NovelToon NovelToon

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

Bab 01 : Malam pertama dengan tuan muda kejam

"Pernikahan ini hanya paksaan,jangan pernah mengharapkan apapun dariku!"

Gerald semakin mencengkram kuat dagu wanita yang kini berada dalam kekungannya. Terlihat gadis itu meringis kesakitan, tapi tatapan tajam mengarah untuknya.

"Lepaskan brengs*k!" Isvara menghempaskan tangan Gerald dengan susah payah.

Mata Isvara menatap nyalang pada pria yang kini menyandang gelar sebagai suaminya.

"Kau pikir apa? Aku akan mengemis cintamu seperti di drama-drama? Tidak akan pernah!" Isvara berkata sinis penuh penekanan.

Kamar pengantin yang di penuhi oleh kelopak bunga ini menjadi saksi betapa dua insani itu sangat membenci satu sama lain.

"Kalau bukan karna ayahku, aku tidak akan pernah sudi menikah dengan pria brengs*k, arogan dan egois seperti dirimu!"

"Cih, congkak sekali bicaramu. Jika bukan karna diriku, ayahmu kini sudah pasti membusuk di penjara!"

Bruk! Gerald tiba-tiba mendorong tubuh Isvara hingga tubuh gadis itu menubruk tembok.

"A-apa yang kau lakukan!" Isvara mendadak panik, kakinya terpaksa mundur ketika Gerald semakin mendekatkan tubuhnya.

"Malam ini adalah malam pertama kita, apalagi yang akan ku lakukan?" Gerald menyeringai.

"Jangan macam-macam, kau sendiri yang bilang pernikahan kita hanya terpaksa," ucap Isvara mendadak ciut.

"Benar, tapi bukankah sangat sayang,jika aku tidak menikmati tubuhmu. Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk membebaskan ayahmu. Bukankah kau juga harus membalas budi?"

Kini tak ada lagi jarak diantara mereka, Gerald benar-benar menghimpit tubuhnya. Bahkan kini bisa Isvara rasakan deru nafas Gerald yang terasa panas.

"A-apa yang kau lakukan, minggir," deburan detak jantung Isvara semakin menggila.

"Tentu saja aku mengambil hak ku." Bisik pria itu di telinganya.

Gerald mencengkram dan menekan kuat pinggang Isvara Membuat gadis itu meringis.

Tangan Gerald beralih ke punggungnya, menurunkan setengah resleting gaun pengantin yang ia kenakan, hingga kini dada mulusnya terbuka setengah.

Jemari Gerald mengusap bibir mungil berwarna pink alami itu, membuat tubuh Isvara gemetar dalam takut.

Tak tinggal diam, tangan Gerald bergerak nakal mengusap seluruh permukaan kulitnya,lalu mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Isvara.

"G-gerald,apa yang kamu lakukan," Isvara tak menyadari jika ia sudah mencengkeram lengan kokoh Gerald.

"Tenanglah baby, ini hanya akan sakit sedikit," bisik Gerald di telinganya.

"Lelaki brengs*k, lepaskan aku, Aaah ... " Rintihan Isvara lolos begitu saja,tak kalah Gerald menyesap kuat kulit lehernya.

Gerald tiba-tiba menarik diri, Isvara terkejut.

"Wanita rendahan," Gerald tersenyum miring.

Lalu tanpa aba-aba lagi, pria itu mengambil alih tubuh Isvara ke dalam gendongannya. Isvara tentu tak tinggal diam,dia memberontak dengan memukul-mukul dada bidang pria itu.

Brukk! Tubuh Isvara sudah terlentang di atas kasur.

"Layani aku, kita lihat seberapa lihainya dirimu," ucap Gerald.

"Tidak, aku tidak mau!"

Namun teriakan Isvara sia-sia karna mulutnya sudah di bungkam oleh bibir pria itu.

***

Isvara terbangun saat sinar mentari menembus kaca jendela hingga menyilaukannya.

Mata indahnya mengerjap beberapa kali demi menyesuaikan cahaya yang masuk.

Terbelakak kaget, Isvara seketika menyadari apa yang terjadi semalam. Di rabanya seluruh tubuh, aman, pakaiannya masih terpasang sempurna.

Ternyata malam tadi Gerald tidak benar-benar melakukan aksinya. Pria itu hanya menggertaknya saja.

