NovelToon NovelToon

Joe William

Joe William

Anak ini tidak biasa.

Aku akan mendidiknya di tempat pengasingan ku.

Kelak agar dia tau, seperti apa rasanya menjadi orang miskin yang terhina. Agar dia tau, bagaimana rasanya menjadi orang yang tertindas. Agar dia dapat merasakan jeritan hati orang-orang yang teraniaya.

Anak ini berbeda.

Andai dia dimanjakan dengan sutra dan emas, maka dia akan tumbuh menjadi seorang yang memiliki kekuasaan namun suka menindas orang yang lemah. Jika hal itu sudah terjadi, maka apa guna lagi untuk menyesali.

Anak ini lain.

Sebagai calon pewaris tunggal dari kekayaan yang berlimpah, maka dia harus di didik dengan benar. Karena sebagai orang yang akan menerima suatu beban di pundaknya, sudah sepantasnya harus memiliki pondasi yang kokoh. Jika tidak, dia akan ambruk dan runtuh.

Sudah banyak terjadi di sekitar kita di mana seorang anak yang tumbuh dalam kemewahan dan dimanja dengan kekayaan akan cenderung kurang peka terhadap orang di sekitarnya. Dia akan tumbuh dengan kepribadian yang akan merasa masa bodoh dengan orang-orang disekelilingnya. Memiliki keegoisan yang tinggi. Tidak mau mengalah dan kurang berimbang rasa.

Aku akan mendidik anak ini dengan kekerasan, kemiskinan, selalu tertindas, dan mengalami banyak penghinaan. Agar kelak ketika mendapat pujian dia tidak akan terbang dan tidak akan tumbang ketika mendapat hinaan.

...Malik Arvan....

...Bab 01...

...***...

...Mountain slope....

Seorang anak kecil berusia sekitar tujuh tahun tampak sedang giat berlatih.

Sesekali matanya melirik ke arah lelaki tua dengan rambut penuh uban dan tidak sehelai pun tersisa warna hitam pada rambut tersebut.

Begitu melihat lelaki tua itu lengah, anak kecil yang berusia tujuh tahun itu segera menyelinap di balik pohon pisang lalu lari terbirit-birit menuju ke perkampungan.

"Huh... Untung aku cepat lari. Jika tidak, bisa seharian aku di paksa latihan terus." Kata anak kecil itu dalam hati.

Dia terus saja berlari menjauhi gubuk reyot yang menjadi tempat tinggalnya bersama dengan seorang lelaki tua itu.

Baru saja dia tiba di sebuah tikungan, alangkah terkejutnya anak itu ketika melihat kakek nya sudah berada di antara tiga persimpangan sambil duduk ongkang-ongkang di atas sebuah tuju batu yang tidak terlalu tinggi.

"Mau kemana kau lari hah? Kau ini sama saja dengan ayah mu. Pintar mengakali orang tua. Pulang sekarang atau kau akan aku hukum dengan tidak memberimu makan malam ini." Ancam lelaki tua itu.

"Joe cape kek. Seharian di suruh latihan terus." Kata Anak kecil itu memelas.

"Jika tidak latihan, mau jadi apa kau besar nanti? Apakah mau ditindas oleh orang lain?" Tanya lelaki tua itu.

"Tidak kek."

"Kalau tidak mau ditindas, kau harus latihan. Ini baik untuk bekal mu setelah dewasa nanti." Kata lelaki tua itu.

Anak kecil yang menyebut dirinya Joe itu mau tak mau hanya menurut saja.

"Yah latihan lagi. Bosan." Katanya dalam hati.

Kedua orang kakek dan cucu itu kini berjalan bergandengan tangan. Tampak dari sorot mata anak itu bahwa dia sangat tertekan.

"Joe. Besok kau boleh main-main dengan teman mu. Tapi kau harus latihan yang benar hari ini. Bagaimana?" Tanya lelaki tua itu.

"Benar ya kek?!"

"Kapan aku pernah berbohong kepada mu hah? Dasar anak bandel."

"Hehehe... Aku percaya sama kakek." Kata anak kecil itu sambil menoel hidungnya.

