NovelToon NovelToon

Istri Tuan Vampir

1

Di tengah gerimis yang mulai turun. Seorang wanita bernama Noa terseok-seok berjalan memasuki hutan untuk menghindari beberapa lelaki yang tengah memburunya.

"Ach!!!" Pekiknya saat tidak sengaja sebuah ranting menembus kaki mulusnya.

Noa terus saja berlari, sebab suara para lelaki yang mengejarnya masih saja terdengar.

Aku tidak boleh mati! Jika aku mati mereka akan menang!!

Noa mengigit bibir bawahnya. Menahan perih pada kakinya yang semakin terasa saat menyentuh kerikil di mana kakinya berpijak.

Sementara di kerajaan tak kasat mata. Sebuah pernikahan di gelar sangat mewah dengan jamuan banyak teko berisi cairan berwarna merah.

Semua tamu undangan berkumpul di aula. Menunggu kedatangan dua mempelai yang akan di persatukan dalam ikatan pernikahan malam ini.

"Di mana Lucas?" Tanya seorang wanita paruh baya yang di ketahui bernama Elena, Ibu tiri Lucas.

Dia menyuruh seorang pembantu untuk memeriksa Lucas di kamarnya namun ternyata dia kembali dengan tangan kosong.

"Tuan Lucas tidak ada di kamarnya." Mata Elena berubah merah dengan taring runcing yang mulai keluar.

Pembantunya yang ternyata seorang manusia merasa ketakutan setengah mati melihat kemarahan dari Elena. Dia terpaksa mengambil perkerjaan itu demi upah besar yang di tawarkan Raja Stefanus padanya.

"Aku di sini Ma." Sahut Lucas. Taring Elena seketika menghilang seraya tersenyum menatap Lucas. Anak tirinya plus calon menantunya.

Elena sengaja merajuk Raja Stefanus untuk menikahkan Putri tunggalnya yang bernama Patresia agar kekuasaan kerajaan tidak jatuh ke tangan yang salah.

Tanpa perlawanan Raja Stefanus mengsetujuinya. Dia berpura-pura tidak mengerti akan tujuan Elena melakukan itu agar dia bisa menguasai kerajaan dan menerapkan peraturan baru perihal mengkonsumsi darah manusia.

Selama ribuan tahun hidup. Para vampir itu tidak lagi mengkonsumsi darah manusia. Kebijakan baru yang di terapkan oleh Raja Stefanus membuat para sekutunya di larang meminum darah manusia. Jika sampai melanggar, mereka di jatuhi hukuman yang berat berupa kematian.

Tujuan raja Stefanus menerapkan peraturan itu agar para vampir dan manusia bisa hidup saling berdampingan tanpa adanya pertumpahan darah.

"Sia sudah menunggu mu sayang. Kita percepat acara pernikahan ini agar pesta segera di gelar." Elena menghampiri Lucas dan hendak merangkulnya.

"Tunggu Ma." Tolak Lucas memang tidak akrab dengan Ibu tirinya yang menurutnya bermuka dua.

"Ada apa?"

"Apa permintaan ku sudah di penuhi." Lucas mengangkat topeng yang ada di tangannya.

"Och itu. Tentu saja." Elena menunjukkan topeng yang ada di tangan kanannya.

Lucas tersenyum miring karena rencana jahilnya tidak terbaca oleh Ibu tirinya.

"Hm Mama duluan. Nanti aku menyusul." Cepat-cepat Elena mencegah kepergian Lucas dengan genggaman tangannya.

"Kau akan kabur nanti!"

"Tidak Ma. Aku sudah menyerah untuk menolak pernikahan ini." Elena menatap Lucas tidak percaya.

"Jika kau kabur! Kau tidak akan di akui anak oleh Ayahmu!!" Lucas mengangguk seraya tersenyum.

"Iya Ma aku masih ingat. Aku berjanji akan menyusul." Lucas melepaskan genggaman tangan Elena lembut.

"Oke cepat. Mama tunggu di pintu masuk aula."

"Hm iya." Lucas berlalu pergi masuk kamar." Dasar anak pembangkang!!" Umpat Elena terpaksa ke depan pintu masuk aula terlebih dulu.

