NovelToon NovelToon

Suami CEO

Kiara

Seorang gadis tengah sibuk membereskan beberapa pakaian yang berserakan di lantai. Pakaian-pakaian itu adalah barang dagangan di toko kecilnya.

"Mbak Kiara, mbak istirahat dulu saja. Biar dan Via yang membereskannya nanti!" pinta Arin pada gadis manis bernama Kiara itu. Arin juga tak senggang. Dia juga tengah membungkus pesanan para pelanggan yang memesan secara online.

"Iya mbak biar kami saja yang beresin!" sahut Via dari luar ruangan. Di kedua tangan menenteng bungkusan makanan untuk makan siang mereka.

"Sudah tidak apa-apa kok. Lagian aku juga perlu membantu kalian," jawab Kiara santai. Via dan Arin hanya saling beradu pandang dan berakhir dengan menghembuskan napas panjang. Keduanya sudah hafal dengan sikap bos mereka itu.

Kiara Martina, gadis manis dengan lesung di kedua pipinya. Gadis yang mandiri dari usianya yang masih belia. Berkat kegigihannya dia kini memiliki sebuah toko pakaian sendiri. Meski masih terbilang kecil namun cukup untuk menghidupi dirinya dan dua karyawannya itu. Mereka berjualan secara online maupun offline. Dari hasil penjualannya Kiara bisa menabung sedikit demi sedikit untuk masa depannya kelak.

Kiara bukanlah anak tunggal. Dia memiliki adik tiri bernama Rena. Ibu tirinya bernama Sinta dan ayah kandung yang selalu sibuk bekerja,Tanan. Namun hubungan Kiara dan keluarganya tak terlalu baik. Kiara sering mendapatkan perlakuan tak adil dari ibu tirinya,dan juga dari Rena. Sedangkan sang ayah hanya menutup mata atas perbuatan mereka.

Kiara menjadi pribadi yang pendiam dan tidak lagi ceria di rumah itu sejak sang ibu meninggalkannya. Di tambah siksaan dari ibu tiri dan juga adiknya membuat gadis itu semakin terpuruk.

"Arin,Via ayo istirahat dulu!" ajak Kiara pada kedua pegawainya. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Saatnya mengisi tenaga terlebih dahulu.

"Baik mbak!" jawab keduanya bersamaan. Mereka juga sudah lelah dan lapar. Via dan Arin mendekat ke tempat duduk di salah satu sudut ruangan itu. Di sana Kiara sudah menunggu. Kiara membuka bungkusan plastik berisi makanan yang tadi di beli oleh Via atas perintahnya. Kiara membagikan makanan itu untuk ketiganya.

Ketiganya mulai menikmati makan siang mereka. Tak ada rasa canggung antara Arin,Via dan Kiara. Meski gadis itu adalah bos mereka. Namun Kiara meminta sendiri agar kedua pegawainya bisa bersikap seperti sahabat bagi Kiara. Bahkan Kiara juga menganggap keduanya keluarga sendiri.

Arin dan Via terharu atas perlakuan Kiara pada mereka. Keduanya merasa nyaman saat bersama Kiara.Keduanya juga tahu bagaimana kehidupan keluarga Kiara. Gadia itu lebih sering berada di toko pakaian dari pada di rumah ayahnya.

Setelah lulus dari sekolah menengah akhirnya, Kiara fokus ke tokonya. Dia belum bisa melanjutkan pendidikannya kembali karena keterbatasan biaya.

Meski ayah gadis itu orang yang cukup kaya.,tak lantas dengan mudah Kiara mendapatkan biaya kuliahnya. Karena semua keuangan di pegang oleh ibu tirinya. Kiara hanya bisa berharap penghasilan dari usahanya sendiri. Selama toko itu baik-baik saja. Kiara akan tetap semangat mengumpulkan uang untuk kuliah nantinya.

Klinting!

Suara lonceng di depan pintu masuk toko berbunyi. Kiara dan kedua pegawainya menoleh ke arah sosok pria yang masuk ke toko barusan. Pria tinggi dengan tubuh tegapnya. Kedua matanya menyapu sekitaran isi di dalam toko itu. Kiara yang sudah menghabiskan makanannya segera berdiri untuk menyambut pelanggan barunya itu.