"Kek. Kapan ayah dan ibu akan mengunjungi ku?" Tanya Joe sambil terus mengikuti jejak kakeknya itu.

"Ayah mu sedang sibuk bekerja. Untuk masa depan mu. Lagi pula, kakek sengaja melarang mereka untuk datang setiap bulan. Jatah mereka berkunjung adalah setiap enam bulan. Jika mereka terus berada di sini setiap bulan, kau akan manja dan selalu mengandalkan orang tua mu. Makanya kau tidak boleh mengandalkan orang lain. Karena orang akan pergi. Asah sendiri kemampuan mu. Karena hanya dirimu yang akan benar-benar ada untuk dirimu."

"Pusing kepala Joe kalau mendengar kakek berceramah seperti ini." Kata Joe melepaskan tangannya dari pegangan lelaki tua itu lalu menoel hidungnya seperti Bruce Lee.

"Joe. Akhir-akhir ini kakek selalu melihat kau menoel hidung mu. Ada apa?" Tanya kakek itu.

"Kemarin pulang dari sekolah, aku singgah di rumah sahabat ku untuk menonton televisi. Lalu aku melihat jagoan di film itu menoel hidungnya. Dia sangat hebat kek. Semua musuhnya di babat habis. Lalu setelah itu dia seperti ini kek." Kata Joe sambil menoel hidungnya membuat lelaki tua itu menjadi tertawa.

"Kau juga bisa seperti itu. Tapi harus rajin latihan." Kata Kakek nya itu.

"Benar ya kek?"

"Iya benar. Hasil tidak akan mengkhianati usaha." Kata lelaki tua itu lagi.

*********

Cucu dan Kakek itu kini telah berdiri berhadap-hadapan di samping gubuk sambil sang kakek memegang sebatang rotan tang panjangnya sekitar empat jengkal orang dewasa.

"Nah Joe, coba kau praktekkan apa yang kakek uyut ajarkan kepada mu tadi!" Kata lelaki tua itu memberi perintah.

Mendengar ini, Joe si bocah cilik yang bandel itu langsung menarik kaki kirinya ke belakang, mengepalkan tinjunya lalu mensejajarkan tinju tersebut sejajar dengan pinggang.

"Satu!"

"Hait...!"

"Dua!"

"Hiaaaat...!"

"Tiga!"

"Ciaaaat!"

Tok..!

"Aduh kek. Salah lagi kah?" Tanya anak kecil itu sambil menggosok keningnya.

"Bukan salah lagi. Tapi selalu salah!" Kata orang tua itu dengan mata melotot.

"Sekali lagi kek?!" Tanya Joe.

"Ayo sekali lagi! Dengar dan lakukan!"

"Satu!"

"Hait...!"

"Dua!"

"Hiaaat...!"

"Tiga!"

"Jangan pukul lagi atau aku akan lari dari gubuk ini." Kata Joe mengancam.

"Dasar anak bandel. Jika kau pergi, jangan kembali lagi! Atau akan aku antar kau ke Starhill biar jadi anak manja sekalian yang tidak tau apa-apa. Jangan harap kau bisa seperti Bruce Lee jika latihan saja malas. Tau mu hanya meniru toel-toel hidung mu itu saja. Tapi kemampuan mu nol besar."

"Hehehe... Siapa bilang kemampuan ku nol besar. Aku bisa berlari secepat kilat." Kata Joe tak mau kalah.

"Coba praktekkan!" Kata lelaki tua itu memberi tantangan.

"Lihat ya kek ya!"

"Juruuuus... Langkah seribu...!" Kata Joe lalu lari lintang pukang menuju perkampungan.

"Joe... Kau menipu ku ya? Dasar anak bandel. Kembali kau Joe....!!!" Teriak lelaki tua itu sambil mengejar ke arah anak kecil yang melarikan diri itu.

"Anak ini tidak biasa. Dia benar-benar sangat mirip dengan ayah nya. Dasar anak bandel." Rutuk lelaki tua itu dalam hati.

Sementara itu, Joe yang terus melarikan diri telah tiba di perkampungan mountain slope yang berjarak sekitar lima ratus meter dari gubuk yang dia tempati bersama kakeknya.