Tapi aneh! Baru saja Elena datang dengan memakai topeng sesuai permintaan. Lucas sudah ada berdiri tepat di samping Patresia, anak semata wayangnya. Saat Elena akan memastikan wajah Lucas, Raja Stefanus angkat bicara.

"Dari mana saja. Bulan purnama akan segera berakhir. Kita harus memulainya."

Rombongan pengantin masuk ke Aula menuju meja altar yang terdapat di tengah ruangan. Pernikahan yang cukup aneh sebab tidak ada ucapan ikrar janji suci. Kedua mempelai hanya di suruh menyayat nadinya dan mengucurkan darah ke dalam gelas yang ada di tangan mereka masing-masing.

"Tukar darah kalian dan minum sampai tidak tersisa agar kalian kelak di persatukan dalam ikatan pernikahan seperti darah yang sudah bercampur menjadi satu." Ucap Raja Stefanus selaku orang yang bertugas menikahkan semua bangsa vampir.

Patresia tersenyum saat Lucas menyodorkan setengah gelas darah ke arahnya. Dia pun membalasnya dan dengan cepat Patresia meneguk habis darah itu begitupun lelaki yang di fikir Lucas.

"Mulai hari ini. Darah kalian sudah menyatu dan resmi menjadi pasangan suami istri."

Petir menyambar, seiring dengan gerimis yang berubah menjadi badai. Lucas tersenyum seraya berdiri di atas loteng. Menatap pernikahan Patricia bersama salah satu prajurit kerajaan.

Terimakasih Ayah...

Lucas berubah menjadi bayangan hitam lalu melesat seperti angin menembus badai petir yang terjadi di sekitar kerajaan.

"Kita akhirnya menikah Lucas." Tutur Patresia tersenyum dan mendongak ke arah Lucas yang sejak tadi tidak berbicara satu katapun. Bibir Lucas kenapa lebih tebal. Seketika fikiran Patresia kalut bercampur aduk dengan perasaan ragu. Patresia menghampiri Elena dan membisikkan kekhawatirannya.

"Apa maksudmu?"

"Seperti bukan Lucas." Jawab Patresia berbisik.

"Saya minta semua hadirin membuka topengnya termasuk kamu Lucas." Pinta Elena setengah berteriak.

Semua hadirin membuka topengnya dan menyisakan Lucas yang masih berdiam diri.

"Buka topengnya Lucas." Pinta Elena mengulang seraya berjalan mendekat.

Raja Stefanus tersungging seolah dia tahu tentang rencana Lucas hari ini.

Aku memang mencintai mu Elena tapi aku lebih mencintai Putraku..

"Lucas. Kenapa kau diam?" Tanya Elena mulai emosi. Tangannya terangkat dan menyambar topeng lelaki yang menyamar sebagai Lucas. Mata Elena melebar, menyala merah dengan gigi runcing yang keluar.

Elena berteriak nyaring memekakkan telinga hingga sanggup terdengar oleh Lucas yang sudah bertengger di salah satu pohon besar yang ada di hutan itu.

"Merdu sekali." Gumam Lucas duduk santai di salah satu ranting kecil seolah tubuhnya begitu ringan.

🌹🌹

2

"Noa... Keluar!!! Percuma saja kau sembunyi. Kami akan terus memburu mu." Teriak salah satu anak buah Mommy Vivian.

Mommy Vivian adalah seorang gerrmo yang memperkerjakan wanita penghibur kelas kakap untuk para pengusaha dan para Sultan.

Noa termasuk salah satu dari anak buahnya yang di juluki sebagai anak emas. Julukan itu di berikan karena Noa banyak di cari para pengusaha. Mereka mau membayar mahal asal Noa bisa menemani malam sepi mereka.

Noa di pungut dari sebuah desa terpencil. Mommy Vivian punya kerja sama dengan seorang lintah darat di desa tersebut. Sehingga Noa di bawa paksa karena kedua orang tuanya tidak mampu membayar hutang.

Rasanya sungguh kejam. Noa mirip sebuah barang yang bisa di perjual belikan. Dia sempat menolak namun dengan tega, anak buah Mommy Vivian membiusnya hingga kini dia tenggelam dalam dunia pellacuran.

Awalnya Noa merasa pasrah karena anak buah Mommy Vivian tidak segan-segan melukainya saat dia berusaha melawan. Tapi semakin hari, dia semakin di perbudak. Bukan hanya satu atau dua orang yang harus di layani tapi sepuluh orang bahkan lebih harus mampu di layani dalam waktu satu malam.

