NovelToon NovelToon

Jebakan Indah My Husband

Dijebak dan ditalak

"Rara! apa yang kamu lakukan! kenapa kamu polos begini, siapa yang tidur bersama kamu?" teriak Raka dengan menarik selimut yang membungkus tubuh Rara istrinya.

Dengan kepala yang sedikit pusing, Rara mencoba bangun, dia melihat tubuhnya yang polos bahkan di antara pangkal pahanya dia merasakan ada cairan yang cukup banyak selain itu leher serta dadanya ada banyak bekas kecupan.

"Kamu sudah rapi mas, kenapa aku tidak dibangunkan?" tanya Rara dengan tersenyum karena dia masih belum sadar kalau yang tidur dengannya semalam adalah orang lain.

"Katakan padaku Ra, siapa yang tidur dengan kamu?" tanya Raka dengan raut wajah berubah.

Duarrrr

Mendengar perkataan Raka membuat Rara terdiam, tubuhnya seperti disambar petir dan dihantam oleh gelombang laut. Otak Rara seketika terbang jauh, apa maksud Raka. Apakah yang semalam bersamanya bukan Raka? lantas siapa yang tidur dengannya jika bukan suaminya? itulah yang kini menari di pikiran Rara membuat Rara membatu dengan tatapan yang tertuju pada Raka.

"Aku talak kamu Ra, teganya kamu berselingkuh di kamar hotel yang aku siapkan untuk malam anniversary kita" kata Raka dengan lantang di depan Rara. Dia berakting sedih, seolah dia ini adalah korban dari perselingkuhan Rara padahal dialah otak utama semua yang telah dialami Rara.

Mendengar kata talak dari suaminya membuat Rara seperti ditindih batu yang beratnya puluhan ton, hingga dia kesulitan untuk bernafas dan berkata hanya air mata yang turun dengan deras mewakili apa yang dia rasakan saat ini. Bagaimana dia bisa hidup tanpa Raka, suami yang amat dia cintai.

"Jangan lakukan itu mas, aku mohon please," pinta Rara. Dia memohon pada Raka supaya Raka menarik kata-katanya lagi. Ini semua hanya salah paham, ada yang menjebaknya namun tentu penjelasan Rara tidak akan didengar oleh Raka.

"Sekarang jelaskan padaku Ra, lihatlah dirimu saat ini, telanjang dengan banyak kecupan, kamu itu habis tidur dengan seorang pria, apa menurutmu aku bisa hidup dengan kamu lagi? aku sakit Ra, sakit!" teriak Raka dengan pura-pura menangis, sungguh hebat akting Raka, sepertinya piala Oscar akan Raka dapatkan dengan mudah mengingat aktingnya yang sungguh luar biasa bahkan sekelas artis hebat Reza Rahardian pun kalah akting dengan Raka.

Rara hanya bisa menangis, Ingin sekali dia memeluk Raka sang suami, dia mengira kalau Raka benar-benar terpukul namun tanpa Rara ketahui itu hanya akting yang luar biasa dari suaminya. Rara kini pasrah, dia juga tidak bisa menyalahkan Raka akan hal yang terjadi padanya, mengingat kesalahannya yang sungguh fatal yaitu tidur dengan pria lain dan parahnya Raka memergokinya bangun tidur dengan tubuh yang polos.

"Baiklah mas, gimana baiknya saja," ucap Rara pasrah tentu dengan air mata yang terus keluar.

Dengan raut wajah sedih, Raka mengambil baju Rara yang tercecer di lantai, Rara sungguh malu pada dirinya sendiri dan juga Raka, entah siapa yang menggagahinya semalam.

"Ini, mandilah dan pakai bajumu," kata Raka dengan menyodorkan baju Rara.

Rara menerima bajunya dan kemudian pergi ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi Rara melihat pantulan dirinya yang polos, terlihat banyak kecupan dan itu sungguh membuatnya jijik pada dirinya sendiri, siapa yang melakukannya? bagaimana bisa ada orang yang masuk dalam kamarnya padahal pintu kamar hotelnya itu otomatis, jika pintu tertutup dari dalam tidak akan yang bisa membukanya selain yang memiliki kartu kamarnya. Tanda tanya besar kini menari di kepala Rara.

