NovelToon NovelToon

Mencari Teman Ranjang Si Hot Duda

# 1

Jika pada umumnya kehamilan istri adalah hal yang membahagiakan bagi seorang suami. Tapi itu tidak berlaku untuk March. Justru kehamilan istrinya adalah bencana untuk pernikahan mereka.

Pagi itu masih pukul lima subuh, Mey Zaliana, istri March berlari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya di wastafel.

Hoeeek... Hoeeek...

Mendengar suara Mey yang muntah dari dalam kamar mandi, March pun turun dari atas ranjang dan berjalan ke kamar mandi.

"Kamu kenapa sayang?" Tanya March khawatir.

Mey tak langsung menjawab, ia membersihkan terlebih dahulu mulutnya dari sisa muntahan.

"Kamu sakit, hah?" Tanya March sekali lagi.

"Nggak pa-pa sayang. Kayaknya masuk angin deh." Jawab Mey setelah selesai membersihkan mulutnya.

"Kita ke dokter yah."

"Nggak usah sayang. Minum teh jahe + madu sama di oles minyak angin juga baikkan kok." Jawab Mey.

"Bener?"

Mey menganggukkan kepalanya.

"Ya udah kamu mandi sana, aku mau siapin sarapan buat kamu dulu." Kata Mey.

"Kamu nggak usah buatin aku sarapan, kan ada bibik. Biar aja bibik yang buatin sarapan. Nanti kamu makin sakit lagi." Tolak March. Ia masih mengkhawatirkan istrinya itu.

"Nggak pa-pa sayang, aku nggak tenang kalau segala keperluan kamu bukan aku yang urus." Balas Mey.

"Ya sudah."

Mey pun keluar dari dalam kamar mandi untuk membiarkan March mandi. Ia berjalan menuju ruang ganti untuk menyiapkan pakaian kerja March.

"Sudah sebulan aku telat haid. Apa jangan-jangan aku....." Gumam Mey di depan kaca di ruang ganti.

"Aduuh bagaimana ini? Bagaimana kalau aku benar-benar hamil?" Gumam Mey lagi.

Aneh memang jika seorang wanita yang bersuami takut kalau dirinya hamil. Kecuali....

Mey menghela nafasnya, ia mencoba mengeluarkan hal yang tidak-tidak dari kepalanya, lalu keluar dari ruang ganti lalu keluar dari dalam kamarnya dan turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan untuk March. Sarapan kesukaan March, nasi goreng dengan banyak sosis dan bakso serta telur mata sapi setengah matang.

Begitu sampai di dapur semua bahan-bahan untuk membuat nasi goreng sudah di persiapkan Bik Narsih.

Mey pun mulai memasak.

Tapi begitu Mey memasukkan bawang ke wajan, perutnya kembali seperti di guncang, rasa mual pun kembali datang. Cepat-cepat Mey berlari ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.

Melihat majikannya berlari ke kamar mandi, Bik Narsih mematikan kompor lalu menyusul Mey ke kamar mandi.

Hoeeek... Hoeeek..

"Astaga Nyonya... Nyonya nggak pa-pa?" Tanya Bik Narsih sambil memijat tengkuk Mey.

"Kayaknya aku masuk angin deh Bik." Jawab Mey.

"Ya udah, Nyonya duduk aja, biar sarapannya Tuan saya yang masak. Biar saya suruh Eli bikinin teh jahe + madu untuk Nyonya." Kata Bik Narsih.

Mey menganggukkan kepalanya.

Bik Narsih pun membantu Mey keluar dari dalam kamar mandi.

Tapi baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi, tiba-tiba...

BRUUK. Mey pingsan.

"Astaga Nyonya....." Teriak Bik Narsih.

"Tuan... Tuan March, Nyonya Mey pingsan!!!" Teriak Bik Narsih.

Sepertinya suara teriakan Bik Narsih tidak sampai ke kamar Tuan dan Nyonya nya itu. Bik Narsih pun menyuruh Eli, anak Bik Narsih yang masih duduk di bangku SMP untuk memanggil March.

Tak sampai lima menit March pun datang.