Isvara mengedarkan pandangan, tak ada lelaki itu di sini. Akhirnya ia bisa menghela nafas lega.

Isvara menatap pantulan dirinya di cermin kaca besar lemari, perlahan kristal bening itu luruh dari pelupuk matanya yang indah.

Tak pernah terbayangkan dirinya akan menjalani situasi yang sangat ia benci,yaitu melakukan pernikahan yang sama sekali tak ia inginkan.

Isvara kiraniadi,nama lengkap gadis itu,23 tahun, terkenal periang dan penyayang oleh orang di sekitarnya.

Hidup sederhana walaupun hanya dengan ayahnya Membuat hidup Isvara selalu di liputi kebahagiaan.

Sampai suatu musibah tiba-tiba menghampirinya.

MV group,tempat di mana ayahnya bekerja adalah perusahaan milik keluarga Gerald.

Hingga suatu hari ia harus menelan pil pahit saat tahu ayahnya tersandung kasus korupsi di perusahaan tempatnya bekerja itu.

Isvara sampai harus merelakan mimpinya dan keluar dari kampus karna kasus yang menimpa sang ayah.

Isvara tentu tak tinggal diam, ia yakin bahwa ayahnya tak mungkin melakukan hal sekotor itu, namun tak ada bukti yang dapat ia berikan, sementara sang ayah menderita di penjara.

Putus asa, Isvara akhirnya memohon pada pihak perusahaan, lalu sampai pada di titik ia bertemu dengan Presdir MV group yaitu tuan Aryaloka, sekaligus ayah dari Gerald.

"Menikahlah dengan putraku, maka aku akan ku cabut tuntutan atas Ayahmu," ucap tuan Aryaloka saat itu sungguh sangat mengagetkan Isvara.

"A-apa menikah? Tapi tuan--" ucapan Isvara terhenti tak kala tuan Aryaloka memotong ucapannya.

"Kau tahu seberapa besar kerugian yang harus di tanggung perusahaanku atas ulah Pak Adi?"

"Kau tidak punya pilihan lain jika ingin ayahmu bebas,nak,"ujar pria setengah abad itu.

Isvara diam mematung, yang dikatakan tuan Aryaloka memang benar ia tak bisa melakukan apapun. Tapi semua ini sungguh sangat mendadak untuknya.

"Tapi kenapa tuan dengan semudah itu meminta saya menikah dengan anak anda?"

Tuan Aryaloka tersenyum. "Karna aku tahu kau adalah gadis yang tepat untuk putraku."

Alasan yang menurut Isvara tak masuk akal dan klise, Namun begitulah hingga akhirnya semuanya mengalir begitu saja, pernikahan karna paksaan ini mau tak mau harus ia lakukan.

Awal bertemu dengan Gerald, Isvara merasa pria itu adalah lelaki yang baik dan sopan, namun ternyata penilaiannya salah.

Gerald tak lebih dari seorang Monster yang akan melahapnya kapan saja, sikap baik dan lembutnya hanya di tunjukkan saat mereka berhadapan dengan khalayak ramai.

Dan baru-baru ini Isvara mengetahui satu fakta yang cukup mengejutkannya, Gerald sebenarnya sudah memiliki kekasih yang akan ia nikahi.

Namun tuan Aryaloka menentangnya, dengan alasan kekasih Gerald tak mungkin menjadi bagian dari keluarga mereka, karna pergaulan dan gaya hidup yang bertolak belakang dan menurutnya buruk.

Hingga itulah yang menjadi alasan kenapa Gerald sangat membencinya, pria itu beralasan karna dirinya lah Gerald tak bisa menikahi kekasihnya, karna Isvara lah membuat kekasihnya menangis di hari pernikahan terpaksa mereka.

Drrrt!

Isvara menoleh mendengar suara telpon berbunyi,ia bangkit dengan susah payah.

"Halo?" Isvara memulai percakapan.

"Vara,ini ayah nak." Suara di seberang telepon menyahut.

Isvara tertegun. "Ayah, halo ini aku." Isvara tak bisa menyembunyikan raut bahagianya mendengar suara lelaki yang sangat ia rindukan ini.

"Bagaimana kabarmu anakku?"

"Vara baik yah, ayah tak usah khawatir," suara Isvara bergetar menahan tangis.