Rara menangis histeris, dia tidak bisa menerima hal ini. Puas menangis lalu dia mencoba membasahi sekujur tubuhnya, lalu dia menggosok tubuhnya dengan banyak sabun, dia mencoba menghapus beberapa kecupan di tubuhnya namun tentu itu tidak merubah apapun, karena kecupan tersebut tidak akan hilang meski dia menggosoknya seharian. Lelah menggosok tubuhnya Rara menangis histeris kembali di bawah guyuran shower, bagaimana dia bisa se ceroboh ini, hingga orang lain yang menggagahinya, dia sampai tidak bisa membedakannya.

Memang samar-samar Rara merasakan permainannya sedikit berbeda dengan Raka, dari ukuran bagian bawahnya juga beda, bagian bawah Raka, tidak sampai membuat goa Rara full namun benda keras milik orang yang menggagahinya semalam sungguh mampu membuat Rara merasakan goa nya penuh sesak hingga Rara menjerit penuh kenikmatan, dia merasakan hal yang luar biasa berbeda dengan Raka.

Permainan Raka sungguh pasif, asal dia sudah mencapai puncaknya maka dia akan menyudahi permainannya, dia tidak pernah bertanya Rara puas apa tidak, gaya apa yang paling disenangi dan lain-lain. Dan Rara sudah cukup ok dengan nafkah batin yang diberikan oleh Raka, namun semalam berbeda, Rara berkali-kali dibuat melayang ke awan, dia benar-benar terkulai lemas.

Seusai mandi Rara merias wajahnya tipis dan pulang dengan Raka, rencannya hari ini Raka ingin mengumpulkan keluarga Rara untuk membahas masalah ini.

"Mas jangan lakukan ini mas, papa dan mama pasti marah besar padaku," pinta Rara dengan menangis.

"Lalu aku harus bagaimana? menyembunyikan masalah ini? dan memaafkan kamu! gitu!" ucap  Raka dengan ketus.

"Maafkan aku mas, aku akan melakukan apapun asal kamu mau memaafkan aku." Rara mencoba bernegosiasi.

"Nggak, memaafkan kamu hanya akan membuat aku sakit Ra, pikir dong perasaan aku, seandainya kamu yang di posisi aku bagaimana?" ucap Raka dengan nada yang meninggi.

Rara hanya bisa menangis, disesali seperti apapun tidak akan bisa merubah keadaan, nasi telah menjadi bubur, nggak mungkin menjadi nasi kembali yang bisa kita lakukan adalah memakan bubur tersebut, dan mencoba merasakan kenikmatan buburnya.

*********

Rara dan Raka menikah setahun yang lalu karena sebuah perjodohan, saat dijodohkan dengan Rara, Raka memiliki seorang kekasih dia sering menemui kekasihnya tanpa sepengetahuan Rara, dan selama itu Rara tidak curiga sama sekali karena Raka bermain cantik.

Rara sangat mencintai Raka karena Raka adalah pria sesuai tipe dia. Tampan, baik, pekerja keras dan lain-lain namun Raka tidak mencintai Rara sama sekali, saat berhubungan dengan Rara, Raka selalu membayangkan wajah kekasihnya dan parahnya Raka melakukan suntik hormon sehingga Rara tidak bisa hamil, Raka bilang pada Rara kalau kecebongnya lemah jadi Rara pasti akan sulit untuk mendapatkan momongan, namun karena cinta Rara pada Raka begitu besar Rara bisa menerima kekurangan Raka tersebut.

Hingga kemarin saat hari anniversary yang pertama, Raka mengajak Rara untuk merayakannya di sebuah hotel, Raka menyuruh Rara untuk menunggunya, karena dia ada pekerjaan mendadak, saat itu Raka menyuruh pelayan supaya memberikan minuman yang sudah diberi obat tidur pada Rara, supaya nanti orang suruhan Raka dengan mudah mengeksekusi Rara.

