NovelToon NovelToon

Tuan Muda Yang Posesif

part 1 #tuan muda

Perusahan terbesar di negara Indonesia, dan seluruh kawasan Asia. Yang bergerak di bidang optik teknologi yang bernama Intel grup. Di pimpin oleh seorang tuan muda yang tampan bernama Dave Anderson. Dave seorang yang sangat pintar dan jenius, hidupnya sangatlah sempurna penuh dengan bergelimang harta, dan ketampanan wajah yang sangat sempurna. Sehingga banyak sekali para wanita yang mengejar cintanya, namun hanya satu kekurangan dari Dave tidak ada kamus cinta di dalam hatinya.

Kehidupan cintanya tak semulus karirnya, banyak sekali wanita cantik dan sexy yang mengejar cintanya. Tapi seorang Dave Anderson selalu menghindar dan memilih tidak mau terjebak dalam sebuah hubungan yang di dasari dengan kata cinta. Karena bagi Dave, kata cinta hanyalah sebuah kata tanpa arti di dalamnya.

Ada trauma besar dalam hidup Dave hingga memilih untuk menjauhi kata cinta dalam hidupnya. Kedua orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan pada saat dirinya masih remaja, itulah awal mula ia merasakan kehilangan cinta di dalam hidupnya.

Dave yang dilimpahi warisan yang sangat besar dengan beberapa perusahaan milik ayahnya, mencoba menjalin hubungan kasih dengan seorang wanita cantik bernama silvia yang tidak lain adalah teman satu kampusnya. Silvia adalah wanita pertama yang sangat dicintainya, sekaligus wanita pertama yang menaruh luka dihatinya. Silvia selingkuh dengan pria lain, disaat dirinya benar-benar sangat mencintainya.

Dan untuk kedua kalinya Dave kehilangan orang yang sangat dicintainya, oleh sebab itu Dave tidak mau lagi berurusan dengan yang namanya cinta. Dave mengabdikan hidupnya dengan memperbesar perusahaan milik ayahnya. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, perusahaan besar milik Ayahnya semakin berkembang dan menjadi perusahaan terbesar di kawasan Asia.

"Tuan, negara Perancis mengajukan permintaan kerjasama pada perusahaan kita," ucap Jo sang sekertaris pribadinya

"Baiklah, kau taruh berkasnya di atas meja. Biar aku pelajari dulu." jawab Dave, yang masih sibuk meneliti berkas yang dipegangnya.

"Baik tuan." Jo menaruh berkas pengajuan dari negara Paris, lalu mengangkat ponselnya yang berdering. Lalu menutupnya setelah selesai berbicara. "Tuan, Nona Jeny ada di luar dan minta bertemu dengan anda." ujar Jo, dengan sangat hati hati. Karena ia tahu, tuannya paling tidak suka jika berurusan dengan seorang wanita. Tapi apa boleh buat, para wanita itu terus saja mengejar tuan Dave. Padahal tuan Dave sudah menolak dengan sangat kasar, tapi tetap saja para wanita itu mengejarnya tanpa henti. Dan salah wanita itu adalah nona Jeny, ia adalah anak dari sahabat Ayah Tuan Dave. Itu sebabnya, di antara para wanita hanya nona Jeny yang dekat dengan tuan Dave.

"Bilang padanya aku sibuk."

Bruk

Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka dengan keras.

"Kak Dave, kakak tega sekali tidak mengijinkan aku masuk!" Seru Jeny dengan manjanya.

"Maaf tuan...! Tadi nona Jeny memaksa masuk." Pengawal pribadi Tuan Dave yang bertugas di depan ruang kerja, merasa tidak enak telah mengecewakan tuannya.

Dave menatap tajam pada pengawal pribadinya, lalu menatap pada Jo. Jo yang mengerti langsung membawa pengawal pribadi itu keluar dari ruang kerja tuan Dave.