Selama satu bulan belakangan ini Isvara tak bisa menghubungi sang ayah,ia bersyukur ayahnya baik-baik saja.

"Syukurlah, maafkan ayah nak, gara-gara ayah kamu harus menderita."

Isvara menggeleng, "tidak, semua ini memang sudah jalannya. Vara senang ayah baik-baik saja," ucap Isvara dengan suara tercekat.

Mungkinkah ayahnya sudah tahu jika ia harus terpaksa menikah dengan Gerald demi menyelamatkannya?

"Iyah sekarang ayah berada di rumah pamanmu, kapan Vara menemui ayah,ayah rindu."

Isvara tak bisa membendung air matanya lagi, gadis itu menangis tanpa suara.

"Ayah tenang saja kita akan secepatnya bertemu. Untuk sekarang tetaplah di rumah paman agar aman."

Hening. tak ada jawaban dari lelaki kebanggaannya itu.

"Nak apa kamu menangis? kenapa suaramu serak?" suara ayahnya di seberang sana terdengar khawatir.

"Tidak,aku hanya senang bisa berbicara dengan ayah lagi." sekuat tenaga Isvara menahan isakannya.

"Baiklah,aku tutup dulu ya,nanti kita bicara lagi."

Tut! sambungan tertutup bersamaan dengan riuh Isak tangis Isvara.

Gadis itu memukul dadanya pelan dengan satu tangan yang berpegangan pada atas nakas.

Isakannya begitu menyayat hati, kerinduannya pada sang ayah sungguh sangat besar.

"Ayah,Vara rindu ayah."

Tanpa Isvara sadari ada sosok pria yang mendengar semua percakapannya dengan sang Ayah.

Pria itu menyandarkan tubuhnya pada daun pintu mengamati Isvara yang kini sedang menangis pilu.

Dia adalah Gerald.

Bab 02 : Ketika rasa benci itu datang

Suara rintihan Isvara terdengar menggema di kamar ini,namun itu tak membuat Gerald kembali pada sisi manusianya.

Gerald semakin kejam menyiksa Isvara, rasa bencinya pada gadis ini melebihi apapun yang ada di dunia.

Harusnya malam ini adalah malam pertama mereka sebagai pasangan suami-istri, namun Gerald tidak akan Sudi menyentuh gadis yang sudah membuat hidupnya menderita seperti sekarang.

"Layani aku,kita lihat seberapa lihainya dirimu!" Ancam Gerald.

"Tidak, aku tidak mau!"

Sebelum Isvara kembali bersuara, Gerald sudah lebih dulu menutup bibir gadis itu dengan bibirnya.

Rasa hangat tiba-tiba menjalar, manis dan juga memabukkan, seketika Gerald lupa diri.

Di sesapnya bibir mungil nan ranum itu, menjelajahi lebih dalam rasa manis yang ia rasakan. Tak peduli dengan Isvara yang terus menolak dan memberontak.

Beberapa saat Gerald tersadar lalu bangkit ketika tak ada pergerakan dari Isvara. Rupanya gadis itu pingsan.

"F*ck!" Gerald mengalihkan pandangan. meskipun ia setia pada sang kekasih,tak bisa di pungkiri ia tetaplah seorang lelaki, tubuh Isvara sungguh sangat menggoda untuknya.

Gerald turun dari ranjang membiarkan Isvara yang kini tak sadarkan diri di atas kasur.

Gerald berdiri di balkon hotel dengan sebatang rokok di tangannya. Pikirannya berkelana saat ia terpaksa untuk menerima pernikahan yang sama sekali tak ia inginkan.

"Aku tidak mau menikahi wanita itu!" Berontak Gerald pada sang papah waktu itu.

"Kau berani menentang papah?" Tuan Aryaloka bersikap tenang pada sifat trempramen putranya.

"Yah. Padahal papah sudah tahu aku akan menikah dengan Laura bulan depan, kenapa malah memintaku untuk menikahi wanita lain?"

"Laura tidak baik untukmu, dia wanita kotor!"

"Pah, jangan pernah menyebutnya seperti itu!" Gerald tak terima papahnya menghina sang kekasih.

"Memangnya sebutan apa lagi yang layak untuk pacarmu itu? Mabuk-mabukkan, berjudi bahkan memakai narkoba, masa depan mu akan hancur jika bersamanya."