Tega ,memang tega. Bejad, sungguh bejad tapi bagaimana lagi demi harta warisan Rara, Raka tega menjebak istri yang amat sangat mencintainya.

Dan parahnya lagi, yang meniduri Rara bukanlah orang suruhan Raka melainkan orang lain yang salah masuk kamar. Jadi siapa yang meniduri Rara semalam benar-benar tidak ada yang tahu.

Dan tidak disangka ini menjadi keuntungan tersendiri untuk Raka.

Diusir

"Keterlaluan kamu Ra! teganya kamu berselingkuh di malam ulang tahun pernikahan kalian!" bentak papa Rara

"Rara nggak selingkuh Pa, Rara juga nggak tau siapa yang datang ke kamar Rara." Rara mencoba menjelaskan pada papanya namun papanya lebih percaya pada Raka daripada Rara.

Raka sebelumnya sudah berakting bagus sekali, sehingga membuat papa dan mama Rara bersimpati padanya.

"Sudahlah pa, ma, kejadiannya juga sudah terjadi. Mohon maafkan saya karena mungkin saya akan menceraikan Rara, saya tidak sanggup jika hidup dengan Rara kembali, semuanya yang terjadi membuat saya sakit," kata Raka pura-pura sedih seolah dialah korban.

"Raka, mama tidak menyalahkan kamu. Memang Rara yang keterlaluan," sahut mama yang lebih membela Raka menantu bejadnya daripada Rara anaknya

Rara hanya menangis bahkan orang tuanya tidak berpihak padanya.

"Saya sadar ma, mungkin Rara belum bisa mencintai saya, mengingat pernikahan kita dulu karena sebuah perjodohan, oleh karena itu dia berselingkuh di belakang saya dan menyakiti saya dengan cara yang seperti ini," kata Raka dengan berpura-pura menangis.

"Aku sangat mencintai kamu mas," sahut Rara dengan menangis juga.

"Apa! cinta. Ra, sudahlah jangan pura-pura semua sudah jelas, kamu membawa masuk laki-laki lain ke dalam kamar kita, apa menurut kamu itu cinta?" tanya Raka dengan mengusap matanya yang basah akibat air mata buaya yang keluar.

"Sudah berapa kali aku bilang, aku nggak selingkuh, aku nggak membawa pria itu masuk mas," timpal Rara dengan menatap satu persatu orang yang ada di sana. Namun semua sudah termakan cerita palsu Raka sehingga tidak ada yang percaya dengan Rara.

Raka terus saja menangis, seolah dia benar-benar sakit hati, padahal dalam hatinya dia bersorak gembira.

Rara yang melihat Raka menangis mencoba menghibur suaminya, dia mendekat dan ingin memeluk suaminya namun Raka menolak, "Maaf Ra, aku tak bisa kamu peluk, banyaknya kecupan di leher kamu membuat aku sakit, seharusnya itu kecupan aku bukan orang lain!" katanya lagi yang membuat Rara semakin menangis, dia bersimpuh di kaki Raka memohon ampun namun Raka tentu tidak mau, toh memang ini permainannya.

"Maaf mas, maafkan aku," pinta Rara

Raka membangunkan Rara, dia mendudukkan Rara di kursi, "Meski sulit aku sudah memaafkan dirimu tapi aku tidak bisa melanjutkan rumah tangga kita ini, hotel itu aku yang pesan, aku meminta pelayan untuk menghiasnya sebagus mungkin, tapi apa? yang tidur dan bersenang-senang di sana bukan aku melainkan orang lain, coba kalau kamu jadi aku," ucap Raka yang membuat Rara semakin bersalah begitu pula dengan mama dan papa Rara.

Sesuai perjanjian dulu, akhirnya Raka mendapat semua hak waris Rara, dan Rara tidak mendapatkan apa-apa bahkan dia kini di usir oleh kedua orang tuanya.

