NovelToon NovelToon

Bertahan Dalam Pernikahan

MALAM PERNIKAHAN YANG MENYEDIHKAN

Semua mata tertuju ke arah mereka. Memandang takjub seakan terbius dengan pesona Sepasang Pengantin yang duduk bersanding di pelaminan megah dan indah itu

Pasangan itu terlihat serasi. Sang pria sangat tampan dengan senyumannya yang menawan sedangkan wanitanya berwajah lembut dan berkulit putih.

Wanita berhijab itu bernama Izzatul Arsyila. Arsyila tinggal bersama ayah dan juga adik lelakinya. Sedangkan ibunya sudah lama meninggal dunia.

Arsyila terkenal sebagai seorang wanita yang lembut, suka menolong dan juga patuh terhadap ayahnya. Apapun yang ayahnya pinta ia selalu mengusahakannya, bahkan saat Ayahnya memintanya untuk menikah dengan lelaki pilihannya, Arsyila menerima dengan lapang dada.

Meskipun sebelumnya Arsyila tidak pernah mengenal laki-laki itu, dan tidak pernah mencari tahu tentangnya. Hanya keyakinan dari ayahnya lah yang membuat Arsyila bisa menerima lelaki asing itu menjadi suaminya. Yang ia tahu laki-laki itu adalah anak dari sahabat dekat ayahnya. Dan ayah Arsyila juga bilang saat itu bahwa calon suaminya adalah lelaki yang sholeh. Itu saja sudah cukup bagi Arsyila.

Raihan, Lelaki itu melemparkan senyuman manisnya kearah Arsyila. Ia juga menggengam lembut tangan Arsyila yang terasa dingin. Arsyila sungguh merasa gugup dengan perlakuan hangat dari suaminya itu. Ditatap dengan pandangan mesra seperti itu saja sudah mampu membuat dirinya seakan melayang dan terbuai dalam kenikmatan Cinta yang mulai bersemi didalam hatinya.

Tamu-tamu terus berdatangan, silih berganti menaiki pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada mereka berdua dan juga kepada kedua orang tua mereka yang mendampingi mereka diatas pelaminan.

Waktu berjalan begitu cepat, hingga akhirnya sampailah dipenghujung acara resepsi pernikahan mereka.

Setelah memastikan tidak ada lagi tamu yang datang, lalu Raihan dan Arsyila berpamitan untuk menuju kamar mereka. Mereka berjalan beriringan menaiki tangga rumah Raihan. Menuju kekamar pengantin yang sudah disiapkan oleh orang tua Raihan. Ijab kabul dan resepsi pernikahan mereka memang diadakan di rumah orang tuanya Raihan.

Diperjalanan menuju kamar, tak henti-hentinya jantung Arsyila berdetak dengan kencang. Keringat dingin mulai menjalari tubuhnya. Ia Sungguh merasakan getaran aneh yang mulai bersemayam didalam dirinya.

Kemudian Raihan meraih tangan Arsyila, lalu mengenggam lembut tangan mungilnya Arsyila. Arsyila merasa nyaman saat tangannya berada di genggaman lelaki itu hingga akhirnya mereka sampai didepan pintu kamar.

Raihan membuka pintu kamar mereka. Baru saja Arsyila melangkahkan kakinya kekamar itu, tiba-tiba saja ia merasa Raihan semakin memperkuat genggaman tangannya. Yang membuat tangan Arsyila semakin merasa tertekan dan terhimpit.

Setelah mereka berada didalam kamar, tiba-tiba saja Raihan menutup pintu kamar mereka dengan kuat yang membuat Arsyila terkejut sambil memegang dadanya dengan menggunakan tangannya yang satunya lagi.

Arsyila langsung menatap bingung kearah Raihan. Tapi, betapa terkejutnya lagi dia ketika mendapati wajah suaminya itu sudah berubah drastis.

Raihan tersenyum. Tapi, bukan senyum menawan seperti di pelaminan tadi. Kali ini senyumannya sungguh menakutkan. Senyuman sinis disertai dengan tatapan tajam dari ujung ekor matanya.

Arsyila masih tercengang sambil menahan sakit pada tangannya yang masih di genggam kuat oleh suaminya itu. Arsyila tampak meringis kesakitan tapi ia belum mampu untuk sekedar mengeluarkan suaranya dan bertanya apakah yang terjadi pada suaminya itu..??

"Bang Raihan, K-kenapa??" Akhirnya Arsyila mengeluarkan suaranya yang mulai bergetar. Perasaannya pun menjadi tidak enak, apalagi Arsyila merasakan tangan sebelah kirinya yang semakin sakit berada dalam genggaman suaminya itu.

"Sakiit.. Bang.." Arsyila meringis sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Raihan. Tapi, tidak berhasil.. Raihan semakin memperkuat cengkeramannya.

