Halo-Halo Selamat datang di Novel JERAT HASRAT SANG CEO karya Teh ijo.
Sebelum itu, mari bantu Novel ini agar banyak yang membaca dengan cara :
Favorit (wajib)
Like setiap part-nya.
Beri komentar jika berkenan.
Beri dukungan berupa VOTE, BUNGA atau KOPI author gak minta lebih.
...Terimakasih Salam hangat...
...Boru Regar na Jugul 🥰...
SELAMAT MEMBACA
Kabur di hari pernikahan bukanlah suatu hal yang diinginkan oleh seorang Daisy Queeren, anak semata wayang dari pengusaha tersohor di negeri ini. Bagaimana tidak, ia harus menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak dikenal dan tidak pula dicintai. Bagi Daisy menikah itu harus dasar cinta, bukan karena harta atau sekedar perjanjian bisnis semata.
Menjadi anak pengusaha kaya raya membuat banyak lelaki gila harta yang mendekati Daisy dan ingin menjadikan Daisy sebagai istrinya, tetapi Daisy selalu menolak untuk memilih satu diantara mereka yang sedang mengantri demi bisa mendapatkan hatinya
Sayangnya tak satupun diantara mereka bisa menggugah hati Daisy. Tapi tidak dengan lelaki yang bernama Excel Word yang berhasil memaksa Arathorn untuk menikahkan dirinya dengan putri semata wayangnya, meskipun Daisy tidak menyetujuinya.
Arathorn Queeren, sang ayah mempunyai alasan tersendiri untuk menerima permintaan Excel untuk menikahi putrinya.
Siapa yang tidak mengenal sosok Excel Word, seseorang yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Bahkan namanya juga sangat terkenal di mancanegara, oleh sebab itu Arathorn tidak bisa menolak keinginan Excel saat hendak menginginkan putrinya untuk menjadi istrinya.
Tepat di hari pernikahannya dengan Excel, Daisy terpaksa harus melarikan diri, karena ia tidak mau menikah dengan Excel Word yang terkenal kejam.
"Tuan, Nona Daisy kabur." Salah seorang pelayan melapor pada Arathorn, ayah Daisy.
Arathorn yang sedang mempersiapkan diri dikamar murka atas kaburnya Daisy dan segera mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Daisy saat ini. Ia tidak mau acara pernikahan ini gagal.
Wajahnya merah padam dengan gigi mengerat kuat, kepalan tangannya mendarat ke dinding kamar, membuat Michelle, sang istri sangat terkejut.
"Astaga Daddy apa yang kau lakukan? Mengapa kau melakukan hal ini? Ada apa?" Michelle sangat panik saat melihat darah segar keluar dari genggaman tangan suami.
"Pelayanan, tolong!" Michelle berteriak, membuat sebagian pelayanan yang mendengar segera berlari menghampiri Michelle.
Tangan Arathorn, sudah diobati dan di balut, tetapi luka hatinya tak bisa terobati. Bagaimana tidak, setelah mengetahui bahwa Daisy kabur, Excel mempermalukan Arathorn di tengah tamu undangan yang sudah hadir.
Wajah Arathorn bagaikan dilempar kotoran, ia tak bisa berkata apa-apa lagi saat Excel merendahkan keluarganya. Terlebih Excel juga memberikan wacana, tak ada yang boleh menikahi Daisy selain dirinya, jika ada yang sampai berani menikahi Daisy berarti orang tersebut sudah tidak mencintai nyawanya sendiri.
Di tengah kerumunan tamu undangan, Arathorn benar-benar kehilangan wajah serta nama baik keluarga. Semua ini adalah salah, Daisy. Bagaimana caranya Arathorn harus bisa menemukan Daisy secepatnya.
*******
Daisy terlalu bodoh, saat ia kabur dari rumah tak ada satupun kartu penggesek uang yang ia bawa. Hanya tas kecil yang berisi kartu identitas serta beberapa lembar uang bergambar pak proklamator.