"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Kiara pada pemuda yang terlihat seusianya itu. Kiara mengenali siapa pria itu, dia Arman. Teman satu sekolah Kiara dahulu. Meski Arman tak mengenali penampilan Kiara saat ini. Tapi tak mungkin Kiara lupa dengan pria itu. Pria yang menjadi idola di satu sekolah saat itu. Arman membalas Kiara dengan senyuman, dia terlihat bingung dan juga terburu-buru.

"Saya sedang mencari pakaian untuk keponakan saya, usianya sekitar lima tahun. Apakah toko ini ada rekomendasi yang bagus untuknya?" tanya Arman sambil mengedarkan pandangannya ke arah pakaian anak yang tertata rapi tak jauh dari dirinya berdiri saat ini.

"Oh tentu saja, kami memiliki banyak koleksi baru untuk anak-anak. Silahkan ke arah sini tuan," ucap Kiara sopan. Arman mengangguk dan mengikuti langkah Kiara menuju deretan pakaian anak-anak. Arman mulai memilah-milah beberapa setel pakaian anak-anak. Kiara juga tak lupa membantu merekomendasikannya pada Arman.

Setelah selesai memilih, Arman memberikan pakaian itu pada Kiara untuk di bungkus terlebih dahulu. Kiara berjalan menuju meja kasir dan segera membungkus pesanan milik Arman itu. Dari tempatnya duduk dua pegawai Kiara tak berhenti memperhatikan Arman. Keduanya tersihir oleh ketampanan pria itu. Idola sekolah dimasanya, bahkan sampai saat ini pun masih menjadi idola bagi para gadis yang melihatnya.

Kiara hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah kedua pegawainya itu. Sedangkan pria yang mereka perhatikan tengah sibuk menelepon.

"Berapa total semuanya ya mbak?" tanya Arman saat dia selesai menelepon kepada Kiara. Pria itu benar-benar tak memperhatikan wajah Kiara. Dia tak mengenali Kiara saat ini. Di dalam hati Kiara hanya tertawa geli.

"Bagaimana mungkin dia bisa mengingat gadis culun sepertiku?" gumam Kiara di dalam hati.

"Tunggu apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Arman saat tak sengaja memperhatikan wajah Kiara. Gadis itu menghentikan kegiatan membungkus pesanannya.

"Sepertinya belum pernah tuan," jawab Kiara sambil melemparkan senyum manisnya. Arman hanya mengangguk kecil sebagai tanda dia mengerti.

"Totalnya lima ratus ribu rupiah tuan," Kiara menyodorkan pesanan Arman beserta total yang harus dia bayarkan. Arman segera mengambil uang dari dompet dan segera membayarnya.

"Terima kasih, semoga puas berbelanja di sini," ucap Kiara ramah. Arman tersenyum dan segera keluar dari toko itu. Kiara merasa lega bisa terbebas dari pandangan Arman yang penasaran pada dirinya. Salah satu kelemahan Kiara adalah dia merasa tidak percaya diri saat bertemu dengan pria tampan seperti Arman.

Arin dan Via segera berlari ke arah Kiara. Keduanya penasaran dengan siapa pria itu, terlihat begitu akrab dengan Kiara. Dan juga dari tatapan mata Kiara, sepertinya bos mereka itu mengenalnya.

"Mbak tampan banget sih pria tadi, mbak Kiara mengenalnya ya? Kenalin ke kita dong!" pinta Arin penasaran.

"Nggak kok, mbak nggak kenal," bohong Kiara, dia enggan menanggapi celoteh kedua pegawainya itu. Mereka bisa khilaf jika bertemu pria tampan.

"Yah sayang sekali, padahal aku pengen kenal sama dia mbak," gerutu Arin.

"Udah-udah kembali kerja dulu, jangan mikirin pria tampan lagi," ajak Kiara mengakhiri khayalan dua pegawainya itu. Keduanya mengangguk dan kembali mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Kiara hanya bisa menggelengkan kepalanya,ketika melihat dua orang yang sudah bersamanya selama lima tahun itu. Merekalah yang memberi semangat untuk Kiara.

