NovelToon NovelToon

Bos Duda Kesayangan

Wawancara

Seorang gadis berlari mengejar lift yang hendak tertutup. Sayangnya, dia harus merelakan lift tertutup dan meninggalkannya. Dia pun melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum panjang di dalam jam tangannya merujuk pada angka sembilan, artinya dia punya sisa waktu lima belas menit lagi. Karena tak mau sampai terlambat, akhirnya dia memilih menaiki tanga darurat. Berharap dia akan segera tepat waktu, karena pagi ini dia ada rapat.

Marsya Kineta, atau akrab disapa Neta, terus mengayunkan langkahnya menaiki anak tangga. Ruanganya ada di lantai lima, artinya ada sekitar lima lantai yang harus dilaluinya. Gadis dua puluh empat tahun itu terengah-engah ketika terus mengayunkan langkahnya menyusuri anak tangga. Namun, dia berusaha kuat untuk tetap bertahan karena sebentar lagi tangga yang dilaluinya akan selesai.

Akhirnya dia sampai juga di lantai di mana ruangannya berada di lantai lima. Dengan segera dia menuju ke ruang absen. Menempelkan jempolnya di mesin absensi.

Pukul 07.55 mesin absensi itu mencatat kedatangan Neta. Beruntung sekali karena dia datang tepat waktu. Kini dia tinggal bersiap saja untuk menyiapkan bahan rapat.

Neta bekerja di perusahaan majalah. Ini adalah anak perusahaan Syailendra Grup. Netta berada di bawah naungan Syilen Bisnis. Perusahan majalah yang berfokus pada berita tentang bisnis. Mereka membuat berita yang berkaitan dengan bisnis. Mulai perusahaannya, pemiliknya, dan bahkan kehidupan pribadi sang pebisnis.

Dengan segera Neta menuju ke meja kerjanya. Mengambil beberapa dokumen untuk rapat. Tak mau sampai ada yang terlupakan sama sekali.

“Hampir saja kamu telat!” Maria-teman kerja Neta memberikan isyarat tangan di leher.

Neta yang menoleh ke arah Maria hanya bisa memutar bola mata malas. Dia paham betul apa maksudnya. Jika Neta terlambat, matilah sudah Neta jadi amukan sang manager.

“Ayo, sebelum kita jadi dendeng.” Neta pun segera mengajak temannya itu untuk segera masuk ke ruang rapat.

Di dalam ruang rapat sudah ada teman-temannya. Mereka tinggal menunggu bos mereka saja untuk memulai rapat. Saat sang manger datang, rapat dimulai. Satu per satu teman Neta mempresentasikan hasil kerja mereka. Begitu pun dengan Neta. Dia yang diminta mewawancarai pengusaha muda yang merintis bisnis kuliner, mem presentasikan hasil wawancaranya. Dari hasil presentasi dipilihlah mana yang layak untuk terbit lebih dulu.

“Neta, setelah ini kamu wawancara pemilik IZIO.” Manger Neta memberikan perintah pada Netta.

Sejenak Neta memikirkan siapa gerangan pemilik IZIO. Dia sering ke tempat toko perabotan itu, walaupun terkadang dia hanya menumpang foto saja. Namun, sejauh ini Neta tidak tahu siapa pemiliknya.

“Aku mau wawancara eksklusif. Jika kamu tidak mendapatkannya kamu tahu resikonya.”

Neta menelan selivanya. Ancaman itu begitu mengerikan sekali. Bulan depan memang kontraknya akan habis. Jadi ini adalah kesempatan terakhir agar bisa bertahan di perusahaan majalah ini.

“Baik, Bu.” Neta mengangguk mengiyakan permintaan sang manager. Bekerja dibawah tekanan sudah menjadi biasa bagi Neta. Jadi dia tidak terlalu terkejut ketika mendapati tuga beserta ancamannya.

Teman-teman Neta langsung menunduk. Beberapa dari mereka pernah mencoba mewawancarai pemilik IZIO, tetapi tidak pernah bisa. Tentu saja mereka merasa Neta dalam bahaya besar.

Akhirnya rapat selesai juga. Neta sedikit bisa bernapas lega karena akhirnya dia bisa duduk manis di ruangannya.

“Ta, apa kamu yakin bisa mewawancara pemilik IZIO?” Maria menarik tangan Neta.

Neta menatap sang teman yang tampak panik. “Tentu saja bisa, memang apa yang tidak bisa dilakukan Marsya Kineta.” Dengan masih sombongnya, Neta menjawab ucapan sang teman.

