NovelToon NovelToon

Rumah Singgah "Podjok"

Bab 1. Kabar Ayah Meninggal

Seorang gadis berbadan mungil, berambut panjang sebahu, kulitnya kuning langsat dan wajahnya ayu, terlihat sedang sibuk memasukkan beberapa buah kedalam kotak kardus makanan terbuka berjajar. Gadis tersebut bernama Rara. Didekatnya ada seorang wanita setengah baya sedang membantunya menata makanan kecil dimasukkan kedalam kotak kardus makanan tersebut. Bi Lasmi, panggilan kepada wanita setengah baya tersebut . Bi Lasmi sudah bekerja kepada keluarga Rara sejak Rara belum lahir, sudah hampir 20 tahun Bi Lasmi jadi bagian keluarga Rara.

Ibunya Rara biasa dipanggil dengan panggilan Bu Herman. Sesekali Rara mencuri pandang ke arah ibunya. Bu Herman sedang duduk tidak jauh darinya. Pandangannya kosong menatap ke arah halaman belakang rumah dekat pintu ruang dapur, namun Rara sempat melihat sesuatu di belakang ibunya.

Namun, Rara ragu. 'Bayangan di belakang Ibu sebenarnya bayangan Ibu ataukah bayangan benda apa ya?'

Rara memperhatikan dengan serius bentuk bayangan tersebut, bentuknya menyerupai seseorang sedang berdiri. Seketika Rara sadar lalu menggeleng.

'Ah aku mikir apa sih?' Tepis batin Rara. Rara takut dirinya hanya sedang berhalusinasi.

" Mbak Rara, sekarang malam ketiga pengajian Ayahnya Mbak Rara. Mbak Rara seharusnya makin dekat dengan Ibu. Biar Ibu tidak kesepian ya, " Bi Lasmi menasehati mengingatkan Rara. Rara mengangguk.

" Iya, Bi " Jawab Rara pelan.

"Jangan cuma iya.. iya.. iya saja. Bener lho ya, ingat pesan Bibi," dengan logat jawanya cukup khas, Bibi menekankan kepada Rara supaya menanggapinya secara serius.

" Memangnya mengapa, Bi? Aku kan anaknya, pastilah aku dekat dengan ibu hehehe ... " Canda Rara.

" Hussst ... Malah bercanda nih Mbak Rara." Kata Bibi sambil menutup mulutnya dengan telunjuknya sebagai peringatan serius. Rara jadi berhenti tertawa.

" Dengar ya, cah ayu (Anak Cantik = bahasa Jawa ). Jika Ibu terus - menerus melamun berdiam diri dikarenakan selalu kepikiran ayahmu, mitosnya nanti 'kebawa' lho... " kata Bi Lasmi dengan serius.

Rara menoleh ke arah Bi Lasmi.

"Maksudnya bagaimana, Bi?" Tanya Rara penasaran.

Rara terpengaruh dengan nada suara Bi Lasmi , meskipun dia tidak tahu maksudnya apa, namun ada rasa takut merinding di seluruh tubuhnya.

'Apakah dikarenakan ada bayangan tersebut? Apakah Bi Lasmi melihat bayangan tersebut?' Pikir Rara sedikit ketakutan.

"Bibi punya usul," bisik Bi Lasmi ke Rara.

Rara menghentikan pekerjaannya. Dia menoleh ke arah Bi Lasmi memandangnya serius sambil mengerenyitkan dahinya.

"Bagaimana, setelah 40 hari Ayahnya Mbak Rara, Mbak Rara Ibu ikut pulang kampung saja sama Bibi," Bi Lasmi memberi ide.

'PRAAAAANGGG!!!'