"Kami tidak sudi memiliki anak yang tak tau diri seperti kamu Ra, lebih baik kamu pergi," usir papa Rara

"Jangan ma! pa! please! Rara mau kemana ma pa," pinta Rara

"Kalau kamu tidak ingin mendapat hukuman seperti ini seharusnya kamu pikir-pikir dulu sebelum mempermalukan kami dengan sikap kamu," maki papa Rara

"Mas, tolong mas bujuk mama dan papa supaya tidak mengusir aku," pinta Rara mencoba mendekati Raka tapi Raka dengan tega melemparkan tatapannya sembarang dan mengabaikan permohonan Rara.

"Dasar anak nggak tau diuntung, Raka itu baik, pengertian, sayang sama kamu tapi kamu malah menyia-nyiakannya demi lelaki yang nggak jelas.

Parah kamu Ra!" seru papa Rara

Rara hanya bisa menangis, sekeras apapun dia membela dirinya tetap saja kedua orang tuanya nggak akan percaya, karena memang keadaan sudah membuktikan kalau dia berselingkuh.

Karena tidak ingin ada debat, Rara memutuskan pergi dari rumah orang tuanya.

Entah dimana dia akan tinggal sekarang, dia sendiri juga tidak tau.

Semenjak menikah dengan Raka, Rara putus kontak dengan semua teman-temannya, kini dia benar-benar sendiri.

Rara akhirnya memutuskan untuk menyewa kamar sepetak untuk tempat tinggalnya.

"Layaklah untuk ditinggali," kata Rara lalu dia merebahkan diri di kasur kecil yang telah disediakan oleh pemilik kamar.

Keesokan harinya Rara mencoba mencari pekerjaan, namun mencari pekerjaan tidak lah mudah mengingat tidak ada orang dalam yang membantu, Beberapa hari berlalu namun Rara masih belum mendapatkan pekerjaannya.

"Ini opsi terakhir aku, kalau tidak diterima aku pasrah." kata Rara lalu melangkahkan masuk ke dalam perusahan properti, saat HRD melihat nilai-nilai Rara saat kuliah, akhirnya dia tertarik dan Rara diterima.

"Alhamdulillah akhirnya aku diterima juga," gumam Rara.

Meski hanya bagian marketing namun Rara sudah merasa bahagia. Setidaknya ada pemasukan untuk makan, sehingga tabungannya tetap utuh untuk membuka bisnis kecil-kecilan nanti sukur-sukur kalau bisa menambah.

Beberapa hari kemudian, Rara mendapatkan tugas untuk menawarkan properti di Ray Group, dia kini yang menemui Presdirnya langsung.

"Bismilah semoga mereka mau bekerja sama," gumam Rara lalu dia masuk Ray Grup. Rara bilang pada resepsionis kalau dia sudah ada janji dengan Presdir Ray group, dan resepsionis mengkonfirmasi dulu dengan asisten Presdir, setelah mendapatkan konfirmasi dia mengantar Rara untuk ke ruangan presdir langsung.

"Selamat siang pak Ray," sapa resepsionis sambil mengetuk pintu yang sudah terbuka.

"Siang," balas Ray

"Pak ini ada tamu," kata resepsionis

"Suruh masuk," sahut Ray

Resepsionis menyuruh Rara untuk masuk, kemudian dia pergi meninggalkan Rara.

Dengan gugup Rara masuk ke dalam ruangan Presdir, dia berdiri di depan Ray.

"Duduk atau mau berdiri saja," kata Ray dengan dingin.

"Astaga, dingin sekali, aku seperti berada di kutub selatan bermain bersama pinguin," batin Rara dengan sedikit tertawa.

"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Ray

"Nggak kok pak, maaf," jawab Rara gugup lalu dia duduk.

Saat melihat Rara, ingatan Ray pergi ke beberapa hari yang lalu, dimana malam itu dialah yang masuk ke dalam kamar Rara, dia salah masuk kamar dan kebetulan juga kartu yang dia bawa cocok dengan kamar Rara.

"Wanita ini," batin Ray.

