NovelToon NovelToon

The Conqueror

Episode 1 - Rutinitas

Di pagi hari yang cerah angin sepoi-sepoi membawa kenyamanan dan kedamaian bagi area sekitar. Meski kota ini berada di tengah-tengah pusat komersial di Indonesia. Akan tetapi area pinggirannya dipenuhi dengan ladang sawah padi yang membentang sampai kampung yang ada jauh di sebrang sana.

“Dulu itu kamu diurus sama nenek, sampai-sampai berak ajah di pangkuan nenek. Tapi sekarang kamu malah kayak gini. Kasian nenek tuh ngeliat kamu?”

Tampak seorang nenek tua yang sudah beruban berbicara seorang diri sambil duduk di sofa yang terlihat sudah agak usang.

Aduuuh... dari tadi itu nenek nenek nyerocos mulu gak ada abisnya.

Nenek itu selama ini ternyata sedang berbicara dengan cucunya, Hengki Tantama seorang pecundang yang telah lulus 1 tahun lalu dari SMAnya.

Selama ini, Hengki hidup dengan mengurung diri dikamarnya sejak menginjak kelas 3 SMA setelah dirinya ditinggal pergi oleh Ibunya, orang tua inti satu-satunya  yang telah mengasuh dirinya dari kecil entah pergi kemana.

Saat ini ia hanya sibuk bermain video games terus-menerus tak kenal waktu, sambil mendengarkan neneknya yang dari tadi berbicara.

Ahhh, cupu banget sih nih orang kalau gak bisa main jangan main id**t.

Hengki terlihat kesal dengan apa yang dirinya mainkan. Tampak bar notifikasi muncul menandakan rekan setimnya yang mati. Hal ini membuatnya sangat kesal karena orang itu telah mati sebanyak 8x, sementara rekan yang lain hanya mati paling banyak 4x.

TAK! TAK! TAK!

‘WOY! keluar ajah kau, maen juga gak berguna ban**at’

Dengan muka yang sangat kesal, ia mengetik kata-kata tidak pantas dalam kolom komentar untuk membuat rekannya yang dari tadi mati agar tidak usah lanjut bermain lagi.

LOSE!

Sambil memegangi kening, hengki lalu menghela nafas untuk meredakan emosinya yang dari tadi meluap-luap.

Bukannya ngilangin stress, malah bikin tambah stress game apaan sih?

“Dulu itu kamu baik sama orang. Pinter juga di sekolah. Tetangga-tetangga juga pada muji kalau liat kamu. Kenapa kamu malah jadi gini sekarang?”

Sambil beranjak keluar, suara dari neneknya terdengar kembali oleh Hengki.

Mau sampai kapan sih ngomong gitu terus? Gak cape apa.

Hengki kemudian membuka lemari kulkas dan mengecek makanan apa yang bisa ia makan sekarang.

Setelah lama mengorek-ngorek seluruh isi kulkas, yang ada hanyalah bahan-bahan makanan yang belum diolah.

ia pun menutup kembali kulkas tersebut. Hengki sangat malas jika harus memasak terlebih dahulu sebelum makan. Padahal di keluarga ini ialah yang paling pandai dalam memasak.

Setelah menutup kembali kulkas dengan rapat. Dirinya menengok ke arah jam dinding diatas, waktu menandakan pukul 1 siang.

Kayaknya hari ini tidur habis maghrib deh. Baguslah nambah satu jam dari hari kemarin

karena aktivitasnya yang monoton membuat Hengki tidak memiliki waktu tidur yang pasti, ia bisa saja tidur jauh lebih awal di sore hari atau tidur jauh lebih akhir di pagi hari.

"Kamu tuh ganteng tinggi pula. Bisa jadi polisi. Kemarin ajah anaknya Bu Dian gak lolos gara-gara kurang tinggi."

Bodo amat lah, kenal juga engga.

Hengki kembali ke habitatnya lagi, yaitu kamar tempat ia mengurung diri dan memulai kembali bermain video game. Namun kali ini ia bermain sebuah game dimana dirinya harus membangun suatu kerajaan dan mengelolanya agar tidak hancur diserang musuh.