Tiba-tiba suara piring pecah, tidak diketahui sumber suaranya apa penyebabnya, Rara Bi Lasmi melihat piring pecah itu berserakan dilantai. Rara serta Bi Lasmi tersentak kaget saat melihat piring pecah tersebut merupakan piring yang biasa Ayah pakai. Dikarenakan piring tersebut merupakan satu-satunya piring berukuran lebih besar dari yang lainnya. Rara Bi Lasmi beradu pandang.

"Tunggu ya, biar Bibi yang bereskan pecahan piringnya. Mbak Rara lanjutkan saja," kata Bi Lasmi bergegas membersihkan pecahan piring tersebut.

Rara melihat ke Ibunya, tetapi Ibunya tak bergeming. Rara agak terheran dengan sikap Ibunya. Rara bingung mengapa Ibunya tidak terganggu sama sekali. 'Ah mungkin Ibunya sedang terhanyut dalam pikirannya sendiri' pikir Rara.

Tiba-tiba Bi Lasmi sudah kembali di sisi Rara.

"Bagaimana Mbak Rara dengan usul Bibi?" tanya Bi Lasmi.

"Memangnya Bi Lasmi mau pulang? Seterusnya atau balik lagi?" Rara merasa takut ditinggal oleh Bi lasmi. Dia tidak bisa membayangkan betapa sepinya rumah ini tanpa Bi Lasmi sepeninggal Ayahnya.

Bi Lasmi terdiam sejenak, berpikir bagaimana menjelaskan agar diterima oleh Rara.

'Meskipun sudah di bangku kuliah, Mbak Rara tetap saja anak-anak. Belum mengerti permasalahan orang dewasa. Maafkan Bibi yang Mbak Rara, mungkin Bibi gak akan balik lagi, Bibi takut akan menjadi beban kalian nantinya. Jika tidak ada Ayahnya Mbak Rara, bagaimana dengan pemasukan keluarga ini?' batin Bi Lasmi.

"Cuma sementara saja kok Mbak Rara, supaya Mbak Rara Ibu tidak terlalu sedih lagi. Nanti jika sudah tidak sedih lagi, kita kembali ke sini." Ucap Bi Lasmi.

Rara mengangguk setuju tersenyum mendengar penjelasan Bi Lasmi.

Rara buru-buru menyelesaikan pekerjaannya, dikarenakan khawatir kepada ibunya yang sudah 3 jam lebih duduk distersebut. Rara memeluk ibunya dari belakang.

" Lihat apa, Bu?" Tanya Rara berbisik perlahan di sisi kepala ibunya.

Ibunya menggenggam tangan Rara memeluknya dengan erat, lalu mengelus punggung telapak tangannya.

"Sedang teringat Ayah. Yuk kita masuk kedalam. Kita bersihkan rumah, dikarenakan sebentar lagi orang-orang datang mengaji" kata ibunya.

Rara mengangguk. Dia menuruti perkataan ibunya masuk kedalam rumah.

*****

Akhirnya pengajian hari ini pun selesai. Orang yang terakhir pamit adalah tetangga-tetangga dekat. Mereka membantu Rara Bi Lasmi merapikan ruangan. Ada yang melipat tikar karpet, serta ada pula yang membantu menyapu mengangkat piring-piring kotor ke dapur.

Sekilas Rara melihat Ibunya sedang menemui seseorang yang berpakaian rapi berbicara di teras depan rumah secara serius. Wajah ibu sangat sedih.

Saat Rara memalingkan wajahnya ke arah lain, ekor matanya menangkap sosok orang yang ada di samping Ibunya. Rara segera kembali melihat ke arah ibunya, ternyata sosok tersebut mirip sosok Ayahnya, berpakaian menyerupai pakaian Ayahnya. Wajahnya hanya memandangi bu Herman yang saat itu sedang berbicara dengan seseorang tersebut. Rara tidak yakin apakah wajahnya sosok tersebut benar mirip wajah Ayahnya.

Saat semua tamu sudah berpamitan pulang, orang yang tadi berbicara dengan ibu juga pergi, tetapi sosok tersebut ke mana?

