NovelToon NovelToon

Remaja Tangan Besi

Libra aeros

Bayi kecil yang malang. Dia di besarkan oleh seorang wanita yang sangat miskin dan hidup sebatang kara. Wanita ini bernama Jamilah. Dia memberi nama bayi itu sesuai rasi bintang pada bulan kelahirannya. Libra. Yah, dia menamai bayi itu dengan nama Libra. Libra Aeros.

Wanita ini sangat menyayangi bayi itu melebihi dari dia menyayangi dirinya sendiri. Delapan belas tahun yang lalu Jamilah mendapatkan bayi itu dari seseorang yang tidak dikenalnya.

Menurut cerita dari orang yang telah memberikan bayi itu padanya, yang tak lain adalah ayah kandung bayi itu sendiri. Libra di anggap anak yang tak membawa keberuntungan kepada ibunya. Kedengaran miris sekali memang. Bagaimana mungkin anak sekecil itu dan baru saja di lahirkan sudah di anggap membawa kesialan.

Kejadian yang sebenarnya adalah sang bayi dalam posisi sungsang ketika itu waktu hendak di lahirkan oleh ibunya, menyebabkan sang ibu hampir saja kehilangan nyawanya kalau saja tidak segera dilakukan tindakan operasi sesar kala itu. Oleh sebab itu sang ayah sangat membenci bayi itu lalu memberikannya kepada orang lain karena hampir saja membunuh istrinya tercinta.

Selain Libra Aeros, bayi itu memiliki kembaran yang lahir lebih dulu dan sekarang memiliki nama Leo Andika Pratama. Dia lahir satu jam sebelum Libra dilahirkan di tengah malam.

Leo adalah anak kesayangan dari keluarga besar Arya Pratama. Cucu kesayangan dari Daris Pratama. Seorang pengusaha besar dan mafia terkenal di kota Eastol.

Leo di beri segala fasilitas dalam hidupnya, mulai dari uang mobil, bodyguard serta segala apapun yang dia maui. Menyebabkan anak itu hidup dalam kesombongan. Berbeda dengan Libra yang sejak kecil hidup apa adanya. Anak itu tidak pernah mengalami sedikitpun kemewahan.

Lapan belas tahun yang lalu Jamilah yang hidup sendiri sungguh merasa senang begitu orang tua Libra menyerahkan bayinya padanya. Dan sejak hari itu Jamilah menjadi ibu asuh Libra yang menganggapnya anak sendiri.

Dua tahun kemudian setelah Libra sudah pandai berjalan wajah anak itu terlihat begitu imut dan tampan serta menggemaskan, membuat orang tertarik padanya. Oleh sebab itu Jamilah takut orangtua tua kandung Libra atau orang lain datang meminta Libra darinya. Bahkan di umur segitu Libra sudah memiliki kecerdasan luar biasa dalam berfikir. Anak itu juga sangat manja pada Jamilah.

Jamilah sangat menyayanginya hingga pada suatu hari dia menyadari ada sesuatu yang berbeda pada fisik anak itu.

Bola mata Libra terlihat sangat indah, siapa saja yang menatapnya pasti akan tertarik. Namun jika benar-benar diperhatikan, bola mata itu sebenarnya memiliki kilatan cahaya aneh yang sangat misterius. Belum lagi terdapat sulur-sulur berwarna biru di setiap inchi tubuhnya, meskipun warna itu tidak jelas dan kabur. Mulai hari itu dengan caranya sendiri Jamilah selalu menutupi keajaiban di tubuh Libra.

Perputaran waktu begitu cepat berlalu. Libra sudah jadi seorang remaja yang mulai tumbuh dewasa. Dan saat ini dia sudah kelas tiga SMA. Yang Jamilah tau, Libra itu seorang anak yang baik, sopan, penurut dan juga santun. Dia tidak pernah tau sikap pemuda itu saat di belakangnya.

Sedangkan Libra sendiri. Dia sangat pandai menyimpan rahasianya. Anak itu tidak akan membiarkan ibunya tau tentang apa yang dia lakukan di luar sana.