Daisy tak tahu harus pergi kemana, ia pergi tanpa arah dan tujuan. Hingga sopir taksi merasa heran saat ditanya akan tujuannya.
"Nona, sudah hampir satu jam kita hanya berkeliling di jalanan. Kalau anda tidak punya tujuan, silahkan turun! Karena saya akan mencari sewa lainnya," tegur sopir taksi.
Daisy membuang nafas beratnya. Ingin menyerahkan begitu saja, tetapi tidak mungkin. Usaha kabur dari pernikahan hanya akan sia-sia jika ia menyerah. Daisy harus bisa keluar dari masalah ini. Seketika ia teringat akan sahabatnya yang baru saja pulang dari luar negeri. Daisy meminta sang sopir mengantarnya ke alamat tersebut.
Setelah sampai, Daisy bertemu dengan satpam keamanan rumah Miya, namun satpam mengatakan bahwa Miya dan orang tuanya sedang menghadiri acara pernikahan sahabat Miya. Dengan sabar, Daisy memilih menunggu Miya pulang daripada ia luntang-lantung di jalanan tak jelas.
Sebuah mobil masuk ke dalam halaman yang cukup luas. Saat sang pemilik mobil keluar, mereka sangat terkejut saat melihat Daisy ada di rumah mereka.
"Astaga … Daisy," pekik Miya sambil berlari mendekati Daisy yang memangku sebuah ransel.
"Kenapa kamu ada disini? Harusnya kamu ada di pelaminan bersama Tuan Excel. Kamu tau tidak Tuan Excel sangat murka, bahkan ia mempermalukan keluarga mu dan mengeluarkan wacana, bahwa tak ada yang boleh menikahi mu, kecuali dia."
Tidak hanya Miya, kedua orang tua Miya sangat terkejut saat melihat calon pengantin berada di rumahnya.
"Daisy … kenapa ada di sini, Nak? Harusnya kamu menikah hari ini." Mamanya Miya sangat terkejut, bagaimana tidak, ia menghadiri acara pernikahan tetapi calon pengantin perempuannya malah kabur dan tanpa diduga ternyata sedang ada di rumahnya.
"Sudah jangan kalian tekan dia. Ayo masuk!" Papa Miya menyuruh Daisy masuk kedalam rumahnya.
Sebagai seorang yang berada di dunia bisnis papa Miya jelas tahu siapa itu Excel. Papa Miya juga tidak menyalakan Daisy sepenuhnya, karena papa Miya tidak yakin jika Excel mencintai Daisy sepenuhnya. Mungkin ini adalah sebuah trik untuk menjatuhkan lawan dengan memanfaatkan Daisy atau sekedar obsesi semata saja. Mendengar penjelasan dari papanya Miya, semua yang ada di ruangan itu terbelalak.
"Kasihan sekali kamu, Dai." Miya memeluk tubuh Daisy, sahabat sedari kecilnya.
Daisy merasa lega saat papa Miya, masih memihak kepada dirinya, setidaknya Daisy bisa memanfaatkan situasi ini untuk meminta tempat tinggal untuknya, meskipun tidak berada dalam rumah ini.
Untuk malam ini Daisy diijinkan untuk menginap di rumah Miya, untuk selanjutnya Daisy akan diberi tempat tinggal sendiri oleh papanya Miya. Sebab ia juga tak berani menyembunyikan Daisy di dalam rumahnya, karena jika Excel mengetahui Daisy berada di rumahnya, maka Excel pasti akan mengucurkan keluarga dan juga perusahaannya.
🌹To Be Continue 🌹
Terimakasih sudah mampir di Novelku yang receh ini. Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya, dengan begitu aku akan sangat bahagia 🥰
Daisy sudah berada di sebuh rumah yang tidak terlalu besar. Rumah itu adalah salah satu rumah kontrakan milik papanya Miya yang sedang kosong. Papa Miya tidak bisa berlama untuk di tempat itu, ia takut kaki tangan Tuan Excel akan mencium campur tangan untuk menyembunyikan calon istrinya yang kabur. Daisy sendiri tidak yakin apakah dia bisa bertahan lama di tempat seperti itu, mengingat dia yang selalu di layani oleh para pelayan dan kini dia harus mengurus dirinya sendiri.