Arsyila bingung. Ia tidak tahu harus bagaimana untuk melepaskan tangannya. Sedangkan Raihan masih belum mengeluarkan suara. Arsyila memandang sejenak ke arah wajah suaminya itu yang kini sudah berubah drastis. Wajah itu begitu sangar dan menakutkan bagi Arsyila. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada suaminya itu??

"Bang.. Tolong, Lepaskan dulu tangan saya.. Ada apa ini? Saya salah apa..?" Ucap Arsyila setengah memohon. Meskipun tangannya sudah disakiti seperti itu, Arsyila masih berharap Raihan hanya main-main ataupun bercanda, Arsyila menepis segala pikiran buruknya tentang Raihan.

"Ciihhh.. Tidak sudi aku sebenarnya menyentuh tangan mu ini !!" Akhirnya Raihan melepaskan tangan Arsyila dengan kasar dan kuat yang membuat tubuh Arsyila agak terdorong kebelakang.

Arsyila memegang tangan kirinya yang agak memerah dan terasa perih. Kemudian, Arsyila kembali memandang wajah Raihan dengan takut-takut. Wajah Raihan masih sama. Wajah tampan itu menatap Arsyila dengan tatapan sinis dan dipenuhi kebencian.

"Bang, Maaf.. jika saya ada salah" Ucap Arsyila sambil menundukkan kepalanya. Tidak mampu ia melihat tatapan tajam dari Raihan. Dalam hati ia masih bertanya-tanya, apakah gerangan yang membuat suaminya itu terlihat marah padanya??

Raihan tidak merubris ucapan Arsyila. Ia langsung berjalan menuju kamar mandi yang ada dikamar, dan masuk kedalam kamar mandi setelah itu menutup pintunya dengan begitu kencang yang membuat Arsyila langsung terperanjat karena saking kagetnya.

Cukup lama juga Raihan didalam kamar mandi. Sedangkan Arsyila saat itu sudah duduk ditepi ranjang dengan pikiran yang tidak tenang menunggu sang Suami keluar dari kamar mandi.

Beberapa saat kemudian, akhirnya Raihan keluar. Ia sudah mengganti pakaiannya dan ia tampak sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Melihat Raihan Keluar dari kamar mandi, Lantas Arsyila langsung berdiri. Dengan ragu-ragu Arsyila mencoba melangkahkan kaki nya mendekati Raihan yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi.

"Maaf, Bang.. mau saya buatkan minum?" Tawar Arsyila dengan suara yang pelan. Ia berharap Raihan memberikan respon yang positif dan tidak lagi memandangnya dengan sinis. Namun, harapan hanyalah tinggal harapan yang ternyata Raihan malah melemparkan handuk basahnya tepat dihadapan wajah Arsyila.

Arsyila sungguh kaget. Dalam hati ia beristighfar berkali-kali. Kejadian tiba-tiba itu mampu membuat irama jantungnya berdetak tak beraturan karena menerima perlakuan tidak sopan dari Suaminya itu.

"Bang..?" Arsyila berujar kembali dengan mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti mengapa suaminya bersikap seperti ini? Ingin rasanya ia mendengar langsung penjelasan dari Raihan. Kenapa? Apa salah dirinya ?

Raihan berjalan menjauhi Arsyila dan kemudian duduk di depan meja kerjanya. Arsyila mengikutinya dari belakang. Arsyila masih penasaran dan berharap Raihan mengeluarkan suara untuk memberikan penjelasan kepadanya.

"Maaf, Bang..S-Saya..."

"STOPP!!! BERHENTI BERBICARA DENGAN SAYA!!" Raihan membentak Arsyila. Bentakan yang begitu kuat dan nyaring tertangkap oleh inderanya.

Arsyila melangkah mundur pelan-pelan. Hatinya sungguh terasa ngilu. Tanpa tahu apa salahnya, Suaminya telah membentak dirinya. Arsyila tidak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya. Sedangkan butir-butir air matanya sudah tergenang dipelupuk matanya.

Arsyila masih diam terpaku berdiri dibelakang Raihan yang kini sibuk dengan laptop dihadapannya. Ia sedikitpun tidak mempedulikan Arsyila yang masih setia menunggu penjelasannya darinya.

Arsyilapun tidak berani lagi mengeluarkan suara untuk sekedar bertanya kepada suaminya itu. Ia takut dibentak lagi. Jantungnya seakan lemah setelah mendengar bentakan kasar dari Raihan barusan.

'Ya, Allah.. kuatkan aku.. semoga ini tidak berlanjut, semoga sikap Raihan yang menyakitkan ini bukanlah dirinya yang sebenarnya. Mungkin dia lagi capek. Atau ada sesuatu yang menganggu pikirannya..' Batin Arsyila penuh dengan harapan yang positif.