Inikah Keluarga

Rasa lelah tak membuat Kiara mudah mengeluh. Setelah memastikan pesanan terkirim seluruhnya. Dan telah menutup toko malam ini,Kiara harus segera pulang ke kostnya. Gadis itu memilih keluar dari rumah besar peninggalan sang ibu lantaran tak kuat lagi menahan siksaan batin dan fisik dari saudara dan ibu tirinya. Kiara harus mendapatkan fitnah keji dari kedua orang itu. Kiara di fitnah mencuri kalung milik adik tirinya. Dan lebih parahnya lagi sang ayah lebih mempercayai mereka dari pada Kiara, putri kandungnya sendiri.

Satu tahun yang lalu dia memilih pergi dari rumah. Ayahnya bahkan tak mencegahnya sama sekali. Atau hanya sekedar mengatakan pada Kiara agar tetap tinggal. Dan di sebuah rumah kecil kini gadis itu tinggal. Dengan membayar sewa setiap bulannya.

Sebenarnya Kiara berfikir ingin tinggal di toko. Namun tempat itu tak lagi bisa memuat dirinya. Dia hanya bisa berhemat untuk hidupnya, agar tetap bisa bertahan.

Di tempat berbeda, sebuah rumah besar. Duduk tiga orang yang tengah saling berhadapan. Dari tatapan salah satu dari mereka penuh dengan kemurkaan. Seorang pria yang tak lagi muda, usianya sudah hampir mendekati kepala lima. Namun dia masih saja harus bekerja keras untuk keluarganya. Tanan Aditya, seorang pemegang kekuasaan tertinggi di salah satu perusahaan tekstil yang sedang berkembang di kotanya. Dia tengah pusing memikirkan perusahaannya yang hampir kolaps. Di depannya duduk sang anak dan istri keduanya.

Gadis bernama Rena tengah melipat kedua tangannya di depan dada sambil menunjukkan wajah yang enggan. Dia baru saja menolak permintaan sang ayah. Yang memintanya untuk menikah dengan putra salah satu rekan bisnis Tanan. Bagi Rena perjodohan itu tidak bisa membuatnya bahagia. Apalagi calon suami yang akan di jodohkan dengannya adalah pria yang tengah koma karena kecelakaan.

"Rena, ayah minta kamu menerimanya, meski belum bisa menikah setidaknya bertunangan terlebih dahulu," pinta sang ayah kembali, Tanan mencoba membujuk Rena.

"Rena tidak mau ayah, apa ayah tega melihat Rena menikah dengan pria cacat dan koma itu. Mau di taruh dimana muka Rena ayah dihadapan teman-teman Rena nanti?" bantah Rena mentah-mentah.

"Baik! Kalau kamu tidak mau, jangan salahkan ayah jika rumah dan aset-aset kita di sita oleh pihak bank!" ancam Tanan pada putrinya. Dia sudah pusing memikirkan perusahaannya yang sekarang berada di ujung tanduk.

"Apa maksud ayah?" tanya Rena tidak mengerti.

"Perusahaan ayah tidak stabil saat ini, dan ayah butuh dana dari perusahaan yang lebih besar. Kebetulan rekan bisnis ayah menginginkan menantu yang mau merawat cucunya. Kamu anak ayah. Bisakah menerima permintaan ayah kali ini Rena?" jelas Tanan. Rena menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bukan ini yang dia inginkan. Dalam pikiran Rena hanya ada kekasihnya. Dia tidak mau menikah dengan pria cacat bahkan koma juga.

"Tapi ayah, Rena-" keluh Rena. Sinta hanya bisa merangkul sang putri. Dia tidak ingin putrinya menderita tapi juga tidak mau menjadi orang miskin karena kehilangan semuanya.

" Sayang, berikan Rena waktu untuk memikirkannya, aku akan membujuknya nanti." Sinta hanya bisa melakukan hal itu saat ini. Menenangkan keduanya terlebih dahulu.

"Baiklah, ayah akan memberi waktu kamu tiga hari untuk memikirkannya baik-baik. Ayah harap kamu tidak akan mengecewakan ayah," ucap Tanan sambil pergi meninggalkan keduanya.

Tiga hari kemudian, saatnya Rena memberikan jawabannya. Namun dari pagi tadi Tanan tak melihat putrinya itu.