Ya Tuhan... Apa aku akan mati secepat ini..

Noa bergelayut pada batang sebuah akar pohon tepat di samping jurang sedalam 50 meter. Bajunya robek tidak beraturan, tercabik ranting kayu di sepanjang perjalanannya tadi. Kakinya yang terluka mengucurkan darah begitu deras.

Jantungnya berdegup kencang, ketika terdengar sebuah langkah kaki mendekat. Noa tertunduk saat melihat seorang anak buah Mommy Vivian tengah berdiri tepat di atasnya dan membelakanginya.

Pergi.. Ku mohon pergi.. Jangan menoleh ke belakang.. Aku sudah lelah.. Aku sangat lelah jika harus berkerja seperti itu setiap waktu.. Hiks.. Hiks.. Hiks... Tuhan tolong aku.. Ku mohon Tuhan. Meskipun aku berlumur dosa tapi ini semua di luar kuasa ku.. Tolong bantu aku Tuhan.

Seolah doa di kabulkan. Lelaki yang berdiri kini melangkah pergi sehingga Noa bernafas lega.

"Emm ahh.." Rintihnya berusaha meraih rating agar bisa naik ke permukaan. Baru saja, Noa mendongakkan kepalanya. Dia setengah mati terkejut ketika ternyata anak buah Mommy Vivian sedang memperhatikannya.

"Nah mau lari kemana kamu!! Noa di sini!!" Teriaknya keras. Sontak Noa panik hingga pegangan tangannya terlepas.

"Agggggghhhhhhhhh....." Mata Noa melebar seraya terjun ke bawah.

"Agh sial!!!" Umpat si anak buah yang tidak berhasil meraih tangan Noa.

"Mana dia?" Tanya yang lain.

"Dia jatuh ke dasar jurang."

Plaaaaaakkkkkk!!!!

"Bodoh!!! Mommy bisa marah jika begini!!"

"Aku mau menolongnya tapi tanganku tidak cukup panjang."

"Bilang saja dia sudah mati dan memilih bunuh diri! Ayo kita pergi." Segerombolan lelaki itu pergi meninggalkan lokasi.

Teriakan Noa tertangkap oleh telinga tajam Lucas. Bahkan bau darahnya terendus begitu harum menggelitik rasa laparnya.

"Ini pasti seorang wanita." Gumamnya seraya kembali berubah menjadi asap untuk mencari sumber suara.

"Ugh! Ugh!!! Ahhh!!!" Beberapa kali tubuh Noa terbentur ranting pohon besar hingga seluru tulangnya remuk. Noa masih bisa merasakan sakitnya dan bahkan masih bisa melihat jelas sebuah rating runcing siap menerima tubuhnya. Tuhan maafkan segala dosaku. Noa memejamkan mata. Meringis kesakitan dan mulai pasrah dengan nyawanya.

Tepat saat ranting runcing itu akan menembus punggungnya. Secepat kilat Lucas meraih tubuhnya dan menyelamatkannya.

Aku sudah mati.. Aku sudah mati..

"Kau belum mati." Sahut Lucas bisa membaca suara hati seseorang." Tapi setelah ini kau akan mati." Noa masih sempat mencium aroma tubuh khas dari Lucas. Begitu harum seperti aroma minyak wangi mahal." Sebab aku akan mempermudah untukmu pergi." Noa hilang kesadaran bersamaan dengan gigi taring Lucas yang mencuat keluar dan bersiap menghisap habis darahnya.

Namun saat sebuah angin kencang menyibak rambut panjang Noa. Sungguh di luar dugaan. Lucas terpanah hingga taring runcingnya kembali normal.

"You are so beautiful, Baby." Gumamnya meletakkan tubuh Noa lembut pada daun kering yang berserakan.

Lucas mendongak ke atas. Memperhatikan dengan mata tajamnya untuk melihat apa yang sebenarnya tengah menimpa Noa.

"Mereka sudah pergi. Kau akan aman bersamaku." Lucas beralih menatap Noa dengan luka parah pada sekujur tubuhnya.

Seluruh tulang punggung dan iganya remuk hingga lebam berwarna biru dan merah mulai terlihat di tubuhnya.