Selain cerdas, pemuda ini sebenarnya seorang pemuda yang sangat keras, kuat dan pemberani. Tapi sikapnya di luar sana tidak pernah di ketahuan oleh ibunya. Libra selalu menggancam setiap orang yang akan melaporkan tindakan kekerasannya di luar sana kepada ibunya. Pemuda itu tidak akan segan-segan memberi pelajaran kepada mereka yang berani mengatakan tindakan kekerasan yang dia lakukan di luar sana kepada Jamilah, meskipun mereka sudah di aniaya. Mereka semua takut dengan ancaman pemuda itu. Pemuda itu sungguh kuat dan aneh.

# # #

Seperti hari-hari biasanya. Jamilah akan membangunkan Libra yang selalu tidur molor agar segera pergi kesekolah.

Kemudian wanita itu akan pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan lalu meletakkannya di atas meja.

Setelah semuanya selesai dia akan memanggil Libra kembali untuk sarapan sebelum pemuda itu pergi sekolah.

"Makan yang banyak " kata Jamilah sambil menuang air kedalam gelas lalu meletakkannya di depan Libra. Libra mengangguk saja sambil menikmati makanan itu tanpa banyak bertanya.

Setelah selesai sarapan, Libra berpamitan pada Jamilah untuk segera pergi ke sekolah. Tapi pemuda itu menghentikan langkah saat terdengar suara Jamilah memangilnya. Pemuda itu menoleh kebelakang lalu berbalik melihat ibunya.

"Ada apa, Bu?" Libra melihat penampilan dirinya sendiri manatau ada yang salah. Tidak.. Semuanya sudah sesuai dengan keinginan ibunya. Pikirnya. Kacamata bulat, celana komprang dan baju kedodoran. Membuat penampilannya sangat cupu, padahal aslinya dia pemuda yang sangat tampan.

Sementara Jamilah sendiri masih merenung kearah Libra. Wanita itu sedang berpikir, dia akan segera merubah cara penampilan Libra yang selama ini selalu menuruti style yang dia inginkan.

' Aku tidak perlu takut lagi orang mengambilnya dariku, atau takut orang mengetahui keajaiban yang dia miliki. Dia sudah besar pandai menjaga dirinya sendiri, aku tidak perlu lagi melindunginya dari hal apapun. Lagi pula dia harus meneruskan hidupnya tanpa adanya diriku' Jamilah tersenyum getir. ' Mungkin tak lama lagi aku akan mati. Ini sudah takdirku dan ini waktunya dia tau siapa dirinya dan siapa orang tua kandungnya '

"Ada apa, Bu? " tanya Libra penasaran kenapa ibunya memanggil. Padahal dia merasa penampilannya sudah sesuai dengan keinginan ibunya itu. Pikir hatinya.

"Mulai besok mandilah sebelum pergi sekolah, sikat gigimu, berpakaian yang rapi sesuaikan tubuhmu, potong rambutmu yang gondrong itu" kata Jamilah.

Libra tercengang tidak menjawab. Baru kali ini ibunya melakukan permintaan seperti itu. Sebelumnya ibunya selalu meminta dia agar tidak menonjolkan diri, lebih tepatnya mengarah kearah menyembunyikan diri. Libra hanya tersenyum kaku menatap Jamilah dengan perasaan aneh. Lalu pemuda itu meraih tangan Jamilah seraya meletakkan di kening, kemudian pergi kesekolah menggunakan motornya.

Dalam perjalanan Libra terus kebingungan memikirkan kata-kata Jamilah barusan. Dia merasa ada yang salah dengan sikap wanita itu. Bahkan dulu wanita itu pernah sampai menolak dan memohon pihak sekolah agar mereka tidak memotong rambutnya dengan alasan dia akan sakit karenanya. Tapi sekarang apa yang terjadi? Ibunya menyuruhnya memotong rambut, sikat gigi, pakaian yang rapi. Bukankah itu sesuatu yang aneh? Selama ini dia menuruti ibunya tanpa peduli pandangan orang lain terhadapnya. Selama itu membuat ibunya senang dia akan lakukan. Tapi sekarang?.. Mengingat kata-kata ibunya tadi membuat jantungnya berdesir seakan ada sesuatu yang akan hilang darinya.

Libra mulai menekan pedal gas motor ketika sudah jauh dari rumah.