"Eh, Kamu.. Siapa nama kamu?" Tiba-tiba Raihan bertanya. Tapi sedikitpun tidak memandang kebelakang. Tangannya masih sibuk menari-nari diatas laptopnya.

"Arsyila.." Jawab Arsyila dengan suara yang parau.

Arsyila merasa heran. Raihan malah bertanya namanya. Tidak mungkin dia tidak tahu siapa nama dirinya. Apakah cuman basa basinya saja untuk memulai pembicaraan?

"Bikin kan saya kopi!" Perintah Raihan.

"Baik, Bang.. Saya bikin kan dulu ya.." Jawab

Arsyila lalu bergegas keluar kamar dan menuju dapur.

Beberapa menit kemudian, Arsyilapun datang kembali dengan membawa mapan berisi segelas kopi hitam. Dengan hati-hati ia meletakkan kopi tersebut diatas meja kerjanya Raihan.

"Ini ya Bang.." Ucap Arsyila. Matanya sempat melirik sekilas ke wajah Raihan. Ia memastikan apakah wajah suaminya itu sudah berubah menjadi lembut atau malah masih sangar?

"APA-APAAN INI?!" Teriak Raihan setelah mencicipi sedikit kopi buatan Arsyila. Lalu dengan satu gerakan tangannya ia langsung membanting gelas tersebut ke lantai.

Prrannng.... Gelas itu pecah dilantai. Serpihan kaca dan air kopi itu berserakan dilantai kamar.

Arsyila mengelus-elus dadanya. Lagi-lagi suara teriakan Raihan yang tiba-tiba dan ditambah lagi bunyi pecahan gelas itu membuat badannya menjadi bergetar karena ketakutan.

Apa yang salah dari kopi yang ia buat? Apakah tidak manis? Padahal dia sudah mencicipinya tadi dan rasanya sudah pas. Dan Untuk perihal kopi sebenarnya sesuatu yang gampang bagi Arsyila karena ia selalu membuatkan kopi untuk ayahnya. Dan ayahnya selalu memuji kopi buatan dirinya. Arsyila hanya bisa bertanya dan membatin didalam hatinya.

"Bersihkan Ini semua ! Dasar Bodoh, Bikin kopi saja tidak becus!?" Ucap Raihan dengan kasar.

Lalu Raihan beranjak dari sana menuju keluar kamar. Dan lagi-lagi ia menutup pintu kamar dengan keras seakan-akan membanting pintu yang tidak bersalah itu.

Arsyila kembali terperanjat. Kejadian Malam ini sungguh membuat ritme jantungnya tidak stabil.

Dengan tangannya yang masih bergetar, Arsyila lalu memunguti serpihan kaca tersebut. Ia tidak mampu lagi menahan air matanya yang akhirnya tumpah juga membasahi pipinya.

Arsyila Menarik nafasnya panjang-panjang, ia berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.

Malam penggantin ini seharusnya ia bercengkerama dengan Raihan, berkenalan lebih dekat dengan lelaki itu, bicara dari hati ke hati dan saling mengenal satu sama yang lain. Akan tetapi, Ini semua tidak seperti yang diharapkannya. Suaminya itu.. telah menggoreskan luka dihatinya.. Di malam pengantin mereka.

Apa yang harus ia lakukan?? Haruskah ia menceritakan kejadian malam ini ke ayahnya? Oohh... Tidak.. Ayahnya pasti sangat terluka jika mengetahui ini semua. Arsyila tidak mau merusak kebahagiaan ayahnya hari ini. Biarlah ia bertahan untuk sementara dan berdoa semoga esok hari suaminya itu akan berubah..

Bersambung..

SEBUAH TUDUHAN

Jarum jam telah menunjukkan pukul 23.00 wib. Arsyila yang sudah mandi dan berganti pakaian kini duduk di tepi ranjang yang telah dihias begitu cantik dan elegan. Ia sedang menunggu kedatangan Raihan yang tidak tahu keberadaannya dimana saat ini.

Ingin rasanya Arsyila keluar kamar dan mencari Raihan. Tapi, mau cari kemana? Arsyila yang baru pertama kali menginjakkan kaki dirumah ini tentu tidak hafal dengan seluk beluk rumah besar tersebut.

Apa yang harus ia lakukan? Menghubunginya? Bahkan nomor Hp suaminya sendiri saja ia tidak tahu.

Sebenarnya Arsyila merasa lelah dan sangat mengantuk sekali. Ingin rasanya ia membaringkan tubuhnya ke kasur yang empuk itu tapi diurungkannya niat tersebut. Rasa gelisah kembali menguasai dirinya. Apalagi saat teringat perlakuan suaminya tadi.

Arsyila sungguh tidak pernah membayangkan akan seperti ini jadinya. Padahal didalam pikirannya sudah terbayang nantiknya ia akan menikah dengan seorang lelaki sholeh yang mengerti agama. Seperti yang ayahnya ceritakan kepada dirinya waktu itu.