"Mey!!!" Teriak March panik.

"Kok bisa gini Bik?"

"Saya juga nggak tau Tuan, tadi Nyonya muntah-muntah, eh... pas keluar dari kamar mandi, Nyonya tiba-tiba pingsan. Untung saya pegangin tadi Tuan, kalau nggak, kepala Nyonya udah kebentur lantai." Jawab Bik Narsih.

"Kita bawa kerumah sakit aja deh. Tadi sebelum keluar kamar juga dia muntah-muntah."

"Iya Tuan, bibik setuju." Jawab Bik Narsih.

March pun mengangkat tubuh Mey ala bridal style keluar dari dapur menuju garasi rumahnya.

"Mang... Mang Sardi, Nyonya pingsan, cepet siapin mobil!!" Teriak Bik Narsih pada supir pribadi Mey.

Dengan sigap Mang Sardi menyalakan mesin mobil.

Setelah March dan Mey masuk ke dalam mobil, Mang Sardi pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.

Tak sampai lima belas menit, karena jalanan juga belum terlalu ramai, mobil yang di kendarai Mang Sardi pun tiba di pelataran rumah sakit.

Begitu mobil berhenti dengan sempurna, March pun keluar dari dalam mobil dengan Mey yang ada dalam gendongannya.

Mey pun langsung mendapat pertolongan pertama oleh dokter yang jaga.

"Istri saya kenapa dok?" Tanya March setelah dokter selesai memeriksa Mey.

"Istri anda tidak kenapa-kenapa Pak, justru sepertinya ini kabar baik untuk Bapak dan istri Bapak." Jawab dokter itu.

"Maksudnya?"

"Dari hasil pemeriksaan saya, istri Bapak ini sekarang sedang hamil."

DUAAAR. Bagai petir di siang bolong. Kata-kata sang dokter membuat March kaget, jantungnya hampir meledak mendengar itu.

Bersambung...

# 2

"Apa dokter nggak salah? Bagaimana mungkin istri saya bisa hamil kalau sudah setahun lebih kami tidak melakukan hubungan suami-istri." Kata March.

Dokter yang memeriksa Mey serta perawat yang ada di dekat dokter itu pun menganga mendengar pengakuan March yang spontan.

"Kalau begitu mungkin diagnosa saya salah, biar saya panggil dokter obgyn saja. Biar dokter obgyn yang langsung memeriksa." Kata dokter itu.

"Sus, tolong panggilkan dokter obgyn."

"Baik dok."

Perawat yang mendapat perintah itu pun langsung ke pos jaganya dan menghubungi ruang bersalin untuk memanggil dokter obgyn.

Tak lama dokter obgyn pun datang. Dokter wanita spesialis kandungan itu pun mulai memeriksa kondisi Mey. Dan hasil dari pemeriksaan dokter obgyn itu sama dengan dokter jaga tadi. Mey memang hamil.

"Istri Bapak hamil. Selamat yah Pak." Kata dokter wanita itu tanpa tau masalah yang terjadi mengapa dokter wanita itu sampai di panggil ke IGD.

Makin kaget saja March mendengar kata-kata dokter wanita itu. March yang tadinya tidak percaya, kini ada sedikit kepercayaan dalam dirinya tentang kehamilan Mey.

Tapi anak siapa? Yang jelas itu bukan anak March. Hanya Mey lah yang tau jawabannya.

"Tolong pindahkan istri saya ke kamar rawat." Pinta March dengan nada suara kecewa. Ia akan menginterogasi Mey di kamar itu.

*****

Kini Mey sudah di pindahkan ke kamar rawat. Setelah hampir lima belas menit berada di dalam kamar rawat, Mey pun sadar dari pingsannya.

"Eugh..." Lenguh Mey sambil mengerjapkan matanya.

"Dimana ini?" Lirih Mey sambil berusaha mendudukkan dirinya.

"Di rumah sakit." Jawab March sambil berjalan menuju pembaringan Mey dengan suara berat dan tatapan membunuhnya.

"Rumah sakit?" Lirih Mey pelan sambil membelalakkan matanya. Ketakutan seketika melanda dirinya.