"Sayang, dimana Rena?" tanya Tanan pada Sinta. Wanita itu terkejut mendengar pertanyaan dari suaminya. Dia sudah menyembunyikan kekhawatirannya sedari tadi. Karena Rena sudah tak berada di rumah sejak tadi pagi.

"Sayang, kamu tenang dulu. Sebenarnya Rena sudah tidak ada di rumah sejak pagi tadi. Aku sudah menghubunginya namun tidak bisa sayang," jelas Sinta dengan rasa takut. Dia sangat takut jika suaminya itu akan marah besar.

Kedua mata Tanan memerah dalam sekejap. Dia harusnya mendapatkan jawaban setuju dari putri keduanya itu saat ini. Karena nanti malam Tanan harus membawa putrinya ke rumah calon menantunya. Tanan menggebrak meja di depannya, membuat Sinta sangat terkejut.

"Kemana dia? Apa dia semalam tidak pulang lagi?" sentak Tanan. Sinta sudah tak berselera menyantap makanannya. Dia segera menghampiri suaminya. Duduk di pangkuan Tanan, berharap bisa menenangkan pria itu.

"Sayang kamu jangan marah dulu. mungkin Rena ada perlu dengan teman-temannya. Hal wajarlah untuk anak jaman sekarang bergaul di luar sana," jelas Sinta.

"Kamu selalu membelanya, cepat hubungi dia kembali. Suruh dia pulang!" perintah Tanan, pria itu memegang kepalanya yang mulai terasa pusing kembali.

"Iya sayang," Sinta menjawab sambil mencium bibir Tanan. Namun pria itu tak menghiraukannya.Tanan malah mendorong Sinta agar tidak duduk di pangkuannya. Dia memutuskan untuk segera kembali ke perusahaannya. Banyak masalah yang terjadi di sana. Keadaan perusahaan mulai kacau.

Pria itu merasa sangat berat melangkah, satu-satunya harapan adalah perjanjian pernikahan putrinya. Pihak dari keluarga besan akan bersedia membantu perusahaan milik Tanan jika putrinya mau menjadi menantu di keluarga itu.

Dering ponsel di atas meja ruang kerja milik Tanan membuatnya harus menghentikan pekerjaannya untuk sementara. Tertera di layar ponsel nama istrinya. Tanan segera mengangkat telepon itu.

"Halo, ada apa?" tanya Tanan.

" Halo sayang, gawat Rena tidak bisa di hubungi dan aku menemukan surat di bawah bantal tidurnya. Dia tidak mau di jodohkan dan memilih pergi dari rumah. Bagaimana ini, anakku Rena!" suara Sinta yang tengah menangis terdengar jelas di telinga Tanan.

Dia segera menutup telepon dari istrinya dan menyahut kunci mobil miliknya. Dia ingin mendatangi sebuah tempat yang sering Rena kunjungi. Barangkali putrinya ada di sana.

Tanan menyusuri jalanan, namun seseorang yang sudah lama tidak dia lihat,tiba-tiba melintas tak jauh dari mobilnya saat ini. Kiara dengan motor matic kesayangannya tengah melaju pelan di samping mobil Tanan. Gadis itu tidak menyadari bahwa dia berada dekat dengan sang ayah. Hingga suara pria itu memanggil dirinya.

"Kiara!" panggil Tanan dari balik jendela mobil yang telah dia buka. Kiara segera menoleh ke arah sumber suara.

Tepat di persimpangan jalan kecil, Kiara terpaksa harus berhenti. Karena mobil sang ayah tiba-tiba menghalanginya. Kiara enggan bertemu dengan sang ayah. Kenapa tiba-tiba saja dia ada di sekitarnya.

"Kiara!" panggil Tanan sambil berlari mendekati putrinya.

"Ayah," gumam Kiara pelan, dia masih berada di atas motornya.

"Akhirnya ayah menemukanmu! Cepat ikut ayah pulang ke rumah!" ajak Tanan.

"Tidak ayah, Kiara tidak mau pulang! Untuk apa Kiara pulang kalau ayah tidak pernah peduli sama Kiara!" hal yang ingin sekali Kiara katakan dari dahulu. Namun tak pernah berani dia ucapkan.