Menikah dengan lelaki sholeh adalah impian setiap wanita, termasuk Arsyila. Sejak dulu ia mendambakan lelaki yang akan jadi imamnya adalah lelaki yang bisa membimbingnya ke jalan kebajikan.

Arsyila memang tidak mengenal Raihan. Tidak mengenal kepribadiannya dan pemahamannya tentang agama bagaimana. Tapi, Ayah Arsyila lah yang memberi keyakinan kepada Arsyila bahwa Raihan adalah sosok lelaki sholeh yang sepadan dengan dirinya.

Sebelum ijab kabul tadi, Raihan bersikap sangat manis dihadapannya. Sampai setelah selesai ijab kabul dan mereka duduk diatas pelaminan pun Arsyila selalu menangkap hal positif dari diri Raihan. Meskipun mereka belum banyak berbicara karena belum diberi ruang dan kesempatan yang lebih tapi Arsyila bisa merasakan saat itu bahwa Raihan adalah lelaki yang baik.

Namun, semua harapan dan perasaannya itu menjadi hilang seketika melihat perubahan drastis yang terjadi pada diri Raihan ketika mereka sudah berada didalam kamar. Sikap manisnya berubah menjadi sikap yang arogan. Dan wajahnya itu ketika menatap Arsyila seperti diselimuti dengan rasa benci yang mendalam.

Karena Mengingat itu semua kembali membuat hati Arsyila menjadi ngilu.

Beberapa saat kemudian, untuk mengusir kegelisahan dihatinya, Arsyila lalu menuju kekamar mandi dan mengambil air wudhu. Ia ingin menunaikan sholat witir 3 rakaat sebelum tidur. Kebiasaan yang hampir setiap hari ia lakukan sebelum tidur.

'Ya.. Allah Yang Maha Membolak Balikkan Hati Manusia. Hanya kepada Mu lah aku berserah diri. Dengan penuh rasa harap dan kerendahan hati HambaMu ini memohon kepada Mu Ya Rabb.. Agar Engkau melunakkan hati lelaki yang baru saja menjadi suami Hamba. Engkau ridhoi pernikahan ini, dan jadikan lah kami sepasang suami istri yang bisa saling menyayangi, saling melengkapi dan saling mengasihi..'

Sebuah Doa penuh harapan yang Arsyila ucapkan setelah selesai melaksanakan sholat witirnya.

Tepat pukul 00.00 wib, Pintu kamar Arsyila terbuka. Arsyila yang masih duduk disajadahnya lantas menoleh ke ambang pintu masuk.

Betapa kagetnya ia ketika mendapati suaminya berada didepan pintu dengan badannya yang sempoyongan.

Arsyila langsung berdiri dan menghampiri Raihan. Ia bermaksud untuk meraih tubuh Raihan yang hampir jatuh karena berjalan dengan tidak tentu arah.

Akan tetapi, Naas bagi Arsyila.. niat baik ingin membantu malah tubuhnya Didorong dengan keras oleh suaminya itu. Arsyila terjatuh, terduduk dilantai.

"PEREMPUAN SIALAN, BERANINYA KAMU MENYENTUH AKU..!!" Suara menggelegar keluar dari mulutnya Raihan. Dan dari mulutnya Arsyila juga mencium aroma yang sangat menyengat.

Apa ini? Apakah suaminya itu habis minum alkohol dan sekarang sedang mabuk? Arsyila bertanya dalam hatinya.

"Bang Raihan.. mabuk..?" Ucap Arsyila dengan suara yang pelan. Ia perhatikan baik-baik gelagat suaminya yang memang seperti orang mabuk.

"APA KAMU BILANG?? HAH..!!" Lagi-lagi Raihan membentak Arsyila dan menatapnya dengan pandangan tajam yang seakan - akan hendak menerkamnya.

Arsyila yang sudah berdiri lantas mundur beberapa langkah ke belakang menjauhi Raihan. Perasaan takut mulai menjalari dirinya. Bagaimana ia tidak takut, Saat ini dia sedang berhadapan dengan orang yang mabuk dan otomatis pasti kehilangan akal sehat nya sehingga bisa saja berbuat sesuatu yang buruk terhadap dirinya.

Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia berlari keluar kamar dan mintak bantuan ke orang tuanya Raihan?

"KAMU TAU TIDAK UNTUK APA AKU MENIKAHI KAMU ?" Tiba-tiba Raihan bertanya seperti itu. Ia berbicara sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Arsyila.

Raihan berjalan semakin mendekati Arsyila. Arsyila yang merasa takut, mencoba menghindar dengan berjalan mundur menjauhinya.

"TAU TIDAK???" Bentaknya lagi yang kini sambil menendang sebuah kursi yang ada disampingnya.

Arsyila kaget setengah mati. Seluruh badannya kini bergetar hebat karena menahan rasa takut.