"Kenapa? Kok wajah mu berubah takut begitu?"

"Masa sih? Nggak kok sayang, biasa aja." Jawab Mey sambil tersenyum untuk menyembunyikan rasa takutnya.

"Benar kah? Tapi kenapa sorot mata mu mengatakan kamu tidak baik-baik saja?" Tanya March mengintimidasi.

Melihat tatapan mata March yang menyeramkan dan nada bicara yang sangat mengintimidasi. Mey menelan salivanya susah payah.

"Apa ada yang kamu sembunyikan dari saya, Mey?" Tanya March.

"Apa maksud mu sayang? Aku tidak mengerti." Jawab Mey pura-pura bodoh. Padahal ia sudah tau ke arah mana pembicaraan March.

"Jangan pura-pura bodoh, Mey!! Aku tau, kamu sangat paham apa yang sedang aku bicarakan!!!" Teriak March sambil mencengkram dagu Mey.

"Aaakkh.. lepas March, sakit!!!!" Ringis Mey.

March pun melepaskan tangannya kasar.

"Cepat katakan, siapa ayah dari bayi yang ada di rahim ku itu!!!" Tanya March dengan nafas yang memburu.

Mey diam tak menjawab. Ia hanya menangis. Ternyata benar feelingnya, kalau dirinya sedang mengandung. Tapi sayangnya bukan anak March, melainkan anak dari selingkuhannya, Okta. Laki-laki yang sudah menggantikan March untuk memberinya kepuasan ranjang.

"Jawab Mey!!! Siapa laki-laki itu!! Aku akan membunuhnya!!" Teriak March.

"Jangan pernah menyentuh ayah dari anak yang ku kandung ini!!" Balas Mey tak kalah berteriak. Mey tidak mau March menyakiti Okta apalagi sampai membunuhnya.

"Hah???" March tercengang mendengar Mey membela laki-laki yang telah menghamilinya.

"Apa kamu secara sadar melakukan itu, Mey? Dan sekarang dengan terang-terangan mengakui perselingkuhan mu dengan laki-laki itu?"

"Iya. Aku sadar saat bercinta dengan ayah dari anak ini." Jawab Mey.

"Kamu tau alasannya?" Tanya Mey dengan wajah tanpa bersalahnya.

"Karena aku juga butuh kepuasan ranjang March!!! Satu-satunya hal yang tidak bisa kamu berikan untuk ku!!! Aku juga menginginkan anak dari rahim ku!!" Kata Mey lagi.

"Woah." March makin tercengang mendengar pengakuan Mey. Ingin marah pada Mey, tapi ia sadar istrinya selingkuh juga karena masalah yang ada dalam dirinya.

"Baik lah, kalau kamu merasa tidak bahagia dan puas dengan ku. Silahkan pergi dengan laki-laki yang telah memberi mu kepuasan dan anak untuk mu." Balas March.

"Aku akan mengurus surat perceraian kita. Agar kamu bisa secepatnya menikah dengan laki-laki itu." Ucap March lagi.

Setelah mengatakan itu, March pun keluar dari kamar rawat Mey.

Bersambung...

# 3

Dengan emosi yang bergemuruh dalam dada, March masuk ke dalam mobilnya.

"Mang, kita ke apartemen." Perintah March pada supir pribadi istrinya itu.

"Baik Tuan." Jawab Mang Sardi.

Mobil pun berjalan.

Sambil mobil berjalan menuju apartemen, March terus berpikir, kapan istrinya itu pergi berselingkuh, karena setaunya istrinya selalu ada di rumah, kalau pun pergi keluar, Mey selalu pergi bersama dengan Mang Sardi, dan selama ini Mang Sardi juga tidak pernah memberikan laporan macam-macam tentang Mey pada nya. Lalu kapan? Apa Mang Sardi ikut bersekongkol dengan Mey dan selingkuhannya?.

"Mang.."

"Iya Tuan." Jawab Mang Sardi sambil melirik March dari kaca spionnya.

"Apa selama ini Nyonya tidak pernah keluar bersama laki-laki lain?" Tanya March dengan tatapan menyelidik.