Baru saja dia akan menemui sahabatnya yang bernama Harvey, tiba-tiba dia di cegat oleh beberapa anak kecil yang sebaya dengannya.

Melihat hal ini, Joe ingin mencari jalan memutar. Tapi kepalang tanggung karena dia sudah tidak bisa menghindar lagi.

"Hey anak hutan. Mau kemana kau?" Tanya salah satu dari ketiga bocah itu.

"Aku ingin ke rumah Harvey. Ada apa Charles?" Tanya Joe.

"Kau tidak boleh kemana-mana. Anak orang hutan seperti dirimu lebih baik jangan bergaul dengan orang kampung sini." Kata Charles sambil menjelirkan lidah nya.

"Apa hak mu melarang ku? Ini bukan kampung mu sendiri. Mentang-mentang gubuk ku terpisah, kau langsung seenaknya saja mengatakan aku anak hutan."

"Memang kau adalah anak orang hutan." Kata seorang lagi. Lalu mereka tertawa.

"Hahaha.."

"Kau jangan keterlaluan Milner!" Bentak Joe dengan kemarahan.

"Memang benar kan? Lalu kau mau apa?" Tanya Milner sambil maju mendekat.

"Aku ingin ke rumah Harvey. Tidak punya waktu untuk melayani kalian." Kata Joe lalu segera berlalu.

Namun sebelum dia berlalu, salah seorang dari mereka yang bernama Jimbo langsung menarik jabrik rambut Joe membuat anak itu mengurungkan niatnya untuk pergi.

"Kau jangan mencari masalah dengan ku Jimbo!" Ancam Joe memberi peringatan.

"Hahaha. Ayo teman-teman! Kita usir anak hutan ini dari sini." Kata Charles.

"Sial sekali kalian ini!"

Bugh...!

"Akh... Kau?!"

"Dia memukul ku. Ayo kita hajar dia!" Kata Jimbo.

Mereka bertiga lalu mengelilingi Joe yang mulai memasang kuda-kuda dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

"Seraaang!" Kata Milner mengomandoi dua sahabatnya yang lain.

Mereka bertiga lalu menyerang ke arah Joe membuat anak itu sangat kerepotan menghadapi serangan dari ketiga lawannya ini.

Pukul memukul pun terjadi di mana Joe sering kecolongan pukulan.

Hampir setengah jam Joe berjibaku menghadapi serangan dari ketiga lawannya hingga akhirnya dia pun keok juga.

Jimbo, yang memiliki tubuh tambun dan lebih besar dari yang lainnya berhasil memeluk tubuh Joe dari belakang. Dan hal ini memudahkan Charles dan Milner memukuli anak itu dengan leluasa.

Puas memukuli Joe yang sudah jatuh di tanah berpasir itu, mereka lalu berdiri di depan Joe dan tertawa bersama.

"Sudah aku katakan bahwa kau tidak boleh memiliki sahabat di kampung ini. Awas jika kau datang lagi. Kami akan kembali menghajar mu."

Huh...

Bugh...!

"Argh..."

Sebelum mereka bertiga berlaku, mereka masih sempat menendang tubuh Joe yang saat itu berusaha untuk bangkit.

Nasehat dan petuah

Setelah semua anak-anak seusianya yang tadi terlibat perkelahian dengan nya, Joe yang saat ini masih terbaring di tanah segera bangkit sambil mengibas-ngibaskan bajunya yang kotor berdebu.

Kejadian yang tadi sedikit banyak membuatnya sangat menyesal mengapa tadi dia kabur dari rumah.

Setelah memastikan bahwa tidak ada seorang pun lagi di tempat itu, Joe pun berjalan pelan mengarah ke pondok yang dia tinggali bersama kakeknya itu.

Sekitar lima puluh meter lagi mencapai pondok reyot nya itu, dia menghentikan langkah kakinya lalu duduk di atas batu di pinggiran sungai sambil merenung sendiri.

Dia terus berada di sana sampai Matahari benar-benar sudah tergelincir di ufuk barat.

***

Saat itu, seorang lelaki tua baru saja keluar dari dalam pondok sambil memandang ke kiri dan ke kanan seperti mencari sesuatu.

"Kemana anak bandel itu pergi sampai jam segini belum juga kembali?" Katanya dalam hati.