"JAWAB!!!" Bentaknya lagi.

"Tidak..Tidak.. Saya tidak Tahu..." Jawab Arsyila sambil menahan tangisannya yang mulai pecah.

Arsyila menundukkan kepalanya. Tidak berani ia menatap mata merah dan tajam milik suaminya itu. Tatapan itu sungguh mengerikan baginya.

"KAMU MAU TAU YANG SEBENARNYA??" Ucapnya lagi dengan suara yang parau.

"LIHAT KESINI!!' Katanya dengan marah karena Arsyila yang tidak memandangnya.

Dengan takut-takut Arsyila mengangkat kepalanya dan melihat Raihan yang kini hanya berjarak beberapa senti dihadapannya.

"Kamu tahu tidak, Ayah mu itu adalah seorang pembunuh...PEM-BU-NUH..!?!!" Katanya dengan tersenyum gentir.

Arsyila tersentak kaget mendengar ucapan Raihan barusan. Ucapan yang membawa nama Ayahnya. Apa maksudunya dengan mengatakan ayahnya seorang pembunuh?

"Jadi, wajar kan kalau aku memperlakukan anaknya seorang pembunuh dengan perlakuan buruk?"

"WAJAR KAN???" Tanya lagi. Arsyila tidak menjawab pertanyaan Raihan yang tidak masuk akal itu. Ia yakin Raihan pasti berada dalam pengaruh alkohol yang membuat omongannya menjadi ngelantur.

"Hahahaha...Dasar Pem-Bu-Nuh..!!" Ucap Raihan sambil tertawa terbahak-bahak dan setelah itu tubuhnya kembali oyong dan akhirnya ia tumbang dihadapan Arsyila.

***

Adzan subuh berkumandang dengan merdunya dari Sebuah Mesjid yang terletak tidak begitu jauh dari kediaman Rumah Raihan.

Arsyila terbangun dari tidurnya lalu ia membuka matanya perlahan - lahan dan seketika itu juga ia memandangi sekelilingnya dan mencoba memulihkan ingatannya yang belum stabil.

Lalu ia teringat akan kejadian malam tadi. Dimana Raihan, suaminya itu pulang dalam keadaan mabuk dan sempat mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal sebelum akhirnya ia jatuh pingsan dihadapan Arsyila.

Melihat Raihan jatuh pingsan saat itu, Arsyila lantas meraih tubuh Raihan dan dengan kekuatan penuh ia menarik tubuh Raihan dan meletakkan nya di atas tempat tidur.

Sebenarnya Arsyila ingin memberitahu orang tuanya Raihan, tapi.. diurungkan niatnya karena ia tidak mau orang tua Raihan tahu bahwa Raihan sedang mabuk. Pasti mereka bertanya-tanya apa yang terjadi pada Raihan? Lagi-lagi Arsyila tidak sanggup melihat kegelisahan hati mertuanya nantiknya yang otomatis pasti akan memberitahu ayahnya juga.

Kemudian Arsyila bangkit dan duduk diatas tempat tidurnya. Ia melihat disebelah kirinya dan mendapati Raihan yang sedang tertidur pulas.

Agak lama ia memandangi wajah tampan suaminya itu. Meskipun Raihan sudah bersikap kasar terhadap dirinya malam tadi, entah kenapa melihat dirinya terlelap seperti itu membuat perasaan Arsyila agak lain. Yang membuat dirinya ingin selalu menjaga aib suaminya itu.

Arsyila berniat akan membangunkan Raihan untuk sholat subuh bersama-sama. Lalu dengan suara pelan ia berusaha membangunkan Raihan.

"Bang, Bang.. Raihan.. Bangun.. Kita sholat subuh dulu yuk.." Ucap Arsyila seraya memegang pundaknya Raihan. Tapi, sedikitpun Raihan tidak merespon ajakan Arsyila. Ia masih tidur dengan lelapnya.

Beberapa kali Arsyila mencoba untuk membangunkan Raihan lagi. Tapi tetap suaminya itu sedikitpun tidak menghiraukan Arsyila. Arsyila akhirnya menyerah dan pergi sholat sendirian.

Setelah selesai sholat, Arsyila melihat Raihan yang masih tidur.

'Mungkin dia kelelahan, Ya sudah lah.. biar aja dia tidur dulu..' Ucap Arsyila kepada dirinya sendiri.

Setelah mandi dan mengganti pakaian dengan pakaian syar'inya lalu Arsyila turun kebawah. Ia bermaksud untuk kedapur, untuk sekedar membantu mertuanya yang mungkin saat ini sudah ada di dapur.

Ternyata benar, Seorang wanita bergamis hitam terlihat sedang mencuci piring di dapur. Wanita separuh baya itu beranama Zalika. Ia adalah ibu tirinya Raihan.