Lucas menyobek baju Noa untuk melakukan penyembuhan sebelum fungsi organ dalamnya berhenti.

"Ugh!!" Noa mengeluarkan darah segar pada sudut bibirnya saat tangan Lucas mulai menyentuh tubuhnya dengan gerakan kebawah.

Tulang remuk Noa kembali utuh hanya dengan sedikit tenaga dalam yang Lucas keluarkan.

Lucas menunduk dan mellumat habis darah yang keluar dari sudut bibir Noa.

"Manis sekali." Lucas jadi lupa diri hingga mellumat bibir merah itu berulang kali." Kau harus membayar biaya penyembuhan ini." Ucapnya menghentikan lummatan bibirnya lalu duduk tegak.

Aroma darah segar masih saja terendus. Dia tidak ingin aroma itu memicu datangnya Vampir lain. Lucas memeriksa bagian tubuh Noa yang sudah normal hingga matanya menangkap ranting cukup besar menembus kaki mulusnya.

Segera saja Lucas bertindak. Dia memegang ranting kayu yang sesaat berubah menjadi abu dan beralih pada kaki Noa hingga lubang akibat rating tadi menghilang.

Krrrrrusssssukkkk krrrrrusssssukkkk..

Pendengaran Lucas kembali menangkap suara. Bukan langkah kaki. Lebih tepatnya beberapa komplotan vampir anak buah Elena yang haus darah.

Cepat-cepat Lucas mengangkat tubuh Noa dan pergi seperti angin meninggalkan lokasi.

"Hmmmm ahhhh manis sekali aromanya." Ketiga anak buah Elena mengendus-endus seperti seekor hewan yang kelaparan. Salah satu dari mereka mendongak dan secepat kilat beralih pada ranting yang terdapat beberapa tetes noda darah Noa." Agggggghhhhhhhhh.. Hmmm manis sekali." Lidah panjangnya menjulur untuk menjilati darah Noa sebelum gerimis menghilangkannya." Aku ingin lagi!! Aku ingin lagi!!! Agggggghhhhhhhhh aku lapar!!!" Teriaknya histeris.

Lucas tersenyum mendengar teriakan itu. Dia memutuskan membawa Noa berteduh di dalam gua. Tanpa perapian karena dia tidak ingin anak buah Elena menemukannya.

Tubuh Noa mengigil. Tidur tanpa alas dengan baju basah yang dia kenakan. Lucas mendekat lalu mendekapnya dengan tubuh hangatnya.

"Mulai hari ini kau milikku."

Tubuh dingin Noa berangsur hangat hingga dengkuran halus keluar dari rongga hidungnya. Dia berfikir tengah berada di surga dan memutuskan untuk memejamkan mata saja.

🌹🌹🌹🌹🌹

3

Plaaaaaakkkkkk!!!!

Tamparan keras Mommy Vivian hadiahkan pada ketiga lelaki bertubuh besar yang merupakan anak buahnya. Dia menganggap mereka tidak becus apalagi Noa adalah anak emas untuknya.

"Gaji kalian ku potong karena tidak dapat menyelamatkan nyawanya!!" Tuturnya geram.

"Jangan Mom. Itu bukan kesalahan kami. Kami sudah mencarinya hingga ke dalam hutan larangan. Lihatlah Mom. Tubuh kami sampai seperti ini." Mommy Vivian menatap ketiga anak buahnya yang memang terlihat berantakan.

Luka pada lengan akibat gesekkan ranting terlihat jelas. Tapi, bukan Mommy Vivian namanya jika dia sampai rela merugi dan tidak berlaku kejam.

"Baik ku maafkan. Tapi..." Ketiganya menatap wanita kejam bertubuh kecil di hadapannya dengan wajah tollol." Carikan aku pengganti Noa. Kalian hubungi Prapto dan bilang padanya untuk menjerat lebih banyak gadis desa yang cantik! Aku ingin cepat mencari pengganti Noa. Gajian kalian bahkan tergantung dia dan jika Noa mati!! Mesin ATM ku bisa hilang!!" Mommy Vivian menatap anak buahnya yang kembali menunduk.

"Baik Mom. Kami akan menghubungi Prapto. Jika dia bilang ada, kami akan segera mengambil barangnya."

