dulu? Bumi jemput malah kamu tinggalin," ujar mamah Bumi, kepada putranya itu.
"Ka surya pulang ke rumah pacarnya dulu mah." Yang menjawab bukalah Surya melainkan Bumi. Yang pagi ini masih kesal akibat kejadian kemarin di sekolah dan di bandara.
Surya yang mendengar itupun hanya bisa tersenyum bodoh dengan apa yang kemarin ia lakukan.
"Maaf abis aku kemarin khawatir banget sama pacar aku, yang ga bisa jemput kiraiin kenapa ternyata ibunya sakit ya udah aku mampir dulu deh."
"Kamu udah punya pacar? sejak kapan? siapa namanya kok ga di kenalin sama mama?" tanya sang mama dengan beruntun.
Surya hanya tersenyum melihat tingkah ibunya yang begitu antusias tentang pacar barunya itu. Ia yakin, bahwa ibunya akan merestui hubunganya kali ini. karena kekasih barunya ini sangat baik dan sederhana.
"Nanti aku kenalin ke mama ko, sabar aja. karena kalau waktu dekat ini aku mengenalkannya sama mama. malah takunya ga mau dia mah," balas surya yang masih menyebunyikan hubungannya bersama sang kekasih.
'Ting'
suara pesan berbunyi milik surya yang ternyata dari sang kekasih.
Love
Kamu mau nganterin aku ga hari ini ?
Surya
Aku sekarang lagi di jalan kamu tunggu aja ya bye.
Ketika mendapat pesan dari sang kekasih
Surya pun dengan cepat menyelesaikan Sarapanya, dan bergegas menjemput sang kekasih.
"Mah aku pergi dulu," pamit Surya.
"Kamu mau kemana? sarapan kamu belum selesai kok udah mau pergi aja!!!" Teriak sang mamah
"Paling juga mau ketemu sama pacarnya Mah," balas Bumi.
"Tapi tidak sepagi ini juga kan."
"Yah Mama kaya yang ga tau aja kemarin juga aku di tinggalin gitu aja," teringat kemarin membuat Bumi kesal pagi ini.
"Ya udah Mah, Pah aku berangkat dulu ya." Bumi pun ikut pamit untuk pergi ke sekolah. Setelah menyelesaikan sarapannya.
Tbc
Makasih yang udh mampir juga udah yang mau baca dan vote dan komentarnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!