" Reng whue__________engg "

Pemuda itu hanya berani menekan pedal gas motor setelah jauh dari rumah agar tidak diketahui oleh ibunya. Jika dirumah pemuda itu terlihat kalem tapi saat jauh dari ibunya dia akan berubah garang dan bahkan jauh lebih garang dari seekor serigala.

" Ciiiiiit.." Karena berkendara sangat laju dan melakukannya tanpa konsentrasi, pemuda itu hampir saja bertabrakan dengan kendaraan lain kalau saja dia tidak menghindar dengan cekatan.

Suara ban motor dan mobil yang hampir saja bertabrakan berdecit keras di atas aspal mengejutkan orang-orang di sekitar. Tepat di depan sekolah. Libra banting setir ke pinggir jalan, sedangkan mobil kearah sisi lainnya. Pemuda itu memarkirkan motornya sambil menatap tiga orang yang turun dari atas mobil sport, yang juga sedang menatapnya dengan tatapan membunuh.

Salah seorang dari mereka menatapnya dari atas hingga kebawah. Kemudian tersenyum bergidik, mungkin geli melihat penampilannya yang sangat lucu. Rambut gondrong, kacamata bulat, baju kedodoran dan celana komprang. Hampir saja penampilannya membuat orang itu tertawa. Tapi dia tidak peduli.

"Woi! Apa kau tidak menggunakan matamu saat berkendara? Padahal matamu sudah empat, tapi hampir saja menabrak ku. Jalan ini bukan jalan nenek moyangmu. Suka-suka saja mengendarai motor jelek seperti itu di sini" maki seseorang dari salah satu orang yang turun dari mobil.

Libra tersenyum acuh kemudian membalasnya sambil mengejek.

" Jalan ini juga bukan jalan nenek moyangmu. Jadi apa masalahnya? Apa karena kau anak orang kaya dan naik mobil mewah apa aku harus mengalah dan takut padamu?" kata Libra menantang.

Orang-orang di sekitar tercengang menatap pemuda itu. Anak ini sudah gila, dia sangat berani melawan orang terkaya di kota ini. Bukankah pemuda yang turun dari mobil itu cucu kesayangan Jones Alexander? Siapa yang tidak tau tentang orang itu dan keluarganya, bahkan orang itu penyumbang dana terbesar sekolah ini. Kali ini habislah kau Libra Aeros. Pikir mereka semua.

Melihat tiga orang yang turun dari mobil tampak kesal dan marah, orang-orang yang memiliki dendam dengan Libra tertawa. Mereka berpikir bisa meminjam tangan Leo dan pengawalnya untuk memukuli wajah Libra hinga babak belur dan menjadikannya tontonan. Kali ini ada orang yang bisa melampiaskan kemarahannya tentu saja mereka sangat senang karena selama ini Libra selalu mengancam dan memukul mereka.

Sementara mereka yang cinta damai hanya menyesalkan sikap Libra yang terlalu berani. Namun mereka juga tidak akan ikut campur urusan keluarga Daris Pratama jika tidak ingin terseret kedalam masalah bersama Libra.

"Hei orang miskin. Apa kau tidak tau siapa aku? Aku adalah Leo Andika Pratama. Aku bisa memecatmu dari sekolah ini bahkan bisa membuat hidupmu menderita. Berandalan culun sepertimu tidak cocok belajar di sekolah elit seperti ini" Leo mencemooh . Dia memandang rendah kepada Libra, apalagi pemuda itu hanya menunggang motor. Jadi dia menebak kalau Libra orang biasa.

"Ha ha ha" Libra malah tertawa terbahak-bahak. " Pecat saja aku kalau kau mau, kau itu orang baru disini tapi sudah berlagak dan berani mengancamku. Bodoh sekali" balas Libra tak mau kalah. Dia tidak pernah melihat orang ini, tapi jika di lihat dari seragamnya jelas pemuda itu sekolah disini. Pasti orang ini orang baru. Pikir Libra.

Libra hanya kalem jika di rumahnya atau di hadapan ibunya. Tapi di luar itu, dia jauh lebih sadis dari seekor srigala. Semua orang di sekolah sudah tau. Meskipun dia hanya anak yang mendapatkan pendidikan beasiswa karena kecerdasannya, tapi tidak ada satupun orang di sekolah ini yang berani macam-macam atau meremehkannya.