Kakek Andara

Tanan tercekat dalam diam,dia mengingat semua yang pernah dia lakukan pada putrinya itu. Dia yang tidak peduli dengan Kiara saat gadis itu mendapatkan perlakuan buruk dari saudara dan ibu tirinya. Tapi siapa lagi yang bisa membantu Tanan kali ini. Jika mengharapkan Rena, bahkan gadis itu pergi entah kemana. Salah satu harapan saat ini adalah Kiara. Meski Tanan tahu tak pantas baginya untuk memohon pada Kiara. Namun demi perusahaan keluarga dia harus membuat Kiara menyetujuinya.

Tiba-tiba Tanan berlutut di depan Kiara. Gadis itu terkejut melihat apa yang tengah di lakukan ayahnya.

"Kiara, tolong kali ini saja bantu ayah. Demi perusahaan dan keluarga kita. Ayah mohon ikutlah dengan ayah!" pinta Tanan pada Kiara. Gadis itu tak mengerti maksud dari ayahnya.

Kiara menggelengkan kepalanya dan juga membuang muka, sambil tersenyum kecut. Dia tidak ingin kembali untuk saat ini. Rumah yang seharusnya menjadi kenangan baginya dan ibu kandungnya harus menyisakan luka yang begitu dalam bagi Kiara.

Kiara kira ayahnya memintanya pulang karena pria itu merindukannya. Namun ternyata hanya karena alasan perusahaan saja. Pikiran Kiara terlalu berlebihan, menganggap dirinya begitu penting bagi keluarganya saat ini.

"Maaf yah, Kiara tidak bisa menuruti ayah kembali. Lebih baik ayah meminta pada Rena saja, putri kesayangan ayah!" ucap Kiara sambil kembali menghidupkan motor maticnya. Kiara segera melajukan kendaraannya, meninggalkan Tanan begitu saja. Dia tampak begitu kecewa, tapi Tanan memang tak pantas untuk memaksa Kiara setelah apa yang telah terjadi.

Kiara tidak habis pikir,bagaimana dia dimata sang ayah. Kenapa pria yang seharusnya menyayangi dirinya. Malah tega ingin menukarkan dirinya demi perusahaan keluarga.

"Ayah, Kiara selalu menyayangimu. Tapi kenapa ayah seperti sangat jauh dari Kiara. Kiara rindu yah, saat kita bertiga seperti dahulu bersama ibu," batin Kiara sambil mengendarai motornya.

Karena tidak fokus, Kiara tak menyadari bahaya yang akan menerpanya. Sebuah mobil hendak mendahului motornya. Namun tak sengaja menyenggol bagian belakang motor yang di kendarai Kiara. Alhasil Kiara kehilangan keseimbangannya. Gadis itu segera reflek membanting setirnya ke kiri. Dia terpaksa jatuh di rerumputan dan itu lebih baik dari pada jatuh di jalanan beraspal itu.

"Aduh gimana sih mengendarai mobilnya?" gerutu Kiara sambil mencoba berdiri. Kakinya sempat tertindih body motor miliknya. Namun dia masih bisa berdiri. Pria dari mobil itu melihat Kiara yang terjatuh karena tak sengaja tersenggol mobilnya. Dia segera menepikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu segera menghampiri tempat dimana Kiara terjatuh.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya pria paruh baya itu. Kiara menatap ke arahnya. Meski rambut pria di hadapannya itu sudah memutih namun tubuhnya masih terlihat bugar dan gagah. Terlihat lebih muda dari usianya.

"Ah saya baik-baik saja, kenapa kakek menyetir sendiri tanpa sopir?" tanya Kiara pada kakek itu.

"Maaf saya tidak sengaja, saya sedang terburu-buru. Bagaimana kalau saya bawa kamu ke rumah sakit terdekat dahulu," ajak sang kakek.

"Sudah kek, tidak perlu. Saya baik-baik saja, lagi pula kakek juga tidak sengaja kok," jawab Kiara.

"Kamu yakin nak?" tanya kakek itu lagi. Kiara menganggukkan kepalanya.