Ibu memasuki rumah dengan gontai, wajahnya sangat sedih murung. Rara menyambut ibunya memapahnya ke kamar. Bi Lasmi segera mengunci semua pintu jendela, serta gorden. Hari akan segera malam.

Rara duduk di sisi ibunya yang juga duduk di tepi tempat tidur.

"Ada apa, Bu?" Tanya Rara perlahan.

Seketika tersebut Bi Lasmi juga masuk ke kamar Ibu. Bi Lasmi memijat bahu ibu agar Ibu merasa rileks. Rara tersenyum,

'Padahal Bi Lasmi lebih lelah, tetapi Bi Lasmi yang memijat' pikir Rara.

Ibunya terlihat beberapa kali menghela napas, tampak sesak berat beban di dadanya. Rara merasa prihatin dengan Ibunya. Rara sangat sedih atas kepergian Ayahnya. tetapi Rara lebih merasa sedih dengan keadaan Ibunya sekarang.

"Ra ... Kita pindah ya Nak," akhirnya ibunya berbicara. Bi Lasmi menghentikan pijatannya.

Bi Lasmi terduduk lesu, seperti sudah bisa menebak apa yang terjadi.

" Mengapa, Bu?" tanya Rara

" Rumah ini dijaminkan pinjaman oleh Ayah. Kita tidak bisa membayarnya. Nanti saat pindah, Ibu akan cari kerja untuk membayar utang Ayah kuliahmu. Sambil menunggu tersebut, kita jual rumah ini, semoga cepat laku." kata Ibunya panjang lebar sambil meneteskan air mata.

Rara tertunduk lesu, air matanya tak terbendung. Dia masih belum bisa menerima kematian Ayahnya. Dia juga masih belum tahu apa yang akan terjadi dihidupnya kedepan tanpa Ayahnya. Sekarang harus dipaksa menerima keadaan ini juga. Pindah ke mana? Apa benar aku masih bisa kuliah? Uang dari mana?

Telapak tangan ibunya membelai rambutnya, ketika ingin membelai wajahnya Rara yang sedang tertunduk, Rara memalingkan wajahnya agar Ibu tidak tahu jika dia sedang menangis. Rara membuang pandangannya ke arah pintu keluar kamar Ibu. Rara menangkap sosok bayangan Ayahnya lagi. Kini terlihat agak lebih jelas, sosok tersebut seperti tersenyum padanya. Rara buru-buru menyeka air matanya agar bisa melihat sosok tersebut lebih jelas sambil berkata

" Ayaaah?!"

Bab 2. Om Dinar?

Seketika Ibu Bi Lasmi terkejut memandang Rara. Ibu langsung memeluk Rara menangis sambil membelai kepala anaknya. Ibu mengira Rara masih diselimuti rasa sedih masih belum menerima kepergian Ayahnya, Ibu merasa bersalah yang amat sangat karena telah mengabaikan Rara larut dalam kesedihannya sendiri.

Bi Lasmi pun turut menangis menyaksikan pemandangan Ibu Rara yang seperti itu.  Bi Lasmi ingin menghibur keduanya, namun perasaannya sendiri juga sangat sakit karena terlalu sedih melihat keadaan keluarga ini kepergian Ayah yang mendadak. Bi Lasmi sudah seperti kakak sekaligus ibu bagi Ayah Ibunya Rara, karena Bi Lasmi sendiri sudah tidak punya keluarga.

Tiba-tiba Rara bersuara seperti orang tercekik, Ibu mendorong badan Rara dari pelukannya sambil tetap memegang kedua bahu Rara. Ibu ingin melihat apa yang terjadi dengan Rara. Namun mata Rara terlihat seperti memandang kosong, raut wajahnya seperti orang yang sedang menahan napas dalam waktu lama.

“Raraaaa !” teriak Ibu  panik .

