NovelToon NovelToon

MY HANDSOME TARZAN

#1

"Phoenix, aku tak pakai mobilku. Aku akan berangkat bersama temanku nanti," ucap Thea pada adik bungsunya itu.

"Hmm, jangan lupa minta ijin pada mommy," jawab Phoenix yang ada di ruang tengah.

"Ya, aku sudah mengatakannya."

"Jangan membuat ulah lagi, Kak. Aku benar-benar lelah menyembunyikan kebrutalanmu itu dari mommy," ucap Phoenix.

"Tenang saja, daddy tetap mengawasiku, bukan?" sahut Thea sembari memakai sepatu high heelsnya.

"Kau tak jadi bertemu produser film itu?" tanya Phoenix.

"Tidak, aku tak tertarik ke dunia film. Aku lebih suka menulis di balik layar daripada membuat naskah," jawab Thea dan kemudian menuju pintu apartemen.

"Bye, Phoe," pamit Thea sembari membawa kopernya keluar dari apartemen Phoenix.

(Di sini Phoenix ceritanya masih kuliah ya maakk)

*

*

THEA LUNA ROBERT, anak ketiga dari empat bersaudara yang merupakan anak perempuan satu-satunya di keluarga Rey Robert.

Menjadi anak perempuan satu-satunya tak membuatnya dikekang oleh sang daddy dan mommynya.

Rey -- sang ayah -- justru membebaskan Thea untuk memilih passion apapun yang disukainya.

Tak hanya Thea, Rey juga membebaskan semua anak-anaknya melakukan apapun sesuai dengan kegemarannya tanpa mengekangnya sama sekali.

Meskipun begitu, Rey tetap mengawasi semua anak-anaknya dari jauh agar tak keluar jalur.

Thea suka berkeliling dunia sejak usianya remaja. Dulu dia sering ikut bersama unclenya yang hobby berpetualang yaitu uncle Bryce.

Namun setelah beranjak dewasa, Thea bisa melakukan perjalanannya sendirian tanpa ada rasa takut sekalipun.

Memiliki bekal beladiri yang mumpuni, membuatnya bisa menjaga dirinya sendiri dan pengalaman Thea cukup banyak selama berkeliling ke luar negeri.

Dia menguasai beberapa bahasa asing yang membuatnya menjadi seorang penulis dari pengalamannya selama berpergian keluar negeri.

Thea tidak tomboy meskipun sifatnya sedikit bar-bar. Dia suka memakai pakaian bermerk designer terkenal dan siapapun yang melihatnya pasti langsung tahu bahwa dia adalah putri dari keluarga konglomerat dengan sekali melihatnya saja.

Tetapi hal itu tak pernah menjadikan Thea seseorang yang sombong. Dia justru memiliki sikap yang eksentrik dibanding saudara-saudaranya yang lain.

"Thea!!!" panggil seorang wanita dari mobil yang atapnya terbuka.

Thea yang melihat temannya itu langsung melambaikan tangannya dan menarik kopernya menuju ke mobil itu.

"Maaf aku sedikit terlambat. Ibuku membuat drama tadi pagi," ucap Joan -- wanita cantik dengan rambut pendek sebahu.

"Nevermind," jawab Thea tersenyum dan naik ke dalam mobil mercy milik Joan.

"Yuhuuuuu ... Kita akan bersenang-senang," teriak Thea dengan mengangkat tangannya ke atas.

"Yuhuuuuu ..." teriak Joan juga.

Dan mereka pun menuju ke sebuah bar kecil di pinggiran kota London.

Rencananya, Thea dan Joan akan berlibur menyusuri Inggris dengan menggunakan mobil.

Thea dan Joan sebenarnya baru saja berkenalan selama 6 bulan dan itu pun melalui jejaring internet.

Memiliki passion yang sama dan sedikit gila membuat mereka cocok satu sama lain.

Mereka sudah sebulan ini menghabiskan waktunya bersama di London.

"Kau terlau mewah untuk masuk ke bar kecil ini, Thea," ucap Joan sambil menghisap rokoknya yang sudah mulai memendek.

"I love branded fashion, Darl," sahut Thea.

Lalu Thea menggandeng tangan Joan dan mereka masuk ke dalam bar kecil itu.

Suasana bar yang didominasi oleh pengunjung laki-laki itu terlihat tampak ramai.

Suara riuh bariton terdengar memenuhi bar kecil ini. Kedatangan Thea dan Joan tentu saja mengundang semua mata ke arah mereka.