"Baiklah kalau begitu, oh iya ini kartu nama saya. Kalau merasa sakit atau apa saja karena kecelakaan ini. Kamu bisa langsung menghubungi saya saja," pinta kakek itu sambil memberikan kartu namanya pada Kiara.

Kiara menerimanya, kemudian kakek itu pamit karena dia sangat terburu-buru.

"Jangan ngebut lagi kek," pesan Kiara pada kakek yang baru saja dia temui itu. Yang kemudian di balas dengan senyuman kecil dari sang kakek sebelum masuk ke dalam mobil.

Kiara memperhatikan kartu nama yang tadi di terimanya. Tertulis sebuah nama Andara Wijaya dan sebuah alamat perusahaan Dirgantara Grup. Kiara sepertinya tidak asing dengan nama perusahaan itu.Tapi dia tidak ingat pernah membacanya dimana.

"Ah sudahlah tidak penting! Aku harus segera ke toko. Via dan Arin pasti sudah cemas karena aku belum kembali!" gumam Kiara. Dia segera memasukkan kartu nama itu ke dalam saku jaket miliknya. Dan segera melajukan motor kesayangannya itu, untung saja tidak rusak setelah jatuh tadi.

Tapi lututnya sedikit terasa nyeri . Alhasil dia harus tertatih saat berjalan dari parkiran motor menuju ke dalam tokonya. Kedua pegawainya terkejut melihat Kiara.

"Mbak Kiara kenapa?" tanya Arin yang selalu panik jika hal buruk terjadi pada Kiara.

"Cuma jatuh dari motor aja kok Rin," jawab Kiara sambil duduk di sofa di sudut ruangan itu.

"Hah kok bisa jatuh mb?" tanya Via ikut menimpali.

"Ada kakek-kakek gak sengaja nyenggol bodi motor mbak dari belakang. Untung gak kencang."

"Duh mbak, lain kali biar Via atau Arin aja yang beli makanannya. Kan jadi gini?" ucap Via merasa khawatir dengan Kiara. Gara-gara harus membeli makan siang bagi mereka. Kiara harus jatuh kayak gini.

"Udah gak apa-apa. Kita kan gak tau bakal kejadian kayak gini. Yang penting mbak gak apa-apa kan sekarang," jawab Kiara menenangkan keduanya.

"Iya mbak, sini aku bantuin buka makanannya," Arin mengambil piring dan sendok lalu membantu membuka makan siang milik Kiara. Ketiganya lalu makan bersama siang itu.

Tapi Kiara tidak terlalu berselera menyantap makan siangnya. Dia teringat oleh ayahnya yang tadi tiba-tiba menghadangnya. Mengapa sang ayah malah memintanya bertunangan bukan gadis manjanya yang tengah bersamanya itu. Apakah Rena kabur? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Kiara.

Lamunan Kiara harus terhenti saat sebuah pesan masuk ke ponselnya.

Kiara kamu harus pulang dan menerima pertunangan ini. Kalau tidak ayak akan berusaha apapun untuk memaksamu menyetujuinya.

Isi pesan singkat itu membuat Kiara mengerutkan keningnya. Lagi-lagi sebuah paksaan yang dia dapatkan. Dan pesan berikutnya sudah masuk kembali, sebelum Kiara membalas pesan sebelumnya. Kali ini sebuah foto yang di kirim padanya.

"Ayah kenapa kamu tega pada Kiara?" gumam Kiara, raut wajahnya berubah menjadi sangat gelisah setelah melihat foto itu. Foto sang nenek yang berada di kampung halamannya.

Jika ingin nenekmu baik-baik saja, turuti keinginan ayah. Datanglah besok pagi ke rumah kita. Ayah akan menunggumu.

Pesan ketiga membuat Kiara semakin gelisah. Arin dan Via saling memandang, mereka mencoba menerka apa yang sedang di baca oleh Kiara. Hingga membuat gadis itu terlihat sangat sedih.

"Mbak ada apa?" tanya Via. Kiara tersentak, dia segera menggelengkan kepala.

"Tidak kok Via, mbak cuma gak berselera makan saja siang ini," balas Kiara.

"Mbak yakin?" Kiara mengangguk yakin. Hingga hanya ada diam diantara mereka saat ini.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!