Saat itu, Setelah pertemuan dengan beberapa kliennya, Ray merasakan panas di sekujur tubuhnya. Kemudian dia meminta Asistennya untuk menyewa hotel karena dia ingin meredam panas tubuhnya, Ray tau kalau dia dijebak namun Ray cukup tau apa yang harus dia lakukan yaitu dengan berendam air dingin, namun saat itu Ray malah masuk kamar Rara, melihat Rara yang tidur membuat Ray langsung saja mengerjai Rara, saat itu Rara juga menikmati permainan Ray bahkan dia membalas pautan yang Ray berikan seolah Rara memang menginginkan hal itu.

Ray mencoba melupakan kegiatan panas malam itu dan setelah lupa kini Rara malah muncul di hadapannya.

"Pak, halo, halo," kata Rara karena Ray nampak melamun.

"Iya," sahut Ray

"Pak, saya mau menawarkan property kami pada perusahaan bapak," kata Rara dengan menunjukkan proposal yang dia bawa.

"Baiklah, letakkan saja proposalnya nanti akan saya pelajari dan kini kamu boleh keluar," sahut Ray yang membuat Rara membolakan matanya, semalam Rara sudah latihan supaya saat dia menjelaskan kliennya akan tertarik, dan ternyata aplikasi di lapangan Ray cuman menyuruh meletakkan proposalnya tanpa memberi kesempatan Rara menjelaskan sedikitpun.

"Yakin pak, apa bapak tidak ingin mendengar penjelasan dari saya dahulu," kata Rara

"Tidak," timpal Ray

"Oh," ucap Rara dengan perasaan kesal plus gemas.

"Saya keluar nih pak," kata Rara

"Iya silahkan, sudah tau jalan keluarnya kan. Apa perlu saya antar keluar," sahut Ray

"Ya nggak papa pak kalau bapak nggak keberatan," ucap Rara dengan terkekeh.

Ray yang kesal melirik Rara dengan tatapan mautnya.

"Baik-baik pak," ujar Rara lalu keluar rungan Ray.

"Haduh tatapan matanya membuat rok aku mau melorot," seloroh Rara, yang mana tentu tidak ada hubungannya lirikan Ray dengan rok nya yang melorot.

Rara segera kembali ke perusahannya, dia melaporkan kalau belum ada jawaban dari Presdir Ray Grup.

"Dia hanya meminta saya untuk meletakkan proposalnya saja Bu," kata Rara memberi laporan.

"Ya sudah, nggak papa. Berdoa semoga mereka mau membeli property kita syukur-syukur kalau mereka mau bekerja sama dengan kita," kata sang manager.

Bertemu Raka

Jam kantor telah usai, Rara bersiap untuk keluar kantor. Rencananya dia akan pergi ke kafe untuk mengisi perutnya yang kosong.

Saat di parkiran Rara melihat mobil Raka yang terparkir di parkiran.

"Mas Raka," gumam Rara.

Rara segera masuk untuk mencari Raka, dia sungguh rindu sekali dengan Raka, lelaki yang amat sangat dia cintai meski kini Raka hanya serpihan masa lalunya.

"Mas Raka," panggil Rara

Mendengar ada yang memanggilnya membuat Raka menoleh dan betapa kagetnya dia kalau yang memanggilnya adalah Rara.

"Kamu," sahut Raka dengan tatapan benci.

Memang dari awal bertemu Rara, Raka sudah membencinya namun dia harus berpura-pura.

Rara segera ikut bergabung dengan Raka, dia sungguh senang bisa bertemu Raka kembali, rasa bersalah pada Raka membuat Rara tidak bisa melupakan Raka meski kini mereka sudah bukan suami istri lagi karena talak tiga sudah Raka jatuhkan pada Rara.

"Aku kangen mas," kata Rara dengan mata yang berkaca.

"Setelah kamu menghianati aku Ra," sahut Raka sinis

"Tolong jangan bersikap begini mas, aku nggak menghianati kamu. Itu hanya salah paham saja mas, aku tidak tau siapa lelaki itu," timpal Rara

Raka hanya tersenyum miring, nampak terlihat kalau dia masa bodoh.