Nah, kalau gamenya kayak gini kan gampang. Pilih jenis kerajaan yang paling cupu juga bisa menang

Meskipun selalu marah-marah ketika bermain game bergenre MOBA dan FPS. Namun Hengki sangat mahir dalam memainkan games bertema membangun kerajaan. Bahkan ia bisa saja menggunakan kerajaan paling lemah namun tetap membantai kerajaan-kerajaan lainnya.

ACHIEVEMENT!!!

SELAMAT ANDA TELAH MENGHENTIKAN INVASI MONGOL 5X BERTURUT-TURUT TANPA KEKALAHAN.

Setelah kurang lebih 5 jam bermain tanpa henti. Hengki pun berhasil memenangkan permainannya, bahkan kali ini iya mendapatkan Achievement karena telah menang berturut-turut.

Hehehehe... Gini doang gamenya padahal main di Iron Mode loh. Lama kelamaan gamenya jadi mudah. Padahal ini game bener-bener realistis dalam hal manajemen.

Mood Hengki telah berubah menjadi sedikit gembira setelah memenangkan gamenya.

Kruk!! Kruk!! Kruk!!

Aduh..., lapar juga gak makan dari pagi.

Bunyi yang keluar dari perutnya sangatlah kencang, wajar saja ia sudah tidak makan dari pagi hari. Apalagi pagi hari yang dimaksud disini adalah jam 3 pagi.

Sambil memegangi perutnya, ia bergegas keluar kamar untuk mengecek kembali isi kulkas.

Kali ini, suara dari neneknya tidak terdengar lagi karena sedang mengikuti kegiataan ibu-ibu yang dilakukan secara rutin di sore hari.

Huh, Bener-bener gak ada yang bisa dimakan....

...Apa masak aja kali yah?

ia kemudian mengambil berbagai macam bahan-bahan masakan. Jika dilihat dari apa yang dirinya ambil Hengki berniat untuk memasak rendang.

"Hmm. Mumpung nenek nenek itu perginya bakal lama, masak rendang aja lah"

Setelah mengumpulkan kebutuhan yang diperlukan, ia lantas pergi ke dapur untuk siap-siap memasak.

Cklek.. Cklek.. Cklek..

Huh....

Dengan tatapan lesu dan hilang harapan Hengki menghela nafas panjangnya. Karena ketika berusaha menyalakan kompor ternyata gasnya telah habis tak tersisa.

"Apa masak yang berkuah-kuah saja kali yah?"

Setelah jeda beberapa detik untuk meratapi nasib, ia kembali bergegas ke kulkas dan menaruh kembali bahan-bahan yang tadi dia ambil.

Kali ini ia sibuk mencari bahan makanan yang bisa dimasak dengan bermodalkan air.

Namun-.

Ehh... Bukannya yang habis itu gasnya ya, bukan minyak goreng?

Seketika moodnya yang mulai ceria sehabis bermain game, sirna karena apa yang dilakukannya benar-benar bodoh. Mungkin ini disebabkan karena lapar yang melandanya cukup parah.

"Bodo amat lah. Sekarang mending tidur, nanti juga laparnya hilang"

Episode 2 - Mimpi Yang Membingungkan

Hengki memejamkan matanya yang telah mengantuk, merapikan tempat tidur dari debu untuk membuatnya lebih nyaman. Diapun lantas terlelap sambil memegangi perutnya yang masih lapar.

Setelah beberapa menit. Di dalam kegelapan dirinya sadar bahwa ia masih belum tertidur. Akan tetapi entah mengapa Hengki tidak bisa membuka matanya. Kesunyian di rumahnya tiba-tiba mulai berubah menjadi hawa yang berbeda. Angin terasa jelas membuat tubuhnya cukup kedinginan, rasanya seperti ada angin kencang berhembus disekitar badannya. Akan tetapi biasanya angin kencang selalu terjadi ketika hujan tiba namun kali ini entah mengapa suasana terasa sangat asing baginya.

Beberapa saat kemudian. Hengki mulai bisa mengontrol kembali tubuhnya, saat ini ia merasa bahwa matanya sudah bisa dibuka.

TWEET!! TWEET!! TWEET!!

Suara dari beberapa burung tiba-tiba terdengar jelas di atas kepala Hengki.

Setelah membuka mata ia melihat jenis burung yang selama ini tidak pernah ia temukan dimanapun.