Maria menautkan alisnya. Dia masih bingung bagaimana bisa temannya tenang dan bisa menyombongkan diri di saat yang dihadapinya adalah sebuah bahaya.

“Ta, beberapa orang di sini sudah berusaha mewawancarai pemilik IZIO, tetapi tidak pernah berhasil.” Maria mencoba menyadarkan temannya agar tidak terlalu menyombongkan diri. Karena kesombongan itu akan menjatuhkan Neta.

Neta menoleh pada Maria. Dia mencerna dengan baik apa yang diucapkan oleh Maria. “Jadi aku orang ke sekian yang berusaha mewawancara?” tanya Neta memastikan.

“Kamu orang ke tujuh yang akan mewawancarai.” Seorang teman menimpali obrolan Maria dan Neta.

Neta membulatkan matanya. Tidak menyangka jika dirinya adalah orang ke tujuh yang akan mewawancara pemilik IZIO. Dia memikirkan kenapa banyak temannya itu tidak bisa mewawancarai. Apa sesulit itu? Apa mereka tidak bisa menemukan pria itu? Pertanyaan itu menghiasi kepala Neta. Sungguh dia sudah mulai memiliki perasaan tidak enak dengan

“Selamat berjuang.” Seroang teman menggoda Neta. Senyumnya terlihat begitu meledek sekali.

Neta akhirnya menyadari jika dia sedang berada dalam masalah besar. Jika enam temannya saja tidak bisa, bagaimana dengan dirinya. Rasanya, membayangkan saja Netta tidak sanggup.

Neta segera mengayunkan langkah ke meja kerjanya. Dia menyalakan laptopnya dan segera mencari di laman pencarian tentang info pemilik dari IZIO. Sayangnya tidak ditemukan data valid dari situs pencarian. Yang tertera hanya informasi IZIO adalah perusahaan manufaktur yang di bergerak di bidang penjualan alat-alat rumah tangga. Perusahaan itu sudah tersebar di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri sudah tersebar di kota-kota besar. Jadi perusahan itu cukup terkenal sekali.

“Kenapa tidak ada data sama sekali?” Neta mulai panik. Bagaimana dirinya bisa mewawancarai jika seperti ini.

Neta terus mencari data dari pemilik IZIO. Dari satu situs ke situs yang lain. Sayangnya, situs-situs itu hanya menjelaskan jika pemilik IZIO bernama Dathan Fabrizio. Pria itu berumur empat puluh tahun. Tak ada foto dan data lengkap lagi.

“Umurnya empat puluh tahun.” Neta membaca salah satu data yang dia temukan.

“Iya seumuran manager keuangan.” Maria tersenyum melihat aksi Neta yang sedang mencari data diri pria yang akan diwawancarainya.

Neta membayangkan salah satu manager keuangan di kantornya yang berusia empat puluh dua tahun. Pria itu botak dengan perut buncit. Jika menelisik usia yang terpaut hanya dua tahun mungkin hanya beda tipis-tipis saja perawakannya. Seperti halnya dirinya yang berusia dua lima dan Maria berusia dua puluh tujuh. Mereka terlihat sama.

“Jangan-jangan dia juga genit seperti manager keuangan.” Maria menakut-nakuti Neta.

Membayangkan hal itu tentu saja Neta bergidik ngeri. Jika sampai benar, mati sudah Neta. Dia harus mempertaruhkan harga dirinya untuk mendapatkan wawancara itu. Kalau tidak berakhir sudah nasibnya. Yang ada dia akan jadi gelandangan, karena tidak bisa membayar sewa kontrakan. Tidak mungkin dia kembali ke panti asuhan. Yang ada dia akan membuat ibu panti khawatir padanya.

Neta berharap kali ini tidak akan ada kendala. Dia berharap bisa mendapatkan wawancara pemilik IZIO, dan bisa bertahan di perusahaan dengan jangka waktu yang lama.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Dathan fabrizio

Marsya Kineta

Nasib Buruk

Neta tidak sama sekali mendapatkan informasi tentang pria yang menjadi pemilik IZIO. Hal itu membuatnya benar-benar kesal. Sedari tadi dia terus mencari di laman pencarian, tetapi tidak ada. Mencari di sosial media dengan nama Dathan Fabrizio yang muncul justru mas-mas tengil. Sungguh nasib Neta buruk sekali kali ini.

“Belum dapat, Ta?” tanya Maria.