Yang dikatakan Ayahnya memang benar, Laura bukanlah dari kalangan wanita baik-baik, namun Gerald yakin suatu saat kebiasaan buruk kekasihnya itu pasti akan hilang.

"Lantas apakah papah sudah yakin wanita pilihan papah itu adalah wanita baik-baik?"

"Papah yakin dengan pilihan papah untukmu."

Rahang Gerald mengeras dengan amarah yang siap keluar.

"Berhenti mencampuri urusan pribadiku pah, aku bukan Mahesa si anak kesayanganmu yang menerima lapang dada semua perlakuan kejammu!"

"Gerald!" Suara tuan Aryaloka meninggi.

"Jaga ucapanmu!"

Gerald mendengkus. " Memang begitu kan kenyataannya."

"Keputusannya aku tidak pernah menikahi wanita pilihanmu itu, dan akan tetap melanjutkan pertunanganku dengan Laura!"

"Kau yakin dengan keputusanmu?" Suara tuan Aryaloka membuat Gerald menghentikan langkahnya.

"Baiklah, jika itu keputusan mu bersiaplah untuk angkat kaki dari rumah dan perusahaan ini. Semua hak mu akan di cabut dan saham mu yang ada di sini akan ku ambil alih untuk di serahkan kepada Mahesa."

Gerald mengetatkan rahang, kesal. Namun akhirnya tak peduli karna ia berfikir itu hanya gertakan saja, sampai akhirnya sang ayah benar-benar pada ancamannya itu.

Gerald akhirnya tak berdaya dengan ancaman ayahnya, ia mau tak mau harus menikahi gadis itu, demi menyelamatkan saham dan haknya.

Gerald tak sudi semua hasil jerih payahnya selama ini di serahkan begitu saja pada Mahesa adiknya. Pada akhirnya ia tak pernah bisa menentang keputusan sang Ayah.

Meskipun ada hati yang harus di sakiti di sini, hati sang kekasih, Laura.

Mengingat itu ia jadi merindukan Laura, Gerald memberanikan diri untuk menelpon Laura setelah semua yang terjadi.

Nihil, panggilan telepon hanya berdering tak ada jawaban dari sang kekasih hati. Sudah pasti Laura sangat kecewa padanya.

"Brengs*k!" Gerald melempar ponselnya ke sembarang arah.

"Sialan kau Isvara. Akan ku buat hidupmu menderita."

***

Di tempat lain di sebuah kamar bernuansa Hitam-putih, terdapat dua pasang manusia yang berbeda jenis kelamin yang sedang di mabuk gairah mereka.

Des*han demi des*han keluar dari wanita yang kini dibawah kekuasaan seorang pria di atasnya. lenguhan serta erangan mengiringi aktifitas panas mereka.

Suara dering handphone berulang kali terdengar.

"Lau, apa kau tidak mau mengangkat teleponnya dulu?" ucap sang pria yang masih terus memberikan hujaman pada wanita di bawahnya.

"Biarkan saja,paling itu Gerald," Laura berkata patah-patah, wajah sayu, dengan tubuhnya yang terus bergetar.

"Haaaa, lebih cepat Sam!" teriak Laura, frustasi.

Samuel tersenyum. "Sesuai permintaanmu,baby."

Mereka terus menjerit,mengerang bersama, kamar hotel ini menjadi saksi atas perbuatan laknat mereka berdua.

Bahkan tak ada status apa-apa di antara mereka, Samuel adalah orang kepercayaan Gerald sekaligus temannya, sementara Laura adalah kekasih Gerald dan belum ada kata putus di antara mereka.

Namun keduanya malah menghianati Gerald di belakangnya.

Setelah satu jam berlalu, Samuel dan Laura ambruk bersama setelah mendapatkan pelepas*n mereka. Keringat bercampur lengket,hanya kenikmatan yang mereka rasakan kini.

"Kenapa kau tidak mengangkat telpon dari Gerald?" tanya Samuel di sela helaan nafas mereka.

"Buat apa? toh yang di ucapkannya hanya maaf dan maaf,aku muak."

Samuel menoleh. "Sungguh mengejutkan, di saat hari pernikahannya kau menangis paling kencang, namun sekarang kau seolah tidak perduli dengannya."

"Hahaha itu hanya gimmick, aku bahkan tidak perduli sama sekali dia menikahi wanita seperti apa." Laura tertawa pelan.