Dimana ini?

Setelah membuka matanya ia lantas merasa kebingungan dengan situasi yang ada. Sambil mencoba berdiri dari tidurnya, Hengki berusaha untuk melihat area sekitar.

Saat ini dirinya tertidur diatas bukit kecil. Setelah ia berdiri dan melihat dimana ia berada, dia menatap jalan setapak khas pedesaan yang belum diaspal dan banyak pepohonan tinggi yang biasa Hengki lihat di film-film khas barat.

"Apa ini hanya mimpi?" tanyanya mencoba untuk menebak apa yang sedang terjadi.

Ia melihat langit yang seharusnya sedang sore namun entah mengapa warnanya berbeda dari senja yang biasanya berwarna kuning kemerahaan.

KRUK!! KRUK!! KRUK!!

Bunyi suara perut yang masih saja belum hilang.

"Brengsek, bahkan di dalam mimpi pun rasa lapar ini belum juga hilang."

Hengki kemudian memegangi perutnya. Kali ini ia merasa betul-betul kesakitan akibat belum makan seharian penuh.

"Apa pohon itu berbuah?" Dengan tatapan penuh lesu ia melihat ke arah pohon. Berharap jika pohon itu memiliki buah yang bisa dirinya makan. Namun apa daya pohon itu jelas tidak berbuah sama sekali.

"Sekarang aku harus berbuat apa?" tanya Hengki sambil menutup matanya dengan tangan kiri dan memegangi perut dengan tangan satunya lagi.

KTUPLAK!! KTUPLAK!!

Dari kejauhan di jalan setapak tampak kereta kuda yang sedang mengangkut rombongan orang, maju dengan perlahan.

"Sedang apa bocah itu di pagi buta seperti ini?" tanya seorang pria kekar dengan sebilah tombaknya yang juga besar sambil menengok ke arah Hengki.

Ya tuhan lapar sekali ...

Ucap Hengki sambil merintih kesakitan.

"Woy bocah! Kalau mau mati setidaknya jangan di dekat jalan seperti ini!"  teriak pria itu sambil turun dari kereta kudanya.

"Ada berisik apa di depan, Bu?"

Sementara dari dalam kereta. Tampak perempuan kecil tiba-tiba terbangun dari tidurnya akibat suara gertakan dari luar. Dia lalu bertanya kepada orang-orang yang berada di dalam sambil menggosok matanya dengan tangan.

"Eh ... apa suara tadi membangunkanmu nona?"

Seorang perempuan yang berada di depannya lalu bertanya dengan nada pelan namun tampak panik. Ia terlihat sangat menghormati gadis kecil itu.

___________

"Hei, kamu kenapa terbaring sendiri disini?" tanyanya saat sudah dekat dengan Hengki.

Sementara mendengar dirinya dipanggil. Hengki pun sontak mengangkatkan badannya.

Setelah melihat wajah Hengki, pria kekar tadi merasa sangat keheranan. Bagaimana tidak, perawakan yang dimiliki Hengki membuatnya bingung.

Aku yakin kalau bocah ini tidak sedang dalam kondisi mengenaskan. Tapi mengapa perawakannya benar-benar asing bagi orang Socotre pada umumnya? Dan juga kulitnya tidak terlalu hitam seperti orang Kane-

GRAB!!

Setelah berdiri dari tidurnya, Hengki tanpa pikir panjang langsung mencengkram kerah baju pria tersebut.

"Bagus, kamu pasti datang dari khayalanku kan. Sekarang dimana makanannya?"

Ketika sedang mencerna apa yang sedang terjadi pada orang di depannya, pria kekar ini sontak kaget karena tiba-tiba Hengki mencengkram kerah lehernya dan berbicara mengenai makanan.

Apa bocah ini bandit? pikirnya.

"Apa kamu tidak belajar sopan santun, Nak? Atau perlu kuajari bagaimana caranya bersikap kepada orang yang lebih tua dari mu!?" Bentaknya sambil berekspresi marah.

SYUT!!