Ternyata kabur itu tidak enak. Daisy tidak pernah memikirkan nasib selanjutnya setelah kabur akan seperti apa. Jika seperti ini rasanya, kemungkinan dia akan menjadi gelandangan baru di jalanan.
Di sisi lain rahang Arathorn mengeras saat mendengar kabar bahwa putrinya tak bisa ditemukan oleh anak buahnya. Bagaimana bisa hanya mencari tikus kecil saja mereka tidak becus. Apakah dia harus menyiarkan ke stasiun televisi untuk menemukan putrinya?
Selain itu Arathorn juga mendengar bahwa Excel juga sedang melakukan pencarian untuk menemukan putrinya. Ambisi untuk menikahi Daisy ternyata sangat tinggi hingga Excel mengeluarkan wacana yang menurutnya wacana gila. Bagaimana mungkin tak ada yang boleh menikahi putri selain dia. Dengan kekuasaan yang dia miliki maka apa yang di inginkan maka akan tercapai. Arathorn tidak sudi menikahkan putrinya dengan orang yang sudah menghina dirinya. Sebisa mungkin Arathorn harus bisa menemukan putrinya dan mengirimnya ke laur negeri agar terbebas dari wacana gila dari Excel.
"Kalian cari putriku hingga ke sudut terkecil bahkan jika perlu sampai ke lerak bumi sekaligus. Jangan biarkan Excel sialan itu menemukan Daisy lebih cepat!"
"Siap Tuan, kami akan berusaha."
Berbeda dengan Arathorn, Excel tengah mengulum senyum di bibirnya saat mendapatkan sebuah telepon dari seseorang yang mengatakan bahwa dia menemukan dimana keberadaan Daisy saat ini.
"Tikus kecil, kemanapun kamu lari, maka aku akan segera menemukan dirimu."
***
Daisy tidak tahu bagaimana cara bertahan hidup selanjutnya. Dia benar-benar menyesal sudah kabur dari rumah dan kini ingin rasanya dia kembali pulang. Daisy yang sengaja mematikan ponsel segera menghubungi ibunya lalu meminta maaf telah menciptakan kekacauan.
Sebelum menutup ponselnya, sang ibu berpesan bahwa Daisy harus berhati-hati dengan keadaan sekitar karena Excel sudah menyebar anak buahnya untuk menemukan dirinya.
"Ya Tuhan ... ternyata begini rasanya jadi gelandangan." Daisy mengeluh karena perutnya sudah protes belum diberi makan. Namun, baru beberapa langkah Daisy tak sengaja bertemu dengan seorang penjual nasi bungkus. Ia hanya bisa menelan kasar ludahnya melihat penjualan itu.
"Mau beli?"
Daisy menggeleng. Namun, wanita penjual itu malah memberikan secara gratis untuk Daisy karena ia tahu jika Daisy pasti sedang lapar. Sebenarnya Daisy tidak terbiasa dengan makanan eceran, karena sudah yakin itu makanan tidak higienis. Tetapi apa daya, saat ini Daisy membutuhkan makanan tersebut.
Tidak hanya itu, ternyata wanita itu juga telah memberikan air mineral kepada Daisy. Sungguh orang yang baik hati, pikir Daisy. Namun, setelah Daisy menyuapkan beberapa sendok makanan ke dalam mulutnya, tiba-tiba saja dia langsung tergeletak tak sadarkan diri begitu saja.
Sopir yang diutus oleh ayahnya Daisy sudah sampai di tempat yang sudah ditentukan, tatapi dia tidak mendapatkan keberadaan anak Tuannya. Hanya tas milik Daisy yang tertinggal di sana serta sisa nasi bungkus dan sebotol air mineral di sana.