“Belum.” Neta mengembuskan napasnya. Sambil menyandarkan kepalanya ke kursi kerjanya. Sungguh ini benar-benar sulit sekali. Dia memejamkan matanya sambil memijat pelipisnya.

“Bagaimana kita ke IZIO? Kita cari informasi sambil makan sushi.” Maria berbinar membayangkan makan di food court di sana.

Neta seketika membuka matanya. Itu adalah ide yang bagus. Paling tidak dia dapat informasi sedikit tentang pemilik IZIO.

“Ayo.” Dengan semangat Neta bangkit dari duduknya. Tangannya bergerak mematikan laptopnya. Kemudian dia meraih tasnya. Dia tidak mau melepas kesempatan yang ada. Tentu saja dia ingin segera mendapatkan informasi.

Maria berbinar. Lumayan dia akan dapat makan siang gratis dari Neta. Jadi lumayan dia berhemat. Dengan segera Maria mematikan laptopnya. Sambil mengejar Neta yang sudah berjalan lebih dulu, dia meraih tasnya.

Neta dan Maria mengendarai motor berdua. Mereka menuju ke salah satu toko IZIO terbesar yang menjadi pusatnya. Hal yang menyenangkan di IZIO adalah berbelanja alat kebutuhan rumah tangga, dekor, dan pernah-pernik lainnya. Kita seolah dimanjakan dengan aneka macam perabotan di sana. Namun, yang lebih menarik dari itu adalah mereka bisa menjadikan IZIO tempat foto estetik. Jadi lumayan bisa bergaya walaupun tidak berbelanja.

Neta dan Maria sampai di IZIO. Maria mengajak Neta untuk makan lebih dulu. Mengisi perut sebelum bekerja keras nantinya. Sambil makan, Neta terus memerhatikan orang-orang yang bekerja di IZIO. Dia mau mencari tahu di mana dia dapat informasi tentang seorang Dathan.

Dari kasir, petugas keamanan, helper, dan staf-staf yang ada di IZIO tak luput dari pantauan Neta. Dia memastikan siapa orang yang bisa memberikan informasi.

Target pertama adalah staf. Dia akan menanyakan pada staf di IZIO dulu barulah dia ke yang lain. Jika tidak mendapatkan informasi tentu saja dia akan mendapatkan dari yang lain.

“Cepat makannya.” Neta meminta Maria untuk bergegas menikmati makanannya itu. Dia harus segera bergerak untuk mendapatkan informasi.

Maria harus pasrah ketika harus cepat-cepat menyelesaikan makannya. Tidak bisa menikmati sama sekali makanannya.

Neta dan Maria menuju ke supermarket perabotan rumah tangga itu. Mereka melihat-lihat centong nasi sambil mengawasi staf. Saat ada kesempatan Neta segera melancarkan aksinya.

“Permisi.” Dengan sopan Neta mengajak bicara staf.

“Iya.”

“Apa Anda tahu pemilik IZIO ini?” Neta langsung melancarkan aksinya menginterogasi.

Staf langsung bungkam. Mereka memang tidak boleh memberikan informasi apa pun tentang Dathan Fabrizio. Dathan yang memiliki kehidupan tertutup membuatnya tidak mau ada orang luar tahu tentang dirinya.

“Maaf, Nona, saya tidak tahu.” Staf itu pun mengelak. Tidak mau memberikan jawaban pada Neta.

Neta langsung mengambil lembaran uang yang sudah disiapkan. Dia segera menyelipkan pada staf tersebut. “Aku hanya butuh informasi sedikit saja. Jadi aku mohon bantu aku.” Neta memberikan uang yang disiapkan pada staf.

“Maaf Nona, jangan seperti ini. Kami tidak boleh mengungkapkan apa-apa.” Staf tersenyum menolak uang pemberian dari Neta.

Neta hanya bisa pasrah ketika tawarannya di tolak. Padahal jelas-jelas orang-orang terkadang tergoda dengan uang. Neta heran sebesar apa pengaruh Dathan hingga pegawainya tidak mau memberikan informasi apa-apa.

Staf itu pergi. Meninggalkan Neta dan Maria. Beberapa staf dan kasir menatap mereka berdua dengan penuh curiga. Hal itu tentu saja membuat Neta dan Maria mengurungkan niatnya. Dari satu staf yang mereka tanyai saja, sudah terlihat jelas jika yang lain juga tidak akan memberikan informasi apa-apa pada Neta.