"Hm pergi kalian!! Aku muak melihat wajah kalian!!" Ketiganya berjalan keluar satu persatu sementara Mommy Vivian duduk di kursi kokohnya." Sialan!! Aku rugi besar karena Noa! Banyak bookingan yang harus ku batalkan." Gumamnya mulai menghubungi satu persatu langganan untuk membatalkan semuanya.

🌹🌹🌹

Noa terjaga dini hari. Sekitar yang masih terlihat gelap membuatnya berfikir jika dia tengah berada di neraka untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Apa ini di neraka.. Tangannya meraba dada bidang yang tengah mendekapnya. Tubuh? Tubuh seseorang? Apa kemarin aku bermimpi melarikan diri? Noa merasa bingung dengan apa yang terjadi hingga Lucas terusik dengan suara hati Noa yang di dengarnya.

"Ini masih di dunia dan kau masih hidup."

"Ach!!!" Pekik Noa mendorong tubuh Lucas di dalam kegelapan hingga dia hampir terjatuh jika Lucas tidak menangkapnya dengan sigap.

"Jangan berisik Baby. Suaramu akan terdengar oleh mereka yang sedang memburu kita." Bisik Lucas membelai telinga Noa dengan ujung bibirnya.

"Me mereka masih mengejar ku?" Tanya Noa ikut berbisik. Dia mengingat kejadian saat tubuhnya akan tertusuk ranting besar nan runcing." Bukankah aku sudah mati Tuan kenapa aku masih hidup dan baik-baik saja." Tanya Noa merasakan tulang remuknya ketika terjun di kedalaman 50 meter.

"Sssssyyyyuuuuuuuuutttt Baby. Diam. Besok kita bahas." Bisik Lucas mendengar kembali para anak buah Elena menuju ke arah mereka.

"Tuan tapi.. Ini gelap sekali."

Lucas menarik nafas panjang sebab merasakan kedatangan para anak buah Elena yang sudah berada di bibir pintu gua.

Terdengar geraman memekakkan telinga. Mata Noa membulat seraya mengeratkan pelukannya.

"Tuan itu suara apa." Meski di kegelapan, Noa masih bisa melihat jelas wajah tampan lelaki yang mendekapnya.

"Mereka sudah tiba dan menemukan kita."

"Aku tidak mau ikut mereka Tuan. Bawa aku pergi." Pinta Noa tidak juga mengerti jika yang memburu mereka bukanlah manusia.

Arrrrrrrgggggggggggghhhhh

Arrrrrrrgggggggggggghhhhh

"Tutup mata."

"Untuk apa?"

Dengan cepat Lucas menenggelamkan kepala Noa di dada bidangnya. Dia kembali berubah menjadi asap hitam namun karena Noa seorang manusia membuat para anak buah Elena meraih tubuhnya dengan mudah hingga Noa terkapar di tanah.

Bugh!!!

"Tutup matamu!!!" Teriak Lucas tidak ingin Noa melihat makhluk apa yang sedang mengelilinginya.

Namun Noa malah membuka mata lebar dan tentu merasa ketakutan dengan tiga lelaki yang mengelilinginya.

Apa manusia selalu tidak mendengar perintah seperti itu..

"Tuan! Kau di mana?" Teriak Noa menyeret tubuhnya yang setengah tellanjang karena baju yang sudah di robek.

Hal itu semakin membuat tiga vampir itu bersemangat. Hidungnya mengendus kuat-kuat aroma harum tubuh Noa yang mengalir makanan favorit mereka. Lidah ketiganya menjulur panjang dengan ujung bercabang seperti seekor ular berbisa.

Sementara Lucas sendiri merasa bimbang untuk menolong. Dia tidak ingin anak buah Elena melaporkannya pada Ayahnya. Memang Ayahnya sudah membuat kebijakan larangan menghisap darah manusia. Tapi yang keluar dari lingkup kerajaannya. Jika terdapat manusia asing berada di area kerajaannya. Kebijakan membebaskan para vampir untuk memburunya.

"Siapa kalian!!!" Ucap Noa dengan suara bergetar dan raut wajah ketakutan.

"Ini darahnya. Aaaahhhhh manis sekali.." Tutur salah satu dari mereka seraya menggeram.

Tuan.. Kenapa kau menolongku kemarin jika nyatanya sekarang kau menyerahkan ku pada makhluk mengerikan ini..