"Gawat, Nona pasti sudah ditemukan oleh Tuan Excel." Sang sopir pun segera menelepon Tuan Arathorn untuk memberi tahu bahwa kemungkinan Nona Daisy sudah di temukan oleh anak buah Tuan Excel.
"Sial!" umpat Arathorn setelah mendapatkan kabar dari sopirnya.
"Excel pasti sudah membawa Daisy. Aku tidak akan rela jika putriku harus menikah dengan lelaki ba.ji.ngan seperti dia."
Satu jam kemudian ....
Daisy terbangun sambil memegang kepalanya yang masih menyisakan rasa pusing. Dilihatnya keadaan sekitarnya yang sangat asing untuk dirinya. Dia yakin jika ini bukanlah rumahnya ataupun rumah Miya.
"Dinama ini?" Daisy mencoba untuk turun dari ranjang besar. Sebuah kamar yang besar nan mewah, Daisy bisa memastikan bahwa dia sedang berada di dalam rumah orang kaya. Namun, yang Daisy tidak tahu rumah milik siapa ini. Daisy mencoba mengingat kejadian terakhir dimana dirinya sedang makan lalu tiba-tiba saja dia sudah berada di tempat ini. Apakah saat ini dirinya sedang diculik?
Suara pintu dibuka lalu menunjukkan beberapa pelayan datang membawakan pakaian untuk Daisy.
"Nona bersihkan dahulu tubuh anda. Tuan sudah menunggu di bawah."
Dua orang pelayan maju lalu membawa Daisy masuk ke kamar mandi. Meskipun dia menolak, tetapi dua pelayanan itu bisa melumpuhkan Daisy, Tenaganya tidak bisa di ragukan lagi, meskipun hanya sebagai seorang pelayan. Daisy pikir pelayan itu lemah seperti pelayan yang ada di dalam rumahnya.
"Lepaskan! Aku bisa mandi sendiri!" teriak Daisy.
"Maaf Nona, ini perintah. Anda harus menurut jika tidak ingin kami menyakiti anda."
Daisy mengerutkan dahinya. Ada ya pelayan yang berani seperti mereka.
Selama proses mandi, Daisy di perlakukan kayak anak kecil yang sedang dimandikan oleh ibunya. Tak ada yang bisa dilakukan lagi selain pasrah. Daisy sudah mencoba melawan, tetapi tangannya malah dibekukan oleh sang pelayan. Saat ini dia hanya bisa menyilang kan kedua tangannya di depan dada karena malu. Beruntung saja dia di mandikan didalam bathtub.
Saat ini Daisy tengah di rias oleh dua orang pelayan yang berbeda. Hidupnya saat ini bagaikan seorang putri raja. Apakah ada seorang pangeran yang tak sengaja menemukan dirinya di pinggir jalan lalu akan dipersuntingnya. Jika benar seperti itu Daisy akan berterimakasih kepada pangeran tersebut. Daisy juga tidak sabar untuk bertemu dengan tuan yang sudah berbaik hati mau membawanya pulang.
Aku yakin dia adalah orang terkuat. Buktinya saja dia bisa menentang Tuan Excel. Dia sungguh berani atau dia tidak tau siapa aku sebenarnya? Apa jadinya jika dia tau bahwa aku adalah Daisy calon istri Tuan Excel yang kabur di hari pernikahannya kemarin.
Wajah Daisy mendadak berubah sendu membuat pelayan itu men.de.sah.
"Anda jangan menekuk wajah anda, nanti make up tidak sempurna."
Yang tak kalah terkejutnya lagi saat selesai di rias, datang lagi dua orang pelayan yang membawakan gaun untuk Daisy. Gaun yang tidak asing. Warna putih dan ...
"Tunggu ... Apa-apaan ini? Apakah aku ingin menikah?"