"Nampaknya anak ini benar-benar perlu di beri pelajaran agar dia sadar perbedaan antara bumi dan langit" ucap seorang dari ketiga orang itu yang tak lain adalah Leo. Pemuda itu menatap dua pengawalnya lalu berkata.

"Pukul orang ini agar lain kali dia bisa mengenali wajahku" kata Leo dengan angkuh dan congkak beserta kesombongannya. Dia tidak sabar melihat pemuda dihadapannya babak belur di pukuli oleh dua bodyguard yang jadi pengawalnya.

Tanpa banyak bertanya secara bersamaan dua pengawal itu datang mendekat menghampiri Libra. Tubuh mereka kekar kulit hitam dan wajah sangar. Mereka datang sembari melayangkan tangannya yang berotot hendak menampar wajah Libra, tapi dengan cepat Libra berkelit untuk menghindar. Itu sesuatu yang tidak sulit baginya.

Merasa pemuda di hadapannya sepertinya melawan mereka melakukan serangan lebih agresif. Salah satu darinya meninju kearah wajah Libra dan satu lagi menendang perutnya. Tapi dengan mudah Libra berkelit kebelakang bahkan pemuda itu sempat memberikan senyuman mengejek kearah mereka.

"Bajingan.. Pukul dia sampai mati jangan kasi ampun, sepertinya anak ini bisa bela diri" Leo meneriaki dua bodyguardnya dengan kesal, baru kali ini ada orang yang berani melawannya dengan terang-terangan. Bahkan pemuda itu hanyalah seorang pemuda culun. Sangat memalukan sekali baginya.

Libra hanya menyeringai mendengar ucapan Keo. Pemuda itu mulai mengepalkan jari tangannya erat-erat. Wajahnya berubah datar. Kemudian tatapan matanya terdapat lintasan cahaya membunuh yang sangat kuat. Sangat menggerunkan siapa saja yang melihatnya. Bola mata yang Libra miliki tampak hitam pekat bagai gumpalan awan mendung penuh misteri yang tidak mudah terpecahkan.

Dua orang bodyguard pengawal Leo terkesiap melihat tatapan itu, mereka seperti pernah melihatnya. Tapi dimana?

Sementara orang lain yang ada di situ ada yang bersorak, tapi lebih banyak yang ketakutan. Mereka yang ketakutan itu sudah mengetahui keanehan pada diri Libra.

Dendam berkarat

"Ibu akan cerita semua padamu, tapi bisakah kau berjanji satu hal

pada ibu? "

Libra menatap ibunya lama, lalu dia mengangguk.

"Baiklah bu aku harus berjanji apa? "

"Berjanjilah pada ibu kau tidak akan menaruh dendam pada keluargamu nantinya, maukah kau melakukanya? " Kata jamilah lalu ia melanjutkan.

"Ingatlah seandainya kejadian pada masa itu tidak pernah terjadi, maka aku tidak akan pernah menjadi ibumu, apakah kau menyayangiku? " Tanya jamilah.

Kemudian libra menatap ibunya dengan haru yang juga sedang menatapnya dengan tajam.

"Tentu bu, aku sangat menyayangimu kenapa Ibu bertanya seperti itu? "

Tanya libra. Sedangkan jamilah hanya menatap senyum padanya.

"Baiklah sekarang dengar baik baik"

Kata jamilah. Kemudian dia menceritakan semuanya dengan se upaya mungkin agar libra tidak menaruh dendam pada keluarganya.

# # #

Di tempat lain.

Daris pratama, kakek dari leo andika begitu terkejut begitu anak buahnya menceritakan seorang anak yang wajah dan tatapannya sangat mirip dengannya.

'apakah anak itu cucu yang sudah di buang dari keluarga ini dulu? mungkinkah dia tumbuh besar menjadi seorang yang tangguh dan kuat? seandainya benar, maka aku sangat menyesal '

gumamnya dalam hati.

Kemudian Daris pratama menoleh pada anaknya Arya pratama yang ada di sebelahnya lalu mengatakan; " Apa kau masih ingat pada siapa kalian memberikan bayimu dulu? Coba selidiki anak ini dan cari tau di mana dia berada" Kata daris.