Jarang-jarang ada wanita cantik nan mewah datang ke bar kecil itu.

Joan dan Thea langsung duduk di bangku yang berhadapan langsung dengan bartender.

"Beri kami satu gelas kecil punch," ucap Joan.

"Kita tak mabuk malam ini?" tanya Thea.

"No, kita masuk kandang singa malam ini. Itu berbahaya, Thea," jawab Joan.

Thea tersenyum sembari menikmati lagu country yang diputar di bar itu.

#2

Tampak seorang pria berbadan tegap dan tinggi serta berambut gondrong masuk ke dalam bar.

"Hello, Bos," panggil seseorang pada pria itu.

Pria itu menuju meja bar dan memesan segelas Vodka.

"Kau sedang berjalan-jalan di kota, Jared?" tanya bertender yang sudah mengenalnya itu.

"Hmm, aku baru saja menemui sepupuku," jawab Jared.

Lalu Jared melihat keramaian di tengah bar. Dia tahu bahwa itu pasti perlombaan minum bir yang menjadi ikon bar kecil ini.

"Kau tak ikut?" tanya Trevor -- sang bartender.

"Tak ada yang bisa mengalahkanku. Sama sekali tak menantang," ucap Jared sembari menenggak vodkanya.

"Kau mau bertanding denganku, Tuan?" tanya seorang wanita yang sedari tadi duduk di sebelahnya.

"Thea, apa yang kau lakukan? Kita tak boleh mabuk malam ini. Ingat itu," ucap Joan pada Thea.

Jared menoleh ke arah wanita yang menantangnya. Jared melihat penampilan Thea dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Apa kau salah alamat, Nona kaya?" tanya Jared karena melihat outfit mewah yang di pakai oleh Thea.

"Tidak, aku ingin merakyat sekali-sekali," jawab Thea.

Jared tersenyum di bawah jambangnya yang lumayan lebat itu.

"Pulanglah, kau masuk ke tempat yang salah," kata Jared.

"Kau takut menerima tantanganku?" tanya Thea yang memang suka dengan tantangan.

Melihat pria di depannya yang terlihat tak tertarik padanya, membuat dirinya tertantang untuk menghadapinya.

Jared tertawa pelan dan mata birunya menatap mata biru Thea.

Mereka sama-sama memiliki netra biru, hanya saja mata Thea lebih terang dari Jared.

"Aku sama sekali tak tertarik dengan tantanganmu, Nona," ucap Jared.

"Aku peminum yang kuat. Dan aku siap menghadapimu," kata Thea tak patah arang.

"Bagaimana Trevor? Apakah aku perlu menerima tantangan wanita kaya ini?" tanya Jared pada sang bartender.

"Why not, Jared?" ucapnya.

Lalu Jared menaruh gelas vodkanya yang sudah kosong di meja bar. Dia kemudian berdiri dan melihat Thea ke arah bawah karena perbedaan tinggi tubuh yang lumayan jauh.

"Kau seperti Tarzan," ucap Thea spontan sembari mendongakkan kepalanya melihat wajah Jared yang tak terlalu terlihat karena lampu bar yang temaram.

Jared tertawa pelan. "Kau orang kedua yang menyebutku seperti itu," ucap Jared.

"Ayo kita mulai," kata Jared dan bersiul keras pada pemilik bar yang sedang asyik menjadi juri di dalam permainan itu.

"Hei Jared ... Apa kau mau bergabung malam ini?" tanya Julius dengan berteriak keras.

Lalu Jared mengangkat tangannya dan menunjukkan jempolnya pada Julius.

"Siapa lawanmu?" tanya Julius.

Jared menunjuk ke arah Thea dan membuat pengunjung lainnya bersiul karena melihat wanita cantik yang kali ini akan bertanding.

"Thea ... Bisakah kau normal sehari saja?" ucap Joan yang mengikuti di belakang Thea.

"Enjoy your life, Darl. Kapan lagi kita bisa seperti ini. Lihatlah pria itu. He is so hot," ucap Thea melihat ke arah Jared yang sudah berada di tengah bar dan duduk di kursi yang disediakan.

Lampu menyorot tajam ke arah meja dan otomatis memperlihatkan wajah Jared dengan lebih jelas.

"Kau tampan juga ternyata," ucap Thea yang kini duduk di depan Jared.

Jared hanya tersenyum miring. "Are you ready, Baby?" ucapnya.

"I'm ready, Honey," jawab Thea tersenyum cantik.