"Betul Nona, Tuan kami sudah menunggu anda di bawah beserta dengan keluarga anda. Kami harap kerjasamanya agar tugas kami cepat selesai"
Apa? Mereka bilang keluargaku? Berarti daddy dan Mami ada di bawah? Sebenarnya siapa lelaki yang ingin menikahi ku, apakah dia tidak mendengarkan wacana dari Tuan Excel.
"Kalau boleh tau, siapa tuan kalian?" tanya Daisy.
"Maaf Nona, kami tidak berhak untuk menjawab pertanyaan anda. Karena tugas kami yang melayani anda, tidak untuk menjawab pertanyaan anda."
Daisy memicingkan matanya. Baru juga menjadi seorang pelayan sudah belagu.
Saat ini Daisy sudah tampil sempurna dengan gaun pengantinnya. Dia tidak tahu akan menikah dengan siapa, tetapi dia yakin jika laki-laki yang akan menikahi dirinya bukan lelaki biasa karena mampu menentang wacana dari Excel.
Saat pintu di buka, matanya terbelalak tak percaya melihat seorang wanita yang tidak asing lagi bagi dirinya. Dia adalah wanita yang memberikan nasi bungkus dan air mineral di pinggir jalan tadi. Tapi mengapa kini penampilan berubah sangat drastis. Dia berubah menjadi sosok wanita yang anggun dan sangat cantik.
"Bagaimana pelayanan, sudah beres?" tanya wanita itu.
"Sudah Nona."
"Baiklah, kalian boleh pergi."
Satu persatu pelayan sudah meninggal kamar, hanya tinggal Daisy dan juga wanita tersebut.
"Kamu sudah siap? Tuan dan juga Daddy kamu sudah menunggu kamu di bawah. Mari kita turun."
🌹 Bersambung 🌹
Jangan lupa jejaknya 🥰
Daisy tidak tahu siapa wanita itu. Saat ini seperti sedang terhipnotis oleh kata-kata yang menyuruhnya untuk segera turun ke lantai bawah. Daisy dibuat takjub oleh rumah megah layaknya sebuah istana raja.
Dibawah sana juga terlihat sudah ramai orang-orang yang berkumpul. Sekilas dia juga melihat daddy dan maminya sudah berada di sana.
"Daddy," gumam Daisy.
Setelah Daisy sampai di lantai bawah, dirinya menjadi pusat perhatian para tamu yang hadir, mungkin karena kemarin dia gagal menikah.
Mami Michelle segera memeluk putrinya diiringi dengan isak tangis.
"Mami, jelaskan apa yang terjadi? Aku dimana dan aku akan menikah degan siapa, Mi?"
"Sabar sayang. Mami dan Daddy tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kamu berhasil di temukan oleh anak buah Tuan Excel. Hari ini dia meminta Daddy untuk menikahkan kalian."
Tubuh Daisy membeku dengan mata yang membulat, berharap dia hanya salah dengar atau hanya bermimpi saja.
Tidak mungkin ... ini tidak mungkin. Daisy ingin berlari sejauh mungkin. Ingin menjerit sekuat tenaga, berharap Tuhan mendengarkan jeritannya.
Tubuhnya semakin bergemetar saat derap langkah nyaring terdengar di telinganya. Dari arah samping sosok Excel yang muncul dan mengulurkan tangannya untuk membawa Daisy duduk disebelah meja yang telah disiapkan.
"Mari Sayang. Kasihan pak penghulu sudah menunggu kita."
Daisy menetap maminya seolah ingin mengatakan tidak, tetapi maminya mengangguk pelan.
"Mami."
Tak ada jawaban dari sang mami, hanya sebuah anggukan pelan dari maminya.
Sebuah kenyataan yang tak pernah Daisy harapkan, sebuah ikrar pernikahan yang baru saja keluar dari mulut Excel.
Pengucapan ikrar pernikahan berjalan dengan lancar dengan Arathorn sebagai wali dari Daisy.
Dua jam yang lalu ...