"Aku masih ingat, tapi lebih mudah mencarinya melalui sekolah itu, kita bisa mendapatkan identitas dan informasi di mana dia tinggal" Balas arya.

"Bagus, cepat kerjakan" perintah Daris lagi.

# # #

Di tempat lain. Libra mengepalkan jarinya di bawah meja, ia menahan perasaan bergejolak tak menentu di dalam hatinya, ada sedikit perasaan dendam berkarat yang tersemat di dalam sana. Tapi dengan sedaya upaya dia menyembunyikan perasaannya dari tatapan mata ibunya.

' Jadi kalian membuang ku ya?

baiklah, akan ku tunjukkan, kalau aku

bisa hidup tanpa kalian, ku harap

kalian tidak datang mencariku '

Gumam libra dalam hatinya.

Sedangkan ibunya terus menatap wajahnya seakan mencari sesuatu dari matanya. Tapi libra sangat lihai menyembunyikan perasaan dalam hatinya, dia tidak mau membuat ibunya merasa khawatir karena memikirkannya.

Satu bulan kemudian

bertepatan dengan hari ibu. Dalam sekolah libra mengadakan pertunjukan bagaimana cara seorang anak bisa mengenali tangan ibunya dengan mata yang tertutup, acara itu di ikuti oleh semua siswa. Leo juga ada di sana mengikuti pertunjukan itu, setelah dia di terima di sekolah itu satu bulan yang lalu. Dan dia sudah tidak berani lagi mencari gara gara dengan libra.

Libra tidak peduli dengan itu, dia jenis orang yang tidak pernah peduli pada orang lain selain ibunya. Setiap murid di tutup matanya begitu juga dengan ibu mereka, mereka harus memilih dan mencari tangan ibu mereka yang sedang berbaris berdiri sambil mengulurkan tangannya tanpa boleh bersuara.

Penyelenggara memberikan jangka waktu akhir, dan menentukan siapa yang pemenangnya. Dan di saat akhir dari sekian banyak tangan yang terulur untuk di kenali oleh anaknya, hanya libra yang mampu menemukan tangan ibunya.

Alangkah bahagia seorang ibu yang dapat di kenali seorang anak walau

dia tidak melihatnya. Semua ibu menatap kagum pada libra hingga seorang penyelenggara memberanikan diri untuk bertanya padanya.

"Bagai mana caramu bisa mengenali tangan ibumu? "

Libra diam sesaat, lalu tersenyum dan berkata ; " Tangan itu yang selalu menjaga dan membelaiku sejak aku masih kecil. Tangan itu juga yang selalu menyuapkan makanan ke mulutku, dan tangan itu jugalah yang memberikan kasih sayang padaku. Bagai mana bisa aku melupakan tangan itu? "

Tepuk tangan bergemuruh menggema

seisi sekolah mendengar jawaban libra.

Mereka merasa salut dan kagum pada nalurinya. Sedangkan jamilah, dia begitu terharu begitu mendengar jawabannya.

"Aku sangat menyayangimu nak"

Tak terasa air matanya mengalir bersama isak tangis yang keluar dari rongga mulutnya, seraya memeluk anak yang dari kecil sudah di besarkannya. Anak yang dulunya tak di inginkan oleh keluarganya tak di sangka telah jadi anugrah bagi dirinya.

Di sudut lain. Seorang wanita yang cantik sedang menatap sayu, ia begitu iri pada wanita yang mampu di kenali oleh seorang anak yang dulu telah

terlahir dari rahimnya. Setitik air mata mengalir dari sudut matanya melintasi pipi dan berakhir jatuh di lantai. Sejuta penyesalan tercermin di wajah cantiknya, andai saja waktu itu dapat kembali mungkin dia tidak akan lagi melakukan kesalahan yang dulu pernah terjadi.

Tapi itu sudah terlambat, delapan belas tahun telah cepat berlalu. Anak yang dulu ia lahirkan telah tumbuh besar menjadi menjadi seorang anak yang sangat berbakti. Dia sangat menyayangi orang yang telah membesarkannya. Hanya duka dan air mata yang kini ia rasakan sebagai wanita yang telah mengandung dan melahirkannya.

' Maafkan ibu nak ' dia bergumam dalam hatinya.