Mendengar gertakan dari pria kekar itu tidaklah membuat Hengki gentar karena dia menganggap ini semua hanyalah mimpi belaka, jadi dia pikir orang ini hanya sekedar bertugas untuk mengantar makanan

"Aku tidak butuh dialog tambahan darimu. Skip saja langsung mana makanannya?" Dia kemudian melirik ke arah kereta kuda, dan berpikir mungkin makanannya ada disana.

Pasti ada disana Pikir hengki.

"hehehe... bagus, Bagus. Tugasmu sudah beres menghilang saja sana," ucap Hengki.

Dirinya lantas bergegas pergi menuju kereta tersebut.

GRAB!!

"Kau benar-benar perlu dihajar sepertinya!" Pria ini benar-benar marah besar kepada Hengki sekarang. Tangannya yang berotot bahkan sampai keluar uratnya itu sekarang menempel di bahunya Hengki.

*Apa-apaan sih nih kurir makanan? *

Orang pada umumnya mungkin akan ketakutan jika diperlakukan seperti ini, bahkan Hengki pun harusnya merasa takut. Namun karena alam bawah sadarnya tetap menganggap bahwa ini hanyalah mimpi membuat rasa takut itu sirna.

Hampir saja lengan si pria mencekik leher Hengki untuk menguncinya. Tiba-tiba tirai kain yang menutupi jendela kereta kuda itu terbuka. Tampak seorang gadis kecil melihat ke arah mereka berdua yang sedang terlibat cekcok.

"Nona Spanner! Apa nona merasa terganggu dengan orang ini? Maafkan saya, kalau begitu saya akan menyelesaikan urusan saya dengan pria malang ini dengan cepat."

Pria itu langsung melepaskan Hengki, lalu mendekati Nona yang dipanggil Spanner tadi sambil sedikit membungkuk.

"Tidak perlu minta maaf, Tuan Bobs. Lagi pula aku sudah tidur cukup lama, kok."

Sambil tersenyum manis. Gadis itu berusaha untuk menenangkan pria yang ternyata bernama Bobs ini agar tidak perlu merasa bersalah.

"Skip! Skip! Skip!" Dengan nada kesal Hengki menghentikan momen itu. Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah dimana makanan yang ia inginkan berada.

"Aduh... dialog kalian ini terlalu kebanyakan. Apa gara-gara aku sering nonton anime, ya? khayalan alam bawah sadarku jadi membuatnya menjadi ribet begini."

Sambil menggaruk-garuk kepala, Hengki merasa kesal karena lagi dan lagi makanan yang dirinya inginkan tak kunjung muncul juga.

"Nak, sebagai orang dewasa kesabaranku juga sama ada batasnya. Jangan menyesal karena telah berlaku tidak sopan seperti ini, anggap saja ini hanyalah sebuah pelajaran untuk mendewasakan dirimu." ucap Bobs dengan nada ringan namun terdengar sangat tegas.

"Bobs. Sudah biarkan saja, jangan melakukan kekerasan di depan mata Nona Spanner. Lagi pula yang anak muda itu inginkan hanyalah sebuah makanan bukan? aku akan berikan roti milikku saja kepadanya."

Di samping Nona itu tiba-tiba ada seorang kakek tua yang berbicara kepada Bobs agar menghentikan pertikaian ini. Sekali melihatnya saja tampak jelas kalau kakek ini sangat memiliki wibaya yang tinggi. Dilihat dari penampilan dan gesturnya mungkin kakek ini memiliki posisi yang cukup tinggi.

ternyata si kurir makanannya adalah kakek tua ini. Kenapa dia tidak muncul dari awal sih?

Episode 3 - Setelah Sekian Lama

Beberapa menit setelah Hengki memaksa untuk diberikan makan kepada orang-orang yang sedang dalam perjalanan, tampak Bobs sedang mengendalikan kudanya di samping kusir lain sambil menundukan kepala.

Sudah 3 Mil jauhnya semenjak bocah tadi meminta makan..., pikir Bobs.

... Tapi kenapa dia malah ikut jadi penumpang sekarang?! 

Dengan muka yang kesal Bobs menoleh tipis ke arah belakang. Ia menatap ke orang yang sedang duduk di paling pojok kiri, dimana orang itu dengan santainya mengunyah makanan, sosoknya tak lain adalah Hengki.