Neta dan Maria belum benar-benar pergi dari IZIO. Mereka masih memantau sambil menikmati minuman boba. Duduk manis di sebuah bangku panjang.

“Aku sepertinya harus rela jika kehilangan pekerjaanku.” Neta pasrah ketika baru mulai saja sudah sesulit ini. Sungguh di luar dugaanya.

“Sabar.” Maria menepuk bahu Neta.

Neta mengangguk-anggukan kepalanya.

Saat sedang asyik menikmati boba, tiba-tiba ada seorang anak yang berlari ke arah Neta. Kaki pengunjung yang menyulang ke depan membuat anak kecil itu tersandung. Beruntung Neta dengan sigap menangkap anak tersebut. Sehingga anak itu tidak terjatuh.

Minuman boba yang dipegang Neta pun tumpah ke arahnya melalui celah sedotan. Walaupun tidak langsung membanjiri tubuhnya, tetapi tetap saja membuatnya basah.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Neta pada gadis kecil yang usianya sekitar lima tahun itu.

“Tidak apa-apa.” Gadis kecil itu menggeleng. Bola mata indah milik sang anak pun menatap Neta. Saat ada tetesan air dari rambut Neta, dia menyadari jika rambut dan baju Neta basah. “Aunty, basah.” Dia menunjuk ke arah minuman boba yang tumpah.

Neta mengalihkan pandangannya. Bajunya di bagian bahu terkena minuman boba. Belum lagi rambutnya juga terkena minuman manis itu. Sungguh hari ini Neta sial sekali.

“Ta, sebaiknya kamu cepat bersihkan karena itu minuman manis.” Maria memberitahu Neta.

Neta mengangguk. Sambil membantu gadis kecil itu berdiri, Neta juga ikut berdiri. “Lain kali hati-hati. Jangan lari-lari.” Neta tersenyum manis pada gadis kecil itu.

“Baik, Aunty.” Gadis kecil itu mengangguk.

Neta segera bergegas untuk ke toilet. Hal pertama yang dilakukannya adalah membasahi rambutnya dengan air. Hal itu dilakukan agar manis minuman boba segera hilang. Alhasil setengah rambutnya basah karena dia membilasnya.

Bajunya yang basah karena minuman soda membuat Neta membasahi bajunya agar menghilangkan minuman manis itu. Kali ini bajunya cukup basah. Tentu saja dia tidak bisa melanjutkan kembali investigasinya.

“Sepertinya kita harus pulang.” Neta menatap Maria dari cermin yang berada di toilet.

“Baiklah.” Maria juga tidak tega ketika melihat temannya itu dengan baju yang basah. Walaupun tidak banyak, tetapi tetap saja tidak nyaman.

Neta melanjutkan kembali membersihkan bekas minuman manis itu. Setelah merasa bersih, dia memutuskan untuk segera pulang. Tepat di saat berbalik, dia melihat anak kecil yang di tadi hampir jatuh.

“Aunty tidak apa-apa?” tanya gadis kecil itu.

Neta tersenyum. Ternyata gadis itu sedang mengkhawatirkannya. Neta sedikit membungkukkan tubuhnya. Kemudian membelai lembut pipi gadis cantik di depannya. “Tidak apa-apa, Sayang. Hanya basah.”

Gadis kecil itu mengangguk.

Neta yang melihat gadis kecil itu mengejarnya, menyadari jika gadis kecil itu sendiri. “Di mana orang tuamu?” Neta melihat ke sekeliling, takut-takut orang gadis kecil itu mengikuti.

“Tidak tahu.” Gadis kecil itu menggeleng.

Neta pikir nasib buruknya hari ini akan berakhir, tetapi ternyata tidak. Dia beralih pada Maria. “Kita ke pusat informasi.” Dia memberitahu temannya. Neta akan mencari orang tua dari gadis kecil itu.

Dengan semangat dia mengulurkan tangan pada gadis kecil itu. Dia mengajak gadis kecil itu ke pusat informasi. Gadis kecil itu pun tidak menolak sama sekali. Dia menerima uluran tangan Neta.

“Nama kamu siapa?” tanya Neta menatap gadis kecil yang berjalan bersamanya itu.

“Nama aku Danessia Loveta, panggilannya Lolo.” Gadis kecil itu menyebut namanya.

“Cinta.” Neta yang mengartikan nama gadis kecil itu.

“Papa suka panggil 'cinta', tetapi mama panggil Lolo.” Gadis kecil itu bercerita.