Bi Lasmi segera mengambil air putih untuk diminumkan ke Rara. Sebelum diberikan ke Ibu, Bi Lasmi menuangkan sedikit air putih tersebut ke salah satu telapak tangannya, kemudian diusapkan ke wajah Rara. Sesaat kemudian Rara mulai tersadar.

“Beri Mbak Rara minum, Bu, Airnya sudah saya bacakan doa,” kata Bi Lasmi sambil menyodorkan segelas air putih kepada Ibu yang sedang menangis terisak.

Rara meminum air yang diberikan oleh Bi Lasmi beberapa teguk. kemudian raut wajahnya terlihat seperti bingung.

"Ayah, Bu. Ayah mana, Bu?" tanya Rara lirih.

Ibu tersenyum tipis pada Rara, membantu Rara merebahkan badannya di atas kasur.

"Rara tidur dahulu ya. Rara tidur dikamar Ibu bersama Ibu Bi Lasmi ya, biar kita tidak merasa kesepian," kata Ibu.

Rara tidak mengerti maksud dari apa yang dikatakan oleh Ibu, namun dia merasa tidak punya cukup tenaga untuk bertanya berdebat. yang Rara tangkap wajah ibunya yang sedih.

*****

Rara terbangun membuka matanya saat mendengar suara seorang laki - laki di luar kamar ibunya. Rara mencoba mengingat - ingat suara tersebut agar tahu itu milik siapa. Namun tidak juga bisa mengingatnya. Rara tetap diam untuk mendengarkan apa yang dibicarakan orang tersebut. kemudian terdengar suara Ibu yang menyahut pembicaraan lelaki itu. Rara sangat penasaran, siapakah lelaki itu. karena pembicaraan tersebut pun tidak terlalu jelas karena volumenya terlalu rendah, pintu kamar ini tertutup.

'Aneh, Ibu tidak pernah menutup pintu kamarnya jika Ibu sedang berada di luar kamarnya sendiri. Apakah ada yang disembunyikan oleh Ibu?' pikir Rara.

Rara tidak berani untuk bangun dari tempat tidurnya, karena pasti akan terdengar oleh ibu suara derit tempat tidur tua ini. Huuuh, Rara jadi kesal karenanya. Rara mencoba perlahan melihat ke bawah tempat tidur,biasanya Bi Lasmi tidur di sana dengan kasur lipatnya. itu biasa terjadi bilamana Rara sakit Bi Lasmi menjaganya. tetapi Bi lasmi tidak ada di sana,

'berarti Bi Lasmi ada di luar kamar ini bersama Ibu?.' Pikir Rara.

Tak lama berselang, terdengar suara Lelaki itu makin menjauh, akhirnya ada suara tutup pintu dari ruang tamu.

'Rupanya tamu itu sudah pulang,' gumam Rara.

Pintu kamar terbuka, terdengar suara langkah kaki mendekati sisi tempat tidur. Rara masih pura - pura tertidur.

Terdengar suara gorden jendela di buka.

“Bangun Rara, sudah siang” ternyata itu Ibu.

‘siang??’ Rara terkejut, bergegas bangun. kemudian Rara melihat jam dinding yang menunjukkan jam 11 siang.

‘tetapi tadi masih gelap rasanya,’ pikir Rara lagi. Rara agak bingung.

“Kok masih gelap ya Bu tadi?” tanya Rara.

“Iya, memang mendung di luar.  jendelanya juga belum dIbuka” kata Ibu, Rara mengangguk-angguk tanda mengerti.

Ibu mendekati Rara duduk disampingnya.

Ibu menjelaskan bahwa tadi ada tamu, saudara sepupu Ibu di Sumatra. Beliau datang untuk mengucapkan turut berduka  sekaligus menawarkan pekerjaan untuk Ibu. Ibu berniat untuk menerima pekerjaan itu agar bisa  membiayai kuliah Rara yang tinggal sebentar lagi.