"Ada apa kau mencariku?" Dave bertanya dengan suara yang tegas pada wanita cantik yang berdiri di depannya.

"Aku ingin mengajakmu makan siang." Jawab Jeny sambil duduk di atas kursi.

"Aku sibuk." Dave berkata dengan ekspresi datarnya.

"Tapi kak .. " Belum sempat Jeny meneruskan perkataannya. Jo sang asisten pribadi Kak Dave susah masuk kembali kedalam ruangan

"Jo ayo berangkat ..!" Dave langsung berdiri, dan meninggalkan ruangan kerja nya di ikuti oleh Jo.

Jeny yang tidak patah semangat, langsung melangkah mengikuti Dave dari arah belakang. Jeny ingin ikut pergi bersama pria yang dicintainya, namun langkahnya langsung dihentikan oleh para pengawal pribadi tuan Dave.

"Kak Dave ..kak .. " teriak Jeny.

Dave yang mendengar suara teriakan Jeny, tidak mempedulikan panggilan dari Jeny. Dave terus berjalan memasuki pintu lift. "Jo, aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi!" tegas Dave dengan aura dingin nya.

"Baik tuan." Jo menundukkan kepalanya.

"Aku ingin pergi sebentar, kalian jangan ada yang mengikutiku!" Perintah Dave, dengan suara beratnya. Dave pun pergi menuju mobil mewah Ferrari LaFerrari tahun keluaran terbaru.

Jo yang melihat tuannya pergi, langsung menghubungi para pengawal pribadinya. "Kalian ikuti tuan Dave secara diam-diam." Jo menutup ponselnya, menatap mobil Ferrari LaFerrari yang sudah semakin menjauh dari pandangannya.

part # 2 jingga

jingga namaku, aku berasal dari keluarga yang sederhana. Ayah dan ibu aku sudah lama meninggal pada saat aku masih berumur sepuluh tahun. Dan sejak itu, aku dibesarkan oleh paman dan bibi, namun setelah aku lulus sekolah. Aku memutuskan untuk pindah ngekos karena jarak rumah dengan tempat ku bekerja sangatlah jauh. Saat ini aku bekerja di sebuah butik terkenal, boutique yang sering di datangi oleh para selebriti dan juga para pengusaha. Walaupun aku hanya jadi seorang pelayan, tapi aku senang bekerja di sana. Karena bisa bertemu dengan para artis terkenal yang berlangganan di butik tempat nya bekerja.

...🍀🍀🍀...

Setelah seharian berkutat ditempat kerjanya, kini Jingga berjalan kaki menyusuri jalanan ibu kota yang begitu ramai lalu lalang oleh kendaraan. Jingga memutuskan untuk pergi ke sebuah taman kota untuk menghilangkan rasa lelahnya, ia duduk di kursi taman memandangi anak anak yang sedang bermain di taman tersebut. Dan pandangan mata jingga terhenti pada seorang pria berjas hitam yang tengah duduk di samping kiri area taman. Penampilan pria itu terbilang paling mencolok diantara yang lainnya. "Pakaian dan barang yang dikenakannya itu sangat mahal." gumam jingga dalam hati. Jingga jelas tahu barang dan pakaian yang dikenakan pria itu mahal, karena dirinya yang bekerja di butik. Dan sehari-hari biasa bertemu dengan orang-orang elite, sehingga sedikit banyaknya Jingga tahu barang yang mahal dan yang tidak.

"Sangat tampan sekali, pasti dia sudah memiliki istri atau setidaknya kekasih." gumam jingga, terus mengamati wajah pria itu.

pria yang merasa sedang di perhatikan oleh seorang wanita yang tidak dikenal olehnya, langsung beranjak pergi dari taman itu dengan wajah yang kesal. "Shit, sepertinya tidak ada tempat bagiku untuk tenang. Wanita selalu saja menggangu." Gerutu dave menatap tajam ke arah wanita yang melihat nya, sambil berlalu meninggalkan kursi taman.