"Apa kau tidak mencintai Gerald?" tanya Samuel lagi.

"Bohong jika aku tidak mencintainya, tapi aku lebih mencintai hartanya."

Di luar dugaan,Samuel tertegun beberapa saat.

"Begitu rupanya, tapi bagaimana jika keadaan berbanding terbalik, Gerald mencintai wanita yang di nikahinya ini."

Lagi, Laura tertawa. "Itu tidak akan mungkin. karna Gerald sangat mencintaiku,dia tidak akan pernah bisa berpaling dariku."

Belum sempat Samuel menyeruakan pendapatnya, Laura terlebih dahulu memotong.

"Sudahlah kita sudahi pembicaraan bodoh ini." Laura bangkit dari tempat tidur. lalu mencium sekilas bibir pria di sampingnya.

"Kita harus sering-sering melakukan ini, karna hanya denganmu hasratku bisa terpuaskan," ucap Laura,lalu berlalu ke kamar mandi.

Samuel terdiam beberapa saat, memandang lurus ke langit-langit.

"Apa hubungan kita sebatas teman tidur saja Laura?" gumamnya.

***

Pagi menyingsing, Gerald memutuskan untuk masuk ke hotel setelah semalaman waktunya ia habiskan di club. Gerald berjalan sempoyongan karna pengaruh alkohol, lalu telinganya tanpa sadar mendengar percakapan antara Isvara dan seseorang di telpon.

Gerald berhenti di daun pintu, mengurungkan niat untuk membuka kenopnya. di dengarnya pembicaraan Isvara dengan seseorang yang ternyata dia panggil 'Ayah'.

Lalu telinganya berdengung tak kalah mendengar isakan kencang dari gadis itu, tertegun, Gerald menatap dalam diam Isvara yang kini menangis tersedu.

Cukup lama Gerald memperhatikan Isvara yang menangis sendirian, hingga laki-laki itu menghampiri Isvara yang kini terduduk mengenaskan.

"Bangun!" bentak Gerald.

Gadis yang duduk di lantai itu tertegun,lalu mendongak menatap wajah Gerald.

"Kubilang bangun!" perintah Gerald sekali lagi.

Tak kunjung mendapat respon, Gerald dengan tidak sabar menarik lengan Isvara hingga gadis itu terpaksa berdiri.

"Mau apa kau?!" Isvara menatap sengit.

"Pergi dan mandi, kita akan pulang ke rumah utama."

"Tidak,aku tidak mau!"

"Kau bilang aku ini bukan istrimu, pernikahan kita hanya paksaan, kenapa aku harus menuruti perintahmu," ucap Isvara dengan nada tajam.

"Karna di sini, akulah rajanya," ucap Gerald semakin menekan kuat cengkraman tangannya membuat Isvara meringis sakit.

"Ibarat kau adalah budak yang harus menaati semua perintah sang raja."

"Ingat itu!" Gerald menghentakkan lengan Isvara dengan kasar.

"Sekarang mandi dan bersiaplah."

Mereka saling menatap satu sama lain, bukan tatapan cinta ataupun kasih sayang yang ada hanya tatapan kebencian.

"Dan satu lagi, jangan pernah menangis di hadapan ku lagi," ujar Gerald sebelum akhirnya berbalik.

***

JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN TAMBAHKAN FAVORIT AGAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT 🙏

Bab 03 : Bukan wanita yang mudah di tindas

Isvara menumpahkan semua air matanya di kamar mandi. Menenggelamkan wajahnya di bathup berusaha agar isakannya tak sampai terdengar oleh pria monster itu.

Tiga puluh menit selesai dengan ritual mandinya Isvara kini mematutkan diri di cermin besar.

Terdapat bayangan seorang wanita bertubuh ramping, tinggi semampai dengan kulit putih pucatnya, hidung mancung dan bibir mungil ranum,juga mata indah bak telaga menyejukkan.

Sayang nasib hidup Isvara tak secantik parasnya.

Muka pucat Isvara ia tutupi dengan sedikit make up. Pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkraman bengis Gerald juga ia tutupi agar tidak menjadi bahan pertanyaan nanti.

"Jika kau sudah siap, bawa koper mu dan kita pergi."

Suara seseorang menginterupsi, Isvara menoleh di dapatinya Gerald yang menatapnya kini.