Ibu meminta Rara bersabar untuk berjauhan dengan Ibu, karena ini demi masa depan Rara sendiri. Kebetulan saat itu Bi Lasmi datang ke kamar berdiri dekat pintu masuk.

“Bi Lasmi, kemarilah. Saya juga ingin meminta bantuan Bibi.” Kata Ibu.

“Saya ingin Bibi merawat Rara seperti yang selama ini Bibi lakukan jika tidak keberatan, karena di kota ini saya tidak punya keluarga saudara untuk saya mempercayakan Rara selama saya bekerja di Sumatra.” Lanjut Ibu.

Rara menangis, rasanya tidak ingin jauh dari Ibunya. Dia baru saja kehilangan Ayahnya, sekarang harus berjauhan dengan Ibunya. Rara masih belum siap karena Rara tidak pernah jauh dari kedua orang tuanya. Ibunya memeluk Rara.

“Ibu akan kembali ketika kamu selesai kuliah. Makanya segera selesaikan tugas akhirmu, agar kita segera berkumpul lagi ya anakku sayang.” Kata Ibu sambil membelai rambut Rara. Rara mengangguk sambil mengusap air matanya.

“ Kamu sudah besar, sudah harus bertanggung jawab pada dirimu sendiri.”

“Baik, Bu” sahut Rara terisak.

Terlihat Bi Lasmi juga sudah berlinang air mata,

“kalau Bibi keberatan, Saya mohon, bertahanlah sebentar lagi, tidak sampai setahun kok Bi, karena cuma pekerjaan itu saat ini yang ada gajinya lumayan untuk menghidupi kita bertiga,” Ibu memohon pada Bi Lasmi. Bi Lasmi pun mengangguk setuju.

*****

“Permisi!” kata seseorang di depan rumah saat mereka baru saja selesai makan siang.

Ibu, Bi Lasmi Rara saling berpandangan. karena tidak satu pun dari mereka mengenal suaranya. Saat ini pun tidak ada acara pengajian untuk Ayah.

“Saya saja Bi yang buka pintu. Bibi sama Rara bereskan meja saja” lalu Ibu beranjak dari meja makan.

Ibu mempersilahkan masuk,  berbincang dengan lelaki tersebut. Beberapa saat kemudian Ibu memanggil Rara untuk bergabung dengan Ibu di ruang tamu. Rara mendatangi Ibu melihat heran kepada lelaki asing tersebut.

“Rara, ini Pak Dinar. Salam dahulu dengan beliau” Ibu memperkenalkan lelaki itu. Rara menyalaminya.

“Panggil saja Om Dinar ya Rara,” kata lelaki itu sambil tersenyum ramah.

“Saya turut berduka atas ayahmu, maaf saya baru datang karena baru kemarin saya dapat kabar ini,” kata Om Dinar.

Mereka duduk kembali di ruang tamu. Rara duduk merapat di samping Ibunya.

“Rupanya anak Pak Herman sudah besar ya,” Om Dinar mengamati Rara. Rara melihat ke Ibunya. ‘Om ini siapa sih Bu?’ pikir Rara. Ibunya hanya tersenyum.

“Saya mantan atasannya Ayah kamu di kantor. Saya mengundurkan diri memulai bisnis sendiri. Saya juga masih berhubungan baik dengan Pak Herman, karena Pak Herman memang orang yang baik.” Om Dinar memberikan penjelasan untuk Rara, sekalian untuk Ibu.

Lalu Om Dinar merogoh kantung jaketnya  mengeluarkan amplop tebal.

“Mohon maaf, mohon untuk diterima, semoga bisa membantu biaya Rara walau cuma sedikit,” amplop itu disodorkan ke Ibu. Ibu pun menerimanya dengan rasa rikuh.

“Banyak sekali ini Pak Dinar. Terima kasih banyak, Pak.” Sahut Ibu.