"Aku masih mencintai kamu mas, aku nggak bisa melupakan kamu," imbuh Rara

"Cih, jangan bilang cinta padaku Ra, setelah malam panas kamu dengan pria lain." Lagi-lagi Raka berakting seolah dia adalah korban.

Malas melihat Rara, Raka memutuskan untuk pergi, sempat Rara memohon pada Raka untuk bersamanya meski hanya makan malam namun Raka menolak.

"Aku nggak sudi makan berdua dengan wanita yang suka berselingkuh seperti kamu," kata Raka

"Sudahlah Ra, lupakan aku dan please jangan usik hidupku," imbuh Raka lalu pergi meninggalkan Rara.

"Ya Tuhan, kenapa aku harus mengalami semua ini, aku dituduh selingkuh yang mana aku sendiri tidak tau siapa yang meniduri aku," gumam Rara lalu menghapus sisa-sisa air mata yang jatuh.

Matanya menatap nanar punggung Raka yang semakin jauh,

"Tak pernah aku bermaksud mengusikku mas, mengganggu setiap ketentraman hidup kamu, hanya tak mudah bagiku melupakan kamu dan pergi menjauh dari bayang-bayang kamu" gumam Rara lalu dia beranjak pergi.

Nafsu makannya hilang sudah, karena tidak jadi makan Rara memutuskan untuk pergi dari kafe tersebut.

Karena tidak fokus Rara menabrak seseorang yang tak lain adalah Ray.

"Maaf maaf saya nggak sengaja," kata Rara mencoba meminta maaf pada Ray.

Setalah saling pandang betapa kagetnya Rara kalau yang ditabrak adalah Ray, Presdir Ray Grup.

"Haduh maaf pak Ray, saya tidak sengaja," kata Rara lagi.

"Kelihatannya kamu memang sengaja menabrak aku, supaya kamu bisa bicara dengan aku, tapi sayang aku nggak berminat padamu," kata Ray lalu pergi meninggalkan Rara.

Rara sungguh emosi dengan ucapan Ray, ada gitu manusia seperti Ray.

"Untung kamu adalah Presdir Ray grup coba kalau orang lain pasti aku sobek-sobek tu mulut," umpat Rara lalu segera pergi.

Rara mengambil motornya lalu pulang, sepanjang perjalan pikirannya tertuju ke Raka, bagi Rara, Raka adalah segalanya. Selama setahun berumah tangga dengannya sikap Raka selalu lembut, dan itu membuat Rara semakin mencintai Raka. Rara mengira kalau Raka juga mencintainya, yang sebenarnya cintanya adalah cinta palsu.

"Apa sikap lembut itu kini tidak ada lagi mas," gumam Rara dengan mata yang basah. Tak terasa kini motornya telah sampai di tempat tinggalnya.

Rara membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam, dia segera melemparkan tubuhnya ke tempat tidur.

Rara mengenang kembali masa-masa bersama Raka dulu, "Akankah kembali mas, masa-masa kita dulu, apa cinta yang kamu gembar-gemborkan untuk aku telah hilang kini, seharusnya kamu menyelidiki dulu mas apa yang sebenarnya terjadi bukannya langsung mengjudge aku, bahkan di depan orang tuaku kamu tidak sedikit pun membela aku," gumam Rara dengan air mata yang jatuh.

Puas memikirkan Raka, Rara kini menuju dunia mimpinya.

Dalam mimpinya kali ini bukannya Raka yang datang melainkan Ray.

Rara sendiri bingung kenapa Ray bisa datang ke mimpinya.

"Kamu milikku Ra," ucap Ray dalam mimpinya

"Tidak, tidak pak Ray. Kamu mau apa, jangaaaaaan!" teriak Rara lalu dia bangun dari mimpinya.

Rara mengusap peluh yang keluar, "Ah untung cuma mimpi," gumam Rara.

Tiba-tiba cacing dalam perut Rara berjoget riang.