Mereka berdua sama-sama menatap tajam,tak ada yang bicara sampai akhirnya Isvara berjalan Melawati Gerald dan membawa kopernya.

Tiga hari mereka berada di hotel ini, hotel mewah berbintang yang berada di pulau Dewata Bali.

Tempat yang di khususkan untuk bulan madu mereka rekomendasi dari tuan Aryaloka sendiri.

Bulan madu apanya? hanya bualan, tak ada hal yang seperti itu saat pernikahannya pun tak mereka inginkan.

Pernikahan Gerald dan Isvara memang sangat tertutup apalagi dari keluarga besar Gerald. Itu semua tak terlepas dari permintaan Gerald sendiri untuk tidak memberitahu dulu tentang pernikahan mereka.

Hari ini saatnya Isvara menemui langsung dengan keluarga besar wirasena.

Memperkenalkan diri sebagai menantu keluarga mereka.

***

Mobil yang akan membawa mereka sudah datang di pelataran parkir.

"Bawa juga koperku."

"Hah?" Isvara membeo.

"Kau tuli atau memang bodoh,hah heh hah hoh. bawa koper ku!" semprot Gerald Padanya.

"Tapi kenapa harus aku? kau bisa membawa kopermu sendiri."

"Kau sudah lupa peraturannya?" Gerald menurunkan kacamata hitamnya.

"Kau budak dan akulah rajanya. jadi, kau harus mematuhi setiap perintahku," tekan pria itu.

Isvara melotot dengan tinju yang siap ia layangkan pada wajah songong itu. namun Isvara urungkan karna kalau meladeninya,mereka akan menjadi fosil di hotel ini.

"Baiklah tuan muda, sesuai perintahmu." suara Isvara di tekankan dengan gigi yang bergelutuk menahan marah.

Sementara pria yang di tatapnya menunjukkan senyum kemenangan. "Good." lalu Gerald berlalu ke depan.

Isvara berjalan dengan susah payah mengangkat dua koper besar dan berat ke dalam bagasi mobil. hingga akhirnya sopir mobil yang melihatnya merasa iba.

"Mau saya bantuin non?" ijin sang sopir.

"Siapa yang menyuruhmu untuk membantu wanita itu?!" suara Gerald kembali menggelar.

"Tapi tuan ... " ucapan sang sopir berhenti usai mendapat tatapan tajam dari Gerald.

"Maaf ya non."

Isvara menarik sudut bibirnya. "Tidak apa-apa."

Lalu sang sopir berlalu ke kemudinya. tak ingin kena semprot lagi dari tuan muda kejam itu.

"Cepat sedikit, jangan lelet," ucap Gerald yang memperhatikan Isvara mengangkat koper terakhir.

Isvara mencebik. "Dasar tuan muda arogan."

"Kau tadi bilang apa?"

Isvara tersentak buru-buru menetralkan raut wajah. "Tidak,aku tidak bilang apa-apa."

Namun Gerald bukanlah pria yang gampang percaya. pria lalu menghampiri Isvara dan menarik lengannya kasar.

"Aww," Isvara meringis. yang ditekan Gerald adalah bekas lukanya kemarin.

"Sekali lagi kau mencak-mencak di hadapanku,akan ku bungkam mulutmu itu." sentak Gerald.

"Lalu apa, kau akan membukam mulutku dengan batu bata hah," sentak Isvara balik.

Gerald menyeringai. "Sayangnya bukan dengan itu, tapi aku akan membungkamnya dengan mulutku."

Deg! Isvara refleks menutup bibirnya dengan tangan saat Gerald dengan tiba-tiba memajukan wajahnya.

Ingatannya melayang mengingat malam itu, di mana Gerald mencuri ciuman darinya dengan paksa. Padahal itu adalah first kiss-nya.

Gerald lagi-lagi menunjukkan senyum kemenangannya,lalu menjauh dan menyentak cengkramannya di tangan Isvara dengan kasar.

Isvara kembali meringis,luka merah di pergelangan tangannya semakin parah.

"Dasar bajingan." umpat Isvara dalam hatinya.

"Cepat masuk atau ku tinggalkan." suara Gerald kembali menginterupsi di dalam mobil.

Akhirnya Isvara memasuki mobil dengan menghentakkan kaki kesal dan mobil pun melaju meninggalkan area hotel.