“Nama mama dan papa kamu siapa?” Neta menanyakan sekalian nama orang tua gadis kecil itu karena sekalian untuk memberitahu ke bagian pusat informasi.

“Arriella Malya dan Dathan Fabrizio.” Gadis kecil itu menyebut dengan fasih nama kedua orang tuanya.

Seketika kedua bola mata indah milik Neta membulat sempurna. Nama pria yang dicarinya disebut oleh gadis kecil itu. Jika didengar dari namanya, itu jelas mirip sekali dengan pria yang sedang dicarinya. Neta yakin, gadis di sampingnya ada hubungannya dengan pengusaha yang sedang dicarinya.

Kesempatan

“Kamu anak Dathan Fabrizio?” tanya Neta memastikan.

“Iya, Papa aku bernama Dathan Fabrizio.” Loveta menjawab dengan bersemangat.

Neta seolah mendapatkan angin segar. Rasanya dia salah jika mengatakan jika kali ini dia sedang kurang beruntung karena insiden minuman boba tumpah ke bajunya. Karena dari minuman itu tumpah, akhirnya datanglah keberuntungan.

“Cinta, tunggu di sini dengan Aunty Maria.” Neta memberitahu Loveta untuk bersama dengan temannya. Dia beralih pada sang teman. “Jaga dia sebentar,” ucap Neta.

“Baik.” Neta mengangguk-anggukan kepalanya.

Neta segera berlalu ke toilet. Di toilet, Neta kembali membasahi rambut dan bajunya. Walaupun rasa lengketnya sudah berkurang, dia tetap membuatnya basah. Sebenarnya hanya sisi kanan saja yang lengket, tetapi dia membasahi juga sebelah kiri. Dari rambut hingga ke badannya.

Saat merasa bajunya sudah cukup basah, akhirnya Neta keluar dari toilet. Dia segera kembali menghampiri temannya serta Loveta.

Maria begitu terkejut ketika melihat Neta yang basah kuyup. Temannya itu sudah seperti orang yang baru saja masuk kolam renang. Yang membuat Maria keheranan adalah baju Neta yang basah di bagian kiri. Dia ingat betul jika baju temannya yang basah adalah sebelah kanan. Jadi tentu saja membuatnya bingung.

“Ayo, kita cari papamu.” Dengan semangat Neta mengajak Loveta. Mengulurkan tangan pada gadis kecil itu.

Loveta hanya mengangguk saja. Dia tidak peduli sama sekali dengan yang dilakukan oleh Neta.

Maria hanya menggeleng heran. Entah apa yang dilakukan oleh Neta. Apa rencana dari temannya itu dengan baju yang basah.

Neta mengajak Loveta ke pusat informasi. Namun, belum sempat dia sampai di sana sudah ada orang yang mengenali Loveta. Tampak pria berjas itu berdiri menatap Loveta. Untuk sejenak Neta terperangah. Pria yang menatapnya itu begitu tampan. Rahang tegas dengan jambang tipis membuat Neta mengagumi pria tampan itu. Ditambah lagi badannya yang begitu kekar, menunjukkan jika dia adalah seorang yang suka berolah raga.

“Papa.” Loveta segera memanggil siapa yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Tangannya yang berpegang pada Neta segera dilepaskannya. Dia segera berlari ke arah sang papa.

Panggilan itu menyadarkan Neta yang melihat pria tampan di depannya. Dia menjadi ragu jika pria itu adalah Dathan Fabrizio-pemilik IZIO. Seingat Neta usia dari pria yang bernama Dathan Fabrizio itu adalah empat puluh tahun. Bayangan Neta adalah seperti manajer keuangan tempatnya bekerja yang botak dan buncit. Namun, pria di depannya itu begitu tampak gagah. Tak tampak pria itu berumur empat puluh tahun.

“Cinta, dari mana saja kamu.” Dathan berjongkok menangkap tubuh sang anak. Dia benar-benar khawatir ketika tadi dia sempat kehilangan sang anak. Dia sudah sempat mengerahkan semua orang-orangnya untuk mencari sang anak. Baru saja dia ingin memberikan pengumuman di pusat informasi, dia melihat sang anak yang berjalan ke arahnya.

“Tadi Lolo kejar balon.” Memang itulah yang menjadi alasan Loveta pergi dari sang papa. Tadi dia datang bersama dengan sang papa. Saat masuk, dia mendapatkan balon. Tanpa diduga balon itu terlepas dan menggelinding. Loveta yang ingin mendapatkannya kembali, segera mengejarnya.