"Ish, cowok itu kenapa ya? Wajahnya begitu angkuh dan dingin." gumam jingga, matanya melihat ke arah kursi tempat pria tadi duduk. Jingga melihat sesuatu yang tergeletak di sana, dan berinisiatif melihatnya.

"Sepertinya ini kunci mobil." Gumam jingga, lalu berjalan mengejar pria tadi untuk mengembalikan kunci itu kepadanya.

"Tuan ..tuan..." teriak jingga. Namun panggilan nya tidak dipedulikan oleh pria tersebut. Pria itu hanya menengok sebentar, lalu berjalan cepat. Hinga membuat Jingga berlari kecil mengejar pria tersebut.

"Mau apa wanita tadi mengejarku .." gumam Dave.

Jingga yang sempat melihat Dave menoleh kepadanya, tapi berjalan kembali. Membuat Jingga merasa sangat kesal.

"Hey tuan sombong yang berbaju hitam!" teriak Jingga.

Dave yang merasa dipanggil pun menoleh ke arah wanita yang dari tadi mengejarnya.

"Hei, apa kau tidak punya harga diri mengejar-ngejar pria dengan mengatai nya." geram Dave menatap tajam pada wanita tadi.

"Apa tuan? Kau bilang apa tadi?" tanya Jingga dengan penuh emosi.

"Jangan berpura-pura tidak mendengar, sejak di taman sampai dengan detik ini. Kau itu sengaja mengejar diriku..." Dave berkata dengan dingin.

"Hahahaha, eh tuan kau itu GR sekali." Pekik Jingga.

"Aku itu bukan mengejarmu, tapi aku ingi memberikan ini." Jingga melempar kunci itu, kearah pria sombong dan dingin yang ada didepannya. "Lain kali kalo kau tidak ingin di lihat atau dikejar oleh para wanita. Kau harus menggunakan topeng! Dan satu lagi, tidak semua wanita itu terpesona dan mengejar-ngejar anda tuan.." Jingga berlalu pergi meninggalkan pria angkuh dan dingin yang terlihat shock mendengar perkataannya.

"Topeng? Ah dasar wanita gila..." gumam Dave, sambil memasuki mobilnya meninggalkan area taman.

part#3 pertemuan ke 2

Butik Glamour.

Di tempat kerjanya, Jingga sedang sibuk melayani tamu yang datang. Membawakan pakaian yang akan dicoba oleh pelanggan, sambil berdiri di depan ruang ganti.

"Ji, nanti jam empat sore ada tamu istimewa. Dia adalah kekasih nona Jeny, pengusaha kaya yang terkenal dingin dan arrogant. Jadi kau harus bersiap-siap, jangan sampai melakukan kesalahan." Ujar Prita, sang manager butik Glamour.

"Baik, nona." Jawab Jingga. "Siapa ya, kekasih nona Jeny?" gumam Jingga dalam hati.

Ia pun segera membereskan gaun-gaun, dan jas yang ada di lemari pajangan di dalam butik. Setelah pelanggan yang tadi mencoba pakaian sudah pergi.

"Ji, kau letakan jas ini di lemari paling depan!" Perintah Prita "Jangan sampai kusut! Karena jas ini milik kekasih nona Jeny, yang akan dipakai sore ini."

"Baik, nona." Jingga mengambil jas tersebut, dan menaruhnya di lemari paling depan.

Pukul sudah menunjukan jam empat sore. Terlihat nona jeny masuk ke dalam butiknya, dengan menggandeng seorang pria tampan dan yang terlihat sangat maskulin. Pria dengan wajah dinginnya, hanya menatap ke arah depan semenjak memasuki butik. Bahkan nona jeny, yang sedari tadi mengajaknya berbicara pun di acuhkan begitu saja.

"Prita, bawa kan jas yang tadi aku pesan!" Perintah Jeny pada manajer butiknya.