( Dibawah adalah gambaran dari keretanya, dimana Bobs dan seorang pria lain mengendalikan kuda. Lalu di dalamnya terdapat 5 penumpang yang di antaranya Hengki, Nona Spanner, seorang tante dan wanita paruh baya yang duduk saliing berhadapan, Sementara satunya lagi adalah kakek tua yang duduk di paling depan.)

"Bobs! Kau ini Ksatria. Tidak baik mengekspresikan kemarahanmu ini secara terang-terangan, apalagi kepada anak muda yang sama sekali tidak bersenjata."

Kakek yang tepat berada di belakangnya ternyata memperhatikan gestur tubuh dari Bobs, dia melihat dengan jelas Bobs sedang kesal kepada anak muda yang telah tidak sopan kepadanya.

"Maafkan saya Tuan Roderick. Saya heran mengapa anda membiarkan anak itu duduk dekat dengan Nona Spanner? Meskipun tidak bersenjata, tetapi dia tampak begitu mencurigakan," jawab Bobs.

Dengan sedikit menunduk dan menempelkan telapak tangan kanannya ke dada, Bobs tampak sangat menghormati pria bernama Roderick itu.

"Ahh! Maafkan saya jika pertanyaan saya terkesan kurang ajar. Saya hanya mengkhawatirkan Nona Spanner, Tuan."

Menganggap pertanyaannya terkesan meremehkan keputusan yang diambil Roderick untuk membiarkan Hengki duduk di kursi penumpang. Bobs pun langsung meminta maaf dengan menundukan kepalanya lebih kebawah.

Mendengar perbincangan antara sang Ksatria Bobs dan Kakek Roderick. Hengki menghentikan santapannya setelah menelan apa yang dia kunyah. Sekarang mata antara Bobs dan hengki pun bertemu.

Mau apa bocah ini?

Tatapan mata yang diberikan Hengki tak kunjung selesai. Hal ini membuat Bobs merasa risih dengan gelagatnya.

Tch. Ngomongin apa sih itu orang?

Hengki kemudian membuang mukanya. Ia langsung melahap sisa roti di tangannya dengan sekali suap.

Bajingan...!!

Setelah melihat Hengki yang langsung membuang muka setelah adu tatap dengannya. Membuat Bobs benar-benar kesal karena merasa terhina sekarang. Ia menggerutu dalam hatinya sambil menggigit bibir bagian bawah dengan sangat kencang. Ia ingin meluapkan seluruh emosi yang dari tadi tersimpan, namun tertahan karena kehadiran orang-orang yang ia hormati.

"Apa yang ada di keranjang kamu, Anak Kecil?" tanya Hengki.

Dia melihat ke arah anak kecil di samping tante-tante yang berada di depannya.

"Umm... di dalamnya hanya ada buah-buahan."

Dengan tatapan polos Spanner menjawab apa yang ditanyakan oleh Hengki, sambil memegang keranjangnya lebih erat.

Melihat perbincangan Hengki yang sekarang menanyai keranjang yang di bawa oleh Nona Spanner, membuat tante-tante yang berada di depannya mulai risih kepada Hengki.

"Jadi itu cuci mulut buatku yah?"

Tanpa rasa bersalah Hengki mengatakan jika buah itu ada untuk dirinya.

"Hei Nak, kamu tidak boleh meminta buah ini dari Nona Spanner. Ini adalah buah untuk ibunya yang sedang sakit di Kastil."

Dengan baik-baik. Tante yang ada di depannya mengingatkan Hengki untuk tidak meminta hal lebih.

"Lah! Bukannya buah itu ada untukku?" tanya Hengki.

Dia benar-benar masih saja menyangka ini semua adalah mimpi, dan semua yang terjadi ada karena berasal dari khayalannya.

"Kamu ini tidak bau alkohol tetapi kelakuan seperti orang yang sedang mabuk."

Dengan wajah sedikit kesal, tante ini membalas lagi ucapan Hengki. Ia merasa heran dengan kelakuannya yang seperti orang dalam keadaan mabuk.

"Kalau begitu kasih saja aku satu."

Hengki berkata sambil mengulurkan tangan kanannya.

"Aku bilang jangan, ya jangan. Apa kamu tidak punya telinga?!" bentak tante itu, sambil mencengkram tangan Hengki dengan

"Aku padahal mintanya dengan baik-baik. Kenapa kamu malah membuatnya sulit sih?!"