***

Di dalam mobil tak ada percakapan di antara mereka, Isvara lebih memilih menghadap kaca mobil memperhatikan pemandangan, sementara Gerald sendiri sibuk dengan ponselnya.

"Angkatlah Lau," Gerald berdecak saat telepon tak kunjung tersambung.

Gerald masih berusaha keras untuk menghubungi kekasihnya itu, meminta maaf dan menjelaskan situasinya, lalu dirinya dan Laura akan bersama memperjuangkan cinta mereka.

Berdecak kesal Gerald akhirnya menyerah, percuma Laura tidak akan mengangkat telpon darinya sekarang.

Ponsel Gerald berdering dengan buru-buru pria itu mengangkatnya.

"Ya, halo pah."

Isvara ikut menoleh, rupanya tuan Aryaloka yang menelpon. syukurlah dia tidak akan berduaan lagi dengan mahluk menyebalkan ini.

"Ya, sebentar lagi kami akan tiba di bandara."

"Oke."

Tut! sambungan terputus.

"Apa!" bentak Gerald tiba-tiba saat menoleh kearah Isvara.

Isvara yang kaget langsung menegakkan bahunya.

Isvara mendadak malu, pasalnya ia seperti ketahuan sedang memperhatikan pria itu, padahal tidak sama sekali.

"Jangan bilang kau menguping pembicaraan."

Isvara menoleh, menatap tajam. "Jangan kegeeran, kau ada di sampingku, tentu mau tak mau aku mendengar pembicaraanmu."

Gerald mencebik lalu memfokuskan kembali pandangnya ke depan.

"Cih, jika bukan karna ancaman dari papah,aku tak Sudi memperkenankanmu pada keluargaku."

Lagi Isvara yang fokus menatap ke samping kini menatap kembali tuan muda arogan itu dengan tatapan nyalang.

"Aku tak pernah memaksamu untuk menikahi ku atau memperkenalkan ku pada keluargamu. jika kau menceraikan aku sekarang pun akan ku terima dengan senang hati,"

"Karna itu merupakan kebebasan untukku."

Brakk! Isvara terkejut, Gerald membanting ponselnya sendiri hingga tergeletak mengenaskan.

Keterkejutan Isvara bertambah tak kalah Gerald kini menarik kuat rambutnya, bahkan bisa ia rasakan kuku Gerald yang menancap di kulit kepalanya.

"Menceriakanmu?" Gerald mendengkus. "tidak semudah itu."

Isvara terus meringis kesakitan, ia berusaha melepaskan tangan Gerald dari rambutnya.

"Kau sendiri yang bilang jika pernikahan ini hanya paksaan, Kenapa tidak ceraikan aku saja sekarang dan menikahlah dengan kekasihmu itu."

"Heh, tau diri," mata Gerald berkilat marah, seperti sisi buasnya telah di bangkitkan oleh amarahnya untuk Isvara.

"Menceriakannmu tidak akan semudah itu, kau telah membuat kekasihku menderita dengan pernikahan bodoh ini. akan kubuat hidupmu menderita juga, lalu baru kulepaskan seperti seonggok sampah yang menyedihkan."

*Membuat kekasihmu menderita? apa kau tidak tahu akulah di sini yang menderita karna harus menikahi pria sekejam dirimu*

Gerald menghempaskan tangannya dari rambut Isvara dengan kasar. mereka menatap satu sama lain dengan kebencian yang mendalam.

Jika Gerald berfikir Isvara akan menangis setelah apa yang dilakukannya,maka Gerald keliru besar, dirinya tidak selemah itu.

"Kau harus berfikir dua kali sebelum membuat hidupku menderita."

"Ini bukan dunia novel di mana pemeran wanitanya hanya bisa menangis jika di perlakukan semena-mena," Isvara dengan berani menunjuk wajah Gerald.

"Aku bukanlah wanita yang gampang di tindas."

"Jadi jangan pernah menganggap aku adalah wanita yang tidak berdaya, Ingat itu,tuan muda yang kejam," ucap Isvara tanpa memperdulikan raut wajah Gerald yang seakan ingin menerkamnya.

Sementara sang sopir di depan hanya bisa diam menyaksikan diam-diam pertengkaran dua sejoli itu.

****

JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN TAMBAHKAN FAVORIT AGAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT UP🙏

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!