Lucas menarik nafas panjang. Ingin pergi dari sana dan merelakan tubuh Noa di mangsa habis. Tapi kecantikannya membuatnya memutuskan untuk turun tepat saat ketiga vampir itu akan menghisap darah Noa.

Tuan Lucas. Ucapnya bersama seraya menundukkan sedikit kepalanya.

Noa menyeret tubuhnya cepat menuju ke pohon besar yang tidak jauh dari sana.

Meskipun dia merasa bingung dengan kejadian di hadapannya. Paling tidak dia merasa aman saat Lucas sudah berada di sana.

"Pergi kalian. Dia milikku." Pinta Lucas dengan nada bicara tenang.

Milikku? Apa maksudnya dengan milikku? Apa Tuan sejenis dengan mereka dan itu berarti aku akan di mangsa olehnya?

Suara hati Noa membuat Lucas tersenyum tipis. Dia merasa konyol mendengar itu dan menjadi hiburan tersendiri untuknya.

Aku harus kabur...

Craaaaaasssshhhhh...

Sebuah cahaya putih keluar dari tangan Lucas untuk membuat tubuh Noa mematung meski masih mampu untuk mendengar.

Kamu harus tahu siapa aku Baby..

"Dia mangsa kami Tuan. Bukankah dalam perjanjian mengatakan jika manusia asing yang berada di hutan larangan ini boleh kami mangsa?"

Blaaaaammm!!!

Duaaaak!!!

Tubuh salah satu dari mereka terpental hanya dengan

tatapan tajam mata Lucas. Noa melongok seraya mengeluarkan air pada sudut matanya karena merasa ketakutan.

"Kau tidak dengar dia milikku!!!" Wajah Lucas berubah mengerikan dengan mata merah menyala dan taring tajamnya.

"Habisi dia dan ikut kami ke kerajaan. Tuan membuat onar di sana hingga Nona Patresia terpaksa menikahi pengawal kerajaan itu."

Dalam aturan dunia vampir. Sebuah pernikahan adalah ikatan sakral. Tidak ada perselingkuhan karena setiap pernikahan terjadi, darah keduanya sudah tercampur menjadi satu.

"Sejak kapan kau menjadi pemimpin di sini!!! Pergi!! Atau ku babat habis nyawa kalian!!!" Ketiganya saling memandang satu sama lain.

"Setidaknya, ikut kami ke kerajaan dan kami akan melepaskan wanita ini."

Mereka akan menjadi kerikil tajam di hidupku nantinya..

Tangan runcing Lucas mulai keluar, di ikuti oleh perubahan wajahnya yang terlihat semakin mengerikan. Noa berhenti bernafas sesaat. Tidak mampu menunduk juga memejamkan matanya. Sehingga mau tidak mau dia harus melihat pertarungan mengerikan di hadapannya.

Dengan tangan runcingnya, Lucas membabat habis ketiga anak buah Elena. Bukan hanya itu saja. Untuk benar-benar membuat mereka musnah. Lucas menghisap darah satu persatu dari mereka hingga menyisakan kulit dan tulang.

Setelah menghabisi nyawa ketiganya. Lucas sempat mengatur emosi sebelum membalikkan badan dan memperlihatkan wajah tampannya di terpa sinar matahari yang mulai muncul di cela pohon besar yang ada di sekitar mereka.

Kenapa dia tidak terbakar saat terkena sinar matahari?

"Aku sudah terlatih untuk menerima cahaya matahari. Sebaiknya kamu bicara saja sebab aku bisa mendengar suara hatimu itu." Lucas duduk berjongkok lalu mendekatkan wajahnya dan mellumat bibir Noa yang terasa manis untuknya.

Seketika tubuh Noa bisa di gerakan sehingga dia menyeret tubuhnya sampai punggungnya membentur pohon.

"Kau sejenis apa Tuan! Tolong jangan sakiti aku." Lucas menempelkan bokongnya pada daun yang berserakan di sana seraya memperhatikan wajah Noa yang semakin terlihat cantik.

Jika bangsaku ada yang secantik dia. Aku akan memperkenalkannya pada Ayah agar bisa menikah dengannya. Tarikan nafas berat berhembus. Sayang sekali dia manusia. Itu pantangan terbesar sebab seorang manusia tidak mungkin bisa berbaur dengan bangsa ku.

🌹🌹🌹

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!