Arathorn yang baru saja mendapatkan telepon dari Daisy segera mengutus sopir untuk menjemput putrinya di sebuah lokasi yang sudah diberi tahu oleh Daisy sebelumnya. Namun, belum lama bisa bernafas lega, Arathorn mendapatkan sebuah panggilan telepon dari Excel yang mengatakan bahwa putrinya saat ini sudah berada di dalam genggamannya dan hari ini juga dia akan menikahi Daisy. Jika Arathorn tidak mau menikahkan putrinya Excel tidak akan memberikan putrinya untuk hidup, selain itu dia juga akan mencabut semua saham yang sudah ia tanam di perusahaan dan akan membuat perusahaan hancur dalam sekejap mata.
Tak ada lagi yang bisa Arathorn lakukan selain pasrah dan mengikuti permainan Excel, dengan rasa penuh keterpaksaan.
***
Berita pernikahan Daisy dan Excel sudah menyebar luar di jagad media. Semua orang memberikan tanggapan beraneka ragam tentang pernikahan yang gagal kemarin. Ada yang merasa bersyukur, ada pula yang merasa iba kepada Daisy atas pernikahan ini. Terlebih para pria yang pernah di tolak oleh Daisy.
Setelah akad selesai, Excel menggenggam tangan Daisy untuk menyalami para tamu undangan yang turut menghadiri pernikahan mereka. Tak ada senyum yang terukir di bibir Daisy. Perempuan itu tidak terima 100% dengan pernikahan ini.
"Kamu sekarang adalah istriku, aku berhak sepenuhnya atas dirimu. Tetapi sepertinya aku tidak tertarik dengan tubuhmu. Aku hanya tertarik untuk membuatmu menderita." Excel melempar jas ke sebuah sofa yang ada di dalam kamarnya.
"Satu lagi, jangan berharap lebih dari pernikahan ini! Kamu lihat kan itu tempat tidur milikku dan ini ( sofa ) adalah tempat tidurmu. Kamu dilarang keras untuk naik ke ranjang ku tanpa seizin dariku? Mengerti?"
Daisy tidak mengerti akan ucapan yang baru saja Excel keluarkan. Lalu untuk apa Excel menikahi dirinya? Untuk membuatnya menderita? Memangnya apa yang sudah Daisy lakukan kepada hingga Excel membencinya.
"Satu lagi, berhubung kamu tinggal disini gratis dengan segala kemewahan yang ada maka jangan lupakan tugasmu. Kamu tahu tugas pelayanan kan? Jika tidak tahu silahkan tanya kepada kepala pelayan agat bisa dijelaskan secara detail. Untuk hari ini kamu aku beri bonus, beristirahatlah, nikmati hari ini karena besok kamu sudah harus mulai bekerja."
Daisy menjatuhkan tubuhnya diatas sofa sambil mengatur nafasnya. Ingin rasanya mencakar mulut Excel.
"Jika aku hanya ingin kamu jadikan pelayan di rumahmu, kenapa kamu harus menikahi aku?" teriak Daisy, membuat Excel mengulum senyum di bibirnya.
"Karena aku ingin mengikatmu dan membuatmu menderita hingga ma-ti secara perlahan." Excel menekan kata mati, membuat Daisy semakin terbelalak.
"Jika kamu ingin aku mati, bunuh saja aku sekarang!"
"Tenang, jangan buru-buru. Permainan baru saja akan dimulai. Oh iya, malam ini aku tidak pulang, tanpa seizin dari ku, kamu dilarang untuk tidur diatas ranjang ku, mengerti?"
***
Daisy tidak bisa tinggal diam. Berada dalam kamar membuat kepala tidak bisa berpikir dengan baik. Ia harus menemui daddy-nya untuk menanyakan alasan dibalik Excel menikahi dirinya. Daisy tidak ingin hidup dalam belenggu pernikahan konyol. Meskipun terbilang manja, Daisy bukanlah wanita lemah. Dia pemberontak keras.