Dia kini mengambil sendalnya lalu segera berjalan menuju pinggiran sungai tempat biasa cucunya menyendiri jika sedang merajuk.

Firasat lelaki tua itu benar. Samar-samar dia melihat tubuh anak lelaki sedang duduk di atas bongkahan batu besar sambil memandang lurus ke arah sungai yang airnya sangat jernih itu.

"Apakah kau akan terus berada di situ sampai pagi Joe?" Tanya lelaki tua itu membuat anak itu langsung menoleh ke arah nya.

"Kakek." Kata Joe dengan malas.

"Ada apa? Mengapa kau duduk sendirian di sini hah?" Tanya lelaki tua itu sambil mendekati cucunya.

"Tidak apa-apa kek. Tadi aku di ganggu lagi Oleh Charles, Milner dan Jimbo." Kata Joe mengadukan pengeroyokan tadi kepada lelaki tua itu.

"Sudahlah. Kalian sama-sama bandel. Makanya kakek kan sudah bilang jangan kemana-mana. Tapi kau malah lari." Kata lelaki tua itu.

Dia sengaja tidak mau membela cucunya ini lantaran takut dia akan manja dan semuanya akan mengandalkan orang tua. Jika sudah terbiasa seperti itu, maka akan sulit untuk merubahnya.

"Ayo kita pulang. Nanti kemalaman mata kakek sudah tidak bisa lagi melihat dengan baik." Kata lelaki tua itu.

"Kek. Besok aku akan giat berlatih. Akan aku hajar mereka itu kek." Kata Joe dengan tekat yang kuat.

"Jika kau belajar ilmu bela diri hanya untuk membalas dendam, maka sebaiknya kau jangan belajar. Aku tidak sudi mengajarkan ilmu kepada orang yang pendendam." Kata Lelaki tua itu.

"Lalu bagaimana jika mereka yang duluan menggangu ku kek?" Tanya anak itu merasa tidak puas.

"Musuh jangan di cari. Namun jika tidak bisa di hindari, pantang untuk lari." Jawab lelaki tua itu.

"Kau harus bisa menahan amarah mu, Joe! Jika kau tidak mampu mengendalikan dirimu sendiri, kau tidak akan bisa menjadi seorang pemimpin di masa depan."

"Lalu apa yang harus aku lakukan kek? Mereka terus-menerus menggangu ku."

"Selagi kau masih bisa menahannya, maka tahan lah. Menghindar lebih baik daripada menciptakan sebuah perseteruan dengan orang lain. Itu yang harus kau tanamkan sejak saat ini." Kata Kakek nya itu memberi wejangan.

"Joe akan berusaha sekuat tenaga kek."

"Bagus! Kau memang harus bisa mengendalikan emosi dan kemarahan pada tempatnya. Ada kalanya kemarahan itu perlu untuk dikeluarkan. Namun itu untuk hal-hal yang besar. Karena kemarahan bisa membuat pikiran mu buntu dan otak mu tidak mampu mencerna setiap permasalahan. Maka dari itu, kuasai kemarahan agar jangan sampai kemarahan yang menguasai dirimu." Kata lelaki tua itu.

"Nah. Sudah sampai. Kau mandi lah! Kakek melihat tubuh mu begitu kotor sekali. Nanti setelah itu, makan dan langsung tidur. Besok kau harus bangun pagi dan berendam untuk melatih pernafasan mu. Selesai dengan itu, kau harus berangkat ke sekolah. Biar supaya kelak kau tidak bisa dibodohi oleh orang lain. Belajar yang rajin. Patuhi guru mu dan sayangi teman-teman mu. Agar semua yang diajarkan dapat kau resapi dengan baik dan ilmu yang kau peroleh, mendapat keberkahan."

"Baik Kek." Kata anak itu lalu mengambil handuk dan segera kebelakang untuk mandi.

*********

Pagi itu, setelah Joe selesai melakukan latihannya sejak dari pukul empat subuh. Setelah berpamitan, dia pun bergegas berangkat ke sekolah.

Sampai di sekolah, dia yang sudah di tunggu oleh Harvey langsung berjalan beriringan menuju ke kelas.