Setahu Arsyila dari mendengar cerita Ayahnya bahwa Ibu kandungnya Raihan meninggal dunia sejak Raihan masih SMP. Dan selang setahun kemudian, Ayah Raihan menikah lagi dengan Zalika yang saat itu masih gadis dan berumur sangat muda.

Sudah ada beberapa kali Arsyila berjumpa dengan mama tirinya Raihan sebelum mereka menikah. Pertemuan pertama saat ada sebuah acara pengajian yang kebetulan Arsyila mengikutinya dan duduk bersebelahan dengan Zalika. Dan yang kedua saat Zalika dan suaminya datang kerumah Arsyila untuk melamar dirinya.

Menurut Arsyila, Zalika adalah seorang wanita Muslimah yang memiliki sifat keibuan, lemah lembut dan bersahaja. Tutur bahasanya yang lembut membuat Arsyila merasa nyaman ketika berbicara kepadanya.

Arsyila berjalan mendekati Zalika yang tengah mencuci piring. Zalika yang menyadari akan kedatangan Arsyila lalu menoleh dan memberi senyuman hangat kepada Arsyila.

"Assalamualaikum, tante.." Sapa Arsyila dengan ramah.

"Walaikumusalam.. Arsyila sayang.." Jawab Alika.

"Jangan panggil tante lagi donk sayang.. Kan sekarang sudah jadi mertua kamu.." Katanya lagi sambil tersenyum.

"Oh iya.. Lupa.." Kata Arsyila sambil tersenyum simpul.

"Jadi, Arsyila bagusnya panggil apa ya..hehehe..." Tanya Arsyila yang merasa bingung.

"Panggil Umi Lika aja.." Jawab Zalika langsung.

"Baiklah Umi Lika.." Ucap Arsyila yang kemudian langsung membantu Zalika mencuci piriing.

Setelah selesai mencuci piring, Zalika dan Asyila duduk diruang makan.

"Arsyila, Bagaimana Raihan?" Tanya Zalika tiba-tiba dengan wajah yang serius.

Arsyila tersentak ketika Zalika bertanya tentang Raihan. Ditambah lagi wajah Zalika berubah jadi sangat serius dan matanya yang bulat itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Maksudnya, bagaimana apanya ya Umi?" Tanya Arsyila yang memang tidak paham maksud dari pertanyaan umi Zalika tersebut.

"Hhhmmm.. Tidak jadi. Maksud Umi.. Raihan dimana ? apa masih tidur?" Katanya Zalika yang seakan menyembunyikan sesuatu.Terlihat dari wajahnya yang tiba-tiba berubah tadi. Tapi, Arsyila pura-pura tidak menghiraukannya.

"Belum bangun umi.." Jawab Arsyila seadanya.

"Oo.. Ya sudah.. Umi lanjut bikin sarapan dulu ya.."

"Arsyila bantuin ya umi.." Kata Arsyila menawarkan diri lalu berdiri mengikuti Zalika dari belakang.

"Baiklah Arsyila, mari kita masak sama-sama.."

Beberapa saat kemudian, dari atas tangga terdengar suara langkah kaki yang seperti melangkah dengan buru-buru turun kebawah. Karena penasaran, Arsyila langsung menoleh ke asal suara.

"Kenapa Lihat-lihat??" Sebuah suara nyaring bertanya kepadanya dengan nada tidak senang. Suara itu milik seorang wanita muda yang Arsyila kenali sebagai adiknya Raihan.

Arsyila hanya tersenyum menanggapi perkataan adik Raihan tersebut.

"Raina.. Kok seperti itu sech bicaranya sama kakak ipar kamu..?" Tegur Zalika merasa tidak senang dengan sikap Raina yang kurang sopan itu.

Namun, Raina sedikitpun tidak mengindahkan teguran dari Zalika. Ia malah sibuk dengan handphonenya. Saat itu ia sudah duduk di kursi makan sambil mencomot roti yang ada diatas meja.

"Raina... Mau sarapan apa?" Arsyila bertanya dengan ramah ke Raina.

"Ngak usah repot-repot dan sok nawarin lah. Saya sarapan di kampus saja!" Ucap Raina dengan nada suara yang mulai meninggi.

"Raina.. kamu ini..." Zalika tampak ingin marah ke Raina yang lagi-lagi berbicara tidak sopan terhadap Arsyila.

"Kenapa Emangnya Umi? Ada yang salah dari kata-kata saya?"

"Kata-kata kamu ngak salah cuman nada bicara kamu itu yang salah.." Jawab Zalika.

Raina tidak menanggapi perkataan Zalika tersebut, ia hanya tertawa kecil sambil melihat kearah Arsyila dengan sudut matanya yang tajam dan sinis.

Dalam hati Arsyila hanya bisa memasrahkan diri bahwa kini bukan sekedar suaminya saja yang bersikap buruk terhadap dirinya. Bahkan adik iparnya pun tidak menyukainya, tanpa Arsyila tahu apa alasan dan salah dirinya..