Hengki tidak terima tangannya di pegang dengan sangat kasar seperti ini. Ia lalu membentak balik orang yang berada di depannya.

Mendengar kerusuhan yang terjadi di belakang. Bobs memberi kode ke orang di sebelahnya untuk berhenti sejenak.

Ia lalu turun dari kudanya, dan dengan tergesa-gesa berjalan ke arah belakang kereta.

GRAB!!

BRUKKK!!

Tanpa segan Bobs menarik leher kaos milik Hengki, ia kemudian melemparnya dengan kencang ke luar kereta. Beruntung respon Hengki sangat cepat, ketika sadar kaosnya ditarik oleh orang, dia dengan sigap membalikan badannya ke arah kanan yang membuatnya tidak terjatuh dengan cukup kencang.

"Ugh... apa sih yang kau lakukan?"

Dengan sedikit merasa kesakitan, Hengki lalu bertanya ke Bobs ada masalah apa dengan dirinya.

Dalam kondisi masih duduk sambil membersihkan telapak tangannya akibat terbanting tadi. Bobs menghampiri Hengki, badannya yang cukup besar mampu membuat Hengki tak bisa melihat apa yang ada di balik tubuh Bobs.

"Bobs! Kendalikan emosimu!" bentak Roderick. Ia mengingatkan Bobs agar tetap tenang dan tidak terbawa emosi.

"Maaf tuanku. Saya akan mengambil pedang supaya anak ini bisa bertarung dengan adil. Kelakuan dia benar-benar sudah di luar batas sekarang." Bobs berbalik badan. Dia lalu jalan ke arah kereta dan membuka peti penyimpanan yang berukuran cukup besar.

Dari dalam peti itu terdapat sebilah pedang bermata dua dan banyak perhiasan serta koin perak dan juga emas.

Roderick mencoba menghampiri Bobs. Dia lantas memegangi pundaknya lalu berkata. "Apa kamu berpikir dia ahli menggunakan pedang."

Dia berusaha untuk mendinginkan Bobs. Roderick menatap ke arah Hengki, kode kepada Bobs bahwa dirinya harus sadar jika perawakan yang dimiliki Hengki mencerminkan seseorang yang bahkan amatir dalam pertempuran.

Sialan! kenapa orang seperti dia bisa membuatku emosi seperti ini?

Setelah melihat kondisi Hengki yang sedang duduk membersihkan sekujur badannya. Bobs tersadar jika mau bagaimanapun anak itu bukanlah lawan yang sepadan dengan Bobs.

"Sudah. Sekarang kita biarkan saja dia disini," ucap Roderick sambil melepaskan tangannya dari pundak Bobs, lalu iapun berjalan kembali ke tempat duduknya.

Hal ini membuat Bobs sedikit merasa tenang.

"Woy anak muda! jika kita bertemu lagi. Aku pastikan bakal memberimu pelajaran agar kamu bisa bersikap lebih sopan."

Bobs pun kembali ke kudanya.

Sekarang Hengki hanya seorang diri di tengah hutan, Kereta yang ditumpanginya perlahan menghilang dari jarak pandangnya.

Dari kejauhan Hengki melihat sepintas terdapat satu pohon yang sepertinya mirip sekali dengan pohon apel.

Hengki kemudian merogoh saku untuk mengambil smartphone miliknya. Dia langsung membuka kamera dan mengarahkannya ke arah pohon tadi.

Ternyata sesuai dengan apa yang dia duga. Setelah Hengki memperbesar kamera dia melihat banyak sekali buah apel yang sudah matang di pohon tersebut.

Sip, walaupun pohonnya agak jauh, tapi buahnya sangat banyak. Ia lantas bergegas ke arah pohon tersebut.

Namun, sesuatu tiba-tiba muncul di layar smartphone miliknya. Hengki keheranan karena dia menangkap 3 sosok bertopeng sedang mengendap-endap ke arah kereta yang tadi ia tumpangi dengan kameranya.

3 Sosok itu terlihat jelas sedang dalam mode siaga. Kedua tangannya memegang sepasang belati yang tampak siap untuk digunakan.

Apa yang sedang mereka lakukan? Pikir Hengki Tantama.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!