"Joe. Kemarin sore kau kemana? Aku menunggu mu di rumah ku." Tanya Harvey merasa heran karena tidak biasanya Joe ini ingkar janji.

"Kemarin aku sudah akan ke rumah mu Vey. Tapi di simpang tiga, aku di hadang oleh Charles, Milner dan Jimbo."

"Mereka menganggu mu Joe?" Tanya Harvey.

"Iya. Mereka memukuli ku dan menghina ku." Jawab Joe.

"Apakah kau terluka?"

"Hahaha. Walaupun aku kalah bertarung karena mereka main keroyok, tapi untuk melukai ku, mereka butuh kekuatan ekstra." Jawab Joe sambil tertawa.

"Oh. Syukur lah kalau begitu. Apakah kau mau kita mendatangi mereka dan kita beri mereka pelajaran?" Tanya Harvey.

"Untuk apa? Sudahlah. Kakek ku marah kalau aku pendendam. Aku tidak ingin berkelahi lagi Vey. Aku akan berusaha sabar se-sabar mungkin. Tidak ingin mengecewakan kakek ku." Kata Joe.

"Baiklah. Jika kau tidak ingin membalas mereka, maka kita diam kan saja." Kata Harvey lalu mengajak Joe segera menuju ke kelas.

"Joe William!"

Terdengar suara seorang wanita memanggil nama anak itu membuat dia dan Harvey mengurungkan niatnya untuk masuk ke kelas.

"Iya Bu Sarah. Ada apa Bu?" Tanya Joe.

"Joe William, hari ini tugas mu yang membersihkan kelas. Kau dan Harvey akan bekerja sama bersama empat anak lainnya. Lakukan dengan benar dan jangan sampai ada sisa kapur yang masih menempel di papan tulis. Mengerti?" Tanya Guru itu. Namanya adalah Sarah. Dia adalah guru di kelas Joe dan Harvey belajar. Guru ini terkenal dengan kedisiplinan yang tinggi serta sangat menekankan anak-anak didiknya untuk berdisiplin. Jadi, Jika ada yang indisipliner, maka siap-siaplah untuk menerima hukuman.

Saat ini Joe dan Harvey beserta empat yang lainnya tampak sedang sibuk membersihkan ruangan tempat mereka belajar itu.

Di saat pekerjaan itu hampir selesai, tiba-tiba tiga orang anak dari kelas sebelah Dadang dengan membawa sekantong sampah yang entah dari mana dia dapatkan lalu menaburkan sampah tersebut di dalam kelas yang sudah dibersihkan itu.

Kejadian ini tentu saja membuat Harvey sangat marah.

"Hey kalian Charles, Milner dan Jimbo! Mengapa kalian mengotori lagi kelas kami ini? Aku sudah cape membersihkan, kau malah mengotorinya." Tegur Harvey.

"Memangnya mengapa?" Tidak suka? Keluar saja dari sekolah ini!" Kata Charles sambil tersenyum mengejek.

"Kau memang sialan Charles! Mentang-mentang sekolah ini milik paman mu." Kata Harvey yang masih saja ngotot ingin melawan.

"Sudahlah Harvey. Lebih baik kita bersihkan saja lagi. Karena sebentar lagi Bu Sarah akan masuk ke kelas ini. Bisa bahaya kita jika masih berantakan seperti ini." Kata Joe meredakan kemarahan Harvey.

"Kalian ini anak-anak orang miskin memang pantas seperti ini. Kalian harus ingat. Aku tidak suka sekolah ku ini di isi oleh murid seperti Joe William ini. Tidak tau asal usul nya dan tinggal di pinggir hutan. Dasar anak hutan. Hahaha..." Kata mereka bertiga lalu keluar meninggalkan kelas itu.

"Abaikan saja. Ayo Harvey." Kata Joe. Lalu mereka pun membersihkan sampah yang ditaburkan oleh ketiga anak tadi.

Di cegat lagi

Bel sekolah kini berdering menandakan sudah habis waktu belajar bagi para murid-murid sekolah dasar di Mountain slope itu.

Kini para siswa mulai berlari dan berebut untuk saling mendahului keluar dari kelas. Hal ini tidak terkecuali bagi Joe William dan Harvey.