Bersambung...

TIDAK DIANGGAP

"Arsyila.. Kamu selesaikan sarapannya ya.. Umi tinggal sebentar kekamar.. Kamu juga ya Raina.. makan yang banyak.." Ucap Umi Lika yang sudah selesai menghabiskan sarapan paginya lalu buru-buru pamit ke kamarnya.

"Iyaa Umi.." Jawab Arsyila sedangkan Raina tidak menanggapinya sama sekali.

"Sok Baik..." Celetuk Raina setelah Umi Lika pergi yang terdengar jelas oleh Arsyila. Arsyila lalu menatap bingung ke adik iparnya itu seolah ingin meminta penjelasan atas apa yang dikatakannya barusan.

"Kenapa lihat saya?" Tanya Raina dengan galak ketika menyadari Arsyila memandanginya.

"Ee.. Ngak.. Oh ya, Raina.. kuliah dimana? Jurusan Apa?" Tanya Arsyila yang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan dan mencairakan suasana yang agak tegang tersebut.

"Ngak perlu tahu!" Jawabnya dengan ketus.

"Oh.. Kok kakak ngak boleh tau, Raina? Bukan apa-apa sech, karena kakak ada adik cowok juga yang masih kuliah. Mana tau kampusnya sama dengan kamu..." Kata Arsyila.

"Teruuusss... kalo sama emangnya mau ngapain?? Mau dikenalin sama saya gitu, Sorry ya.. Ngak level!!" Ujarnya dengan gaya yang sombong.

Arsyila menghela nafas panjang mendengar kata-kata Raina yang begitu angkuh itu. Ia berusaha untuk sabar dan tetap tersenyum.

"Ya sudah kalau Raina gak mau kasih tau.." Kata Arsyila akhirnya.

"Oiya, Raina..Kak boleh tanya sesuatu?" Tanya Arsyila. Raina yang lagi sibuk mengunyah makanannya lalu berhenti sesaat dan seketika memandang Arsyila dengan wajah yang masam.

"Tanya apa? Tentang Bang Raihan pastikan." Tebaknya.

"Iyaa.." Jawab Arsyila dengan ragu-ragu.

"Bang Raihan itu tidak cinta sama kak Arsyila! ia Menikahi kakak karena terpaksa, tau tidak?" Ucap Raina tiba-tiba yang membuat Arsyila tersentak kaget.

Arsyila tidak menyangka Raina mengatakan hal itu kepadanya, padahal sebenarnya Arsyila ingin bertanya tentang makanan kesukaan Raihan apa karena ia ingin membuat sarapan untuk suaminya itu. Tapi, entah kenapa kalimat itu yang terlontar dari lisannya Raina.

"Kenapa kamu bisa berpendapat seperti itu, Raina?" Tanya Arsyila dengan suara yang parau.

"Ya iya lah.. Saya tahu semuanya.." Jawab Raina.

"Tahu Apa, Raina?" Tanya Arsyila penasaran.

"Nanti kakak bakalan tahu sendiri kok" Katanya lagi.

"Maksudnya ...?" Arsyila bertanya lagi.

Tidak puas dengan jawaban Raina yang masih menggantung.

"Sudahlah.. Jangan tanya-tanya Lagi!!" Kata Raina setengah membentak. Arsyila terdiam. Ia berusaha untuk tetap tenang menghadapi Raina yang menurutnya agak sentimen.

"Baiklah, kakak ngak tanya lagi. Lanjutin sarapannya.." Kata Arsyila sambil tersenyum tipis.

Selang beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah kaki dari atas tangga. Arsyila dan Raina berbarengan menoleh keatas dan mendapati ternyata Raihan yang turun kebawah sudah dengan berpakaian rapi.

Melihat kedatangan suaminya itu membuat Arsyila langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia merasa serba salah karena tidak ada disamping suaminya saat ia terbangun, dan juga tidak menyiapkan pakaian suaminya.

"Bang Raihan.. Sudah rapi aja, mau kemana pagi-pagi ini emangnya?" Raina langsung menyodorkan pertanyaan ke Raihan. Raihan yang sudah sampai dimeja makan langsung mengelus lembut kepala adiknya tersebut.

"Kerja donk Raina sayang..." Jawabnya setelah itu duduk di kursi. Raihan sama sekali tidak memandang ke arah Arsyila. Ia seakan tidak menyadari akan keberadaan istrinya di ruang makan tersebut.

"Sepagi ini?" Tanya Raina sambil melirik jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 6 pagi.

"Iyaa.. Abang ada kerjaan di luar kota. Jadi, harus berangkat pagi ini.." Jawab Raihan sambil mencomot sebuah roti tawar yang ada diatas meja.

"Nginap Donk berarti.." Ujar Raina.