Dia adalah Naira, ibu kandung dari libra. Berapa minggu yang lalu pihak keluarga suaminya telah mencari dan menemukannya, itu atas perintah dari

ayah suaminya, Daris pratama. Dialah wanita yang telah mengandung anak itu, tapi kini dia hanya bisa terpaku menatap anak yang dulu pernah di buang oleh keluarganya. Sebenarnya itu bukan kemauannya, hanya saja dia mengalah oleh keluarga dan dorongan suaminya.

"Bu.. kenapa ibu menangis? "

Tanya seorang gadis kecil yang telah memegang tangannya. Dia hanya diam membisu sambil menatap gadis kecil itu tanpa mampu mengatakan apapun.

Dea siska pratama namanya, gadis kecil itu adalah anak kandungnya, dia adalah adik dari leo dan libra. Tanpa dia sadari, tangan yang kekar tapi penuh kasih sayang telah menyentuh bahu dari belakang tubuhnya. Dia adalah Arya pratama, suami yang sangat mencintainya. Dan karena cinta yang sangat dalam itulah, dia rela memberikan anaknya pada wanita yang lain. Dia lebih rela kehilangan anaknya dari pada kehilangan istrinya.

"Apa kau ingin menemuinya? " tanya arya padanya, seakan dia mengerti apa yang ada di dalam benak istrinya.

Naira menoleh, lalu dia mengangguk,

kemudian dia mengatakan.

"Apa kita tidak malu untuk menemuinya? "

"Tidak" balas Arya, seraya menggelengkan kepalanya.

" Tidak ada batas untuk kita menemuinya, walau belum tentu dia

menerima kita tapi darah yang mengalir padanya adalah milik kita "

sambung arya.

Kemudian arya menuntun naira mendekati libra dan ibunya di ikuti oleh dea di belakang mereka. Sedangkan leo, dia hanya menatap kesal dari kejauhan, walaupun dia sekarang tau kalau libra adalah adik kembarannya. Tapi hatinya belum bisa untuk menerimanya.

Sebelum arya dan naira menyapa libra

dan ibunya, jamilah lebih dulu melihat mereka dan langsung menyapanya.

"Tuan.. nyonya" sapan jamilah sambil tersenyum.

"Jangan panggil saya nyonya, panggil saja nama saya" balas naira tersenyum.

Dia tidak mau menimbulkan jarak di

antara mereka yang bisa menjadikan kesan buruk di hati libra. Dia ingin

mendekati libra selayaknya seorang ibu

seutuhnya pada anaknya.

Sedangkan libra hanya diam menatap naira, sebagai manusia. Ada ikatan perasaan batin yang takkan pernah lepas antara seorang ibu dan anaknya.

Dia tak mampu berbuat apa apa selain

menatap tajam kearah wanita cantik yang ada di hadapannya. Mereka belum mengatakan apapun padanya.

Tapi hati dan nalurinya telah mengatakan, kalau wanita itu adalah ibunya.

Bersambung

bertemu orang tua kandung

* ibu kandungku terlihat seperti wanita yang baik, tapi kenapa dia tidak menginginkan ku? mungkinkah ada hal yang membuat dia melakukannya atau terpaksa, kalau memang benar. Siapa orang yang membuatku terbuang dari keluarga itu, seandainya saja aku tau, aku akan membuatnya menyesal

seumur hidupnya *

Kemudian libra beralih menatap seorang pria yang sedang berdiri di sebelah wanita yang telah dia yakini sebagai ibu kandungnya.

* Orang ini mungkin ayah kandungku aku merasa ada sedikit kemiripan wajahku dengannya, tapi anak laki yang hampir saja ku bunuh waktu itu jauh lebih mirip dengannya. Mungkin benar kata orang itu, pemuda itu adalah saudaraku. Tapi selama dia tetap memandang rendah padaku, aku juga tidak akan pernah menganggap dia sebagai saudaraku. Bukankah dulu mereka telah membuang ku?, Aku sudah terbiasa hidup sendiri bersama ibuku. Mereka itu tidak begitu berarti sama sekali dalam hidupku *

Libra terus bergumam di dalam hatinya, sampai pada saat ibunya menyentuh bahu hingga mengejutkannya. Dia lalu menoleh ibunya yang sedang tersenyum sambil memegang bahunya kemudian ia mengatakan ;

" Kau harus tau siapa orang tua kandungmu nak, orang yang sedang berdiri di hadapanmu inilah, ayah dan ibu kandungmu". Kata jamilah

Libra tidak tau harus berkata apa, dia

merasa canggung. Karena memang baru sekali ini dia bertemu dengan kedua orang tua kandungnya.