Mereka berdua tampak sangat gembira dan terus berebut keluar dari kelas itu membuat Bu Sarah hanya menggeleng kepala saja menyaksikan ulah dari anak didik nya itu.

"Joe, nanti kau datang ke rumah ku kan?" Tanya Harvey.

"Tidak Vey. Kakek ku tidak memberi izin." Jawab Joe.

Dia sengaja mengatakan seperti itu karena berbagai alasan.

Pertama dia tidak ingin bertemu lagi dengan ketiga anak orang kaya di kampung itu yang sering mengganggunya.

Yang ke dua, dia ingin belajar dengan giat dan menyerap semua ilmu yang akan diajarkan oleh Kakeknya.

Yang ke tiga, hanya Harvey saja yang baik kepadanya. Sementara keluarga Harvey hanya mengaggap dirinya seperti sampah.

Jika bukan karena kakeknya yang sangat dihormati di kampung itu, sudah pasti dia tidak akan diizinkan bahkan untuk lewat di depan rumah mereka pun.

Dia heran. Dulu kata kakeknya, orang-orang di Mountain slope ini semuanya ramah dan baik.

Namun sejak beberapa tahun kebelakang ini, ketika sebuah perusahaan dari Starhill masuk dan berinvestasi di kampung ini, keadaan perekonomian penduduk mulai berubah sejalan dengan gaya hidup mereka yang mulai meninggalkan kesederhanaan yang dulu dapat terlihat dari setiap warga mountain slope ini.

Sekarang jalan sudah di aspal. Pabrik penggilingan padi sudah di bangun. Bendungan irigasi sudah siap sepenuhnya sekitar lima tahun yang lalu. Kehidupan masyarakat sangat sejahtera.

Hal ini perlahan mengubah gaya hidup mereka.

Joe, anak kecil seusia itu tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu. Dia terus saja berjalan bersama dengan Harvey yang sedikit tampak kecewa dengan alasan yang diberikan oleh Joe tadi.

"Baiklah Joe. Kita berpisah di sini."

"Ok Harvey. Ketemu lagi besok di sekolah ya." Kata Joe.

Harvey mengangguk dan menunggu di pinggir jalan sampai Joe tidak kelihatan lagi, barulah dia melangkah kembali menuju rumahnya yang sudah tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi.

Saat ini, Joe terus saja berjalan menyusuri jalan menuju persimpangan tiga.

Namun yang tidak dia duga adalah Charles, Milner dan Jimbo malah berdiri di persimpangan itu seolah-olah sedang menunggu dirinya melewati jalan itu.

"Heh anak hutan. Mengapa lama sekali kau?" Tanya Milner dengan angkuh.

"Ada apa lagi kalian? Apa masih belum puas mengganggu ku?" Tanya Joe.

"Aku belum puas sebelum kau mencari sekolah lain. Jangan sekolah di sekolah milik paman ku. Sekolah kami adalah sekolah elite. Hanya kau saja siswa di sana yang berasal dari pinggir hutan." Kata Charles menghina.

"Sudahlah Charles. Aku malas berkelahi. Masalahnya adalah, aku tidak ingin nanti urusan kita ini sampai kepada orang tua. Lebih baik aku mengalah saja. Tapi jangan keterlaluan Charles! Karena semut pun menggigit kalau terlalu tersakiti." Kata Joe.

"Hahaha. Menggigit katanya teman-teman. Lihatlah anak hutan ini. Dasar monyet. Menggigit katanya."

Mereka lalu tertawa terbahak-bahak melihat wajah Joe yang mulai memerah menahan emosi.

Berkali-kali Joe menarik nafas dalam-dalam untuk meredam kemarahannya. Dia ingat semua pesan kakeknya untuk tidak melawan dan mencari masalah.