"Tidak pernah Tuan, kecuali dengan Pak Okta." Jawab Mang Sardi.

March mengenal Okta, karena Mey memperkenalkan Okta sebagai adik sepupu Mey yang tinggal di Singapura. Mereka pun pernah beberapa kali pergi ke Singapura untuk mengunjungi Okta.

"Apa Mang Sardi tidak bohong? Jujur saja Mang, kalau memang Mang Sardi pernah mengantar Nyonya ketemuan dengan laki-laki lain." Tanya March lagi.

"Saya jujur Tuan. Memangnya ada apa yah Tuan? Kok dari tadi Tuan bertanya seperti itu terus?"

"Istri saya hamil Mang. Dan Mang kan tau pasti, kalau itu bukan anak saya." Jawab March.

"Astaga. Kok bisa Tuan? Apa Nyonya tidak bilang siapa laki-laki yang menghamili Nyonya, Tuan?" Tanya Mang Sardi kaget.

"Dia merahasiakan siapa laki-laki itu." Jawab March sambil menggelengkan kepalanya.

Berulangkali March menghela nafasnya untuk mengatur emosinya. Mood nya untuk bekerja sudah tidak ada.

March pun mengambil ponselnya dan melakukan panggilan ke nomor Neon, asisten pribadinya.

Tuut Tuut Tuut. Nada sambung panggilan.

"Halo." Sapa Neon di seberang sana.

"Jan, bawa pengacara Philips ke apartemen ku sekaligus pekerjaan ku. Hari ini aku sedang tidak mood bekerja." Ucap March.

"Kenapa? Apa kau sedang sakit March?" Tanya Neon. Selain menjadi asisten pribadi March, Neon juga merupakan sahabat March sejak mereka duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.

"Nanti saja ku ceritakan. Kerjakan saja dulu apa yang ku perintahkan pada mu." Jawab March malas.

March pun mengakhiri panggilan teleponnya dengan Neon.

*****

Kini March sudah berada di dalam apartemennya. Ia duduk di mini bar sambil meminum whisky.

"Aaaargh...." Teriak March penuh emosi.

PRAANG. March melempar gelas whisky ke arah tembok.

"Aku mencintai mu Mey!! Tapi kenapa kau mengkhianati ku!!! Kenapa kau meninggal kan ku disaat aku seperti ini!!! Kenapa Mey???!! Kenapa kau tidak bilang kalau kau butuh pelampiasan!!! Kesepuluh jari ku masih bisa ku pakai untuk memuaskan mu Mey!!!" Teriak March.

"Aaaargh..."

PRAAAANG. Kali ini botol whisky yang masih tersisa setengah, March lempar ke arah tembok.

Ting Ting Ting Tong. Suara bel unit apartemen March.

Mendengar bunyi bel, March mengatur nafasnya, lalu berjalan menuju pintu.

Ceklek. March membuka pintu unit apartemennya.

"March, apa yang terjadi? Kenapa kau berantakan sekali?" Tanya Neon saat March membuka pintu.

March tidak menjawab, ia malah berjalan kembali ke mini bar nya.

Melihat itu, Neon yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres.

"Hei March, kau ini kenapa?" Tanya Neon sekali lagi sambil mengekori March dari belakang.

March masih diam.

Mata Neon membulat saat melihat mini bar yang sudah berantakan dan serpihan kaca yang berserak di lantai.

"Apa kau yang melakukan ini semua March?" Tanya Neon.

"Mana pengacara Philips?" March tidak menjawab dan malah mengalihkan pembicaraan.

"Tuan Philips sedang ada sidang, selesai sidang dia akan kesini." Jawab Neon.

"Dari tadi kau belum menjawab pertanyaan ku March, sebenarnya ada apa ini?" Tanya Neon, lagi, lagi dan lagi.

"Apa kau membawa berkas-berkas yang harus ku periksa?" March masih mengalihkan pembicaraan. Ia sungguh malas membahas tentang kehamilan Mey.

"March!!!! Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kau dari tadi...."

"Mey hamil!!!!" Teriak March menjawab rasa penasaran Neon.

Mulut Neon menganga mendengar kata-kata March.

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!