" Bawalah dia datang ke rumah kak" sambil tersenyum naira berkata pada jamilah.

"Ya.. nanti aku akan membawanya kesana" balas jamilah tersenyum ramah kearah naira.

Satu minggu sudah berlalu. Sekarang jamilah sedang membawa libra pergi menemui kedua orang tua kandungnya.

Sebenarnya libra sangat malas untuk pergi, tapi jamilah terus saja memaksa dirinya untuk pergi bersamanya.

Untuk menjaga perasaan ibunya, libra terpaksa mengalah dan dia tidak berani menolak kemauan hati ibunya.

Setibanya sampai di depan pintu gerbang rumah orang tua kandungnya. Libra merasa terkesima dengan rumah yang begitu luas dan besar, yang ada tepat di hadapannya.

Rumah itu sangat besar megah dan mewah.

Dari dalam pos penjaga pintu gerbang

yang ada di dalam. Terlihat enam orang bertubuh kekar menatap sinis dan bertanya seakan mengintimidasi .

Libra juga menatap tajam kepada enam orang itu. Setelah jamilah menjelaskan maksud kedatangan mereka, seorang penjaga telah

membukakan sedikit pintu gerbang itu

padanya.

Kemudian dia masuk terlebih dulu. Dan

dari luar libra menyempatkan untuk mengintip ke dalam, terlihat ada banyak mobil mewah yang berjejer di sana.

' Nampaknya sedang banyak tamu

di rumah ini ' pikir hatinya.

Lalu dia menghidupkan motornya untuk di bawa masuk , tapi seorang penjaga mencegah dan melarang Libra untuk membawa motornya masuk kedalam.

Dia mulai kesal dan marah pada keenam orang penjaga itu.

* Kalau saja aku tidak datang bersama dengan ibuku aku pasti akan menghajar kalian karena dua

kesalahan.

Pertama ; kalian berani menatap rendah padaku.

Kedua; kata kata kalian membuat ibuku takut.

Dengan semua kesalahan itu aku bisa mencongkel mata dan menghancurkan kaki kalian hingga remuk. Hari ini kalian bernasib baik tapi tidak untuk lain kali *

Libra menggerutu dalam hatinya dengan tangan gemetar, lalu dia mencoba untuk meredam kemarahannya untuk kali ini.

Kemudian dia menghidupkan motor lalu membawanya masuk melewati ibunya yang sedang berjalan. Tanpa mempedulikan enam penjaga yang sedang mencegahnya, keenam penjaga itu terlihat marah. Tapi terhenti ketika mendapat tatapan yang tajam dari matanya.

Keenam penjaga itu begitu terkejut mengingat sebuah tatapan yang begitu mematikan dari seseorang. Dan tatapan itu sekarang ada pada seorang pemuda yang ada di hadapan mereka.

Setelah di dalam, libra memarkirkan motornya di samping mobil mobil mewah yang telah terparkir rapi, dia tidak merasa malu sama sekali memarkirkan motornya di samping

mobil mobil mewah itu.

Tak lama setelah itu pintu gerbang kembali terbuka lebar, lalu masuklah

sebuah mobil mewah yang kemudian

berhenti tepat di samping motor libra.

Seorang gadis yang cantik turun begitu sombong dari mobil itu sambil menatap sinis kearahnya.

* Siapa pemuda gondrong ini, berani

sekali dia meletakkan motor busuknya

di deretan mobil kami* gumamnya.

"Hei.. siapa kau, beraninya kau memarkirkan motormu di sini, cepat singkirkan motormu itu dari tempatku" hardiknya.

Libra tetap berdiri tanpa bergerak dari tempatnya, dia merasa sedikit marah

dan tak peduli oleh ocehan gadis itu.

Hatinya sedikit bergetar menahan marah, dan wajahnya berubah sagat dingin, matanya menatap sangat tajam kearah gadis itu.