Saat Daisy baru membuka pintu kamar, dia terkejut akan dua orang pelayan yang sudah berdiri di depan pintunya.
"Anda ingin kemana, Nona?" tanya pelayan.
"Aku ingin keluar."
"Apakah anda sudah ijin dengan Tuan Excel, jika belum, mohon maaf anda tidak bisa keluar." Pelayan itu menghadang.
Daisy menautkan alisnya. Keluar saja harus ada persetujuan dengan Tuannya, memangnya dia ini tawanan?
"Aku hanya ingin menemui daddy ku."
"Tetapi anda belum mendapatkan ijin, Nona. Lebih baik silahkan anda ijin terlebih dahulu. Silahkan masuk lagi, Nona." Pelayan itu mendorong tubuh Daisy untuk masuk ke dalam kamar lalu menutup kembali kamar tersebut sambil mengunci dari luar agar lebih aman. Pelayan itu takut jika Daisy akan kabur seperti di hari pernikahannya kemarin. Akibat kegagalan tersebut, Tuan mereka rugi waktu dan juga rugi biaya.
"Hei ... Buka pintu! Kenapa kalian mengurungku? Buka!" Daisy menggedor pintu dengan keras, namun tak membuahkan hasil akhirnya Daisy menyerah.
Daisy mencari ponselnya, ia tidak tahu dimana ponsel itu berada. Ingin menangis rasanya saat tak menemukan benda tersebut.
"Ponselku? Apakah ponselku disita oleh Excel? Ah ... menyebalkan!"
Sepanjang hari Daisy tidak diijinkan keluar dari kamar karena belum ada ijin dari Tuan mereka. Bahkan makan siangnya juga diantara oleh pelayan.
"Bisakah kamu pinjamkan aku ponsel?" tanya Daisy, pada pelayan yang baru saja masuk.
"Maaf Nona, tidak bisa."
"Belagu," umpat Daisy.
"Maaf Nona, saya hanya menjalankan tugas." Pelayan itu segera meninggalkan kamar tersebut.
Semua keperluan Daisy akan disiapkan oleh para pelayan di rumah itu. Bahkan Daisy sampai tidak bisa mengenali siapa saja pelayan yang keluar masuk kedalam kamarnya untuk menyiapkan keperluannya. Seperti sore ini saat dua orang pelayan datang untuk membawakan baju ganti untuk Daisy. Kali ini yang datang bukanlah pelayan yang sebelumnya.
"Bisakah kamu meminjam aku ponselmu sebentar? Aku ingin menelpon daddy-ku aku lupa meletakkan dimana ponsel itu?"
Pelayan itu menatap Daisy. Sebenarnya dia juga merasa kasihan kepada Daisy yang harus di jaga ketat kayaknya seorang tawanan.
"Tapi jangan lama-lama."
Kali ini dugaan Daisy salah, ternyata wanita itu meminjamkan ponsel. Tak ingin membuang waktu, Daisy segera menekan nomer telepon dady-nya.
Dari ujung sana Daddy-nya mengangkat panggilan tersebut. Daisy tidak punya waktu dia hanya ingin menanyakan apakah dady-nya pernah membuat masalah dengan Excel, tetapi dady-nya mengatakan sama sekali tidak mempunyai masalah apapun dengan Excel. Dady-nya juga heran mengapa Excel begitu berambisi ingin menikahi putrinya.
"Daddy, dengarkan aku. Cari tahu apa penyebabnya Excel sampai memaksaku untuk menikah. Asal Daddy tau aku disini layaknya seorang tawanan mafia, Dad. Selamat aku. Aku tidak mau terjebak dalam pernikahan ini."
Daisy segera mematikan sambungan teleponnya karena ia sudah berjanji tidak akan lama-lama.
"Terimakasih. Siapa namamu?"
"Nona bisa memanggil saya Adel."
🌹To Be continue 🌹
Hayo mana dukungannya? 🥰
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!