"Ya.. Lihat kondisi nantik, kalau belum selesai kemungkinan nginap.." Jawab Raihan.

Arsyila yang masih berdiri tepat Didepan Raihan sedikitpun tidak dipandangnya. Arsyila berharap Raihan segera menyadari keberadaannya. Atau berhenti berpura-pura tidak melihatnya.

Raihan masih sibuk berbicara dengan Raina. Mereka bicara tanpa jeda yang membuat Arsyila tidak memiliki kesempatan mengeluarkan suara untuk sekedar menyapa suaminya itu.

"Abang mau minum apa?" Tawar Raina disela-sela pembicaraan mereka. Lalu Raina melirik tajam kearah Arsyila. Seperti memberi kode. Arsyila yang sedari tadi dicuekin lalu akhirnya mengeluarkan suara juga.

"I-iya, Maaf.. Bang Raihan mau Arsyila bikin kan minum?" Tanya Arsyila dengan suara yang gugup.

Raihan tidak menjawab tawaran Arsyila. Dan sama sekali juga tidak melihat kearahnya. Arsyila benar-benar merasa tidak dianggap oleh suaminya itu. Sedangkan Raina malah tersenyum lebar melihat pemandangan tersebut.

"Bikin kan kopi aja untuk Bang Raihan, kak Arsyila.." Ucap Raina.

"Sekalian juga teh untuk aku ya!" Lanjutnya lagi dengan nada memerintah.

"Baik, sebentar ya.." Ucap Arsyila setelah itu pergi ke dapur.

Sambil membikinkan minuman untuk mereka, sekali-sekali Arsyila menoleh kebelakang. Melihat Bagaimana suaminya itu berbicara dan tertawa lepas bersama Raina, adiknya. Dalam hatinya ia sungguh berharap bisa merasakan diposisi Raina saat itu. Bisa bercengkerama dengan Raihan tanpa ada rasa takut dan khawatir. Takut akan dibentak dan khawatir akan dicuekin.

Setelah selesai Arsyila membuat minuman tersebut, lalu ia membawanya ke meja makan. Dan setelah sampai, dengan hati-hati ia meletakkan minuman tersebut didepan Raina dan Raihan secara bergantian.

Lagi-lagi Raihan selalu membuang muka. Ia sama sekali tidak mau melihat Arsyila bahkan sedetik pun tidak ada. Hal ini sungguh membuat hati Arsyila menjadi ngilu. Arsyila lalu duduk kembali di kursinya dengan pikiran yang melayang entah kemana.

Praaannnnngggg.....

Tiba-tiba saja terdengar Suara sebuah benda jatuh mengagetkan Arsyila dari lamuannya. Gelas berisi teh buatannya untuk Raina terjatuh. Pecah berserakan dilantai.

"Oopss... Jatuh..." Kata Raina dengan ekpresi terkejut yang dibuat-buat.

"Kak Arsyila bikinnya ngak ikhlas ini. Makanya jatuh tehnya.." Tuduh Raina dengan suara yang mulai meninggi. Arsyila yang dituduh demikian langsung membela diri.

"Ya, Allah.. Raina, Kak ikhlas kok bikinnya." Jawab Arsyila.

"Membela diri lagi! Ya sudah.. Kak beresin sana pecahan kacanya, aku ngak biasa ngerjain kayak ginian. Biasanya kalau ada Bik Minah, Bik Minah yang kerjain. Jadi mumpung bibik ngak ada.. kakak yang gantiin tugas bibik!!" Kata Raina dengan kesal.

Asryila mengelus-elus bagian dadanya. Ia berusaha untuk tidak terpancing emosi akan tuduhan dan perintah Raina yang seenaknya kepada dirinya.

Arsyila memandang sesaat kearah Raihan. Ia berharap dapat pembelaan dari suaminya itu. Tapi, percuma sedikitpun Raihan tidak mengubris apa yang diperintahkan adiknya ke Arsyila. Raihan.. Lelaki tampan itu malah dengan santainya meminum kopi buatan Arsyila sambil memainkan handphonenya.

Tanpa banyak bicara Arsyila langsung memunguti pecahan gelas yang tepat berada dibawah kaki Raina. Namun, Tiba-tiba...

Praanggggg.....

Sebuah gelas jatuh lagi ke lantai. Tepat di depan wajah Arsyila.

"Aduuhh.. jatuh lagi dech!" Ucap Raina pura-pura kaget yang padahal dia lah yang dengan sengaja menjatuhkan gelas yang lainnya.

"Bersihkan lagi ya sekalian, Aku sudah mau telat Ne.. Byee.." Katanya setelah itu berdiri dengan santainya tanpa rasa bersalah.

Sedangkan Raihan juga ikut berdiri dan berjalan dibelakang Raina yang sedikit pun tidak mempedulikan Arsyila yang sedang jongkok memunguti pecahan gelas tersebut...

Bersambung..

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!