"Kau tau hah? Woy anak hutan! Kau tau siapa aku? Jangan buat wajah merah seperti itu di depan ku. Atau kau sama sekali tidak akan bisa melanjutkan sekolah mu di Mountain slope ini. Kau belum kenal siapa paman ku dan siapa kakek ku. Kakek ku bernama Morgan dan paman ku adalah Tuan Ryan. Dia adalah direktur di perusahaan di kota sana. Lihat pabrik dan bendungan itu! Itu semua adalah milik paman ku. Semua orang di kampung ini hormat dan merasa berterima kasih kepadanya. Kau ingin melawan ku ya? Pikirkan dulu kakek mu yang sudah tua sekali itu. Bahkan kakek mu sudah tidak pernah lagi ke kampung. Mungkin sudah tidak mampu berjalan." Kata Charles menghina Joe dengan perkataan yang sangat menyakitkan hati.

Joe hanya bisa menelan semua penghinaan ini dan berulang kali menarik nafas dalam-dalam untuk melonggarkan rasa sesak di dalam dadanya.

Kini tanpa memperdulikan ocehan Charles, Milner dan Jimbo, dia segera melangkah meninggalkan mereka yang masih terus menggangunya sambil mengikuti dari belakang.

Huuuuuu....

"Anak orang hutan." Kata mereka bertiga mengejek Joe dengan gelar anak orang hutan.

Joe tidak lagi memperdulikan semua ocehan ketiga anak itu, sebaliknya terus saja melangkah dengan cepat mengikuti jalan setapak agar cepat tiba di gubuk miliknya.

Ketika Joe tiba di gubuk yang sudah sangat usang itu, seorang lelaki tua langsung menghampiri dirinya dan bertanya. "Ada apa dengan mu Joe? Kakek lihat wajahmu sangat kusut."

"Mereka mengganggu ku lagi kek. Setiap pulang sekolah, mereka selalu menunggu ku di simpang tiga itu." Kata Joe sambil meletakkan tas sekolahnya di dekat lemari yang juga sudah usang.

"Kek. mereka terus mengatakan bahwa aku anak orang hutan. Mereka juga mengatakan bahwa aku anak yang tidak jelas dari mana. Sebenarnya aku heran. Mengapa Ayah setiap kali menjenguk ku selalu dengan cara sembunyi-sembunyi?" Tanya Anak itu dengan perasaan ingin tau.

"Apakah ayah ku adalah seorang buronan kek?" Tanya anak itu lagi.

"Eh. Bicara apa kau ini. Ayah dan ibu mu adalah orang yang baik-baik. Mereka tidak pernah mencari masalah. Mungkin orang kampung ini terlalu sombong makanya ayah mu datang secara sembunyi-sembunyi." Jawab lelaki tua itu berbohong.

"Aku ingin ayah dan ibu ku mengajak ku sesekali keliling kampung ini kek. Agar orang-orang melihat bahwa aku ini memiliki ayah. Jika begini terus, aku tidak tahan kek." Kata Joe dengan geram.

Namun walau bagaimanapun perasaannya terluka, anak itu tidak menangis. Ini yang membuat lelaki tua itu salut kepada anak yang masih sangat kecil ini. Ketebalan jiwanya patut diacungi jempol.

"Kau tidak tau Joe. Jika Ayah mu tidak sembunyi datang ke kampung ini, niscaya kampung ini akan dilanda kegemparan. Kau belum tau siapa ayah mu dan seperti apa kekuasaannya. Semua orang akan berbaris dan tunduk jika ayah mu datang secara terang-terangan ke kampung ini." Kata lelaki tua itu dalam hati.

"Kau ini adalah calon pewaris tunggal yang dipersiapkan sejak berusia satu tahun. Semua yang kau alami saat ini akan berguna kelak untuk mu setelah dewasa. Maka, bertahan dan bersabar lah." Kata lelaki tua itu lagi berkata dalam hati.

"Sudah! Jangan mengomel seperti nenek-nenek. Sekarang kau ganti pakaian mu. Kita akan merintis jalan di depan sana agar bisa kau lalui untuk berangkat ke sekolah. Setelah itu, kau tidak akan di hadang lagi oleh anak-anak bandel itu." Kata Kakek itu sambil mengambil parang dari balik pintu.

Setelah selesai berganti pakaian dan makan, kedua kakek dan Cucu itu pun berangkat menuju ke samping semak belukar lalu menebas rerumputan itu untuk membuat jalan baru agar bisa digunakan oleh Joe William untuk berangkat ke sekolah.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!