“Rencananya kedepan mau bagaimana Bu? Apa mau buat usaha, atau mau bagaimana?” tanya Om Dinar.

“Mungkin saya akan ikut saudara bekerja di Sumatra. Rara akan ditemani Bi Lasmi di sini.” Ibu menjelaskan.

Namun Rara tidak suka Ibu menjelaskan hal tersebut kepada orang yang baru mereka temui. Rara hanya merasa heran dengan kehadiran Om Dinar. Namanya saja baru dia dengar, kalau kawan Ayah lainnya, meskipun belum pernah bertemu dengan orangnya langsung, tetapi paling tidak Rara pernah mendengar namanya disebut oleh Ayah, entah itu disebut saat bertelepon ataupun disebut saat Ayah menceritakan tentang kawan-kawannya pada Ibu seperti kebiasaan Ayah setiap pulang kerja.

“Rara, Om Dinar kan punya beberapa bisnis. Bagaimana kalau Rara ikut membantu disalah satu bisnis Om ? Ya … lumayanlah untuk tambah-tambah jajan Rara” Om Dinar memandang serius ke Rara.

Rara Ibu saling pandang, kemudian Ibu tersenyum seolah mengerti yang ada dipikiran Rara.

“terima kasih atas perhatian  tawarannya, Pak Dinar. Mungkin Rara tidak bisa menjawabnya sekarang, Pak. Saya mohon maaf untuk itu. Mungkin Rara akan segera mengabari Pak Dinar,” jawab Ibu.

Om Dinar terlihat tersenyum.

“Baiklah. Saya tunggu kabar baiknya” kemudian Om Dinar pamit setelah sebelumnya meninggalkan nomor teleponnya.

Bab 3. Rara Menerima Tawaran Om Dinar

Setelah berdiskusi dengan Ibu akhirnya Rara menghubungi Om Dinar.

“ Halo Om Dinar, aku Rara”

“ Iya Rara, Bagaimana keputusanmu?”

“ Mengenai tawaran Om kemarin, aku sudah diskusi dengan Ibu. Maaf sebelumnya, karena Rara masih kuliah, kalau boleh Rara memilih, Rara ingin memilih pekerjaan yang bisa dikerjakan freelance saja Om. Mengingat Rara juga belum mempunyai banyak pengalaman. Bagaimana Om? ” kata Rara panjang lebar.

Ibu hanya memandangi Rara dengan tersenyum, hatinya kagum, karena tidak disangka Rara bisa bersikap dewasa

dalam semalam. Ada perasaan sedih dalam hati Ibu,

'Andaikan ayah sempat menyaksikan ini, menyaksikan Rara bersikap dewasa' gumam Ibu.

Berarti sudah selesai bertelepon dengan Om Dinar.

“ Apa kata Om Dinar?” tanya Ibu.

“ Om Dinar akan ke sini besok Bu” jawab Rara.

“ Mau menjelaskan beberapa pekerjaan kepada kita Bu”

“ Karena Kata Om Dinar Ibu juga harus tahu apa yang Rara kerjakan di tempat Om Dinar” jelas Rara.

" Oh ya Bu, kapan Ibu akan berangkat ke Sumatra? Bersama siapa Ibu berangkat ke sana? Apakah Ibu sudah tahu tempatnya?" Rara banyak bertanya.

Bu Herman tersenyum mendengar banyak pertanyaan Rara yang.

" Lusa Ibu akan dijemput oleh Pak De mu. Jadinya Ibu akan berangkat dari sini bersama Pakde. Tenang saja Ibu tidak akan kesasar, Pak De akan mengantar Ibu sampai ke tempat kerja." jawab Ibu mencoba menenangkan Rara.

Rara mengangguk - angguk tanda mengerti.

" Nanti Ibu baik - baik ya di sana, kabari Rara terus," pesan Rara.

Ibu dan Bi Lasmi tertawa mendengar pesan Rara.