"Aahh lapar sekali," keluh Rara dengan memegangi perutnya.

Karena tidak ada makanan Rara minum yang banyak, lalu mencoba tidur kembali namun cacing-cacing dalam perutnya mengadakan konser besar-besaran sehingga Rara tidak bisa tidur.

Hingga pukul tiga pagi Rara masih belum tidur, lalu dia mencoba memfokuskan pikirannya dan lama lama dia tertidur juga.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, namun Rara masih terjebak dalam alam mimpinya.

Di sisi lain, sang manager mencari Rara karena Ray grup setuju untuk membeli property yang Rara tawarkan bahkan dia mau bekerja sama.

"Mana sih Rara," kata sang manager

Manager kini menghubungi Rara dan karena nada dering ponselnya Rara perlahan membuka matanya.

"Siapa sih yang telpon subuh-subuh," gerutu Rara dengan nyawa yang perlahan kembali ke tubuhnya.

Rara pun menerima panggilan telpon dari sang managernya.

"Ada apa Bu, subuh kok sudah menghubungi saya," kata Rara dengan menguap.

"Raaaraaaaaa, ini sudah jam delapan," teriak sang manager dari seberang panggilannya.

Rara membolakan matanya, lalu dia melihat jam tangannya dan memang waktu menunjukkan pukul delapan lebih lima menit.

"Iya Bu, secepatnya saya akan berangkat," kata Rara lalu memutuskan panggilan telponnya secara sepihak.

Rara yang tergesa-gesa terjatuh dari ranjangnya,

"Aawwww, kenapa pake jatuh sih," gerutunya dengan mengelus lututnya.

Dengan langkah terseok-seok Rara pergi ke kamar mandi, dia segera membersihkan dirinya lalu bersiap untuk pergi ke kantor.

Tiga puluh menit kemudian Rara sampai di kantor, dia segera pergi ke ruangan manager.

"Maaf Bu, saya terlambat," kata Rara dengan nafas yang tersengal

"Lain kali jangan diulangi atau kamu akan saya pecat," ancam Bu manager.

"Iya Bu," sahut Rara.

Bu manager menugaskan Rara ke Ray grup lagi, dan itu membuat Rara melemas.

Dia malas sekali bertemu dengan Do Ray mon, sebutan Rara untuk si Ray.

Seusai menyiapkan keperluannya Rara pergi ke Ray grup.

"Selamat siang pak." Rara mengucapkan salam.

"Siang," sahut Ray

"Saya boleh masuk pak?" tanya Rara

"Nggak usah berdiri saja di situ," jawab Ray tanpa menatap Rara.

"Yakin pak?" tanya Rara lagi

"Yakinlah," jawab Ray sambil memijat pelipisnya.

"Kamu ini manusia dari planet mana sih?" tanya Ray

"Astaga pertanyaannya," gumam Rara.

"Maaf pak," ucap Rara.

Ray melambaikan tangannya menyuruh Rara untuk masuk.

"Kamu sebelumnya bekerja dimana?" tanya Ray

"Ini pengalaman kerja pertama saya pak," jawab Rara

"Pantes," sahut Ray

"Kenapa pak?" tanya Rara heran akan sautan Presdir Ray grup tersebut

"Bodoh," jawab Ray.

Rara menatap Ray dengan emosi tingkat dewa, dia sungguh kesal sekali dengan Ray.

"Kamu tu yang bodoh, dasar Do Ray mon," batin Rara dengan tertawa.

Melihat Rara tertawa membuat Ray kesal, "Berani menertawakan saya, kita batal kerja sama," ancam Ray

"Iya iya maaf pak, tolong jangan dibatalkan ya. Nanti bonus saya hangus," pinta Rara

"Mangkanya," omel Ray.

Setelah menandatangi perjanjian, Rara pamit untuk undur diri pada Ray dan juga asistennya.

"Saya pamit pak," pamit Rara

"Ya," sahut Ray dengan datar.

Setelah kepergian Rara, Ray meminta Revan untuk mencari tau latar belakang Rara.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!