' ingin sekali aku mencekik tenggorokannya hingga pecah '

batinnya.

Gadis itu drastis terdiam, nyalinya menjadi ciut melihat tatapan pemuda yang ada di hadapannya.

' Bola mata itu.. aku seperti merasa tidak asing dengan tatapan bola

mata itu '

Gumamnya di hati sambil sedikit bergidik.

Sedangkan libra, dia dengan cepat menyembunyikan kemarahan di hatinya, dia kembali berwajah kalem saat menyadari ibunya telah berada di sebelahnya.

"Maaf nona, kami datang atas undangan tuan rumah ini" Jamilah tersenyum ramah dan merendah di hadapan gadis itu.

Sementara Libra mengeraskan rahang dan giginya karena marah, ia tidak suka melihat ibunya merendahkan diri di depan orang lain.

"Sudahlah bu, ayo kita pulang saja" kata libra kesal.

Jamilah tersenyum sambil memegang

kepalanya.

"Tidak boleh begitu nak, kita sudah sampai di sini" kata ibunya, dan dengan berat hati Libra terpaksa mengikuti kemauan ibunya.

"Siapa kalian kenapa ibuku mengundangmu ? " tanya gadis itu.

"Nama saya jamilah nona, dan dia

Libra anak saya, seminggu yang lalu

ibumu mengundang kami untuk datang

kemari" Balas jamilah.

Gadis itu mengeryitkan dahinya lalu

berkata.

"Hari ini ada pertemuan para tetua,

tapi karena kalian di undang oleh ibuku,

mari silakan ikut aku masuk"

Gadis itu mempersilahkan Libra dan

ibunya masuk, kemudian mereka bersama berjalan masuk kedalam rumah. Sambil berjalan gadis itu telah mengatakan kalau hari ini adalah hari pertemuan tahunan para tetua.

Setiap tahunnya, mereka akan mengadakan sebuah pertandingan bertarung antar generasi. Wajah Libra

jadi sumringah begitu mendengarnya, dia sangat suka tentang perkelahian.

Sepanjang berjalan, dia terus memerhati setiap jengkal rumah itu.

' Mereka ini benar benar keluarga yang

sangat kaya ' batinnya.

Setelah berapa lama mengikuti gadis itu yang berjalan di depan mereka.

Akhirnya mereka sampai pada lokasi yang agak lumayan lebar di belakang rumah itu.

Saat itu, ada dua kelompok orang

yang mencakup pria dan wanita sedang duduk di kursi saling berhadapan di setiap sisi lapangan.

Dan di tengahnya, terdapat dua orang pemuda yang sedang bertarung untuk saling mengalahkan.

Mereka itu adalah dua kelompok yang berbeda, masing masing adalah generasi penerus dari dua tetua yang bekerja sebagai mafia.

Dari jauh Libra mengenali seorang pria yang dia tau adalah ayahnya, dia juga melihat ibu kandungnya duduk di sebelahnya.

Libra dan ibunya duduk di teras belakang rumah itu sambil menyaksikan kegiatan tahunan yang

berada tidak jauh di hadapan mereka.

Sedangkan gadis itu terus berjalan mendekati naira, lalu entah membicarakan apa kemudian mereka

menoleh ke arah Libra dan jamilah.

Naira tersenyum cerah menatap ke arah libra. Kemudian dia berdiri dan berjalan menghampiri libra dan jamilah.

"Hai kak.. maaf aku tidak melihatmu dan libra duduk di sini" katanya ramah sambil tersenyum bahagia.

"Oh tidak apa naira, kami juga baru

sampai dan duduk di sini" balasnya.

"Gadis cantik itu yang membawa kami masuk kesini, tadi kami bertemu dengannya saat di depan"

Lanjut jamilah sambil menatap gadis yang tadi telah membawa mereka.

Naira menoleh kearah orang yang di maksud jamilah, kemudian ia tertawa kekeh sambil mengatakan ;

"Dia itu Arumi anak sulung ku kak"

"Wah.. pantesan cantik seperti ibunya"

kata jamilah sambil tersenyum memuji.

"Sudah kak, ayo kita duduk di sana"

Sambil tetap terkekeh, naira membawa libra dan ibunya untuk duduk bersama

dalam kelompok mereka.

bersambung.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!