"Loh, kok mbak Rara yang jadinya seperti orang tua," Bi Lasmi memberikan komentar.

*****

Setelah Om Dinar dan Ibu berbasa - basi dengan Rara, akhirnya Om Dinar pun serius.

“ Rara, saya punya rumah yang sudah tidak saya tinggali lagi. Di sana ada anak Om. Kamu dan Bibi bisa tinggal di sana. Terserah Rara dan Bibi mau bikin usaha apa, Om akan dukung.” kata Om Dinar.

“ Loh tapi kata Om Dinar,  Rara akan dipekerjakan, kok jadinya usaha sendiri?” tanya Rara tidak mengerti.

“ Iya Rara, pekerjaan Rara adalah menjaga rumah anak Om, sehingga tetap digaji oleh Om. Selebihnya terserah Rara jika Rara ingin membuka usaha di tempat itu Om dukung, begitu Rara maksud Om” kata Om Dinar sambil tersenyum.

Rara beradu pandang dengan Bibi dan Ibu, Rara ingin meminta pendapat mereka. Bibi dan Ibu hanya tersenyum dan mengangguk setuju. Kemudian Rara memandang Om Dinar dengan tersenyum

" Baiklah Om dan pekerjaan itu kapan akan dimulai?" sahut Rara semangat.

Kemudian Om Dinar tertawa kecil menanggapinya

" Terserah Rara mau kapan, Om sih oke - oke saja yang penting Rara sudah siap."

" Bagaimana kalau hari ini kita melihat rumah itu dulu" usul Ibu.

" Baiklah. Mungkin lebih cepat akan lebih baik." sahut Om Dinar.

" Iya Pak. Karena besok saya sudah berangkat ke Sumatra, mari Rara dan Bi Lasmi, kita bersiap - siap sekarang." perintah Ibu.

Rara dan Bi Lasmi pun beranjak ke kamar untuk bersiap - siap membawa perlengkapan apa saja untuk pindah, terutama pakaian dan perlengkapan kuliah Rara. Sementara itu Ibu masih menemani Om Dinar untuk berbincang - bincang di ruang tamu. Sebenarnya Rara masih sedih untuk meninggalkan rumah ini, lalu banyak kenangan di sini. Terbayang kenangan indah saat bersama Ibu, Ayah dan Bi Lasmi di rumah ini.

Kemudian Bi Lasmi menepuk perlahan bahu Rara, dan menyadarkan Rara dari lamunannya.

"Ayo Mbak Rara, Kita harus bergegas, agar ibu punya waktu untuk mempersiapkan kepergiannya besok," Bi Lasmi mengingatkan Rara.

Rara mengangguk, lalu Rara segera membantu Bi Lasmi menyiapkan barang apa saja yang akan dibawa ke rumah Om Dinar. Tidak mungkin semuanya, selebihnya akan Rara dan Bi Lasmi bawa dengan cara mencicilnya sedikit demi sedikit jika nanti sempat mampir ke rumah ini lagi.

Beberapa saat kemudian,

" Bu mohon maaf, kami sudah siap." lapor Bi Lasmi.

" Besok kan Ibu berangkat ke Sumatra, apakah perlengkapan Ibu untuk pergi mau saya siapkan sekarang juga? Biar Ibu besok tidak repot." Bi Lasmi menawarkan diri.

" Tidak usah Bi, biar nanti saya persiapkan Sendiri Saja. Kasihan Pak Dinar sudah menunggu lama," tolak Ibu.

" Tidak apa - apa Bi, persiapkan saja sekalian, supaya Ibu tidak terlalu repot karena mempersiapkannya sendirian. Jadinya besok Ibu tinggal mempersiapkan saja yang kurang kurang nya," usul Om Dinar.

" Mohon maaf bila saya mencampuri urusan Ibu Herman," sambung Pak Dinar.