Dathan mengembuskan napasnya. Tak menyangka jika sang anak mengejar balon. Padahal dia bisa membeli balon sebanyak anaknya mau.

“Tadi Lolo jatuh.” Loveta menceritakan pada sang papa kejadian yang menimpanya.

Dathan seketika panik. Dia segera mengecek keadaan sang putri. Memastikan jika sang anak baik-baik saja. “Apa yang luka, Cinta?” Dia melayangkan pertanyaan itu pada Loveta.

“Lolo tidak apa-apa, karena Aunty itu menolong Lolo.” Loveta menunjuk ke arah Neta.

Dathan mengalihkan pandangan pada wanita yang dipanggil ‘aunty’ oleh Loveta. Dilihatnya wanita itu basah kuyup. Tentu saja membuatnya kebingungan. Apa yang terjadi sampai wanita di depannya itu basah.

“Tadi, Aunty menolong Lolo. Karena Aunty bawa minum, terus minumnya tumpah.” Loveta menjelaskan apa yang terjadi.

Dathan kembali mengalihkan pandangan pada Neta. Dilihatnya baju Neta basah. Dahi Dathan berkerut dalam ketika melihat Neta. Baju Neta yang basah membuat bra yang dipakai Neta tercetak. Kebetulan Neta memakai kemeja sifon putih jadi membuat warna merah bra terlihat di sana. Dathan yang melihat hal itu segera berdiri. Dia melepaskan jasnya sambil menghampiri Neta. Dengan sigap Dathan memakaikan jasnya pada Neta.

Neta yang mendapatkan perlakuan manis dari pria itu merasa begitu terkejut. Dia tidak menyangka jika Dathan akan melakukan hal itu.

“Maaf, Pak, tidak perlu.” Neta berusaha untuk melepaskan jas yang diberikan oleh Dathan.

“Pakailah.” Dathan memaksa. Tangannya mencegah tangan Neta untuk melepaskan jasnya.

“Tidak perlu, Pak.” Neta masih nekat menolak.

Dathan mendekatkan wajahnya di telinga Neta. Dia berbicara tepat di telinga Neta. “Apa kamu mau orang melihat bra warna merah yang kamu pakai?” bisiknya.

Seketika Neta membulatkan matanya. Dia langsung menoleh ke arah Dathan. Hal itu membuat mata mereka saling berpandangan. Neta yang menoleh juga membuat jarak antara wajahnya dan wajah Dathan berselang beberapa inci saja.

Dathan yang menyadari jarak wajahnya terlalu dekat, langsung menjauhkan wajahnya. Senyum tipis di sudut bibirnya terlihat penuh ejekan.

Pipi Neta langsung merona ketika tanpa dia sadar wajahnya begitu dekat. Namun, seketika dia merasa kesal saat melihat Dathan yang tampak mengejeknya itu. Dengan segera Neta mengeratkan jas yang dipakai oleh dirinya. Dia ingin menutupi tubuhnya yang terlihat jelas.

Dathan kembali menghampiri sang anak. Mengulurkan tangan pada Loveta. “Ayo kita pulang,” ajaknya pada sang anak.

Loveta segera meraih tangan sang papa.

Dathan menatap asistennya. “Tolong batalkan jadwalku. Aku akan lanjutkan kunjungan toko lain waktu.”

“Baik, Pak.” Asisten Dathan mengangguk.

Datha segera mengayunkan langkah untuk segera pergi. Namun, tepat di depannya Neta, dia berhenti. “Ikutlah dengan kami untuk mengganti bajumu itu.” Dia segera mengayunkan langkahnya. Meninggalkan Neta.

Untuk sejenak Neta mencerna ucapan Dathan. Sampai akhirnya, dia menyadari jika dia sedang mendapatkan kesempatan. Walaupun, dia tidak yakin itu adalah Dathan yang dicarinya atau bukan, dia tetap akan pergi bersama pria itu. Paling tidak, dia sudah berusaha mendekati pria yang punya nama sama dengan pria yang dicarinya.

“Kamu pulang sendiri dulu.” Neta memberitahu Maria.

Maria tahu jelas untuk apa Neta memintanya pulang sendiri. “Apa kamu yakin itu orang yang kamu cari?”

“Benar atau salah urusan belakangan. Yang terpenting namanya sama.” Neta menepuk bahu Maria. Kemudian dia segera mengekor di belakang Dathan dan Loveta.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!