"Baik, Nona."

Prita menghampiri Jingga, yang sedang membereskan gaun-gaun yang belum terpajang dimanekin.

"Ji, ambilkan jas milik kekasih nona Jeny. Kau harus melayaninya dengan baik, dan jangan sampai melakukan kesalahan!" Perintah Prita pada Jingga

"Baik nona," Jingga pun mengambil jas itu lalu berjalan di belakang nona Prita.

"Ini nona, jasnya." Jingga menyerahkan jas yang dibawanya, pada Nona Jeny. Lalu matanya tidak sengaja, menatap sosok yang duduk di samping pemilik butik tempatnya bekerja. "Sepertinya aku pernah melihatnya? Tapi dimana ya?" gumam Jingga dalam hati

Dave yang juga sedang menatap wanita, yang memberikan jas pada Jeny. Tampak mengingat-ingat sesuatu. "Wanita ini? Wanita yang mengatakan aku harus menggunakan topeng." Gumam Dave, dalam hati.

Jeny yang melihat perubahan sikap Dave, langsung menatap ke arah pegawainya. Ia tidak suka, jika Dave memperhatikan wanita lain.

"Dave cobalah jasnya!" Jeny mengalihkan tatapan mata Dave. "Biar aku yang membantumu memakaikannya." Jeny hendak berdiri dari duduknya.

"Tidak perlu, karena aku mau pelayan itu yang membantuku!" Dave menunjuk ke wanita itu.

Jingga yang di tunjuk, malah menengok ke kanan dan kirinya dengan wajah yang bingung. "Aku?" Jingga menunjuk pada dirinya sendiri

"Ya, kau. Memangnya di sini ada pelayan lain selain dirimu?" Sahut Dave dengan pedas.

"Ya ampun, ini cowok. Mulutnya enggak ada ahlak sama sekali." Umpat Jingga dalam hati. "Sabar Jingga, dan tersenyumlah!" Gumam Jingga, mengelus dadanya dengan tangan.

"Sial, wanita itu malah tersenyum!" umpat Dave.

"Biar aku saja yang membantumu, Dave." Pinta Jeny.

"Jika kau yang membantuku, lalu apa gunanya kau menggaji seorang pelayan?" Ujar Dave dengan sinis.

"Iya sih, tapi ...." Jeny terdiam.

"Mari tuan ..." ujar Jingga, dengan sopan. Mempersilahkan Dave ke ruang ganti pakaian.

"Sudah aku hina, masih saja bersikap seolah-olah tidak mendengar perkataanku! Kemarin kau begitu galak dan sombong. Sekarang kau tidak ada apa-apanya sama sekali." Gumam Dave, dalam hati

Jingga membantu memakaikan jas kepada tuan Dave.

"Hey, pelayan! Bantu aku memasang kancingnya." Perintah Dave, dengan angkuh.

Jingga pun menuruti perkataan tuan Dave, dengan hati yang sudah menahan amarah sedari tadi.

"Cih, ternyata kau itu hanya seorang pelayan! Tapi kemarin, kau bertingkah dengan sangat sombong." Sindir Dave pada jingga.

Jingga terdiam, sambil mengingat sesuatu. Oh, jadi tuan ini adalah pria yang kemarin ketemu dia taman?" Gumam Jingga dalam hati, dengan wajah yang sangat kesal.

"Tuan, yang pertama aku ini punya nama. Namaku Jingga. Dan ya, aku memang pelayan di butik ini. Memangnya kenapa? Yang ke dua, siapa anda? Kemarin yang mana? Aku tidak pernah mengingat orang yang tidak aku anggap penting." Sindir jingga pada Tuan Dave, lalu pergi begitu saja dari hadapan si tuan sombong itu.

"Orang yang tidak penting? Berani sekali dia menganggapku tidak penting!" Geram Dave, mengepalkan kedua tangannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!