" Baik Pak" Bi Lasmi pun bergegas menuju kamar Ibu mempersiapkan perlengkapan Ibu pergi ke Sumatra.

Ibu hanya tersenyum kecil

" Terima kasih Pak Dinar atas perhatiannya, saya mohon jaga Rara baik - baik. Dan saya mohon maaf sudah merepotkan Pak Dinar. Dan terima kasih juga karena Dinar sudah mau menjaga Rara." kata Ibu.

Sebenarnya Ibu mempunyai firasat tidak enak tapi tidak tahu penyebabnya, tapi segera Ibu menepisnya, karena Ibu menganggap hal ini mungkin saja karena Ibu akan berpisah dengan Rara sementara Ibu tidak pernah jauh dengan Rara.

Setelah semuanya benar - benar siap, mereka pun bersiap - siap keluar rumah, dan pergi menuju rumah Om Dinar yang dibicarakan dengan Rara dengan menaiki mobil Om Dinar. Om Dinar mengemudikan sendiri mobilnya, dia tidak memakai supir pribadi.

Mereka melewati jalan ramai kota. Tapi ketika sudah sampai ujung jalan keadaan sudah tidak terlalu ramai, mereka melewati beberapa perkebunan dan ladang, jalan semakin menanjak sepertinya ini menuju perbukitan kecil. Sepanjang jalan Ibu berdoa semoga perjalanannya aman dan semoga Om Dinar orang yang bisa dipercayai. Untung sebelum berangkat ke rumah Om Dinar, Ibu sudah berpesan kepada Bi Lasmi dan Rara untuk menghafal jalan yang nanti akan mereka lalui untuk berjaga - jaga.

Kemudian mereka sampailah di depan gerbang perumahan. Sepertinya tidak bisa dibilang Kompleks Perumahan, karena rumah - rumah di sana tidak saling berdekatan, masing - masing rumah mempunyai halaman luas, sehingga halaman itu membuat jarak antara rumah semakin luas dan berjauhan. Bahkan rumah Om Dinar banyak sekali pohon tinggi sehingga menambah sejuk suasana di sekitar rumahnya.

" Ini namanya perkampungan Villa," jelas Om Dinar menjawab pertanyaan pikiran Rara dan Ibu.

" Ini seperti perkampungan kampung Bi Lasmi, maaf Bapak tidak bermaksud ... " kata Bi Lasmi tidak berani  melanjutkan ucapannya, segera dia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

Om Dinar hanya tertawa melihat tingkah Bi Lasmi yang dia lihat dari spion tengahnya.

" Tidak apa - apa Bi, mungkin memang ini konsepnya adalah perkampungan, enak ya Bi di sini nyaman. Semoga Bibi betah ya," sahut Om Dinar.

' Sepertinya Om Dinar orang baik' pikir Rara

" Tapi Om, keren sih Om sudah memilih tempat ini, tempat ini kan tidak jauh dari kampus - kampus Om, tidak jauh juga dari kota " kata Rara berpendapat.

" Ah kamu ini, sok tahu" kata Ibu sambil tertawa

" Rara benar Bu Herman, kampus - kampus jarang ada ditengah kota, mereka lebih suka berada di pinggir kota. Selain harga tanahnya murah, biaya pembangunannya pun rendah, sehingga mereka dapat membangun banyak bangunan dengan seluas - luasnya. Bahkan tidak jarang perguruan tinggi itu membangun asrama untuk para mahasiswanya." Om Dinar memberi penjelasan.

" Oh begitu ya pak" sahut Ibu sambil mengangguk - angguk tanda mengerti.

Om Dinar dan Ibu duduk di bagian depan, sementara Rara Dan Bi Lasmi duduk di barisan kedua, Rara memandang punggung Ibunya dan Om Dinar dari belakang,

' Andai Om Dinar tidak punya istri, mungkin aku akan menjodohkan Ibuku dengan Om Dinar' pikir Rara.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!