Lalu sang wasit yang tak lain adalah pemilik bar itu, menghitung aba-aba tanda dimulainya perlombaan.

"1 ... 2 ... 3 ... Go!!!" teriaknya.

Jared dan Thea pun mulai meminum satu gelas besar bir.

#3

Tiga gelas sudah yang diminum oleh Thea dan Jared.

"Berhentilah, Baby. Kau akan pingsan di sini nanti," ucap Jared yang kini masih terlihat segar dan tak terpengaruh dengan bir itu padahal sebelumnya, Jared baru saja minum vodka.

"Aku masih kuat," ucap Thea sembari memegang perutnya yang sudah penuh dengan bir itu.

"Thea, sudahlah. Ayo kita pergi dari sini," ucap Joan menarik tangan Thea.

"Shut up, Joan. Aku masih sanggup," ucap Thea.

Lalu Jared berdiri dan meninggalkan Thea yang masih duduk di sana.

"Hei, Tarzan!!! Kau menyerah?" tanya Thea dengan suara teriakannya.

Jared duduk kembali di meja bar dan mengambil vodkanya lagi yang sudah terisi kembali kemudian melihat ke arah Thea.

Senyum miringnya tersungging seakan meremehkan Thea.

"Kau kalah, Nona," ucap Julius -- sang wasit.

Thea menoleh pada Julius. "Apa maksudmu? Aku belum terkapar sama sekali," ucap Thea tak terima.

"Baiklah, sekarang berdirilah dan berjalanlah," ucap Julius.

"Pergilah ke arah pria yang kau panggil Tarzan itu," lanjut Julius tersenyum smirk.

Lalu Thea berdiri dan mulai berjalan. Tetapi baru 2 langkah, dia sudah sempoyongan hingga hampir saja membuatnya terjungkal karena dia memakai alas kaki high heels.

Joan memapah tubuh Thea yang hampir terjatuh.

Terdengar riuh tawa dari para pria yang melihat perlombaan tadi.

"Hei, Nona. Kau tak cocok mengikuti lomba ini. Seharusnya kau menari saja untuk kami," teriak salah satu pria di sana.

Lalu Thea menoleh ke arah pria yang menyuruhnya menari itu. Senyumnya mengembang karena dia merasa masalah akan datang.

Ketika orang lain ingin menghindari masalah, berbeda dengan Thea yang justru menyukai masalah.

"Baiklah, kau ingin aku menari?" tanya Thea menantang.

"Thea!!" bentak Joan pelan, yang selalu ketar ketir jika mengikuti kegilaan Thea.

Joan memang bar-bar tapi masih tak seberani Thea yang suka melakukan apapun yang disenanginya apalagi sesuatu yang baru.

"Sssttttt ... Diamlah, Joan," ucap Thea yang kemudian melepas sepatu high heelsnya dan merobek rok spannya sampai separuh paha.

Hal itu membuat para pria di sana bersiul dan bersorak sorai kecuali Jared.

Jared hanya memandanginya dari jauh. Dia mengawasi apa yang akan dilakukan Thea setelah ini.

Thea berjalan ke arah pria yang menyuruhnya menari tadi.

Pria itu menaruh birnya di atas meja dan tangannya sudah akan memegang pinggang Thea dan berniat menciumnya.

Tetapi sebelum itu terjadi, Thea sudah menjambak rambut pria itu dan membenturkan kepalanya ke atas meja.

"Shhiitt!!!" umpat keras pria itu dan Thea mengambil gelas bir kemudian menyiram sisa bir itu ke atas kepala pria itu.

Lalu teman pria itu mencoba memegang tangan Thea, kemudian terdengar suara pecahan kaca yang mengarah ke tangan teman pria itu.

PYAARR ...

Joan memukul pria yang memegang tangan Thea dengan botol bir yang ada di dekatnya.

Lalu keadaan bar semakin tak terkendali. Banyak pria yang mulai maju melawan Thea dan Joan.

"Good girl," ucap Thea tersenyum melihat Joan dan mengambil dua botol bir kèmudian mengarahkannya ke beberapa pria yang ingin melawan mereka.

"Kau gila, Thea!!" kesal Joan.

Joan mengambil kursi dan memukulkannya pada pria-pria itu.

Thea menendang dan memukul mereka dengan gerakan cepat dan tepat sasaran.

"Jareeedd!!!" teriak Julius.

Pria tua itu tak ingin bar-nya hancur berantakan karena ulah Thea dan Joan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!